Ekstrakurikuler: Berkebun

Pulang ke Lombok, saya berharap bisa menyelesaikan beberapa objek wisata yang belum sempat saya tuntaskan dalam beberapa kunjungan sebelumnya (baca: Tiu Kelep, Tiu Teja, Tiu Pupus, ketiganya adalah air terjun yang ada di Kabupaten Lombok Utara, atau Benang Kelambu serta Benang Stokel, keduanya adalah air terjun juga, ada di Kabupaten Lombok Tengah). Tapi apa daya, orang tua berkata lain.

Si putri yang melarikan diri: Sendang Gila.
Oh, sebenarnya saya sedang ingin ke air terjun lagi…

Saya diembargo jalan-jalan. Sebabnya ya kecelakaan dua minggu silam.

“Jangan ke mana-mana dulu Gar,” ibu saya bertitah. Tegas. “Paling tidak sampai trauma Ibu hilang,” begitu kata Ibu. “Lukamu kan juga belum sembuh? Memangnya kamu tidak capek, apa? Kamu tahu, nyawa Ibu itu rasanya hilang setengah waktu melihat luka-lukamu itu…”

Saya mencoba ngeles, “Ya itu artinya kan kita semua sudah punya pengalaman jatuh dari motor?” Saya diam sebentar sebelum menambahkan, “Kayaknya yang butuh acara ngulapin itu Ibu deh, bukan saya. Hehe…”

Langsung malaslah diri ini rasanya untuk melakukan sesuatu ketika menerima kenyataan seperti itu :huhu. Semua janji untuk mengunjungi tempat-tempat wisata itu langsung saya batalkan dengan banyak permintaan maaf dan ketabahan karena mereka pastilah akan tertawa terbahak-bahak melihat saya tidak bisa pergi karena alasan yang sangat klasik dan sangat anak SD banget: nggak diizinin.

Ya Tuhan, padahal umur sudah dua puluh sekian…

Tapi mengingat kecelakaan kemarin kejadian juga karena saya yang alpa izin ke orang tua, mau tidak mau saya mesti menerima sih… ya tapi kalau sudah namanya musibah, izin tidak izin kan akan tetap kecelakaan juga? (Tipe orang yang masih bandel dan mencari pembenaran meskipun sudah tahu kalau dirinya jelas-jelas salah abaikanlah yang satu ini).

Terancam mati bosan di rumah dengan kegiatan yang sama sekali tidak ada, akhirnya saya disuruh Ibu untuk ikut Bapak saja ke sekolahan tempat Bapak mengajar buat membantu-bantu memetik bunga, atau mengambil beberapa foto, berhubung katanya saya suka foto.

Sebenarnya awalnya agak enggan sih, saya sedang tidak mood jadi petani bunga, tapi mau isi waktu dengan makan dan tidur juga malas banget. Ya sudahlah, saya iyakan saja, dapat kesempatan keluar rumah tentu tidak boleh disia-siakan (saya jadi kelihatan seperti dipingit, kalau begini kejadiannya).

Mari, saya ceritakan sedikit tentang kegiatan memetik bunga ini. Kebetulan di sekolahan tempat Bapak bekerja ada lahan tidur, dan Bapak memanfaatkan itu untuk menanam buah-buahan seperti pepaya dan pisang yang hasilnya dibagi-bagi ke para guru untuk dibawa pulang atau digunakan dalam acara yang diadakan sekolah.

Nah, sebagai gantinya, Bapak menanam bunga pancar galuh (pacar air, Impatiens balsamina L.) yang hasilnya bisa dijual ke pedagang canang (sarana upacara umat Hindu, ini sinekdoke pars pro toto, hati-hati) yang menggunakan bunga pacar air sebagai isian mayoritas di perlengkapan upacara yang dijualnya.

Bertani bunga sudah jadi pekerjaan sampingan Bapak dan Ibu sejak kami masih kecil-kecil. Yah, gaji guru SMP dulu tidak seberapa banyak, apalagi di masa belum ada tunjangan sertifikasi seperti sekarang. Oleh karenanya, pekerjaan sampingan dibutuhkan banget.

Kira-kira pancar galuh itu punya bunga seperti ini.
Kira-kira pancar galuh itu punya bunga seperti ini.

Harga jual bunga pancar galuh memang tidak mahal, satu tas kresek tanggung dijual Rp10k, tapi hasil panen bunga ini lumayan juga buat menambah-nambah penghasilan keluarga :hehe. Sekali panen di empat bedengan bisa dapat lima sampai tujuh tas, dan dalam seminggu bisa dua sampai tiga kali panen untuk beberapa minggu ke depan. Lumayan banget kan penghasilannya dalam waktu sebulan?

Selain hasilnya bisa dimanfaatkan pihak sekolah, ternyata hobi Bapak ini jadi peluang juga di sekolah buat anak-anak didik menyalurkan minatnya dalam hal berkebun dalam satu kegiatan ekstrakurikuler. Satu hal yang awalnya tidak saya percayai masih ada di benak anak-anak zaman sekarang (maksud saya, siapa sih anak-anak yang akrab dengan WhatsApp, Facebook, Twitter, Instagram yang masih mau mengayun-ayun cangkul, menyiram-nyiram anggrek, dan memetik-metik bunga sebagai kegemaran, apalagi dijadikan ekskul), tapi ketika saya datang ke sana, saya jadi malu sendiri.

Selamat datang di Pondok Anggrek!
Selamat datang di Pondok Anggrek!

Yang pertama adalah bahwa lahan tidur yang terakhir saya ke sana pas libur sekolah kemarin tidak tertata dan tidak rapi karena lahan seluas empat atau lima are itu cuma digarap Bapak sendirian, kemarin sudah rapi, sudah ada pondok anggrek dengan beberapa baris pot-pot tanaman dendrobium itu tergantung di bawah paranet, menjadikan mereka terlindung dari sinar matahari langsung yang ganas. Ketika saya bertanya pada Bapak, siapa yang menanam semua ini, Bapak bilang kalau itu hasil dari sumbangan siswa baru saat Masa Orientasi Siswa kemarin.

Deretan pot-pot anggrek.
Deretan pot-pot anggrek.

Satu dari anggrek-anggrek itu mekar dengan sangat cantiknya, membelakangi matahari sore, sementara beberapa bunga anggrek yang sudah berbunga lebih dulu mulai melayu karena masa hidupnya sudah akan berakhir, siap diganti dengan bunga yang lebih baru.

Bunga anggrek yang mekar, cantik sekali.
Bunga anggrek yang mekar, cantik sekali.
Sementara yang satu ini melayu, sudah mulai habis masa segarnya.
Sementara yang satu ini melayu, sudah mulai habis masa segarnya.

Dua, lahan yang ada di sana sudah jauh lebih rapi. Pohon pisang berderet, beberapa di antaranya mulai berbuah, di bawahnya ada rumpun serai ditanam sebagai bentuk sistem tumpang sari. Di bagian depan ada deretan tiang beton dengan ban-ban motor bekas tersangga rangka besi di bagian atas, ciri khas kalau di sana akan ditanam buah naga. Pisang-pisang hias dengan jantung pisang pink cantik ada di sela-selanya, ada juga pepaya yang berbatang pendek tapi buahnya banyak dan besar-besar (soal rasa jangan ditanya, manis sekali dan pepaya ini jenis yang tanpa biji).

Deretan pohon pisang!
Deretan pohon pisang!
Satu di antara mereka sudah berbuah.
Satu di antara mereka sudah berbuah.
Deretan tiang yang akan disiapkan untuk buah naga.
Deretan tiang yang akan disiapkan untuk buah naga.
Pepaya dengan buahnya yang gemuk-gemuk.
Pepaya dengan buahnya yang gemuk-gemuk.

Ada juga rumpun bunga ratna (bunga kenop, Gomphrena globosa) dan persemaian bunga gumitir (Mexican marigold, Taretes erecta) di bagian belakang sana, tersebar, sebagai ancang-ancang Bapak untuk menjadikan lahan ini berwarna warni, dengan ungu cerah bunga ratna, kuning gemitir, merah putih ungu bunga pancar galuh, vermilion dari bougenvil, dan hijau daun-daun lainnya, diselingi pink pisang hias.

Bunga ratna yang cantik!
Bunga ratna yang cantik!
Bugenvil dengan warna merah muda lucu.
Bugenvil dengan warna merah muda lucu.

Saya mencoba menutup telinga kalau Bapak mau buka bisnis dekorasi karena Bapak paling tidak bisa bisnis tralala….

Di tengah-tengah, baris-baris tanaman cabai rawit dengan buah yang banyak dan rimbun berwarna hijau muda menunggu matang, sementara selang-seling dengan itu, bedengan-bedengan tanaman pacar air membentuk rumpun panjang dengan bunganya yang gempuk dan berwarna-warni cerah, yang selanjutnya akan dipetik oleh…

Rumpun cabai segar. Bisa dimakan langsung, silakan!
Rumpun cabai segar. Bisa dimakan langsung, silakan!
Bedengan bunga pancar galuh.
Bedengan bunga pancar galuh.

Serombongan siswa-siswi yang baru saja datang dengan beberapa motor, mulai bersiap-siap mencari posisi dan alat-alat pertanian yang biasa mereka gunakan. Para siswi memetik bunga dan cabai yang merah, sementara para siswanya mencangkul tanah baru di sebelah barat daya yang akan dijadikan taman serupa (iya, mereka berencana memperluas lahan ini).

Saya jadi malu. Saya salah. Di kota seperti Mataram ternyata masih ada anak-anak yang meski obrolannya soal media sosial dan segala macam, masih rela mengayunkan cangkul untuk membuat alam sekitar jadi lebih hijau. Sementara saya sendiri kadang masih ogah-ogahan kalau disuruh memetik bunga, entah karena alasannya capek, tak sepadan dengan hasil yang dikeluarkan (dengan lahan segitu besar kita harus membungkuk-bungkuk dari ujung ke ujung untuk memetik dan kadang hasilnya cuma beberapa tas kresek kalau kebetulan lagi sial, belum lagi godaan nyamuk dan lumpur dan segala macam oh Tuhan).

Menyiram bugenvil.
Menyiram bugenvil.

Rasanya saya cuma melihat dari sisi sialnya saja, padahal masih banyak sisi menyenangkan dari sebuah pekerjaan jikalau kita mau melihat sisi baiknya itu. Yah, contohnya saja mereka. Mereka juga mengeluh, panas atau segala macam, tapi saya juga melihat kalau mereka melakukan kegiatan itu sambil tertawa-tawa, bercerita dengan sesama tentang apa saja sembari tangan juga bekerja memasukkan bunga ke dalam ember dan selanjutnya ke tas kresek. Sedikit demi sedikit, ember penuh, bedengan pun habis dipetiki dalam waktu singkat!

Saya juga begitu, sih teteup tidak mau kalah :haha. Berbekal sebuah gembor saya menyiram rumpun-rumpun bogenvil yang bunganya lebat dan cantik sekali akibat terkena sinar matahari yang kaya (sambil berusaha mengambil foto yang bagus sih buat dimasukkan ke blog, habis agak nelangsa rasanya tidak punya bahan cerita *padahal yang kemarin juga belum ditulis kan? :haha).

Menyiram persemaian gumitir.
Menyiram persemaian gumitir.

Banyak pelajaran yang saya ambil di pengalaman kemarin. Yang paling menonjol tentu saja soal bagaimana menikmati setiap keadaan dalam setiap situasi. Meski belum bisa berkunjung ke berbagai tempat wisata, bukan berarti tidak bisa mengisi jurnal perjalanan, kan :hehe. Saya dulu menganggap kalau catatan perjalanan kudu pasti berisi telaah mati soal budaya, sejarah, tempat wisata, pemandangan yang menakjubkan. Anggapan itu tidak salah, tapi saya rasa saya bisa menambahkan satu lagi:

Perjalanan adalah bagaimana soal menghabiskan waktu yang terus berjalan dengan pelajaran dan pemahaman baru.Β  Karena catatan perjalanan yang sejati adalah soal perjalanan waktu, kan?

Deretan pisang hias.
Deretan pisang hias.
Jantung pisang hias warna merah muda.
Jantung pisang hias warna merah muda.

Di akhir hari, ketika semua anak sudah pulang dan Bapak masih memanen sereh (untuk yang satu ini saya belum bisa bantu), berkas-berkas oranye yang memantul dari dinding rumah sakit baru di timur sana membuat saya memalingkan kepala ke arah barat dan menjepret beberapa gambar ini.

Hari pun ditutup dengan sangat gemilang.
Hari pun ditutup dengan sangat gemilang.

Agaknya Tuhan menyiapkan satu senja indah untuk saya tangkap via lensa kamera. Senja itu seolah berkata:

“Kadang tidak harus ke mana-mana untuk mendapatkan makna.”

Sekali lagi, saya kalah dari Ibuk :haha.

46 thoughts on “Ekstrakurikuler: Berkebun

  1. Wahh… bunga cacar air ini banyak banget dirumah tetangga saya yang penjual bunga mas, dulu waktu kecil suka banget mecahin biji tanamannya. Biji tanaman yang sudah masak biasanya cuma sedikit centikan langsung pecah. Anyway, get well soon ya mas…

    1. Iya Mas, kalau sudah masak disentuh saja bisa langsung pecah buahnya :hehe. Terima kasih Mas, saya sudah sehat, memang ibuk saya saja yang masih khawatir :hehe.

  2. Gar, kebunnya cantik banget!!! Mata udah ijo lihat kebun yang dirawat Bapakmu itu. Omong-omong butuh asisten nggak buat merawatnya? *sodor CV* πŸ˜€ πŸ˜€
    Baru tahu kalau bunga pancar galunya dibuat sebagai isian perlengkapan upacara, kalau di sini biasanya nemu di taman tertentu di pinggir jalan hehe

    1. Asisten selalu diterima dengan tangan terbuka Mas :haha, yang jelas bisa disuruh mencangkul dan memetik bunga sampai lewat matahari terbenam :hihi.
      Iya, di Lombok sini kebanyakan malah memakai bunga pancar galuh, soalnya berwarna-warni dan membuat canang serta kelengkapan lain lebih berisi :)).

  3. Berkebun itu juga membuat seseorang menajdi sabar..itu kata Bapakku, mulai dari menanam, memupuk hingga akhirnya tunggu tanaman tumbuh..nah, aku itu gak bisa berkebun, mungkin karena gak sabaran πŸ˜€ – sekali lagi salut dengan tulisanmu..Apakah sudah sembuh sekarang?

    1. Sudah sembuh Mbak, terima kasih ya :hehe. Cuma memang orang tua masih agak khawatir (dan kemarin saya coba naik motor jarak jauh kadang masih suka meleng matanya :hehe (kemarin hampir nyeruduk mobil di Leuwiliang :haha). Mungkin masih butuh banyak istirahat dulu deh :hehe.

  4. ngga papa toh, sekali2 dengarin orang tua.. berkebun, bisa jadi stress relief juga lho, Gara.. Aku disini coba2 nanam bunga.. Tapi, dasar ngga bakat.. Ngga pernah berbunga, tanaman yang aku tanam. Tetangga sebelah yang nanamnya sama, malah bunganya sudah bermekaran.. hehhehee

    1. Iya Mbak, melihat yang hijau-hijau jadi bikin segar dan bahagia :hehe. Untuk yang satu ini memang saya mesti mendengarkan orang tua deh, takut kualat terus kejadiannya lagi lebih besar :hehe.

  5. Aku baru tau bunga ratna yang seperti itu, cantik ya. Foto-foto lainnya juga sangat keren. Ternyata berkebun bisa jadi kegiatan yang sangat menyenangkan. Salut buat papanya Gara, bisa bikin ekstrakurikuler yang unik dan bermanfaat. πŸ™‚

    1. Kalau ditekuni, jadinya pasti menyenangkan :hehe. Bunga ratna juga bisa dipakai sebagai obat, kalau saya tak salah :)). Terima kasih banyak! Ekskul berkebun, saya jadi ingat ekskul-ekskul serupa di Jepang, yang suka saya baca di komik-komik :hehe.

  6. Melihat foto-fotomu yang ada pohon pisangnya itu Gar, melempar saya ke masa lalu, sepertinya saya kenal tempat itu (sepertinya. alias cuma perasaan saja, angan-angan palsu :). Barangkali gara-gara tempat yang terlihat adem ya, rasanya nyaman dilihat.

    Jantung pisang yang itu, warnanya kayak hatiku *ihik*

    Habis ini Gara jadi ahli biologi, kudu apal semua nama latin spesies bunga-bunga bapaknya. πŸ˜€

    1. Iya Mbak, air terjun di Lombok memang unik-unik, yang itu namanya Sendanggila, di atasnya ada lagi namanya Tiu Kelep, lebih unik lagi bentuknya, bukan air terjun biasa :hehe. Semoga saya bisa ke sana di kunjungan selanjutnya :haha.

  7. Bunga Pancar Galuh toh namanya. Tahunya mah itu cuma mletekin bijinya doang pas sekolah dulu Gar. Sepanjang jalan ke sekolah banyak banget tuh. Suka petik, tek, buang. *jangan ditiru*.

    Ayo Gar… berkebun. Itu bagus2 banget. Buah Naganya kalau udah, kabarin ya. maulah yang mateng n manis

  8. “Alasan yang sangat klasik dan sangat anak SD banget: nggak diizinin”
    wahahah kita mah sama aa mas bro, ane juga kayak gitu. Udah minta ijin buat piknik ke pantai yang jaraknya cuman 6 jam dari Banjarmasin juga gak di bolehin. Alasan ini itu lah macem macem, padahal umur sudah 20++ muka juga udah kayak bapa bapa 2 anak, tetap juga gak di bolehin…..

  9. Wuaaaaah keren Gar bapaknya. Beliau punya tangan yang hangat yang bisa membuat tanaman tumbuh subur. Kasih dukungan dong Gar buat bisnisnya, jangan malah tutup telinga lalala. Buatkan akun medsosnya, coba infokan bagaimana berbisnis yang benar di masa internet ini. Siapa tahu kan ya. πŸ˜€

    1. Ah iya, selain lahan yang sudah jadi subur, ayah saya memang mungkin punya bakat bercocok tanam Mbak :hihi.
      Wah, menarik sekali vertical garden! Mudah-mudahan kesampaian Mbak :hehe.
      Terima kasih sudah mampir!

  10. Walau sempat dikekang Ibu, tapi akhirnya berkebun gak kalah menyenangkan dari berwisata ke air terjun kan, mas? Ibu memang selalu punya cara untuk membahagiakan anaknya. Hehe.

  11. Oh ternyata kamu kecelakaan toh? Sudah sehatkah sekarang? Mendoakan cepet pulih yaaaa.

    Anw aku baru tau itu namanya bunga Pancar Galuh πŸ™‚ menurutku yaaa, memang kita tuh mesti pinter2 memanfaatkan apa saja deni kebaikan. Ayahanda nanam bunga selain untuk tambah2 keuangan keluarga juga menghijaukan bumi lho dan mempermudah orang yang akan beribadah. Selain soal uang, efek kebaikan ini lebih luar biasa πŸ™‚ pada dasarnya kita sebaiknya jadi orang yang mendatangkan kebaikan buat orang lain πŸ™‚ hehehe.

    Btw, kamu udah tau blogku yang emak-emak belom ya? Mampir ke ekalahi. WordPress.com kalo kamuh ada waktu yaaaaa

  12. Bapakmu hebat Gar, lahan kosong bisa disulap jadi warna warni. Udah berbisnis tanaman aja, mata segar lihat warna-warni, hehe.. Ak mah sukanya nanem aja, udah hidup dicuekin jadilah nggak terawat πŸ˜€

    1. Beliau memang berpengalaman di dalam hal berkebun sih Mbak kalau kata saya :hehe. Sama Mbak, saya juga kalau lagi suka menanam ya sepintas saja, lebihnya tak terurus :haha.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?