Pulau Menjangan #6: Misteri Bendera Merah Putih, Foto Soekarno, dan Tamas

Mungkin saya tipe orang yang terlalu lama sadar akan apa yang sebenarnya sudah ada di depan mata. Bahkan ketika orang sudah ribut soal foto Soekarno dan bendera merah putih, saya masih mengabaikannya. Saya terlalu asyik memerhatikan keanehan yang lain—bahwa untuk ketiga kalinya, keramaian menyisih tepat ketika rombongan kami akan masuk pura.

Tapi siapa sih yang mau berpikir banyak-banyak di saat semua rombongan sudah terburu-buru lantaran persembahyangan segera dimulai? Belum lagi udara yang begitu gerah, pikiran penuh hasrat petualangan yang membuncah membuat kami (saya terutama) hanya mengisi otak dengan satu tanya: pura apa lagi setelah ini? Cerita apa lagi sesudah ini?

Saya mencoba mengosongkan pikiran dan mengamati sekitar, sementara kakak membakar dupa untuk sarana sembahyang. Di depan, satu pendopo menjadi tujuan doa-doa kami. Pendopo, lagi-lagi pendopo.

Sejauh ini baru Pura Beji saja yang saya simpulkan sebagai suatu pura yang “normal”. Yang saya maksud sebuah pura yang “normal” adalah yang bergaya bangunan murni Bali, yakni pelinggih seperti tugu, dan sembahyangnya beratapkan langit. Namun tiga pura setelahnya, termasuk ini, menawarkan konsep yang berbeda, yakni bersembahyang di sebuah pendopo dengan pelinggih utama berupa arca dalam ruang, namun tidak disimpan dalam gedong sebagaimana di pura-pura dalem (misal, Nusa Penida).

papan-petunjuk-hyang-wisnu-murti
Hyang Wisnu Murti, katanya. Tapi warnanya?

Apa alasannya sesederhana supaya persembahyangan tetap bisa dilakukan ketika hujan? Kalau memang demikian kenapa semua pura tidak didesain seperti ini?

Kecuali di Pura Dewi Kwan Im, arca dalam ruangan di pura-pura pendopo seperti ini ditempatkan terpisah dengan para peziarah. Hanya di Pagoda Dewi Kwan Im kami sembahyang tepat di hadapan arca, sisanya arca disimpan tersendiri. Mau tak mau saya berpikir bahwa ini bukan pemujaan pada Tuhan, melainkan suatu bentuk penghormatan.

Baca juga: Pulau Menjangan #4: Sekali Lagi, Bodhisattva Avalokitesvara?

Tapi kali ini penghormatan pada siapa?

Saya mencari petunjuk. Kali ini, banyak papan tertempel di dinding, menampilkan informasi yang belum dapat saya baca dengan jelas. Saya memang tidak jelas melihatnya karena duduk lebih ke pinggir tempat angin lebih leluasa bertiup. Tapi ada sesuatu yang mengganjal. Papan-papan itu tidak lazim ada di sini, simpel saja, karena setahu saya tempat dengan banyak papan menempel di dinding adalah kantor kelurahan.

Tapi di sini? Ini pura.

Dinding pendopo ini pun dicat dengan warna tak lazim untuk pura sebagaimana biasanya: hijau. Warna yang kurang menyuratkan ciri khas Hindu, kalau boleh saya bilang. Keunikan lain yang membuat saya heran, banyak bendera merah putih di sini, beberapa di antaranya bahkan ada pada tiang tersendiri yang membuat kerutan di dahi semakin dalam, saking bingungnya. Sebenarnya ini pura atau apa? Kelas?

Beberapa lama saya terdiam di bawah undakan, mendengar celotehan beberapa anggota rombongan yang kasak-kusuk tentang foto seseorang. Tak mau ketinggalan tempat duduk, saya mengabaikan mereka dan mendekat ke arah keluarga. Saya penasaran dengan foto siapa yang mereka maksudkan, pada awalnya, tapi begitu saya lihat sendiri apa yang ada di atas tumpukan kelapa, saya tak bisa menahan diri untuk berujar:

“Yang benar? Bung Karno?”

Kontan sang kakak menyuruh saya untuk diam lantaran mungkin saya menyebutkan nama itu terlalu nyaring. “Waduh…” saya cuma bisa berucap demikian.

foto-soekarno-pulau-menjangan
Saya tak berbohong. Ini foto Soekarno di depan sebuah balutan bendera merah putih pada dinding.

Tepat di depan saya ada sebuah foto Soekarno, presiden pertama Indonesia. Ini sebenarnya bisa menjelaskan beberapa hal, seperti hubungan antara Soekarno dengan bendera merah putih. Kita sama-sama tahu, saya kira, tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia melibatkan banyak peran Bung Karno serta bagaimana semua esensi kemerdekaan itu disaripatikan dalam bendera nasional: bendera merah putih.

Sampai sana, oke. Tapi apa yang dua benda itu lakukan, di dalam sebuah pura, yang bercat sangat tidak Hindu, di pulau yang terpisah baik dari Jawa dan Bali, dan, ditambahi embel-embel Wisnu di depannya?

Sepanjang saya bisa mengingat, kala itu logika saya benar-benar kabur. Saya tak bisa menduga apa-apa. Jika di pura sebelumnya, semua mata rantai itu terhubung dengan demikian runut sehingga saya bahkan bisa merasa sudah lama sekali ada di sana dan mendengar semua cerita tersambung di dalam kepala saya, di sini kosong. Blank. Nihil. Nir. Antara hijau dan foto Soekarno dan bendera merah putih serta embel-embel Wisnu yang ada di atas sana sama sekali tak saya mengerti.

Baca juga: Pulau Menjangan #3: Usana Jawa dan Duka Brahma Ireng

Saya tak tahu kenapa tapi saya ingat betul, sekitar saya kala itu mulai terasa pengap. Jadi saya memejamkan mata dan berusaha menenangkan diri, berusaha merasakan apa yang ada di sekitar saya, tak mau berspekulasi terhadap apa yang tidak saya lihat tapi saya mencoba untuk menenangkan diri dulu, lantaran persembahyangan akan dimulai.

Mungkin saya lelah. Di sepanjang persembahyangan pun saya tidak mencoba mencari jawaban. Semakin dipikir, hubungan antara poin-poin itu semakin jauh, dari mana pun saya memandang. Fakta bahwa ibu Bung Karno adalah seorang Bali yang sebenarnya berasal dari orang biasa namun “diberi” gelar Ida Ayu, kasta tertinggi mungkin menjadi jawaban kecil—tapi apakah Tuhan pernah membahas soal kasta sebagaimana yang terjadi di masa lampau ketika kasta adalah kotak-kotak masyarakat, kemudian menjadikannya objek pemujaan? Dan apakah spiritualitas seorang Soekarno memang demikian dahsyat?

Saya tak berminat menjadi petugas dana punia kala itu karena saya lebih menemukan keasyikan dengan duduk menunggu pemangku membawakan tirta dan bija (kali ini berwarna kuning), menekuri nama “Hyang Wisnu Murti” di atas sana.

Wisnu (lagi). Di pura sebelumnya ada Wisnu. Dua pura sebelumnya lagi adalah Brahma. Tapi kembali lagi, ini Wisnu. Tentang Wisnu yang katanya turun ke dunia. Tentang Wisnu yang bersifat memelihara. Tentang Wisnu yang semestinya disimbolkan dengan warna hitam tapi di sini kok malah jadi hijau.

Dengan analogi Wisnu yang mirip di pura sebelumnya, berarti Wisnu di sini mungkin bukan Wisnu sebagaimana yang saya kenal, kendati mereka punya sifat yang sama: memelihara. Masalahnya, siapa? Dan kenapa dipanggilnya Wisnu?

soekarno-dan-banten
Soekarno dan banten para pemedek.

Anak-anak sempat membuyarkan lamunan ketika Bapak mulai berkoar dengan megafon supaya ada yang bangkit untuk mengumpulkan dana punia. Mereka bertanya di mana saya meletakkan tamas yang tadi saya bawa dari pura sebelumnya.

“Memangnya saya bawa?” tanya saya pilon.

Ibu saya menyanggah, “Lha kan Ibu sudah suruh kamu bawa?” Tentunya ibu saya yang memberi info pada anak-anak itu guna mengambil tamas pada saya.

Oh iya, saya ingat. Untuk mencegah ada insiden tamas hilang dan akhirnya kita semua repot mencari tempat buat dana punia (lagi), Ibu sudah menitipkan satu tamas ke saya dalam perjalanan menuju ke pura ini. Saya juga ingat tadi memegangnya, tapi sekarang? Saya melihat ke kedua tangan kosong, kamera yang tergantung di leher, dan di sekitar tempat duduk. Sudah diduga, tidak ada.

“Tidak ada,” jawab saya. “Iya tadi saya bawa, tapi sekarang tidak ada.”

“Lah, bagaimana sih,” kata si ibu. “Di sini sekarang tidak ada tamas soalnya kita sembahyang di pendopo yang baru dibersihkan.”

Ya Tuhan, tamas yang hilang ini semakin membuat bingung. Dan lagi, ini cuma tamas, kenapa sih harus dipermasalahkan banget? Pakai tas kresek saja kan bisa?

Saya sudah cukup lelah sekarang—pikiran saya sendiri sudah penuh, berdebat soal ini cuma akan membuang waktu dan membuat jadwal semakin jauh untuk diselesaikan. Terlebih karena kita masih setengah jalan, ada tiga pura lagi yang harus didatangi, tentunya Bapak tidak mengizinkan ada penghalang jalan apa pun, bahkan jika itu adalah istri dan anaknya sendiri.

Saya mengutuk diri sendiri. Oh, kenapa saya begini pelupa? Apa sih yang ada di dalam benak saya dari tadi? Insiden tamas hilang ini sudah dua kali kejadian, pikir saya sambil melihat sekeliling, dan masa kali ini tamas itu harus hilang?

Tumpukan kelapa di bawah foto Bung Karno menarik sekali, apalagi dengan fakta bahwa tamas itu hilang lagi…

tumpukan-kelapa-tua-dan-tamas
Tumpukan kelapa yang saya maksud.

Di atas tumpukan kelapa itu ada sebuah tamas.

Saya tertegun, merinding, terkekeh, meringis, cekikikan, kemudian kebingungan di waktu yang sama. Di depan saya ada tamas, demi Tuhan, persis dalam jarak yang sama dengan kejadian di Pura Ida Betari Duayu Taman pada awal perjalanan (dan Pasraman Brahma Ireng, kalau boleh saya tambahkan). Dengan tangan gemetar, saya mengambil tamas itu, menyerahkannya pada K yang tadi bertanya pada saya.

“Ini Dek, tamas,” kata saya lega. “Tamas dek, tamas. Dijaga.”

Oh, semakin banyak misteri yang harus saya jawab!

14 thoughts on “Pulau Menjangan #6: Misteri Bendera Merah Putih, Foto Soekarno, dan Tamas

    1. Tamas itu seperti rantang berdinding pendek tapi terbuat dari janur Mas, bentuknya melingkar, biasanya digunakan sebagai tempat sesajian yang agak banyak. Yep, kalau sifat tamas adalah sifat yang tidak baik.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?