Pulau Menjangan #2: Si Penjaga dan Sang Dewi Pemilik Taman Bawah Laut

Bagaimanapun, berada di sebuah perahu yang kelebihan muatan sudah pasti tidak nyaman. Ada rasa khawatir yang kuat. Bagaimana kalau benda ini tenggelam, apalagi ketika pecah-pecahan ombak yang menyisih di kiri dan kanan perahu begitu dekat dengan bibir perahunya? Seakan-akan beban kami lumayan berat dan kami berpijak pada sebuah rongga yang permukaannya sama dengan permukaan air…

Buih perahu.
Buih perahu.

Satu perahu dengan orang-orang yang notabene adalah keluarga baik dekat atau jauh juga membuat saya yang ketakutan tak bisa marah-marah. Kalau saya protes, masih untung saya cuma mendapat tatapan tajam, atau aura mendingin, atau bisikan penuh amarah. Tapi kalau saya diterjunkan dari atas perahu, bagaimana?

Ya hanyut…

Doh, ini pikiran jelek memang mesti dibasmi.

Saya kali ini tak mencoba memotret sana-sini, belajar dari pengalaman berperahu ke Nusa Penida yang banyak sekali percikan-percikan halus air laut menerpa muka (dan kamera) saya. Sekarang pun saya duduk di tengah, tepat di belakang Bapak. Eh tapi kalau tidak memotret kan sayang juga ya, tak ada momen… jadi saya nakal saja mengambil gambar.

Bapak di depan sana ternyata bersiap akan sesuatu, dan ketika berbalik, dengan tangan memegang canang dan sebatang dupa, ia meminta uang pada saya.

“Berapa?”

“Dua ribu.”

Saya mengaduk-aduk tas selempang untuk menemukannya.

Oh, untuk sesari. Sesari adalah, kalau saya boleh jelaskan, persembahan dalam bentuk uang. Zaman dulu, orang menggunakan pis bolong (uang bolong), karena masa itu, uang bolonglah yang digunakan sebagai alat pertukaran. Sekarang alat pertukarannya adalah uang (kertas atau logam), jadi sisanya tinggal mengikuti zaman.

Perahu lain baru saja melintas.
Perahu lain baru saja melintas.

Bapak menyalakan dupa dan menyelipkan uang yang saya berikan tadi di atas tutup canang. Setelahnya ia menunggu Jro Mangku yang ada di depan sana berdoa sebentar (dengan membunyikan gentanya, tentu saja!), kemudian menghanyutkan ketiga sarana upacara itu di laut. Saya pertama mengamati hanyutnya benda-benda itu dalam buih putih air laut sepintas lalu namun sejurus kemudian, saya sadar sendiri.

Dan saya tanpa sadar menjadi lebih tenang.

Awan, laut, pulau, horison.
Awan, laut, pulau, horison.

Oh iya. Hanya kepada Tuhanlah kita berpulang. Ya kalau khawatir pada satu titik, ketimbang berbingung-bingung dengan masa depan, baik kita berdoa. Apa pun agamanya, terserahlah, yang penting berdoa. Hidupkan mode pasrah ketika kita sudah melakukan semua yang kita bisa tapi konstelasi ruang dan waktu membawa pada sesuatu yang tak enak. Karena Tuhanlah sebaik-baiknya penolong.

Gunung Ijen.
Gunung Ijen.

Pulau itu, Pulau Menjangan, makin lebar dan tampak kian besar di depan kami. Suara lain menyusul dan jelaslah tampak kalau ada perahu lain bergerak menyusul, lalu menyalip kami. Perahu itu hanya berisi enam orang, tentu saja mereka jalannya lebih cepat.

Dan sisi lainnya lagi, jikalau pun saya dilempar hanyut ke laut untuk mengurangi beban perahu, ya kan masih ada yang mau menolong, toh?

Iya, kan?

***

Mungkin yang selama ini terkenal soal pulau yang makin lama makin tampak kemegahannya di depan kami itu adalah panorama bawah lautnya yang sangat spektakuler, salah satu yang terindah di Indonesia, bahkan di dunia.

The Map!
The Map!

Bahkan peta ini menunjukkan spot-spot selam terbaik di Pulau Menjangan. Berlawanan arah jarum jam, mereka adalah Pos 1, Mangroove, Cave Point, Pos 2 tempat kami mendarat, Bat Cave, Temple Point, Coral Garden, Sandy Slope, Anchor Wreck, dan Eel Garden. Saya tak begitu mengerti mereka semua berisi apa saja (mereka kan di bawah air), namun paling tidak, dari apa yang saya baca di dunia maya, memang demikian adanya. Rasanya sudah banyak sekali blogger yang membahas bagaimana keindahan bawah laut di sana sebagai salah satu panorama bawah air terbaik dan sangat sayang untuk dilewatkan apabila seseorang berlibur ke Bali, atau ke Jawa Timur, karena pulau ini konon lebih sering dicapai dari Watu Dodol, Jawa Timur.

Dan sebenarnya, kalau saya boleh jujur, sudah banyak juga blogger yang membahas rute trekking membelah Pulau Menjangan, tapi semua itu umumnya dilakukan kebanyakan wisatawan dari luar, atau dari pos yang berbeda (Pos Taman Nasional) karena untuk masuk perlu ada beberapa peraturan yang harus ditaati, seperti berpakaian sopan dan untuk kaum wanita, tidak diperkenankan memasuki areal pura dalam keadaan datang bulan.

Ingat juga untuk mengikat rambut, ya.

Jadi saya bersyukur sekali karena kami bisa masuk dan membelah pulau ini dalam sebuah perjalanan spiritual yang sangat suci, meski kami tidak menyelam apalagi snorkeling. Yah, membahas sesuatu dari segi yang berbeda agaknya akan jadi sangat menyenangkan, bukankah demikian? :)).

_MG_7205

Perlahan, pulau yang tadi sudah tampak dari Pelabuhan Lalang terlihat makin dan makin besar. Kami memang agak terlambat, perahu pertama berangkat jam 12.30 tadi sedangkan perahu terakhir, perahu kami, baru berangkat pukul 12.45 jadi baru tiba di pelabuhan rakyat Pulau Menjangan itu sekitar pukul satu lebih sekian (belas) menit, padahal si perahu (yang kebanyakan beban) sudah berjalan dengan kecepatan penuh :haha.

Perahu-perahu masyarakat yang akan bersembahyang juga sudah ramai sekali berjajar, naik turun mengikuti alur gelombang, berusaha merapat pada pantai berkarang dengan daerah landai yang sempit. Itu menyebabkan kami, para penumpang kapal yang tiba belakangan, harus turun dengan menjadikan perahu lain sebagai jembatan karena perahu yang kami tumpangi letak parkirnya paling jauh dan paling ke tengah. Sementara itu, peserta tur yang lain, anggota grup kami, masih menunggu pemimpin tur mereka (iya, ayah saya) di pelabuhan.

Perahu-perahu berkumpul.
Perahu-perahu berkumpul.

Jujur, saya merasa wajah-wajah rombongan yang sudah tiba lebih dulu agak kurang bersahabat, jadi saya enggan memerhatikan bagaimana proses kami berbaur dengan mereka semua dan memilih untuk menjepret keadaan sekitar, meski itu tidak lama karena kami mesti memulai perjalanan pada setiap pos spiritual di pulau ini. Pos pertama bahkan sudah menunggu, entry point bagi kami sebelum menjelajah lebih jauh di Pulau Menjangan.

Berita tidak menyenangkan yang membuat ekspresi semua orang suram itu baru saya dengar sesudahnya: waktu dipatok mulai pukul 13.00. Sedangkan kami mulai bergerak menuju pos pertama sekitar setengah dua siang.

Jadi “tiga jam” sebagaimana yang dibicarakan pihak travel, untuk kasus kami bahkan tidak sampai tiga jam.

Tapi ya sudahlah, mari melangkah.

Itu semua rombongan kami. Kami pendatang terakhir!
Itu semua rombongan kami. Kami pendatang terakhir!

Pos ke-nol ada di depan kami. Adalah sebuah tugu sederhana, berwarna abu-abu, riuh dengan tumpukan canang dan sesajian lainnya di depannya, tersaput kain bermotif papan catur yang berkibar-kibar. Tulisan berbahasa Bali di dekatnya agak menarik perhatian saya. Ucapan selamat datang yang menegaskan bahwa pulau ini adalah salah satu sentra energi Hindu di tanah Nusantara.

Kurang hebat apa?

Om Swastyastu, rahajeng rawuh ring Kahyangan Jagat Nusantara: Pura Pingit Klenting Sari, Pulau Menjangan.
Om Swastyastu, selamat datang di Kahyangan Jagat Nusantara: Pura Pingit Klenting Sari, Pulau Menjangan.

Sekali pandang lain kami layangkan pada sang tugu dan kami langsung tahu bahwa di sinilah penjaga dari Pulau Menjangan bertempat, dan sesuai konsensus yang sudah kami ketahui sebelumnya, wajib hukumnya bagi kami untuk bersembahyang di sini dulu, ibarat kata mengucapkan salam kenal agar perjalanan kami membelah pos-pos di pulau ini dilancarkan dan dimudahkan. Inilah sang penjaga pertama, di mana kita mesti mengutarakan niat, dan Tuhan akan menilai apakah niat itu cukup untuk masuk dan menjelajah lebih jauh.

_MG_7212

Melihat motif checkerboard, mau tak mau saya ingat soal Penunggu Karang, tugu berfungsi serupa di rumah saya. Secara sederhana, di tugu itu ditempatkan “satpam” rumah, jadi boleh diartikan kalau pelinggih Penunggu Karang (biasanya julukannya Jro Gede) itu adalah pos satpam. Tapi bukan pak satpam seperti yang biasa kita temukan, soalnya di sini, satpamnya tidak kelihatan :hihi.

Tapi ia ada, betulan.

Nah, kalau di sini, kira-kira inilah penjaga Pulau Menjangan. Siapa pun yang mau masuk pulau ini (terutama umat Hindu, sih), wajib meminta izin untuk bersembahyang. Semua orang, tanpa terkecuali. Banyak orang yang mengantri bersembahyang di sini kala itu. Syukurlah sembahyang di sini berarti hanya satu kali muspa jadi kami tidak usah membuang waktu terlalu banyak, karena pos selanjutnya sudah menunggu.

Saya sempat membaca papan yang ada di depan pelinggih (menurut saya ini berguna sekali bagi pengunjung untuk “tahu” apa yang diwujudkan di pelinggih itu). Di sana tertulis “Pelinggih Lebuh: Patih Pengadang-adang”.

Terang sudah, bahwa di sini memang penjaga Pulau Menjangan, seantero pulau dan taman yang ada di bawahnya, karena di namanya terselip kata “lebuh” yang berarti “pekarangan”. Yang unik justru nama beliau: Patih Pengadang-adang. Tak susah untuk menerka, dan sesuai cerita yang saya dengar memang demikian, patih penjaga ini diberi gelar “Sang Penghadang” (pengadang-adang berarti “penghadang”).

Maksudnya, jangan pernah coba kemari dengan niat tidak baik karena patih ini akan menghadang siapa pun yang berniat buruk itu untuk menyentuh area Menjangan. Tapi sebagaimana “biasanya”, orang-orang yang melakukan hal tak baik pada pulau ini tak harus mendapat balasannya saat itu juga. Menurut cerita, si patih akan menunggu waktu yang tepat sebelum memberi peringatan.

Jadi kita sebaiknya tidak macam-macam senyum. Luruskan niat, lanjutkan perjalanan. Ini perjalanan suci di tempat suci, saya ingatkan.

Si Penjaga: Patih Pengadang-adang.
Si Penjaga: Patih Pengadang-adang.

***

Gerbang kuda laut yang menarik perhatian.
Gerbang kuda laut yang menarik perhatian.

Dari penelusuran yang saya lakukan sebelumnya, pura pertama dikenal dengan sebutan Pura Beji, tempat ber-stana manifestasi Tuhan yang bergelar Bhatari Duayu Taman. Terus terang, saya tumben mendengar gelar/nama dewi ini, jadi saya penasaran, sebenarnya siapakah gerangan beliau?

Yang paling mengesankan dari perjalanan dari pelabuhan menuju pos pertama ini, tentu saja perjuangan melewati sinar matahari yang terik itu. Tapi mungkin kami sudah di-setting untuk berjalan secepat mungkin karena waktu yang sangat terbatas jadi tak seberapa lama berjalan, kami sudah bisa melihat tembok pembatas pura pertama yang akan kami datangi di kompleks Pulau Menjangan. Saya berada di antara dua pilihan: menyerap apa yang ada di sekeliling saya, atau mengikuti arus orang yang sangat terburu-buru.

_MG_7213

Saya makin yakin, tak salah rasanya kalau banyak orang sudah memuji keindahan laut pulau ini. Bagaimana tidak, bahkan ketika kami berjalan dengan terburu-buru menembus jalanan setapak pulau di bawah sinar matahari terik ini pun, laut hijau toska di kejauhan sana seolah menunggu sekali untuk bisa diceburi. Pepohonan yang jarang disertai rumpun ilalang tampak kering disiram sinar matahari siang, tapi angin yang lumayan kencang membuat suasana agak adem. Saya berusaha memotret beberapa pemandangan, semoga bisa menggambarkan keindahannya :)).

Sebuah persimpangan menuju pura lain.
Sebuah persimpangan menuju pura lain.

_MG_7298 _MG_7297 _MG_7299

Beberapa ibu menutup wajahnya dengan pasmina yang dibawa untuk mencegah sinar matahari membuat kulit hitam. Kalau saya… yah, diterima sajalah, sudah dasarnya hitam begini, lebih hitam sedikit kan tak apa?

_MG_7215

Tak sampai lima menit kami berjalan dari pelabuhan menuju pura pertama. Sebuah pura dengan tiga pelinggih, simbol penyucian bagi semua orang yang akan melanjutkan perjalanan menuju pura-pura selanjutnya di pulau yang sangat suci ini.

Saya mendapati sesuatu yang sangat menarik di pintu masuk. Ngomong-ngomong, di setiap perjalanan saya di Bali Barat, hewan ini selalu memberi nuansa tersendiri. Memang, hewan ini identik dengan pura-pura di kawasan Bali Barat. Sampai sekarang saya belum menemukan bagaimana hubungannya, itu mungkin karena saya terlalu terbuai dengan kelucuannya… dan memang, kucing-kucing ini menggemaskan, toh?

_MG_7295 _MG_7296

Bagi beberapa orang, ini singa. Tapi bagi saya, ini kucing. Ketika melihatnya, pikiran saya mau tak mau terlintas pada keriangan saya bertemu dengan dua ekor kucing penjaga pura di Pura Pemuteran, beberapa tahun silam. Oh, mereka sangat menggemaskan… dan mereka bukan kucing biasa.

Sungguh, mereka bukan kucing biasa. Saya berdoa supaya saya bisa ke sana lagi guna menuliskan semuanya.

***

_MG_7219
Ida Bhatari Duayu Taman. Jangan main-main dengan penjaganya: ada buaya dan ular!

Lama pandangan saya tak bisa lepas dari Pelinggih Ida Bhatari Duayu Taman, karena keunikannya, sebongkah pratima (artifak suci) batu koral berada dalam gedong tak berdinding, mengekspos bongkahan itu kepada seluruh penjuru. Di sanalah Tuhan dalam namanya sebagai Ida Bhatari Duayu Taman melinggih (bertempat). Di sanalah kami memohon penyucian (untuk kesekian kalinya) dalam perjalanan suci yang panjang ini.

Selain rombongan kami, ada juga rombongan tirta yatra dari Ubud, Gianyar. Saya baru sadar ketika pemangku sedang munggah mepuja (melantunkan doa-doa suci sebelum memulai persembahyangan). Tapi saya tak terlalu memerhatikan sekitar kala itu, terus terang saja, karena bongkahan karang yang ada di depan saya terlalu menarik, terlalu sayang untuk dilewatkan.

Pertanyaan itu terus saja terulang.

“Sebenarnya siapa dirimu? Dan mengapa namamu Duayu Taman?”

_MG_7217

Sembari menunggu dupa dan bunga dibagikan (tentu saja bukan saya yang bertugas kala itu), saya berpikir-pikir. Menurut pemikiran saya, “Duayu” bisa bermakna ganda. Pertama, “Dewa Ayu”, atau dewi yang cantik, semakin menegaskan kalau di tempat ini kami memuja Tuhan dalam wujudnya sebagai seorang wanita. Kedua, “Duayu” bisa dilekatkan dengan makna kata “Duwe” yang artinya memiliki. Ini lebih cocok dengan kata “Taman” yang ada setelahnya, dan itu berarti “pemilik taman”.

Saya lebih nyaman dengan penjelasan kedua. Hanya saja… taman yang mana?

Oh iya, saya tersadar dari lamunan itu setelah mendengar deburan ombak di jauh sana.

Taman di sini, adalah taman bawah laut, kan?

Oh, Tuhan.

Taman bawah laut yang sangat spektakuler itu… astaga, itu taman terindah.

Itu menjawab pertanyaan kenapa di sini Tuhan diidentifikasikan dengan sebongkah koral. Maksud saya, koral/karang sangat identik dengan taman bawah laut, dan di pura ini Tuhan sudah disimbolkan (dalam Hindu memang akan sangat banyak simbolisme) dengan sangat baik dan sangat mewakili, simbol yang entah kenapa sangat menarik hati saya untuk memandanginya lama-lama dengan kebanggaan yang semakin detik semakin membuncah.

Di sini. Pemilik taman laut Menjangan yang spektakuler itu berstana di sini.

Panorama indah ini milik-Mu...
Panorama indah ini milik-Mu…

Ah, jadi makin ingin untuk mengeksplor taman bawah laut ini, meski cuma dengan snorkeling. Tapi itu bisa kita simpan untuk nanti, ya, karena sekarang masih ada pertanyaan kedua: sebenarnya siapa Ida Bhatari Duayu Taman ini? Kok saya penasaran sekali, rasanya dewi ini sangat familiar, nama asli beliau sudah ada di ujung lidah, tapi ada semacam perasaan yang membuat saya lupa, atau belum mau terbuka sebelum ada bukti.

Tapi rasanya, dewi ini sangat familiar!

Bukannya bagaimana-bagaimana. Umumnya, dewa-dewi dalam berbagai nama yang dipuja dalam pura-pura di Bali bertalian erat dengan dewa-dewi Hindu yang berasal dari India sana, mengingat akar mereka yang satu. Ah, tapi bagaimana mau mencari tahu ini dewi siapa? Tak akan mungkin sempat melakukan riset kilat dari tempat seperti ini, apalagi ketika waktu di pulau ini hanya tiga jam. Lagipula persembahyangan sudah mau dimulai, jadi ada baiknya kalau kita fokus sembahyang saja dulu…

Tapi Tuhan memang selalu memberikan semua pertanyaan yang diajukan pada-Nya. Di muspa ketiga, tiba-tiba jawaban tentang siapa Ida Bhatari Duayu Taman ini datang begitu saja, tak terduga, lewat lantunan doa yang dipimpin oleh pemangku di Bale Pawedaan sana:

“Om Sri Gangga Dewi Pratista…”

Tak bisa saya jelaskan tapi sekujur badan ini mendadak merinding. Jawaban itu seolah datang bagi saya yang bertanya, tentang siapa yang ada di depan saya.

Gangga.

Semua pun tersambung dengan sebuah benang merah yang tebal. Nama “Beji” berarti “penyucian dengan air”. “Taman” yang ada di depan sana, yang kebetulan sekali taman yang dipeluk oleh air laut. Bentuk pelinggih yang di bawahnya ada kelopak bunga yang belum mekar sempurna dan dibelit dua ekor ular, dijaga dengan dua ekor buaya, mengingatkan saya akan kisah turunnya Dewi Gangga di kepala Dewa Siwa yang benar-benar dramatis.

Dan bagi umat Hindu, penyucian dengan Gangga (air) adalah mutlak sebelum memulai aktivitas persembahyangan…

Doh, ini Dewi Gangga yang itu!

***

Setelah persembahyangan selesai, sekitar saya tampak lebih familiar dan jauh lebih ramah.Saya jadi bisa memandang sekitar dengan lebih jernih, untuk menegaskan diri bahwa pura ini adalah salah satu tempat Dewi Gangga memantau badan-badan air di seantero dunia.

Versi lansekap.
Versi lansekap.

Saya sudah jelaskan gedong yang ada di tengah. Di kanannya, ada sebuah Padmasana, tempat Tuhan dalam wujudnya sebagai Ida Sang Hyang Widhi/Acintya (yang tak terpikirkan, versi abstrak Tuhan dari banyak personifikasi). Bangunan ini dikembangkan oleh Danghyang Dwijendra, seorang maha rsi yang malang melintang dalam sejarah Hindu di Indonesia (kalau ada kesempatan, akan saya ceritakan), sebagai wujud simplifikasi agama dan penegasan kalau Hindu adalah agama yang juga bersifat monotheis.

Di sisi kiri gedong, adalah Anglurah Agung (beberapa orang menyebutnya Ngerurah Agung). Simpelnya, pelinggih ini berfungsi sama dengan penjaga yang kita temui di luar tadi, namun dalam lingkup yang lebih sempit. Anggap saja ini pengawal pribadi :hehe.

Ah, pengalaman spiritual yang sangat kaya, meski kami baru saja selesai sembahyang di pura pertama. Saya pun mengambil tamas (seperti mangkok terbuat dari janur) bekas untuk digunakan sebagai tempat dana punia. Tamas yang nantinya terbukti sebagai tamas ajaib, tapi itu kita simpan untuk nanti saja. Setelah sembahyang, jangan lupa mengumpulkan sampah bunga serta dupa diletakkan pada tempatnya. Jagalah kebersihan, jaga juga alam Pulau Menjangan yang merupakan taman nasional ini.

Oke sip?

Hati-hati, rawan kebakaran.
Hati-hati, rawan kebakaran.

Sekarang, berhubung kami sudah suci berkat restu Tuhan dalam wujudnya sebagai Dewi Gangga, ke pura mana selanjutnya kami kan menuju?

Tanpa mobil, tentu saja. Di sini kita jalan kaki!

IMG_7166

77 thoughts on “Pulau Menjangan #2: Si Penjaga dan Sang Dewi Pemilik Taman Bawah Laut

  1. Lagi-lagi kamu berhasil membuat aku terhanyut dalam buaian cerita dewa dewi. Dengan alur cerita yang menarik dan foto -foto yang menakjubkan. Keren.

    Mengenai dewi gangga bahwa beliau mengawasi semua aliran air aku baru ngeh juga.

  2. Aaaaa seru! Seru! Terlepas dari kekurangtahuan saya dengan tulisan Menjangan lainnya, tapi sepertinya, rasanya baru tulisan ini saya melihat Menjangan diulas dengan sudut pandang berbeda, yang memang benar-benar dialami sendiri. Saya baca kalau di Menjangan itu ada pura-pura, tapi sebagian besar hanya dituliskan secara general: Bahwa di sana ada pura 😀

    Saya memang muslim. Tapi tak berarti saya akan goyah jika dilarang menambah wawasan tradisi agama lain. Saya akan bersabar menunggu lanjutan ceritanya 🙂

    1. Iya, di sana ada pura. Pura yang menurut saya paling unik dan paling berbeda dari semua pura yang pernah saya datangi sejak saya lahir sampai sekarang :hihi. Saya pun tak sabar untuk segera merilis episode-episode selanjutnya–tapi mari kita sama-sama bersabar supaya episode ini membekas dulu, Mas :hehe. Terima kasih sudah berkunjung dan mengapresiasi!

    1. Pastinya! Sayang saya tak bisa bersketsa jadi cuma bisa foto-foto… padahal kalau bersketsa itu pasti seru, ya! Terima kasih sudah mampir!

  3. Duh Gar, baca dari awal hingga akhir, berkali2 saya merasa sesak bacanya apalagi ketika dirimu bertanya dan langsung dijawab, dan seketika itu juga semua jadi gambar yang utuh. Berbahagialah bagi yang menyadari mengalami berbagai pengalaman spiritual dalam perjalanan batin yang akan merontokkan karat-karat kehidupan.

    1. Terima kasih Mbak :)). Iya, pengalaman spiritual di perjalanan suci itu memang susah sekali untuk saya lupakan :hehe.
      Episode 3 akan lebih spektakuler lagi lho :hihi.

  4. Wah saya belum kesampaian nih me-tirta yatra ke daerah Bali Barat. Impian banget suatu hari bisa ngaturang bakti ke Pura di Pulau Menjangan. Pertengahan tahun kemaren rutenya ke ujung Karangasem-Lempuyang.
    Baca tulisannya Bli Gara, makin menjadi-jadi rasanya keinginan kesana
    Makasi sharingnya bli

    Btw, ini alamat ngeblog yang baru ya?

    1. Auuu, malah saya yang belum pernah ke Lempuyang dan suatu hari berharap bisa ke sana. Pingin banget tangkil ke Lempuyang!
      Iya, saya sudah pindah ke self-hosting :hehe. Mudah-mudahan bisa banyak berbagi di rumah yang baru ini :hehe. Terima kasih sudah mampir, Mbok!

      1. Saya aja baru pertamakali ke Lempuyang Agustus kemaren itu. Mungkin memang karma wasananya membawa saya baru berkesempatannya saat itu. Maklum diperantauan, mudiknya jarang-jarang karena harus adil ke dua tujuan hehe.

        Begitu pula Menjangan, masukin dulu ke destinasi impian, semoga kelak kesampaian.

        Ayo tulis lanjutannya bli
        Makin penasaran nih sama Pura-Pura di Menjangan

        1. Yang penting dapet tangkil Mbok, kapan pun dipanggilnya ke sana :hehe. Tiang masih nunggu instruksi niki supaya bisa datang ke sana. Aaaaak penuh perjuangan pasti munggah ke Lempuyang itu, bagi ceritanya dong di blog :hihi *atau sudah ada link-nya? Nanti tak cari deh hihi*.

          Oke! Mudah-mudahan semua jalan sesuai rencana jadi bisa tepat waktu publishnya. Terima kasih :)).

  5. Hahaha, merinding ya Gara rasanya ketika kita tiba-tiba penasaran akan sesuatu dan tidak lama kemudian, tiba-tiba jawabannya langsung muncul di hadapan kita 😀 .

    Btw, pulau Menjangan nampaknya oke juga ya. Beberapa kali ke Bali, aku belum sempat ke daerah sana nih 🙂

  6. Seperti yang kamu katakan Gara, meski tempat yang dituju sama, setiap orang punya cerita berbeda tentang tempat itu. Itu terbukti disini, ketika kebanyakan cerita tentang pulau mungkin hanya berkisar pada pengalaman menikmati pantai dan alam bawah lautnya, kamu memberikan cerita yang berbeda lewat perjalanan sucimu gara. Meski saya juga penasaran sama potret bawah lautnya.

    Wahh… di awal saya sempat berpikir, bagaimana kalau kamu protes dan kamu benar-benar dibuang ke laut ya? Hahaha✌

    1. Kalau potret bawah lautnya saya belum ambil Mas :hihi.
      Terima kasih sudah membaca :haha. Untunglah saya tidak protes jadi tidak dilempar ke laut. Kalau dilempar, ya hanyut… :hihi.

  7. Jika banyak orang mengumbar Pulau Menjangan lewat gambar underwater dan keasyikan nyilem, dirimu justru mengangkat dari spiritual. Harusnya seperti inilah yang ditonjolkan dari wisata Bali. Nggak cuma kecibang-kecibung lalu pulang, tapi belajar mengenal budaya lokal. Mnurutku sih. Semoga yang hendak ke Menjangan baca tulisan Gara dulu. 😉
    *lalu penasaran cerita tentang kucing yg bukan kucing biasa* 🙂

    1. “Kecibang-kecibung lalu pulang”, :haha. Suka! Saya juga berharap demikian, mudah-mudahan banyak yang membaca tulisan saya jadi pemahaman soal Pulau Menjangan lebih kaya. Terima kasih ya Mas :haha.
      Oh, kucing… dulu nemu kucing sepasang di Pura Pemuteran. Lucu banget sampai saya ajak main, elus-elus perutnya, disayang-sayang, ngegemesin banget soalnya. Pertamanya kira kucing biasa… sampai saya sadar kalau ternyata kucing itu sama percis dengan patung kucing yang menjaga di pelinggih utama. Taunya juga setelah di atas mobil pulang sih hehe.

    1. Kalau menurut pendapat saya, mungkin kearifan lokal dengan masyarakat sekitar yang sadar bahwa Pulau Menjangan memiliki taman bawah laut yang sangat indah Mas :hehe.
      Sip, padahal saya tak melakukan/mengubah setting-an apa-apa lho Mas :hihi. Terima kasih, ya!

  8. Wah jadi nambah ilmu dan penjelasannya disini. Beberapa bulan lalu saya sempat ke Pulau ini dan jalan kaki juga ke tempat yang Gara ceritakan, tapi pengetahuan saya terbatas jadi dengan baca Blog ini jadi lebih banyak tau. Saya jalan sampai ke patung Ganesha di ujung pulau.

    1. Ah iya, rute trekkingnya kurang lebih sama, karena finish-nya juga di Patung Ganesha itu :)). Tapi karena saya singgah di setiap pura satu demi satu, akhirnya jadi panjang dan banyak banget ceritanya :haha.

  9. Yak ampun bli ini post menjangan #2 seru sekali, lebih rame daripada yg pertama (hihi malah dibandingin) aku hampir kecewa takutnya Ida Bhatari Duayu Taman diceritakan di Menjangan # 3 😀 alih2 terjawab sudah 🙂

    Bli, pis bolong itu apa? uang yg berlubang bukan? lalu semisal kita niat tidak baik datang kesana atau berbohong sedang datang bulan tp tetep berkunjung apakah penunggu karang yg akan mebalas kita saat itu juga?

    1. Total postingan di tempat ini ada delapan (satu untuk setiap pura, ada tujuh pura) dan satu lagi buat drama transportasi :hehe. Panjang yah?
      Yep, uang yang bolong di tengahnya. Nah… saya belum pernah mengalami sih, tapi dari cerita yang saya dengar, bisa di saat itu, bisa juga tidak. Namun agak discouraging kalau saya cerita di sini, sehingga saya cuma mengingatkan :hihi.

    1. Ada kok Mas menjangannya, nanti di postingan depan saya update lagi :hihi.
      Oh, iya, memang suka demikian kejadiannya dengan blog self-hosting. Saya akan berusaha menampung dan meng-update-nya :hehe. Terima kasih!

  10. Kak… terima kasih banyak ya… Aku jadi banyak tahu tentang tradisi dan bangunan umat Hindu, termasuk Penunggu Karang itu yang selama ini bikin aku penasaran dan bertanya-tanya (tanpa ada yang menjawab)..
    Kak…ngga sabar nih (duh…ngga sabaran yaa…) nunggu episode berikutnya..
    Eh iya…Waktu ke Bali ada banyak hal yang ngga aku pahami dan ngga ada yg jelain…Boleh aku tanya ke Kak Gara ya?

    1. Pulau Menjangan sudah terkenal banget Mas sebetulnya, karena taman bawah lautnya yang bagus banget dan hanya ada satu di dunia ini :hehe.

  11. Wuih… lautnya jernih sekaliiii 🙂
    Ga tahan liatnya pengen meraupnya dengan sepasang tangan raksasa, dan membasuhkan airnya ke wajah. :mrgreen:

    Terlepas dari perjalanannya sana yang mungkin bagi beberapa orang bikin resah, pemandangan dan suasanannya bikin syahdu… Bikin kita mensyukuri betapa indahnya bumi ciptaan Tuhan. Bikin kita menyadari betapa kecilnya kita ini, makhluk yang nggak ada apa2nya tanpa-Nya. 🙁

    1. Iya Mas, ceburable banget kan lautnya, tidak heran di sini jadi terkenal sekali sebagai spot menyelam :)).
      Yep, sebenarnya kesadaran sembahyang menurut saya cuma itu :hehe, tapi yah namanya manusia, kadang capek, kadang nyinyir, jadinya kadang lupa dengan Tuhan :)). Makanya mesti banyak yang menguji dan mengingatkan.
      Terima kasih sudah mampir!

  12. aaaa seru amaat tripnya ke Menjangan, btw Gar, itu di petanya ada gambar si rusa, nemu ga? baru kali ini nih luat ada patung bentuk kuda laut di Bali, unik yaah 🙂

  13. Laut biru itu asik banget buat berenang sampai puas. Kayaknya asik juga nih mancing mania disana, Gar. Kebetulan sejak tinggal di Ambon saya jadi hobi mancing. Sekali seminggu memancing di laut, 🙂

    1. Memang Mas, banyak juga yang memancing di sini :hehe. Tapi mesti hati-hati juga soalnya di sini kan taman nasional ya, takutnya yang dipancing spesies yang dilindungi :hihi.

    1. Kalo wisatawan dari Jawa setahuku naik dari Watu Dodol Banyuwangi Beb. Kalau yang dari Bali, bebas saja sih, kan bayarnya biaya wisatawan ini, jadi pasti didahulukan :hehe. Kalaupun menunggu paling sebentar, tidak lama.

  14. Aku malah baru tahu kalau Pulau Menjangan itu tempat beribadah. Kirain cuma tempat berwisata aja. Dan karena baca seri Menjangan ini lompat-lompat, banyak cerita yang masih kurang paham. Harus baca dari seri pertama ini. 😀

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?