Hakikat Pulang

Kenapa kita merantau? Apa artinya merantau?
Apa artinya pulang kampung, selain kembali ke rumah tempat dibesarkan?
Apa kalau kita merantau, itu artinya bebas merdeka? Kehidupan kita berpindah dari kampung ke kota?

Saya diganggu dengan pertanyaan-pertanyaan itu pada malam-malam pertama di kampung halaman, ketika saya mudik akhir tahun 2014. Jadi sebelum saya membuka buku baru, petualangan di kampung halaman, saya jadi ingin membahas sedikit soal apa sih hakikat kita pulang kampung? Apa hakikat merantau?

Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu muncul karena sebelumnya saya bertengkar hebat dengan orang tua akibat petualangan-petualangan kecil yang saya lakukan sendiri. Orang tua mungkin agak khawatir dengan kenyataan bahwa saya yang masih bocah ini pergi membolang sendiri ke tempat-tempat yang bagi mereka cukup jauh, dan ketika dikonfrontasi dengan saya, saya menjawabnya dengan cara yang… mungkin terlalu kekanak-kanakan dan menyusahkan semua orang.

Di perantauan, yang jelas semua keriuhan ini belum tentu ada.
Di perantauan, yang jelas semua keriuhan ini belum tentu ada.

Pertengkaran itu membuat saya memikirkan pertanyaan-pertanyaan di atas. Saya tidak akan bercerita soal pertengkarannya (kecuali diminta :haha), cerita itu sudah dibagi habis pada tiga sahabat terbaik saya, tapi di sini saya cuma mau membagi jawaban-jawabannya saja.

Merantau tidak berarti memindahkan hidup. Sejauh apa pun saya pergi, sejauh apa pun saya tinggal, rumah saya tetap di Mataram sana. Kehidupan saya tetap ada di tengah keluarga itu. Apa yang terjadi di sini, selama status saya masih “anak”, maka hidup saya ini pun masih ada di sana.

Kenapa? Soalnya saya tidak punya siapa-siapa yang bisa mencintai saya tanpa pamrih selain keluarga. Soalnya saya tidak punya terlalu banyak orang-orang yang peduli dengan saya, dan keluarga kecil saya itu menempati urutan teratas dengan persentase terbesar, kendati jumlahnya cuma empat orang. Sesederhana itu.

Saya akui, hidup merantau kadang membuat saya terlena. Terlalu terpana karena saya punya kehidupan saya sendiri, bebas dari awasan, peringatan, atau suruhan siapa-siapa. Semua saya lakukan sendiri, terserah saya mau melakukan apa. Terserah saya mau pergi ke mana.

Pada akhirnya semua kebebasan itu membuat saya jadi terlalu jumawa. Sombong karena bisa ke mana-mana sendiri. Ogah untuk diingatkan, karena sayalah yang tahu apa yang terbaik bagi saya. Gengsi untuk diberitahu, karena semua nasihat itu sudah saya anggap terlalu sering saya khatamkan, terlalu kenyang untuk dapat saya cerna.

Kalau sedang iseng, biasanya saya suka ambil foto random seperti ini.
Kalau sedang iseng, biasanya saya suka ambil foto random seperti ini.

Tapi bebas bukan berarti lepas seutuhnya. Benang merah bernama keluarga itu masih tetap ada, tak mungkin dan tak boleh terputus. Ibarat kata, bagaimana mungkin kau biarkan pecinta terbesar dirimu bertepuk sebelah tangan, hanya untuk mendapati dirimu bertepuk sebelah tangan juga? Bagaimana mungkin saya biarkan keluarga saya bertanya-tanya di mana keberadaan saya, ketika saya memutuskan mengecap bahagia yang sebenarnya akan terasa lebih manis kalau bersama keluarga?

Itu berarti jawaban kedua, yang saya dapat saat saya dinasihati (:p) oleh sang bapak.
“Terserah kamu mau ke mana, yang penting minta restu dulu sama orang tuamu.”

Ya… izin, sih. Meski kadang perizinan ini yang susah. Yah mirip-mirip perizinan di pemerintahan begitu, sebab semua orang tua pada dasarnya agak enggan melihat anaknya berpetualang sendiri (garis bawahi kata itu, ya), pada dunia luar yang sudah teruji kerasnya. Setidaknya dalam kasus saya begitu.

Tapi itu kan bukan berarti saya tidak bisa jalan-jalan, kan? Paling tidak saya mengerti kenapa. Misal, karena saya suka keluyuran bengong sendiri dengan pikiran kosong, sadar-sadar ternyata sudah ada di sini. Atau, karena mengorek-ngorek tanah di Kebun Raya, duduk sendiri bertopang dagu melamun sambil memikirkan entah apa. Itu kan bahaya sekali. Saya tak menyalahkan sih kalau orang tua saya jadi super duper khawatir :haha.

Jadinya, yang bisa saya lakukan ya, secara benarnya, membenahi otak sendiri sih. Kalau jalan jangan suka melamun. Jangan suka nyanyi-nyanyi sendiri kalau di atas kendaraan, jangan suka ngomong sendiri kalau di dekat monumen. Jangan suka… ketawa-ketawa sendiri. Lho, kok ini malah jadi membuka aib sendiri? :haha. Tapi ya demikianlah. Saya cuma mencoba untuk jujur pada diri saya sendiri dengan tulisan ini, kalau saya boleh menyitir Mas Ade Limaunipes. Kalau ada teman-teman di luar sana yang kebetulan agak tertawa lucu, atau simpati gara-gara ini, itu bonus :peace.

Kebetulan yang menyenangkannya adalah saya sudah mendapat sedikit pencerahan dari sahabat di Kota Yogyakarta dan Kota Batu soal bagaimana cara minta izin untuk jalan-jalan sendiri tanpa harus berbohong. Cuma trik untuk itu saya simpan dulu karena belum pernah saya coba dan uji kebenarannya. Semoga saja di Mei nanti berhasil. Ngomong-ngomong, kenapa saya baru ingat itu sekarang, ya? :haha.

Ngomong-ngomong soal teman, sebenarnya masalah ini sudah tertuang dalam jawaban ketiga yang masih datang dari ayah saya. Saat itu, setelah menghela napas dia melanjutkan, “Ya, sendiri juga nggak apa-apa, yang penting kamu yakin, meskipun sebenarnya kamu itu sebaiknya cari teman biar ada tempatmu berbagi, senang susah sama-sama.” Sebenarnya ada istilah Balinya buat klausa terakhir (senang susah sama-sama) itu, tapi saya lupa.

Buat yang terakhir ini saya tidak punya pembelaan. Karena memang saya yang salah, jalan sendiri tidak punya teman. Cari teman itu susah. Apalagi teman yang bisa diajak jalan (hm, kodekah ini?). Tapi saya senang karena akhir-akhir ini jalannya sudah mulai pakai teman. Apalagi kalau temannya ternyata satu dari teman-teman yang paling tahu bagaimana gilanya saya (artikan secara harfiah) kalau saya sudah kumat :hehe. Kita jadi bisa saling tahu dan saling mengingatkan.

Yah, jalan dengan teman memang paling afdol. Tapi jalan sendiri kan tidak harus jadi halangan?

Akhirnya saya berkesimpulan. Pulang bukan untuk lari dari pertanyaan. Karena di kampung halaman pun kita masih mesti mencari jawaban. Tentang rumah, tentang asal, tentang rantauan, tentang perjalanan. Tentang hidup dan kehidupan, yang tidak melulu terlokus di beberapa tempat.

Hidup sebagai pejalan dan perantau itu berarti rumah ada di kampung, di rantauan, dan di jalan antaranya. Jalan itu jangan dibawa susah, dijalani aja. Jalan aja kok repot? Kan cari senang, bukan cari ribut, jadi cari jalan yang bisa sama-sama senang, bukan yang satu jadi pemenang, sementara yang lain merasa jadi korban orang yang sewenang-wenang.

Paling tidak, dari semua kejadian absurd yang kalau saya lanjutkan akan membuat pembaca pasti menekan tombol (X) dengan senang hati itu, saya ada belajar. Ya iyalah. Memangnya orang yang suka bengong dan diam sendiri itu tidak belajar di dalam dunianya sendiri, apa? :hihi.

Meskipun-meskipun tulisan ini saya sendiri pada akhirnya kurang mengerti, tapi yah, inilah uneg-uneg saya. Setelah menulis ini, paling tidak saya sudah mulai tahu apa yang mesti saya lakukan. Sudah ada pencerahan.

Kadang-kadang saya mikir juga, sih. Pulang ya pulang saja. Jalan ya jalan saja. Kok susah banget. Kayak Lombok Jakarta itu jauhnya seperti bumi dan langit.

Maklum, sob. Tipe pemikir :haha. Repot banget memang kadang si Gara ini. Maklumi sajalah ya :haha.

Ujung-ujungnya, semua itu supaya kita bisa berdiri tegak, membusungkan dada, dan menatap yakin ke depan sana. Yosh.
Ujung-ujungnya, semua itu supaya kita bisa berdiri tegak, membusungkan dada, dan menatap yakin ke depan sana. Yosh.

Ayo jalan, teman! Kita mesti ke Nipah dan Senggigi! Dan masih banyak jurnal perjalanan yang belum saya tulis di sini :hoho. Semangat!

120 thoughts on “Hakikat Pulang

  1. garaaa, maaf yaaa.. tapi kata2 autis yang ga dipake semestinya itu termasuk bully word lhoh. mending diganti sama kata2 yang lain ya. biar ga menyinggung orang tua dengan anak2 berkebutuhan khusus, autis terutama.. maaf ya garaaaa πŸ˜€

        1. Iya dari Mataram :hehe. Resepnya kurang tahu Mbak, tapi kalau makannya sih tahu banget :hihi.
          Yang jelas resepnya pakai banyak cabai dan merica. Soalnya terasa sekali.

  2. Bli, mustinya pakai foto action figure-nya Gaara sekalian biar afdol πŸ˜€
    Satu-satunya tombok X yang kuklik tadi adalah untuk membatalkan translasi bahasa Indonesia ke bahasa Inggris untuk tulisan ini :D. Maklum pakai Chrome.

    Sebagai mantan perantau (padahal masih 1 provinsi) yang sekarang jadi anak rumahan, kurang lebih aku mengerti masalah ‘Hakikat Pulang’ ini. Awal-awal harus berdiam di rumah itu rasanya menyiksa. Ke mana-mana harus ada alasan yang jelas, padahal selama jadi anak kos mah terserah mau ke mana (ckck) biar sendirian sekalipun.
    Huah, jadi pengen jalan-jalan!

    1. Demikianlah, Mi. Kadang kita pingin banget buat bebas, sampai bisa jadi sumber keributan. Tapi ya memang harusnya minta izin sih. Biar kata susah ya mesti minta izin :hehe.

      1. Benar, Bli, izin itu memang wajib. Mungkin terasa susah, tapi dengan mengantongi izin itu rasanya perjalanan jadi jauh dari was-was (or is it just me?) πŸ™‚

        1. No, it’s not just you. Saya pun begitu. Kalau pergi jauh terus tanpa izin, selain ada takut muncul entah dari mana, selalu saja ada masalah. Selalu.
          Makanya izin itu jadi keharusan sangat… :hehe.

  3. Rasanya dirimu punya akar yang kuat sekali Gar. Jadi selama masih inget akar itu gak masalah ya mau bertualang sejauh apapun. Wajar lah ya orang tua selalu akan khawatir untuk anak-anaknya dan syukurlah sudah bertemu dengan teman-teman yang baik Gar.:)

    1. Home is where the heart is mungkin ya Mas. Lagipula kadang agak bersalah juga dengan orang tua kalau bertengkar terhadap hal-hal seperti ini. Atau mungkin sayanya juga yang telat besar jadi niat berontaknya baru sekarang :haha.

  4. Kalau saya, walau senang jalan-jalan akan kuatir juga kalau anaknya jalan sendirian Gara. Pikiran buruk selalu menhantui soalnya, jangan-jangan dia kenapa-napa nanti. Jadi kalau orang tua gara kuatir anaknya pergi bertualang dimaklumi saja. Kayaknya semua orang begitu deh..Kalau gak kuatir baru boleh dipertanyakan hehehe…

    1. Iya ya, tinggal kitanya juga sebagai anak yang menenangkan orang tua supaya semua pihak bisa sama-sama tenang (meski orang tua kayaknya susah tenang kalau anaknya ada di luar rumah ya Mbak :hehe).

    1. Sama bangetlah, ortuku juga khawatir. Tapi mungkin kalau aku jadi ortu juga lebih-lebih kali ya khawatirnya :haha.
      Masih banget! Yuk yuk, kita jejaprian ya :)).

  5. action figurnya mestinya yang Gara nih πŸ˜€
    sejauh apapun bepergian, pada akhirnya akan pulang kembali.
    Orangtua khawatir wajar….merekakan sayang dengan anak-anaknya.
    Syukurlah kalau sudah menemukan teman-teman yang bisa saling mengerti Gara πŸ™‚

  6. Mungkin “pulang” adalah anugerah yang sebenarnya wajib disyukuri, di mana kita bisa bertemu dengan keluarga, khususnya orang tua. Di mana kita bisa bercerita apapun tentang aktifitas di perantauan, yang siapa tau orang tua dengan bangga menceritakan kembali kepada teman-temannya. Mungkin “pulang” juga bentuk bakti kepada ibu, memberi kesempatan untuk bisa kembali mencium bau keringat anaknya.. πŸ˜€

    ah, aku sudah enggak ada tempat pulang…

  7. Buatku simple. Merantau, supaya ada alasan buat pulang.. Hahaha..
    Soal jalan sendiri, aku juga senang jalan sendiri. Soalnya, susah menyatukan isi kepala, kalau jalannya bareng2, meskipun sama saudara sendiri. Aku suka berjalan – jalan ngawur, yang lain suka belanja. Ya, ngga bisa ketemu. However, kuharap suatu saat ketemu ‘partner’ jalan yang bisa ngerti saat2 aku ngawur.. Hahahah…

      1. Iya yakin, karena saya pengen sesekali keluar dari zona nyaman saya kak Gara. Tapi jangan lama2 juga jauh dari ortu, saya nggak bisa hidup lama2 tanpa masakan ibu ehehehe ._.

        1. Traveling! Tidak terlalu lama (bisa tekor kalau lama-lama), tapi bisa dapat pengalaman bagaimana hidup jauh dari orang tua dan rumah :hehe (sebar racun traveling).

          1. Iya kak Gara benar, saya sudah menabung sebulan terakhir, rencana traveling sudah ada, tinggal menunggu restu dari orang tua saja heuheu. Terima kasih kak sarannya. πŸ™‚

  8. Ga, aku baca ini jadi inget 127 hours, udah nonton blm?
    Tu bocah petualang yg akhirnya dpt pelajaran ttg nilai keluarga saat terjebak di bebatuan canyon tak bertuan. Keluarga pasti khawatir, tapi beri pengertian dan pembuktian kalo km bisa dipercaya, InsyaAllah mereka akan “melepasmu” utk mencari “petualangan”.
    Met mbolang Gara!

    1. Ya, sekarang tinggal memberi pengertian dan pembuktian kalau saya bisa. Sebenarnya orang tua seperti itu sih, cuma sayanya yang kadang masih belum begitu bisa dilepas Mbak :hoho.
      I will try to find the movie. Thank you Mbak!

    1. Banget banget :)).
      Tapi kalau sebulan atau setahun, mesti rela resign mungkin ya Mbak. Atau cuti besar :hoho. Saya punya rencana seminggu sih, dan belum ke negeri orang juga. Itu liburan ya namanya :hihi.

  9. Iya pada akhirnya keluarga juga tempat peraduan kita yang terakhir. Ga enaknya merantau tuh berasa pas kita lagi sakit. Huhuhu….semoga sehat terus diperantauan ya Gar

    1. Iya Mbak, nggak enak banget banget. Apa-apa sendiri. Biar demam juga keluarnya sendiri. Doh, merananya :huhu.
      Iya, semoga sehat selalu. Orang tua juga sebenarnya tidak minta macam-macam, kecuali saya selalu sehat di tanah orang ini :)).

  10. All the WHYs above, jawabannya bakal kamu dapetin kelak setelah menjadi orang tua, bahahaha. Saya juga dulu sering mikir gitu, tp setelah jadi orang tua, I totally get their way of thinking. Matter fact, saya bisa jadi lebih strict pada anak daripada ortu saya sndiri pada saya. hihi

    1. Ya, kalau sudah jadi orang tua pasti rasa khawatir kalau anak ke mana-mana dan kenapa-napa itu sejuta kali tumbuhnya ya Mbak :hehe.
      Saya mesti mengerti itu, nih, jadi tidak main kesal seperti anak remaja kalau dimarah orang tua :hehe.

  11. Seperti kata kak Windy Ariestanty, perjalanan itu proses menuju pulang. Saya setuju, terutama setelah membaca tulisan yang kontemplatif ini. Keluarga adalah pecinta, pendukung, penyayang tanpa pamrih untuk anak-anaknya πŸ™‚

    1. Saya sih cuma jujur dan minta izin saja :hehe. Yep, Senggigi dan Nipah Lombok. Cerita perjalanan setelah ini akan berkisar di kampung halaman saya :)).

  12. Galau gak bisa nulis? Eh tahu2 muncul kontemplasi seperti ini.
    Ijin ortu nomor satu buatku Gar. Kalau Ibu dah bilang gak, aku gak akan lakukan sama sekali. Tp beliau msh bisa aku ajak omong. Seperti apa seperti apanya. Berasa Gar kalau tanpa ijin ortu. Jalannya pun gak tenang.

    Perjalanan hidup ini memang perjalanan menemukan rumah kok Gar. Kita kan menemukannya pada akhirnya nanti.

    1. Wah, galau karena tidak bisa menulisnya bukan berproduk di sini Mas. Tapi di postingan kesebelas setelah postingan ini :haha. Mungkin publishnya baru lama setelah ini :hehe, ini saya sedang berusaha mencicil sedikit demi sedikit :hoho. Wish me luck!

  13. jadi apa trik biar dibolehin ortu mas? penasaran hahaha….
    alhamdulillah smp sekarang selalu dibolehin kemana aja, asal bukan naik gunung -_-
    takut anak yg paling ganteng ini ilang katanya…
    padahal sma aku anak pramuka yg suka kamping ke hutan, ke mana aja :p

    asik kalo pulang pesawatnya sekali yah cgk-lop …
    aku mah 2x pesawat mas hahaha…

    1. Sejauh ini belum ada trik khusus Mas. Cuma ada cara dari teman untuk mengakali itu :haha. Semoga bisa.
      Wuih, saya juga kalau naik gunung entah deh izinnya bakal seperti apa Mas :haha.
      Alhamdulilah Mas bisa langsung CGK-LOP. Wew, 2x pesawat itu pastinya melelahkan.

      1. nah itu, apa triknya?!
        defaultnya srg/soc/jog >> cgk >> jbi tapi sekarang bisa sekali jalan lewat palembang, nah…kalo lewat palembang lebih mahal ongkos daratnya… 250 sekali jalan ke bangko tempat saya sekarang..

        1. Pakai alasan kantor sih Mas :malu.
          Waduh, Mas ada di Bangko? Seingat saya ada teman angkatan saya juga penempatan di sana… cuma saya lupa siapa :)).

  14. Mataram di Lombok kah, Gar? πŸ˜€

    Aku jugak ngebet banget pengen merantau nih. Uda terlalu nyaman dengan kehidupan Medan dan uda diusir jugak sih. Hahah.. Mumpung masih muda, jadi ada pengalaman.. πŸ˜› *alesan doank* *padahal karena kangen Febri* *eh*

  15. ada saatnya pergi, ada saatnya pulang. kemanapun pergi, jangan sampai lupa jalan pulang. aapun dan bagaimanapun kita di dunia ini, jangan sampai lupa kemana seayngguhnya kita kan berpulang

  16. Saya sedang serius membaca ketika tiba-tiba naruto muncul dan membuat saya geli karena out of the blue dia muncul dan tergeletak pasrah. Tapi kedatangan naruto ternyata bukan tanpa sebab dan arti..

    Kak Gara memang super sekali. Maaf ya helmnya jd ga muat lagi :p

    Saya suka tulisan ini. Mengilhami anak perantauan.. :’)

  17. dear Gara,
    tulisan ini inspiratif banget… jadi ikutan kasih komen deh.
    Baik ayah maupun ibu saya sejak usia 12 tahun sudah terpisah kota dari kedua orangtuanya masing-masing. Saya juga ga beda jauh dengan mereka (haha mereka yang pergi keluar kota, saya yang di homebase). Tetapi dari situ saya belajar, -seperti yang kamu bilang-, home is where the heart is. Dimana pun, siapapun (pastinya diantaranya adalah keluarga), kapanpun saya bisa merasa pulang, merasa at home. And you know where my 2nd home is haha…

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?