Kelinci Bulan: Cerita Pembangunan Candi

Saya terdiam. Memastikan apakah binatang bertelinga panjang yang sedang menatap saya dengan jenaka itu betulan relief–bukan susunan bata yang aus. Saya setengah berharap itu cuma batu bata yang aus, bukan relief. Atau kalau itu memang relief, pokoknya jangan kelinci bulan, karena saya tidak berharap menemukan kelinci bulan di sini.

Saya memang tidak menemukan kelinci bulan di candi yang menurut buku itu ada kelinci bulannya. Namun saya sudah terlanjur beranggapan bahwa (1) saya salah tempat, atau (2) relief kelinci bulan itu sudah tidak ada di candi itu ketika saya berkunjung ke sana (meski ini juga sedikit aneh karena buku itu ditulis 2016), sehingga ketika saya menemukan relief (yang saya duga) kelinci bulan di tempat ini, tentu penjelasan yang ada dalam buku itu akan menjadi janggal.

Tapi tonjolan yang ada di sana benar-benar menunjukkan sepasang telinga panjang!

Saya meng-zoom lensa kamera lekat-lekat, tak peduli dengan buku yang terjatuh. Foto pertama yang saya ambil langsung membuat saya tak bisa bernapas saking kagetnya. Bukan karena dugaan saya salah, tapi justru karena itu ternyatabukan sekadar bata yang aus, melainkan relief yang memang disengaja ada di sana.

candi-pari-03
Sudah lihat kelinci bulannya?

Dan telinga panjang tak bisa menipu… jadi apakah buku itu, maaf, keliru?

Kelinci Bulan: Klimaks Kontradiksi

kelinci-bulan-candi-pari-modif
Perhatikan relief yang berada di dalam lingkaran merah…

Kontradiksi dalam buku yang saya jadikan referensi dalam menjelajahi candi-candi di Kabupaten Sidoarjo, Mojokerto, dan Pasuruan sebenarnya sudah muncul dari hari pertama, ketika saya menjejaki Candi Jawi (Jajawi dalam Desawarnana) di Kecamatan Prigen, Pasuruan. Dalam buku itu, Keistimewaan Candi-Candi Zaman Majapahit, bertulislah keistimewaan Candi Jawi di halaman 47, poin 4:

4. Batu sungkup candi dihias dengan pahatan hare (kelinci-bulan) dalam lingkaran matahari yang bersinar.

Tapi saya tidak menemukan kelinci bulan di batu sungkup (batu kemuncak pengunci bagian dasar atap yang akan tampak ketika kita mendongak di dalam candi), karena alih-alih kelinci bulan, saya menemukan relief seseorang sedang menunggang kuda dalam relief padma yang keunikannya mirip benar dengan Surya Majapahit:

batu-cungkup-candi-jawi
Relief pada batu cungkup Candi Jawi. Bukan seperti yang saya harapkan.

Kontradiksi dimulai karena dalam buku itu Prof. Munandar bukannya tidak menjelaskan keberadaan relief penunggang kuda. Ada relief penunggang kuda yang terdapat dalam batu sungkup sebuah candi dijelaskan di sana, tapi candi ituย bukan Candi Jawi,ย melainkan sebuah candi lain yang ada di daerah administrasi Kabupaten Mojokerto.

Candi itu bukan pula Candi Pari, kalau saya boleh berkata, karena selain Candi Pari terletak di Kabupaten Sidoarjo, batu sungkup Candi Pari dibuat dalam sistem sambungan, seperti Candi Sewu atau Candi Prambanan. (Ketahuan deh kalau saya masuk candi sukanya dangak-dangak :hehe).

Ketika itu, saya menganggap kalau mungkin saya salah candi. Atau mungkin saja, pada proses rekonstruksi Candi Jawi, batu sungkup candi diganti karena alasan yang saya tak tahu apa. Penjelasannya bisa banyak. (Kalau saya boleh memberi kisikan, sebenarnya ada beberapa kontradiksi lagi, tapi sepertinya itu akan saya jelaskan kalau tulisan sudah sampai ke Candi Jawi :hehe).

Tapi kenapa saya malah menemukan relief kelinci bulan di Candi Pari, bagi saya masih merupakan sebuah misteri, mengingat dalam penjelasan soal Candi Pari, sama sekali tidak ada penjelasan soal adanya relief yang unik (atau ketiadaan relief yang sebenarnya bagi saya sebuah keunikan mengingat khazanah candi Nusantara biasanya boros relief). Sebetulnya, bukankah relief kelinci sebenarnya adalah relief yang unik karena jarang ada di candi-candi Indonesia?

Apakah buku itu kurang akurat dalam menjelaskan fakta? Ataukah dalam proses penyusunan, ada beberapa lembar penjelasan yang tertukar (mengingat dalam poin-poin di halaman 34 itu tidak ada nama candi secara eksplisit) sehingga memungkinkan terjadinya ketelingsut lembar, lembar yang semestinya berisi penjelasan keunikan Candi A jadi terselip di penjelasan soal Candi B?

Apa pun alasannya, saya menganggap bahwa kontradiksi dalam sebuah buku adalah hal yang sangat manusiawi. Lagi pula, masih ada satu candi yang menjadi pihak dalam segitiga kontradiksi itu (total ada 3 candi yang keterangannya menurut saya saling berbeda), dan sayang sekali candi ketiga itu belum saya kunjungi sehingga saya belum bisa memberi kesimpulan apakah kontradiksi itu memang nyata adanya.

candi-pari-03
Candi Pari. Jangan keliru ya :)).

Alamat mesti ke Sidoarjo lagi nih. Nggak apa-apa sih, soalnya saya belum ke Jolotundo juga. Mungkin ada yang mau mensponsori?

Siapa Kau, Kelinci Bulan?

Dan siapakah sebenarnya kelinci bulan ini?

kelinci-bulan-candi-pari
Perkenalkan, sepasang kelinci bulan di atas pintu.

Saya menelepon teman saya di Batu yang sudah sering saya ajak ke beberapa candi. Curio namanya. Pembaca budiman pasti sudah kenal :haha ditimpuk. Ketika saya menyerukan soal kelinci bulan di candi (beserta bualan soal kontradiksinya, tentu), suaranya terdengar tertarik dan ia berkata dengan semangat,

“Wah, Tsukino Usagi? Kelinci bulan, waah…”

“Bukan, bukan Sailor Moon!” tukas saya. “Kelinci bulan!”

“Memang bukan Sailor Moon, karena ini bukan Tsukino Usagi! Tapi tsuki no usagi–kelinci bulan! Itu lho, aku pernah baca di komik kalau legenda di Jepang itu ada kelinci tinggal di bulan dan bisa dilihat jika bulan purnama…”

Tak butuh waktu lama bagi saya untuk menyudahi percakapan dan mencoba riset di dunia maya. Dengan mudah, artikel Wikipedia bahasa Inggris bertajuk Moon Rabbit saya temukan dan saya pikir, penjelasan di sana sudah cukup jelas, dari fabel Buddha soal kelinci Bulan (Sasa Jataka, No. 316) sampai persebarannya di Tiongkok dan Jepang seiring dengan perjalanan agama Buddha. Termasuk soal Tsukino Usagi, si Sailor Moon, yang namanya ternyataย memangย berasal dari legenda kelinci bulan ini.

pelipit-kanan-atas-candi-pari
Bentukan sederhana di pelipit Candi Pari. Temukanlah kelinci bulannya!

Fakta bahwa candi ini mendapat banyak pengaruh dari Champa juga akhirnya dikonfirmasi dengan kehadiran relief kelinci bulan ini. Menurut saya, Champa mendapatkan citarasa legenda kelinci bulan dari Vietnam Utara, yang sebagaimana dituliskan Coedes dalam kroniknya, sudah sering berusaha untuk menduduki daerah Champa sejak beberapa abad sebelumnya.

Paling tidak, jika kekuasaan tidak bisa masuk ke Champa, asimilasi budayanya tentu sudah terjadi. Bagaimanapun, mereka adalah negara tetangga.

Sebagaimana diketahui, secara geografis Vietnam Utara lebih dekat dengan Tiongkok, dan dalam perjalanan sejarahnya, Vietnam Utara memiliki hubungan baik dengan Tiongkok, dan kebudayannya pun pada akhirnya lebih banyak dipengaruhi negara tirai bambu, ketimbang India yang lebih banyak memengaruhi kebudayaan Semenanjung Indocina bagian selatan (Angkor/Kamboja, Vietnam Tengah dan Selatan (Champa)) dan Nusantara.

Namun demikian, jika pun demikian benar halnya bahwa legenda kelinci bulan memang sampai ke Champa sebagai imbas dari percobaan pendudukan Vietnam Utara yang banyak mendapat pengaruh dari Tiongkok, hal tersebut tetap tidak menjawab pertanyaan terbesar soal Candi Pari: kenapa dan bagaimana candi ini bisa berada di Sidoarjo?

candi-pari-1
Candi Pari, Porong, Kabupaten Sidoarjo. Melebar tanpa relung? Hmm…

Seberapa kuatkah hubungan antara Jawa dan Champa, juga dengan Vietnam Utara dan Tiongkok, sampai-sampai ada sebuah candi megah yang dibangun dengan gaya yang sangat kentara berbeda dengan kebudayaan lokal di masa itu?

Mungkin sebongkah batu andesit yang kini menjadi ambang atas pintu candi bisa memberi kita sedikit petunjuk…

Sedikit Andesit di Candi Banon: Tahun Pembangunan

Dari seluruh bongkahan batu-batu bata di Candi Pari, hanya ada satu bongkahan andesit di sana. Letaknya cukup strategis, berada di ambang atas pintu masuk. Tentu saja harus strategis, karena di batu satu inilah, kronologi Candi Pari bisa ditetapkan dengan pasti: batu andesit ini memuat tahun pembangunan candi.

tahun-pembangunan-candi-pari
Bongkahan andesit di ambang atas: tahun pembangunan.

Sesuai dengan sumber yang saya bawa, tahun pembangunan candi itu, berurut dari kiri ke kanan, adalah 1-2-9-3, atau 1293 Saka alias tahun 1371 M. Bagi teman-teman yang kurang jelas melihat angka tahunnya, saya menyalinnya kembali dalam secarik kertas agar lebih jelas.

rekonstruksi-tahun-pembangunan-candi
Tahun pembangunan: Icaka Warsa 1293, atau 1371 M. Abaikan kesalahan tulisnya :malu

Di tahun itu, Jawa sedang berada di dalam kekuasaan Majapahit dengan rajanya Sri Rajasanagara alias Hayam Wuruk, yang oleh Kakawin Desawarnana dikatakan bahwa pada masa pemerintahan raja yang satu inilah Majapahit mencapai masa jaya. Artinya, untuk sekarang kita bisalah mengesampingkan kemungkinan bahwa Majapahit sedang dikuasai oleh kerajaan lain, apalagi kerajaan dari luar negeri. Jadi candi ini bukanlah bentuk ekspansi asing.

Tahun pembangunan ini (1371 M) menurut saya sangat penting, karena menggambarkan bagaimana kondisi kerajaan di masa itu sehingga kebudayaan luar bisa masuk. George Coedes menggambarkan bagaimana kondisi Majapahit pada saat itu dari sisi seorang pengamat luar yang objektif.

Menurutnya, memang ada hubungan antara Sri Rajasanagara dengan Tiongkok, yang terbukti dengan pengiriman beberapa utusan ke Tiongkok antara tahun 1370 sampai dengan tahun 1381 M dengan adanya beberapa utusan dari Raja Pa-ta-na-pa-na-wu (Bhatara Prabhu).

Selain itu, Kakawin Desawarnana menyebutkan negara-negara tetangga yang menjalin hubungan baik (mitreka satata) dengan Majapahit, yakni Syangkayodhyapura (Siam Ayutthaya), Dharmanagari (Nakhon Si Thammarat, Ligor), Marutma (Martaban), Rajapura (?), Singhanagari (?), Champa, Kamboja, dan Yavana (Vietnam Utara).

Untuk konteks abad 13 dan 14, hubungan antara Jawa dan Champa memang sudah sangat erat. Jaya Simhawarman III, raja Champa yang naik tahta sekitar dekade terakhir abad ke-13, mengambil seorang putri Jawa (Tapasi) sebagai istri dan menjadikannya ratu. Selain itu, ketika pada 1318 penguasa vasal Champa (pada 1313 sampai 1326 Champa menjadi bawahan Dai Viet) bernama Che Nang (nama menurut babad-babad Vietnam) tak berhasil mencoba merebut kembali Champa dari kekuasaan Dai Viet, ia melarikan diri dari gempuran Vietnam Utara ke laut selatan.

Ke Pulau Jawa.

Pembangunan candi bergaya Champa di paruh terakhir abad ke-14 menurut saya dapat pula dilihat sebagai sebuah prestasi Majapahit menempatkan dirinya sebagai sebuah negara yang aman dan (terlihat) besar dalam kancah hubungan internasional pada masanya.

miniatur-candi-pari
Satu lagi bentukan di dinding yang saya duga sebagai miniatur candi.

Bagaimana tidak, pada paruh terakhir abad 14, Champa mulai jatuh ke keadaan yang amburadul akibat tekanan Vietnam Utara dan Tiongkok. Tak kurang sejak 1312, ada pemberontakan yang terus-menerus terjadi di provinsi Champa yang terletak di sebelah utara Col Des Nuages, yang diberikan sebagai ganti saudara perempuan Dai Viet yang dinikahi raja Champa.Pemberontakan demi pemberontakan tersebut, dan perang demi perang yang terjadi setelahnya, merusak hubungan dengan Vietnam Utara (yang sudah susah payah dibangun Jaya Simhawarman III) dan kerajaan-kerajaan sekitar Champa.

Di sana, Majapahit memainkan perannya sebagai negeri-yang-baik-pada-semua-orang, dengan mendirikan sebuah monumen sebagai pertanda bahwa kebudayaan Champa pernah ada.

Memang belum ada hipotesis yang pasti dari para sejarawan soal monumen pemujaan ini, tapi saya sempat berpikir bahwa candi ini dibangun sebagai antisipasi seorang pangeran Champa yang ada di Jawa, agar seandainya kebudayaan Champa di Vietnam sana musnah, ada tonggak di negeri selatan yang jauh, negeri selatan yang kuat, aman, tenteram dan damai, (Jawa) bahwa Champa pernah ada dan berdiri…

Dan dugaan si pangeran itu agaknya benar, saya tidak berniat melucu tapi memang demikianlah adanya, karena akhirnya, tepat 100 tahun setelah pembangunan Candi Pari, tepatnya pada tahun 1471 M, Vijaya sebagai ibukota Champa yang masih mencoba berdenyut, musnah dan habis dikuasai oleh Vietnam Utara. Dengan jatuhnya Vijaya, berakhirlah kerajaan Champa, membawa serta seluruh kebudayaannya, juga sejarah panjangnya yang membentang dari akhir abad ke-2 M, untuk selama-lamanya.

Sehingga apabila saya boleh berbangga, bisa jadi Candi Pari adalah peninggalan pertama, satu-satunya, sekaligus yang terakhir atas kebudayaan Champa di luar Vietnam selatan…

Epilog: Sindiran Untuk Majapahit

(Segmen ini sebenarnya muncul setelah saya membaca postingan Mas Halim Santoso bertajuk Candi-Candi Majapahit di Situs Trowulan. Terima kasih Mas Halim, atas idenya!)

Majapahit berhasil menunjukkan dirinya sebagai sebuah negara besar dengan banyak sahabat. Bahkan Champa, Vietnam, Angkor, dan Tiongkok, menjadi negara sahabat bagi Majapahit. Hubungan diplomatik dilakukan dengan pengiriman duta. Untuk mempererat hubungan dengan lokus-lokus Hindu di Indocina, pernikahan diselenggarakan, monumen didirikan. Betapa besarnya negara maritim di selatan khatulistiwa ini, sampai-sampai gaungnya bergema hingga ke beratus-ratus tahun kemudian.

Tapi benarkah demikian?

Sayangnya suara sumbang muncul di Kronik Dinasti Ming, yang disarikan dalam buku Coedes, namun tentu saja tidak disebutkan dalam SNI 2.

Kronik itu menyatakan bahwa pada tahun sekitar 1377 sampai 1379, ada dua raja di Pulau Jawa, yang satu bertahta di barat, bernama Wu-lao-po-wu (Bhatara Prabhu), dan yang satu lagi bernama Wu-yuan-lao-wang-chieh, menurut Coedes adalah Wijayarajasa (Bhre Wengker), cucu Kertharajasa Jayawardhana, tak lain adalah paman Hayam Wuruk.

Desawarnana menyatakan bahwa Bhre Wengker menjadi “pembantu raja” di pusat. Namun uniknya, dalam kronik itu, bersamaan dengan prasasti di Bali pada tahun 1384–1386, nama raja yang disebut bukanlah Hayam Wuruk (raja ini meninggal tahun 1389), melainkan Wijayarajasa.

Untuk beberapa saat saya mencoba berpikir-pikir. Selama ini, kita hanya mengenal sejarah kebesaran Majapahit dari kitab yang disusun oleh Majapahit sendiri: Desawarnana, tanpa pernah menguji keabsahannya dengan kronik-kronik yang disusun oleh sejarawan dari luar.

Bukan berarti saya mencoba mempertanyakan Desawarnana sebagai sebuah sumber sejarah, tapi bukankah tidak mungkin, kalau apa yang ditulis di sana (sangat) mungkin (sedikit) dibesar-besarkan?

Maka sebagaimana yang ditulis Coedes:

Jika keterangan-keterangan yang diberikan oleh Sejarah Dinasti Ming betul berasal dari tahun 1377–1379 M, maka dapat disimpulkan bahwa pembagian kerajaan menjadi dua bagian, yang bakal mempunyai akibat-akibat yang sangat nahas untuk pemerintahan berikutnya, terjadi pada masa pemerintahan Rajasanagara yang agaknya menyerahkan kepada pamannya pemerintahan atas sebagian negeri-negerinya.

Seandainya hal-hal itu benar, maka pembangunan Candi Pari sebagai bukti betapa besarnya Majapahit di mata internasional tak lebih dari sekadar kedok, karena di dalam tubuhnya, Majapahit sudah menebar benih-benih perpecahan yang nantinya harus dibayar dengan sirna dan hilangnya dunia (sirna ilang kertaning bumi). Majapahit tak sebesar yang kita pikir, kerajaan ini bisa jadi tidak semegah apa yang kita bayangkan sebelumnya.

Maka keraguan yang disampaikan Mas Halim dalam postingannya adalah sangat beralasan…

Tapi bagaimana kalau sekarang kita masuk ke candi dengan kelinci bulan itu?


Referensi:
1. Coedes.George. 2015. Asia Tenggara Masa Hindu Buddha. Jakarta: EFEO dan Kepustakaan Populer Gramedia.
2. Munandar, Agus Aris. 2015. Keistimewaan Candi-Candi Zaman Majapahit. Depok: Wedatama Widya Sastra.


Serial Candi Pari yang lain:
Candi Pari: Yakin Mau Ke Sana?
Candi Pari: Tampak Luar dan Spesifikasi Teknis
Citarasa Champa di Candi Pari

49 thoughts on “Kelinci Bulan: Cerita Pembangunan Candi

    1. Waduh saya masih harus banyak belajar nih Mas, belum pantas untuk menerbitkan buku… lewat postingan dulu saja :hehe. Terima kasih atas apresiasinya :)).

  1. Setelah dari My Son, saya jalan ke Utara, ke Hue (sekitar 200km di utara My Son) dan memang rasanya benar-benar blasss hilang pengaruh Indianya dan kuat sekali pengaruh Tiongkoknya. Bekas-bekas peninggalannya kan masih ada di Nha Trang dan Phan Rang yang sudah masuk kawasan Vietnam Selatan modern.

    1. Itu di sebelah utara Col Des Nuages apa masih di sebelah selatannya Mbak? *blas belum buka peta Vietnam*. Syukurlah ya… jadi kesimpulan saya ada (sedikit) betulnya juga :hihi. Terima kasih atas konfirmasinya Mbak.
      ps. Phan Rang itu kota tua banget ya…

      1. Hue itu di utara dari col des nuages (kalo skrg dikenal dg Hai Van Pass or pass of the clouds) kayak puncak gitu Gara… dan memang kalo mau ke Hue dr My son/da nang/hoi an pasti lewat situ.
        Memang Gara, sepanjang pesisir Vietnam itu kota2nya tua2 banget, ga cuma phan rang…
        BTW aku kaget2 nih baca kelinci bulan. Sampe ngezoom fotomu. Hahaha…

        1. Berarti Hue itu kayaknya provinsi yang diberikan Champa kepada Dai Viet sebagai ganti saudara Dai Viet yang dinikahi raja Champa, ya Mbak… hmm…
          Saya waktu ketemu pertama dengan si kelinci juga kaget Mbak :hihi.

  2. Yeayyy..ketemu kelinci bulannya… Dan ternyata tak hanya sekedar relief kelinci yaa…ada banyak cerita di balik kelinci itu… Walaupun rumit (nama tokoh2nya susah diingat..hehehe), tapi terima kasih banyak Kak… hal2 begini ngga pernah dipelajari pas sekolah dulu…
    Dan…Curio… beliau teman Kak Gara?
    Wow…beliau pernah muncul juga di blogku….

    1. Soal kelinci bulan bisa dibaca di link Jataka itu yah… bakal tambah panjang soalnya kalau saya terjemahkan lagi :hehe.
      Iyo, teman saya itu… :hehe.
      Oooow. Dia memang suka membaca dan hinggap di sana-sini. Haha.
      Sama-sama, ya. Senang rasanya tulisan ini bisa sedikit berguna.

      1. Ah iya…aku baru ingat… betul Kelinci itu ada di Jataka… nanti kalau sudah di rumah aku cari komiknya…
        Wah…ini mah berguna sekali kak… bukan hanya sedikit berguna…

  3. Sepertinya memang perlu ada riset lanjutan untuk membuktikan hipotesa tentang candi pari dan kelinci bulan yang melekat, dengan petunjuk lain berupa tahun pembuatan yang tertera pada batu andesit pada pintu candi.

    Sudah lama saya meragukan kebesaran Majapahit, karena selama ini hanya dugaan-dugaan yang muncul. Terlebih national geographic indonesia pernah mengulas tentang majapahit dan sejarawan yang menjadi narasumber juga menyampaikan keraguannya.

    Ngomong-ngomong, suka banget uraian tulisan ini yang lengkap, sekaligus menggelitik rasa penasaran. Good job mas! ๐Ÿ™‚

    1. Betul. Kelinci bulan itu menurut saya sangat unik karena jarang saya temukan di candi-candi Indonesia. Terlebih lagi, letak kelinci bulan itu sepasang–di kiri dan kanan, bukan di ambang tangga, atau di tengah sebagai pusat. Terus ukurannya kecil banget :huhu.
      Ya… selama ini kita mendengar kisah kebesaran Majapahit dari Majapahit sendiri… ibarat kata Mas mendengar cerita tentang kehebatan dan sepak terjang saya dari saya sendiri… tentunya ada sedikit pertanyaan (kebanyakan baca novel detektif :haha).
      Terima kasih banyak atas apresiasinya, Mas. Di postingan selanjutnya saya akan masuk ke dalam candi dan kaget-kaget lagi :hihi :peace.

      1. Hehehe, iya bener Mas, harus memperbanyak sudut pandang supaya terklarifikasi Mas. Mas Gara ini mah cocok udah jadi detektif sejarah ๐Ÿ˜€

        Hahaha, ayolah moga-moga keturutan tur candi bareng panjenengan ๐Ÿ™‚

        1. Hihi, terima kasih ya Mas. Iya nih, pengen jalan-jalan telusur candi yang ada di gunung… (Gunung Arjuno terutama). Haha. Tapi kapan yaa.

  4. Thank u namaku disebut di sini, Gar. Hihihi. Ada satu keraguan lagi yang kemarin mendadak terlintas di pikiran. Kalau Majapahit berdiri di pesisir, saya percaya mereka menghasilkan pelaut handal yang terlatih dan mampu mengarungi lautan demi lautan dan menaklukkan perairan Asia Tenggara dan Asia Timur. Tapi letak kerajaannya selama ini diceritakan di tengah pulau Jawa. Lalu dari mana mereka mendapatkan pelaut hebat yang mampu mengarungi lautan selama berbulan-bulan? Berkerja sama dengan Suku Bugis atau Bajo kah? Trus jadi penasaran pernah ada tulisan dengan cerita Gajah Mada mabuk laut nggak ya? ๐Ÿ˜›

    Duh sampe artikel ini masih belum masuk ke bilik Candi Pari… Buruan cerita ada apa sebenarnya di dalam candi dengan tsuki no usagi itu, Gar. Hahahaha.

    1. Menurut saya banyak kemungkinan Mas. Pelabuhan Majapahit tersebar di Ujunggaluh, Tuban, dan Gresik dan pelabuhan itu sangat besar pada zamannya. Sejarah panjangnya Majapahit juga kalau saya nggak salah banyak campuran dengan bangsa pelaut–Sriwijaya, Mongol, dan mungkin suku-suku di Sulawesi sehingga tentara untuk menjadi pelaut bisa diperkirakan ada. Terus ada relief di Borobudur juga, situs kapal zaman Majapahit, menurut saya itu bisa jadi bukti bahwa di manapun orang Indonesia berada, kita bisa menjadi pelaut yang andal :)).

      Iya nih pengen ngetik :haha, cuma lagi tepar karena kondisi drop :wkwk. Mudah-mudahan segera bisa diketik :amin.

  5. Jadi ada beberapa yang tidak cocok antara yang ditulis di buku dengan di lapangan ya, Gara? Terus aku mencari-cari si kelinci. Sekalipun sudah memandang nanap-nanap gambar yang dilingkari spidol merah, kok belum berasa kelinci ya..Hehehe..Buta gambar jangan-jangan aku

    1. Kalau yang dilingkari spidol merah itu memang jauh sehingga jadi kecil Mbak… tapi di foto-foto lain, meskipun tidak jadi pusat foto (karena kebanyakan diambil tak sengaja), kelincinya tampak dengan cukup jelas :)).

  6. Wah sekarang saya jadi ragu2 berkaitan dengan kejayaan majapahit. Ada juga sebab lainnya. Konon daerah mojokerto adalah pusat pemerintahan majapahit. Tapi hingga sekarang belum juga ditemukan hal-hal l”uar biasa” di mojokerto. Guru saya pernah cerita panjang lebar soal majapahit waktu SD. Apa iya ya apa yang ditulis tidak semegah kenyataannya?

    1. Masih banyak yang belum kita ketahui soal Majapahit Mas, karenanya perlu banyak riset dan telaah lebih lanjut… keyakinan saya sih Majapahit adalah kerajaan yang besar… tapi ya nggak besar-besar banget :haha.
      Iya, di Mojokerto belum ditemukan candi sebesar Prambanan, ya?

  7. detiiil banget! sampe ukiran2 kelinci bulannya dicari..
    hhmm.. itu sailormoon yg dengan kekuatan bulan akan menghukummu, kan? emg ada kaitannya dg kelinci bulan?

    kapan tuh ke sidoarjo nya? deket dari surabaya ๐Ÿ˜€
    coba ke mojokerto dan singosari, banyak situs candi2 yg hampir punah dan mmg blm disentuh oleh pemerintah ๐Ÿ˜€

    1. Iya, dengan kekuatan bulan akan menghukummu :haha.
      Nama aslinya Sailor Moon kan Tsukino Usagi, itu sebenarnya dari tsuki no usagi yang artinya kelinci bulan :)).
      Sudah sebulan yang lalu kalau nggak salah :haha, cuma memang baru sempat ditulis sekarang. Oh ya, saya juga sebenarnya sudah ke Mojokerto dan Singosari :hihi, cuma belum sempat ditulis :hehe. Terima kasih sudah mampir!

  8. aduuuh Gara ini makin bikin aku nyesel2 deh nggak berlama2 di Candi Pari..
    baca dulu semua kesimpulan lengkapmu baru balik ke sana dan mengamatinya lama2 ya..

    iya ya .kelinci itu kan nggak biasa banget ada di candi..,
    terus batu andesitnya itu dapat dari mana..? dari Jawa Tengah..? kok bisa beda sendiri..

    1. Boleh Mbak… saya pun ingin kembali ke sana lagi, rasa-rasanya eksterior candi belum lengkap saya abadikan dalam gambar.
      Nah, saya kurang tahu dapat dari mana Mbak, batu andesitnya. Boleh jadi dibawa dari daerah lain… bersamaan dengan kepingan andesit lain yang ada di dalam candi :)).

    1. Menurut saya, tanpa mengecilkan arti Sumpah Palapa, sumpah tetaplah sumpah, dan siapa saja bisa mengucapkan sumpah. Tapi soal apakah sumpah itu pada akhirnya benar terlaksana atau tidak, itu menurut saya masih mesti dibuktikan lebih lanjut :)). Sejauh ini yang dapat saya akui terkait Sumpah Palapa itu memang pernah coba dijalankan baru penaklukan Parahyangan dan Bali, sisanya belum :hehe.

  9. makasih untuk detailnya mas, beruntung baca dulu tulisannya tentang Candi Pari sebelum ke sana…
    jadi mikir tentang sejarah yang saya baca tentang kejayaan Majapahit dan yang lainnya…

    1. Sama-sama Mbak :hehe.
      Saya pun banyak berpikir soal ini Mbak… tapi bagaimanapun semoga di masa depan sejarah soal Majapahit bisa diluruskan, kalau memang ada yang keliru :hehe.

  10. Warbiyasak,,, aku klo ke candi-candi kadang gak ngeh dengan reliefnya,,, ngeh pun yang lambang2 yang sudah umum. Moon rabbit pun baru tahu ada di relief candi, setahu saya menyimbolkan derma dan kemurahan hati. Di komik2 doraemon bbrp kali muncul mitos kelinci bulan yang sedang bikin kue mochi ehehe, dan di bulan juga ada putri kaguya. He em Usagi itu artinya kelinci ๐Ÿ˜€

    1. Kelinci memang lucu ya Mas… hati jadi tenang kalau ada kelinci *halah ini apa*. Iya, ada Putri Kaguya, itu yang di dalam bambu kan, kalau saya tak salah? Mirip-mirip Timun Mas bukan sih ceritanya?

  11. kayak baca ulasan konspirasi dech Gara, dan jadi mikir lagi masa sich sejarah bisa salah gitu sich dan kalau ternyata kenyataan kerajaan majapahit nga sebesar dan semegah yang diceritakan. hiksss..

  12. Salam kenal mas..
    Beberapa ahri allu sempat kenal dengan blogger suka mengulas tentang budaya, candi dll, sekarang nggak sengaja baca di blog ini dan mengulas tema yang sama. Kayaknya kudu baca satu persatu biar lebih paham mengenai candi, dll ๐Ÿ˜€

    1. Halo Mas salam kenal kembali… mau dong mas dikenalin dengan blogger yang juga bahas budaya dan candi :hehe, siapa tahu bisa jadi teman diskusi. Selamat membaca ya, semoga tulisan di sini bermanfaat :)).

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?