Pulau Menjangan #7: Identitas Wisnu Murti dan Hadiah Benang Tridatu

Mereka sudah akan menerima tamas itu, akan tetapi tiba-tiba saya merasa terlalu lelah kalau duduk lagi. “Biar saya saja yang keliling,” kata saya sambil bergerak ke arah belakang. Selain meluruskan pinggang, saya ingin membaca papan-papan ajaran Hyang Wisnu Murti itu lebih dekat. Mungkin isinya sama dengan ajaran-ajaran yang ada di dalam pagoda kebijaksanaan Dewi Kwan Im.

Dan memang demikian. Saya tidak sempat mengambil gambar papan-papan itu, namun saya sempat mencatat: ajaran Hyang Wisnu Murti itu, menurut cerita yang ada di salah satu papan, konon diturunkan via perantara orang suci. Dugaan saya, sebagaimana umum di Bali, “wejangan-wejangan” itu diturunkan melalui orang-orang yang sedang ada dalam keadaan trans alias kerasukan. Namun, saya belum bisa membahasnya lebih jauh karena belum ada bukti.

Lagi pula, topik itu sensitif.

Baca juga: Pulau Menjangan #6: Misteri Bendera Merah Putih, Foto Soekarno, dan Tamas

Lebih lanjut saya tepekur pada pintu yang tertutup, setengah berharap ada yang menyibakkan pintu itu sehingga tampak sosok arca yang dihormati di dalam sana. Padahal, saya sedang melaksanakan tugas sebagai pemungut dana punia, itu berarti tak boleh berdiam lama-lama. Jujur saya sangat penasaran pada siapa itu Wisnu Murti dan tokoh sejarah mana yang ditempatkan di dalam sana (bukan murtiception sebagaimana di postingan sebelumnya). Apalagi, setelah membaca ajaran-ajaran di dinding yang terkesan sangat nasionalis. Nasionalisme Indonesia yang kental sedikit membuktikan kenapa di sini banyak bendera merah putih dan foto Bung Karno.

Saya mesti menjelaskan dulu siapa gerangan sang Wisnu Murti. Dalam Hindu, Wisnu Murti adalah perwujudan Wisnu dalam bentuk raksasa yang menyeramkan, dengan tujuan untuk memulihkan keseimbangan dunia, yang biasanya muncul dalam situasi yang saya juluki “ketika sudah tidak ada harapan lagi”.

Salah satu contoh yang paling dekat adalah kejadian Tri Wikrama dalam Mahabharata, tatkala Kresna (yang notabene adalah awatara Wisnu kedelapan) menjadi duta Pandawa namun memperoleh pengkhianatan dari kaum Kurawa (pasukannya diserang oleh Duryudana!) dan ia marah besar karenanya. Pada saat itulah, Kresna berubah menjadi sosok wajah yang seram, tubuh besar seperti raksasa, yang membuktikan bahwa ia adalah Dewa Wisnu. Kejadian ini dituangkan dalam bait-bait awal Kakawin Bharatayuddha, dan R.A. Kosasih menuangkan adegan ini dalam episode Kresna Duta.

Jadi mungkin yang ada di dalam sana diibaratkan seperti Wisnu karena wajahnya yang seram tapi tubuhnya yang besar. Tapi siapa?

***

Menjadi petugas dana punia berarti harus siap dengan orang-orang yang mengacungkan uang untuk dimasukkan ke dalam tamas. Kalau orang-orang itu tak sabar mengulurkan tangan karena posisi si petugas terlalu jauh (saya mencoba tidak banyak bergerak karena kelelahan) atau tangan mereka sudah terlalu lelah, si petugas mesti siap dengan lemparan sana sini yang mesti tepat sasaran. Lumayan seru, kalau saya bilang. Hitung-hitung melatih koordinasi.

Kadang kita mesti siap dengan kritik kalau terlalu lama di suatu sisi dan lupa mengambil dana punia di sisi peziarah yang lain. Namun sisi baiknya, kita jadi bisa keliling-keliling dan melihat sekitar. Saya baru memerhatikan kalau di tengah-tengah sana ada patung kuda jingkrak berikat kepala sewarna bendera Indonesia. Satu poin lagi untuk nasionalisme dan persatuan.

Namun itu juga membuat pertanyaan baru bermunculan di dalam kepala. Selain sebuah wahana, apa ada makna lain yang mungkin dari seekor kuda jingkrak? Dan kalau toh memang benar kuda jingkrak ini adalah sebuah wahana, pertanyaannya akan menjadi: wahana siapa?

kuda-jingkrak-pulau-menjangan
Kuda jingkrak yang makin membuat bingung, ada di tengah-tengah pendopo.

Pangeran Diponegoro?

Hah, jadi Pangeran Diponegoro itu Wisnu Murti, begitu? Agak ngawur, ya. Saya menghapus bayangan patung kuda jingkrak Pangeran Diponegoro yang digambarkan pada patung beliau di pelataran utara Monas dan di pertigaan Taman Suropati. Hubungannya terlalu jauh.

Tapi warna hijau? Ini menarik, batin saya tetap melanglang buana sembari raga ini menyelesaikan pekerjaan pada anggota rombongan di pojok kiri pendopo. Sepasang mata ini pun masih curi-curi pandang untuk bisa menekuri pintu dan sekitarnya. Dalam sudut pandang yang lebih luas, di depan sana ada sebuah partisi ruangan kayu dengan ukiran yang saya duga adalah ukiran Jepara, dengan kata lain sangat Jawa Tengah. Bukankah Pangeran Diponegoro berasal dari Jawa Tengah?

Dan kalau saya perhatikan, bangunan ini sedari tadi saya sebut sebagai pendapa pun karena gaya bangunannya memang terlalu Jawa Tengahan! Atapnya meninggi, hampir-hampir menjoglo. Tiang-tiang penyangganya juga banyak, mirip seperti pendapa yang saya lihat di daerah Solo kemarin. Hm, masa iya? Saya memilih berhenti berspekulasi. Jika dugaan itu saya lanjutkan, bukankah ini bisa menimbulkan banyak masalah?

Beruntung Tuhan akhirnya memutuskan menjawab kebingungan ini. Ketika saya bangkit berdiri, di papan paling pojok barat daya di pendopo itu, dekat dengan satu set gamelan Bali lengkap, latarnya adalah seorang yang sangat saya kenal. Sangat saya kenal, saya bilang, karena di postingan sebelumnya kita cerita banyak mengenainya, si patih yang bersumpah amukti palapa.

Belum sempat saya berpikir terlalu jauh, pintu ruangan suci di dalam sana yang tadi terbuka setengah membuka lebar-lebar, mengekspos arca berwarna keemasan yang ada di dalamnya.

Gajah Mada.

Baca juga: Pulau Menjangan #3: Usana Jawa dan Duka Brahma Ireng

Selama beberapa detik saya terdiam. Tepat saat itu persembahyangan selesai. Orang-orang berdiri, mulai berlalu lalang di sekitar kami, dan tiba-tiba saja saya merasa kalau pertemuan kami berdua seperti di film-film: tatkala kedua tokoh utama diam dan sadar dengan kehadiran satu sama lain, disertai jawaban dan penjelasan atas pertanyaan-pertanyaan yang sedari tadi muncul.

gajah-mada-wisnu-murti-pulau-menjangan
Gajah Mada. Sang Wisnu Murti.

Saya memang melebih-lebihkan, akan tetapi saya memang sempat tak bergerak ketika melihat patung Gajah Mada itu. Figurnya memang seperti apa yang saya ketahui dari ilustrasi-ilustrasi di buku-buku sejarah. Tubuhnya besar, dengan air muka keras yang ambisius. Entah apakah memang benar demikian asli wajahnya atau itu hanya bukti stereotipe kalau orang yang berkemauan keras pasti punya wajah kotak dan muka cenderung galak. Entah apa benar postur tubuhnya kekar demikian atau itu sekali lagi hanya stereotipe bahwa seorang mahapatih bagi imperium sedahsyat Majapahit tidak mungkin bertubuh cungkring bin kerempeng.

Hei, semua hal itu mungkin, kan?

Bapak menghampiri untuk mengambil tamas penuh uang yang saya pegang. Katanya, saya kelamaan berdiri. Saya cuma terkekeh dan memasukkan uang-uang itu ke dalam kotak dana punia dengan bersemangat. Tapi ketika saya lewat di depan pintu yang terbuka itu, saya membungkuk sedikit untuk memberi hormat, kemudian berbisik dalam hati:

“Selamat siang, Gajah Mada. Akhirnya dirimu menampakkan diri.”

Gajah Mada dan Sumpah Palapa

Sumpah bukan maksud saya untuk menghubung-hubungkan semua tapi memang dengan Gajah Mada, semua menjadi jelas. Yang pertama, kata Wisnu yang ada di plakat nama atas sana jelas bukan Wisnu dalam arti pemujaan Dewa Wisnu, karena di sini, Gajah Madalah yang diibaratkan sebagai Dewa Wisnu—analogi yang sama dengan Prasasti Ciaruteun yang menyamakan Purnawarman dengan Dewa Wisnu. Soal wahana kuda, jelas itu diibaratkan sebagai wahana Gajah Mada.

Tapi soal yang lain?

Kita mulai dengan satu fakta kecil bahwa Pulau Menjangan ini ada di bagian barat Bali, yang notabene adalah titik terdekat antara Bali dengan Jawa (meskipun sebenarnya ada di Segara Rupek, lokasi legenda seorang rsi dengan anaknya yang penjudi, naga dengan mustika permata yang dipotong ekornya oleh si anak nakal ini, insiden jadi abu, kemudian jadi rsi juga, mengambil tempat). Dengan demikian, secara geografis, tentu saja pengaruh Jawa di sini masih kuat.

Dengan demikian, tentu cerita tentang Gajah Mada yang mempersatukan negeri pun akan sangat kuat di sini. Termasuk dengan sumpahnya yang menggemparkan itu. Lebih spesifik tentang Bali, kenangan Gajah Mada tentu berkisar tentang bagaimana ia harus menjaga Bali sebagai bentuk kesetiaan janjinya dengan Patih Kebo Iwa.

Dan agaknya, inilah tempatnya. Suatu pendopo tempat dia bisa memantau bagaimana orang-orang Bali Majapahit, damuh pretisentana-nya, menjaga pulau ini.

Hubungan antara Kebo Iwa dan Gajah Mada memang tidak selesai sampai Bali ditaklukan Majapahit. Harga yang harus dibayar Gajah Mada untuk Sumpah Palapanya itu, lebih khusus lagi di Bali, terlalu mahal. Dia harus melakukan segala cara agar Nusantara bisa tetap bersatu, sesuai yang ia janjikan dulu kepada Kebo Iwa. Ini bukan lagi soal antara dua patih yang berperang memperebutkan wilayah, melainkan ini soal tentang bagaimana sang pemenang bisa menepati janjinya.

Memenangkan pertandingan sudah pasti bukan akhir cerita.

Tapi apa kaitannya dengan Wisnu?

Hm, sejauh pemikiran saya, Wisnu adalah bagaimana soal memelihara. Dengan demikian, persatuan ini tentunya harus ia pelihara sebagai bentuk kesetiaan Gajah Mada kepada sumpahnya. Itulah sebab kenapa pendopo penghormatan ini (saya menahan diri untuk menyebutnya sebagai pura) diberi nama: “Pendopo Hyang Wisnu Murti/Dalem Gajah Mada”.

Saya menghela napas penuh kelegaan. Dengan Gajah Mada, semua pertanyaan sudah terjawab. Sekarang tinggal menyelesaikan semua ini dan melanjutkan perjalanan lagi. Niatnya sih memang demikian, tapi Bapak tiba-tiba memanggil dan membagikan tiga utas benang yang sama dengan yang sudah saya kenakan kala itu. Semua orang dapat, tapi saya baru tahu, jadi ini bukti lain lagi kalau sedari tadi saya melamun.

arca-gajah-mada-dan-bendera-merah-putih
Seseorang masuk ke dalam ruang tempat arca Gajah Mada berada.

Benang Tridatu yang Mengingatkan

Tiga utas benang yang ujungnya diikat jadi satu kini ada di tangan saya. Merah, putih, hitam warnanya, membelit satu sama lain. Namanya benang tridatu. Bapak membantu memilinkan ketiga benangnya, dan sejak saat itu, benang tridatu kedua yang saya dapatkan di perjalanan suci Bali resmi menggelangi tangan kanan saya sampai saat ini.

Ingatan saya menggali sedikit soal benang tridatu. Ada pertanyaan di dalam kepala, kenapa kami dapat benang tridatu itu di tempat ini. Jawabannya bukan soal bahwa benang ini adalah perlambang dari Tri Murti (Brahma dengan merah, Wisnu dengan hitam, dan Siwa dengan putih (semua cahaya jika digabungkan akan menjadi warna putih)). Tapi lebih pada legenda kenapa benang tridatu ini ada.

benang-tridatu-tangan-kanan
Benang tridatu, yang selalu saya usahakan tetap melingkari pergelangan tangan. Identitas.

Cerita tentang benang ini mengasalkannya pada pertempuran Nusa Penida, antara Dalem Gelgel dengan Dalem Nusa, penguasa Nusa Penida yang sakti mandraguna berkat anugrah dari Bhatara Siwa. Pertempuran itu selesai dengan  satu konsensus bahwa Dalem Nusa boleh “memangsa” rakyat Bali, kecuali ketika mereka mengenakan gelang ini. Di sana, benang tridatu punya makna sebagai pelindung.

Tapi di pendopo Gajah Mada, ingatan saya bercabang lagi. Jangan lupa, Dalem Gelgel adalah keturunan Sri Kresna Kepakisan, raja yang ditugaskan oleh Gajah Mada untuk mengelola Bali sebagai wakil Majapahit. Dengan demikian, di Pulau Menjangan ini, memakai benang tridatu adalah bukan semata-mata untuk menjadikan kami terlindungi dari kekuatan negatif, melainkan agar kami selalu ingat bahwa kami adalah keturunan Majapahit, keturunan para arya yang dibawa Gajah Mada untuk menaklukkan Bali.
Itulah sebab kenapa masyarakat Bali juga dinamakan “Bali Majapahit”.

Kewajiban Sumpah Palapa tidak hanya tinggal di Gajah Mada saja. Namun juga pada semua orang yang ikut dalam Penaklukan 1343. Berkat sepuluh arya dan strategi “supit urang”-nya itulah, Bali dapat dikuasai. Tapi ini bukan soal penguasaan semata, namun lebih kepada penguasaan yang bertanggung jawab, karena Gajah Mada telah berjanji pada Kebo Iwa untuk menjaga Bali bahkan setelah ia tak ada di dunia.

Agaknya, beginilah nasib menjadi keturunan Majapahit.  Mesti tetap memastikan Bali tetap dalam bingkai Nusantara yang bersatu. Kami semua, sebagai keturunan dari sepuluh patih yang dibawa Gajah Mada ke Bali secara tidak langsung mengemban tugas untuk menjaga pulau ini agar tidak hancur ataupun lepas dari Nusantara.

Tugas ini bagi saya hampir seperti fantasi, tapi demikianlah adanya. Paling tidak saya tidak sendirian. Ada banyak orang yang juga mengemban tanggung jawab yang sama. Belum lagi, Gajah Mada dan Kebo Iwa sudah memberikan restu pada kami untuk menjaga, paling tidak Gumi Bali.

Ah, mungkin bagi sebagian pembaca, episode ini adalah episode paling fantasi (dan paling mengada-ada) dari semua rangkaian perjalanan di Pulau Menjangan ini. Saya mengerti bahwa ada banyak hal yang harus saya jelaskan, berhubung banyak klaim yang saya buat. Tapi seiring berjalannya waktu, seiring perjalanan saya mencari titik-titik penghubung antara sejarah ini dan itu, saya yakin bisa mengungkapkan segalanya.

Oh ya, dan saya belum cerita apa hubungan Bung Karno dengan semua ini, ya?

Ini lebih ke soal mitos ketimbang fakta. Namun, konon kabarnya, Gajah Mada akan sangat senang ketika ada orang-orang yang bisa membuat Nusantara bersatu dalam satu bingkai (apa pun itu, tak mesti Majapahit karena kerajaan asal kami semua itu sudah musnah). Ia akan sangat menghormati orang-orang yang bisa melanjutkan tugasnya mempersatukan gugusan pulau-pulau di khatulistiwa ini.

Dan saya rasa, saya tak perlu cerita bagaimana Bung Karno memproklamirkan kemerdekaan kita, yang dengan kata lain juga berarti mempersatukan Nusantara, kan?

18 thoughts on “Pulau Menjangan #7: Identitas Wisnu Murti dan Hadiah Benang Tridatu

    1. Tridatu, pancadatu, ataupun nawadatu sesungguhnya adalah atribut keagamaan Mbak, hehe. Minimal kalau lihat orang pakai benang ini bolehlah cukup yakin bahwa ia adalah seorang Hindu, hehe.

  1. Gara, pas aku lihat Gajah Mada di sana aku kebayang banget seperti beliau udah nungguin “Welcome Gara” :D, yah semacam itulah. Aku fans berat Gajah Mada dan falsafahnya. Aku haru banget baca tentang nusantara dan gimana Gara bilang sebagai keturunan Majapahit akan selalu menjaga Bali agar tak lepas dari nusantara. Bacaan siang yang menyegarkan 😀

    1. Iya, mungkin Tuhan harus mengatur waktu pertemuan kami supaya jatuh pada saat yang tepat. Kalau tidak, mungkin tulisan ini tak akan pernah ada. Terima kasih banyak Mbak, hehe.

  2. begitu kuat pengaruh kerajaan Majapahit dan Gajahmada di sana ya Gara.
    Akhirnya sumpah palapa terwujud walau bukan oleh kerajaan Majapahit, mungkin itu juga alasan ada foto Bung Karno disana.

    1. Iya Mas, Bung Karno sebagai pemersatu bangsa, hehe. Ya, di Bali memang nama Gajah Mada masih kental banget. Ada banyak juga pura yang mendirikan pelinggih penghormatan untuknya; biasanya dinamakan Pura Majapahit. Di Lombok pun juga ada satu, hehe.

  3. Gadjah Mada, namanya tersohor di nusantara, Bahkan ia berlayar sampai bibir pasifik nusantara.
    Walaupun aku orang Bali, aku belum pernah dengar kisah dan cerita seperti ini. menarik sekali Mas Gara. Salam kenal ya, dari Hanif insanwisata. Semoga berkenan main k blog ku.

    Oh ya, itu gelang, memang sebagai identitas org Bali. d Kampus Gadjah Mada juga, banyak mahasiswa-i yang menggunakan gelang itu. hehe

    1. Halo, salam kenal kembali! Terima kasih sekali lho Mas sudah main ke blog saya yang ala-ala ini. Dari Bali juga? (Eh, juga?) Senangnya bisa ketemu sesama orang Bali di dunia maya, hehe. Tentu saya akan berkunjung ke blog Mas, ini sudah buka beberapa tab, hehe.
      Iya, gelang ini secara langsung maupun tidak sudah jadi identitas. Tapi pernah sih ada beberapa tahun di hidup saya ketika tak pakai gelang ini (kemudian krisis identitas). Makanya kalau sekarang-sekarang gelangnya sudah tampak rapuh dan mau putus, segera cari pura yang menyediakannya agar bisa dapat yang baru, haha.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?