Ke Timur Kita Bertualang: Tanjung Aan

Ada yang pingsan di pantai!
Ada yang pingsan di pantai!

Kami hampir saja lupa dengan jam yang berdetak dan matahari yang kian meninggi kalau saja sinarnya yang semakin gahar menyengat kulit saya yang tak bertabir surya tidak membuat saya melihat jam dan sadar beberapa menit telah lepas dari pukul setengah sepuluh. Oh Tuhan, mungkin saya terlalu asyik berleloncatan di atas pasir merica Kuta seperti tupai kegemukan, tak sadar kalau napas ini sudah terengah-engah di penghujung lidah dan waktu berjalan seolah terbang.

Agak bingung mau ke mana, kami menentukan pergerakan selanjutnya dengan sekeping koin. Angka berarti barat, gambar berarti timur, dan hasilnya seperti judul tulisan ini: ke timur kita bertualang. Tujuan pun sudah kami sama-sama mengerti bak konsensus: Pantai Tanjung Aan. Sebuah pantai di pelosok bukit selatan Lombok yang, secara jarak, tidak begitu jauh, menurut Google Maps.

Pantainya seperti ini.
Pantainya seperti ini.

Saya sangat bersyukur motor masih saya temukan dalam keadaan utuh, meski sempat juga diri ini menggerutu lantaran kenapa pasir di pantai itu demikian panas (seperti saya mengeluh kenapa air laut itu asin) :hehe. Okelah, mengabaikan semua itu, intinya kami sudah tidak sabar, jadi saya bahkan belum sempat menyampirkan ransel di bagian depan tubuh ini dengan benar, tapi tangan saya sudah keburu memutar gas.

Off we go…

Tadi saya bilang bahwa secara jarak, Tanjung Aan memang tidak jauh. Secara jarak, ya. Tapi secara jalan… gila, itu jalan kok ya rusak banget! Sisa-sisa hujan semalam membuat mana jalan mulus dan mana jalan berlubang tampak samar, semua sama, tergenang air. Saya hampir saja takut lensa kamera itu mencelat keluar dari tas yang ternyata belum tertutup ketika guncang-guncangan besar saya lewati pada jalan yang pada awalnya saya kira mulus.

Demi panorama seperti ini, apa pun dilalui.
Demi panorama seperti ini, apa pun dilalui.

Kalau sampai jatuh kan rusak semua acara jalan-jalan ini.

Belum lagi ciprat-cipratan air dari motor-motor wisatawan asing yang agak mengebut ketika melewati genangan, wisatawan yang sepertinya sangat tidak sabar untuk bisa menyambangi Tanjung Aan, benar-benar mewarnai suasana. Maksud saya mewarnai celana jeans saya yang baru dicuci.

Salah sendiri kenapa ke pantai pakai jeans!

Melihat semangatnya turis asing itu, saya sempat berpikir, meskipun pihak penguasa daerah sini tidak terlalu peduli dengan akses, karena seburuk apa pun aksesnya, orang rela melakukan apa pun supaya bisa sampai ke pantai ini. Bahkan mungkin kalau untuk masuk ke Tanjung Aan harus melalui labirin yang dijaga Sphinx dengan tiga teka-teki seperti di buku Harry Potter and the Goblet of Fire, orang-orang akan rela melewatinya.

Kalau saya? Er… buku panduan labirinnya ada nggak, nih? :hihi. Yang paling penting, sepadan tidak dengan keindahan yang akan didapat?

Hei, hei, ho! *apasih*
Hei, hei, ho! *apasih*

Guncangan terakhir menyadarkan saya dari lamunan. Jalanan mulai agak mulus menjelang satu pertigaan. Eits, belum saatnya berbelok. Pertigaan itu menuju ke Pantai Seger, satu mutiara yang lain lagi, pantai tempat perayaan Bau Nyale dipusatkan. Sedangkan untuk menuju ke Tanjung Aan, masih harus terus lurus lagi, sampai menemui dua bukit yang setengah dikitari, sebelum masuk ke pintu gerbang pantainya.

Bukit yang bukan sembarang bukit, karena pengunjung bisa naik ke atas bukit ini dan berpose legendaris, signature dari pose di Pantai Tanjung Aan. Apalagi kalau ke sana di tengah musim hujan, ketika semua bukit tampak menghijau. Wah, panorama dari atas sana akan sangat legendaris.

Tapi kami kemarin tidak melakukannya, soalnya kami kepingin langsung terjun ke pantainya, melakukan ritual yang sama dengan apa yang kami lakukan di Kuta: leloncatan.

Demikianlah kami, harap dimaklumi :haha. Wisata salah kostum, salah kegiatan. Eh tapi kan yang penting itu wisatanya, yak? :hoho.

Pagar bambu. Iya pagarnya cuma segini.
Pagar bambu. Iya pagarnya cuma segini.

Sebuah pantai berpagar bambu memisahkan areal pantai dan lahan parkirnya dengan jalan di luar. Jalanan masih belum putus, memberi kesempatan bagi pengunjung yang kurang puas dengan etalase Tanjung Aan untuk melanjutkan perjalanan hingga ke Pantai Gerupuk, pusat dari spektakulernya ombak selancar di selatan Pulau Lombok.

Lahan parkir ini sebenarnya tak ditata apa-apa, selain tanah lapang dengan kubangan lumpur di sana-sini yang dinaungi pohon kelapa dan pohon waru. Kami memarkirkan motor di dekat sebuah berugak agak tinggi yang digunakan pemuda-pemuda daerah sana sebagai gardu pengawas kendaraan, di bawah naungan bayang-bayang pohon waru besar.

Kami membayar ongkos parkir seharga Rp5k per motor. Cukup murah.

Tampak betul bahwa pemuda-pemuda daerah sana adalah tipikal anak muda di daerah pantai yang terkontaminasi pariwisata. Peselancar-peselancar lokal dengan rambut agak menguning, badan kekar proporsional karena kebanyakan berenang dan kulit menghitam, yang memancarkan kesan ramah melalui senyum dan sapaan bahasa Inggris berlogat Sasak kental. Ketika kami datang, mereka sedang meyakinkan seorang turis Jepang bahwa ia tak perlu mengunci sepeda; semua akan aman selama mereka ada di sana.

Coret, coret, coret...
Coret, coret, coret…

Seorang pemuda bahkan menanyai saya kenapa ke pantai memakai jaket tebal. Saya ya cengengesan saja jawabnya, “Iya Mas, biar ndak kena angin.”

Jawaban macam apa itu.

“Orang mana?” Dia melihat plat motor saya. DR. “Orang sini?” Agak keheranan suaranya.

“Eh, nggih,” jawab saya sopan.

“Baru sekali ke pantai, ya?” Senyumnya makin melebar.

Saya cuma tertawa dan berlalu. Suara ombak Tanjung Aan di depan sana sudah tak sabar untuk diajak bercumbu, jadi saya juga tidak sabar untuk segera menemuinya… atau saya malu saja dibilang baru sekali ini ke pantai padahal saya orang Lombok. Iya, iya, saya salah kostum :huhu. Ya tapi kan jangan ditekankan juga kalau pantai di siang hari itu tidak dingin jadi saya tidak perlu pakai jaket… apa perlu saya bilang kalau saya ogah hitam?

Lho kok saya malah curhat, ya… :hihi. Tapi terlepas dari semua lelucon itu, mereka baik banget. Bahkan ketika Kak Randy harus kembali lagi ke tempat parkir gara-gara kunci motornya ketinggalan, mereka menyimpankan. Bukan yang dibiarkan menggantung di sadel motor, tapi diambil dan disimpankan di tempat yang aman. Tanpa biaya tambahan, kecuali si empunya kendaraan berminat memberi seikhlasnya sebagai ucapan terima kasih.

Kak Randy, di baliknya... panorama.
Kak Randy, di baliknya… panorama.

Kami menuju deretan berugak di dekat pantai yang sengaja ditempatkan sebagai tempat berteduh, di dekat tumpukan kelapa muda yang salah satunya sedang dibuka oleh seorang ibu tua, pedagang kelapa muda di sana. Sengaja kami mengambil satu berugak karena saya ingin segera membuka perbekalan, dua nasi bungkus khas tradisi Sasak yang saya beli di dekat rumah. Kak Randy menawari saya untuk membeli kelapa muda, dan saya mengiyakan.

Garis pantainya panjang.
Garis pantainya panjang.

Harganya untuk dua kelapa Rp15k. Pertamanya saya sempat protes dengan ibu-ibu pedagang. “Ndeq bau sepulu iyu due (nggak boleh sepuluh ribu dua)?”

Si ibu menggeleng.

Ih, mahal lalo. (Ih, mahal sekali).”

“Ya udah sih, kak, di Jimbaran aja bisa Rp50k satu biji kok.”

Oh iya ya? Saya cuma bisa cengengesan sama sang ibu. Berarti saya, ya, yang menawarnya kebangetan? Untung saja beliau kelihatannya tidak mengerti bahasa Indonesia jadi ia tak berucap apa-apa :hehe. Saya memilih mengalihkan perhatian dengan membuka bungkusan nasi dan menyantapnya.

Sebungkus nasi dengan lauk gulai tempe, ayam suwir superpedas, sedikit mi goreng, banyak serundeng, tumis buncis sedap dengan banyak minyak dan gulai telur saya beli di dekat rumah dengan harga Rp7k saja untuk satu bungkusnya. Sangat murah, cuma ya itu, kulinernya khas Lombok banget, jadi tingkat kepedasannya minimal dikalikan 2,5, dan jumlah santannya dikalikan 1,5.

Our late breakfast, that day.
Our late breakfast, that day.

Tapi sedap! Menurut saya, kuliner Lombok, terlepas dari fakta bahwa makanan-makanan itu kadang-kadang membuat musik drum mengalun di perut yang melilit, sangat kaya rasa. Wajib dicoba, tapi hati-hati, seperti pesan orang tua saya, jangan dimakan menjelang jam keberangkatan, nanti bisa sakit perut karena kebelet BAB! :hehe.

Dan semua itu kami nikmati di, saya baru mengamati, indahnya pantai selatan Lombok ini. Keindahan sempurna yang tak dapat tergambar hanya dengan rupa aksara semata.

Setelah makan, sebelum beranjak dengan kegiatan leloncatan yang lebih jauh lagi, sempat saya turun, menuju pantai terindah lainnya yang bisa saya temui di Pulau Lombok. Pantai yang punya ciri khasnya sendiri, karakteristiknya sendiri, kepribadiannya sendiri, yang membedakan dengan “pantai-pantai tetangga”.

Pantai-pantai tetangga :haha. Lucu.

Saya duduk di pasir pantai itu sebentar, setelah lelah menggambar huruf-huruf yang cepat sekali tersapu air laut sebelum saya sempat mengambil gambarnya. Menatap laut, langit biru, merasakan angin membawa aroma segar lautan di bawah teriknya sinar matahari, merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan.

Splash motion effect! :haha.
Splash motion effect! :haha.

Ah, mungkin inilah keindahan yang didamba oleh para pencari panorama itu, sampai rela melewati rintangan apa pun. Bayarannya lunas, kontan, tanpa menunggak. Saya bersyukur, sangat bersyukur bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri sebuah pantai yang namanya sudah bergaung sampai mancanegara ini.

Indah, ya.
Indah, ya.

Indah sekali, dan saya sangat menyarankan pembaca budiman untuk berkunjung ke sana. Di sini, saya cuma bisa menyediakan beberapa gambar sederhana yang tidak terlalu bagus, tapi saya harap keindahan Pantai Aan bisa tergambar dengan cukup mulus.

Begitu terkenalnya Pantai Aan, sampai-sampai ia bahkan dituangkan dalam sebuah lagu, lho. Meski tak banyak yang mengenal lagu ini bahkan di dunia maya, tapi lagu ini dulu jadi salah satu lagu daerah wajib di SMA saya. Semua anak mesti bisa menyanyikannya, dengan “penghayatan akan pantai”, meminjam istilah guru saya.

Dari berugak.
Dari berugak.

Dulu saya tak tahu apa itu “penghayatan akan pantai”, tapi ketika saya lirih bernyanyi di lokasi yang disebutkan di lagu, ya, saya pikir saya mengerti. Bagaimana nada-nada dalam lagu itu mengalun seirama dengan ombak, dengan diiringi desau angin dan disirami terik matahari tsaah, rasanya jadi menyatu banget dengan pantainya!

Saya agak kurang ingat bagaimana lirik dan terjemahannya, tapi kira-kira seperti ini. Saya cuma bisa mengartikan bait pertama, mohon dimaafkan :haha :

Lamun de pelesir, endaq lupaq lumbar jok Pante An (Kalau kau pelesir, jangan lupa pergi ke Pantai Aan)
Gesik putih mulus, sebelo sedin pesisi
(Pasir putih mulus, sepanjang garis pesisir)
Montong-montong karang, taker umbak ngeromboq solahne
(Batu-batu karang, menahan ombak, menambah cantiknya)
Aiq bersih meneng, maraq leq dalem telage
(Air bersih jernih, seperti di dalam telaga)

Adat budaya mapak temue mancanegare
Dedare Sasak cemus gerasak ngaturang jejambeq

Temue bekelampan, lewat Sade, Kute, jok Pante An
Santer siq ne demen, klebet bejorak jang kebian

Saya memang suka bernyanyi :haha.

Biru. Semua biru. Cantik.
Biru. Semua biru. Cantik.

Kerumunan kecil di sebuah berugak di kejauhan sempat menarik perhatian saya. Rupanya, sama seperti di Kuta, di sini juga anak-anak penjaja gelang begitu aktif menjajakan dagangannya, dengan cara yang sebelas dua belas sama dengan kolega mereka di Kuta. Wisatawan pun dibuat kewalahan meladeni mereka, mau menolak tapi mereka terus membujuk, mau membeli satu tapi semua makin membujuk agar dagangannya dibeli. Haduh!

Beruntung, ibu tua penjual kelapa muda tadi menghalau anak-anak itu dengan beberapa omelan, yang persis betul dengan apa yang saya omelkan pada rekan mereka di Pantai Kuta. Bahwa turis yang datang ke sini adalah tamu, yang mesti dihargai. Bahwa berjualan itu tidak perlu memaksa. Bahwa sang wisatawan sudah berkata tidak, jadi lebih baik ditinggalkan dan lagi-lagi, jangan dipaksa.

Mencoba mengabaikan dengan mencore-coret... yang sebenarnya tak begitu berguna sebab coretannya dihapus ombak lagi.
Mencoba mengabaikan dengan mencore-coret… yang sebenarnya tak begitu berguna sebab coretannya dihapus ombak lagi.

Duh, sebenarnya saya agak khawatir bahwa anak-anak itu akan mendatangi berugak kami dan melakukan hal yang sama pada kami. Meski saya di Kuta sudah hampir marah-marah, tapi kalau harus menghadapi situasi yang sama, entah mengapa saya agak tidak siap.

Untung! Mereka menghilang entah ke mana, saya tidak tahu :hehe. Sempat saya berpikir, jangan-jangan rekan mereka yang ada di Kuta mengirimkan pesan kedatangan saya lewat desau angin, jadi anak-anak yang ada di sini tidak perlu repot-repot menawarkan dagangan pada saya… :hihi.

Foto lagi :hehe.
Foto lagi :hehe.

Saya memilih untuk tidak melihat ke arah mereka, menekuni makanan saya. Kak Randy melakukan hal serupa.

Tak butuh waktu lama bagi saya untuk menghabiskan makanan. Mau bagaimana lagi, lapar sih :hehe. Kak Randy pun demikian. Setelahnya, saya mempersiapkan kamera, Kak Randy mempersiapkan hal-hal lainnya, dan kami pun siap meluncur ke tengah pesisir yang sedang dipanggang matahari, untuk melakukan hal yang semestinya sudah dari tadi kami lakukan:

Pose gagal lainnya.
Pose gagal lainnya.

Foto-foto!

Apa yang membedakan Pantai Aan dengan pantai-pantai lainnya?

Sebabnya sama dengan Kuta, yakni, pasirnya! Kalau di Kuta, pasirnya berbulir besar-besar seperti merica, di sini pasirnya halus dan lembut sekali, diinjak pun bisa jadi padat. Warnanya pun agak sedikit lain, kalau di Kuta, warnanya keemasan, di sini warnanya menggading, hampir putih yang kepucatan. Atau itu karena sinar matahari siang itu lagi garang-garangnya?

Ah, mbuh. Tak pedulilah, lha wong kami langsung leloncatan di bawah sinar matahari, di atas pasir halus nan padat, dan di belakang laut membiru sampai ke kaki langit!

Gagal #1.
Gagal #1.

Loncat… loncat… loncat. Kami untuk saat itu cuma ingin memuaskan hasrat meloncat kami (saya sih, sebenarnya). Padahal, masih ada tempat wisata tersembunyi dari Pantai Aan ini. Namanya Batu Payung, sebuah bentukan batu dengan bagian bawah agak kecil dan bagian atas lebar, setinggi kurang lebih sepuluh meter.

Kak Randy berhasil!
Kak Randy berhasil!

Untuk mencapainya, jika air surut, bisa berjalan kaki, tapi jika air pasang, mesti menggunakan perahu. Sewa perahunya pulang pergi sekitar Rp150k, bisa di-share dengan pengunjung lain yang kebetulan ada di sana. Sepuluh orang saja bisa Rp15k pulang pergi, lebih murah dari ongkos Lapangan Banteng–Stasiun Gambir via taksi.

Gagal maning!
Gagal maning!

Beberapa pose gagal memang harus dilalui sebelum saya mendapat gambar loncat terbaik saya:

Pose (yang katanya) terbaik.
Pose (yang katanya) terbaik.

Jreng!

Satu-satunya yang agak “lain” dari Pante Aan adalah adanya sisa-sisa semacam sampah di pinggir pantai, tapi kemarin itu seolah-olah mengabur dari pandangan kami :haha.

Seperti ada sampah, tapi kayaknya itu bukan, deh. :hehe.
Seperti ada sampah, tapi kayaknya itu bukan, deh. :hehe.

Ah, lelah sekali berloncatan berpuluh-puluh kali. Tapi rasanya puas! Meski kami tidak pergi ke Batu Payung lantaran keterbatasan dana (:huhu), kami amat sangat senang bisa langsung menikmati indahnya debur pantai Batu Payung.

Bahkan Kak Randy mengambil pose telentang di pesisir ketika pantai sudah benar-benar sepi. Mudah untuk mendapatkan pantai sepi di Lombok meskipun pengunjung datang di akhir pekan: jangan datang saat hari raya, itu sudah cukup. Entah, mungkin pantai di Lombok terlalu banyak yang indah-indah sampai-sampai semua orang menyebar, menjadikan setiap pesisirnya tidak terlampau ramai untuk dikunjungi.

Pose telentang si kakak seperti bintang laut, ya.
Pose telentang si kakak seperti bintang laut, ya.

Hah, hampir lagi kami lupa waktu! Ayo teman, bergerak! Kita kembali lagi, ke barat, mencari kitab suci! #eh.

Maksud saya, jelajah sebelah barat, sampai sore menjelang!

Ditontonin anak kecil...
Ditontonin anak kecil…
Ah, awan.
Ah, awan.

94 thoughts on “Ke Timur Kita Bertualang: Tanjung Aan

  1. Aaaaa itu .. itu bukit di belakang sana.. aku pengin banget camping di tempat kaya gitu… sambil nikmatin alamnya. Bakal dapet foto banyak banget neh kalau sayah…

  2. pantainya benar-benar ruar biasa gar, warna air lautnya itu lho. foto awan yang terakhir juga wow banget. oalah gara kog takut item sih. item itu eksotis. orang sini aj bela-belain liburan ke pantai biar item πŸ™‚

    oh ya yang splash efeknya jadi spt jet water board # kewl

    salam
    /kayka

  3. Kalau lihat pantai, atmosfir lapang, air biru, pasir putih, dan awan berarak, gak seru kalau gak pakai pose loncat ya Gara. Walau berkali-kali gagal, tetap harus dicoba. Itu baru namanya piknik ke pantai πŸ™‚

  4. Saya bayangin Gara nulis ini sambil senyum lebar sumringah terus kayak yang di pose (yang katanya) terbaik. Pagar bambu itu emang namanya pagar bambu meski bambunya cuma satu πŸ˜›

    Kalau saya ke sini, rela seharian guling-guling, seret kaki sepanjang garis pantai, renang renang, sampe kulit item (emang udah item). *sedang membayangkan menuju tanjung Aan*

    1. Saya jadi ikut membayangkan juga, nih :haha. Dan kebetulan, kalau besok tidak ada halangan, saya mau ke pantai lagi :haha. Semoga ceritanya besok jauh lebih menyenangkan ketimbang ini ya hehehe.

  5. Itu bukitnya cakep bener, haha. πŸ˜€ Bagus banget kalau ada rumah2 di sana… Oh ya, nama pantanya An atau Aan sih? Di lirik lagu kayaknya tertulis cuma dengan satu huruf A.

    1. Dua-duanya bisa, Mas, sebab bacaannya sama :)). Pantai itu memang cantik banget, dan kayaknya saya mesti ke sana lagi buat lihat bukitnya dari dekat :haha. Terima kasih sudah mampir ke sini ya, Mas :)).

  6. Baiklah. Petualangan di pantai dengan memakai jeans dan jaket bukanlah favorit saya. Meskipun begitu, saya rasa semua jerih payah terbayar lunas. Terlihat senang ketika berloncatan. Jujur, saya tidak fokus ke gambar mas gara tapi fokus pada backgroundnya wkkkwwww. Kabur.

    1. Aaak saya sudah menyiapkan diri untuk komentar bahwa background lebih penting daripada modelnya kok, Mas :hihi :p. Iya, saya setuju, perjuangan keras selalu sebanding dengan hasilnya :hehe.

    1. Terima kasih Mas (lho kok saya yang berterima kasih :haha). Btw, selamat hari raya idul fitri ya Mas. Mohon maaf atas semua kesalahan yang pernah saya perbuat, yang mungkin menyakiti hati Mas atau menyinggung perasaan. Semoga hubungan silaturahmi ini bisa makin erat dari hari ke hari :)).

    1. Ayo ke sana, Mas! :hehe. Btw, salam kenal, terima kasih sudah berkunjung. Debur ombak di Lombok akan selalu menanti para pejalan yang sudi menjejakkan kaki pada tanahnya yang indah :)).

        1. Ah, demikiankah? Mungkin yang beda itu di desktop ya Mbak, soalnya di tablet saya masih begini-begini saja :hehe. Ah jadi penasaran kan :hihi, mesti cepat cari koneksi internet desktop nih supaya bisa lihat bedanya :)).

    1. Pantainya memang bagus banget–ini salah satu yang terbaik di Lombok, kalau menurut saya. Well, sebelum ada pantai-pantai lain yang menggeser karena lebih keren :haha.

  7. Keren banget pantainya Bli Gar, apakah ribet nyari rutenya sampai perlu pakai Google maps? Tapi, worthy sih..pemandangannya keren *jempol jempol*

    1. Iya soalnya kami berdua belum ada yang pernah ke sana sebelumnya :hehe. Pantai-pantai di Lombok memang keren-keren dan unik-unik pemandangannya!

  8. Wiiih loved all that pics. Aku suka pantai juga, tapi disini gak banyak pantai, sekalipun ada joroooookkk >,< mau keluar kota gak pernah sempet πŸ™

    1. Ah, memangnya tinggal di mana, kalau boleh tahu? Sungguh sayang kalau pantai yang ada tak terjaga dengan baik, karena menurut saya sejatinya pantai itu semuanya indah :hehe. Setidaknya, pemandangan matahari terbit atau terbenam di sana pasti keren :hehe.

      1. Aku tinggal di Sidoarjo, Jawa timur. Iya maunya sih ya gitu, tapiau gimana lagi manusia emang egois, katanya liburan ke pantai tapi malah nyampah, prihatin banget πŸ™

        1. Iya, ujung-ujungnya malah tidak ada orang yang mau liburan ke pantai itu lagi soalnya sampahnya banyak sekali :huhu. Padahal pantai yang bersih itu sejatinya harus bisa dinikmati sebagai hak semua orang…

    1. Lombok Selatan memang indah banget, makanya di sini juga ada pantai namanya Pantai Surga :hihi. Yah, semua pasti punya plus dan minusnya, kita cuma bisa berbuat supaya plusnya optimal dan minusnya minimal :)).

        1. Yok, Indonesia memang kaya akan pantai, jadi di manapun pasti akan ketemu (meski agak jauh tapi masih bisa dikunjungilah :hehe). Syukurlah kalau masih bisa ditoleransi. Selamat menjelajah!

  9. Nentuin jalannya pakai koin, asik banget sih! gak ribet diskusi panjang lebar *curhat.

    Walau susah jalannya tapi kalau surga begitu pantainya mah saya juga mauk! :’)

    1. Perjuangan sebanding dengan hasil, agaknya peribahasa itu benar adanya Mbak :hehe. Ada beberapa pantai yang perjuangannya lebih berat, tapi ya, panoramanya jauh lebih indah dari ini *spoiler* :hehe.

      1. Bener banget hihi

        Beratan mana kalau sama pantai Pink kak Gara?

        Soalnya semakin susah, semakin belum terjamah, semakin belum ada sampah *eh…maksudnya masih cantik banget πŸ™‚

        1. Belum pernah ke Pantai Pink sayanya, jadi belum bisa membandingkan, maklum saya belum banyak mengunjungi pantai di sini :hihi. Hmm, soal semakin belum ada sampah, pantai tak terjamah yang kemarin saya datangi malah sebaliknya, jadi saya angkat bahu deh kalau soal itu :hehe.

  10. SUMPAH BANG GARA ! INI HASIL JEPRETANNYA BAGUS BANGET πŸ˜€ PANTAINYA BISA BIRU GITU ._. PASIRNYA PUTIH DAN BERSIH ! JUARA BANGET, SAMPAI AKU CAPSLOK INI SAKING EXCITEDNYA !

    1. Terima kasih banyak ya Feb :hihi. Memang pantai di Lombok selatan itu keren banget–semakin tersembunyi, semakin keren! Tak puas rasanya mengunjungi sekali, mesti lagi dan lagi soalnya bikin ketagihan. Gratis, pulak :p.

  11. Huaaaa kapan ya gue bisa ke Lombok. Padahal jaman dulu ngaku anak pantai. Tapi ke pantai gue baru berapa kali… sekali. :p/
    Yang jelas, setelah baca ini gue gak mau ke Lombok pake jaket! Takut diledekin amang-amangnya. Hehehe.

    1. Biarpun sekali, minimal sudah paham bagaimana rasanya pantai kan Bro, jadinya tak apalah kalau menyebut diri anak pantai :haha.
      Iya, ke sini mah jangan pakai jaket, mesti berani tanning :haha. Btw, salam kenal ya, terima kasih sudah berkunjung!

    1. Iya, pantai serasa jadi milik sendiri, terus kalau sepi juga kadang berasa aman karena tidak perlu khawatir dengan barang dan kendaraan yang ditinggal :haha.

  12. Subhanallah, pantainya benar-benar indah! mengenai jalanan yang tidak terawat, barangkali ‘disengaja’ untuk membatasi jumlah pengunjung demi terjaganya pantai dari tangan-tangan wisatawan yang tidak bertanggung jawab. hehehe.. tentu saja tidak, seharusnya pihak pemerintah daerah segera sadar dengan potensi alam ini, segera perbaiki fasilitas umum yang ada, termasuk jalan, jangan terlihat mulus kalau pas habis hujan yang sebenarnya bukan mulus beneran tapi karena yang berlubang tertutup genangan.

    1. Dalam beberapa aspek, saya setuju Mas. Untuk tempat wisata yang demikian indah yang apabila diketahui banyak orang justru mengancam tempat wisata itu sendiri, mungkin ada baiknya dirahasiakan barang beberapa waktu, tapi kalau promosi bisa membuat semua lebih baik, saya pikir semua pihak harus bergerak, termasuk pemerintahnya, untuk memperbaiki akses :hehe.

      Itu memang menipu banget Mas. Jadinya kalau lewat genangan mesti pelan-pelan banget, salah-salah bisa terperosok cukup dalam :hehe.

    1. Hai, salam kenal dan terima kasih sudah berkunjung! Memang pantai selatan Lombok terkenal dengan kombinasi pasir dan lautnya yang selalu tepat sasaran bagi penikmatnya :haha, dan ini pantai yang bagus sekali :)).

    1. Iya, di sini pantainya lumayan bersih, pedagang kelapa muda yang saya beli itu ternyata juga rajin betul menyapu sekitar kalau sedang tidak ada wisatawan, Mas :)).

  13. wah, Lombok emang indah *promosikampunghalaman*
    wah liat nasinya jadi keinget nasi puyung^^
    itu yang terakhir lirik lagu ya? itu lagu jaman kapan?-_- gak familiar ditelinga aku soalnya haha

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?