Pengelolaan Museum #2: Sumber Daya dan Alur Kerja

Sambil membersihkan beberapa arca dengan proses yang membuat saya agak bergidik (karena tentu saja saya tak berani menaikkan sapu lidi ke bagian kepala arca suci), Mbak Mimin meneruskan ceritanya soal mengapa museum ini, meski bangunannya sudah selesai, belum dibuka ke khalayak ramai. “Ini juga karena pekerjaan tim selanjutnya belum mulai, Mas,” kisahnya.

“Tim?”

Barulah saya tahu kalau mem-“bongkar pasang” sebuah museum bukan pekerjaan yang bisa selesai dalam satu tahun. Jika di awal tadi saya mengira bahwa ini semua salah anggaran yang terbatas, tidak bisa dirapel dalam satu tahun kerja, maka di sini saya paham kalau anggaran bukan satu-satunya faktor, melainkan hanya salah satu penyebab penundaan. Ya, andilnya memang besar, tapi ada pula faktor lain.

Tim kerja.

Baca juga: Pengelolaan Museum #1: Anggaran yang Bikin Nyinyir

Mengelola Museum: Sebuah Kerja Akbar

taman-arca-museum-nasional
Penataan taman adalah salah satu kegiatan pengelola museum.

Membongkar museum, apalagi museum dengan karakteristik benda purbakala berumur ratusan tahun, bukanlah perkara mudah. Ada tim khususnya soal ini, kisah Mbak Mimin. Tim inilah yang akan memindahkan benda-benda koleksi dari tempatnya, memutuskan di mana benda-benda itu akan disimpan sementara sampai semua kegiatan selesai.

Meski terkadang tempat penyimpanan sementara itu jauh dari kata layak, namun mereka sudah melakukan pekerjaannya: membongkar museum. Bukankah pekerjaan tim pertama ini, sesuai namanya, hanya membongkar museum? Ah, saya rasa saya akan kembali ke topik tempat penyimpanan ini nanti. Untuk sementara, mari beri nama tim itu tim pembongkaran.

Pekerjaan selanjutnya adalah soal konstruksi. Untuk soal yang satu ini saya tak bisa berkomentar banyak, pekerjaan pembangunan memang harus dilakukan kontraktor. Di Museum Mpu Purwa, pekerjaan tim ini sudah selesai dengan berhasilnya didirikan sebuah gedung baru. Mengingat tugas tim konstruksi ini hanya membangun gedung, maka bagian-bagian lainnya tentu belum terurusi.

Tugas setelahnya menjadi wewenang tim konservasi. Ini menyangkut benda-benda koleksi museum yang ada di tempat penyimpanan sementara. Tim ini akan melakukan pembersihan dan beberapa persiapan agar benda koleksi museum bisa ditampilkan untuk jangka waktu lama dalam sistem pameran tetap. Mengingat dalam pembersihan benda-benda cagar budaya berusia ratusan tahun memerlukan perhatian khusus, maka tim ini akan diisi oleh para arkeolog dan sejarawan.

Mbak Mimin menyebut nama Bapak M. Dwi Cahyono, seorang sejarawan terkenal di Malang sebagai salah satu anggota tim ini. Nanti, tugas beliau dan rekan-rekanlah yang melakukan konservasi atas benda-benda koleksi museum, meliputi pembersihan dan penataan, mungkin pula beberapa rekonstruksi apabila diperlukan. Intinya, sampai benda-benda ini siap ditata kembali dalam ruang-ruang pameran museum.

arca-siwa-gunung-kombeng
Koleksi museum yang sangat berharga harus dijaga dengan saksama.

Hanya saja, tugas pemindahan dan penataan ke bangunan museum yang baru bukan menjadi kewajiban tim konservasi. Sebuah tim baru, bernama tim kurasi, adalah pemilik tugas ini. Menurut Mbak Mimin seluruh anggota tim ini berasal dari Jakarta. Dari penjelasannya saya bisa menyimpulkan tugas tim ini adalah memindahkan dan menata barang-barang koleksi yang sudah dikonservasi dalam ruang-ruang museum.

Dipimpin oleh seorang yang sudah tak asing, kurator museum, tim inilah yang punya kuasa penuh atas penataan semua benda koleksi. Merekalah yang menentukan alur kunjungan; aliran cerita dari satu koleksi ke koleksi lain sehingga semua berjalin membentuk linimasa sejarah. Atau, mereka bisa pula membuat area-area tematik yang membuat koleksi museum berkelompok menurut disiplin ilmu telaahannya. Opsi terakhir dituruti oleh Bataviaasch Genootschap di Museum Nasional.

Bisa dilihat, kurator museum bagaikan sutradara. Ia mengatur jalan cerita, pencahayaan, blocking para pemeran (dalam hal ini koleksi museum), sementara tangan-tangan sang kurator adalah tim-tim teknis. Ia menentukan pameran tetap atau pameran temporer pada suatu museum. Jika tim konservasi melakukan pelestarian dan penyimpanan atas seluruh koleksi, maka kuratorlah yang memutuskan mana di antara koleksi itu yang akan menempati etalase-etalase kaca museum.

Setelah semua koleksi selesai ditata, museum sudah siap dibuka. Pengelolaan harian museum tidak lagi terpusat pada sang kurator, namun ada tim operasional. Dalam kasus Museum Mpu Purwa, setelah diresmikan nanti museum ini tidak lagi dikelola oleh BPCB Trowulan, melainkan berada di bawah Pemerintah Kota Malang. Tim (atau lebih mudah saya sebut satuan kerja) inilah yang akan menetapkan waktu kunjungan, retribusi museum dalam bentuk harga karcis, pengamanan, kegiatan-kegiatan museum, dan lain-lain.

Tentu saja kita tidak boleh melupakan kerja tim-tim penunjang lain, seperti desain grafis, pencahayaan, dekorasi, tata suara, juga tim-tim lain yang membuat museum tampak hidup dan menarik. Jangan juga abai bahwa akan ada tim pemeliharaan, yang mungkin saja terdiri dari wakil-wakil semua tim yang sudah saya jelaskan di atas, melakukan pemeliharaan berkala atas koleksi dan keadaan museum secara keseluruhan.

Dari semua penjelasan itu, satu hal makin tampak: mengelola museum memang sebuah kerja akbar. Mengelola museum bukan asal mengatur semua benda-benda purba dalam satu ruangan tempat para pengunjung melihat dan mengamatinya satu demi satu. Lebih dari itu, mengelola museum berarti membawa sebuah cerita panjang sang waktu ke atas pentas, membiarkan benda-benda koleksi museum bercerita secara utuh dan berkesinambungan dari sebuah awal mula.

Cerita itu berjudul sejarah.

prasasti-sabokingking-museum-nasional
Jika benda-benda ini tak bisa bercerita, maka mereka tak ubahnya benda mati.

Terlalu Banyak Tim Kerja? Studi Banding Pengelolaan Omah Munir

Baca juga: Tentang Museum Empu Purwa

Pertanyaan selanjutnya, apakah banyaknya spesialisasi kerja dan pembagian tugas yang superinci ini berkontribusi terhadap waktu yang dibutuhkan dalam rehabilitasi sebuah museum? Agaknya dibutuhkan sebuah penelitian tersendiri terkait masalah ini, tapi mari mencoba merunut-runut dari beberapa informasi.

Tampaknya, saya mesti mencari tahu dulu apakah budaya dan pembagian seperti ini lazim terjadi dalam pengelolaan museum-museum lain. Maksudnya, apakah banyaknya langkah ini bukan semata-mata urusan birokratis yang umum dipanjang-panjangkan. Maklum, museum kelolaan pemerintah, dengan budaya yang tentu saja (masih) sarat birokrasi.

Untung saja di saat itu saya sedang bersama teman seperjalanan yang kebetulan administratur museum. Heni adalah administratur Omah Munir, museum yang dibangun oleh keluarga Munir Said Thalib guna mengenang perjuangan sang pahlawan Hak Asasi Manusia itu (ulasan lengkap terkait OM akan saya bahas dalam serial tersendiri). Darinya saya tahu soal bagaimana Omah Munir dibangun dan dikembangkan, dari awalnya sekali.

sudut-perpustakaan-omah-munir
Salah satu sudut di perpustakaan Omah Munir.

Di Omah Munir, pengumpulan bukti dan fakta serta “pencocokkannya” dengan koleksi-koleksi museum memang memerlukan banyak pekerjaan, dimulai dari penyusunan materi oleh tim kesejarahan/tim kurasi. Setelah itu, materi dianalisa oleh kurator, sebelum dilanjutkan dengan proses proofreading atau pembuktian, baik dengan cerita keluarga atau keadaan yang timbul dan tertangkap media.

Hasil pembuktian selanjutnya disampaikan pada kurator untuk mendapat review. Mungkin dalam proses pembuktian, sang kurator menemukan hal-hal menarik yang dapat dijadikan nilai jual museum karena benda koleksi yang ada memadai untuk dijadikan pameran bernilai historis tinggi. Dengan koleksi masterpiece inilah sebuah museum mendapat keunikannya, sesuatu yang menjadi ciri khas yang dikenang oleh masyarakat.

Laporan sang kurator nantinya diserahkan pada tim desain/tim display. Mereka menata benda-benda koleksi sesuai laporan dan poin-poin penekanan alur yang ingin disampaikan. Namun penataan tim ini belum final, sang kurator tetap harus memberikan persetujuan soal letak barang-barang sebelum akhirnya museum resmi dibuka.

Nama pun “menata”, maka akan sangat kembali pada selera pribadi sang kurator dan tim desain tentang bagaimana cerita sejarahnya disajikan. Mengatur museum adalah pekerjaan yang nyeni, bukan jenis pekerjaan yang bisa dilakukan oleh segelintir orang. Tim yang terlibat mesti banyak, seperti ensembel orkestra.

Menjawab pertanyaan di atas, jumlah tim kerja yang ada jadi tidak lagi tampak terlalu banyak, lantaran pekerjaan yang mesti diselesaikan memang tak sedikit. Malah menjadi lebih jelas bagi saya bahwa masalah di sini lagi-lagi mesti kembali pada ongkos, prioritas, dan hal-hal yang dipanjangkan jangka waktunya.

Menuruti keuangan negara, anggaran untuk pembangunan museum mengikuti kegiatan yang dilakukan pada suatu tahun. Dalam tulisan sebelumnya saya sudah menunjukkan bahwa kegiatan-kegiatan yang “gol” sangat bergantung pada (1) penentuan prioritas, baik saat penyusunan program kerja dan penyesuaian ke instansi pusat dan (2) lobi-lobi kementerian dengan DPR terkait besaran dan waktu pelaksanaan.

Dari tahap penentuan prioritas saja, kegiatan ini sudah punya rentang waktu yang panjang dan tak mungkin dihabiskan dalam satu tahun anggaran. Akibatnya kegiatan mesti dipecah jadi beberapa tahun. Kegiatan itu pun tak bisa dilakukan setiap tahun berurutan karena diskusi pemerintah dan DPR pasti menghasilkan isu yang lebih aktual dan masalah-masalah yang (menurut mereka) semestinya bisa diutamakan untuk diselesaikan, bahkan ketika program jangka menengah sudah disusun. Bisa jadi kegiatan pembangunan yang selesai di 2014 tidak langsung dilanjutkan dengan konservasi di 2015 karena berbagai sebab, baik fakta atau fiktif.

Ibarat kata, APBN yang rentangnya hanya satu tahun saja bisa diubah, apalagi program jangka menengah yang tingkat ketidakpastiannya lebih tinggi?

Akibatnya seseorang tidak perlu (terlalu) kaget ketika museum ini yang direncanakan selesai dan dibuka untuk umum di 2017, namun yang baru selesai di Mei 2016 hanya bangunannya, sementara koleksi museumnya masih dalam kondisi seperti itu.

Akibat Sebuah Kesalahpahaman

Namun ada saja orang-orang yang kurang mau mengerti. Mereka mengambil kesimpulan sesuka hati, kemudian membentuk opini yang membuat masyarakat salah paham karena orang-orang ini menuliskan serta menyebarkan opini mereka yang salah kaprah. Mungkin bagi mereka, hanya dengan alasan berita ini menunjukkan adanya sinyal ketidakpedulian pemerintah, akhirnya bisa jadi kritik dan siapa yang tidak suka membaca berita kritik dengan judul bombastis?

Yang saya maksud adalah media.

Mbak Mimin tidak mau menjelaskan media mana yang melakukan hal ini, namun ia sempat menyinggung ada pemberitaan yang menyatakan Museum Mpu Purwa tidak terurus, tidak terawat, arca-arca terancam, bangunan terbengkalai. Belum termasuk lokasi yang sangat strategis dan mudah dijangkau dari jalan raya (ini sindiran).

Stupa dalam ukuran kecil. Namanya stupika. Ditemukan di Bali. Stupa? Di Bali?
Jika peninggalan seperti ini hilang atau terbengkalai, apa kita mesti menyalahkan juru pelihara? Bukankah itu salah kita juga?

Media menyalahkan sang juru pelihara, sesederhana karena gelar “pelihara” tersemat di jabatannya. Begitu media itu menyebarkan beritanya, kisah Mbak Mimin, dirinya langsung dipanggil ke Trowulan untuk dimarahi atasan, secara harfiah, kemudian mendapat dampak kurang menyenangkan terkait penghidupan selama beberapa bulan ke depan karena dianggap memberi informasi yang tidak benar.

Tindakan sang atasan sangat tidak bijak karena sama sekali tidak mencerminkan bahwa ia mendengar permasalahan dari kedua belah pihak secara adil. Namun sebagaimana diketahui umum, kekuatan pemerintahan di Indonesia dewasa ini sudah menjadi empat: legislatif, eksekutif, yudikatif, dan media, jadi umum juga agaknya jika para atasan lebih percaya media ketimbang bawahannya sendiri.

Jujur, saya pun awalnya menganggap museum ini tak terawat. Jikalau saya tidak berhasil masuk dan berkunjung ke museum ini, mungkin satu postingan penuh akan saya dedikasikan untuk caci maki atas pengelolaan sembrono nan serampangan (separuh postingan pertama sebenarnya sudah terbawa emosi). Betapa salah paham sebetulnya mudah sekali terjadi.

Maka saya bersyukur sekali bisa masuk dan mendengar sendiri kisah dari sang juru pelihara. Sekarang jadi sedikit terang bagi saya apa yang terjadi dengan museum ini. Masalah di Museum Mpu Purwa adalah akibat banyak hal berkelindan, dari anggaran sampai alur kerja yang memang kompleks sehingga banyak membutuhkan sumber daya.

Salah besar jika saya ikut-ikutan menyalahkan sang juru pelihara karena dari semua penjelasan di atas, sama sekali tak ada peran sang juru pelihara. Tentu ia membantu, namun tidak dalam pekerjaan-pekerjaan penting kecuali ia dilibatkan oleh anggota tim bersangkutan. Apa yang sedang terjadi di museum ini berada di luar kuasanya; sang juru pelihara hanya bidak terkecil yang diposisikan paling depan sehingga bisa segera dikorbankan.

Bagi Mbak Mimin sendiri, kejadian kemarin jadi pelajaran yang sangat berharga. Sejak itu ia tidak lagi mau memberi izin awak media untuk mengadakan peliputan kecuali sudah mengantongi surat izin dari Trowulan. Bila perlu, para wartawan hendaknya didampingi oleh petugas dari Trowulan langsung sehingga kewajiban membuktikan pernyataan tak ada pada sang juru pelihara.

arca-perunggu-museum-arkeologi-bali
Mari lestarikan peninggalan bersejarah!

15 thoughts on “Pengelolaan Museum #2: Sumber Daya dan Alur Kerja

  1. Hmm, kalau dijelaskan begini semuanya memang masuk akal ya Gara. Memelihara (apalagi memindahkan) museum itu bukan perkara mudah, mesti dilakukan dengan super hati-hati.

    Media, the power of the 21st century. Seharusnya sebagai wartawan, mereka berkewajiban menuliskan cerita dengan benar ya. Nggak asal masuk saja dan kemudian menuliskan cerita berdasarkan asumsi sendiri…

    1. Bagi saya sendiri, tulisan ini jadi pengingat agar jangan meremehkan pekerjaan yang terlibat dalam pembangunan museum, hehe.
      Yep, kecenderungan sekarang media hanya mengejar popularitas, apalagi media online. Asal judul bombastis dan hits-nya banyak, cukuplah sudah…

  2. waktu pindahan rumah aja rempongnya setengah mati waktu nata kembali barang2 di rumah.
    kebayang gimana ngurus museum yang isinya barang berumur ratusan atau ribuan tahun.

    thanks Gara atas tulisannya.
    btw, selamat ya blognya udah normal kembali ^^

    1. Iya Mbak, pasti lebih sulit ya… pindah kosan saja sudah ribet banget, hihi.
      Terima kasih kembali Mbak, mudah-mudahan bisa berkarya lebih banyak lagi karena blog sudah normal, hehe.

  3. Museum itu keberadaannya agak unik menurutku. Ketika koleksi ada, tak banyak media yang membagikan keberadaannya atau apa-apa koleksi yang ada, banyak juga yang acuh. Tapi ketika koleksi hilang, langsung banyak yang sok kayak pahlawan mengusut sekedar mencari popularitas dan seakan-akan menyayangkan kehilangan tersebut. Semoga setiap museum bukan hanya diperhatikan ketika ada tragedi seperti itu saja.

    1. Begitulah Mas, kebanyakan kita baru merasakan berharganya sesuatu setelah sesuatu itu terancam atau hilang, hehe. Mudah-mudahan tidak demikian dengan kita ya, amin.

  4. Susahnya jika sudah melibatkan banyak orang yang tentu saja punya prioritas masing-masing walaupun punya kesatuan tujuan. Apalagi menghadapi pihak lain yang kepentingannya bisa sangat berbeda bahkan berseberangan.
    Yang lebih memilukan mungkin Gar, kebiasaan sebagian dari kita yang suka mencari pihak yang salah alih-alih mencari solusi dan kebiasaan senang melihat orang lain susah alih-alih menolong langsung.

    1. Betul Mbak, namanya juga banyak kepala yang berpikir, semakin banyak orang yang terlibat kemungkinan sebuah pekerjaan menjadi lama dan tidak karuan juga semakin tinggi, hehe.
      Saya setuju dengan poin kedua. Paling tidak saya belajar dari kejadiannya Mbak Mimin untuk tidak lagi suka menyalahkan orang, hehe.

  5. Temen ku jurnalis senior Gar, dan beliau ngerasa gemes liat banyak jurnalis sekarang yg ambil kesimpulan sendiri en gak mau observasi lebih mendalam.. Taunya isu-isu daong 🙁

    1. Iya sayang banget Beb. Apalagi kalau ternyata dampaknya ke orang lain besar. Kalau tak punya dampak atau berdampak ke dirinya sendiri saja sih terserah ya (tapi berita mana sih yang tak berdampak?). Makanya kita mesti hati-hati sekali menulis sesuatu di internet ini, kalau tak berlandas fakta mending tak usah, hehe.

  6. mengelola dan merawat museum memang pekerjaan besar dan detil …. sayangnya di Indonesia museum kurang diminati, jadi seharusnya menggunakan keahlian untuk memasarkan dan mengemas secara menarik supaya anak2 muda sekarang menyukai museum.

    1. Iya Mas, mengemas sebuah museum memang jadi tantangan tersendiri dewasa ini. Menurut saya museum selain butuh sentuhan ilmuwan sejarah juga perlu dibantu oleh ahli periklanan, sehingga citra museum perlahan bisa berubah menjadi lebih menarik, hehe.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?