Menyapa Meulaboh

Matahari sore yang kini mulai menghangat memandikan Meulaboh dengan cahayanya yang kekuningan. Bangun-bangunan pertokoan sepanjang jalan utama memasang penghalang agar cahaya itu tak merusak barang-barang yang dipajang, yang sebagian besar adalah bahan makanan atau tekstil yang sensitif dengan teriknya cahaya matahari.

Saya tak melihat adanya gapura besar yang menandakan kami sudah ada di kota. Hanya perubahan pemandangan, dari yang sebelumnya banyak pepohonan, menjadi pertokoan dengan bangunan-bangunan relatif baru, sebagai tanda bahwa kami kini berada di Meulaboh. Tentunya juga dengan beberapa tulis-tulisan di plang nama toko atau kantor yang menandakan bahwa ini Meulaboh, bukan Langsa atau Kutacane ya iyalah.

Jalanan tampak sepi, hanya sesekali ada kendaraan yang melintas. Sebuah kelengangan yang pada awalnya saya sangka karena sedang jam shalat, tapi ternyata berlanjut sampai jam-jam setelahnya. Bahkan ketika kami berhenti sejenak di traffic light depan DPRK Aceh Barat, tak banyak kendaraan mengantri. Entah, apa kota ini punya keramaian atau memang segini inikah yang disebut ramai (bandingkan dengan Jakarta, atau Sukabumi, misal)?

Sejejak jalan dari mobil kami.
Sejejak jalan dari mobil kami.

Inilah Meulaboh. Kota yang, menurut kesaksian tiga bapak yang menemani kami ini, hampir lenyap tatkala tsunami menerjang. Diperkirakan hampir 80% bangunan di kota ini adalah bangunan baru, yang dibangun setelah 2004. Saya masih asyik menatap bangunan-bangunan baru itu; rumah-rumah kecil mungil nan seragam bantuan LSM asing (mereka menyebutnya NGO dari Non Goverment Organization), atau rumah bantuan pemerintah (BRR), atau rumah bantuan organisasi-organisasi lain, sebagai contoh PMI. Tentu saja masih banyak lembaga lain yang belum saya jelaskan, yang turut memberi bantuan pascatsunami.

Kami mengitari kota, menuju daerah pantai untuk menyelesaikan beberapa urusan di sebuah kantor daerah sana. Ketika melewati beberapa tanah lapang, para bapak itu bergantian menjelaskan, “Di sini dulu ada bangunan, tapi habis diterjang tsunami dan sampai sekarang belum dibangun.” Memang, di sana ada bekas-bekas pondasi yang kini tertutup rumput tinggi. Apabila masih cukup kokoh, ada beberapa bekas kolom praktis yang masih berdiri tegak, namun bernasib sama, terbengkalai karena pemilik lama belum membangunnya kembali.

Atau pemilik lamanya sudah lenyap tersapu tsunami? Saya tak berani bertanya.

Betapapun, cerita tentang Meulaboh adalah cerita tentang luka lama. Luka lama akibat bencana dahsyat yang melanda. Luka lama yang kini berusaha disembuhkan. Terus terang, saya sedikit kagum melihat masyarakatnya yang sudah mulai bangkit dan mulai berusaha bersikap seolah 26 Desember 2004 hanyalah hari lain yang kini hampir 10 tahun berlalu. Kini Meulaboh mulai berusaha bangun dan berjalan, meski tampak jelas masih tertatih.

Urusan selesai, kami memutuskan mengambil jalan memutar untuk menuju hotel. Sebelumnya para bapak menawarkan kepada kami untuk ke hotel dulu sekadar taruh barang, sebelum menyelesaikan urusan di kantor itu, tapi kami pikir lebih baik urusan yang menyebabkan kami datang kemari diselesaikan dulu, setelah selesai baru kita mengisi waktu dengan kegiatan selebihnya :hihi.

Jadilah saya berpakaian seberantakan mungkin dengan muka juga hancur bin berantakan (biasanya sudah agak hancur, sih, cuma kemarin itu hancur bin berantakan) datang petantang-petenteng lenggang kangkung dengan baju kaos dan sandal gunung :ehembaruehem ke sebuah kantor di mana semua pegawainya mengenakan seragam. Oh, reputasi tinggal reputasi, penampilan tinggal penampilan, penghormatan tinggal penghormatan, yang penting urusan selesai dengan gemilang, bukan begitu? In fact, saya juga sebenarnya kurang begitu memerhatikan penampilan sih, ya, jadi… woi ini mau melantur ke mana woy?

Izin cerita sedikit, ya. Pada awalnya, jujur, saya meremehkan kota ini. Pikir saya dengan demikian songong kampungannya, “Ah, ini kota letaknya antah barantah. Jangan harap deh bisa internetan di sini.” Sudah sejak lama saya mematikan tablet, di samping sepanjang perjalanan tadi saya tidak bisa ngapa-ngapain karena perusahaan provider yang saya gunakan rupa-rupanya belum berpikir untuk berinvestasi di Aceh, saya juga agak pesimis, apa di sini ada koneksi internet. Jangankan wirelessfixed line saja saya sangsi.

Nah, kebetulan di ruang tunggu ada komputer nganggur. Iseng-iseng saya utak-utik biar bisa internetan, dan ternyata, eng ing eng… YouTube without buffering.

Setelah menahan napas heran gara-gara kenapa di sini internetnya bahkan lebih kencang ketimbang warnet dekat kosan di Jakarta Jakarta lho!, saya dengan songongnya juga melupakan prasangka songong saya dan langsung dengan nggak tahu malu dan nggak lihat-lihat sekitarnya selancar ria di dunia maya (baca: berusaha update status, gitu).

1-0 untuk Meulaboh.

Okesip, lanjut internetan, cuy! :haha

Saya benar-benar menikmati perjalanan kami mengitari kampung di pesisir Meulaboh hari itu. Melihat rumah-rumah bantuan mungil kini sudah dipenuhi gejolak kehidupan, dengan kegiatan penduduk di daerah sana. Papan-papan bertuliskan lembaga yang membangun bangunan ini, saluran itu, posyandu ini puskesmas itu, berderet silih berganti seolah memberi tahu pengunjung siapa yang berjasa di sana, kendati saya tak yakin apakah (1) ada orang yang membaca, dan (2) apa orang yang (kebetulan) membaca itu mau rempongwati rukmana bambang (istilah teman saya untuk “repot-repot”) menghubungi lembaga itu just to say “Hey, thanks”.

Kalau saya sih, baca plang-plang itu biar cukstaw aja :haha.

Di kejauhan sana, di belakang kami, tepatnya, deburan ombak halus terdengar menyapa telinga. Seolah-olah mengajak kita semua untuk diam sejenak mendengarkan alam, tidak terlalu sibuk dengan urusan pribadi sampai mengabaikan bumi tempat kita hidup.

Ah, laut…

Sebelum sampai di dekat hotel, kami sempat memutari sebuah masjid. Pak Dayat bercerita pada saya bahwa masjid ini adalah bangunan yang selamat dari terjangan gelombang setinggi itu. Oh iya, saya jadi ingat. Cerita tentang tsunami 26 Desember 2004 juga menyelipkan konfirmasi tentang keajaiban agamawi di tempat ini, terhadap beberapa tempat yang “semestinya” hancur tapi malah tidak tersentuh setetes air pun.

Yakin, itulah bentuk kemahakuasaan Tuhan.

Sedikit cerita tentang tempat kami menginap, hotel yang kami datangi ini pun dibangun pasca tsunami setelah sebelumnya sempat rata dengan tanah. Hotel Tiara, namanya. Untuk ukuran hotel melati di Meulaboh, saya pikir dapat diterima di tengah berbagai keterbatasan fasilitasnya (listrik sesekali mati, televisi rusak, dan kamar yang berbau “khas”). Dan lagipula, faktanya, saat itu hotel ini sudah full booked, kami hampir-hampir tidak mendapat kamar di sini kalau Mbak Din tidak memesan kamar jauh-jauh hari.

Viva planning!

Sempat heran kenapa hotel ini bisa penuh, dan jawabannya adalah ketika kami tiba di sana, ada banyak mobil plat merah terparkir.

Kami berdua cuma bisa menghela napas dan bergumam, “Akhir tahun anggaran.”

If… only you know what I mean. :))

Tak banyak eksplorasi yang saya lakukan di lingkungan hotel, selain menjenguk sebuah paviliun keluarga dan beberapa mobil VW milik si empunya hotel di garasi berkanopi di ujung tanah lapang di samping deretan kamar-kamar. Setelah saya memastikan di mana kamar saya, memastikan televisinya rusak sehingga tak ada yang dapat saya lakukan, kantuk yang sudah ter-pending ini menyerang dengan kekuatan penuh sehingga saya akhirnya menyerah.

Menyerah untuk tertidur terlalu pulas~ :hihi.

 

Pada Malam dan Samudra, Kami Bercerita

Jam tujuh kurang lima saya terbangun dan mendapati malam sudah turun. Pukul tujuh tepat, pintu kamar saya diketok. Ternyata Mas Baliyan. “Ayo, Mas, sudah ditunggu, kita berangkat makan malam.”

Kelimpunganlah saya. Ternyata Mbak Din me-whatsapp dari kamar sebelah, dengan kelimpungan yang sama. “Ya Allah Dek, gue tidur kayak orang mati!” tulisnya :haha. Mungkin kami terlalu lelah akibat penerbangan paling pagi dan belum ada tanda-tanda istirahat sampai senja tadi, saking semangatnya menjelajahi ibukota Aceh Barat ini!

Drama kelimpungan itu baru berakhir sekitar setengah delapan ketika kami menemui para bapak yang ternyata sudah siap dari tadi. Tentu saja penampilan kami ini 95% sebagaimana kami saat baru bangun tidur tanpa persiapan lain (saya bahkan boro-boro mandi, cuci muka juga tidak sempat! #jorok).

“Kita makan di mana?” Ramah Pak Mansur bertanya.

“Di mana saja siap, Pak,” jawab saya sambil tersenyum. Kebetulan kami juga sudah sangat kelaparan, jadi dikasih makan apa saja kami siap. Kami siap makan apa saja, asal masih makanan!!

“Bagaimana kalau kita makan di pinggir laut?” Pak Dayat mengajukan usul.

Usul yang bagus. Bagus. Saya benar-benar menanti saat-saat kami menikmati pesisir barat Aceh yang telah tersohor dengan sejuta ceritanya itu. Laut. Saya cinta laut.

Mobil bergerak. Kami menuju sebuah jalanan sepi di dekat pelabuhan, yang ternyata deretan restoran pesisir Meulaboh. Ketiadaan lampu jalan sebelum kami sampai ke sana pada awalnya membuat saya bertanya-tanya, ke mana sebenarnya kami akan dibawa? Kejelasan baru tampak ketika kami melewati sebuah restoran bernama LG dan mobil melambatkan kecepatannya. Oh, restoran di dekat-dekat sini, rupanya.

Kami berhenti di depan sebuah restoran. Katanya di sini menunya tidaklah terlalu spesial, tapi kami tidak terlalu ambil pusing, soalnya kami ke sini lebih untuk mencari tempat menghabiskan malam ketimbang wisata kuliner spektakuler. Mas Baliyan turun dan bertanya menu apa yang ada untuk malam ini. Entah apakah begitu adat santap restoran di sini: turun terlebih dahulu dan bertanya pada si empunya rumah makan apa saja menu yang dihidangkan malam ini.

Untunglah apa yang diinstruksikan untuk ditanyakan oleh Pak Mansur tadi berbuah hasil. Kami berlima turun dari mobil, menuju restoran.

Nama restorannya Taman Sari. Bangunannya besar, hanya berdinding kayu setengah badan. Dua televisi besar ada di masing-masing ujung bangunan terbuka itu, jadi bahan tatapan segelintir pengunjung yang makan malam di sana. Kala itu, rumah makan ini masih sepi. Menurut Pak Dayat, tempat ini barulah ramai ketika malam semakin larut: anak-anak muda datang kemari untuk duduk-duduk, mengobrol sambil menghabiskan malam dengan beberapa cangkir kopi, juga internetan wirelessly (2-0 untuk kekalahan saya) bersama teman-teman, malam-malam, di pinggir laut.

3-0, karena sebelum di sini saya belum pernah mendatangi tempat di mana pengunjung bisa internetan di pinggir laut dengan harga yang murah meriah.

Sepotong Taman Sari
Sepotong Taman Sari

Perjalanan dilanjutkan. Di sisi sebelah, lampu neon berwarna-warni menjadi penerang, dengan lampu-lampu panjang serupa tergantung di pohon ketapang. Ke sanalah kami melangkah, mendekati laut yang berombak dengan anginnya yang dingin menusuk.

Laut.

Kontras!
Kontras!

Samudra gelap. Hanya ada suara angin dan deburan ombak pelan pada pemecah di sepanjang bibir pantai. “Inilah pelabuhan lama Meulaboh,” kisah Pak Mansur. “Dulu daerah sini penuh dengan kafe dan restoran, tapi setelah tsunami, hanya dua ini yang bertahan.” Memang, di sini cuma ada dua restoran, Restoran Taman Sari dan LG (bukan merk, ya) di sebelahnya.

Penelaahan saya pada kegelapan harus terputus dengan makanan yang tiba. Isi perut dulu, ya!

Makanan di sini tidaklah spesial benar. Cuma aneka nasi goreng dan goreng-gorengan lain seperti kentang goreng dan brokoli goreng tepung yang kami pesan malam itu. Tapi makan malam di pinggir laut memang membawa nuansa spesial. Saya tak bisa melepaskan pandang dari hitamnya samudra kala itu. Nun, di kejauhan, lampu-lampu kapal bergerak makin dekat ke pelabuhan, dipandu oleh terangnya sinar mercusuar. Ombak bergulung, masuk ke dalam pemecah ombak. Malam ini laut tak terlampau bergolak, pemecah ombak tidak membuat para pengunjung harus bersiap-siap terkena cipratan air laut kalau ada gelombang yang cukup besar.

Tentu saja, malam itu kami manfaatkan betul untuk sesi foto-foto. Maaf, saya tak bisa maksimal mengambil foto dengan SLR ini. Maklum, cahaya rendah berarti ISO tinggi dan kecepatan rana makin rendah, walhasil gambarnya blur semua, plus noise bejibun :sedih.

Pemecah ombak di tepi laut
Pemecah ombak di tepi laut

Kita semua banyak bercerita malam itu. Pak Dayat dan Pak Mansur berkisah tentang bagaimana tempat ini dulu sangat ramai, sebelum semua berubah saat negara api menyerang tsunami melanda. Mbak Din terus saja memaksa saya untuk memakan brokoli goreng tepung karena saya tidak pernah makan sayur :haha. Akhirnya saya makan, sih, dan ternyata rasanya tidak terlalu buruk. Mas Baliyan bercerita tentang pengalamannya dulu saat zaman konflik bersenjata di Aceh.

Saya ingat betul bagaimana Pak Dayat berkisah bahwa orang-orang yang ada di Aceh ini kini adalah orang-orang terpilih. Bagaimana tidak, setelah semua bencana dan konflik yang melanda daerah ini. Masyarakat Aceh yang ada kini adalah orang-orang terpilih; orang-orang yang telah diseleksi dari bencara tsunami dan konflik bersenjata. “Kami sudah melalui seleksi alam,” katanya, “jadi kami tahu, dengan pertolongan Allah, kami pasti akan bertahan terhadap apa pun yang akan terjadi.”

Kami, yang saling bertukar cerita.
Kami, yang saling bertukar cerita.

Saya tak tahu kejadian apa yang akan terjadi (selain Tuhan tak ada satu orang pun yang tahu), tapi satu yang pasti: mereka orang-orang kuat yang telah mengalami berbagai cobaan. Dan mereka tetap berusaha bangkit; seberat apa pun cobaan itu, untuk bisa menatap masa depan.

Saya belum yakin, apakah saya bisa sekuat itu?

Ketika giliran kami bercerita, kami cuma bisa membahas apa yang ada di Jakarta: macet, bising, pengap, banjir, kereta berjejal, busway penuh, intinya hiruk-pikuk perkotaan. Kontras benar dengan ketenangan yang bisa kami dapatkan di sini: maksudnya, di Jakarta sebelah mana kita bisa makan malam berdamping laut hanya dengan Rp25k saja? Di Jakarta sebelah mana kita bisa menghirup segarnya air laut dan mendengar keluhan ombaknya?

Semakin malam, ternyata restoran di sini semakin ramai. Apalagi, restoran-restoran (dan kedai kopi) di Aceh sekarang sudah hi-tech: mereka menyediakan koneksi wi-fi di setiap restoran (4-0). Jangan remehkan ya, mentang-mentang jauh dari Jakarta maka tidak terjangkau teknologi. Belum tentu. Bahkan restoran kecil berdinding semi permanen seperti ini punya koneksi wi-fi cukup cepat.

Mayoritas pengunjung di sini remaja yang berkumpul bersama gengnya. Ada juga yang sekadar mencari koneksi internet, mungkin untuk mengerjakan tugas di pinggir pantai (top bangetlah kalau ini ada di Jakarta: mengerjakan tulisan blog di pinggir pantai sambil cemal-cemil kentang goreng dan secangkir teh panas dengan harga sangat terjangkau (5-0)). Ada juga orang-orang yang makan bersama tamu dari luar kota yang kebetulan singgah di Meulaboh.

Begitu malam mulai larut dan pengunjung sudah cukup banyak, live music di panggung sebelah sana memulai pertunjukannya. Hanya musik dan suara nyanyian yang terdengar, tapi tak ada penyanyi yang tampil di atas panggung. Unik juga. Mungkin mereka mengadakan pertunjukan musik semata untuk didengar, bukan berupa visual yang dilihat banyak orang. Yah, alam dan permainan cahaya di sini sudah cukup memanja mata, rasa makanan sudah cukup menyenangkan lidah, jadi yang kurang tinggal tingkah suara bagi telinga, meningkahi halus debur ombak dan desir dinginnya angin pesisir di malam hari.

Dan laut malam itu, tetap saja, masih menyimpan sejuta misteri dan rahasianya. Saya selalu merinding setiap melihat betapa mahabesarnya laut yang saya tatap, yang kala itu berhias kegelapan mutlak sehingga horison pun tak tampak: semua larut dalam pekatnya hitam malam. Bunyi ombak, gelapnya laut di satu sisi, sementara ketika saya berbalik, warna-warni artifisial lampu neon menjadi makna bahwa ada kehidupan yang berdenyut berdampingan dengan kegelapan itu, disertai hiruk-pikuk pelabuhan pada teluk yang letaknya agak menjorok dari tempat saya.

Kombinasinya itu!

Apalagi, laut ini bukan sembarang lautan. Inilah Samudra Indonesia yang bergejolak tatkala tsunami melanda sepuluh tahun silam itu. Laut yang sama dengan laut yang membawa malapetaka tanggal 26 Desember 2004. Dan masih laut inilah, yang detik itu memberi kehidupan pada masyarakat di sekitarnya.

Indah.

Laut pun berkisah. Dengarkah?
Laut pun berkisah. Dengarkah?

Kemagisan samudra itulah yang membuat saya benar-benar lupa waktu untuk terus berdiam di sisinya dan mendengar semua ceritanya, cerita yang terbawa ombak dan desiran angin. Keindahan dan misterinyalah yang membuat saya terus berusaha untuk menjadikannya abadi dalam memori digital kamera ini. Saya yang biasanya agak enggan kalau sudah berada di satu tempat dalam waktu lama tanpa melakukan apa-apa, kala itu bisa berkata, “Sebentar lagi,” ketika ada yang mengajak pulang. Seakan-akan waktu bercerita saya dengan samudra baru terjadi sebelas menit saja.

Tapi saya harus menyerah. Sebagaimana waktu yang membawa saya berjumpa samudra, waktu pulalah yang membebaskan kami dari pertemuan malam itu. Ternyata sudah jam sebelas malam, sehingga kami harus kembali ke hotel karena perjalanan besok masih panjang. Kami masih harus menuju Banda Aceh dan menyelesaikan beberapa urusan di sana.

Sampai jumpa, laut. Sampai bertemu di tempat yang berbeda. Bagilah ceritamu, jangan kau simpan sendiri. Karena sejatinya, semua butuh didengar. Bahkan ketika itu hanya berupa debur ombak dan deru angin.

By the way, berapa skor Meulaboh mengalahkan saya?

21 thoughts on “Menyapa Meulaboh

  1. Aahh aku belum pernah ke Meulaboh, ternyata mengejutkan. Internetnya wow hahaha. Eh tapi pas ke Aceh beneran aku juga merasa kagum. cara masyarakatnya bangkit benar2 tak terbayangkan, padahal tsunami belum 10 tahun berlalu. Top deh

    1. Mungkin benar bahwa mereka adalah manusia-manusia terpilih, Mbak.
      Saya pun kagum. Dengan alamnya, manusianya, dan tentu saja, kecepatan internetnya :haha.
      Gilaak, kalau berdampingan, teknologi + alam = anugerah! 😀

  2. Yeeeee….bertambah satu orang lagi yang senang dengan kampung halamanku. Hehe…
    Ah coba aku tau lebih dulu kalau kamu mau ke Meulaboh, jadi aku bisa rekomendasikan beberapa tempat makan dan ngopi yang harus dicoba selama di Bumi Teuku Umar ini.

    Cafe Taman Sari itu, agak ke sampingnya lagi yanga ada dermaga, dulu tempat aku berenang. Ada puing-puing pelabuhan karena tsunami di depannya. Biasanya kami berenang sampai ke puing itu.

    Ah jadi kangen sekali sama Meulaboh. Ntar mudik, aku harus menuliskan kota ini di blogku. Terima kasih sudah menuliskan Meulaboh, Gar. 🙂

    1. Ya, Mas. Waktu makan di sana memang ngeliat semacam puing (cuma gelap), dan ada mercusuar yang rasa-rasanya pingin banget saya daki.
      Susah buat tidak jatuh cinta dengan kota semenarik Meulaboh :hehe. Terima kasih kembali! :))
      Ditunggu rekomendasinya :hehe. Mudah-mudahan saya ada kesempatan ke sana lagi :))

  3. Bagaimana suasana meulaboh mas asyik kan…
    Tapi tu belum seberapa mas,
    Masih banyak tempat2 yg menarik lagi mas di kota meulaboh ni yg bikin kita bisa menikmati suasana nya…

    1. Ah, asyik sekali, Mas. Adalah anugrah saya bisa tandang ke sana.
      Wah, benarkah? Bagi ceritanya dong, Mas. Saya akan sangat senang kalau tahu lebih banyak, jadi kalau saya berkesempatan tandang ke sana lagi, saya tidak akan kagok :hehe.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?