Loncat di Kuta? Ayok, Maeh!

Salah satu ambisi terbesar kami berwisata di pinggir laut adalah untuk bisa berfoto dengan pose leloncatan dalam berbagai ekspresi. Oke, memang ini adalah levitasi dalam bentuknya yang paling sederhana, banyak pemotret yang telah mengabadikan pose-pose yang jauh lebih dahsyat daripada kami, tapi sebagai pemula, kami tentunya ingin bagaimana mencicipi kali pertama berloncatan di depan lensa.

Gagal, gagal.
Gagal, gagal.

Dan berloncatanlah kami! Saya dengan kostum lengkap (jaket dan jeans panjang), sementara Kak Randy, mesti saya akui, punya selera berpakaian yang lebih pas untuk digunakan di lingkungan pantai.

Inilah outfit yang mestinya dikenakan kalau ke pantai. Model: Kak Randy.
Inilah outfit yang mestinya dikenakan kalau ke pantai. Model: Kak Randy.

Kenapa saya harus sadar setelah tiga bulan kemudian kalau saya… salah kostum?

Berloncatan di Kuta itu asyik! Tak peduli dengan sekitar, karena di saat yang sama, sekitar juga tidak peduli dengan kami, karena banyak hal yang bisa dilakukan di Kuta, menyebabkan orang-orang yang sedang asyik dengan kegiatan mereka masing-masing itu tidak punya waktu untuk mengamati kami (jujur, kami pun demikian).

I am the starfish! Yang pakai jaket tebal.
I am the starfish! Yang pakai jaket tebal.

Berpanggang jemur di pasir merica yang tersohor itu sambil membaca novel seperti bule-bule (yang herannya tidak ada di Kuta)? Bisa.

Hore-hore sambil bermain kano? Juga bisa.

Berleloncatan seperti kami-kami juga tidak ada yang melarang.

Mulai lebih tinggi.
Mulai lebih tinggi.

Apalagi berfoto, itu wajib hukumnya.

Bertengkar dengan bocah-bocah penjual gelang juga boleh!

Jadi, loncat di Kuta?

_MG_4109

Ayok, maeh!

(“Ayok, maeh” adalah ekspresi eksklamasi bahasa Sasak yang kira-kira artinya “Bring it on!”).

103 thoughts on “Loncat di Kuta? Ayok, Maeh!

  1. huaaaa warna air laut dan langitnya…. serasa kepengen masuk kedalam komputer deh…

    haahaha iya gara lain kali kalo di pantai jangan saltum lagi yaaa ๐Ÿ˜€

    btw biar udah u saya juga masih tetep senang dengan pose loncat begini… #bebasbangetrasanyahepiiii

    salam
    /kayka

    1. Iya, saya sudah banyak belajar soal saltum jadi semoga tidak terulang lagi ya Mbak :amin.
      Setujuuu, bebas banget rasanya, hepii sekali, kayaknya semua kekesalan sebelumnya jadi hilang bin musnah :hehe. Ah, jadi kepengin ke pantai dan foto leloncatan lagi! :haha.

      1. hihihihi siiiip next time gar.

        seru memang loncat-loncat di pantai begini… apalagi kalo dari dalam airnya langsung dan bisa dapet efek splashnya. saya belum pernah sih dan gak akan juga #chickeeenbanget. cuma liat-liat dari foto-foto aja….

        salam
        /kayka

        1. Wah itu ada efek splash-nya juga Mbak, di foto terakhir, saya baru sadar… tapi splash-nya sedikit :hihi. Yang penting ada :haha. Terima kasih ya Mbak :)).

          1. hahahaha iya ada tapi sedikit banget. kalau bisa masuk air gar abis itu loncat foto berkali-berkali sampe dapet efek splash yang uhuy…

            sama-sama gara…

            salam
            /kayka

    1. Iya saya juga Mas, sudah lama banget sejak leloncatan di Kuta ini (blogger pemalas memang saya ini, ceritanya baru ditulis sekarang :haha).

      Sip! Saya akan berusaha untuk tidak lagi salah kostum! *meninju udara*.

  2. Gara..view fotonya amazing banget. serasa bukan di pantai Indo. ๐Ÿ™‚
    anyway aku gak pernah bisa buat foto lompat2 gitu. selalu keburu kejepret dan yang moto gak sabaran -__-‘

    1. Terima kasih Mbak :)). Sama, saya juga kemarin butuh banyak percobaan, akhirnya pakai tripod dan remote shutter release, syukurlah jadi bisa tertangkap dengan baik momennya :hehe.

  3. Foto pakai acara loncat indah ini, asyik juga ya Gara. Suka iri pada anak muda, tubuh mereka lentur dan bisa naik ke atas saat meloncat. Beda sama ibu-ibu, lebam seperti batu, maksudnya loncat eh cuma tangannya doang yang terangkat hehehe…

  4. Aku selalu gagal berfoto levitasi. Kadang kecepetan motretnya, dan seringnya kecepetan jatuhnya hihihihi.

    Oiya, kok Kuta sepi ya? Kirain bakal banyak bekgron manusia klo foto di sana

    1. Iya Mbak, saya juga perlu banyak usaha untuk bisa berfoto seperti ini :haha.
      Ini Kuta yang satu lagi Mbak, yang di Lombok, yang pasirnya seperti merica itu :hehe.

    1. Iya sih Mbak, itu pada akhirnya saya mandi keringat banget, mana terik pula matahari di sana :huhu. Tapi tak apalah, yang penting puas fotonya :hihi.

    1. Akhirnya ada yang sadar :haha. Yah memang demikianlah… dan kayaknya saltum itu lama-lama jadi ciri khas saya deh :haha. Terima kasih sudah mampir :)).

  5. Lagi musim ya foto levitasi. Memang gak mudah untuk mendapatkan angle levitasi yang pas perlu kekompakan antara yang objek dan si pemotret serta kecepatan dan ketepatan

    1. Iya, Mbak. Untuk menyiasatinya saya pakai tripod dan remote shutter, lumayan jadi bisa foto bareng juga :hehe. Bebas pula mau foto loncat berkali-kali :)).

  6. Aku banyak banget foto loncat2an tanpa disadari Bli. Biasanya fotonya pake mode burst di henpon. Jadi bisa dipilih mana yang paling kece loncatannya. Soalnya suka ga kontrol muka pas loncat. XD

    1. Saya pun butuh banyak banget percobaan supaya bisa berhasil levitasi Mbak (padahal ini mah baru sekadar lelompatan :haha). Tapi yang penting kita semua berbahagia ya Mbak :hehe.

  7. Kok kaya berat gar loncatnya *eh

    betewe keren gar (PANTAINYA) loncat yang di aer juga dong mecem lumba-lumba… *di darat aja berat yak apalagi di aer ๐Ÿ˜

    1. Aaaaak iya memang ini dilema banget! Badanku berat, tapi aku tetap berusaha untuk bisa melompat lebih tinggi!
      *meski setelahnya kecapekan dan ngos-ngosan, tapi sepadanlah ya :haha*.

  8. Ah, terima kasih banyak Mbak! Tapi betul lho, saya suka salah fokus, ke pantai pakai pakaian tebal tapi ke gunung malah pakai pakaian tipis :hihi. Tapi yang penting kita selalu berbahagia, kan :hihi.

  9. Haha… Ekspresif banget Bli. Bener-bener ngilangin stress kelihatannya. Hal pertama yang akan saya lakukan setiba di Kuta suatu saat nanti, saya akan coba loncat-loncat juga deh.

      1. Saya sangat sedih Bli, lebaran tahun ini saya tidak bisa berkumpul dengan ibu dan adik-adik saya. Ibu dan adik-adik akan berlebaran di Bogor beberapa hari setelah itu mereka berwisata ke Bali. Kali ini saya tidak bisa ikut karena harus menjaga rumah. Kampung sangat sepi banyak yang pergi mudik. Hiks… ๐Ÿ™

        1. Semangat ya Mas :hehe. Kenapa tidak ikut, Mas? Tapi tak apalah, suasana kampung yang sepi pasti seru buat menulis, soalnya tidak ada yang mengganggu :)).

          1. Itulah mengapa saya keranjingan menulis sekarang. Mumpung ada waktunya. Saya tidak bisa ikut dikarenakan pembangunan rumah kami belum selesai tetapi sudah ditempati. Bila ditinggalkan khawatir akan ada pencuri yang masuk ke dalam rumah. Sebab kami belum memasang jendela, masih ditutupi papan dan triplek ala kadarnya.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?