Tentang Garo

tentang-garo
Garo

Nama saya Anggara Pradnya Widhiantara. Bisa dipanggil Angga, atau Anggara, Gara, atau Garo. Berdarah Bali hampir mutlak, dengan sedikit tetes-tetes blasteran. Sayangnya saya sangat tidak terlihat sebagai blasteran. Lahir dan besar di sebuah kota mutiara mungil di deretan Sunda Kecil, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Saat ini sudah mulai menjejak sebagai Pegawai Negeri Sipil (sekarang sebutannya sedikit lebih keren, Aparatur Sipil Negara) pada sebuah kementerian di bilangan Jakarta Pusat, yang jauh dari kampung halaman. Ditempatkan pada posisi yang dulu hanya saya lihat dalam game atau drama televisi, yakni di bagian bantuan hukum, sebuah kenyataan yang mengharuskan saya berkutat dengan masalah-masalah hukum dan keadilan, secara konkret maupun abstrak. Masih mencoba menimba ilmu apa pun yang bisa saya timba dari tempat kerja, bahkan ketika apa yang saya hadapi sehari-hari di tempat kerja tidak terlalu sejalan dengan latar belakang pendidikan ini. Tapi selalu ada hal baru, dan itu membuat saya tertarik.

Pemerhati berbagai isu terkini (supaya kekinian), terutama yang menyangkut kehidupan orang-orang sekitar dan hal-hal yang umumnya luput dari pengamatan orang banyak. Menjadikan sejarah, perjalanan, dan keterikatan masa lalu sebagai tonggak yang menarik untuk diteliti, seperti tiang batu padrao yang setiap incinya menunjukkan bagaimana matahari pada abad ke-16 menyinari setiap tarikan napas penjelajah Portugis.

Orang bilang saya punya kecintaan dengan perjalanan. Padahal saya tak begitu suka kalau sudah sampai tempat tujuan. Saya hanya suka perjalanan, tapi ketika sampai tempat tujuan, ada sedikit penyesalan yang tak saya pahami.

Orang juga bilang saya susah lupa. Mungkin benar. Terlalu banyak kejadian di atas kepala saya sehingga saya harus berusaha menuangkan sedikit di antaranya dalam media apa pun.

Saya memilih menulis.

Saya suka menulis tentang apa saja, meski kesukaan itu kadang terbentur dengan riuh-rendah dinamika kehidupan, emosi, keterbatasan waktu, dan suasana hati  Sekilas tampak serius, meski kalau sudah kenal, lapisan di dalamnya banyak kealayan dan hal-hal yang cenderung memalukan. Jadi pelajaran untuk tidak menilai karakteristik seseorang secara sekilas tapi nilailah setelah kita saling mengenal lebih lama. *ketawa*

Mulai menulis sejak beberapa belas tahun yang lalu ketika masih duduk di pendidikan dasar. Mencoba menyelesaikan beberapa buah tulisan, sembari memperpanjang napas untuk bisa bertahan dalam konsistensi menuju garis akhir. Saat ini juga suka fotografi, jadi tulisan saya tidak akan jauh-jauh dari upaya eksplorasi kemampuan menangkap momen dalam rekaman gambar.

Kontak di kurosaki.haruki@gmail.com, ditunggu selalu untuk korespondensi.

Akhir kata, bon voyage, untuk semua yang sudi menjelajah di blog saya. Sampai jumpa dalam dunia kata, untuk makna yang mencoba dicicipi jiwa. Karena rasa tak mungkin merupa, kecuali beraga makna aksara.

Selamat membaca.