Dua Empat Lima: Bagian 1

Intermezzo: Cerita Keumamah
“Ikan yang kamu makan itu,” kata Pak Dayat, “adalah hidangan yang membuat Cut Nyak Dien dan Teuku Umar, pejuang-pejuang Aceh di zaman Belanda dulu bisa bertahan hidup di hutan selama berbulan-bulan. Ikan asli Aceh itu, Keumamah ini, tidak ada di tempat lain.”

Saya yang pada awalnya mengira bahwa ikan cincang kasar berbumbu santan encer ini sama dengan hidangan serupa di rumah saya, langsung terdiam. “Oh ya?” Seketika santapan semangat saya terhenti. Kerat-keratan penghuni samudra itu pun menjadi korban penelitian tatapan sepasang mata ini.

20141111_072832

Ketika itu, malam menyenangkan dengan Samudra Indonesia telah usai, pagi pun sudah tiba dan kami berlima sedang menyantap hidangan di pelataran depan hotel yang berhadapan dengan tempat parkir. Awalnya tak ada yang benar-benar spesial dengan santap pagi itu, saya melabeli hidangan pagi itu sebagai HS alias hidangan sederhana. Ikan suwir kasar berbumbu kuning dalam kuah santan encer, tempe goreng tepung, bihun goreng dengan banyak minyak, sambal, dan krupuk. Biasanya menu-menu sedemikian kurang begitu masuk di selera saya. Tapi kebetulan ada ikan itu, kebetulan saya juga saat itu sedang lapar (saya butuh makan banyak kalau lapar), jadi saya embat saja yang banyak :haha. Hitung-hitung karena (hampir) sama rupa (dan rasa) dengan masakan rumah, tanpa tahu apa dan bagaimana sejarah di balik ikan itu.

Jadi ketika saya mendengar Pak Dayat bercerita sedemikian, saya pun langsung jadi penasaran. Saya tanya-tanyalah bagaimana dan apa cerita di balik olahan ikan sedemikian ini. Menurut Pak Dayat, keumamah bukanlah nama ikan. Tapi cara orang Aceh untuk mengolah ikan, tepatnya ikan tongkol (yang entah kenapa mirip dengan ikan tuna sampai-sampai sempat saya mengira kalau “tongkol” di Aceh dan “tongkol” di daerah asal saya berbeda) dengan cara diasapi dan dijemur hingga kering, sangat kering, sangat-sangat-sangat-sangat-sangat kering, selama beberapa hari penjemuran sampai-sampai ikannya jadi membatu. Membatu karena sedemikian keringnya. Karena membatu, jelas saja, daya simpannya jadi sangat lama. Sampai berbulan-bulan, bahkan ada yang mencapai tahunan. Oleh karena itulah, model hidangan ini sangat digemari oleh para pejuang Perang Aceh yang harus bergerilya di gunung dan hutan yang jauh dari pesisir dan sumber makanan. Bayangkan kalau delapan bulan berada di tengah hutan dan tak ada hidangan yang tahan lama dan bergizi seperti ini. Mau makan apa?

Cara mengolah keumamah ini juga unik. Saking kerasnya, ikan ini tidak bisa diiris seperti memotong sushi (atau mengiris hati yang luka eciye). Melainkan ikan ini harus dikerat sedikit demi sedikit. Seperti mengerat kayu (sebab yang sama menjadikan ikan ini dijuluki “ikan kayu”). Setelah keratan-keratan kasar didapat (keratannya juga sepintas mirip keratan kayu), barulah direbus dan dibumbui sehingga menjadi lunak dan siap disantap. Bumbu olahannya bermacam-macam, dan setiap olahan punya namanya sendiri-sendiri. Salah satu jenis bumbu olahannya ya seperti yang kami santap ini: bumbu kuning kunyit dengan santan encer. Sayang, secara partikular saya tak sempat bertanya ini olahan keumamah yang bagaimana kepada Pak Dayat.

Rasanya? Enyaaak~. Ikannya sama sekali tidak keras. Tidak ada tercium bau asap. Tidak pula asin, karena pengasapannya tidak menggunakan garam (mulanya saya menganggap semua jenis pengawetan ikan mesti menggunakan garam). Cita rasa ikannya benar-benar terasa. Tapi kalau saya boleh ngeyel sedikit, dari rasanya, ini ikan tuna. Tuna Cakalang, kalau orang Bali bilang. Makanya saya agak heran ketika dikatakan ini ikan tongkol. Ah, jadi bingung. Tapi sudahlah. Yang jelas, koki hotel ini memang asli Aceh kali ya, makanya mengolah ikannya jadi jos banget dan cita rasa lokalnya benar-benar terkecap sempurna di lidah ini :hehe.

Dan ternyata, ikan ini tidak hanya berakhir sebagai makanan gerilyawan/gerilyawati di masa perang. Di kalangan orang Aceh, makanan ini sangat terkenal. Bahkan, para perantau Aceh di daerah yang jauh pun rela repot-repot membawa keumamah berjauh-jauh menuju tanah rantauan. Seakan makanan menjadi penebus rindu, pengingat dengan kampung halaman. Sebagai sesama perantau saya juga setuju. Intinya, raga boleh jauh dari rumah. Tapi rasa makanan rumah boleh dong, dibawa ke tanah rantau? Mungkin saya boleh kali ya, membawa makanan khas dari Lombok kalau saya pulang Natal nanti :hehe.

Setengah delapan pagi, makan pagi resmi selesai. Kami kini akan menempuh inti dari perjalanan Aceh yang benar-benar membuat darah saya berdesir hanya dengan membayangkannya: Dua ratus empat puluh lima kilometer Meulaboh–Banda Aceh.

Bagi kalian pembaca yang berasal dari Aceh, perjalanan yang saya lalui ini mungkin amat sangat biasa (sebagaimana saya memandang sebelah mata orang-orang yang terlalu excited keliling Lombok dan Bali dengan, “Heh, yang benar?”), dan saya menghormati pandangan sedemikian, tapi bagi saya ini tetap perjalanan tidak biasa, karena saya benar-benar tak sabar dengan 245km Meulaboh—Banda Aceh :haha. Mungkin karena perjalanan ini yang pertama bagi saya di sini, jadi saya ingin, ingin, ingin sekali mengabadikannya. Mungkin juga karena saya akan melalui perjalanan yang menyusuri pantai (ya, sebelumnya saya sudah riset kecil-kecilan bersama Kak Google), dan saya pecinta laut (meskipun tidak bisa berenang) jadi saya sangat menantikan perjumpaan-perjumpaan saya dengan laut dan samudra, atau mungkin…

Mungkin karena ini akan menjadi sebuah perjalanan panjang, yang setiap kilometernya bagi saya terasa memiliki makna yang demikian sarat, yang percaya tidak percaya, di setiap kilometernya saya belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Karena bukankah hakikat perjalanan adalah menjadikan kita manusia yang lebih baik ketika sampai di tempat tujuan?

Kuala Bubon: Titik Awal
Sebuah napak tilas setelah sepuluh tahun, kalau saya boleh memberi tagline. Pertanyaan berkecamuk setelah kami beberapa ratus meter meninggalkan hotel. Apa yang akan kami temui? Apa yang akan kami lihat? Apakah sisa-sisa tsunami itu masih ada? Apa gema gelombang mahadahsyat itu masih tertangkap pancaindra kami? Ataukah kami bahkan, ini kemungkinan terburuk, masih mendengar lirih rintih para korban meskipun sepuluh tahun telah berlalu?

Kami harap tidak. Kami (dan saya terutama) berharap yang akan kami jumpai, yang akan kami dengar, bukanlah lirih rintih tanda pedih perih, tapi semangat baru, nyala api yang kecil tapi terus berusaha dijaga untuk tetap membara.

Cukup metaforanya. In-ti-nya, kami mengawali perjalanan ini dengan berusaha keluar dari kota Meulaboh. Jalanan lurus, dengan pepohonan di kiri kanan kami. Cuaca cerah, langit masih biru, awan masih putih, belum ada tanda-tanda berubah warna. Mendung yang kabarnya menggelayut akibat cuaca buruk beberapa hari silam menghilang dari langit, berganti dengan cerah dan terangnya matahari. Saya berharap cuaca cerah ini tetap bertahan sampai kami tiba di Banda Aceh sekitar siang (atau sorenya), karena alam menunjukkan persahabatan terhangatnya di kala cuaca terbaik menjumpa.

mbo3a03

Sepuluh tahun berlalu dan Meulaboh, sebagaimana yang sudah saya tuliskan sebelumnya, sudah mulai berubah. Denyut kehidupan telah kembali berdetak. Masyarakat Meulaboh, meski tidak mungkin lupa, tentunya sudah mulai berusaha untuk hidup kembali, menganggap apa yang terjadi tanggal 26 Desember 2004 itu cuma sebuah hadiah dari Tuhan untuk mereka.

Dinamika kota berjalan dengan mulusnya. Pagi di hari Selasa itu, anak sekolah, pegawai kantoran, meramaikan jalan meski kata ramai pun masih belum terlalu tepat. Maklum, namanya wisatawan tumben berkunjung, jadi saya terus saja jejepretan dengan kamera ini (baca: apalagi SLR-nya baru :hehe). Rasanya kalau saya bisa menjadikan 245km ini abadi dalam memori kamera, akan saya lakukan, bahkan kalau itu mewajibkan saya untuk mengambil ribuan foto dengan teknik a la amatiran. Terserahlah mau jadi apa fotonya, yang penting saya sudah melakukan yang terbaik yang saya bisa untuk mendapat momen-momen terbaik. Meskipun sebenarnya akan lebih baik kalau jendela mobil ini terbuka lebar… sebenarnya saya agak malu-malu. Kan AC mobil sedang menyala. Tapi mana mungkin bisa dapat foto bagus kalau tidak buka jendela?

img_3432

Pak Mansur yang rupanya paham gerak-gerik saya yang berusaha membuka jendela tapi agak sungkan itu kemudian berkata ramah, “Dibuka saja jendelanya kalau mau foto, Mas.”

Tak menunggu lama dan saya membiarkan diri ini memakan angin supaya bisa mengambil gambar. Tentu saja saya setuju, dan membuka jendela dengan bersemangat :haha.

Terus terang, melihat perjuangan masyarakat Aceh untuk bangkit setelah ada bencana alam mahabesar itu benar-benar jadi sesuatu yang membekas di hati saya. Setelah sepuluh tahun ini, mereka bahkan masih terus berusaha bangkit, dengan cara sendiri-sendiri. Semua orang di Aceh tentunya punya cerita kebangkitannya, yang rasanya kalau diceritakan tak akan ada habisnya karena setiap orang pasti punya keunikan dalam cerita-cerita itu (bahkan termasuk bapak-bapak yang kini menemani kami, mereka punya ceritanya masing-masing).

Dinamika masyarakat yang sedang berbenah menuju hari esok memang sangat menarik untuk diperhatikan. Tapi yang lebih penting lagi, saya ingin melihat bagaimana alam Aceh berubah akibat tsunami itu, dan bagaimana kini manusianya bisa berdampingan dengan alam itu, alam yang arif, memberi kehidupan, namun alam yang sama dengan alam yang bisa menghancurkan. Hidup berdampingan dengan kekuatan pencipta dan pemelihara, namun di saat lain bisa jadi penghancur, membutuhkan sifat pengertian dan tunduk yang besar.

Ketika kami tiba di sebuah jembatan yang tampaknya seperti jembatan layang dari jauh, mobil melambat hingga berhenti. Ternyata para bapak ini memberi kesempatan kami untuk turun dan mengabadikan gambar pantai di pagi hari yang ternyata demikian indahnya dari atas jembatan. Pantai membentang di depan kami, dengan ombak berdebur yang berkilau terkena sinar mentari pagi. Pasirnya hitam, bukan putih seperti pasir-pasir di pantai-pantai yang terkenal, tapi bagi saya, bagaimanapun kondisinya, pantai yang alami tetap saja indah.

img_3425

Ketika kami berbalik badan, perkampungan nelayan yang dipunggunggi bukit hijau pun menghadapi kami. Rumah-rumah yang baru seperti rumah tipe 21 membentuk beberapa deretan, terlihat agak berbeda sebab konstruksinya panggung.

img_3424

Kuala Bubon, Pak Mansur bercerita. Sebuah daerah perkampungan nelayan (ternyata di sini ada nelayannya juga), yang dulu, sepuluh tahun lalu, lenyap diterjang air bah tsunami. Dampaknya begitu dahsyat, garis pantai yang dahulu sekitar setengah kilometer di tengah sana kini makin mendekat ke daratan (kami masih bisa melihat beberapa tiang pancang jembatan lama yang kini ada di tengah laut).

img_3417

Kini perkampungan nelayan itu mulai menggeliat, mengiringi geliat daerah-daerah lain di Aceh Barat. Perahu-perahu nelayan yang ada di sisi lain jembatan tertambat rapi menunggu giliran berlayar malam nanti. Rumah-rumahnya unik, kini dibuat berbentuk panggung, dan kata bapak-bapak itu, Kuala Bubon adalah satu dari beberapa kampung nelayan panggung di Nusantara ini. Rumah-rumahnya terlihat kokoh, dan saya menduga pembangunannya sudah mengadopsi konstruksi antitsunami (nanti akan saya ceritakan).

img_3420

Konon pula, di sini akan dijadikan pelabuhan baru, sebagai pengganti pelabuhan Meulaboh. Tapi sampai sepuluh tahun berselang, tepatnya sampai saat saya datang ke sana, belum ada proyek apa-apa, selain reklamasi kecil-kecilan beberapa kilometer selepas jembatan. Sempat saya berpikiran sedikit buruk, tapi semoga saja itu bukan yang sebenarnya.

Perjalanan pun kami lanjutkan, karena bahkan 20km belum terlewati. Terselip harapan dari saya, moga-moga kehidupan itu bisa terus berdegup berdampingan dengan alam sekitarnya, supaya semuanya bisa sejahtera.

img_34211

img_3423

img_3422

Arongan Lambalek: Cerita Si Sapi dan Si Kerbau
Meskipun judulnya jalur pesisir, tapi untuk beberapa saat garis pantai yang jadi pemandu kami sempat menghilang karena jalan ternyata menuju agak ke tengah daratan. Tentu saja saya berusaha untuk tidak tidur, karena selain ini baru jam setengah sembilan, saya sudah berjanji untuk tak ketinggalan setiap kilometer di perjalanan ini. Jadilah saya habiskan untuk sekadar jejepretan sesekali tentang pepohon-pohonan (atau pantai yang mengintip di belakangnya), atau kalau ada hal-hal unik yang kebetulan terjumpa di tengah jalan.

Sampai saya menemukan rambu lalu lintas dengan lambang sapi dengan latar kuning.

Sapi? Saya memicingkan mata untuk memastikan.

Iya, sapi!

Ternyata, setelah saya mendengar penjelasan Pak Mansur dan Mas Baliyan, rambu-rambu itu adalah untuk membuat pengendara berhati-hati, karena…

img_3409

Weits, apa itu? Ada sapi di tengah jalan!!

img_3436

Dan sapi itu pun jadi incaran utama kamera-kamera kami. Sayang hasil gambarnya agak blur karena mobil tetap bergerak ketika kami memotret. Siaal.

Sepertinya penjelasan panjang lebar tentang mengapa rambu sapi itu ada tak perlu diterangkan lebih jauh. Pembicaraan yang tadi sempat terhenti karena kehabisan topik langsung mulai lagi dengan bersemangat, tentang kenapa sapi (bukan rambunya, ya) bisa ada di tengah jalan begini, begitu santai berjalan beriringan, bahkan ada yang istirahat di tengah jalan.

“Apalagi kalau malam,” saya menyitir kata-kata Mas Baliyan.

Ternyata itu sapi milik penduduk sekitar yang tidak mengandangkan sapinya dan melepaskannya saja di tengah jalan. Jadilah sapi-sapi itu (dan sebenarnya beberapa kerbau), melenggang bak model di tengah jalan, abai dengan para pengendara. Tapi unik, karena saya kontan merasa sedang berada di petualangan safari Afrika, dengan pengalaman tatkalapelancong seperti kami bisa begitu dekat dengan satwa-satwa liar (OK, mereka sebenarnya peliharaan, tapi anggap saja demikian). Apalagi dengan jalanan yang sepi, orang-orang juga tak tampak, di kiri-kanan kami hanya berisi pepohonan.

img_3433

Sepertinya sapi-sapi itu berasal dari kampung sebelah, karena mereka tetap berjalan, tidak bersantai di tengah-tengah perlintasan kendaraan. Tapi para pemiliknya juga tak khawatir kalau sapi-sapinya tak pulang, karena kebalikannya, para sapi itu selalu tahu jalan pulang. Beda dengan Bang Toyib yang sepertinya lupa pulang #eh.

Apalagi kalau malam. Saat malam hari, malah semakin banyak sapi dan kerbau yang berada di tengah jalan ini. Mereka tidur di atas badan jalan, karena aspal jalan di malam hari menjadi hangat sehingga jelas lebih nyaman. Pernah suatu waktu, sebuah mobil harus berhenti dan menunggu hingga sapi-sapi itu bangun di pagi hari lantaran tidurnya menutupi separuh lebih badan jalan. Tak ada jalan lain kecuali menunggu binatang bertubuh besar itu bangun dan pergi dengan sendirinya. Mau menggilas sapi dengan ukuran sebesar itu?

Lucu. Tuan Sapi, jangan menghalangi jalan, ya! Bahaya!

img_3434

Pembicaraan berlanjut ke masalah ekonomi persapian (eciye). Mayoritas penduduk Arongan Lambalek memang berprofesi sebagai peternak sapi. Bisnis peternakan memang tak pernah merugikan, kecuali terhadap beberapa kejadian tertentu, apalagi dengan bahan makanan melimpah ruah di sepanjang jalan ini, yang membuat si pemilik ternak tak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk pakan sapi-sapi mereka.

Saya sempat dijelaskan tentang jenis rumpun rumput (hihi, rumpun rumput) tertentu yang merupakan makanan khas Aceh bagi kaum pemamah biak, tapi saya lupa namanya apa. Hadeh. Saya juga diberi tahu kalau sapi-sapi yang hidup di sini adalah asli Aceh. Tak pernah ada sapi impor yang berhasil hidup dan dikembangbiakkan di sini. Kata Pak Dayat, pernah ada percobaan untuk mengembangbiakkan sapi Australia di daerah ini, sapi pedaging tentu, bukan sapi perah, namun tak pernah berhasil. Entah, mungkin akibat iklim atau pakan yang tak cocok.

Dan katanya lagi, ukuran sapi-sapi di sini memang relatif kecil, tapi dagingnya kalau dimasak adalah daging terenak dari semua keluarga sapi, berbeda dengan sapi-sapi di daerah lain. Deskripsinya, teksturnya tidak alot, dan rasanya manis dan sangat gurih di waktu yang bersamaan. Manis dan gurih di saat yang sama itu seperti apa, ya?

Susah payah saya menahan diri untuk tidak meneteskan air liur, jadi saya berusaha membelokkan arah pembicaraan kita menuju kerbau. Cerita yang saya dapat juga lumayan menarik. Di Aceh, kerbau yang terkenal berada di daerah Simeulue. Dan di sana bukannya tanpa keunikan. Konon, kerbau terkuat itu adanya di sana saja. Tak bisa hidup di luar Simeulue, dan tidak ada juga kerbau dari luar pulau itu yang bisa hidup di sana. Menurut cerita, iklim dan alam di sana keras. Gabungan dari iklim laut dan muson yang sering hujan, juga alam pulau yang berbatu dengan pantai Samudra Indonesia berombak tinggi.

img_3413

Awalnya, menurut saya, sekadar iklim dan alam saja kurang cukup, apalagi antara Simeulue dan Aceh daratan tidaklah terlalu jauh… tapi ternyata memang demikian! Tak ada kerbau Simeulue yang bisa hidup di luar pulau itu–mereka pasti cepat mati, demikian juga kerbau lain yang dibawa ke Simeulue.

Wuhu. Ternyata tidak hanya perkumpulan manusia saja yang eksklusif, ya. Kerbau pun bisa.

Tentang Teunom: Catatan Pendek
Masih tak ada apa pun yang bisa menjelaskan di mana kami berada dari sisi kanan jalan lintas Meulaboh–Banda Aceh ini. Pohon, padang-padang gundul yang mulai ditumbuhi ilalang dan beberapa pohon, sampai bukit di kejauhan yang menghijau dengan pepohonan lebat. Untuk beberapa saat, pantai dan semua ingar-bingarnya menghilang. Hiruk-pikuknya teredam dengan hijaunya daun dan matahari yang tertutup awan tipis.

img_3430

img_3445 img_3443

Gema tsunami lagi-lagi terdengar ketika kami menjumpai deretan rumah-rumah bantuan di pinggir jalan. Tapi kali ini bukan dalam denyut kehidupan masyarakatnya. Bukan pula samar debur ombak dan pantai yang mengintip di belakang pepohonan sepanjang jalan. Tapi dalam bentuk rumah-rumah bantuan yang menyendiri, terbengkalai tanpa ada yang menempati. Kadang, kami juga menjumpai rumah-rumah yang sangat sederhana, agak beda dengan rumah bantuan yang juga ada di sebelahnya, padahal kelompok rumah-rumah itu sama, sama-sama bantuan dari lembaga-lembaga untuk para korban tsunami. Kami juga menemukan rumah-rumah yang bagus, masih kuat dan “mengkilat”, mungil indah nan sederhana, di pepinggiran jalan, agak kontras dengan rumah-rumah yang tadi.

img_3431

Kata salah satu bapak, yang menuruti tatapan saya yang sepertinya agak heran dengan rumah-rumah itu, perbedaan itu terjadi karena pembangunnya berbeda. Rumah yang lumayan layak dan kini ditinggali, umumnya dibangun lembaga asing atau LSM nasional. Tapi, kalau rumah yang kondisinya agak memprihatinkan, saya sudah bisa menebak, dan dugaan saya memang benar, kalau itu memang rumah-rumah bantuan pemerintah.

Pemerintah memang membentuk badan khusus untuk mengkoordinasikan rehabilitasi dan rekonstruksi pengungsi di daerah terdampak bencana tsunami di Aceh (dan juga untuk bencana gempa di Nias beberapa waktu berselang). Namanya BRR (Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi) NAD-Nias. Nama lengkapnya adalah Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Aceh dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara. Akan sangat terkesan eksplanatif kalau saya menerangkan apa yang dilakukan oleh badan itu ketika nama instansi tersebut sudah sangat menjelaskan.

 

Namun keprihatinan itu bukanlah karena sumbangan ke pemerintahnya yang kurang. Bukan pula negara yang abai dengan tidak menganggarkan cukup bagi rakyatnya yang menderita. Menurut yang saya dengar di dalam mobil waktu itu, total bantuan yang terkumpul beserta anggaran dari pemerintah, apabila dibuat tunai dan dibagi per kepala (anggapannya tidak dibangun rumah dan segala macam), bisa mencapai beberapa milyar per kepala. Per kepala. Mari memotongnya dengan pembangunan infrastruktur dasar (yang sebenarnya tidak harus termasuk dalam uang bantuan), dan sisanya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Sekali lagi, per kepala.

Tapi kenyataannya, ya yang seperti saya lihat ini. Beberapa rumah terbengkalai, dan kalaupun ditinggali, kondisinya memprihatinkan. Bahkan, di saat rumah bantuan sekelilingnya berkonstruksi panggung lantaran daerah Teunom sering diterjang banjir karena sungai di dekat sana sering meluap, rumah-rumah itu tak berpanggung. Seakan-akan spesifikasi rumahnya tidak ditetapkan sebelumnya, dan, maaf, terkesan asal bangun. Melihat semua itu, saya tak tahu harus menyalahkan siapa.

img_3446

img_3437

Pertanyaan yang membuncah di benak kami semua kala itu adalah: “Ke mana semua uang itu?” Saya tak mau berpikiran buruk, kendati menurut yang saya dengar di mobil, masyarakat sudah bisa menduga orang ini, pejabat ini, kelompok ini, melakukan penyelewengan dana. Korupsi, bahasa kerennya. Sebagai contoh cerita, studi-studi tentang penanggulangan tsunami yang ternyata diselenggarakan di hotel-hotel berbintang ibukota, dengan dibiayai oleh uang bantuan. Agak miris sebenarnya, bencananya di mana, orang yang butuh bantuan di mana, tapi studi-studinya dilakukan di mana. Atau, anggota tim penyalur bantuan tingkat pusat yang digaji beratus-ratus juta, juga dengan asal dana yang sama. Padahal, kalau menurut saya, kerja salur bantuan semestinya dilakukan dengan sukarela, bukan dengan bermotif ekonomi.

Saya lagi-lagi cuma bisa mengingatkan, itu uang bantuan. Bukan hak kita. Berat tanggung jawabnya kalau diselewengkan, pikir saya sambil menghela napas. Lebih berat lagi kalau sesuatu yang bukan hak kita itu “dimakan” oleh keluarga kita. Memikirkan itu semua cuma bisa membuat saya yang bertopang dagu di jendela mobil garuk-garuk kepala tanda gusar. Itu bantuan buat orang yang terkena bencana, lho…

Mobil terus melaju. Dalam perjalanan setelah sepuluh tahun ini, saya penasaran, pelajaran apa yang bisa saya petik di kilometer-kilometer berikutnya?

dsc05295

22 thoughts on “Dua Empat Lima: Bagian 1

  1. aku kangeen bgt pengen makan ikan keumamah lagi.. yang udah sukses bikin orang yg biasanya sarapan secara teratur dengan buah buat lalu berkhianat makan makanan berat dgn lauk ikan ini! enyaaaaaaakkk… *googling resep*

  2. Panjang banget tulisannya, mas. Hahaha. Aku baca bertahap aja deh ya 😀

    Aku suka jepretan mas di jembatan dan perkampungan nelayan itu. Untuk foto saat kita dalam keadaan bergerak (dan sebaliknya), shutter speed-nya ditambah, mas. Pake SLR, ‘kan? Kalau nggak salah sih begitu hehe. Cmiiw.

    Anyway, suka Jpop juga ya? Ikimonogakari dan kawan-kawannya? Saya juga 😀 *lirik widget twitter*

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?