Sang Piring dan Si Gelas Bening

Saya mengalami malam yang tidak terlalu mengenakkan. Kondisi tubuh yang terus-terusan terpapar hujan, suhu AC yang terlalu dingin, membuat hampir-hampir saya tak bisa tidur karena batuk terus-menerus. Untung saja setelah saya meminum obat flu, dan menjaga-jaga malam dengan segelas air panas, kondisi bisa terkendali keesokan harinya.

Cuma, saya agak mengantuk. :yawn.

Ruang tengah di lantai satu, tempat kolam ikan-ikan koi yang suka saya permainkan itu berada :haha, masih lengang. Mas-mas penjaga wisma tidak terlihat, hari memang masih setengah tujuh pagi dan jalan di depan itu juga masih sepi. Mas-mas polisi yang menginap di lantai satu ini juga tidak kelihatan, di depan pintu kamarnya sudah tidak ada sandal. Mungkin sudah cabut dari sini malam tadi.

Bingung mau apa, saya yang sudah bersih dan wangi ini (tentunya) akhirnya memilih membuat segelas teh manis panas untuk menyegarkan tenggorokan, sambil duduk berhadapan televisi besar berlayar datar di ruang makan, menikmati berita. Pagi-pagi, teh hangat, berita politik masa kini. Untuk sesaat saya berasa seperti pejabat penting. Like a boss.

Yang kurang sebenarnya cuma sarapan pagi.

Seakan mendengar doa saya, tiba-tiba saja Tuhan mengirimkan mas-mas penjaga wisma itu, yang berkata halus menyenangkan, “Mas, silakan sarapannya di bawah tudung saji. Sekalian dengan Mbaknya juga.”

Wow, jackpot! Padahal dengan Rp175k per malam kita tidak mengantisipasi akan penyediaan sarapan; tapi keberuntungan memang tidak jauh dari orang-orang baik, hehe. Cepat-cepat saya meminta Mbak Din untuk bersiap karena saya tidak sabar untuk menyantap sarapan ini. Meskipun pada akhirnya saya juga makan duluan. Seperti biasa.

Saya mengangkat tudung saji dan terkesiap sedikit. Wuhu. Jarang saya melihat nasi berbungkus daun pisang seperti ini. Sekarang kan zamannya kertas nasi. Di Jakarta nasi yang dijual dengan berbungkus daun pisang sudah sangat-sangat sulit untuk ditemukan. Mungkin karena pohon pisang sendiri sudah jarang ada, akibatnya harga daun pisang jadi mahal. Mending pakai kertas nasi, kan?

“Kertas” nasi? Seingat saya pelapisnya plastik.

Bau gurih tercium menelusup dari balik daun pisang. Langsung saya buka, dan tada… sepiring nasi lengkap dengan lauk ayam berbumbu merah kaya rempah, kering kentang, kacang, ikan teri, serundeng (banyak serundeng), juga sedikit bawang goreng. Ada lauk lain cuma saya lupa apa. Waduh, kesukaan saya ini. Kayaknya tidak cukup satu bungkus, tapi saya kan bukan anak yang rakus. Lagipula pagi-pagi tidak boleh makan terlalu banyak, nanti cepat mengantuk!

Jreng... kelihatannya enak!
Jreng… kelihatannya enak!

Makanan itu punya nama yang khas. Nasi gurih. Dan sebagaimana namanya, rasanya pun begitu. Mirip-mirip nasi uduk sebenarnya, tapi tidak sama betul. Yang jelas rasa nasinya berbeda dengan nasi biasa karena dimasaknya pakai santan. Gurih betul. Sedap. Wangi santannya tercium sekali. Ditambah dengan pelengkapnya yang juga gurih-gurih. Bahkan saya rasanya mau guling-guling di lantai saking enaknya. Andai saja saya lupa diri, mungkin daun pisangnya juga sudah saya lahap.

Tapi bintang nasi gurih itu, je-las, daging ayamnya. Meskipun cuma sayap dan setengah bagian dada, tapi itulah yang terbaik karena bumbunya benar-benar meresap. Pada awalnya, saya mengira daging ayam itu akan pedas. Doh, kuliner Sumatera. Tidak Medan, atau Padang, pasti identiknya dengan bumbu rerendangan (istilah saya untuk rendang dan sebangsanya). Tapi ayam ini berbeda. Alih-alih pedas, rasanya manis dan ya, gurih! Mungkin kalau tulangnya lunak, tulang ayam itu sudah saya embat…

Nasi gurih :))
Nasi gurih :))

“Ini kalau orang Jawa datang ke sini, bakal senang betul, soalnya masakan Jawa juga dominan manis-manis,” komentar polos saya. Mbak Din mengangguk.

Selesai sarapan, sebenarnya kita tidak ada agenda. Penerbangan ke Jakarta baru senja hari nanti, jadi kita benar-benar senggang. Sempat bingung mau ke mana, tapi Mbak Din mengemukakan lagi ide yang sempat tertunda kemarin.

Jelajah Warung Kopi Aceh.

Hmm. Judul yang bagus. Mungkin ada stasiun TV yang mau berinvestasi? Saya bersedia jadi Tim Kreatif #eh.

Bukan tanpa alasan kalau Banda Aceh dinobatkan menjadi Kota Seribu Warung Kopi. Selain Aceh adalah penghasil kopi yang termashyur itu (dari Dataran Tinggi Gayo), adat sosialisasi masyarakat di sini hampir selalu melibatkan warung kopi. Kedai-kedai penjaja minuman hitam pahit asam disertai jajanan pasar itu memang menjadi pusat dinamika bagi masyarakat Aceh untuk bercengkrama dengan sesama. Setiap hari, saya lihat 70% masyarakat Aceh mesti pergi ke warung kopi. Sekadar melepas penat selepas bekerja, mencari kenalan baru, atau untuk bertukar cerita dengan si pemilik kedai.

Oleh karena itu, karena kita sudah kadung di sini, kenapa kita tidak mencoba menjadi masyarakat Aceh yang sebenarnya?

Pagi, dari dalam becak motor.
Pagi, dari dalam becak motor.

Dan sedikit cerita, sebenarnya ada hikmah antara bencana tsunami dengan kopi Aceh. Menurut cerita yang saya dengar dari Pak Dayat di perjalanan kemarin, kopi Aceh jadi lebih booming di luar negeri justru setelah ada bencana tsunami itu. Orang-orang asing yang datang ke (dan tinggal di) Aceh sebagai relawanlah, yang menyebarkan berita tentang nikmatnya kopi Aceh ke seluruh dunia, karena mereka pada umumnya melakukan pertemuan untuk susun-susun Lego strategi ya di warung kopi. Bukan di hotel berbintang ibukota, atau di Bali, sebagaimana yang diduga dilakukan oleh beberapa orang.

Ada yang merasa tersindir? Ups, bukan urusan saya. Saya kan tidak sebut merk. Yee…. Yang jelas itu menunjukkan apa bedanya antara orang asing dengan saudara pribumi sendiri, ya.

Apa yang terjadi kemudian persis betul kelanjutan dari apa yang terhenti kemarin. Kami menyetop becak motor, kemudian melompat cepat ke dalamnya. Untung saja muat, karena, yah… ukuran tubuh saya agak gemuk :hehe. Pak ojek (katanya becak? Ah mbuh) menanyakan tujuan kami.

Kedai Kopi Solong, here we go!

Hm… kalau saya pikir-pikir lagi, soal becak motor di Aceh ini, bedanya dengan yang di Medan adalah jenis motornya. Kalau di Medan, motornya motor laki, yang berkopling dan tangki bahan bakarnya di muka, tapi kalau di Aceh, motor yang dipakai itu motor bebek.

Motornya bebek :hehe
Motornya bebek :hehe

Itu baru hipotesa yang kebenarannya relatif, sih.

Menurut cerita Pak Dayat dan Mbak Din, kalau saya gabung-gabung seperti puzzle, ada dua kedai kopi yang menjadi Top 2 di Aceh. Pertama, Dapu Kupi. Kedai kopi ini terkenal di kalangan orang-orang pribumi (memang ketika kami lewati kemarin, tak ada kursi yang tak terisi di Dapu Kupi di pojok perempatan itu). Kedua, Kopi Solong. Kalau yang ini terkenalnya di kalangan orang asing. Bahkan, katanya ada orang asing mantan relawan yang akhirnya tinggal di Aceh karena tak rela berpisah dengan kenikmatan kopi Aceh. How sweet. Bagaimana sesuatu yang dicintai bisa mencegah orang untuk pergi. Padahal di luar negeri, tentunya Mr. X ini punya kehidupan juga, kan?

Kalau kamu, ya kamu, relakah kamu tinggal dan melepas semua yang kamu punya sekarang demi sesuatu (atau seseorang) yang kamu cintai? Hayoloh… :haha!

Banda Aceh cerah. Senang betul saya, karena cuaca bersahabat. Alam seakan memberi sinyal perdamaian setelah intrik kami kemarin-kemarin. Damai, Lam! Damai. Matahari bersinar, langit cerah, angin sepoi-sepoi. Asoi. Kami tak terlalu memerhatikan ke mana Pak Ojek membawa kami. Yang penting kami tiba di kedai kopi yang kami tuju, dan itulah yang terjadi ketika Pak Ojek menghentikan motornya sepuluh menit kemudian.

Ongkos ojek? Cuma Rp5k.

Solong Coffee, since 1974.
Solong Coffee, since 1974.

Oh ya, inilah kedai kopi Solong. Jam baru menunjukkan pukul 9 pagi, tapi kedai ini sudah cukup ramai. Yah, memang, penampilan pengunjungnya terlihat seperti orang-orang kelas atas. Banyak mobil terparkir di depan kedai ini. Tapi peduli amat, kita juga berkelas, kok :hihi.

Bangunan kedai ini sepertinya baru. Kursi-kursi tertata rapi, di sebuah ruangan ruko luas memanjang ke dalam berlantai keramik. Dua buah televisi besar tergantung di dalam, menjadi ajang tontonan bagi para pengunjung sementara menunggu pesanan kopi dan jajanan. Dan ternyata, di sini tidak melulu menjual kopi dan jajanan pasar. Ada juga mi aceh dan roti canai. Cuma harus dipesan secara terpisah. Saat itu kami tidak mencobanya karena kami kan baru sarapan nasi gurih :hihi.

Oh, ceritanya saya lagi foto :haha
Oh, ceritanya saya lagi foto :haha

Trik memesan yang saya pelajari ketika bersama Pak Dayat santap malam Sate Matang membuat saya memanggil pelayan kedai itu dengan sebutan “Dik”, bukan “Mas”. Lagi pula, ini kan bukan Jawa. Masa semua orang mau dipanggil “Mas”?

Tapi kadang-kadang saya memfoto hal-hal useless :hiks
Tapi kadang-kadang saya memfoto hal-hal useless :hiks

Seorang pemuda menghampiri kami dengan tumpukan kertas kecil, kemudian membuat kami bingung mau pesan apa. Yang jelas kami berdua kepingin pesan kopi susunya (karena meja sebelah memesan itu dan terlihat sangat enak). Tapi kami juga kepingin memesan kopi hitamnya (ya iyalah, jauh-jauh ke Aceh masa minumnya kopi artifisial? Otentik dari kopi kan ketika tak ada campuran di dalamnya). Tentu saja kami juga ingin memesan jajanan pasar itu.

Akhirnya kami memesan dua gelas kopi susu dan satu gelas kopi hitam. Tak seberapa lama, si Mas datanglah membawa pesanan. Plus, jajan pasar beberapa piring kecil. Catat, beberapa. Artinya lebih dari jumlah tamu yang akan memakannya.

Kopi!
Kopi!

“Er, Mas, kayaknya ini kebanyakan,” kata saya. Kita bahkan tidak tahu harganya berapa, dan apakah uang yang kami bawa cukup atau tidak. Akan sangat memalukan kalau saya berakhir di sini sebagai tukang cuci piring, kan?

“Nggak apa-apa, Pak, nanti Bapak bayar yang Bapak makan saja,” kata si pelayan takzim. Sangat takzim.

Takzim sih takzim, tapi ya saya tersinggung. Umur baru twenty-something kok sudah dipanggil Pak? Huh.

Edisi lengkap!
Edisi lengkap!

Kini kami sudah berhadapan dengan tiga gelas bening ukuran tanggung yang terlihat tebal dan tahan panas, dengan kopi yang masih mengepul. Bahkan masih ada gelembung-gelembung di atasnya. Tambahannya adalah empat lepek berisi masing-masing beberapa jajanan pasar, yang beberapa sudah saya kenali, tapi sebagian lagi bahkan belum pernah saya lihat. Langkah pertama yang kami lakukan? Tentu saja… foto-foto.

Kopi hitam dan jajannya.
Kopi hitam dan jajannya.

Sehabis difoto, baru dicicip. Saya mencicip kopi susu, Mbak Din kopi hitam, kemudian kopi hitamnya gantian.

Kopi susu! Susunya di dasar gelas.
Kopi susu! Susunya di dasar gelas.

Rasanya setelah mencicipi dua jenis kopi itu? Kopi banget. Harus saya akui, agak beda dengan kopi biasa. Distinguishable thing-nya adalah, rasanya di lidah lebih pekat dari kopi biasa. Berbeda dari kopi-kopi lain yang pernah saya coba sebelumnya. Tentang apa yang ditangkap lidah, agak asam, tapi bukan asam yang kecut banget juga. Ah, susah menjelaskannya. Saya bukan pecinta kopi, dan sesungguhnya kopi pertama yang khusus disajikan hanya untuk saya ya yang satu ini, sebelumnya paling-paling saya cuma cicip.

Seingat saya, kopi yang saya rasa kala itu agak asam. Makanya saya agak heran ketika dengar teman-teman bilang kalau kopi Sumatera justru terkenal gara-gara low acid. Mungkin lidah saya yang agak salah, ya? Tapi memang, sih, tidak ada perut yang melilit gara-gara maag setelah mencicip kopi-kopi itu. Kami tetap bisa beraktivitas sebagaimana biasa setelah keluar dari sana :hehe.

Yang membekas di benak saya justru after taste-nya. Khas sekali. Campuran dari pahit dan rasa-rasa semacam krim. Aromanya pun berbeda. Membauinya seperti sejenak singgah di perkebunan kopi, dengan aroma tanah sehabis hujan. Alami betul.

Ini kue apa, ya?
Ini kue apa, ya?

Pelengkapnya seakan menetralisir mulut saya dari bombardir rasa kopi nan unik itu. Sesuai ketentuan, ada jajanan dengan variasi manis (seperti kue-kue talam itu), ada juga yang punya dominansi gurih cenderung asin (seperti jajan yang bergulung-gulung itu, atau bakwan dalam cetakan kue mangkok). Tentang jajan yang terbungkus daun pisang dan dibakar (seperti otak-otak itu), saya lupa itu manis atau asin, tapi kalau tidak salah, manis.

Saya juga tidak tahu ini namanya apa :haha. Yang penting makan!
Saya juga tidak tahu ini namanya apa :haha. Yang penting makan!

Sayang saya lupa menanyakan apa nama dari masing-masing jajanan karena Pak Dayat sudah menelepon untuk menjemput kami. Katanya ada beberapa tempat yang harus kami datangi :ohyes. Setelah sempat salah paham tentang lokasi Kedai Kopi Solong (yang ternyata ada dua, yang satu lagi ada di pinggiran kota), saya memanggil sang Adik yang tadi untuk membayar.

Dia menghitung sebentar. Menghitung-hitung berapa jajan yang kami santap (masing-masing satu, untuk saya, ditambah beberapa, dan sedikit disantap Mbak Din).

“Dua puluh empat ribu, Mas.”

Oh ya. “Yang punya saya berapa?” tanya saya.

“Nggak, Mas. Itu sudah semuanya.”

Heh? Dua puluh empat ribu untuk tiga gelas kopi dan berpotong-potong jajanan pasar? Padahal kami (saya, tepatnya) makan cukup banyak, hanya tersisa satu lepek saja dari empat lepek yang dibawa pada awal tadi.

Wow, terjangkau sekali.

56 thoughts on “Sang Piring dan Si Gelas Bening

  1. Banyak narablog yang tumbang di musim hujan ini kayaknya. Aku juga lagi batuk pilek :D.
    Maaf, Bang, aku langsung fokus ke kuenya. Bikin ngiler, pas banget saya suka jajanan pasar :).. Kalau dari tampilannya, seperti ketan serikaya, cuma kalau yang biasa kulihat, serikaya itu warna cokelat karena gula merah, nah ini warna kuning.

  2. Katanya memang kopi Aceh enak. Smp skrg msh mengharap ada org berbaik hati mengirimkan yang asli sana. Bukan olahan trs labelin Kopi Aceh.

    Acid pasti ada Gara di kopi apapun. Tp Sumatra memang terkenal lbh rendah. Coba yang daerah lain punya kapan2. Lbh berasa pasti.

    1. *lagi nyiapin racikan dan label kopi Aceh* E-eh? *sembunyiin* H-haha, haha…

      Sebenarnya saya tidak bi(a)sa minum kopi, Mas :malu. Itu kemarin juga cuma coba-coba, rasa asamnya cukup kuat bagi saya, makanya makan penganannya banyak #eh

    1. Haha, sama Mbak, saya juga sepertinya kangen berat dengan nasi bungkus daun pisang yang satu itu. Nasi dan lauknya sederhana tapi enaknya bersisa banget di lidah dan di hati :))

  3. Wauw itu sih murah bgt Gar!
    Di makassar jg byk warkop. Mgkn budayanya mirip ya, slh satu tmpt utk bersosialisasi antar warga.

    ak pnh coba jg kopi aceh gayo. Kpn2 cobain kopi toraja deh! Hehe *promosi*

    1. Mungkin demikian Mbak, masyarakat yang tinggal di daerah perkebunan kopi jadi akrab dengan budaya ngopi-ngopi sambil ngobrol-ngobrol seru πŸ˜€

      Boleh, saya kok jadi penasaran ya? Apa ada beda antara kopi Toraja dengan kopi Aceh? Cari-cari deh… terima kasih infonya, Mbak!

  4. emangnya nggak nanya sebelum makan… ini itu apa namanya? πŸ˜€

    kalau saya tidak salah ingat, di makam teuku umar itu ada tulisan yang menyebutkan minum di kedai kopi… saya nggak ingat jelas kalimatnya…. tapi ada seh di blog saya.

    waktu di banda aceh sempat makan roti cane dan mampir ke mi doel atau siapa yah…

    lupa juga

    1. Nggak, Mas :hehe
      Kita (saya, sih) mah asal makan saja (ketahuan maruknya :hihi :malu).
      Kalau lupa, tandanya harus ke Aceh lagi Mas, biar ingat kembali :hehe.

  5. Em, beruntung sekali mas dapat pelayanan prima dari pelayan penginapannya. Ngomong-ngomong soal kopi dari kecil saya gak suka kopi. Gak tahu kenapa.

    Anyway umur 20 dipanggil Pak? Saya malah dari umur 18. Berhubung pekerjaan saya waktu itu adalah guru. Jadi masyarakat memanggil saya Pak Guru. Lucunya murid-murid saya malah memanggil saya Abang. Awalnya di SMA tempat saya mengajar pun saya malah dipanggil Kakak karena murid-murid saya adalah adik sepupu saya sendiri dan teman-temannya. Saya sih enjoy aja soalnya waktu itu kan saya masih muda seumuran mereka juga. Tapi setelah beberapa bulan kemudian, wakil kepala sekolah menyuruh murid-murid untuk bersikap sopan kepada guru. Lantas saya pun dipanggil Bapak oleh mereka. Jadi berasa tua πŸ™

    1. Mungkin karena tidak terbiasa minum kopi Bro, makanya tidak suka :hehe
      Wah, kalau guru pengecualian :hihi. Berapapun usianya harus dipanggil “Pak”. Dulu pernah teman saya memanggil guru yang usianya tidak seberapa jauh dengan sebutan “Mas”, dan guru itu langsung sewot, kemudian bercanda,
      “Sejak kapan aku nikah dengan Mbakmu?”

      Btw, Mas muda sekali sudah jadi guru :wow. Saya umur 18 baru lulus SMA :hehe.

  6. Waktu itu baru lulus SMA saya jadi volunteer Bli, di pedalaman Kalimantan Tengah. Setelah SMA tempat saya mengajar mendapat status negeri dari pemerintah saya pun menghonor selama 8 tahun sambil kuliah di UT. Sekarang sudah resign dan fokus mendirikan bimbel di rumah.

  7. Entah kenapa aku tiba2 sampai di post ini. Aku paling nggak bisa minum kopi, karena pasti mual. Ajaibnya ketika minum kopi di warkop kong djie di belitong, perutku baik-baik saja. Begitu juga dengan minum kopi seduhan ketika di Melaka. Jadi aku berkesimpulan, aku cuma cocok minum kopi lokal, seduhan dengan air mendidih. Kopi instan, diseduh air dispenser, bye!
    Kopimu mengingatkan pada kopi-kopi di Flores. Ah, jadi ingin ke Aceh.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?