Paradoks Kuta #2: Terus, Saya Mesti Apa?

Well, pada akhirnya, yang bisa saya lakukan adalah menulis apa yang sebaiknya saya lakukan kalau saya menghadapi situasi seperti itu lagi. Semoga apa yang saya tuliskan ini juga bisa berguna untuk siapa pun yang kebetulan pernah punya pengalaman yang sama/tidak mau punya pengalaman yang sama dengan saya.

Kita mulai…

  • Satu, tetaplah sabar. Hey, mereka anak-anak. Mengesalkan, memang. Tapi anak-anak tetaplah anak-anak, insan-insan yang kadang belum begitu tahu apakah tindakan mereka benar atau salah. Selama itu sesuai dengan yang diperintahkan oleh orang-orang tua yang menguasai mereka, maka tindakan itulah yang mereka akan lakukan. Jangan berteriak, jangan mendorong-dorong, apalagi main fisik. Tentunya kita tidak kepingin ketegangan mengeskalasi menjadi skala besar, kan?
  • Dua, bahasa daerah akan membantu. Jangan tampak seperti wisatawan betulan yang petantang-petenteng tanpa harus tahu apa yang sedang terjadi di sana. Membaurlah. Jadilah masyarakat sekitar dengan belajar sedikit bahasa mereka. Dalam kasus ini, bahasa Sasak. Beberapa ekspresi dasar seperti yang saya aplikasikan di atas akan sangat membantu. Katakan saja “Ndeq naraq kepeng, Dek,” itu artinya “Tidak ada uang, Dik.”
  • Tiga, jangan pernah katakan “Nanti, ya.” Oh. Itu gawat sekali. Mereka akan mengikuti kalian, dan melepaskan diri dari mereka akan sangat susah. Selesaikan di tempat kejadian, once and for all. Habis perkara. Entah bagaimanapun caranya, meskipun harus berdarah-darah, selesaikan semua di tempat kejadian.
  • Empat, ketika semua itu tidak berhasil, maka tawar serendah-rendahnya. Buatlah penawaran yang tidak masuk akal. Seribu untuk satu gelang. Lima ribu untuk empat gelang. Tawaran apa pun, yang penting tidak masuk akal. Kadang-kadang kita harus mengajukan tawaran tidak masuk akal untuk bisa bertahan hidup. Kalau bisa, tawar dalam bahasa Sasak. Itu akan sangat membantu.
  • Lima, adalah langkah yang tidak saya sarankan. Berikan saja mereka lima ribu rupiah tapi jangan ambil gelangnya. Berikan sedikit uang, dan mereka akan langsung pergi. Well, cara ini biasanya ampuh, mereka akan pergi, dengan muka bahagia berterima kasih, dan setahu saya mereka tidak akan menjajakan gelangnya lagi kepada orang yang sudah memberi mereka uang.

Saya tidak menyarankan langkah kelima dengan satu alasan ringkas. Saya tidak mau mendidik generasi masa depan Lombok menjadi pengemis.

Mereka jauh lebih berharga ketimbang menjadi pengemis.

Saya sangat berharap, apa yang saya gambarkan di sini tidak menyurutkan minat para pembaca sekalian yang budiman untuk jalan-jalan ke mutiara yang satu ini. Terlepas dari semua dinamikanya, semua permasalahannya, denyutan darah pariwisata itu tetap harus mengalir. Kita tetap harus menjelajahi apa yang ada di halaman belakang kita, mengagumi dan menjaga yang bagus-bagus sembari mengakui kemudian membenahi hal-hal yang masih kurang bagus.

Selamat berwisata.

Apa yang saya lakukan sampai harus berdiri sejauh ini ada di postingan selanjutnya!
Apa yang saya lakukan sampai harus berdiri sejauh ini ada di postingan selanjutnya!

56 thoughts on “Paradoks Kuta #2: Terus, Saya Mesti Apa?

  1. Bener banget Gar. Membaur bisa banyak membantu. Kebayang gak nyaman nya dikejar terus gitu. Padahal kalo misalkan dijual dengan cara yang lebih santun bisa jadi potensi penambah penghasilan loh ya.

    1. Kalau dijualnya santun, pasti banyak yang mau beli Mas :)). Meski sederhana, kan berkesan banget ada gelang kenang-kenangan dari pantai indah di Lombok :hehe.

  2. Kayaknya ini dilema di tempat wisata, ya, Bli. Apa mereka belum bisa merasakan ‘manisnya’ objek wisata di daerah mereka, ya? Mungkin para wisatawan mau-mau saja membeli seandainya mereka menawarkan dagangan dengan cara yang lebih santun.
    Tipsnya sangat membantu, Bli Gara. πŸ™‚

    1. Karena pemain dan pengembang di sana menjadikan masyarakat sekitar sebagai objek Mi, bukan subjek. Kelirunya menurut saya di situ :hehe. Kalau tak salah Mas Yogi (yogski) pernah membuat tulisan yang membahas soal pelibatan masyarakat dalam kegiatan investor, dan ini memang masalah di mana pun, setidaknya di negeri ini.

      Saya yakin kalau diolah dengan bagus, bisnis gelang pantai Kuta sebenarnya bisa jadi ikon yang nge-hits dari sebuah pantai :)).

  3. Kalau aku sih dari awal aku cuekin aja. Pura-pura nggak dengan dan tidak tahu mereka ada disitu. Nanti mereka juga capek sendiri, hahaha πŸ˜† .

    1. Itu langkah yang bisa kita terapkan juga dalam situasi ini: mengabaikan. Anggap saja tidak ada dan jangan tampak tertarik :hehe. Terima kasih!

  4. Sabar, bener banget itu..Bisa bahasa daerah juga sangat membantu, tapi kalau gak ya biasanya pakai bahasa tangan dan mata melotot, mereka ngerti juga πŸ˜€

    Aku sudah nulis di komentar yg post pertama..ini aku copy-paste lagi pengalamanku ya..

    “Biasanya aku suka bawa mainan kecil kalau liburan. Kalau ada anak-anak di pantai yang jualan, bukannya beli dari mereka, tapi malah aku kasih mainan itu, biasanya sih mainan yg murah meriah dan ada nilai edukasinya gitu – misalnya bikin pesawat atau perahu dari kertas atau kayu. Pernah waktu di India, saya bawa pensil, dan anak-anak itu udah seneng banget. Untungnya, mereka jadi gak minta-minta aku untuk beli barang dagangannya, tapi ribetnya, pas ketemu masih minta lagi πŸ˜€ Tapi pengalamanku sih, setelah aku bilang mainan-nya udah abis, mereka gak ganggu aku loh..yah itung-itung membantu menyenangkan mereka juga..kasihan soalnya masih kecil bukannya sekolah malah bekerja “

    1. Saya agak sungkan pakai gerakan tangan dan mata melotot, takutnya menyinggung (padahal kemarin sudah ribut sama anak-anak di sana :haha).

      Mainan, ya, itu ide yang sangat menarik. Mereka juga perlu hiburan :)). Saya juga mau cari-cari deh Mbak, mainan apa yang bisa saya berikan untuk mereka :)).

  5. Kalau disituasi sperti itu mau berlagak sok cuek dan pura2 nggak liat pun kayanya nggak enak deh yah jadinya *buat aku* tapi yah mmng pasti jengkel juga sih kalau dipaksa2 kaya gitu πŸ™
    Mungkin sebaiknya dari awal kita nggak mmperlihatkan ketertarikan kali yah hehehe

    1. Iya, memang agak susah kalau jumlah anaknya sudah lumayan banyak seperti itu Mbak. Tapi saya setuju, kayaknya dari awal kita tak usah anggap mereka ada, kalau kita tidak berminat :hehe.

  6. Saya juga pernah (entah waktu di Kuta atau pas di Mandalika) ada seorang bocah kecil yang menawarkan sebutir kelapa muda. Waktu nawarin, tidak langsung saya ngeladenin tawaran jual-belinya. Saya ajak ngobrol si bocah dengan hal lain, umurnya, sekolah apa tidak dan seterusnya. pasti, kalau si bocah memang jujur dan terdesak kebutuhan biasanya seneng-seneng aja, tapi kalau yang tidak biasanya langsung mangkir… males ngeladenin ‘konsumen’ yang ternyata lebih banyak ngomong πŸ˜€

    1. Saya jadi tertarik juga dengan pendekatan seperti ini–mengajak ngobrol. Hm. Pasti ada sesuatu yang dapat kita pelajari dari perjuangan mereka. Yah, mereka memang kadang menjengkelkan, tapi mereka kan anak-anak :hehe.

      Thanks for the idea!

  7. hahaha saya inget banget dikerubungin anak-anak ini. Karena saya gak punya banyak bekal, jadi saya bilang “Enggak, Dek. Makasih ya” sambil pergi. Nah kalo bapak-bapak yg nemenin kita tuh beli di satu anak, otomatislah yg lainnya pada nyamperin. Dan kata2 mereka itu kocak banget, “Ayolah Pak, beli sama saya juga Pak. Harus adil dong Pak”
    Duh saya pengen ketawa tapi bapaknya kasian juga keder dikerubutin gitu.

  8. Ah Gara.. kenapa ga difoto saja dengan ekspressi mereka yang luar biasa? Dan biarkan mereka melihat hasil fotonya, pasti seru… atau ajak main? Atau hmmm…. main bertukar peran… ?? πŸ˜€ πŸ˜€

    1. Terus saya yang jadi pedagangnya? Hm… eh itu ide yang bagus juga, kayaknya saya mesti cari sesuatu buat dijual nih, Mbak, hitung-hitung tambah uang jajan :hihi.

  9. Thanks atas tipsnya, Gara. kalau aku menghadapi situasi serupa, akan saya pakai salah satunya. Lihat-lihat situasi soalnya..Kalau penampilan mereka sudah ngenes terus ditawar semurah-murahnya, terus dikasih, yah akunya nanti yang bakal berperih hati hehehe…

    1. Iya Mbak, terus kalau saya boleh tambahkan dari komentar teman-teman, kalau sudah tidak berminat beli, lebih baik jangan dilihat dan jangan merespons jika mereka tawari, anggap tidak ada orang lain di sana, soalnya sekali berminat, ujungnya bisa panjang… :huhu.

  10. memang lebih baik daripada mengemis ya gar.
    tapi kalau gak diatur dengan lebih baik turis-turis juga bakalan jengkel banget karena mereka kesana untuk menikmati suasana disana. ditambah orang luar gak punya kebiasaan beliin oleh-oleh seperti kita. kalo di bali udah lebih baik ya gar, pedagang acung ini gak bisa terlalu dekat ke pantai.

    mesti ada solusi lain untuk memberikan pemasukan untuk orang setempat..

    salam
    /kayka

    1. Pasti ada jalan tengah sih Mbak kalau menurut saya. Entah mereka semua dilokalisasi di satu tempat, atau dibuat taman wisata pantai yang menyatu dengan lokalisasi pedagang itu, seperti di objek-objek wisata luar negeri :hehe.

      1. setuju banget gara. kalo ngarepin dari souvenir aja susah deh. paling baik itu orang-orang yang merencanakan juga kudu riset liat di pengelolaan objek liburan berpantai semisal di spanyol…

        salam
        /kayka

  11. Waktu aku disana, pas anak-anak mulai dating nawarin gelang, dan tahu kalau dibeli satu bakal datang yang lainnya, aku langsung pergi berenang-renang ,,, mereka gak nungguin lama-lama, akhirnya aku ditinggal. Amaaan πŸ˜€

  12. Wah, susah memang kalau berhadapan dengan anak-anak yang berjualan. Kalau diladeni satu, yang lain tak akan mau kalah dan ikut biar dibeli. Tapi, kalau tidak, ya kasian anak-anak. Mungkin kehidupan mereka tidak semudah kehidupan kita jadi cuma kesediaan untuk memahami kali ya yang membuat kita bisa sabar. Hm, anyway, kalau lagi kepepet, cara-cara diatas sepertinya sangat membantu Bli

    1. Iya, terima kasih Mbok. Memang antara kasihan tapi kesal melihat mereka. Andaikata cara mereka lebih baik dan bersahaja, pasti banyak orang yang akan membeli :hehe.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?