Museum Pasir Angin #2: Kandang Ular dan Arca Tong Sampah

Patok-patok bekas ekskavasi jamak terlihat ketika pengunjung baru memasuki kompleks Pasir Angin. Patok-patok itu menandai di mana penggalian pernah dilakukan. Hasil penggalian itu ada yang disimpan di museum ini, ada pula yang dibawa ke Museum Nasional, atau Kantor Pusat Arkeologi Nasional di Jakarta.

Sekadar informasi, satu temuan yang cukup spektakuler dari tempat ini adalah topeng emas yang digunakan untuk menutup wajah jenazah. Ini adalah bukti bahwa penggunaan emas telah dikenal dalam kebudayaan prasejarah pra-Hindu yang hidup di Indonesia.

Sayang sekali koleksi itu belum bisa ditampilkan di tempat ini, meski menurut saya, koleksi seberharga itu agaknya cukup susah untuk dipertahankan kalau dipamerkan di sini. Tentu pembaca budiman mengerti kenapa.

Beberapa pohon tumbuh di pelataran, di samping tanaman hias yang sengaja diatur di lahan berumput untuk menunjukkan kesan bahwa pelataran ini adalah sebuah taman. Sementara itu, di kejauhan sana, bangunan museum yang berbentuk seperti rumah panggung bercat biru muda berdiri di atas tiang-tiang beton yang rendah.

Ada sebuah bongkahan batu kapur yang tidak pada tempatnya. Bagian arca?
Ada sebuah bongkahan batu kapur yang tidak pada tempatnya. Bagian arca?

Seorang pria tua sudah berdiri di jalan yang sama dengan saya, berbaju koko berwarna krem dengan celana bahan hitam lengkap dengan peci, tersenyum ramah pada si pengunjung baru yang menenteng helmnya ini. Kontan saya membalas senyumnya dan mendekat, membalas jabatan tangannya yang ramah, meskipun di kepala saya muncul tanya, kapan bapak ini datang, ya?

Ah, mungkin ia datang saat saya sedang asyik mengamati Patung Dwarapala dan Kolam Angka Delapan. Mungkin juga si bapak ini adalah penjaga museum.

Kontradiksi soal pintu museum yang tertutup padahal ini hari libur menjadi topik pertama yang melintas di kepala saya.

“Tutup, Pak?” tanya saya.

Dia mengangguk sebelum menjawab.

Dalam bahasa Sunda.

Matilah awak.

Senyum-senyum sajalah saya, sebisanya mencoba mengerti apa yang ia ucapkan. Sepertinya si bapak mengatakan bahwa museum ini tutup, lalu sesuatu yang artinya mungkin penjaganya sedang pergi (ini membuktikan bahwa dia bukan penjaga museumnya).

Kemudian dia bertanya. Entah apa.

Satu-satunya respons yang dapat saya berikan cuma, “Hah?”

Dia mengulang pertanyaannya lagi, dan saya yang makin kebingungan akhirnya menjawab dengan kata pertama yang terlintas.

“Bogor.”

“Ah, ti Bogor…” katanya.

Mak, gue berhasil, Mak! kemudian nangis gegulingan.

Lesson learned, urgensi untuk bisa berbahasa daerah itu kian mendesak!

Kekikukan yang menyusul setelahnya membuat kami sama-sama melipir dengan teratur. Mungkin kami sama-sama kepingin menikmati sepi, atau ada benda yang menarik perhatian kami. Si bapak mengarah ke gerbang, sementara saya masih belum percaya dengan bangunan museum yang bentuknya panggung padahal lokasinya ada di tengah gunung.

Setelah mengambil beberapa foto benda-benda yang tergeletak, saya kembali ke depan plang biru di depan bangunan museum dan mulai membaca:

Museum Pasir Angin merupakan sebuah kompleks situs yang pernah dihuni pada masa logam awal antara tahun 600–200SM. Situs ini diasumsikan sebagai situs prasejarah dari masa perundagian +1500SM.

Situs Pasir Angin ditemukan tahun 1957, pada tahun 1971–1975 dilakukan ekskavasi oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan pada tahun 1976 dibangun situs museum di Situs Pasir Angin. Temuan dari Situs Pasir Angin di antaranya berupa kapak perunggu berbentuk ekor sriti (candrasa), tongkat perunggu, bandul kalung perunggu, manik-manik batu dan kaca, ujung tombak, kapak besi, gerabah, dan alat-alat obsidian.

Tergeletak.
Tergeletak.

Saya ternganga, dalam artian harfiah, menatap plang dan bangunan di depan saya bergantian, dengan ketidakpercayaan dan banyak pertanyaan. Maksud saya, demi Tuhan, ini situs prasejarah? Terus Dwarapala yang saya temukan di bawah itu apa?

Untuk beberapa saat saya cuma bisa melihatnya, tanpa berpikir apa-apa lagi saking kagumnya. Museum ini menyimpan harta karun zaman prasejarah Indonesia. Harta karun yang lebih tua dibandingkan Yupa dari Kutai. Lebih sepuh dibanding telapak kaki Purnawarman.

Tapi bangunan di depan saya itu, kalau saya boleh berkomentar, agak kusam. Dindingnya terlihat berdebu dan tidak menarik. Jendela-jendelanya pun begitu, berdebu. Satu-satunya pengaman cuma teralis putih. Tidak ada penjagaan seperti di museum luar negeri, apalagi pengatur kelembapan udara.

Bagian depan. Kalau jeli, satu potongan judul postingan sudah tampak di gambar ini.
Bagian depan. Kalau jeli, satu potongan judul postingan sudah tampak di gambar ini.

Di dalam sana juga sepi.

Saya bergerak ke sisi kanan, dan tampaklah bagaimana keadaan kolong panggung  museum.

Sampahnya agak banyak. Sebenarnya bukan sampah, namun lebih ke puing-puing. Sesemakan dan kaktus yang sejatinya merupakan penghias malah jadi kamuflase atas puing dan bekas mainan yang ada di bawah bangunan. Ada pula pecahan-pecahan batu dan kerikil, seperti sengaja ditaruh di sana ketimbang ditata atau dipakai untuk menimbun suatu lokasi tertentu.

Di pintu masuk ada sandal anak-anak tidak teratur rapi. Tapi ketika saya melihat ke atas, tidak ada orang. Dari sini, saya bisa melihat kalau ruangan di sebelah kiri agak seperti aula, di dalamnya terdapat etalase-etalase.

Sementara itu, di balik pintu ada lobi dengan lantai berdebu. Di kanannya mungkin merupakan ruangan kantor, soalnya ada beberapa foto tergantung di dinding, misalnya foto seorang anak perempuan mengenakan toga wisuda sekolah. Pilihan yang unik.

Sayap kiri bangunan.
Sayap kiri bangunan.

Saya bergerak ke sayap kiri bangunan. Di belakang ada beberapa sangkar burung, dan pintu samping yang langsung menuju ruangan kantor. Banyak sandal anak-anak juga di depan pintu, sampai saya agak bingung, sebenarnya berapa orang yang ada di sini?

Padahal, saat itu masih tidak ada orang lain kecuali saya dan si bapak yang kini ganti memandangi patok-patok.

Ada sesuatu yang bergerak di bawah kolong, di dalam sebuah kandang, membuat saya penasaran. Saya mengamatinya beberapa saat, sebelum berteriak, terlonjak secara harfiah.

“Mak, ular!”

Waduh, ada kandang ular di sini.

Bukannya kenapa-kenapa. Jujur, saya fobia ular. Setiap melihat ular, yang ada di pikiran saya adalah saya digigit kemudian mati karena bisanya, atau saya dililit ular kemudian mati karena kehabisan napas. Amit-amit!

Jadi saya paling ogah kalau disuruh melihat ular, bahkan jika ia ada di dalam kandang. Melihatnya di kebun binatang pun saya ngeri.

Saya cuma mengambil gambar sekali dari kandang ular itu. Itu ular macam apa, masa bodoh. Dihitung-hitung, di sana ada tiga ekor ular. Yang dua sedang bergelung manja, seperti sedang tidur-tidur cantik, tapi bagi saya sama sekali tidak tampak cantik. Sedangkan yang satu lagi merentangkan tubuhnya, tapi tidak tampak bergerak. Jangan sampai dia bergerak. Bagaimana kalau mereka keluar dan mengejar saya?

Lagian kenapa ularnya banyak banget, sih?

Ular, demi Tuhan!
Ular, demi Tuhan!

Dan bagaimana kalau ada ular yang lepas, mengintai di belakang saya, siap menggigit?

Saya melangkah mundur dan menabrak sesuatu sampai jatuh.

Tempat sampah. Untungnya kosong. Tapi, sesuatu di dekatnya, yang awalnya saya kira cuma batu kapur berbentuk aneh, mendapat perhatian saya sampai saya harus ternganga lebar ketika melihatnya.

Bagi saya, ini tampak seperti kaki...
Bagi saya, ini tampak seperti kaki… Jadi, ini kaki atau gajah?

Fragmen arca. Persis di sebelah tong sampah. Diletakkan di luar begini, panas dan hujan pasti tidak baik untuknya.

Laman resmi situs ini di BPCB Serang menjelaskan sebagian arca diletakkan di luar karena ruangan museum tidak mampu menampung. Membaca itu, saya merasa sangat prihatin. Apa itu pantas dijadikan alasan?

Jelas, bentuk arca ini sudah tidak jelas. Awalnya, saya kira, ini adalah bagian kaki, bagian bawah dari arca dengan ukuran lebih besar, sebab bagian yang panjang tadi seperti sebuah kaki yang menapak. Namun, dalam sebuah berita tanggal 1 September 2010 di The Jakarta Post, tertulis bahwa ini adalah arca gajah yang ditemukan di Gunung Karang, dan dipindahkan ke sana sekitar tahun 1984.

Ini unik. Kalau boleh berkomentar, pengarcaan gajah, selain Ganesa, meski jarang dalam khazanah pengarcaan Hindu Budha Jawa Tengah dan Jawa Timur, agaknya di Jawa Barat sini tidak begitu asing. Buktinya, figur gajah digambarkan di Prasasti Kebon Kopi I sebagai perwujudan tapak kaki Airawata (wahana Dewa Indra), dan, di tempat ini.

Mungkin karena di daerah Jawa Barat dulu banyak gajahnya, ya.

Di laman berita itu juga ada foto tentang arca ini. Dari latarnya, yang masih berupa tiang-tiang panggung museum dan puing-puing pada kolong, saya bisa menerka kalau posisi arca ini tidak berubah banyak dalam lima tahun. Hadoh.

Lama-lama indra prihatin ini bisa mati rasa, kalau terus-terusan melihat situs bersejarah ada dalam keadaan seperti ini.

Belum cukup prihatin melihat batu tak berbentuk ini?
Belum cukup prihatin melihat batu tak berbentuk ini?

Serius, di mana semua orang? Apa mungkin mereka, termasuk kita, terlalu sibuk dengan urusan masing-masing sampai mengunjungi tempat ini saja tidak sempat? Apa semua penguasa itu sibuk dengan urusan lain, sampai menoleh sebentar kemari saja tidak ada waktu? Siapa yang harus kita mintai pertanggungjawaban?

Entah bagaimana menjawab pertanyaan itu.

Suara anak-anak perempuan yang datang dari arah gerbang membuat perhatian teralih. Mereka mendekat ke arah tangga, tapi urung naik karena melihat ada saya di sana, berlutut di depan arca.

“Tutup,” kata saya.

Mereka agak bingung, tapi akhirnya mereka bermain-main di batang pohon yang ada di tengah-tengah taman. Yah, pikir saya, masih baik ada anak-anak yang bermain di sini. Paling tidak tempat ini tidak sepi. Bayangkan kalau tempat ini sudah terbengkalai, sepi pula.

Pikiran saya melayang pada beberapa situs purbakala di daerah Jawa Timur.

Dan ternyata, di sisi sebelah ada pula potongan arca lain yang bernasib serupa. Bentuknya juga sudah tidak jelas. Miris melihat kondisinya yang seperti ini. Tapi semakin mengundang rasa penasaran, terutama dengan apa yang disimpan di salam sana. Akhirnya saya berjinjit-jinjit, berusaha melihat ke dalam dari pintu utama, mencari apa yang bisa saya temukan.

Kumpulan arca di sisi sebelah tangga.
Kumpulan arca di sisi sebelah tangga.

Ya Tuhan! Di dalam sana ternyata ada banyak lagi arca-arca seperti ini! Saya ingat sampai menempelkan muka di kaca supaya dapat melihat dengan lebih jelas melalui kaca yang buram. Masih belum ada orang lain kecuali anak-anak perempuan itu dan si bapak tua tadi, mereka mengamati saya.

Dan saya melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya.

Kunci.

Tunggu. Kalau ada kunci di sana, itu artinya pintu ini terkunci dari dalam, lupa melepas kunci, artinya tentu ada orang di dalam ruangan. Saya mengetuk pintu, memanggil beberapa kali, tapi tidak ada hasil.

Tunggu (lagi). Kalau ada kunci, dan tidak ada orang di rumah, itu artinya…

“Krieeet.”

Pintu tidak terkunci.

Wuaduh. Gawat ini. Ini gawat. Tak ada orang, pintu terbuka, kuncinya ditinggal pula. Bagaimana kalau ada yang hilang?

Geram, saya menghampiri anak-anak yang sedang bermain di pohon dekat tanaman kaktus. Mereka menatap saya bingung, tapi saya langsung bertanya, yang mungkin dengan nada (agak) ketus, “Dek, museum ini buka nggak sih?”

Maklum saja, saya sudah kepalang kesal. Meninggalkan museum dengan benda bersejarah di dalamnya dalam keadaan tidak terkunci itu benar-benar membuat kesal! Seseorang harus memberikan penjelasan. Persetan dengan apa mereka mengerti bahasa Indonesia atau tidak.

Ternyata bisa. “Buka, Kak.”

Dezigg! Kepingin langsung tepok jidat saya. “Ini, penjaganya di mana?”

“Yang di bawah tadi, Kak.”

Dezigg! Dezigg! Kalau saja rahang ini bisa jatuh ke tanah, mungkin rahang saya sudah lepas sejak tadi karena saya menganga terlalu lebar. “Ibu yang tadi?”

Mereka mengangguk, mukanya agak bingung. “Iya, Kak.”

Benar-benar! Entah saya yang kurang tanggap dan menyangka si ibu cuma penduduk lokal yang sedang mencari angin, si ibu yang salah duga tentang saya, disangkanya teman suaminya, atau kedua-duanya bisa jadi benar, sehingga tidak ada orang yang melakukan tindakan yang pantas secara semestinya?

Tak berpikir panjang, saya langsung menuju ke pintu utama, kemudian berpikir sebentar, sebelum membuka pintu kaca itu dan berujar, “Permisi…” dengan suara yang agak dikeraskan. Jelas tidak ada orang yang menjawab.

Saya baru saja melepaskan alas kaki dan mau melangkah masuk ketika teringat akan sesuatu. Saya agak turun lagi ke pelataran dan memanggil dengan suara keras, “Pak!”

Si bapak tua yang kini sedang memandangi tanaman hias menoleh keheranan. Anak-anak menatap saya.

“Ayo kita masuk!”

Beratus-ratus tahun lalu, potongan ini pasti menunjukkan bentuk tertentu...
Beratus-ratus tahun lalu, potongan ini pasti menunjukkan bentuk tertentu…

Bacaan lanjutan:

  1. Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang: Situs Pasir Angin
  2. The Jakarta Post: Remnants of Java’s Oldest Kingdom
  3. Widyastuti, Endang. 2013. Penguasaan Kerajaan Tarumanegara terhadap Kawasan Hulu Sungai Cisadane. Dalam Jurnal Purbawidya, Vol. 2, No. 2, November 2013, hlm. 142–150.

57 thoughts on “Museum Pasir Angin #2: Kandang Ular dan Arca Tong Sampah

  1. Awal membaca saya sempat horor sendiri (sendiri dan gelap *bohlam lampu emang mati*) tapi penasaran dan ternyata saya harus sabar menunggu kelanjutannya…….

    1. Wah, di dalam malah kayaknya lebih horor lagi :hihi. Terima kasih atas apresiasinya :)). Saya juga penasaran banget saat menulis ini, sumpah misterinya belum habis-habis.

    1. Iya Mbak, ternyata buka :hehe. Tapi kalau masuknya dari tadi-tadi mungkin bagian luarnya tidak tereksplor dengan maksimal, ya :hehe *mencoba mengambil hikmah*.

    1. Banget! Padahal benda yang disimpan itu mata rantai penting yang menghubungkan masa prasejarah dan masa sejarah di Indonesia, Jawa Barat khususnya. Heran, kenapa perhatian ke situs ini masih sangat kurang.

  2. Haish. Gw gaknpernah dateng-dateng me tempat begini Gar. Merasa bersalah deh jadinya. Hiks. You have a unique way to tell a story Gar and it makes people weigh your story more and more.

    1. Ini dekat dari BSD, lho. Penjaga Ciaruteun lebih tahu BSD ketimbang Jakarta, Mas *mari membuat Mas Dani merasa makin bersalah* *terus kabur :hihi*.

  3. gar ada yang mengganggu deh, bangunan biru itu gak matching dengan peninggalan yang ingin ditampilkan ya..

    trus sendal didepan kandang itu gara, kalau pikirannya horor -haaa siapa yang barusan dilahap ular-ular ini #hiiiiiiiiiiiiiiii

    btw kalau sampahnya daun masih gapapa ya gar, yang grrrrr itu sampah-sampah yang gak bisa diancurin….

    salam
    /kayka

    1. Iya Mbak, saya setuju, agak kurang sesuai, seperti cuma sekadar jadi tempat penyimpanan saja. Padahal museum seharusnya lebih dari ini.
      Saya juga berpikir begitu Mbak, saking takutnya :huhu.
      Yap, terutama yang barang-barang plastik itu. Semoga kalau saya kembali lagi, tempat itu sudah lebih bersih :amin.

      1. sayang jadinya ya, nyimpen bukan berarti gak bisa dibuat menarik…

        mudah-mudahan deh soal sampah pelan-pelan pada sadar juga. sampah itu urusan semua orang.

        salam
        /kayka

  4. Kayak cerita misteri aja.. Aku sempat berpikir bapak2 berbaju koko itu dari alam lain.. Hahahhaha… Sayang sekali, melihat kondisi museum yang sama sekali tidak bisa dibilang baik. Masih berfikir, apa kendala pemerintah kita untuk mengelola situs2 menarik seperti ini, untuk dipelihara semana semestinya. Entah kurang dana, atau kurang peminat. Aku perhatikan, museum-museum di Indonesia selalu kosong dan berdebu (ngga semuanya). Masyarakat lebih senang jalan2 ke Mall ketimbang melihat dan mengetahui sejarah barang “tua”.. Ngga sabar nunggu kelanjutannya…

    1. Habisnya bapak-bapak itu muncul secara tiba-tiba Mbak, sumpah! :hihi.
      Keduanya, Mbak. Kurang dana dan kurang peminat. Masih ada museum yang ramai, memang, tapi kebanyakan ramainya itu karena banyak objek yang bisa buat foto-foto. Sedangkan di sini, harus kita akui, meski kejam, siapa orang yang mau berfoto dengan serpihan-serpihan guci? Kalau kata bahasa sekarang, tidak Instragrammable :hehe.
      Terima kasih, Mbak :)),

  5. Wah sama banget, Gara..aku suka merinding kalau lihat ular..pas nyelam juga kalau ada ular laut lewat suka ngeri, takut di patok..tapi biasanya kalau kita tenang, ularnya juga cuek 😀
    Mungkin harus merubah konsep penyajian museumnya, bisa dengan interaktif atau bikin pameran kebudayaan secara rutin – jadi mendatangkan benda-benda sejarah unik dari berbagai pulau untuk pameran ke salah satu museum skala nasional…tapi yah perlu kepedulian tingkat tinggi dulu…kalau soal duit, saya yakin pasti akan selalu ada bisa niat 🙂

    1. Ular laut lebih menakutkan ya Mbak, bisanya kan lebih ganas ketimbang ular darat :huhu.
      Setuju. Museum Nasional sebenarnya sudah mulai ke arah sana Mbak, mereka menyebar masterpiece-nya terus ada komputer interaktif dan pengunjung bisa kayak petualangan gitu, mencari di mana koleksi masterpiece itu disimpan (seperti arca Ken Dedes dan mangkuk emas Ramayana). Tapi kadang komputernya suka rusak, terus suka lelet, pengunjung jadinya agak bosan :hehe.
      Ya, saya setuju, anggaran pasti bisa diusahakan :)).

  6. Aduh, jadi ikutan miris (dan malu juga) soalnya terakhir aku berkunjung ke situs-situs seperti ini di Sumbar itu…. belasan tahun yang lalu kayaknya. *uhuk*

  7. Mbok ya kalau butuh seseorang yang bisa berbahasa sunda bisa ngajak aku, hahaha.
    masih tertarik lho dengan museum2 begini, sambil mengira2 batu itu dulunya apa… :p
    Tapi aku juga takut ular sih.

    1. Mbak, ini ide yang bagus sekali dan harus segera kita eksekusi! *pecahin celengan*
      Jangan dekatkan saya pada ular kalau tidak mau melihat saya seperti anak kecil *sikap* :haha.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?