“Sekadar” Batu yang Bersejarah (Dan Sebaiknya Jangan Macam-Macam Terhadapnya)

Beberapa tonggak batu berbentuk tidak biasa di depan kanan arca Buddha kini menjadi tontonan kami. Selain besarnya yang lumayan, ternyata tonggak-tonggak itu tidak polos mulus. Dua tonggak itu punya alas segi delapan. Kemudian, masing-masing sisi berpadu, membentuk kemuncak di puncak tonggak. Tumben saya temui fitur unik demikian. Beberapa lama saya menatap mereka. Heran, tanya, dan kagum bercampur.

“Ini lingga ya, Mbak?”

Mbak Mimin cuma tertawa. Saya langsung tahu kalau saya salah. “Bukan, ini bukan lingga,” katanya. “Ini batu sima, biasanya dipakai sebagai pembatas untuk daerah sima, atau daerah yang penduduknya diberi hak istimewa seperti tidak membayar pajak karena sudah berjasa pada raja,” jawabnya.

batu-sima-museum-mpu-purwa
Perkenalkan, ini batu penanda batas daerah sima.

Saya membulatkan mulut. Oalah! Info baru ini menyadarkan, bahwa saya meluputkan begitu banyak hal. Saya mengaku sudah banyak membaca soal daerah swatantra. Akan tetapi, saya tak tahu yang satu ini. Saya pun harus mengakui bahwa sejauh ini saya hanya memusatkan diri pada prasastinya. Umumnya, prasasti adalah berita bahwa daerah yang terdefinisi padanya adalah daerah sima. Sama sekali belum pernah terbersit soal sampai sejauh mana daerah itu dikatakan demikian. Namun rupa-rupanya, dengan tonggak-tonggak seperti inilah daerah-daerah itu dibatasi.

Baca juga: Kena Hujan, Kena Panas: Arca-Arca di Luar Ruangan

Menurut Soekmono (2017: 103), “sima” berarti “batas”. Dalam pengertian yang lebih luas, sima berarti “bidang tanah yang dicagar”. Pengertian tersebut mulanya ada di dalam Prasasti Plumpungan (752 M). Sejak itu, pengertian sima pun berkembang. Menurut De Casparis, dalam prasasti-prasasti yang lebih kemudian, kata “sima” dijumpai dalam artian sebagai daerah (dengan desa dan sebagainya) yang dimiliki oleh perkumpulan agama dan dikecualikan dari pemerintahan sipil.

Sima akrab dengan prasasti di Indonesia. Rata-rata, prasasti batu yang ditemukan di Indonesia memuat soal penetapan suatu daerah sebagai sima. Beda dengan di Kamboja. Di sana, prasasti berisi potret kehidupan kerajaan yang sangat rinci. Di sana, prasasti adalah jurnal. Ia mencatat peristiwa-peristiwa penting. Perang, pendirian dewaraja, peresmian lingga kerajaan, bahkan sampai perincian dinasti. Prasasti di Kamboja erat dengan keluarga kerajaan. Di Indonesia, tak banyak prasasti demikian ditemukan.

Suatu daerah sima, setelah ditetapkan, akan terbebas dari pajak. Daerah tersebut dibebaskan pula dari peruntukannya semula. Setelah menjadi daerah sima, penghasilan dan pemakaian tanah tersebut diperuntukkan bagi kelangsungan suatu usaha suci keagamaan. Selain pajak, kewajiban lain yang mulanya melekat pada daerah sima pun dibebaskan. Konsekuensinya, penduduk daerah sima tak lagi memiliki kewajiban fiskal pada kerajaan. Rakyat daerah itu menjadi penanggung jawab terhadap kelangsungan usaha suci sang raja. Dinamailah daerah itu sebagai “daerah perdikan”.

Usaha suci seorang raja itu, sayangnya, belum lengkap dijelaskan dalam prasasti. Baik dari segi jenis, maupun wujudnya, belum banyak perinciannya. Satu-satunya informasi adalah nama upacara itu: “menusuk sima”. Menurut Soekmono, usaha demikian biasanya berupa pendirian suatu bangunan suci. Jika demikian, maka tanggung jawab masyarakat adalah seputar bangunan suci ini. Misalnya, dalam hal pemeliharaan dan penyelenggaraan upacara agama di sana. Namun hal tersebut hanyalah sebuah hipotesis yang masih memerlukan pembuktian.

Saya masih bingung soal bagaimana konfigurasi tonggak ini bisa membatasi satu daerah sima. Zaman dulu, tentu penetapan soal batas daerah belum secanggih sekarang. Tentu saja nenek moyang kita belum sefasih sekarang dalam memakai teknologi garis lintang dan bujur. Yang paling mungkin, batas wilayah ditetapkan dengan batas-batas alam, seperti sungai. Kemudian, tonggak-tonggak ini dipasang di tempat-tempat penting sebagai penanda batas.

Baca juga: Brahma Wirasana: Sang Pencipta yang Pemalu

Ataukah, mungkin saja, pembuatan batas suatu wilayah bisa dilakukan dengan begitu presisi? Misalnya, dengan membentuk persegi empat tepat, yang dibagi dalam kuadran yang sempurna. Dugaan denah Kompleks Trowulan yang tergantung di Ruang Terakota Museum Nasional lebih dari tepat. Jika benar demikian, tentu tonggak-tonggak ini akan dipasang hanya di sudut-sudut persegi empat itu. Pada akhirnya, mereka membentuk batas lurus sempurna pada daerah sima.

Ada banyak kemungkinan. Yang jelas, ada hubungan erat antara prasasti, tonggak batas, dan daerah sima itu sendiri.

prasasti-museum-mpu-purwa
Sebuah prasasti. Prasasti Dinoyo II, namanya.

Mari bayangkan suatu acara besar berabad-abad silam. Suatu daerah ditetapkan sebagai sima oleh sang raja. Sebabnya, rakyat daerah itu dianggap berjasa. Mereka tetap setia pada sang raja ketika terjadi perang saudara. Mereka punya sejarah yang menentukan bagi kelangsungan kerajaan. Sebagai bentuk terima kasih dan penghargaan, raja memberi hadiah. Di desa mereka dibangun bangunan suci yang megah. Melibatkan pemahat dan ahli bangunan terbaik. Daerah desa itu pun dijadikan daerah suci.

Tibalah hari peresmian. Penetapan sima dilakukan oleh pendeta tinggi dalam suatu acara yang sangat sakral. Sebuah prasasti bertulisan sebagai tanda peresmian batu sima disiapkan. Ia diletakkan di dalam kompleks bangunan suci. Prasasti itu, karena kesakralan yang dituangkan padanya, menjadi salah satu sarana pemujaan masyarakat di sana. Bangunan suci itu sendiri akhirnya menjadi tempat ibadah, yang padanya banyak dilakukan ritual. Lagi-lagi, karena daerah tersebut telah disakralkan.

Selain itu, kewajiban pajak rakyat desa dibebaskan. Sebagai gantinya, mereka diwajibkan menjaga tempat suci yang baru didirikan. Tak cuma memeliharanya, mereka diwajibkan menggelar perayaan di waktu-waktu tertentu. Banyak pula kejadian, di dekat bangunan suci didirikan permukiman kaum suci. Kaum pendeta menggelar pendidikan agama. Daerah suci menjadi pasraman-pasraman tempat para mpu dan danghyang. Semua kegiatan ini dibiayai oleh rakyat daerah sima sendiri.

Kiranya terbuktilah, prasasti penetapan batu sima adalah sentral. Baik dalam artian sebagai inti acara, maupun dari segi keletakan. Sebuah prasasti sima tak masuk akal jika diletakkan di tempat yang tersembunyi. Sebaliknya, prasasti yang menjadi pertanda kuasa kerajaan sekaligus objek pemujaan itu justru harus diletakkan pada tempat yang khusus. Misalnya saja, di titik tertinggi di dalam wilayah sima, atau pada pusatnya. Hal ini kiranya dimaksudkan agar masyarakat selalu ingat akan anugerah raja yang membebaskan daerah itu; lagi pula menyucikannya.

Di sisi lain, semua penetapan daerah mesti menentukan batas. Penetapan sima, meskipun kerap terjadi, pada dasarnya adalah suatu penetapan khusus yang tidak setiap hari ada. Penetapannya mesti melalui serangkaian mekanisme. Daerah yang ditetapkan sebagai sima pun mesti jelas pemisahannya dengan bagian luar. Kekurangcermatan dalam penetapan batas sima bisa berakibat konflik di kemudian hari ketika desa tetangga mengaku-aku menguasai bagian daerah sima. Hal ini kejadian dalam kasus Himad-Walandit. Nantinya, kasus ini menjadi contoh arbitrase (out-of-court settlement) paling awal di Indonesia.

Sampai saat ini, penetapan batas pun masih sangat penting di kehidupan masyarakat Hindu. Hanya saja, skalanya lebih kecil, yakni dalam lingkup pendirian rumah atau bangunan suci. Dalam setiap pembangunan rumah, selalu ada ritual penetapan batas-batas rumah.  Daerah dalam batas itu dilindungi (disengker) agar pengaruh negatif yang ada di sekitarnya ternetralkan. Upacaranya bernama ngeruwak atau nyukat karang.

batu-penanda-sima-terpotong-museum-mpu-purwa
Batu penanda sima yang ini kondisinya sudah terpotong.

Dengan demikian, seandainya benar batu sima berbentuk tonggak bersegi banyak itu adalah penetap batas, maka seyogianya ia berjumlah lebih dari satu. Namun, anehnya, sepengetahuan saya tak banyak penemuan batu sima (paling tidak yang saya baca dokumentasinya). Padahal, batu sima ini sangat penting untuk mempelajari bagaimana orang-orang dahulu menentukan batas suatu wilayah. Belum lagi untuk tahu di mana batas-batas suatu daerah di masa lalu. Bukankah logikanya, jumlah yang lebih banyak membuat kemungkinan ditemukan juga lebih tinggi?

Sejauh ini saya baru membaca satu dokumentasi penemuan batu batas sima. Ia termuat dalam sebuah jurnal ekspedisi wartawan koran lokal di daerah Malang. Perjalanan tersebut melibatkan sejarawan dan budayawan sehingga hasilnya tak perlu dipertanyakan. Namun, dalam jurnal itu disebut bahwa yang ditemukan hanya satu batu sima. Jumlahnya tidak banyak, tidak pula tersebar dalam jarak tertentu. Dari foto di buku itu, yang ditemukan hanya satu tonggak. Itu pun di tengah hutan. Mungkin saja, tonggak lain sudah musnah ditelan usia, atau ulah jahil manusia.

Baca juga: Arca Singa Stambha #2: Selaksa Tanya Tentang Malang dan Singa

Tapi semakin kemari, saya makin menganggap bahwa tonggak sima memang digunakan untuk menetapkan batas. Alasannya, jika ternyata semua penjelasan tadi terbukti tidak tepat, ada dua pertanyaan baru yang wajib hukumnya untuk dijelaskan. Pertama, jika itu bukan batu penanda batas, maka itu sebenarnya batu apa? Kedua, masih dengan anggapan argumen batu sima adalah penanda batas tidaklah valid, maka dengan cara bagaimana dan dengan sarana apa masyarakat masa lalu menetapkan batas daerah sima, mengingat daerah sima adalah daerah istimewa yang bisa saja menimbulkan konflik?

Apa penetapannya dilakukan oleh seorang rsi yang melayang sambil menumpahkan air dari kendi? Atau penetapannya dilakukan dengan menggores tongkat di pasir sehingga menjadi badan air, sebagaimana dilakukan rsi yang bertanggung jawab atas terpisahnya Jawa dengan Bali? #satir.

Dengan demikian, untuk sekarang saya belum bisa mengambil putusan. Ilmu dan referensi yang terbatas membuat riset yang lebih mendalam sangat diperlukan. Berbagai kemungkinan dan pertanyaan melayang-layang di kepala, membuat bingung. Sejauh ini saya mencoba menikmati kebingungan karena ketidaktahuan ini. Siapa tahu, meski membuat pusing, ada sedikit kemajuan dalam berpikir. Ibarat kata, ada sesuatu yang dapat dikarang sebagai postingan blog.

Tapi rasa sakit kepala ini berarti satu: vertigo kumat. Mana sepagian tadi saya belum makan, minum pun seadanya. Agaknya saya mesti mencari sedikit tempat untuk berteduh. Lumayan, untuk menghela napas beberapa kali dan melihat gambar-gambar. Memang, saya tidak banyak mengambil foto. Foto yang terjepret pun tidaklah bagus. Tapi saya harus memastikan bahwa untuk sekarang, objek-objek yang akan tercerita dalam blog sudah saya abadikan. Dalam waktu yang sangat sempit seperti ini, harus ada perkembangan.

Saya juga berjanji bahwa akan ada kunjungan lain ke museum ini. Semoga saja hari itu segera tiba dan saya bisa mengabadikan semua koleksi dalam gambar. Amin.

Baca juga: Tri Semaya: Candi Pari, Candi Misteri

Saya berdiri di dekat sisa-sisa kusen jendela model lama sisa bangunan sekolah. Saya dinaungi sebuah pohon yang kata Curio adalah pohon duwet (di Bali namanya juwet). Pohon itu punya buah yang warnanya seperti anggur, dan rasanya agak sepat. Di sebelah saya ada sebuah batu berpotongan tidak rata, namun tengahnya berlubang kecil. Sebuah batu lumpang. Batu yang sangat banyak ditemukan sebagai peninggalan purba. Namun, saya belum pernah membaca satu penelitian pun tentangnya.

pohon-juwet-museum-mpu-purwa
Pohon rindang yang menaungi batu.

Bentuk luarnya hampir menyerupai lingkaran, tengahnya bulatan lubang yang sempurna. Padanya yang tak begitu dalam, terisi sedikit air hasil hujan semalam. Saya selalu kagum sekaligus bingung ketika melihat batu lumpang. Saya belum tahu pasti, bagaimana dan dengan alat seperti apa orang masa lalu membuat lumpang; batu dengan lubang yang bulatan tengahnya tak bercela mulusnya. Saya mengambil sebuah gambarnya. Bayang-bayang daun pohon juwet memberkas di atasnya. Itu membuat kita bisa melihat warna asli si batu. Saya seperti melihat nuansa merah marun.

Tiba-tiba saja saya penasaran ingin merasakan bagaimana tekstur bulatan yang ada di tengah batu berpermukaan mendatar itu. Namun, belum sempat saya menyentuh batu lumpang itu, Mbak Mimin sudah berseru memperingatkan. “Mas, itu batunya jangan dipegang-pegang, Mas. Yang punya lumpang itu galak.”

Kontan saya menarik tangan yang tinggal beberapa senti lagi jaraknya dari batu berlubang. Terus terang kata-kata itu membuat diri ini sedikit tegang juga. Tentu saja, saya langsung berpikir hal-hal yang aneh-aneh dan sedikit di luar penalaran. Sambil nyengir pada Mbak Mimin, saya mendekatinya. “Galak bagaimana Mbak, maksudnya?” tanya saya, pura-pura tidak tahu.

“Iya Mas, yang menunggui batu lumpang itu galak. Dulu sudah pernah ada beberapa kejadian saat pembangunan museum ini,” jelasnya.

Saya bisa merasa pupil mata ini melebar. Adrenalin pun mengalir, tanda semangat datang tiba-tiba. Tak pedulilah saya akan arah angin. Entah mereka berembus dari arah mana menuju ke arah mana. Tapi kita mulai menuju pada sesuatu. Setelah beberapa lama di sini, akhirnya pembicaraan mulai mengarah pada hal-hal yang sangat saya inginkan!


Referensi:
Soekmono. 2017. Candi: Fungsi dan Pengertiannya. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Wicaksono, Bagus Ary, dkk. 2014. Ekspedisi Samala: Menguak Kemashyuran Majapahit dari Jendela Malang Raya (Laporan Jurnalistik Malang Post). Malang: Malang Post Forum-Ekspedisi Samala.

36 thoughts on ““Sekadar” Batu yang Bersejarah (Dan Sebaiknya Jangan Macam-Macam Terhadapnya)

  1. Jika memang benar adanya; maksudku Sima ini adalah sebuah simbol untuk jasa desa tertentu oleh kerajaan. Tentu menarik menelisik jauh lebih dalam lagi mas tentang kontribusi prajurit di desa tersebut pada masanya. Walaupun aku tidak paham tentang sejarah, tapi ketika masyarakat di suatu tempat mendapatkan hak khusus (tidak bayar upeti, dll); tentu kontribusinya jauh lebih besar pada kerajaan sebelumnya. Ibaratnya sekarang mungkin seperti TNI yang berani mati dan setia pada negara.

    1. Iya, Mas. Rakyat di zaman dahulu memang sangat loyal pada raja. Meski bukan prajurit, mereka berani mati untuk melindungi kerajaan. Tak jarang juga mereka menjadi benteng hidup dari musuh yang akan menyerang. Makanya sang raja pun sangat berterima kasih atas jasa-jasa itu dan menganugerahkan hadiah, hehe.

  2. Membaca tulisan Gara, seperti dalam film, aku ikut membayangkan saat Seorang pendeta memimpin upacara penetapan Sima, lalu memberi berkat untuk batu Sima yang akan ditancapkan sebagai batas wilayah. Pasti banyak musik disertai Alunan Doa di tempat tersebut yang diikuti dengan taksim oleh rakyat.
    Terima kasih sudah Membawaku Kembali ke abad Silam lewat imajinasi yang luar biasa

    1. Wah kalau ada Setnov dan batu sima, saya mesti sabar-sabar, Mas. Salah-salah bisa saya timpuk beliau dengan batu sima, haha.
      Salam kenal kembali. Terima kasih sudah mampir.

  3. Jadi Sima itu hanya penanda daerah khusus saja, daerah yg dibebaskan dari pajak ato minimal pajaknya diringankan. Bukan penanda daerah kekuasaan? Saya kemudian jadi mikir karena saya sendiri belum pernah lihat patok batas daerah kekuasaan jaman kerajaan di museum-museum. Ato mungkin sudah hilang tanpa jejak 😀

    Sekilas lihat fotonya saya juga ngehnya itu Lingga hahaha

    1. Batas kekuasaan lebih ke batas alam. Contohnya pembagian wilayah kerajaan Airlangga dalam prasasti Pucangan, batasnya adalah Kali Lamong sekarang.

      Hehe iya, jika tidak dijelaskan oleh penjaga museum, saya pasti menuliskan itu sebagai lingga.

    1. Yang ada di Museum Mpu Purwa sih seperti itu, Mbak. Tapi sejauh ini saya belum baca naskah tentang bagaimana membuat batu penanda sima jadi saya belum bisa memastikan. Penemuannya pun, seperti yang sudah ditulis di artikel ini, belum banyak. Jadi generalisasi tampaknya belum bisa dilakukan. Lain dengan cara membuat lingga yang naskahnya sudah ada.

  4. Dulu paa zaman SD belajar IPS isinya batu-batuan seperti ini. Hanya saja jarang punya waktu berkunjung ke tempat-tempat yang menyimpan sejarah seperti ini. Pengen juga bisa jalan lihat peninggalan bersejarah

    1. Betul sekali… sepertinya sejak ada negara, pajak juga akan ada. Karena negara butuh uang untuk pemerintahan. Dan siapakah yang menyediakan uang itu, jika bukan rakyat sendiri?

  5. jarang banget masih tersisa batu penanda daerah, kayaknya saya baru lihat di postingan ini.
    Dengar2 juga di Bekasi dulu pernah ada .sampai tahun 90-an .. tapi sudah hilang/rusak seiring masifnya pembangunan perumahan2 … sayang banget ya

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?