Malam Menjejak di Koetaradja

Saya masih khawatir di atas sana masih ada yang tersinggung.

Sebab, langit mengganas lagi, jalanan basah kuyup lagi, angin pun kembali kencang ketika kami menuju penginapan di Banda Aceh. Mobil membelah jalanan dengan ekstra hati-hati, berusaha untuk tidak tergelincir. Tapi saya tidak memerhatikan hal itu karena masih terpikir dengan bangunan di percabangan jalan yang saya kenal betul sebagai peninggalan Belanda di Aceh.

Meski demikian, kami sempat diajak keliling-keliling kota di tengah hujan. Ditunjukkan kompleks makam Sultan Iskandar Muda, lewat Rumoh Aceh, taman yang dulu katanya bekas permandian putri-putri raja (ketika saya menulis ini, saya lupa namanya apa), atau (ini yang paling membuat saya terkagum-kagum), Peutjut Kerkhof. A Dutch cemetery that I think is the largest outside Java.

Sayang kami belum sempat singgah ke semua tempat itu, karena hujan menghalangi kami semua. Bahkan ketika kami tiba di penginapan pun, bulir-bulir air itu masih terus tercurah.

Dari balkon saya cuma bisa bercerita dengan hujan. Dari deras, menggerimis, sampai hanya berupa titik-titik halus di air yang menggenang. Mungkin saya sudah bercerita terlalu banyak dan terlalu lama, karena rasa kantuk kembali menyerang, membuat saya pun tergeletak lemas di atas kasur sampai beberapa jam setelahnya.

Mungkin dedaunan itu lelah mendengar cerita saya.
Mungkin dedaunan itu lelah mendengar cerita saya.

Dinginnya udara dan pendingin ruangan yang dengan bodohnya lupa saya matikan (sampai saya batuk-batuk) membuat saya lapar ketika terbangun. Bahkan setelah memberanikan diri membeli roti panggang isi telur yang untuk membelinya saya harus intip-jingkat-intip-jingkat seperti maling karena saya takut berkendala bahasa (saya tak bisa bahasa daerah apa pun selain bahasa Indonesia), saya masih kelaparan.

Dingin, lapar, di sebuah kota yang belum saya kenal. Komplet. Kenyamanan kamar tidak mampu meredam rasa lapar ini, karena memang saya tidak makan kasur dan bantal untuk mengenyangkan diri.

Mbak Din me-whatsapp saya dari kamar di lantai bawah, dan ternyata… yang kelaparan bukan cuma saya.

“Hujan, Mbak, memangnya kita mau ke mana?” jawab saya.

“Kata temenku sih di sini ada warung kopi yang enak, Dek, namanya Kopi Solong, mau ke sana? Atau mungkin kamu mau makan dulu?”

“Makan dulu sih, Mbak.” Sejujurnya saya tidak bisa membayangkan diri saya hanya mengisi perut ini dengan secangkir kopi hangat. Enak sih, tapi kalau perut cuma diisi kopi dan jajan pasar, meranalah saya di sisa malam ini.

“Mau makan apa, Dek?”

Di kepala saya cuma ada satu makanan yang bisa saya ingat. “Mi Aceh?”

Tak ada penolakan. Oke, makanan disepakati. Masalah transportasi yang muncul pun demikian, karena saya sudah meneliti (baca: menonton) jalan di depan penginapan. Banyak becak motor (becak tapi penariknya adalah motor alih-alih sepeda, seperti bentor di Medan) berlalu-lalang. Setelah memastikan hujan tidak cukup deras sehingga kami mungkin mengeluarkan kamera masing-masing dengan aman apabila ada objek foto yang menarik minat, saya menyetop sebuah becak motor dan kami berdua bergegas melompat ke dalam.

Becak yang kami tumpangi baru saja akan keluar dari gerbang penginapan ketika sebuah mobil kijang hitam datang dan berpapasan dengan kami. Saya melirik ke plat mobil yang baru datang itu, dan sontak menghentikan becak kami karena saya kenal betul plat itu! Ya iyalah, itu kan mobil yang menemani kami dalam perjalanan mengelilingi Aceh sore tadi!

Kami (sebenarnya saya) pun bersorak seperti anak kecil ketika sang pengemudi keluar dari mobil. Pak Dayat! Dengan mata merahnya karena kurang tidur dan hujan-hujanan di Pegunungan Paro. Kami keluar dari becak motor, minta maaf tanpa rasa bersalah sembari menjejalkan sedikit uang ke tangan pak sopir yang kebingungan, kemudian naik ke atas mobil. Siap untuk menjelajahi Banda Aceh, pada malam pertama kami ada di sana! Jos!

Kami keluar setelah jam tujuh malam, menuju ke arah utara (?) dari Jl. Teuku Daud Beureueh. Tidak seberapa lama setelah sebuah lampu merah, kami ditanya ingin makan apa, dan sebagaimana kesepakatan, kami menjawab, “Mi Aceh! Tolong ajak ke dagang Mi Aceh yang terkenal, Pak!”

Tatapan yang kami dapatkan ternyata tidak seperti yang kami harapkan. “Benar mau Mi Aceh? Padahal malam-malam, lho, hujan, pula. Terus apa kalian tidak takut bakal lapar lagi?”

Jawaban yang membuat saya agak heran. Bukankah Mi Aceh itu makanan berat, hangat, dan membuat lidah dan hati merapat? Namun, setelah mendengar penjelasan yang sedikit lebih lanjut, saya berkesimpulan bahwa mungkin masyarakat Aceh tidak terbiasa untuk menyantap Mi Aceh sebagai makanan berat. Alih-alih demikian, saya berpikir kalau Mi Aceh itu sebenarnya makanan ringan.

Eh, makanan ringan…?

Untung saja Pak Dayat punya pemecahan atas ketiadaan ide kami tentang santapan malam. Dengan cepat, dia memutuskan sebuah kedai yang sudah akrab dengannya. Sebuah restoran yang ramai, dengan pelataran parkir yang luas. Gerobak dagang dan tempat pembakaran yang mengepul menjadi tanda denyut pengolahan makanan yang terus berdetak. Saya membaca papan nama sang restoran.

“Sate Matang?”

Mungkin ada “Sate Setengah Matang” atau “Sate Well Done” atau “Sate Medium Rare” (colek penjelasannya dari Mbak Nadia). Heheh.

Kehangatan penyambutan terhadap kami, terutama Pak Dayat, sih, menandakan kalau dia sudah kenal baik dengan si empunya restoran. Dia pun bercerita bahwa Sate Matang tidak buka cabang di tempat lain, apabila ada menjumpai maka itu bisa dipastikan tidak asli. Tambahan lagi, sang pemilik yang sangat ramah itu bercerita bahwa dia kini sedang berusaha mematenkan merk Sate Matangnya di Kementerian Hukum dan HAM. Langkah yang saya apresiasi, karena memang urusan hak cipta di Indonesia itu sedikit tricky, kalau boleh saya bilang, sehingga harus diperlukan langkah preventif bagi pencipta merek untuk menghindari pembajakan.

Karena makanan sudah datang, mari makan! Sebelumnya, difoto dulu, ya! Tapi sayang, saya tidak sempat memfoto suasana restoran karena baterai tablet dan SLR yang sudah sekarat setelah habis-habisan dieksploitasi sepanjang perjalanan tadi. Apabila ada yang ingin berkunjung, monggo datang ke Sate Matang “Dwan”, Blang Cut, Jl. Teuku Imeum Lueng Bata, tepat di samping IDX Banda Aceh!

20141111_193921
Satu porsi Sate Matang, tunai.

Sepiring sate daging dengan bumbu kaya rempah menjadi korban pertama saya. Dagingnya memang tidak terlalu banyak bumbu, karena kekayaan rempah Sumatera nan nikmat itu justru ada di saus cocolnya. Ada kerenyahan potongan-potongan kacang terasa di sana, berbaur dengan gurihnya lemak di kuah “setengah gulai” (yes, I do love cholesterol for now) dan daging di satenya yang gurih-gurih empuk.

Bahkan ketika menulis ini saya semacam bisa merasakannya lagi…

Cuaca belum bersahabat betul ketika kami selesai bersantap. Tapi Pak Dayat tetap berkeras mengajak kami keliling kota. Katanya tak apa kalau tidak mengambil gambar. Saya sih senang-senang saja, meski mengantuk tapi saya tak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk bertualang dan melihat lebih banyak, kan?

“Selagi masih bisa, Gar. Selagi masih bisa.”

Jadi anggaplah kalau tulisan ini adalah preliminary glimpse terhadap ulasan superpanjang tentang tempat-tempat wisata tersebut dalam postingan-postingan berikutnya :hihi.

Banda Aceh hari ini adalah Banda Aceh setelah tsunami 26 Desember 2004. Yang kaya akan cerita. Cerita apa yang mungkin akan kami dengar dari dinginnya malam, selain kemahadahsyatan Tuhan dengan kuasanya atas samudra yang menyapu kota ini sepuluh tahun lalu itu?

Ternyata banyak, karena ketika kami berkeliling, gelapnya langit, terangnya lampu kota, pantulan cahaya pada aliran sungai dan kekokohan bangunan semua seolah menyambut kami dengan cerita tentang menit tatkala samudra menumpahkan isinya kepada semua makhluk di sini.

Pak Dayat, sebagai saksi hidup kejadian itu, juga menceritakan hal-hal yang sama pada setiap tempat yang kami lewati. Di depan gedung PLN Banda Aceh, dia bercerita tentang bagaimana dirinya yang tiba-tiba saja terangkat ke atap gedung berlantai tiga itu pada saat tsunami menerjang, dengan mendekap seorang anak kecil yang dia bahkan tidak tahu siapa, pada saat keluarganya tercerai-berai entah di mana.

Pun ada cerita orang yang sudah pasrah betul dengan dinding air yang akan segera menerjang dirinya, dan detik berikutnya ketika dia membuka mata, ia sudah berada di atas sebatang pohon kelapa sementara puing bangunan, puing kendaraan, serta jenazah, terhanyut dalam aliran air yang mengganas di bawahnya.

Saya merinding. Tuhan memang sudah memperhitungkan semuanya. Sutradara terbesar di seantero jagad raya dalam karya yang sangat presisi. Siapa yang meninggal, maka memang sudah saatnya mereka meninggal. Siapa yang masih hidup, maka ajal mereka memang belum di sana.

Menyitir kata-kata ibu saya,

“Kalau dia selamat, artinya jalannya dia mati bukan kayak gitu, Gar. Semua orang kan sudah punya jalannya masing-masing. Kalau belum jalannya, mau ada bencana kayak apa, dia nggak meninggal. Tapi kalau sudah jalannya, mau cuma tersandung kerikil saja, dia pasti mati.”

Banda Aceh memberi kesan pertama yang sangat membekas di hati saya. Setiap sudut kota yang basah memantulkan cahaya lampu jalan dengan makna yang sarat. Kami melewati Pasar Aceh, yang dulu saat hari nahas itu menjadi tempat berkumpul banyak orang. Pak Dayat bercerita tentang laut yang surut selama beberapa puluh menit sebelum tsunami, banyak ikan yang tak sempat menyelamatkan diri dan itu jadi sasaran empuk bagi warga untuk menangkap ikan. Saat itu tak ada yang menyangka bahwa surutnya laut adalah awal dari bencana…

Kami meneruskan perjalanan ke arat utara. Tempat sebuah masjid, yang bernama Masjid Ulee Lheue, masih berdiri teguh padahal lokasinya cuma sepelemparan batu dari bibir pantai. Beberapa orang mungkin akan berkata “ini keajaiban”, tapi bagi saya, semuanya sudah direncanakan. Bukankah Tuhan adalah sutradara yang jauh lebih pintar dari pemenang Academy Award?

Kami terus menuju ke arah utara, sampai pada akhirnya berhenti di sebuah lapangan luas terpagar tembok rendah. Nun, lapangan itu berbentuk agak bergunduk, dengan rumput yang halus selembut permadani terbentang di atasnya. Dua buah tonggak, terikat kain putih berada di puncak gunungan dengan posisi paralel. Pada pintu masuk besar menuju lapangan itu, ayat-ayat suci dari kitab Al Quran dengan nama-nama Tuhan terlukis jelas di pintu. Sepasang lampu bersinar temaram, memberi serat misteri pada kegelapan di belakang lokasi itu. Untuk beberapa saat, kami berhenti di depannya, menyerap rintihan tangis tak terdengar dengan ketenangan nama-nama Tuhan dan doa-doa yang terus mengalun dari orang-orang di sekelilingnya.

Itulah Kuburan Massal Tsunami Ulee Lheue Banda Aceh, salah satu dari beberapa kuburan massal bagi korban tsunami di Banda Aceh.

Saya menghela napas dan memanjatkan selarik doa bagi para korban yang dimakamkan di sana. Semoga mereka diterima di sisi-Nya.

Kami juga sedianya ingin menuju ke daerah dekat pelabuhan, tapi sayang, kami tidak bisa singgah ke dekat sana lantaran peraturan daerah di Aceh melarang orang-orang untuk berkunjung ke daerah pantai selepas senja.

Tapi bukan berarti kami tidak bisa masuk ke daerah pelabuhan, ya :hihi. Entah bagaimana caranya, entah lewat mana, Pak Dayat bisa menggerakkan mobil kami menembus beberapa jalan kecil dan tiba tepat di jalan sepinggiran samudra.

Ah, laut dan horizon yang gelap yang menyatu. Di kejauhan, beberapa lampu di Pulau Sabang berkilauan, seolah memberi sinyal bagi penduduk Aceh bahwa di sana masih ada kehidupan. Tak sepenuhnya pulau kecil itu gelap. Di mana pun, kehidupan akan berdetak.

Ketika kami keluar dari jalanan yang tidak bertutup portal, hujan pun lagi-lagi turun. Seperti lagi-lagi memberi sambutan kepada kami di Banda Aceh. Dingin pun menelusup, saya berusaha menahan kantuk sementara Pak Dayat masih terus asyik bercerita soal bangunan-bangunan yang kami lewati.

PLTD Apung, Museum Tsunami Aceh, replika pesawat Seulawah di Lapangan Blang Padang, serta SMA 1 Banda Aceh di dekat Blang Padang yang bangunannya lebih mirip istana kecil berpilar Doria ketimbang sekolah. Untuk sejenak, kantuk itu menghilang. Terus terang saya takjub, bangunan tua ini masih bertahan setelah terterjang gelombang mahadahsyat itu.

Saya ingin menunjukkan bangunan itu kepada Mbak Din, tapi ketika saya menengok ke kursi belakang, ternyata Mbak Din sudah tidur. Kami tak tahu sejak kapan Mbak Din terbawa ke alam mimpi, mungkin sejak kami berada di Ulee Lheue tadi :hehe.

Sekitar setengah jam kemudian, setelah cerita soal warung-warung kopi dan rumah-rumah pegawai di Banda Aceh, dan lewat terminal bus disertai sedikit paparan tentang rute Banda Aceh–Medan, Pidie, Bireuen, dan Takengon, kami sudah tiba kembali di penginapan. Setelah kami turun, Pak Dayat sekali berjanji untuk mengajak kami menyambangi semua tempat yang sudah kami lewati pada malam ini. Semangat, saya mengiyakan.

Selama beberapa saat saya menatap mobil Pak Dayat menghilang ditelan malam. Jalanan Banda Aceh mulai melengang, tanda tengah malam sebentar lagi menjelang. Yah, pada akhirnya, hari itu, malam kembali menjejak di Banda Aceh, memupuk semua imajinasi yang mulai tersemai untuk keingintahuan esok hari.

Ke mana kita akan pergi, ke mana kita akan kembali?

32 thoughts on “Malam Menjejak di Koetaradja

    1. Aih, terima kasih banyak. Sejujurnya saya juga banyak mencatatnya kok, Mbak *geprek tablet*
      Saya kepingin baca potongan kenangan Mbak tentang Banda Aceh. Izin meluncur…

  1. keren tulisannya, mas.

    seperti baca jurnalisme sastrawi, mendeskripsikan keadaan saat itu sekaligus menceritakan tentang tempat2 yang didatangi, juga tentang “daun yang lelah mendengar”

    keren 🙂

  2. Jadi lewat kuburan massalnya malam-malam ya, Gar? Jadi makin miris ya..
    Kalau ke tempat-tempat peringatan bencana begitu hati rasanya mencelos begitu saja.
    Menyenangkan sekali bisa bertemu dengan orang lokal, bercerita tentang hal-hal yang terjadi dari sudut pandang dia, tidak hanya seperti apa yang kita baca, dan membuat cerita menjadi hidup 🙂

    1. Iya Mbak, malam hari 🙂
      Entah kenapa, kunjungan ke Aceh kemarin bagi saya terasa seperti napak tilas tsunami 10 tahun lalu. Mungkin karena semua itu begitu membekas di benak mereka dan kami mendapat kehormatan untuk mendengarnya, kami seperti ikut berada di sana pada hari nahas itu.
      Ah, terima kasih untuk apresiasinya, Mbak 🙂

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?