Safe Traveling?

Buka postingan dengan gambar dulu, biar tidak bosan.
Buka postingan dengan gambar dulu, biar tidak bosan.

Ya Tuhan. Saya memang tak pernah tahu kapan musibah akan menimpa. Apalagi dalam sebuah perjalanan, dengan media transportasi yang sebenarnya sudah familiar banget saya gunakan: sepeda motor. Tapi ya, namanya musibah memang tepat banget waktunya. Tepat, karena ada beberapa “tepat” yang saya simpulkan dari kejadian kecelakaan kemarin.

Tepat pas saya lagi pulang kampung.

Tepat sewaktu saya tidak minta izin pergi ke orang rumah :hehe.

Tepat sewaktu saya tidak sembahyang sebelum bepergian.

Tepat ketika saya mengajak teman jalan-jalan :peace.

Tepat pas saya mengskedul postingan tentang safe traveling.

Yah, namanya juga musibah… jadi kemarin itu kejadiannya sewaktu saya pulang dari Senaru, habis makan siang di Rinjani Lodge ala-ala food blogger dan trekking ala-ala juga ke air terjun Sendang Gila. Kita pulang jam empat sore, dan matahari memang menyorot langsung ke mata, gila itu silaunya nggak nahan apalagi saya tidak punya kacamata hitam. Di satu tikung turunan, saya tidak bisa melihat apa-apa, mendadak saya keluar jalur, kendaraan tak terkendali dan… gusrak, kami terbanting ke kanan.

Kalau saya tuliskan sekarang, saya tampak sangat konyol. Di draf postingan kemarin saya ribut dengan ajakan untuk hati-hati, fokus selalu, lihat jalan, ketahui medan, jangan ngebut, minta izin sebelum pergi, tapi yang saya lakukan? Nol koma kosong, none of the above.

Pulang-pulang, ibuk saya histeris. Pertamanya sih saya cuma mendengarkan saja omelannya, berusaha masuk kuping kanan keluar kuping kiri, tapi lama-lama saya juga jadi terharu, terus akhirnya ikutan nangis. Rasanya malu dan bersalah banget. Akhirnya saya cuma bisa minta maaf sama ibuk dan bapak.

Begitulah rasanya pergi tanpa izin orang tua, bikin khawatir dan ternyata kecelakaan juga, terus tahu kalau orang tua khawatir itu rasanya nyess banget. Rasanya seperti sudah gagal jadi anak yang baik :hehe :peace.

Terus luka ini jadi sakit lagi rasanya, soalnya selain lumayan juga besarnya, mungkin suasana hati yang sedih di rumah itu membuat semua jadi terasa sakit. Padahal sepanjang jalan dari tempat kecelakaan ke rumah saya baik-baik saja, lho.

Mungkin ini cara Tuhan meyakinkan saya kalau apa yang saya tulis di blog ini harus pernah saya alami dulu, tidak sebatas teori di bibir saja. Mungkin ini cara Tuhan memperingatkan saya. Sungguh, Tuhan punya cara memperingatkan yang paling tepat dan waktu terbaik.

Makin cinta deh sama Tuhan.

Sekarang saya sudah baik-baik saja, buktinya 24 jam setelah kecelakaan itu saya terbang ke Jakarta, terus besoknya lagi (tadi pagi) saya sudah latihan Tari Saman sebagai syekh-nya :hoho, gebak-gebuk rebana meski konsekuensinya lukanya terbuka lagi, dan waktu didempul sakit lagi. Tapi masih lebih sakit kalau sakit hati, kan? :hehe.

Satu lagi pelajaran yang saya dapatkan, kalau sedang masa penyembuhan luka begini, hati mesti tetap ceria. Saya pernah dengar di mana, entahlah, tapi katanya “hati yang bahagia adalah obat semua penyakit“. Betulan, tadi kita have fun banget latihan tari samannya, saya juga bisa nyanyi-nyanyi dan gebak-gebuk rebana, jadi tenang dan luka ini tidak berasa sakit. Seru.

Padahal setengah tangan kanan saya sudah seperti daging panggang gosong, lho. Tapi saya izin tidak unggah foto tangan saya, ya. Ngapain, bikin rusak selera makan pembaca saja. Mending upload foto air terjun Sendang Gila.

Si putri yang melarikan diri: Sendang Gila.
Si singa gila yang melarikan diri: Sendang Gila.

Dan untuk pembaca budiman yang berniat membaca postingan tentang save traveling kemarin, inilah dia:


Sejujurnya kemarin itu saya agak ragu untuk pergi ke Gunung Tunak. Ada dua alasannya.

Yang pertama sudah saya jelaskan sedikit di postingan sebelumnya. Jalurnya terkenal rawan. Oleh karenanya, sebelum terlalu sore kami sudah kembali dari tempat itu. Kejadian-kejadian pembegalan yang terjadi umumnya menyasar di waktu-waktu senja ketika matahari sudah mau tenggelam. Jalanan yang minim penerangan memberi penjahat kesempatan yang empuk untuk melancarkan aksi, lebih-lebih ada daerah-daerah di Desa Sukadana, Mertak, Sengkol, dan Kuta yang cuma berupa hutan atau bukit di kanan kiri jalan yang sepi rumah penduduk.

Beberapa kejadian pembegalan dalam seminggu sebelumnya itu jelas sangat mencoreng wajah pariwisata di Lombok. Terlebih, korban pembegalan sejauh ini adalah wisatawan asing. Ingat cerita ketika saya dan Kak Randy jelajah Kuta dan Tanjung Aan? Dua hari setelah itu, wisatawan asing dibegal di jalan yang sama persis dengan jalan yang kami lalui. Dan di sini, beberapa hari yang lalu, sudah saya jelaskan di postingan sebelumnya kalau ada kasus pembegalan.

Artinya, daerah ini memang rawan…

Kak Dilan pun menyiratkan hal serupa, dengan rencananya untuk tidak meninggalkan Gunung Tunak terlalu sore. Andai saja semua ini tak ada, saya akan betah menunggu senja di gunung itu, yang pastinya akan sangat spektakuler. Tapi faktanya, karena semua itu, kami meninggalkan lokasi sekitar jam 12 siang, agar tidak terlalu sore sampai di Mataram lagi.

Alasan kedua adalah lebih karena di sana belum ada pengaman. Beberapa hari sebelum kami berkunjung, ada sebuah insiden di Pantai Kuta. Seorang pemuda yang terlalu asyik berfoto tidak melihat ke mana dirinya berpijak, tergelincir dan jatuh ke pantai dari tebing setinggi dua puluh meter.

TIdak ada pagar pengaman. Jatuh ya jatuh.
TIdak ada pagar pengaman. Jatuh ya jatuh.

Beberapa hari sebelumnya lagi, menurut cerita kakak saya, empat orang terseret arus laut selatan saat sedang mandi-mandi di pantai selatan Lombok. Yang membuat heran, empat orang ini adalah anggota dari satuan yang biasanya mencari dan menemukan korban kecelakaan pesawat di medan-medan sulit, tapi kali itu, justru mereka yang menjadi korban.

Dari seluruh cerita itu, semua korbannya tewas.

Belum cukup? Beberapa waktu yang lalu kan ada berita kalau seorang pemuda yang selfie di bibir kawah Gunung Merapi dan akhirnya terjatuh di dalamnya?

Satu lagi, dulu teman seangkatan saya meninggal di air terjun Tiu Kelep, Senaru, karena terpeleset dan kepalanya membentur bebatuan di sungai tepi air terjun.

Semua itu membuat saya berpikir (ciyee) pada malam sebelum bertualang ke Gunung Tunak. Traveling yang “aman” itu sebaiknya bagaimana, ya? Safe traveling itu yang seperti apa? Terus apa yang mesti kita lakukan dengan mengetahui begitu banyak kejadian seperti ini? Mesti gentar dan mengurungkan niat bertualang? Atau mengganti tujuan penjelajahan menuju tempat lain yang lebih aman?

Hmm… biarkan saya berpikir dulu barang beberapa jam.

Dan saya pikir saya sudah mendapat beberapa jawaban. Tapi sebelumnya saya mau menegaskan, saya bukan siapa-siapa, bukan travel blogger terkenal, juga cerdik cendekia yang punya gelar sederet, dengan kemampuan tinggi di bidang perencanaan keamanan yang pendapatnya dapat dipercaya. Ini cuma pendapat seorang anak yang belum terlalu banyak melihat tapi mulai bisa menyusun pendapat dari apa yang ditangkap panca inderanya :hehe :peace.

Menurut saya sih kuncinya satu. Hati-hati.

Hati-hati, jangan meleng ke kanan, nanti jatuh ke laut.
Hati-hati, jangan meleng ke kanan, nanti jatuh ke laut.

Iya memang cuma itu :haha. Sangat tidak membantu banget, ya? :haha.

Dalam pandangan saya yang masih sempit ini, perjalanan yang berhasil dan aman itu pada awalnya ditunjang dengan riset yang cukup. Yah, dari segi keamanan, minimal mencari tahu dulu lokasi yang akan dikunjungi itu seperti apa situasinya, aksesnya, lebih spesifik untuk soal ini adalah, dari segi keamanannya, fasilitas keamanan apa yang sudah disediakan pengelola situs yang akan dikunjungi itu. Misal, untuk Gunung Bromo setahu saya sudah ada pengaman yang disediakan untuk pengunjung agar tidak terperosok ke dalam kawah.

Untuk Gunung Tunak, apa pengamannya ada? Well, jawabannya tidak.

Selain itu, ada baiknya kalau sebelum memulai perjalanan, kita mencari tahu soal nomor telepon penting yang bisa kita hubungi, terutama polisi, sekadar berjaga-jaga untuk meminmalisasi aksi kejahatan. Terutama begal, kejahatan satu ini kayaknya lagi nge-hits banget (terutama di Lombok). Paling tidak, kita tahu siapa yang mesti kita cari ketika dalam keadaan darurat.

Menurut saya, sebenarnya hati-hati itu lebih pada diri kita sendiri, sih. Dalam melakukan perjalanan, tetap fokus, terutama ketika melalui tempat-tempat yang medannya sulit. Minimal jangan meleng, jangan terburu-buru juga kalau teman jalan sudah jalan lebih dulu. Pelan-pelan saja, biar lambat asal selamat. Fokus.

Fokus. Sebenarnya ini tidak curam sih :haha. Tapi kudu tetap fokus!
Fokus. Sebenarnya ini tidak curam sih :haha. Tapi kudu tetap fokus!

Perlengkapan perjalanan juga harus diperhatikan. Misal mau pergi ke daerah yang medannya licin, siapkan alas kaki yang memadai. Pergi ke daerah yang dingin, siapkan jaket hangat yang cukup agar di sana tidak ada masalah dengan kedinginan. Atau, kalau mau ke pantai jangan salah kostum pakai jaket tebal… timpuk diri sendiri.

Satu lagi yang menurut saya juga penting. Jangan songong kepengin foto dengan pose yang “menentang maut” kalau tidak dilengkapi dengan kemampuan dan peralatan keselamatan yang memadai. Well, foto yang bagus dan keren, semisal foto di puncak tebing yang sangat sempit memang akan jadi terkenal dan dikagumi banyak orang, tapi mempertaruhkan nyawa untuk itu? Wah, nyawa saya jauh lebih berharga ketimbang satu atau dua foto spektakuler. Lebih baik saya punya foto yang “biasa” tapi saya masih yakin bisa menjelajah ke banyak situs ketimbang punya satu foto “menentang maut” tapi esok hari, nama saya terpampang di koran karena menjadi korban jatuh dari tebing tiga puluh meter…

Amit-amit jabang orok.

Tapi kalau ada yang menawari perjalanan menantang dengan jaminan keselamatan yang memadai? Atau ada yang mau mengajari saya bagaimana mengarungi semua medan berbahaya itu? Maka kenapa tidak? Toh keluar dari zona nyaman adalah sesuatu yang bisa dilakukan untuk membawa diri pada pengalaman baru.

Dan yang paling, paling penting, jangan lupa berdoa serta minta restu orang tua :hehe. Saya juga masih suka lupa soal yang satu ini, tapi tak ada salahnya kalau kita mulai kebiasaan-kebiasaan yang baik, ya?

Pada akhirnya, saya berpendapat bahwa bagaimanapun tragisnya kejadian-kejadian yang sudah terjadi, sebaiknya tidak menyurutkan niat dan semangat pejalan untuk mengarungi suatu tempat. Apa yang terjadi pada orang lain tidak mesti terjadi juga pada kita, kan. Yang penting, persiapan memadai, tetap fokus dan mawas diri selama dalam perjalanan, jangan lupa juga berdoa dan beri kabar orang rumah agar tidak khawatir, niscaya pengalaman perjalanan itu akan menjadi sangat berkesan dan menyenangkan.

Dan bukankah memang itu yang kita cari? Perjalanan kan buat senang-senang, ya masa sih ujung-ujungnya malah jadi susah?

Niatnya kan mau cari pemandangan seindah ini?
Niatnya kan mau cari pemandangan seindah ini?

Intinya, be safe, ya. Kalau setelah membaca itu saya jadi terlihat munafik, mohon dimaafkan, saya juga sudah merasa demikian, kok. Yah, kejadian kemarin memang jadi tamparan banget supaya saya bisa lebih hati-hati. Akhirnya, semoga dalam perjalanan-perjalanan setelah ini saya bisa lebih hati-hati.

Semoga kita semua juga selalu jadi orang yang terus berhati-hati.

_MG_7555 _MG_7554 _MG_7548

43 thoughts on “Safe Traveling?

  1. Setuju sekali Gara. Walaupun kalau yang nama musibah itu bisa terjadi kapan pun kepada siapa pun, ini bukan berarti kita bisa pergi tanpa persiapan ya. Yang namanya survey dan kehati-hatian itu memang perlu banget! 😀

    1. Yep, berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan pengalaman perjalanan yang terbaik. Sisanya kita serahkan sama Tuhan :hehe. Tapi pergi tanpa persiapan tentu lebih berpotensi kenapa-napa ketimbang yang persiapannya sudah matang :hehe.

  2. Ya ampun, Gara. Untung lukanya tidak parah ya. Hehehe..bisa ke jakarta setelah 24 jam kecelakaan menueut saya sih gak fatal. Alhamdulilah ya Gara tak napa-napa. Kebayang lah gimana paniknya orang tua mendapati anaknya kecelakaan 🙂

    1. Iya Mbak, saya bersyukur banget tidak ada yang patah atau organ dalam yang terdampak, selain lecet dan memar-memar (kendati lukanya besar juga, sih).
      Setuju Mbak, saya juga jadi merasa gimana paniknya ibuk waktu melihat saya pulang berdarah-darah :hehe. Nanti kalau saya jadi orang tua, bagaimana ya?

  3. penampakan air terjunnya memang gila ya gara 🙂
    next time gar buat diingat-ingat, sebelum berangkat selalu izin dulu dan berdoa. hal lain ya itu selaa di perjalanan kudu konsentrasi.
    ngemeng-ngemeng latihan tari saman untuk acara apakah gar? gile berat itu. mudah-mudahan tidak menganggu pemulihan luka bekas kecelakaan kemarin.

    salam
    /kayka

    1. Ada yang lebih gila lagi Mbak, tapi mesti jalan 30 menit dan menyeberangi 2 sungai :hehe. Lain kalilah saya ke sana kalau diizinkan dan sudah tidak trauma :hehe. Yep Mbak, kemarin minim konsen soalnya silau banget mataharinya, saya tidak lihat jalan, belum lagi kecepatan lumayan tinggi sehingga makin tak bisa mengendalikan motor. Jadi, deh.
      Buat lomba di kantor Mbak, iya semoga Mbak, terima kasih banyak buat doanya ya :hehe.

  4. Bentar deh, kamu abis mudik lagi kemarin? #salahfokus

    Btw semoga cepet pulih ya, kapan kulineran lagi nihh? 😀

    Setuju sihh, pokoknya harus hati2. Masa demi sejuta likes di sosmed, nyawa sampe dikorbankan… 🙁

    1. Iya Mbak, pulkam lagi :hehe.
      Iya, yuk yuk, saya sudah lumayan baik, ini menunggu ajakan Mbak saja kok :hihi.
      Yep, mesti hati-hati Mbak, dan memilih paket wisata mesti yang safe banget kayak Mbak di Gunung Parang kemarin, menurut saya sudah aman banget sehingga kita bisa menikmati semuanya juga di sana :hehe.

  5. Wah… ikut prihatin Mas.. semoga cepat sembuh ya.. Emang kecelakaan sesuatu yang sama sekali nggak kita inginkan tapi gak bisa kita prediksi. Resiko traveler. Pengalaman emang pahit tapi pasti selalu ada hikmahnya 🙂

  6. Ijin ortu itu emang penting banget. Pernah kejadian ama gw juga.

    Waktu itu gw lg ultah dan mau pergi makan sama temen temen. Kejadiannya pas pertama kali nya bensin naik di Indo jd kebayang macet dimana mana karena org antre bensin gila gila an. Bokap nyokap udh bilang gw jgn pergi hari itu tp gw ngotot. Yg ada tabrakan dong sampe pintu mobil samping ancur. Ya untungnya kita gak kenapa napa sih…

  7. Hoalah Garaaaa… Semoga cepet sembuh ya dirimu Gar.. Artikelnya bagus kok dan mestinya ya gak harus mengalami sendiri dulu. Asalkan postingan blog bukan bohong-bohong kibul mengibul sih gak masalah Gar kalo dari pengamatan kita..

  8. Duh Gara, kayaknya kamu sering deh jatuh ngegusrak waktu bawa motor. Cepat sembuh ya Gara, semoga lain kali lebih safe 🙂

    Hmmm bicara soap safety, aku jadi ingot Safety Culture yang jadi salah satu value di perusahaanku. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang ekplorasi dan produksi, keselamatan pekerja dan aset perusahaan menjadi titik perhatian khusus. Kami percaya bahwa, setiap kecelakaan itu pada dasarnya dapat dicegah. Naaah, untuk mencegahnya ini yang butuh ilmu. Memang sih kesannya teoritik banget, dan awalnya aku sendiri merasa skeptis. Tapi lama-lama setelah terbiasa benar juga sih.

    Hampir 90 persen dari kejadian kecelakaan atau insiden itu disebabkan oleh unsafe behaviour, baru unsafe condition. Pada dasarnya kita sendiri yang harus bisa meng-asses hal-hal tidak aman apa saja yang kita lakukan dan bagaimana mitigasinya. Lalu kondisi keadaan yang kita hadapi.

    Duh panjang banget sih kalau harus jelasin ini, aku harus ngasih training khusus.

    Tapi aku setuju Gara, salah satu hal yang harus kita perhatikan adalah tetap fokus dan juga tetap positive selama perjalanan.

    Next time lebih hati-hati lagi ya Gara, dan jangan kapok traveling.

    O iya, berdoa itu tetap penting lho ya, restu Tuhan pada kita itu Maha Penting 🙂

  9. Ya ampun Garaa, I’m so sorry for you. Semoga lekas pulih. Saya sering ngerasa kayak gitu loh. Nulis tentang sesuatu yg belum/sedang saya jalani. Tapi terus untuk melaksanakan apa yg saya tulis itu lebih berat daripada saat sebelum saya tulis hahaha Mungkin juga jadi semacam ujian Tuhan apakah kita “cuma bisa nulis doang” ato bener-bener bisa selalu sesuai dengan apa yg kita tulis. Tapi intinya sih, be safe everywhere deh lain kali.

  10. cepat sembuh Gara. Jadi inget waktu aku posting tips di Path bagaimana meninggalkan rumah yang aman saat mudik lebaran. Ternyata oh ternyata, rumah aku dimasuki maling dong. Habis itu aku jadi bikin tips lagi bagaimana saat pulang kampung dan tahu rumah kemalingan serta mengademkan hati saat tahu rumah dimasuki maling.

  11. Lain kali kalau naik motor lebih baik pelan-pelan saja mas. Seperti saya yang selalu mengedepankan safety riding.

    Semoga lukanya cepet sembuh aja. Oh ya… Tulisannya bikin ngeri lho.. Dari pembegalan sampai orang yang jatuh dari tebing. Jadi berpikir dua kali kalau mau berwisata.

  12. Sudah sembuh Gara? turut prihatin yaaa…memang benar banget, kecelakan itu bisa jadi bagian dari perjalanan kita kalau gak hati-hati. Terimakasih banyak atas artikel ini, menginatkan kita untuk selalu waspada..

    Foto air terjun-nya keren banget Top!!

  13. Namanya juga musibah mau kita sudah sehati2 apapun yaa gak bisa terelakan juga… Syukur udah gapapa ya Gar. Ngebayangin Ibu mu histeris itu deh…

    Tapi foto2 viewnya cakep2 semuaaa !!! Air terjunya cantik banget!! 😉

  14. Cepet sembuh Gar, musibah emang gak ada yang tahu, tapi kalau kata ortu emang harus didengerin dari pada diabaikan yang berakibat gak-enggak. hampir sama sebenernya kalau mau pergi juga ada perhitunganya di kalender Jawa kayak pon, wage, legi kalau pas naas atau hari lahir tunda dulu gtu, yang penting untuk berikutnya bisa lebih hati2 untuk jaga diri dari kesenangan yang memang kadang lupa untuk keamanan diri, ayo agende makan2 lagi kayak kemarin kapan bisa? 😀

  15. Semoga cepat pemulihannya ya, di kemudian hari bakal jadi kenangan nih kecelakaan ini…

    btw, pembegalan itu serem jg ya, beberapa waktu lalu sempat lihat beritanya 2 turis Belgia yang jadi korban.

  16. Semoga cepay sembuh mas Gara, apapun yg sudah dipersiapkan utk traveling kurang rasanya klo 2 hal belum dilakukan, berdoa dan ijin sama ortu hehe, kadang saya klo mau pergi jauh, minimal 2 hal itu udah saya penuhi. Btw potonya lagi2 ajiiib mas … 🙂

  17. Keren fotonya Bli, ngga percuma ya kesana meskipun ada kejadian yang tidak diharapkan. Yah, biarpun aplikasinya nol koma kosong (jujur, ada ketawa tapi kasihan baca ini), setidaknya saran disini sangat membantu Bli dan tentunya postingan ini berasal dari yang sudah berpengalaman :)) peace. get well soon

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?