Stasiun Purwokerto, Lagu Keroncong, dan BH 1153

Angkutan kota yang kami tumpangi menuju Stasiun Purwokerto melewati rute yang berbeda. Angkot merah itu membelok, kemudian masuk ke sebuah kolong flyover kecil sebelum akhirnya muncul tepat di depan bangunan Stasiun Purwokerto.

stasiun-purwokerto-samping
Bangunan stasiun yang panjang.

Saya baru tahu kalau kota ini punya flyover. Anggapan saya pada awalnya, hanya kota besar yang punya konstruksi jalan seperti ini. Mataram yang ibukota provinsi saja baru punya flyover di tahun 2016. Sedangkan flyover Purwokerto ini sepertinya sudah ada sejak lama.

Kalau saya pikir-pikir, mungkin jalur kereta apilah penyebabnya. Perlintasan sebidang antara jalan raya dan kereta api tentu perlu diminimalkan. Salah satunya adalah dengan membuat jalan layang. Mengingat di Jawa ada ribuan kilometer rel kereta sejak dulu kala, tentu perlintasannya juga banyak. Oleh karena itu, jalan layang atau jalan kolong pun dibuat pula sejak lama.

Sementara itu, di Mataram tidak ada kereta api. Saya pikir simpulannya sudah sangat mudah, jika kita telah sampai sini.

Masih jam sembilan. Kereta kami bahkan belum tiba. Untuk beberapa lama saya memandangi sekitar. Saya baru sadar kalau stasiun ini, sebagaimana sebagian besar stasiun di Indonesia, adalah peninggalan kolonial. Mudah-mudahan saya bisa mengabadikannya dengan cukup baik.

halaman-parkir-stasiun-purwokerto
Halaman parkir mobil Stasiun Purwokerto.

Untunglah Mbak Er mengerti dan mau membawakan beberapa barang ke ruang tunggu sementara saya menjepretkan kamera ke beberapa objek.

Permai. Kota ini memang permai sekali, dan kepermaian itu seperti menguar dari apa pun yang ada dalam tapal batas Purwokerto. Termasuk stasiunnya. Ada kesan sangat bersahabat yang tak mampu saya jelaskan. Sepertinya saya dan kota ini sudah berteman sejak lama. Sekarang kami baru bertemu kembali setelah sama-sama sibuk dengan urusan pribadi.

Menara air yang ada di dekat pintu menjadi bukti bahwa tempat ini pasti jadi dipo lokomotif. Demikianlah, Dipo Lokomotif Purwokerto ada di stasiun ini (tak persis, sih, tapi sedikit melipir ke arah timur). Kontur tanah yang tak rata membuat tandon dibangun di tempat tinggi, jadi konstruksinya justru tidak perlu terlalu tinggi. Keputusan pintar.

menara-air-stasiun-purwokerto
Menara air Stasiun Purwokerto.

Kesan Saya tentang Stasiun Purwokerto

stasiun-purwokerto-tampak-depan
Tampak depan Stasiun Purwokerto.

Satu hal yang saya suka dari stasiun tua adalah bangunannya yang unik. Bangunan kolonial yang berukuran besar membuatnya terasa megah. Sepertinya hampir semua stasiun tua begitu. Sebut saja Stasiun Pasar Senen atau Stasiun Jakarta Kota. Begitu pun dengan stasiun ini, sebagai stasiun terbesar dalam Daerah Operasi V Purwokerto.

Patut menjadi perhatian adalah perencanaan para insinyur zaman kolonial. Entah dengan nujum apa, mereka bisa memerkirakan perkembangan jumlah pengguna jasa kereta, hingga ratusan tahun ke depan. Saya tak pasti apakah nujum itu masih ada pada insinyur lokal masa kini. Semoga saja.

kereta-datang-stasiun-purwokerto
Kereta yang datang di Stasiun Purwokerto.

Kemegahan itu berlanjut sampai ke dalam stasiun. Peron yang panjang dengan atap berstruktur klasik, bertiang-tiang besi kokoh bercat abu-abu. Saya sampai bingung mau mengambil sudut yang mana. Katakanlah saya ndeso. Ya, memang demikian. Saya seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan baru dan berusaha mengeksplorasi dari setiap segi.

ruang-tunggu-emplasemen-stasiun-purwokerto
Ruang tunggu Stasiun Purwokerto.

Tapi kata Mbak Er ini belum Stasiun Purwokerto yang sesungguhnya, ketika saya memutuskan kembali duduk setelah mengambil beberapa gambar. “Memangnya apa?” tanya saya, keheranan.

“Nanti juga kau dengar sendiri,” jawabnya dengan logat Banyumasan.

peron-stasiun-purwokerto-01
Peron stasiun.

Tapi tak saya sadari, semua itu terjadi begitu cepat. Begitu berkesan, dan langsung membuat saya paham tentang apa yang sesungguhnya dari Stasiun Purwokerto. Bagi orang yang sudah sering berkunjung kemari, itu cuma suguhan yang biasa. Bagi yang berpikiran terbuka, itu sebuah suguhan yang sederhana. Akan tetapi untuk saya yang (kala itu) pertama kali menyambangi Stasiun Purwokerto, itu sangat membekas dan seolah membuat saya sesaat menjadi orang Purwokerto asli.

Semua dimulai dari pengumuman kereta kami yang akan segera masuk dari arah timur. Saya langsung saja menuju peron yang dimaksudkan, bersiap dengan kamera. Maklum, saya belum pernah mengambil foto kedatangan kereta di stasiun.

kereta-datang-dari-kejauhan-stasiun-purwokerto
Kereta datang dari kejauhan di Stasiun Purwokerto. Tampak seorang calon penumpang menunggu.

Di sanalah, pada saat suara lokomotif kereta mulai singgah di telinga, alih-alih suara Westminster Quarter yang lazim jadi bunyi kedatangan kereta, malah intro sebuah lagu yang terdengar dari pengeras suara.

Dan seakan tahu kapan saat yang pas, bel kereta nyaring berbunyi saat suara merdu penyanyi wanita itu menggema di seantero stasiun:

Di tepinya Sungai Serayu, waktu fajar menyingsing…
Pelangi merona warnanya, nyiur melambai-lambai…

Untuk beberapa saat, saya tak bisa berucap. Bulu kuduk meremang. Musiknya, lagunya, merdu suara penyanyi itu menggema di sekitar kami. “Di Tepinya Sungai Serayu” menjadi lagu perpisahan bagi semua yang akan pergi dari kampung halaman yang permai ini.

bagian-dalam-stasiun-purwokerto
Bagian dalam Stasiun Purwokerto.

Lagu itu seperti sebuah pesan bagi saya. Untuk tidak lupa pada udara segar yang masih bisa dihirup di alun-alun. Untuk tidak lupa pada senyum ramah bapak ibu yang menunggu di kampung, di bawah lindungan Gunung Slamet yang agung. Untuk tidak lupa pada nikmatnya kuliner hasil karya tangan bunda, yang setia memasak di dapur rumah tua, sembari putra-putrinya mencari penghidupan di perantauan sana.

Jangan lupa pada kampung halaman yang permai.

Lagu yang sama sekaligus menjadi sambutan yang paling manis bagi semua yang mengakhiri perjalanan di sini. Mengingatkan semua yang baru datang agar “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Bagi mereka yang pulang kembali setelah sukses di ibukota, kepermaian Purwokerto memeluk kembali, seperti seorang ibu yang berlinang air mata bahagia ketika bisa memeluk anak yang lama tak ditemui. Untuk yang mungkin tak berkeadaan lebih baik dibanding saat berpisah dulu, lagu ini bagai penyembuh. Paling tidak, sudah tiba di rumah, dengan halaman belakang megahnya aliran Sungai Serayu di bawah pengawasan Gunung Slamet.

rel-kereta-stasiun-purwokerto
Perspektif tentang rel kereta.

Tak ada tempat yang lebih baik selain rumah, kan ya?

Ah, jadi sentimental. Saya agak terharu. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak saya sukai, tapi juga sesuatu yang tak bisa saya hindari. Dasar saya, kalau sudah nyaman di suatu tempat, rasanya ogah pergi.

Tapi kita kan tetap mesti masuk ke dalam kereta dan mencari tempat duduk sesuai tiket kan yaa, jadi akhirnya seiring dengan pintu kereta yang tertutup, sisa nyanyian itu pun tersamarkan.

peron-stasiun-purwokerto
Peron Stasiun Purwokerto.

Bangunan Hikmat Satu-Satu-Lima-Tiga

pemandangan-jalur-kereta-selatan
Pemandangan yang biasa di jalur selatan Jawa.

Kereta berjalan tepat waktu, diiringi bunyi lengkap Westminster Quarter yang lazim. Oh, rupanya lagu itu cuma dijalankan untuk menyambut kereta yang baru masuk. Perlahan-lahan, kami pun meninggalkan stasiun, semua saya saksikan dari tempat duduk dekat jendela. Kamera siap menjepret benda-benda menarik yang saya lihat sepanjang perjalanan, tentu saja. Saya orangnya ogah rugi.

Menurut saya, semua perjalanan dengan kereta pasti punya pemandangan spektakuler. Mungkin benar apa yang dulu pernah saya baca di sebuah sumber (yang saya sudah lupa apa, entah buku atau artikel), bahwa pemerintah kolonial, selain membangun jalur kereta untuk urusan transportasi, juga sebagai sarana pelesir sepanjang jalan. Jadilah, jalur-jalur kereta Jawa didesain sedemikian rupa sehingga keindahan perjalanan bisa begitu tampak bagi semua penumpang, terutama penduduk kota yang penat melihat bangunan beton. Pada gilirannya, hal ini akan menaikkan penjualan tiket karena orang memilih naik kereta. Terowongan, jembatan, stasiun, dirancang dengan sedemikian canggih supaya kereta tak hanya jadi alat transportasi yang cuma dinaiki, habis itu dilupakan. Pintar.

Untuk jalur selatan Jawa, saya pikir itu berhasil. Dari Purwokerto sampai Cirebon, paling tidak, mata dimanjakan dengan pemandangan bukit hijau, hamparan sawah, sampai sesuatu yang panjang di kejauhan, yang diidentifikasi Mbak Er sebagai kandang ayam. Kandang ayam sepanjang sawah. Bisa betul untuk sumber pupuk.

kandang-ayam-di-kejauhan
Kandang ayam di kejauhan.

Saya tidak menjelaskan panjang lebar lagi tentang persawahan Jawa karena saya pikir postingan sebelum ini sudah cukup menggambarkan hal itu. Lagipula, saya sedang dalam sebuah misi, misi yang pas sekali untuk dilakukan karena saya sedang ada di jalur ini pada siang hari! Kemarin saya tak sempat menunaikan misi ini gara-gara gelap. Terus saya ada di sebelah kiri kereta, jadi tak mungkin bisa dapat foto yang bagus.

Tapi ketika saya ada di posisi kiri pada jalur pulang, dan apa yang saya cari ada di sebelah kiri rel baru, itu kan artinya sempurna sekali!

OK. Langkah pertama yang harus saya lakukan dalam misi pencarian ini adalah mencari Stasiun Kretek. Awalnya saya mengucapkan “kretek” seperti di “rokok kretek”, tapi rupanya huruf e-nya dibaca pepet, alih-alih taling, jadi nama stasiunnya mirip bunyi jari bergemeretak.

Eh kok tapi saya menunggu lama sekali, tanda-tanda Stasiun Kretek bahkan belum ada?

stasiun-bumiayu-brebes
Stasiun Bumiayu, Brebes.

Saya hampir-hampir tak sadar kalau tidak sepintas melihat papan nama stasiun sudah kami lewati. Maklum, keasyikan makan sate ayam yang dibeli di Pasar Manis. Langsunglah saya agak gopoh mencuci tangan terburu-buru dan menyiapkan kamera, sebelum menempelkan muka (dan lensa) di jendela. Saya menunggu untuk penyelesaian dari misi pencarian ini!

Mbak Er yang ada di sebelah saya keheranan. “Sebenarnya dirimu itu cari apa, sih? Pemandangan? Kan banyak,” katanya setelah selesai makan beberapa menit kemudian.

bangunan-stasiun-kecil
Salah satu stasiun kecil yang kami lewati.

Wah, ya ini kalau orang tidak paham. Saya langsung berubah fungsi jadi penceramah. Saya menjelaskan semua pada rekan jalan saya itu. Tentang sejarahnya (yang cuma saya baca dari Wikipedia), tentang predikatnya yang di dalamnya terdapat kata berawalan “ter-“, tentang sungai yang dilintasinya.

Tanpa sadar, bunyi rel yang menyentak menandakan kami sedang memasuki sesuatu, dan saya melihat pal yang menandai awal mula struktur ini.

BH 1153.

Inilah Jembatan Sakalibel.

Saya bahkan agak gemetaran saat menjepret, saking tidak percayanya. Maklum, baru kali pertama melihat jembatan kereta api.

Jembatan Saka Lima Belas Enam

jembatan-sakalibels-bumiayu
Bagian dari jembatan lama di atas sungai.

Jembatan ini bernama resmi BH (Bangunan Hikmat) 1153. Nama kerennya, Jembatan Sakalibel, atau Saka Lima Belas. Maksudnya, jembatan ini (dulu) ditopang oleh lima belas tiang pancang baja, menjadikan namanya seperti itu. Dibangun pada tahun 1917, jembatan ini merupakan yang terpanjang di Daerah Operasi V Purwokerto, dengan panjang mencapai 298 m.

Membentang di atas Sungai Keruh, kini jembatan ini berganti nama menjadi Sakanenem (tiangnya cuma enam) gara-gara jembatan yang baru telah dibangun di sebelah kanan jembatan lama (dari arah Purwokerto), sekaligus untuk menunjang jalur selatan Jawa yang mulai dijadikan double track. Wikipedia berkata bahwa jembatan ini populer sebagai tempat berburu foto, terutama bagi para pecinta kereta api (railfans). Apalagi setelah jalan lingkar luar kota Bumiayu dibangun di kolongnya.

Dan memang jembatan ini bagus sekali, baik dari segi struktur dan posisinya secara relatif dengan bentang alam sekitar. Apalagi kalau kebetulan ada di gerbong kereta yang paling belakang, terus menjepret pada saat yang tepat ketika badan dan kepala kereta sudah masuk jembatan, akan sangat indah dilihat.

Hah, tapi, meskipun saya cuma dapat satu foto dan tidak bisa menjepret bagian depan kereta karena gerbong kami pas di tengah-tengah, saya sudah puas sekali bisa kenalan dengan Jembatan Sakalibels, si BH 1153. Minimal, saya jadi ingin lebih tahu tentang struktur-struktur perkeretaapian yang dibangun pada zaman kolonial, yang banyak tersebar di seluruh Jawa.

bagian-jembatan-lain
Bagian dari jembatan yang lain lagi.

Pun ingin juga rasanya punya daftar semua bangunan hikmat lengkap dengan tahun pembangunannya. Tapi sayanya baru sadar bukan pegawai (apalagi pejabat) di lingkungan PT KAI, jadi saya siapa, haha. Hanya saja, tentu saja saya tidak menolak kalau ada pembaca yang berkenan memberi sedikit informasi mengenai di mana saya harus mencari data soal struktur perkeretaapian yang dibangun di zaman kolonial.

Ngomong-ngomong, kalau begini ceritanya, saya sudah bisa dibilang railfans belum, sih?

Belumlah ya, baru datang ke Stasiun Purwokerto ini. Aturan kalau mau disebut railfans beneran, saya memotretnya tidak aji mumpung karena kebetulan naik kereta. Mestinya, saya melakukan perjalanan khusus untuk memotret jembatan ini sebagai sebuah struktur bangunan penunjang perkeretaapian yang dibangun pada masa Hindia Belanda.

papan-nama-stasiun-larangan
Yang harus dijauhi.
stasiun-larangan-brebes
Stasiun Larangan, Brebes

34 thoughts on “Stasiun Purwokerto, Lagu Keroncong, dan BH 1153

  1. Hai mas gara, udah lama nggak main he he he…..

    Klo saya sendiri awam sekali mas. Justru setelah baca postingan ini baru tahu klo masih ada stasiun2 jaman kolonial yang masih beroperasi.

    Di tempat saya adanya rel-rel kereta bekas buat mengangkut tebu di jaman kolonial dulu (ini sih dengar2 kata orang), yg selanjutnya masih digunakan hingga sekarang untuk kereta publik.

    Tapi sepengetahuan saya, stasiun-stasiun di daerah lamongan (asal orang tua) sepertinya merupakan bangunan baru setelah pabrik2 tebu tutup dan digunakan untuk transportasi publik.

    1. Halo Mas Shiq4, apa kabar? Semoga baik selalu, ya.
      Rata-rata stasiun di Indonesia, apalagi Jawa, yang masih beroperasi itu peninggalan zaman kolonial, Mas. Tidak cuma stasiunnya, sebetulnya. Trase rel kereta dan infrastruktur lain pun masih banyak yang menggunakan peninggalan zaman Belanda.
      Wah seru banget itu kalau masih bisa ditelusuri rel kereta di perkebunan tebunya, Mas. Siapa tahu masih banyak peninggalan pabrik tebu zaman dulu masih tersisa. Jawa Timur memang pusat perkebunan gula di masa kolonial sih, hehe.

  2. Sepertinya tidak hanya purwokerto mas, kota2 lain juga menggunakan lagu daerqh khasnya. Hmm apa ya seperti ingin memberi kesan pada kita yg akan mninggalkan stasiun atau kota tersebut. Saya jg merinding, dan agak melow jika mendengarnya hehe. Sebut saja, semarang tawang dan surabaya pasar turi. Yang sering saya singgahi.

    Stasiun purwokerto juga jadi incaran nih untuk saya singgahi. Karena memang belum prnah menjajal jalur cirebon-purwokerto-kroya. Apalagi di siang hari, tentu saya pemandagannya tidak boleh dilewatkan begitu saja hehe.

    1. Iya Mas, hehe. Semarang juga kota yang paling berkesan buat saya dari segi lagu penyambut di stasiunnya. Gambang Semarang versi piano. Dulu saya dengarnya dini hari, saat tiba dari Argo Anggrek dari Jakarta. Merinding dan tersentuhnya nggak tertahankan, hehe. Cuma karena saya lebih dulu di Purwokerto makanya yang ini duluan yang saya tulis, hehe.

      Hayuk Mas, naik Kamandaka ke Purwokerto, hihi. Nanti lewat petak ini juga meski tidak terlalu percis dari Cirebon, hehe.

  3. Wah, Gara! Baru sekarang ini aku tahu judul bunyi-bunyian yang dimainkan di stasiun kereta Indonesia ketika ada kereta mau berangkat itu! Westminster Quarters Chime! *Kemana aja? Hahaha πŸ˜† *. Trims ya πŸ™‚ .

    Untuk Stasiun Purwokerto, yang paling kuingat dari stasiun ini adalah pedagang-pedagangnya yang (dulu) cukup agresif dalam menawarkan dagangan, dimana mereka masuk ke gerbong kereta (bahkan kelas eksekutif) ketika kereta sedang berhenti dan berteriak-teriak menjajakan dagangannya, bahkan di kereta malam pula yang berhenti di sana antara jam 1 sampai 3 subuh! Hahaha. Kan jadi susah kalau mau tidur. Tapi dengar-dengar sekarang praktek ini sudah dilarang kalau tidak salah πŸ˜€ .

    1. Haha, sama-sama.
      Wah, iya, sudah sejak reformasi perkeretaapian digulirkan, pedagang sudah dilarang masuk kereta, bahkan tidak boleh jualan di stasiun. Bagi saya, akibatnya sudah sangat positif. Tapi di sisi lain ada juga kuliner-kuliner legendaris yang menghilang dan berganti dengan waralaba yang rasanya yah, standar.

  4. Besok-besok kalau ke Jogja mas bisa berkunjung ke stasiun lama maguwo, stasiun lempuyangan ataupun stasiun tugu. Ada banyak cerita sejarah di sana. Terlebih tentang jembatan untuk rel. Di Jogja ada namanya Jembatan Mbeling, itu peninggalan belanda juga dengan konstruksi yang bagus.

    Unik juga kalau suara kereta datang malah sebuah penggalan syair/lagu πŸ™‚

    1. Apalagi Yogyakarta, wah… seakan-akan peninggalannya tak habis karena ada di semua masa. Terima kasih rekomendasinya Mas, akan saya kunjungi saat di Yogya nanti. Hehe.

  5. Garaaaaaa….
    Lamaaaa banget saya tidak berkunjung ke blogmu ini. maafkeun yaaa…
    Sebagai orang yang punya seperempat darah Banyumas, sejak kecil saya sering banget ke Purwokerto tapi sayangnya pake mobil. Dari jalan, saya suka melihat jembatan-jembatan kereta api di atas Sungai Serayu (aduh menuliskan nama sungai ini saja sudah membuat sentimentil), jika beruntung kadang saya juga melihat kereta tepat diatas jembatan. Asyik sekali.. Berkali-kali saya berhenti makan siang di tepi Sungai Serayu (sebelum sampai ke Purwokerto) untuk menikmati pemandangan hehehe…
    Dulu, jaman kecil, di Purwokerto saya sempat melihat rel di pinggir jalan (duh lupa-lupa ingat apakah saya lihat kereta di Purwokerto atau di kota lain hahaha… maklum uzur!). Selain itu, saya selalu merasa kembali kei masa kecil ketika membaui ‘klobot’ yang kuat sekali menempel dalam ingatan saat berkunjung ke daerah Purwokerto dsk. Nama kota-kota kecil di sekitaran Purwokerto itu ‘nempel’ seperti kenangan manis lho. Jadi baca postinganmu, saya merasa terlempar kembali kesana. Jadi kangen, padahal akhir bulan lalu sempat menginap semalam di Purwokerto.
    Anyway, terima kasih sudah mengangkat stasiun Purwokerto yang memorable ini… πŸ™‚

    1. Tak apa Mbak, sayanya sendiri juga yang lama update.
      Ya, Kali Serayu memang cantik sekali. Beruntung di kunjungan kedua ke Purwokerto saya menyempatkan diri ke sana. Lumayanlah, naik motor membelah bendungan, kena percikan air, wkwk.
      Iya, di Purwokerto ada rel lama di tepi jalan. Sekarang hanya ada bekas-bekasnya saja sih, hehe.
      Terima kasih kembali, ini mungkin bukan apa-apa kalau dibanding datang dan menginap langsung di Purwokerto, hehe…

    1. Iya Mas, apalagi dewasa ini, PT KAI makin menggencarkan pelestarian bangunan cagar budaya, supaya stasiun-stasiun tua tetap bertahan dan dapat dinikmati kelestariannya, hehe.

  6. Saya juga suka banget sama Banyumas dan seisinya, termasuk kota kecil yang tentram, Purwokerto. Saya dulu waktu mau mendaki Gunung Slamet, turun di stasiun ini pas Magrib, lalu balik ke Surabaya pas pafi-pagi banget, jadi gak sempat eksplorasi kayak mas Gara. Jadi pengen ngerasain deh, haha, pengen balik ke Purwokerto lagi.

    Di balik kolonialismenya, saya pikir jasa dan warisan terbesar para penjajah adalah infrastruktur, termasuk stasiun dan jalur kereta api. Semua penuh perhitungan, cermat, dan nujumnya kuat!

    1. Kuy Mas balik ke Purwokerto… meskipun nggak mendaki Gn. Slamet tapi bisa mengeksplor kotanya, haha.
      Semua kejadian pasti bisa dilihat dari dua sisi. Ada juga hikmah yang bisa diambil. Bahkan dari penjajahan sekalipun. #quoteoftheday

  7. Perjalanan naik kereta selalu ngangenin, terutama sambil menikmati pemandangan luas di luar jendela. Enaknya di Jawa memang kota-kotanya sudah terhubung dengan kereta ya Mas Gara. Seandainya Sumatra dan daerah lain di Indonesia juga demikian, pasti keren banget. Jadi mupeng. Kapan ya? πŸ˜‚

  8. Walaupun kecil, tapi bersih banget stasiunnya. Pemanndangannya juga indah. Purwokerto ini tempatnya mbak Pungky bukan ya? *lupalupainget

    Itu BH ternyata singkatannya itu hehehe. Mikirnya tadi….
    .
    .
    .
    .
    Plat kendaraan Jambi πŸ˜€

  9. Halo Gara πŸ˜€
    Aku masih merasakan jiwa pecinta bangunan tua nan bersejarah dari dirimu hehe. Lagu itu yg sering temen-temenku promosiin sewaktu kuliah. Katanya aku harus main ke sana gitu. Oke, aku iyain, tapi someday sambil berharap terwujud hehe. Yang paling bawah itu, larangan. Tapi di foto kedua aku baru ngeh kalo larangannya bukan forbidden, tapi nama stasiun wkwk.

    1. Haha, kebiasaan lama memang susah hilangnya, Umami. Apa kabar?
      Mudah-mudahan suatu hari nanti bisa ke Purwokerto dan dengar sendiri sendunya lagu keroncong itu, hehe.
      Hore, akhirnya ada yang kena dengan lelucon saya, haha.

  10. Purwokerto Daop gedenya Jateng Selatan. Kutoarjo (stasiun tempatku pulang) ngikut daop ini juga. Eh di Solo malah live biasanya yang nyambut dan nyanyi keroncong, kadang ada gamelan jg klo ndak salah inget πŸ˜€

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?