Tidak Nyaman Itu…

Sejujurnya, saya ini termasuk orang yang susah mengungkapkan ketidaknyamanan. Padahal, sebenarnya banyak banget hal-hal yang membuat saya tidak nyaman. Bahkan kadang ada saat ketika saya selalu merasa tidak nyaman.

155325_1538560064967_7619723_n
Ini sebenarnya lagi tidak nyaman banget.

Oleh karena itulah, ketika Mbak Nadia meminta pembacanya untuk menyebut tiga hal yang membuat rasa tidak nyaman, saya jadi harus berpikir sedikit lebih dalam. Untunglah, dapat… :hehe.

Dan inilah dia!

1. Parno
Dulu itu saya pernah berada dalam masa-masa yang membuat saya berpikir, kok ya saya ini parnoan banget, itu lho? Sekarang sih sudah agak mendingan, tapi dulu, bahkan hal-hal kecil bisa membuat saya tidak nyaman. Bukan yang ketakutan banget sih, cuma kadang kepikiran.

Contohnya, waktu saya kelas 2 SD. Suatu hari, saya melihat ada seorang pria baru selesai buang air kecil di kebun Paman yang ada di dekat rumah. Dia melihat saya, saya melihat dia, kita lihat-lihatan #eh.

Kok ya saya jadi curiga, terus pulang ketakutan, gemetaran, bilang sama Ibu kalau saya mau diculik. Saking takutnya saya, Ibu panik, langsung pergi buat telepon Bapak yang lagi ngajar supaya pulang dan lihat di kebun ada siapa.

Ya jelaslah tidak ada siapa-siapa.

Itu membuat saya makin ketakutan, karena bermalam-malam setelah itu, saya insomnia.

  1. Salah
    Salah ini bisa bermacam-macam. Salah omong. Salah tunjuk. Salah beli. Semua sudah pernah saya alami, tapi yang paling sering itu salah omong. Maklum, saya kadang suka ceceplosan. Kata teman, ceplosannya ini yang sudah bikin salah satu artis ibukota batal nikah.

Contohnya seperti ini. Suatu hari, Pak Bos menawarkan pizza buat kita-kita. Pizza ini bekalnya, karena banyak jadi dibagi. Saya masih dalam posisi tidak tahu itu bekalnya, jadi saya kiranya Pak Bos beli pizza, semuanya buat kita.

Terus pas Pak Bos kasih pizzanya, eh ternyata cuma 2 potong. Padahal kami ada bertiga di sana. Saya refleks ngomong begini, “Ah elah si Bapak, kirain mau kasih satu loyang penuh. Ginian juga.”

Sebenarnya saya ngomong di luar ruangannya, dan saya ngomongnya sama teman-teman juga. Tapi tiba-tiba saja saya tidak enak hati, takut omongan saya didengar, soalnya saya baru tahu kalau pintu ruangan Pak Bos ternyata tidak ditutup.

jedot-jedotin kepala di tembok

  1. Waktu Rekonsiliasi
    Ini dia jawaranya! Saat-saat rekonsiliasi. Bukan rekonsiliasi fiskal, tapi semacam rekonsiliasi habis perang begitu. Maksudnya, saat-saat setelah habis bertengkar dengan teman.

Saya ini dulu suka banget berkelahi dengan teman. Diam-diaman, persis seperti anak kecil. Atau bagaimanapunlah ceritanya, yang jelas kita bertengkar, bahkan dulu pernah ada yang sampai melibatkan guru BK supaya bisa baikan.

Nah, saat-saat setelah baikan itu kayaknya awkward banget. Sangat-sangat tidak enak. Yang biasanya kita ke mana-mana sama-sama, bertengkar hebat musuhan kayak waktu Perang Dunia, sekarang sudah baikan tapi hubungan juga tidak bisa normal. Seperti ada dinding, yang tinggi dan tebal banget di antara kita.

Terus nyanyi, “Di antara hatimu hatiku, terbentang dinding yang tinggi…”

Huss.

Kayaknya ada benarnya, pepatah yang berkata kalau persahabatan itu seperti guci. Sekali pecah, meskipun diperbaiki seperti apa, tetap tidak bisa kembali seperti saat sebelum pecah.

Oh tapi, sekarang saya sudah punya solusinya.

Patungan, terus beli saja guci yang baru!

Postingan ini diikutsertakan dalam Nadcissism 1st Giveaway.

43 thoughts on “Tidak Nyaman Itu…

    1. Mungkin muka si Bapak membuat saya takut :huhu.
      Ayo ikut give awaynya, Mbak! Seru lho :hehe. Senyum-senyum sendiri gitu pas bikin tulisannya :hihi.

  1. Nomer tiga sama bangeet. Sudah pernah ngalamin kayak gitu, dan sampai sekarang persahabatannya gak bisa kembali seperti semula. kami “sepakat untuk tidak sepakat” 😀

  2. kalo saya pribadi, yang ga bikin nyaman itu kalo ada yg curhat minta solusi trus saya bingung mau kasih solusi apa. krna menurut gw, yg tau solusinya ya orang itu sendiri. hahaha

  3. Hai Bli, akhirnya ikutan GAnya juga ya, hehe.. Ini beberapa opiniku yah, boleh kan? *bolehdonk* 😀

    (1) Dulu saya paling parno dengan tikus tapi sekarang sudah engga parnoan, hanya kadang-kadang masih berasa geli-geli-gimana-gitu, haha.. Menurut saya, ini soal power of mindnya kita.
    (2) Manusiawi kalau merasa salah yang penting tahu salahnya dimana dan bertekad (ceilee) untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi.
    (3) Katanya nilai dan arti persahabatan ga ketahuan kalau tidak ada ribut-ributnya, benar ga tu? Hahaha..

    1. 1. Power of mind. Oke. Kadang saya masih menyerah dengan power of paranoid ini soalnya Mbak :hehe.
      2. Iya Wien :hihi, tapi kadang keceplosan juga ngomongin orangnya :haha. Doh, mulut ini :hihi.
      3. Betul sekali, makanya saat-saat rekonsiliasi itu sangat menentukan, mesti kuat-kuat biar masa-masa itu bisa dijalani dan bisa kembali rukun :hehe.
      Terima kasih atas pendapatnya, Mbak! :hehe.

      1. (1) Menyerah bukan berarti gagal, ayo semangat, hehe..
        (2) Hati-hati lo, mulutmu harimaumu 😛
        (3) Tapi yang membangun “kekuatan” harus dari dua sisi, engga boleh dari kamu saja, soalnya bakalan percuma nanti.

  4. Aku ngga nyaman selalu abis rekonsiliasi… Ngga ngerti, ntah salah di mana, walaupun aku dah minta maaf, yang dimintain maaf ngga pernah bisa kembali seperti semula. Seperti tidak ikhlas memaafkan. Kalau sudah begini, ya memang beli guci baru… wkkwkwkwk

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?