Postcards From… Okay, Bali.

Begitu biasanya orang-orang mengirim kartu pos dari Bali sampai-sampai sekarang tidak ada lagi orang yang mengirim kartu pos lagi dari sana. Dan begitu jenuhnya saya dengan postingan yang panjang lebar kali tinggi sampai-sampai saya ingin membuat postingan pendek dan ringan.

Kalimat terakhir paragraf di atas juga bisa dibaca sebagai: begitu seringnya saya membaca postingan teman blogger yang judulnya “Postcards from xxx” jadi saya juga tertantang buat bikin satu di antaranya (dasar blogger tak berpendirian!).

Berhubung travel terakhir saya kemarin ke Bali, boleh dong kita intip sedikit?

Tak banyak gambar, soalnya saya belum mau berpanjang-panjang. Postingan lengkap menyusul… #pfft.

20151014_150743

Ini namanya Jajar Kemiri. Setiap sanggah (pura keluarga) besar kudu punya deretan pelinggih yang satu ini. Kata Bapak sih, supaya tidak lupa dengan wit (asal-usul) kita yang sesungguhnya di Jawa sana.

20151014_170216

Ini diambil saat upacara Melasti. Atau Mekiyis. Atau Melis. Apa pun sebutannya, yang jelas di upacara ini kita menyucikan pratima alias benda suci dengan (secara simbolis) membuang semua kekotorannya di lautan.

20151014_073045

Ini ukiran yang menurut saya cantik sekali. Kayaknya yang ini Rama dan Sita sih, entahlah, saya belum tanya Bapak ini adegan yang mana lagi. Bagaimanapun, saya suka detil ukirannya! Pasti susah sekali buat bisa menghasilkan ukiran seperti ini.

20151013_064103

Terakhir, postingan kali ini ditutup dengan saya yang lagi pakai pakaian adat :haha. Latarnya nggak banget ya. Tapi apa ada yang bisa menebak foto ini diambil di mana? (Agak sok misterius ya :haha, ini diambil di Pelabuhan Padangbai kok).

Ngomong-ngomong ini sudah bisa disebut Postcards from xxx belum, sih? Bagi saya sih ini cuma ajang narsis-narsisan doang… tapi bolehlah, ya :hoho.

79 thoughts on “Postcards From… Okay, Bali.

  1. Boleh Gar.. boleh. Hihihii. Foto terakhir tadi gw emang mikir di pelabuhan karena mirip-mirip kayak merak πŸ˜›
    Bagus-bagus foto-fotonya Gar πŸ˜€

  2. Aku suka pos ini. Fotonya bagus dan info yang menarik. Dan foto yang terakhir juga bagus. I see a young man who is proud of his heritage and where he comes from. Ditunggu pos dari Bali selanjutnya Gara.

  3. Terakhir ke Bali bareng keluarga besar lebaran kemarin, dan aku selalu lupa tujuan utamaku setiap ke Bali nanya tentang beberapa hal yang sering aku lihat dan aku dengar tapi ngga paham maknanya. Dan beberapa ada di postingan ini.. Thanks Gara.. Btw, kamu belajar lebih narsis sama kak Cumi yah. tapi narsisnya aja yah jangan kolorannya. hahahahaahha

    1. Di setiap sanggah biasanya pelinggihnya lebih dari 1 sih, Mas :hehe. Di sanggah kecil rumah saya pelinggihnya ada 3. Tapi memang di setiap sanggah keluarga besar pelinggihnya lebih banyak :)). Terima kasih sudah berkunjung!

  4. Nice post! (y)

    Gara, ajari aku pakai lelancingan dan lempod! Tiap ke Bali pengen coba pake busana lokal tapi gak ada yg ngajarin cara pake kain/sarungnya πŸ˜‰

  5. Aku selalu suka lihat bagaimana pria-pria Bali menggunakan busana seperti yang dirimu pakai itu Gar. Dan komen selanjutnya, aku idem sama Badai ,,, ajarin doooong πŸ™‚

    Lalu, untuk busana tersebut apakah digunakan hanya pada saat upacara keagamaan, atau bisa dipakai pada acara-acara lain? Eh tapi Hindu Bali khan selalu mengaitkan semua acara dengan unsur keagamaan ya, atau bagaimana?

    Boleh kok boleh ini dianggap sebagai postcard πŸ™‚

    1. Iya, kalau kita bertemu di kesempatan lain kita ngobrol soal cara memakai kain yah Mas :hehe.
      Tidak harus, di rumah juga boleh. Yep, dalam Hindu (khususnya di Bali) memang agama dan adat sudah menyatu jadi susah untuk membedakannya.
      Syukurlah kalau ini bisa dianggap postcard, terima kasih!

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?