Java Jazz Festival 2015 #1: Oh, Ini Toh yang Namanya Jazz…

Pertama kali saya dengar event Java Jazz Festival itu adalah di sebuah berita infotainment yang menguak kasus dan kisah selebriti, mengangkat hal yang dianggap tabu menjadi layak dan patut untuk diperbincangkan serta mengangkat misteri yang terjadi di sekitar kita. Katanya, event itu sukses besar. Mengundang artis-artis luar negeri terkenal yang saya tidak heran kalau saya tidak tahu siapa. Saking suksesnya, orang-orang berdesakan di lokasi.

Kedua kali saya dengar Java Jazz Festival, itu setahun yang lalu. Di kasus pembunuhan Ade Sara gara-gara yang bersangkutan dihabisi oleh pasangan remaja itu setelah menonton Java Jazz Festival 2014. Kasus ituΒ berhasil membuat kunjungan-kunjungan saya selanjutnya ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat harus susah-susah karena ramainya wartawan yang meliput sebelas dua belas dengan membludaknya para Elf membeli tiket Super Show-nya Super Junior.

Ketika saya mendengar Java Jazz Festival untuk yang ketiga kalinya, itu di kantor sendiri, Jumat kemarin, dari Mbak Din. Para pembaca budiman mungkin mengingat Mbak Din dari jurnal perjalanan saya ke Aceh (yang draft tulisannya sudah selesai tapi belum dipublish karena foto-fotonya belum selesai dipoles hehe, maaf!).

“Dek, mau ke Java Jazz nggak? Ada tiket gratis, nih.”

“Hah? Gratis? Betulan?” Langsung semangat saya mendengar kata itu.

“Iya, mau ikut nggak?”

Bagaimana mungkin saya bisa mengatakan tidak? Meskipun sebelumnya saya bingung… sebenarnya Jazz itu tepatnya musik macam apa, tapi ini gratis, dan kapan lagi?

Bukan berarti saya belum pernah nonton Jazz sebelumnya. Sebagai anak Jakarta yang berusaha terlalu keras sampai kadang hampir menyerah untuk dapat diterima dalam pergaulan komunitas, dulu pernah saya ikut ajakan teman-teman untuk menonton pertunjukan Jazz di Goethe Institut di Jl. Sam Ratulangi. Satu-satunya alasan dulu saya mengiyakan… adalah sama seperti alasan yang di event ini.

Gratis.

My ticket. I got it for free.
My ticket. I got it for free.

Tapi bagaimana saya bisa dapat tiket gratis untuk pertunjukan yang tadi malam itu, jangan ditanya ya, soalnya saya juga tidak bertanya sama sang pemberi tiket. Sang pemberi tiket pun tidak tahu dapat gratisnya dari mana, soalnya ia juga dapat karena diberi. Intinya, dari semua orang yang datang bersama saya malam itu, tak ada yang tahu bagaimana cerita awal sampai tiket-tiket gratis itu bisa ada di tangan kami.

Lebih baik don’t ask why, ya. We just come and watch the show, that’s it :hehe.

Dari pertunjukan itu, yang pertama dan sampai sekarang masih jadi yang pertama saya saksikan di Goethe (berhubung tidak ada yang mengajak lagi), jazz itu… lumayan soothing. Dengan alat musik yang sebenarnya menurut saya sebelas dua belas dengan musik klasik, yakni piano, gitar, cello, permainan drum yang hampir mengakustik, ada biola juga malam itu kalau saya tidak salah. Mungkin karena Nial Djuliarso, performer kala itu, membawakan nomor-nomor yang pelan, nge-beat tapi entah kenapa beatnya justru harmonis :bingung.

Lumayan bagus, meskipun tidak terlalu membekas di hati. Hanya musik-musik tertentu yang bisa membuat saya bisa mendengarkannya sampai berkali-kali. Dan musik itu mesti bukan dari penyanyi terkenal. Kesimpulannya?

Selera musik saya memang aneh.

But it won’t be hurt to try something new, kan?

Jadilah, setelah beberapa kali drama gonta-ganti personil dan konsep musik yang saya tidak bisa membantu banyak (seperti anak band saja lagak kami ini), saya, Mbak Din, Mas Barun, dan Mas Adi, berempat, membelah jalanan malam kota Jakarta pukul 9.30 dari Lapangan Banteng menuju ke Kemayoran yang dahsyatnya itu kita harus lewat Senen padahal lewat Jl. Angkasa akan membuat semua akan lebih mudah (saya menahan diri betul untuk tidak bilang: “Kok kita lewat sini?” :haha). Entah, mungkin jalanan Jakarta Jumat malam kemarin itu macet.

Awalnya saya bingung mau ke event sekelas Java Jazz Festival. Bagaimana tidak, itu kan event internasional, jadi pasti yang datang adalah orang-orang dengan penampilan kelas satu dan hanya satu kata: mentereng. Sementara saya… wuaduh, penampilan saya umumnya acakadut amburadul alakazam. So last… century, kalau kata keluarga. Bagaimana tidak, saya dulu pernah berangan-angan impor langsung kostum raja-raja Korea untuk dipakai pertemuan dengan teman di mal :haha. Bisa jadi pusat perhatian kan?

Beruntung, sangat beruntung, saya punya teman-teman blogger di BEC, yang dengan sangat baiknya membantu saya untuk memilih gaya berpakaian yang tepat. Saya juga baru sadar gaya berpakaian kasual itu bisa diaplikasikan dengan benda-benda sederhana. Sisi positifnya, saya jadi tidak terlalu merasa minder lagi (meski kenyataan saya membawa dua tas itu saja bisa memberi kesan kalau saya orang yang suka repot :haha).

So, selamat datang di Jakarta International Java Jazz Festival 2015!

Hello!
Hello!

Kesan pertama yang saya dapat begitu mobil kami masuk Jl. Expo PRJ Kemayoran adalah: kok sepi? Pertanyaan yang ternyata sudah diantisipasi oleh semua orang, sebenarnya, karena di sepanjang jalan tadi kami berdiskusi tentang hal ini. Usut diusut, kata Mas Barun yang sudah mumpuni di bidang permusikjazz-an, line up artis tahun ini di luar ekspektasi semua orang. Ada beberapa kritik bahwa kualitas pemilihan artis tahun ini seolah menurun dari tahun lalu. Tahun lalu ada Incognito, Raisa, JKT48, Jamie Cullum, dan beberapa artis terkenal lain yang sebenarnya saya tidak tahu itu siapa, tapi demi kelancaran pembicaraan, saya manggut-manggut saja :hehe.

Tambahan lagi, fakta bahwa tahun ini akan kemungkinan besar menjadi tahun terakhir penyelenggaraan JJF di PRJ Kemayoran mungkin membuat orang-orang agak malas. Katanya, tahun depan JJF mau pindah ke daerah BSD sana. Kata Mas Ryan di chat grup, tempatnya ada di Dyandra yang kata Mas Dani sudah dipakai Michael Bubble Buble pentas bulan lalu. Tapi tempatnya macam apa saya tidak tahu… :hehe.

Dan memang hari pertama JJF 2015 itu… sepi. Kami parkir dengan mudah. Sepanjang jalan masuk, banyak calo menawarkan tiket hampir-hampir setengah harga. Diskon besar-besaran. Tentu saja kami tolak semuanya dengan halus.

Perjalanan menuju entrance gate pun tanpa hambatan. Bahkan hampir tidak ada antrian! Pada ke mana semua orang? Padahal malam ini ada artis terkenal juga yang akan main jam 00.30 dini hari, artis yang kami semua sudah tunggu-tunggu juga, tapi sumpah, saat kami datang, sepi sekali.

Bahkan kami yang mau foto-foto di depan spanduk kedatangan pun tidak harus mengantri lama :haha.

Narsis time!
Narsis time!

Kami saat itu masih punya asumsi positif. Mungkin karena ini hari pertama, jadi masih semacam acara pembukaan. Artis-artis terbaik yang digadang-gadang dalam semua spanduk (seperti Jessie J atau Christina Perri) dalam Special Show masih belum manggung hari itu, mungkin Sabtu atau Minggunya. Artis-artis hari pertama (mohon maaf, ya) mungkin masih belum dikenal oleh penonton jadi belum ditunggu-tunggu. Apalagi tiket JJF ini lumayan mahal (harga aslinya Rp200k) jadi penonton tentu memilih datang pada hari di mana artis favoritnya tampil, kan?

Meskipun harga sebenarnya tidak jadi masalah bagi kami karena kami dapatnya… gratis!

Di dalam… orang berlalu lalang. Tapi lagi-lagi, di luar ekspektasi kami. Kata teman-teman, di JJF tahun lalu orang-orang betul-betul ramai sampai di koridor-koridor seperti ini pun orang berdesak-desakan. Tahun ini, koridor bahkan ada yang tampak lengang, bahkan orang bisa duduk-duduk di pinggiran, melepas lelah dengan bersandar di tembok.

Ini ukurannya lengang.
Ini ukurannya lengang.

Empat belas panggung indoor membuat kami bingung mesti memilih yang mana, kalau saja tidak ada Mas Barun dan Mas Adi yang sudah paham soal musik jazz. Kami pun dibawa ke Hall C1, tempat kuartet jazz asal Amsterdam, Belanda, Benjamin Herman Quartet, sedang bersidang. Eh maksud saya, berpentas.

_MG_4782

Terus terang saya agak heran. Apa yang saya dengar di ruangan itu tidak jauh beda dengan jazz-nya Nial Djuliarso di Goethe Haus dulu, tapi pengunjungnya tidak terlalu ramai. Kursi-kursi yang sedianya banyak berderet sampai belakang hanya terisi beberapa belas baris–itu pun kebanyakan orang asing. Selebihnya cuma kami dan beberapa puluh orang lain yang mungkin penikmat jazz, karena mereka begitu menikmati alunan melodi dari musik Benjamin Herman sampai-sampai menggoyang-goyangkan kepala.

Benjamin Herman
Benjamin Herman

Tapi memang harus saya akui, untuk saya yang buta soal musik jazz ini, permainan Benjamin Herman bagus. Musiknya membuat saya merinding di satu segmen, dan menghangatkan hati di segmen yang lain. Tanpa sadar, saya pun ikut menggoyang-goyangkan kepala mengikuti ritme. Apalagi di lagu terakhir, “Trouble”, yang penonton juga diminta ikut bernyanyi mengikuti sang vokalis si pemain piano yang awalnya saya kira wanita karena suaranya high-pitched banget.

Puas! Pun ketika kami cuma bisa ikut berpartisipasi di lagu Trouble itu, pertunjukan kuartet Benjamin Herman jadi pembuka yang betul-betul jazzy, terutama buat saya yang tidak tahu apa-apa soal musik jazz (perlu banget ditegaskan kembali, ya? :hehe).

_MG_4786

Next… panggung sebelah. Kalau ini usulnya Mbak Din, dia ingin menyaksikan band yang satu ini. Saya tidak tahu apa ini band jazz atau bukan, nama band-nya berkaitan dengan tetumbuhan. Kalau saya tidak salah nama band-nya Klorofil… eh, bukan… Hijau Daun… eh, bukan juga… Fotosintesis… bukan juga… oh ya!

Payung Teduh!

Kok ya jatuhnya itu jauh sekali toh, Gar? Mungkin karena ada kata “teduh”, jadi yang teringat pasti pohon, soalnya pohon kan teduh, menaungi :)).

Tapi pada saat itu Payung Teduhnya belum main. Mainnya baru jam 12 malam nanti, jadi kami saat itu menikmatilah apa yang sedang tampil di sana. Pada awalnya saya tidak tahu siapa yang sedang bernyanyi di sana, tapi lagunya seperti dalam bahasa tradisional. Semacam Nusa Tenggara Timur begitu. Tapi keren! Terutama dengan quote-quote yang membuat hati ini hangat :)).

Berhubung Mas Barun juga mau mengambil gambar di dekat panggung, ikutlah saya mendekat. Yah, hitung-hitung mengasah skill fotografi. Ini pertama kalinya saya mengambil foto konser atau pertunjukan di tempat yang minim cahaya. Beruntung (lagi), sebelumnya saya sudah sempat tanya-tanya sama ahli fotografi konser, Mas Zasmi Arel, jadi saya mulai ada bayanganlah apa yang harus saya lakukan :hehe.

Saya menyeruak di antara kerumunan fotografer dekat drummer. Percobaan, saya mengambil foto drummernya. OK, cukup bagus. Tapi kayaknya drummer ini kurang menarik. Saya malah lebih tertarik dengan vokalisnya, jadi saya lebih banyak mengambil foto vokalisnya. Si drummer dan personil lain cuma saya ambil gambarnya masing-masing sekali lagi sebelum saya kembali ke tempat duduk lesehan kami di belakang, dekat sound mixer. Gila, makin lama makin ramai saja fotografernya!

Baru beberapa saat saya duduk di tempat saya, si drummer ternyata memulai permainan solonya. Lampu sorot pun hanya menyoroti dirinya, sementara penerang lain menggelap. Fotografer-fotografer sibuk mengambil gambar, sementara si drummer terus bermain dengan ekspresif. Gila itu tangannya kencang sekali menggebuk alat musiknya, dengan presisi dan kecepatan yang membuat gerakannya hampir-hampir tidak terlihat.

Tunggu. Kok fotografer ini semua mengerubungi dia, sih. Agak-agaknya drummer ini bukan drummer biasa…

_MG_4788

Ya elah! Itu kan Gilang Ramadhan!

Mendadak saya jadi galau sendiri. Ayo, tepok jidat sama-sama… :plak.

58 thoughts on “Java Jazz Festival 2015 #1: Oh, Ini Toh yang Namanya Jazz…

    1. Lebih sepi dari tahun-tahun sebelumnya, kalau kata teman-teman yang jalan sama saya Mbak. Sampai hari Minggu besok :hehe. Jessie J manggungnya besok :)).
      Dulu Gilang Ramadhan itu main band apa ya, Mbak?

  1. Pertama Kali nonton Jazz, waktu ngunjungin teman di Paris.UNtuk menyenangkan aku sang teman menyodorkan 2 ticket nonton konser jazz di Paris yg Katanga ngetop banger.. Keliatannya emang ngetop. Mau masuk aka antri satu jam. Tempatnya ngga gede. Semua org keliatan sangt menikmati. Kecuali aku yg ngga ngerti musik jazz. Pura2 enjoy ajalah biar temanku senang.. Diujung acara, temenku bilang kalo dia couldn’t get the music. Ternyata bukan aku aka yg ngga ngerti jazz.. Hahahha

  2. Memang sepertinya dah meredup nih pamor JJF. Entah karena lokasinya atau karena organizernya gak kira2 kasih harga tiket. Hahahaha.

    Saya suka jazz tapi gak sampai yang bayar mahal gitu *ini mah pelit kali yak*

    Dulu bisa denger jazz gratis di cafenya temen. Sayang dah tutup. Msh nunggu dia open lagi nih.

    1. Bisa juga sih Mas, karena gak worth it… artis yang kurang dikenal juga bisa jadi faktor lain…
      Waduh saya juga kalau diminta nonton jazz yang tak gratis juga mikir dua kali Mas :haha. Dua kali saya nonton jazz dan dua-duanya gratis :hehe.
      Ayo open lagi, nanti bisa jadi tempat kopdar buat para blogger :hehe…

    1. Iya Mbak, megah, tapi pengunjungnya hari pertama kemarin sebenarnya lumayan sepi :hehe.
      Tapi penggemar jazz memang bertambah ya, dulu waktu saya nonton Nial Djuliarso itu kursi penuh semua.

  3. Saya bahkan tidak tahu nama panjangnya lho Mbak :hehe :peace. Tapi saya setuju, dunia memang selebar daun kelor… :hehe.
    Katanya memang membludak banget waktu ada Jamie Cullum itu.

    1. Zalam untuk mas Barun ya Ga, dia temen seangkatan waktu di Jurangmangu.
      Menurutku Jammie Cullum masih bisa dinikmati musiknya buat orang yg gak trlalu ngerti jazz macam aku.

      1. Weew, dunia memang kecil sekali :hihi. Oke, disampaikan! :hehe.
        Jamie Cullum memang terkenal sekali, ya. Semua orang yang bersama saya kemarin juga sempat membahas dia :hehe.

  4. Euuhh coba kalau teteh di Indonesia, pasti sudah “ngendon” di situ tah hehe

    Teteh suka pisan sama musik Jazz.. apapun jenisnya.. gimanaaa gitu dengernya, apalagi kalau nonton langsung..

    Gilang Ramadhan itu termasuk idola teteh jaman muda duluuu.. Kasep nya… hehe

    1. Aduh, kalau begitu teteh cocok banget dengan Java Jazz ini… kemarin bahkan Gilang Ramadhan solo drum lho Teh… tangannya cepet banget menggebuk itu drum, Teh! Saya yang lihat langsung saja seperti tidak bisa lihat gerakannya :)).

    1. Line up artis mungkin Mas, yang tidak semewah tahun lalu. Terus malah lebih banyak artis pop juga yang manggung di sini, jazz-nya semakin sedikit :hehe.

  5. Tiket JJF gratis? Gratiiiisss??? Beruntunglah dirimu, Gara.
    Kalo menurut saya menikmati musik jazz itu perlu dapat feel dulu, levelnya lebih tinggi. Beda kaya dangdut yang bisa langsung buat joget hehehe.

    1. Itu kemarin malah ada tiket lebih lho kami Mas. Sampai bingung mau cari siapa lagi buat diajak nonton :hehe :peace.
      Iya Mas, lebih ke feel. Orang-orang yang menonton Benjamin Herman Quartet itu sih yang saya lihat sudah dapat banget feel jazz-nya :)).

  6. Ada yang bilang kalo jjf tahun ini lineupnya ga terlalu ngejazz gitu juga ke gw kemaren ini Gara. Makanya dia males lihat jauh jauh ke sana. Gw pernah denger dari temen kerja dulu yg kenal ama bosnya dyandra katanya jnf gak akan pernah dipindah ke bsd. Tapi gajtahu deh ya.

  7. Wah, aku nggak familiar sama jazz ini, tapi nggak tahu deh kalau suatu saat nanti dapat feel-nya :).
    Tapi jadi penasaran dengan selera musiknya Bli Gara ini, seaneh apa sih memangnya? Se-nggak terkenalnya band tertentu, pasti ada fans-nya juga walaupun cuma segelintir πŸ˜€

  8. aku ga nonton JJF tahun ini, dan denger-denger memang artis yang tampil tahun ini lebih banyak non jazz-nya. Oia, biasanya JJF hari Jumat memang ga seramai hari Sabtu atau Minggu. Efek masih pada kerja kali ya πŸ˜•

  9. TULUUUUS kok rambutnya ikal? *dilempar monitor*
    duhh terakhir nonton JJF itu tahun 2011 abis itu males πŸ˜€
    katanya yang hari sabtu crowded banget lho, jd kamu beruntung tuuh pas hari pertama sepi

  10. kantorku pas didpn JIExpo, jadi kedengeran dan tau lah ramai tidaknya suatu acara disana. jumat dan minggu benar-benar sepi seperti nga ada acara apa2, tp sabtu jangan ditanya. mau pulang ngantor aja sampai naik ojek krn jalannya macet bangat. beruntung dech dirimu ikutan yang jumat. hehehe

  11. tiap tahun teman2ku pada semangat beli tiket jauh2 hari, sampai pernah mereka putus asa ngajakin dan menawarkan free tiket; tetap nggak mau pergi karena nggak gitu senang terlalu rame2

    sekali-kalinya pergi nonton java jazz karena dipaksa menggunakan undangan gratis πŸ˜‰
    trus biasanya sih datang tapi khusus the Gospel According to Jazz di Minggu aja

    1. Iya memang ramai banget kemarin itu :hehe. Apalagi kalau yang manggung artis terkenal terus saat Super Show. Tapi pengalaman yang keren juga Mbak, bisa terlibat di perhelatan besar seperti ini. Terima kasih sudah berkunjung :)).

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?