Tentang Rambut yang Terikat

Saya mesti berterima kasih kepada Beby dan Rani soal pertanyaan tentang kenapa seorang wanita tidak disarankan untuk menggerai rambut kalau berkunjung ke sebuah pura, soalnya saya jadi punya sesuatu untuk saya tulis (padahal draft masih banyak kan Gar?). Ya, hitung-hitung pengisi waktu siang ke sore di sela-sela membaca The Pelican Brief-nya John Grisham (ini buku yang bagus).

_MG_9624

Cerita tentang wanita dan rambut yang tergerai, dalam Hindu, sebetulnya punya sejarah yang panjang, mengingat kisah ini bermula dari satu dari dua epos mahakarya yang terus abadi hingga saat ini: Mahabharata. Lebih tepatnya, pada kejadian di balairung istana, ketika Drupadi diseret oleh Dursasana dengan menjambak rambutnya, berusaha ditelanjangi olehnya sebagai budak taruhan yang baru saja mereka menangkan. Bab Sabha Parwa, subbab Dyuta Parwa.

Potret Drupadi yang diperkosa hak-haknya, ditelanjangi oleh iblis di depan suaminya sendiri yang (diam saja) ia anggap titisan dewa, adalah bentuk… pemasungan perempuan yang paling terkenal di dalam sejarah. Kejadian ini pun sudah berulang kali dikupas dalam berbagai ulasan, kritik, dan karya sastra, dari sudut pandang yang berbeda. Dari sudut pandang perempuan yang pasrah, sampai perempuan yang menggugat.

Saya menyerahkan jalur riset sastra tentang kejadian di balairung itu pada pembaca.

Namun, satu yang sangat membekas di benak manusia Hindu adalah sumpah dari Drupadi. Yang menyatakan bahwa ia tak akan menyisir, memotong, dan mengikat rambutnya sebelum rambut itu dibasuh dengan darah Dursasana.

Meskipun pada akhirnya sumpah itu terlaksana, tapi wanita dengan rambut tergerai, dalam masyarakat Hindu, dipandang sebagai simbol kemarahan, kebencian, dan dendam. Inilah sebab mengapa seorang wanita yang berkunjung ke pura tidak diperkenankan untuk menggerai rambutnya. Siapa pun yang datang ke rumah Tuhan hendaknya berada dalam ketenangan dan kesucian. Bukan dengan dendam apalagi kemarahan, karena kemarahan seorang wanita itu… kadang sampai tak terkatakan.

Sumpah, ini saya jujur, saya tak bercanda. Jangan buat seorang wanita marah. Jika seorang wanita sudah marah, dunia bisa terbalik. Contoh paling terkenal dalam sastra Hindu soal ini adalah ketika Parvati berubah menjadi Kali (bentuk Durga yang paling menyeramkan) dan membuat dunia kocar-kacir.Bahkan suaminya, Siwa, tak bisa menghentikannya, tak bisa membuat ia sadar. Tak ada kekuatan Siwa yang bisa menandingi seorang Parvati yang marah.

Tak ada juga yang bisa dilakukan kalau ada seorang wanita yang marah, selain menyingkir, kan… :hehe.

Tapi akhirnya Kali sadar dan kembali tenang… ketika ia menginjak suaminya sendiri. Yep, Siwa mengorbankan dirinya sendiri untuk diinjak, moga-moga istrinya sadar kalau marah tak berkesudahan itu tak ada gunanya–dan bukankah yang bisa menenangkan amarah seorang istri, semestinya, adalah suaminya sendiri?

Yap! Syukurlah amarah Kali mereda. Dan, di sinilah ada gestur yang paling sering muncul dalam arca-arca di Pura Dalem: Durga yang menjulurkan lidahnya yang merah, menggigitnya dengan gigi yang putih bersih. Maksudnya, sifat-sifat marah dan ganas (rajas) cuma bisa dihentikan dengan sifat-sifat yang putih, bersih, dan suci (satwam).

Apa kaitannya dengan rambut? Oh, dalam wujudnya sebagai Kali, rambutnya hampir selalu tergerai.

Dan dalam beberapa sumber, Drupadi dianggap sebagai titisan Kali, sehingga bisalah kita simpulkan kalau dalam cerita-cerita itu, mereka berdua punya hubungan yang tak bisa kita abaikan, ya…

Cuma memang, sekarang imbauan ini jarang orang yang tahu, sih. Soal legenda Drupadi, cerita Kali, semua sudah dijadikan serial TV yang sempat tayang di salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia, tapi soal adab untuk tidak menggerai rambut di pura, jarang saya melihat aturan itu terpampang di papan-papan petunjuk pura yang pernah saya datangi. Well, kecuali satu, sih. Tirta Empul. Di sana bahkan pengelola pura menyediakan karet gelang gratis bagi kaum wanita untuk mengikat rambutnya.

Tapi, bagaimanapun, dari kebiasaan kecil ini sebenarnya cantolannya ke sastra dan nilai agama itu besar banget. Pelajaran juga bagi saya dalam banyak hal. Pertama untuk memuliakan dan menghormati wanita. Kedua untuk tidak mengabaikan hal-hal kecil, apalagi ketika itu menyangkut adat dan kebiasaan yang baik.

Karena sesungguhnya kitalah yang mestinya melestarikan adat itu… bukan menjadikannya musnah.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

106 thoughts on “Tentang Rambut yang Terikat

  1. menarik sekali gar, baru tau soal ini. mungkin karena dulu waktu mengunjungi pura-pura di bali rambut saya cepak jadi terlewat begitu saja πŸ™‚

    salam
    /kayka

  2. Nah ini baru cerita yang bagus. Saya suka kalau diberi pengetahuan yang sepele-sepele saja. Soalnya kalau terlalu serius bisa bikin kepala makin pusing he he he

    1. Dari yang sepele bisa jadi serius lho Mas… :hihi. Tapi saya mesti setuju, kita harus mulai dengan yang kecil-kecil dulu ya :haha. Terima kasih sudah berkunjung!

  3. Ah! ini benar-benar baru bagi saya, pengetahuan yang baru untuk saya. Sebuah adab yang didasarkan pada peristiwa dengan filosofi positif. Dan seorang muslim saat ibadah ke masjid pun, dianjurkan menggunakan penutup kepala (peci dan semacamnya), agar memberikan ketenangan. Bagi muslimah tentu sudah diwajibkan mengenakan mukena. Indah, pesan yang indah πŸ™‚

  4. Oalah… baru tau saya…. hihi kereen. Dan mungkin agak terbalik yah dengan buku yg (pernah) saya baca. Saya sendiri sebetulnya belum tau keabsahan informasi itu. Dan blm pernah dijelaskan secara rinci oleh orang yg saya tanyai. Dalam buku tersebut ditulis bahwa wanita dalam islam, hendaknya tidak mengikat rambut saat sholat.

  5. Jadi tahu maksud dari peraturan harus mengikat rambut saat masuk ke pura Hindu dari tulisanmu, Gar. Langsung nangkap juga adegan Parvati berubah jadi Kali dan diredam oleh Siva ( dari serial Mahadewa yang tayang di tipi beberapa waktu lalu hehe ). Kalo nggak salah Parvati jadi Kali lagi waktu anak perempuannya akan diserang oleh musuh, ehmm lupa nama musuhnya haha. πŸ˜€

  6. Cerita yang menarik dan penjelasan yang detail. Keren Gara dan nga pernah tau malah kalau ke pura nga boleh ngikat rambut.

    Pinjam dong buku The Pelican Brief, ini film lama bangat yach. Suka dech nontonnya tapi nga tau kalau ada bukunya.

    1. Ke pura tidak boleh menggerai rambut Mbak, bukan tidak boleh mengikat rambut (kalau saya boleh mengoreksi :hehe).
      Boleh, nanti kalau kita ketemu lagi says bawakn yaa :haha. Filmnya malah belum pernah nonton sayanya, yang Julia Roberts itu kan?

  7. Suka sekali dengan postingan ini. Ini mgkn sederhana tp serius urusannya, dan thx kak sudah berbagi cerita.
    “Karena kemarahan seorang wanita itu… kadang sampai tak terkatakan.” Yup.. Couldnt agree less :3

  8. Saya tau cerita itu, saat Drupadi di jambak dan telanjangi di balairung di hadapana para suaminya (pandawa) saya selalu excited sama cerita mahabaratha ini. Nanti kalo saya berkunjung ke pura gak akan lupa untuk ikat rambut.Terima Kasih infonya ^^

    1. Itu adegan yang seru banget! Kayaknya semua cowok itu ada satu titik di mana mereka semua jadi pengecut. Soalnya meski di sana ada raja dan semua laki-laki yang punya kuasa, mereka melihat saja Drupadi dibegitukan tapi tidak berbuat apa-apa. Gila nggak sih. Iya, sama-sama :hehe.

  9. Wuaaahhh… ini posting paling epic!! *lebay* XD

    Gak sia-sia penantian selama ini, ulasannya mudah dipahami dan bernilai sejarah sekali. Jadi sekarang aku bs ngasi alesan bagus soal ‘ngiket rambut’ buat yg mau ke pura, ga yang jawab ngasal “gabole digerai dosa!” haha penjelasan yg lemah sekali yaa…

    Terimakasih ya Gar udah bersedia membagikan cerita ini,, terus itu kenapa gabole pake baju basah? *Rani, kamu banyak protes amat bukan cari tau sendiri!!* hihi…

      1. Hehe iya itu mah jawaban aku doang yg ngasal. Tp berkat postingan ini gakan jawab ngasal lagi… hehe

        Yhaaaa… uda ngarep ada cerita sejarah dibalik gabole pake baju basah, tataunya khawatir sakit aja. hihi… okedeh makasih bli Gara sudah mengangkat kisah ini. Bermanfaat sekali.

  10. Bagus sekali ceritanya Gara. Setuju sekali dg kearifan simbol-simbol yang ada didalamnya.
    Meskipun pada dasarnya State of mind (kesadaran) kita sbg manusia berjiwa di setiap kesempatan yang menjadi dasar tindakan. Siapapun yang sedang marah sebaiknya tidak masak (bakal ga enak hehe), yang habis minum alkohol jangan mengemudi dll. Seperti mengikat rambut (dengan rapi!) dan berpakaian pantas (rapi) juga sebagai pengingat tujuan, mau melakukan apa…
    *jadi melantur… hihihi

  11. Ah menarik sekali kisah dibalik pelarangan itu. Btw, aku minta konfirmasi dong. Waktu aku berkunjung ke Candi Cetho, pada relief candi yang diambil dari Kidung Sudamala diceritakan tentang peruwatan Durga oleh Sadewa, yang membuat ia kembali malih rupa menjadi Parwati. Sedangkan di atas dirimu cerita tentang Kali yang menginjak tubuh Siwa. Mohon pencerahannya Gara …

    1. Ooh, kidung sudhamala! :hihi. Iya, dua-duanya betul Mas, cuma setahu saya yang versi sudhamala lebih terkenal di Jawa sedangkan versi Kali dan menginjak suami lebih dikenal di India. Dalam penyebaran Hindu di Indonesia memang ada beberapa kisah baru atau beberapa kisah yang diubah, untuk menyesuaikan dengan kearifan lokal sini. Misalnya Drupadi yang kalau di versi India punya lima suami, di Indonesia setahu saya cuma jadi istrinya Yudhistira. Atau Bhatara Siwa kalau di Indonesia punya tambahan satu putra lagi: Bhatara Kala. Dan cerita tentang wayang sapu leger, tumpek wayang (saya juga kena dampak cerita satu ini, sih).

      1. Ooo gitu, kalau yang di Bali sendiri lebih mengikuti versi India ya daripada Kidung Sudhamala?

        Menarik ya, ternyata ada beberapa versi dan disesuaikan dengan kearifan lokal.

        Aku baru denger tuh soal wayang sapu leger. Dan maksudnya kena dampak itu bagaimana Gara?

          1. Ooo itu maksudnya hehe. Gak papa Gar, rahasia yang bukan aib itu. Tapi ternyata memang benar ya kepercayaannya. Ibu ku juga cerita begitu, dulu nama aslinya bukan seperti yang sekarang ini, karena sakit-sakitan trus ganti nama, akhirnya sembuh dan sehat sampai sekarang πŸ™‚

  12. Gara makasih sharingnga. Seumur2 aku gak pernah tahu aturan ini lho, di Malang gak pernah ada larangan soal rambut. Cuma cuntaka aja yang dilarang. Tapi dasarnya emang aku gak pernah gerai rambut (gerah) jadi gak ngefek juga.

    1. Aih, ketahuan ya saya juga suka nonton serialnya itu :haha. Sip, terima kasih banyak atas apresiasinya, Mbak. Sekarang semoga banyak yang tahu dan mengindahkan.

  13. Bagus tulisannya.. baru tahu saya kalau ternyata ini latar belakangnya knp rambut harus di ikat. Pantes kalau lihat tarian2 bali yang ada perempuan2 dengan rambut diurai dan kusut menandakan sebuah kemarahan. Makasih buat infonya.. πŸ™‚

    1. Ah, poinnya saya mengena, saya bersyukur sekali. Yep, memang tari-tarian yang melibatkan rambut terurai, pasti melibatkan hawa nafsu atau kemarahan. Ini topik yang menarik juga buat ditulis, lho. Terima kasih!

    1. Kalau pendek dan tak bisa diikat ya tak apa-apa Mbak :)). Yah yang perlu jadi perhatian menurut saya sih yang cewek kekinian itu :haha. Untuk di luar pura bolehlah tapi kalau masuk ke dalam pura sebaiknya tidak :)).

  14. Bli! Ah, senang sekali membacanya.
    Btw waktu ke Tirtha Empul, ada turis Asia yang tidak mau ikat rambutnya meskipun sudah ditegur oleh penjaganya. Entah bagaimana akhir perdebatan mereka itu sebab saya sudah ditunggu oleh teman-teman saya tempo hari.
    Btw meskipun saya suka dengan kisah Mahabarata, tapi saya baru tahu hubungan rambutnya Drupadi dengan peraturan tsb loh. Nice sharing, Bli!
    Boleh share di medsos lainnya ga? Hahaha..

  15. Mas Gara, sepertinya saya termasuk yang nggak ngerti apa-apa soal cerita2 seperti ini, duh jadi merasa malu sendiri. Kemana aja selama ini, don? hahaha. Padahal sering datang ke Pura namun tak memperhatikan hal-hal seperti ini, apalagi simbol-simbol dan makna yang tersirat maupun tersurat. Thanks untuk pencerahannya mas. Saya setuju bahwa perempuan memang kalau marah… tak terkatakan dan bisa melakukan apa saja. Thanks for sharing, mas.

    1. Ah, sama-sama Mbak. Di pura memang banyak sekali makna yang tersurat–saya pun masih terus tahu sesuatu yang baru dalam setiap kunjungan saya ke tempat suci itu :hehe. Terima kasih kembali karena sudah berkunjung!

  16. Aku baru tahu lho ada aturan seperti itu. Baiklah…kalau nanti masuk pura/candi Hindu, aku tidak akan menggerai rambut indahku nan berkilau ini lagi. *kuncir rambut ala Frozen* #ehgimana? :p

    Ehserius aku baru tahu ada kisah seperti itu dan memang sebaiknya semua peraturan di setiap rumah ibadah dipatuhi oleh siapa pun yang datang ya kan? Dan makasih rekomendasi buku bagusnya, Gar. Sering ke Gramedia tapi bingung mau beli buku apa. πŸ˜€

  17. beberapa kali ke pura di bali, kenapa saya terlewatkan mengenai peringatan agar rambut tak terurai saat masuk ke pura ya? Atau mgk karena berjilbab jd gak merhatiin kali ya? Tapi, yang ketentuan agar memakai baju/kain menutup diri (spt yg biasa dikenakan org2 berbaju mini kala di bonceng sepeda motor), itu saya tahu pas ke pura.

    1. Memang tidak terlalu banyak lagi orang yang tahu soal aturan ini, Mbak :hehe. Ya, sebaiknya memang kalau berkunjung ke tempat ibadah mana pun saya rasa, tidak elok kalau mengenakan pakaian yang terbuka.
      Terima kasih sudah mampir!

  18. Mungkin, inilah kenapa wanita di India suka memanjangkan rambutnya dan selalu mengikatnya. kadang terkesan jadul tapi suka. Apalagi ditambhakan dengan segerombol bunga melati.

    Kapan hari aku pingin nulis ini, tapi dah keburu pulang ke Indonesia

    1. Iya Mbak… kalau di India, saya yakin kebiasaan ini lebih bertahan dalam bentuknya yang asli mengingat Mahabharata berasal dari sana. Eh sekarang sudah pulang ke Indonesia?

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?