Kumpulan Jejak Sang Gelombang (1)

Tentu kami harus memanfaatkan waktu di pagi yang (amat) sangat cerah ini. Sehingga, ketika mobil kami (tanpa sengaja) membelok di sebuah landmark baru Banda Aceh, tak ada lain yang terpancar dari wajah kami, kecuali senyum terkembang berinci-inci, mata berbinar-binar, dan hasrat melonjak-lonjak kegirangan yang kami tahan kuat-kuat.

IMG_3734

Selamat datang di Museum Tsunami Aceh.

Museum. Tsunami. Aceh.

Dengan semangat, setengah melompat saya turun dari mobil, bahkan tidak menunggu Mas Baliyan memarkir mobil di belakang museum. Perlahan saya mendongakkan kepala, menerka ketinggian bangunan cokelat berdinding lengkung ini. Selama beberapa saat saya menatapnya, pada akhirnya saya terhenyak ketika sekali lagi membaca kata “tsunami”.

Aceh Tsunami Museum: Official Logo.
Aceh Tsunami Museum: Official Logo.

Kami semua terdiam.

Anggaplah begini. Orang berkata, gelombang menghapus jejak. Gelombang menghapus cerita. Gelombang yang sama, menghapus semuanya. Sudah lama saya cuma tersenyum mendengar kata-kata itu, padahal di dalam hati pendapat saya berbeda.

Meskipun saya akui bahwa gelombang ini menghapus baru, menghapus semua kebaruan, sebenarnya gelombang pun meninggalkan jejak. Jejak yang tidak terlihat, untuk kemudian diisi oleh jejak-jejak baru, yang akhirnya, oleh beberapa pengumpul jejak (yang mana saya sepertinya mencoba menjadi salah satunya :hihi), jejak-jejak sang gelombang itu pun terkumpul dalam satu tempat kecil. Tempat ini.

Salam hangat untukmu, teman. Setelah sepuluh tahun, apa kabarmu?

Kami melanjutkan langkah. Tangga-tangga yang menyerupai amfiteater kecil ada di sebelah kiri jalan, agak sedikit di atas. Rombongan anak-anak dari sebuah taman kanak-kanak sedang bersiap di depannya. Anak-anak kecil berbaris, sementara guru mereka menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan dalam bahasa Inggris.

Anak-anak berbaris di depan museum.
Anak-anak berbaris di depan museum.

Super. Ketika saya seumur mereka, saya bahkan belum berpikir bahwa bahasa Inggris itu ada.

Kami menuju pintu masuk sekitar 10m dari tempat saya berdiri tadi. Ceruk tembusan setelahnya menampilkan sebuah helikopter yang saat tsunami menerjang, terparkir di halaman Mapolda Aceh. Bukan replika, melainkan bentuk nyata. Gelombang itu membawanya beberapa ratus meter, menghancurkannya, menjadikannya puing yang sekarang ditampilkan di hadapan kami. Saya mengambil beberapa gambar.

The helicopter.
The helicopter.
Hancur.
Hancur.

Tiket masuk Museum Tsunami Aceh gratis. Dengan catatan, serahkan semua tas dan jaket kepada petugas penitipan barang. Ambil semua barang-barang berharga, silakan bawa kamera, tapi tidak boleh ada tas dan jaket masuk ke dalam museum. Penitipan barang dikenakan biaya Rp10k. Anggap saja biaya penitipan barang itu adalah harga tiket masuk :hehe.

Langkah-langkah pertama kami di museum ini agak basah. Kami menyusuri lorong gelap, berdinding tinggi di kiri kanan kami, hampir-hampir tanpa cahaya kecuali sinar dari puncak bangunan yang kelihatannya amat sangat jauh.

Sebuah awal yang untuk sesaat belum bisa saya mengerti. Suara gemuruh, demikian keras sampai-sampai saya benar-benar merinding. Saya melihat ke atas, sekali lagi, dan yang bisa saya saksikan cuma dinding air yang demikian tinggi. Dinding air yang tinggi dan gelap. Di kiri kanan kami. Di mana-mana dinding air. Telinga ditulikan suara gemuruh air yang seolah-olah akan datang tapi sampai saat ini air itu belum berwujud. Dingin. Gelap. Mengancam. Mengerikan. Menakutkan.

Lalu ide itu pun datang. Beginikah rasa berada di dekat dinding tsunami? Beberapa milisekon sebelum air mahadahsyat itu menghancurkan saya?

Tuhan, saya tak bisa membayangkan kalau saya ada di sana sendiri. Tapi berapa orang yang pada saat kejadian, tetap bisa bersama dengan keluarga mereka?

“Lindungi kameramu, Dik, airnya agak menciprat di sini,” Mbak Din memperingatkan, sekaligus membuyarkan penghayatan pikiran saya.

Mbak, tadi itu penghayatannya lagi lebay-lebaynya bagus-bagusnya, lho. “O-oh, ya.”

Jalan terus menurun sebelum cahaya lampu neon menandakan kami telah selesai dari sensasi itu. Sepertinya kami sekarang ada di basemen museum. Sebuah ruangan bundar di sisi kiri menarik perhatian kami, karena di dinding itu tertempel nama-nama. Banyak nama. Banyak sekali nama.

Sekilas saya melirik nama ruangan yang tertempel di sebelah kirinya. Ruang Sumur Doa, yang dalam bahasa Inggrisnya, Chamber of Blessings.

Inside. The picture's blur because the room is dimly lit.
Inside. The picture’s blur because the room is dimly lit.

Ruangan itu bundar, bercahaya temaram dari beberapa lampu tertempel di dinding. Dengan nama-nama yang rupanya nama-nama korban tsunami. Yang sekarang entah dimakamkan di mana. Begitu banyak namanya. Saya bahkan tak bisa menghitung, tak ada yang saya lakukan selain cuma terdiam selama beberapa saat.

Names. A lot of it.
Names. A lot of it.

Hening menyelimuti kami, karena kami mungkin sedang asyik dengan pikiran kami masing-masing. Mungkin para bapak berpikir, betapa beruntungnya mereka karena nama mereka tidak ada di sini. Atau untuk kami, mungkin kami berpikir betapa banyaknya korban dari bencana itu.

I don't even know whose names are these.
I don’t even know whose names are these.

Cahaya di ruangan itu dominan berasal dari lampu di samping kami, yang makin memberi kesan haru. Sementara itu, sumber cahaya alami masuk dari atas sana. Saya mendongak. Lafaz “Allah” yang terpasang di ujung cerobong ini bersinar sebagai sumber cahaya dari atas sana.

IMG_3738

Aura religius dan haru yang ada di sini membuat darah saya agak berdesir.

Kehidupan dan kematian adalah sesuatu yang secara universal pasti. Kepada Tuhanlah kita akan kembali. Pada sumber dari semua cahaya. Apa yang ada di dunia ini sebenarnya bukan milik kita. Bahkan tubuh dan jiwa ini sendiri. Karena ketika Tuhan memutuskan menyuruh kita pulang, apa yang bisa kita perbuat?

Keheningan semakin menelusup di antara kami, ketika masing-masing kami, tanpa diperintah, memanjatkan doa untuk semua nama yang ada di sini.

“Tuhan, bimbinglah mereka menuju cahaya-Mu, pada tempat terindah yang telah kau siapkan untuk mereka ketika kau memutuskan untuk memanggil mereka kembali. Kami yakin keputusan-Mu adalah yang terbaik, tidak hanya bagi mereka, tetapi juga bagi orang-orang yang ditinggalkan. Karena mereka tidaklah pergi meninggalkan dunia ini, tidaklah pergi meninggalkan keluarga mereka, tidak pergi meninggalkan kami, melainkan pulang, kembali kepada tempatnya yang satu.”

Berada di ruangan itu benar-benar menguras emosi. Berkali-kali tarikan napas dalam sepertinya belum mampu menenangkan kaki-kaki kami yang agak gemetar (sebenarnya kaki saya saja yang gemetar :hehe). Tanpa menunggu lama, segera kami keluar dari ruangan itu untuk menuju lokasi selanjutnya.

Sebuah gambar kubah masjid, hanya kubahnya, yang berada di tengah sawah menarik perhatian kami, sebelum berganti dengan gambar dalam slide lain.

Ruang untuk presentasi. Sebuah ruangan gelap berdinding kaca, tempat layar-layar monitor menampilkan suasana tsunami 10 tahun silam. Seolah citra-citra sepuluh tahun lalu itu terkumpul dan tersaji dalam piksel-piksel warna dengan presentasi slide yang cukup sederhana untuk dinikmati pengunjung. Tentang bagaimana keadaan kota saat gelombang itu menghantam dengan kekuatan tanpa ampun. Tentang puing-puing yang sudah bercampur baur dengan jenazah para korban. Tentang ekspresi campuran tidak percaya, sedih, takut, pasrah, ditambah kengerian yang amat sangat dari wajah pengungsi. Juga, tentang korban bangun-bangunan infrastruktur yang luluh lantak dalam tempo kurang dari satu jam.

Sayang di dalam sana kami tidak diperkenankan untuk mengambil gambar. Sebenarnya sih, di dalam Ruang Sumur Doa juga tidak boleh ambil foto (seingat saya), tapi kami waktu itu sama-sama tidak tahu, alias bandel. Lagi pula, penjaganya waktu itu sedang tidak ada. Hehe.

Keluar dari ruang presentasi, kami menyusuri jalan melengkung, mengitari cerobong, pada cahaya terang yang akhirnya bermuara pada sebuah jembatan yang membentang di atas kolam ikan berair cokelat di tengah-tengah museum. Usut diusut, jembatan itu punya nama, Space of Hope alias Ruangan Harapan. Saya tidak tahu, apa air kolam yang cokelat kemerahan itu alami, atau memang kolam ikan itu belum dibersihkan? :hehe. Padahal ada petugas museum yang sedang memberi makan ikan, lho.

The Space of Hope.
The Space of Hope.

Di situ, barulah kami bisa benar-benar melihat ke seluruh bangunan museum ini. Pusat dari Museum Tsunami Aceh adalah sebuah kolam ikan yang dikelilingi bola-bola batu dan sebuah jembatan yang membentang di atasnya. Kerucut mencerobong di belakang kami adalah Ruang Sumur Doa dan ruang presentasi, sementara ruang-ruang pamer lain berada di sisi dalam elips gedung museum, mengelilingi kolam ikan di pusat ini.

Saya berpikir, mungkin museum ini dibangun dengan konsep eco-museum. Atap museum dibuat transparan dengan bahan yang mungkin metil metakrilat (plexiglass). Untuk menambah estetika dan menambah bayang supaya bagian dalam tidak panas, di sepanjang atap dibuat semacam partisi-partisi yang memberi kesan berbayang. Di atas sana, plakat-plakat kecil tertempel, dengan bendera negara (termasuk organisasi internasional) serta sebuah kata kecil dalam bahasa negara itu.

May peace be upon you.
May peace be upon you.

“Damai”.

Karena bencana tidak harus selalu kita artikan buruk atau menuju keterpurukan, melainkan suatu “blessing in disguise” agar semua bisa bersatu, menuju sebuah damai yang hakiki?

Demikiankah?

Di dalam Sumur Doa. Courtesy: Mbak Din.
Di dalam Sumur Doa. Courtesy: Mbak Din.

45 thoughts on “Kumpulan Jejak Sang Gelombang (1)

  1. Aku belum pernah ke aceh 🙁
    Ini masuk list, meskipun sejujurnya daku ngak begitu suka ke museum #OrangnyaCepetMoveOn tapi ke museum tsunami ini kayak nya wajib biar kita bisa merenungkan apa yg terjadi dan hidup lebih baik makin dekat dengan Tuhan

  2. Bagus sekali, Gara… luarbiasa merangkai kata mengekspresikan emosi, mata jadi basah…
    saya salah satu orang yang tidak (belum) bisa ke Banda Aceh, karena tidak (belum) mau kesana, rasa sakit/derita itu rasanya masih ada karena mereka bagian dari kita juga.. kapok rasanya mengunjungi museum yang berbau kematian dan penderitaan (the killing field Choeung Ek & Tuol Sleng di Kamboja) yang bikin hati collapsed. Jadi baca postingan yang bagus ini makin bikin ga mau ke sana hehehe…

    1. Aduh, saya malah kepingin sekali ke Tuol Sleng di Kamboja itu Mbak, Khmer Merah bukan ya? :hehe

      Terima kasih banyak, Mbak. Memang, berada di Aceh semacam sensasi tersendiri, antara terharu, tidak percaya, tapi juga bahagia melihat mereka bangkit :))

      1. Kalau ada keleluasaan, bagus kalo mau ke Tuol Sleng dan disambung ke Choeung Ek. Tuol Sleng penjaranya, Choeung Ek ladang pembantaiannya. Keduanya pembelajaran humanity bahwa genocide by Khmer Rouge itu pernah terjadi di abad20.

    1. Antara gelap, terus sayanya terlalu bengong, sama kamera yang saya tutupi biar tidak kebasahan, Mas :huhu.
      Tapi saya akui sensasinya memang jos banget di situ, Mas :hehe.

  3. Salah satu karya Ridwan Kamil yang keren.
    Masuk ke museum ini benar2 mengaduk emosi, apalagi pas di bagian yang atapnya ada tulisan Allah itu.
    Tapi mungkin memang benar, ada “berkah di balik bencana”, beberapa orang Aceh yang saya temui bahkan bilang seperti ini, “mungkin kalau tidak ada tsunami, Aceh belum damai.”

    1. Setuju, Mbak. Para bapak juga bilang seperti itu. Bencana yang membawa damai di bumi Rencong. Mungkin gelombang itu bukan penghancur, tapi pembawa penghidupan dan kedamaian 🙂
      Haduh, betapa hebatnya rencana dan rahasia Tuhan!

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?