Jejak-Jejak Pertama di Serambi Mekkah

“Bencana, kita sabari. Nikmat, kita syukuri. Banyaklah orang akan bahagia.”

Matahari baru sedikit saja goyah dari titik kulminasinya tatkala ATR 72-600 yang kami tumpangi menurunkan ketinggian. Setelah sebelumnya bertanya-tanya di mana kami sekarang berada (lengkapnya, di atas daerah mana kami sedang terbang), ada kejelasan tampak pada jendela kiri pesawat, jendela terdekat dengan tempat duduk saya. Akhirnya. Setelah beberapa puluh menit berenang dalam tebal dan putihnya awan.

Satu langit biru
Satu langit biru
Keheningan kabin, tujuan selanjutnyakah?
Keheningan kabin, tujuan selanjutnyakah?

Pesisir nan sepi memberi sapaan pertamanya. Ombak bergulung, menerpa pasir yang menghitam. Buih memanjang, mengikuti ombak yang menghempas. Daun-daun kelapa tampak tenang dari ketinggian ini, meski saya tahu, kalau ditatap dari darat, mereka semua menari seirama angin. Itu menjadi pertanda, Sumatera Utara sudah lama terlewati. Tanpa terasa, burung besi ini semakin menurunkan ketinggiannya, dan pesisir itu pun tampak makin jelas. Pesisir barat Aceh, provinsi terbarat di Indonesia.

Tetiba, pikiran saya pun melayang pada sebuah detik, hampir sepuluh tahun silam. Sebuah detik yang menggetarkan pesisir barat Sumatera yang kini sedang saya tatap.

Minggu, 26 Desember 2004, 08.20 WIB.

Tak perlulah saya jelaskan apa yang terjadi di pesisir Aceh kala itu. Mungkin satu dunia sudah tahu. Berjuta kubik air laut menghantam daratan berpenghuni dengan kekuatan mahadahsyat. Praktis, dengan kejadian itu, hampir setengah juta orang menjadi korban, sekitar satu juta lainnya kehilangan tempat tinggal. Daratan yang sebelumnya penuh dengan bangun-bangunan tanda peradaban, kembali harus menjadi padang luas seolah belum pernah ditinggali. Luka fisik dan trauma jiwa terpatri pasti pada diri penduduk yang mendiami Aceh dan daerah sekitarnya. Kehilangan tempat tinggal, kehilangan orang yang disayang.

Singkatnya, kehilangan kehidupan.

Kini sepuluh tahun hampir lewat, dan ombak masih juga menderu di pesisir barat provinsi ini seolah tanpa rasa bersalah.

Dengan rasa penasaran saya terus memperhatikan pesisir itu sembari pesawat semakin merendahkan ketinggian jelajahnya. Masa kecil saya yang dihabiskan di sebuah pulau padat wisatawan, terus terang membuat saya heran ketika pandangan mata ini menyisir pesisir barat daya Aceh. Tak ada hiruk pikuk wisatawan sejauh mata melihat. Kalau saya melakukan penerbangan ke Bali, maka akan tampak kegiatan olahraga pantai. Atau ketika saya mudik ke Lombok, kampung halaman, saya akan melihat kehidupan para nelayan yang mencari nafkah di sepanjang sisa laut yang dijumpai menjelang pendaratan.

Tapi di sini, saya tidak melihat apa-apa. Jangankan kehidupan wisatawan, atau keberadaan nelayan, saya tak melihat ada orang berjalan di pinggir pantai. Hanya ombak berdebur di pasir pantai warna abu-abu, dengan deretan pohon kelapa menjadi saksi kok jadi romantis, Gar?.

“Sepi, ya,” saya bergumam tanpa sadar, dengan mata masih menyusuri garis pantai di luar sana. Rekan seperjalanan saya, Mbak Din, tidak menanggapi, dia masih sibuk menyantap makan siang dari sisa penerbangan sebelumnya.

Mungkin mereka tidak terlihat karena orang-orangnya terlalu kecil dilihat dari ketinggian jelajah ini, tapi setelah pesawat ini makin merendah, saya masih belum bisa melihat siapa-siapa, selain ombak yang bergulung-gulung sebelum menghempas darat. Mungkin juga karena ini adalah pesisir Samudra Indonesia, bukan pesisir Laut Jawa atau Selat Lombok yang memang menjadi jalur perdagangan dan pariwisata, jadi kegiatan pencarian ikan sulit untuk dilakukan.

Namun saya tak bisa mencegah sebuah pertanyaan aneh untuk muncul di kepala saya. “Mungkinkah, setelah sepuluh tahun, masih belum ada apa-apa di daerah ini?”

Pesawat bergerak makin rendah. Pesisir itu pun tertutupi pepohonan kelapa yang sedari tadi sudah ikut menemani pandang mata ini menyusuri pantai barat Aceh. Tapi kepala saya masih dengan pertanyaan tadi, diiringi semangat aneh untuk menjelajah yang demikian besar. Rasa-rasanya, saya tak ingin melewatkan sedetik pun perjalanan ini. Ingin rasanya merekam dengan kelima panca indra saya, tentang apa yang ada di Aceh, setelah sepuluh tahun berselang. Ingin juga saya mengeksplor apa yang ada di sini, tentang hidup masyarakatnya, indah alamnya, dan nikmat kulinernya yang tersohor. Ah, begitu banyak ingin!

Satu sentakan dan inersia yang bertambah menyadarkan saya bahwa kami telah mendarat.

Selamat datang di Aceh!

Selamat Datang di Nagan Raya

Bandara Cut Nyak Dien Nagan Raya
Bandara Cut Nyak Dien Nagan Raya

Saya mendapati bandara Meulaboh (sekarang namanya Bandara Nagan Raya) sebagai bandara yang sederhana. Bangunan terminal yang panjang berhadapan langsung dengan ujung landas pacu. Tak ada bangunan lain berhadapan dengan landasan ini selain gedung terminal. Tak tampak pula tempat khusus parkir pesawat, tak ada pesawat lain juga di sini. Tampaknya, pesawat yang baru mendarat, setelah menurunkan dan memuat penumpang jurusan balik (beserta barang-barangnya, tentu), akan kembali lagi terbang ke tempat asalnya, menjadikan bandar udara ini tak lebih dari sebuah tempat singgah.

Seperti hati ini woicurhat.

Dan memang, ketika pesawat kami sudah mendarat, dan penumpang berkeluaran, barang bagasi menyusul di belakangnya, beberapa kereta barang sarat muatan koper sudah menyusul, bersiap menuju muka pesawat yang merupakan tempat bagasi. Setelah selesai menghabiskan isi lambung, pesawat itu kembali memenuhinya dengan barang-barang bawaan penumpang yang akan kembali ke Kualanamu.

Cerita sedikit. Namanya wisatawan tumben naik pesawat kecil, kan kami ingin mengabadikan gambar pesawat ini, ya. Maklum, jarang-jarang naik pesawat kecil. Kepinginnya, kami berniat mengambil gambar dari moncong pesawat. Tapi hal itu urung terlaksana gara-gara petugas bandara menghalau kami seperti burung yang mencoba hinggap di pucuk padi. Ia, dengan kacamata hitamnya, mengibas-kibaskan tangannya mengusir kami, agar tidak mendekat pada kegiatan pemuatan bagasi. Padahal kami mau foto-foto doang, dan saya sudah mengacung-acungkan kamera, isyarat seolah-olah minta izin. Tapi dia tidak menggubris, tetap saja berusaha mengusir kami. Mungkin disangkanya kami mau masuk lagi ke pesawat lewat pintu bagasi.

Ya keles… :haha.

Setengah menggerutu, akhirnya kami memutuskan mengambil foto dari tengah-tengah pesawat dengan dilatari kesibukan bongkar muat barang dan penumpang. Tak apalah, meskipun tidak dapat pandangan prima nan maksimal, paling tidak kami bersyukur bisa berfoto di depan ATR 72-600 dengan baling-balingnya itu. Yang penting ada kenang-kenangan yang bisa disombongkan kendati sebenarnya semua orang sudah pernah naik pesawat ini jadi apa dan kepada siapa kami akan menyombong, kami juga tak mengerti. Pada diri sendiri sajalah :haha.

Say cheese!
Say cheese!

Harapan saya (yang agak-agaknya salah), semoga lain kali kami bisa naik pesawat yang lebih kecil menuju daerah yang lebih terpencil. Untuk tujuan wisata, tentu :hehe.

Bandara Cut Nyak Dien Nagan Raya, saya membaca papan besar itu. Sekali lagi saya sebut, ini bangunan panjang, sederhana, yang untuk ukuran bandara boleh sama-sama kita bilang kecil. Agak ke sebelah kiri ada sebuah tower radar dengan antena besar merah berputar pelan nan konstan. Beberapa orang dengan sepeda motor tampak mengamati kami dari kaki menara itu, seperti penasaran. Atau mereka adalah petugas bandara yang kebetulan sedang istirahat di sana.

Ornamen lokal dengan langgam yang menurut saya mirip hiasan daerah Kutai, berwarna kuning dengan latar hitam menghias segitiga gunungan atap. Terbuat dari kayu yang agak tidak terawat karena retakan panjang di bagian tengah membuat satu bagian seperti bergeser ke bawah. Garis-garis tegas berwarna oranye sepertinya menjadi aksen warna, tapi menurut saya agak salah tempat dan tidak cukup untuk menjadi ciri khas bangunan itu. Bandingkan dengan, misalnya, aksen pada stasiun-stasiun kereta api di Jakarta Pusat, yang dengan mengingat warnanya saja kita sudah tahu stasiun mana yang dimaksud. Hijau? Gambir. Oranye? Gondangdia. Cokelat? Cikini. Biru? Juanda.

Namun ketika melihat kesederhanaan itu, saya jadi ingat Bandara Notohadinegoro di Jember. Itulah kali pertama saya menjejakkan kaki di sebuah bandara yang maaf sangat kecil, dengan penerbangan yang hanya sekali sehari. Jam sembilan, pesawat berangkat dari Surabaya. Jam sepuluh, pesawat tiba di Jember, dan jam sebelas, kembali ke Surabaya. Dalam dua puluh empat jam, hanya itu dinamika yang terjadi di sana. Masyarakat berkumpul setiap kali ada pesawat yang mendarat atau lepas landas. Bahkan, pinggir jalan sekitar bandara menjadi tempat terbaik untuk berkencan. Betapa ini adalah bukti bahwa bagi sebagian masyarakat Jawa sekalipun, pesawat terbang masih bagaikan keajaiban yang turun dari langit. Tak terjangkau, namun ada.

Saya ingat, saat itu saya cuma bisa berseru, “Ini masih di Jawa? Yang benar?”

Sesi foto-foto narsis yang telah berakhir, kami menuju ke gedung terminal. Di sana para penjemput sudah banyak menunggu, dan sebagian besar penumpang yang tadi sudah bersama kami (termasuk seorang bapak gemuk pejabat pemerintah yang harus dipindahtempatkan gara-gara pesawat agak tidak seimbang itu :hihi) sudah meninggalkan tempat. Memang ada beberapa orang yang masih menunggu, tapi sepertinya mereka sudah tahu akan dijemput siapa.

Sementara kami sepertinya tanpa jemputan… untuk saat ini.

Saya dan Mbak Din mendudukkan diri di sebuah kursi tunggu di teras bandara, dekat mobil yang berlalu lalang menaikkan penumpang. Jalanan di depan sana tampak lengang. Selain kendaraan yang menuju ke dan keluar dari tempat ini, hanya sesekali motor atau mobil melintas. Terlalu bebas macet. Untungnya saya tak terlalu kaget mendapati bandara ini jauh dari mana-mana (beda dengan bandara Jember itu, ketika saya dan Mas Chris sampai terkejut-kejut gara-gara di depan bandara itu ada gudang pengeringan tembakau plus ladang gersang dan gumuk berkumpul :hehe). Di sini, barisan pohon yang menghijau tersaji di depan bandara, dengan jalanan sepi penuh misteri.

Beberapa menit menikmati kelengangan membuat saya sedikit gelisah. Oke, kelengangan memang memberi damai. Tapi kalau kami sampai harus menunggu lama, bagaimana nasib ini? Damai seketika menjadi panik.

Untunglah kami tak harus menunggu lama. Tak berapa lama berselang, tiga orang pria yang setelah kami berkenalan bernama Pak Dayat dan Pak Mansur beserta Mas Baliyan menghampiri kami. Ternyata mereka sudah menunggu sejak tadi di dekat pintu kedatangan, hanya saja kami tidak melihat mereka, malah langsung kucluk-kucluk ke ruang tunggu di depan. Maklum, ramai. Apalagi kami berdua baru pertama kali ke Aceh, dan menunggu jemputan, jadi sebaiknya bukankah kami harus menuju tempat lapang agar terlihat? ini tidak ada hubungannya, sih.

Basa-basi soal penerbangan dan taruh-taruh bawaan selesai. Yok, berangkat!

Usut diusut, seluruh bandara di Sumatra yang saya datangi sejauh ini selalu tidak bisa dibilang dekat dengan kota terdekatnya. Seperti Bandara Cut Nyak Dien Nagan Raya (yang dulu bernama Bandara Cut Nyak Dien Meulaboh sebelum pemekaran wilayah) ini, jaraknya dari Meulaboh sekitar 30km. Tapi bagi saya yang penikmat perjalanan, semakin jauh semakin bagus! Pasti banyak yang bisa dilihat sepanjang jalan. Ketimbang kalau dekat kota, pemandangan yang bisa dinikmati cuma bandara dan… kota :hehe.

Banyak ladang sawit yang saya sadari ada di sepanjang jalan. Perkebunan sawitnya bukan perkebunan yang mahaluas begitu, hanya beberapa rumpun sawit di kiri kanan menemani kendaraan yang melintas. “Di sini banyak transmigran,” kata Pak Dayat. Di daerah Aceh Barat (sekarang termekarkan menjadi Aceh Barat dan Nagan Raya) sini memang banyak terdapat transmigran dari tanah Jawa. Di sini mereka umumnya berprofesi sebagai petani sawit dengan ladang tersebar di mana-mana. Bahkan di pinggir jalan, deretan sawit menyapa. Kalau kita mau melebih-lebihkan, seperti kita sedang menembus hutan sawit eciye.

“Kita makan dulu,” usul Pak Mansur tiba-tiba.

Saya langsung semangat. Terima kasih, Pak. Perut saya sudah lapar :haha.

Rencananya, kami akan diajak untuk menikmati santapan khas Nagan Raya. Nama dan lokasi masih dirahasiakan :haha. Sebenarnya bukan rahasia, tapi mereka berdiskusi dengan bahasa asli Aceh yang saya tidak mengerti. Jadi kami cuma manggut-manggut dan iya-iya. Sisanya kami gunakan untuk menatap pohon yang bergerak semu mundur di luar sana. Haduh!

Okesip, kami pun meluncur ke lokasi yang diperjanjikan. Dari bandara kita sepertinya menuju ke utara, sampai di pertigaan Tapaktuan–Meulaboh kita mengambil arah menuju Tapaktuan. Sekitar dua puluh menit kemudian, kami tiba di rumah makan di depan Rumah Sakit Nagan Raya. Bergegas kami turun dari mobil dan menapakkan kaki di rumah makan berlantai kayu itu. Selama beberapa menit saya mencoba-coba langkah di lantai kayu, menatapnya agak segan karena hehe, saya gemuk dan takut kalau nantinya lantai kayu itu jebol.

“Itu lantai kayu, Mas. Soalnya di sini suka banjir, jadi supaya tidak terendam,” kata Mas Baliyan. Rupanya dia menganggap saya heran melihat lantai kayu itu. Mungkin anggapannya, di Jakarta tidak ada rumah semipanggung berlantai kayu?

Demi tidak memperpanjang masalah, saya cuma terkekeh-kekeh unyu, tidak mencoba membantah atau mengiyakan. Untung saja saya tidak jujur mengatakan, “Mas, saya muat nggak berdiri di atasnya? Nanti kalau jebol bagaimana?”

Kalau jebol ya kayunya nggak dipakai jadi lantai rumah, Gar.

Oh iya, terkadang saya memang idiot…

Kami dipesankan menu khas Nagan Raya (menurut tiga bapak itu): Ikan Kerling. Ikan Kerling, kata Pak Mansur, adalah ikan air tawar yang biasanya hidup di sungai berarus deras. Sejauh ini hanya ada di Aceh dan tidak biasa ditemukan di luar provinsi ini.

“Ooh,” saya membulatkan mulut. Di pikiran saya, ikan air tawar itu paling-paling seperti ikan nila atau mujair. Paling pol ya seperti ikan gurame. Tangkapnya susah, agak bau tanah, tulangnya banyak, dagingnya sedikit pula. Tapi ketimbang menduga-duga, sebagai penikmat perikanan, saya jadi penasaran bakal seperti apa rasa, bentuk, dan penyajiannya?

Kami disuguhi menu khas di rumah makan itu: tempe dan tahu goreng, lele goreng, lalapan daun singkong rebus seperti rumah makan Padang, dan tentu saja, ikan kerling kuah kuning. Dari besar potongan dagingnya, saya bisa menduga kalau ukuran ikan ini tidak kecil. Oke dugaan saya yang pertama salah. Sepotong ikan kerling disajikan dengan kuah bening tapi berwarna sedikit kuning; seperti kuah pindang tapi sedikit lebih pekat. Tak lupa nasi putih panas dalam baskom besi besar, bentuk self service yang tumben saya lihat setelah bertahun-tahun tinggal di tanah Jawa tempat sistem makannya adalah “diambilkan” atau “prasmanan”.

Our first rijstaffel in Nagan Raya--notice the kerling fish?
Our first rijstaffel in Nagan Raya–notice the kerling fish?
Our first rijstaffel... emptied.
Our first rijstaffel… emptied.

Entah saya terlalu tumben melihat sistem makan seperti ini (baca: entah saya orangnya terlalu desa), tapi ada hal unik yang saya temui. Ketika kami memesan jus dingin, ternyata yang disajikan adalah jus biasa dan es batu dalam piring kecil. Kata Pak Mansur, biar kalau kita mau jusnya sedingin apa bisa disesuaikan. Hehe.

Saya mencicipi kuah ikan kerlingnya, kening yang berkerut sontak licin. Enak! Rasanya agak pedas, agak asam, tapi gurih dan segar. Kaldu ikannya menyatu benar dengan bumbunya, jadi citarasanya benar-benar nikmat. Mungkin ada sekilat rasa micin, tapi hei, saya sudah terkenal pecinta micin jadi sesamar apa pun saya tak bisa merasa ada yang aneh :haha. Dan entah, saya seperti pernah juga merasa kuah serupa. Oh ya, kuah bumbu rajang kalau di daerah saya. Hanya saja, bedanya adalah kalau di daerah saya, kuahnya sedikit kental dan (sangat) lebih berminyak, sementara di sini bening dengan sedikit minyak.

Tapi yang unik menurut saya adalah daging ikannya: begitu segar dan bagian kulitnya kenyal, seperti ikan laut! Dagingnya juga tebal dan tulangnya sedikit, hampir tak saya sangka ikan air tawar ada yang seperti ini (selama ini, ikan air tawar yang saya santap umumnya berduri banyak), dagingnya kenyal, hampir seperti ikan kakap. Mirip benar dengan ikan laut.

Dan semua dugaan saya tadi keliru. Tak ada bau tanah sepanjang hidung mencium. Tulang pun tak terlalu bermasalah, saya sudah pernah sampai ada insang ikan menyangkut di kerongkongan gara-gara salah makan yang dimakan langsung kepala ikannya semua kali, ya? Dan dagingnya tebal… saya tak perlu mengatakan untuk ketiga kalinya kalau daging ikan ini kenyal, kan?

Kalau kata Pak Bondan: Mak Nyuss! :hoho.

Saya juga sempat menduga kalau ikan ini punya daur hidup seperti salmon. Sebab kata Pak Dayat, ikan ini hidupnya suka melawan arus sungai di tempat asalnya. Entah apa melawan arus yang dimaksud adalah bertahan dari arus untuk mencari makan, atau melawan arus bak ikan salmon yang terbang guna mencari tempat berkembang biak?

Mungkin imajinasi saya saja yang terlalu tinggi.

Perjalanan dilanjutkan setelah perut penuh dan sepertinya sepertinya lho, ya tidak bisa menampung apa-apa lagi. Masih dengan panorama yang serupa. Kami melewati sungai, beberapa rawa, dengan diselingi tumbuhan sawit di kiri kanan jalan. Tidak ada perkampungan yang begitu rapat seperti di Jakarta (kalau di Jakarta malah terlalu rapat), tapi kami masih juga bisa melihat beberapa orang berkendara di jalanan, atau anak-anak di beberapa rumah yang kebetulan kami lewati. Saya juga menjumpai beberapa pedagang buah dadakan. “Sekarang musim panen dan mereka menjual buahnya di pinggir jalan,” komentar Mas Baliyan. “Sayang kalian tidak datang saat musim durian, jadi tidak bisa melihat buah durian di sepanjang jalan.”

“Buahnya jatuh gitu, Mas?”

“Ya, saking banyaknya.”

Lagi-lagi kami cuma bisa membulatkan mulut.

Ketika kami tiba di sebuah bangunan seperti pabrik, saya tak bisa melepaskan pandang dari sana. Unik, dengan konveyor belt membentang di atas kami. Ternyata itu pembangkit listrik tenaga uap, yang digerakkan dengan mesin berbahan bakar batu bara, salah seorang Bapak menjelaskan pada saya yang melihat bangunan itu seperti melihat UFO. Masih baru dibangun, kata bapak-bapak itu lagi. Usut punya cerita, saat ini banyak pembangkit sedemikian di Aceh. Nantinya memang saya akan melihat beberapa. Umumnya, pembangkit-pembangkit ini dibangun sebagai bantuan rehabilitasi tsunami dari negara asing, guna memenuhi kebutuhan energi akibat semua pembangkit musnah diterjang gelombang.

Err, tidak cuma musnah, isilah kotak kosong dengan jawaban “melayang dan mendarat beberapa kilometer dari tempatnya yang seharusnya.”

Tapi, kalau sampai sepuluh tahun ini masih ada pembangkit yang dibangun asing, agak malu ya, pembangkit listrik yang notabene kebutuhan dasar masyarakat saja harus menunggu adanya bencana dan bantuan negara lain. Seolah-olah kita belum bisa membangun sendiri dengan kemampuan dan biaya dalam negeri. Yah, masalah infrastruktur memang kalau dibahas saja nggak bakal bisa habis…

Pemandangan hutan berganti ketika saya membuka mata. Ternyata saya tertidur. Setelah makan siang, dengan perut penuh, dan waktu menunjukkan jam-jam ideal untuk tidur siang. Jadi malu dengan bapak-bapak (serta Mbak Din) yang tetap terjaga.

OK, salam jumpa, Meulaboh!

13 thoughts on “Jejak-Jejak Pertama di Serambi Mekkah

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?