Bukan Sahabat yang Baik? Mungkin.

Berat bagi saya untuk menulis tentang apakah seseorang, misalkanlah sebagai saya, bukan sahabat yang baik. Namun, ketimbang pikiran dan perasaan saya sesak dengan hal-hal seperti ini, dan mengingat jadwal rilis tulisan pun mengizinkan, saya tidak punya pilihan lain yang lebih menenangkan. Selama ia belum keluar, selama itu pula saya akan terus terbebani oleh rasa tidak enak ini. Dan saya tidak mau itu.

Urusan apakah dengan tulisan ini saya akan dicap sebagai seseorang yang “kegeeran”, saya pikir bisa diselesaikan belakangan. Juga, apabila ada seseorang yang kurang berkenan dengan tulisan ini karena memiliki pandangan yang berbeda dengan saya, tak apa. Saya pikir hal-hal tersebut sangatlah wajar. Malah, saya ingin sekali mendengar pandangan yang berbeda itu, agar sudut pandang saya semakin kaya.

Namun, paling tidak, saya ingin bisa mengeluarkan apa yang ada dalam renungan-renungan saya. Mana tahu, berguna bagi seseorang di luar sana.

Bagi saya, memanglah benar, sahabat yang baik adalah mereka yang saling memerhatikan. Mereka yang ada ketika dibutuhkan. Mereka yang menanggapi dengan baik apa yang kita lontarkan ketika dunia dan isinya yang lain sibuk dengan urusannya masing-masing. Mereka yang menghargai dan menyukai apa yang kita lakukan. Mereka yang memberi pikiran mereka pada persoalan-persoalan kita.

Sebagai seorang pejalan, sahabat adalah teman eksplorasi yang baik. Mereka adalah orang-orang yang punya kesukaan yang sama dan turut serta dalam penjelajahan-penjelajahan. Mereka memberi pikiran-pikiran yang brilian, di samping saran, pendapat, dan kritik yang membangun. Mereka adalah orang-orang yang dengannya kita tidak lagi menyimpan rahasia. Dalam perjalanan-perjalanan, mereka adalah orang tempat kita bisa meminta pertolongan, berbagi suka dan duka.

Tapi mereka yang terlalu memerhatikan menurut saya tidak memberi cukup kesempatan pada pihak lain untuk berkembang. Mereka yang selalu harus minta diinformasikan, menurut saya tidak memberi cukup kesempatan pada pihak lain untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Mereka yang jika tidak diinformasikan akan merasa sebagai orang paling sedih yang ada di dunia, menurut saya terlalu banyak menghabiskan waktu. Ada begitu banyak hal yang harus dipikirkan selama dua puluh empat jam dalam sehari. Meratapi diri sendiri karena untuk sesaat ditinggalkan oleh sahabatnya melakukan kegiatan lain sangatlah menyia-nyiakan waktu.

Pun, dengan mereka yang menganggap seolah-olah hidup semua orang berputar pada mereka. Mereka yang selalu mengungkit kesalahan-kesalahan yang kita lakukan, tanpa memberi kesempatan untuk mengembangkan diri. Meskipun hal itu dilakukan dalam canda, saya tidak berpikir hal tersebut pantas. Jika niatnya adalah untuk mengingatkan orang lain akan kesalahannya, saya jauh lebih menghargai jika mereka mengatakannya terus terang. Kalau mereka mengaku sebagai sahabat, mereka akan menyelipkan semangat dan jalan keluar agar sahabatnya jadi lebih baik. Bukan dengan menjatuhkan dan membuat rasa bersalah sahabatnya itu jadi makin besar. Saya tidak berpikir bahwa memanipulasi dengan membuat orang lain merasa bersalah adalah cara yang baik. Meskipun memang, dengan begitu, rasa menang yang dirasakan akan berkali-kali lipat.

Saya tahu bagaimana rasanya. Saya juga seorang manipulator. Itu dulu, haha. Saya tahu bahwa dengan membuat orang lain merasa tidak enak, dengan membuat orang lain merasa bersalah, kita akan merasa menang. Apa yang diinginkan akan didapatkan. Namun, itu tidak membuat saya merasa lengkap! Saya menjadi orang yang begitu haus akan perhatian. Saya tidak bisa berdiri di atas kaki sendiri dan mengembangkan kemampuan-kemampuan saya. Saya tidak jadi orang yang lebih baik dari saya kemarin. Saya malah menjadi monster yang harus selalu tahu apa yang sahabat saya lakukan.

Padahal saya haruslah paham bahwa setiap orang butuh privasi. Setiap orang butuh perjalanannya sendiri. Setiap orang butuh waktunya menyendiri. Setiap orang butuh waktunya bersosialisasi dengan orang-orang lain. Tidak semua orang cukup nyaman dengan selalu menghabiskan waktu-waktu bersama. Menurut saya, sahabat yang sejati adalah mereka yang bisa menghormati saat ketika sahabatnya melakukan hal lain. Memang, untuk memahaminya tidak bisa sekali jadi. Butuh banyak percobaan dan butuh banyak kesalahan. Tapi, kalau, dan hanya kalau, semua itu bisa dilalui, saya sangat yakin akan adanya sebuah saling paham yang baru.

Di sisi lain, memang benar, orang-orang beragam macamnya. Mungkin ada sahabat yang harus selalu memberitahukan kepada sahabatnya akan apa yang ia lakukan, dari membuka mata di pagi hari sampai ke memejamkan mata karena terlalu ngantuk. Ada juga orang yang bersahabat, tapi jarang berkomunikasi (saya mungkin kini termasuk pada golongan ini). Namun, bagi saya, sebaik-baiknya seorang sahabat adalah mereka yang paham bagaimana menempatkan diri di tengah keragaman orang-orang itu. Bagaimana mereka menghormati kesempatan berkembang orang lain, di tengah sebuah penjagaan berlandaskan kasih sayang agar sahabat mereka tidak salah jalan.

Kalau saya boleh jujur, bagi saya pribadi, ini sebuah karma. Saya ingat dengan jelas betul bagaimana saya dulu pernah bersikap begitu. Jadi janganlah heran, saya cukup bangga kini bahwa saya bisa mengatakan, “Saya tahu bagaimana rasanya.” Saya mengerti bagaimana rasa sakitnya melihat orang yang kita perhatikan seolah-olahΒ begitu saja menolak mentah perhatian yang kita berikan, bagaikan membuang sampah tidak pada tempatnya. Saya pernah memanipulasi sahabat saya dan marah-marah karena ia berhubungan dengan orang lain. Saya pernah menyakiti sahabat saya dan terus-menerus berusaha membuatnya merasa bersalah.

Setelah semua itu, apa saya mendapatkan yang saya inginkan? Tidak. Sahabat saya malah pergi, saya ditinggal sendiri, mimpi buruk saya jadi kenyataan. Seribu sayang, itu tidak membuat saya bahagia. Tidak juga membuat saya dewasa. Malah, yang ada, saya sakit sendiri karena merasa jadi orang yang paling sedih. Saya tidak berkembang.

Maka, sebagaimana saya ingin orang lain menghormati privasi saya, saya semestinya paham, bahwa saya harus menghormati privasi orang lain. Jika saya ingin punya waktu sendiri, saya harus paham bahwa orang lain butuh waktu sendiri. Jika saya ingin bebas bergaul dengan orang lain, saya harus paham bahwa saya harus menghormati hubungan persahabatan lain yang mungkin dimiliki teman-teman saya.

friend-with-wach-other
Play with each other, be friends with each other.

Menurut saya, ini semua terjadi ketika kita merasa “terlalu memiliki”. Padahal, di dunia ini tidak ada yang benar-benar kita miliki. Resistensi muncul dari posesivitas, kalau kata orang-orang pintar. Ketika kita merasa terlalu memiliki sesuatu, kita tidak akan pernah siap ketika melihat apa yang kita rasa miliki melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Kita pun menolak ketika tindakan orang tidak sesuai dengan kemauan kita. Kita tidak bisa melihat saat ketika sahabat kita meninggalkan kita.

Namun apalah artinya persahabatan, jika tidak dilandasi dengan rasa saling percaya? Apakah persahabatan itu dilandasi rasa takut, meskipun kata “takut” dalam hal ini memiliki eufemisme yakni “takut kehilangan”? Menurut saya, persahabatan jauh lebih dalam dari itu. Ia adalah hubungan yang berurat akar, dilandasi rasa percaya. Persahabatan adalah pondasi yang mengizinkan pesertanya, yakni mereka yang bersahabat, untuk tumbuh dan berkembang, sembari tidak melupakan. Rasa percaya adalah bagian paling dasar dari pondasi itu. Dengan demikian, masihkah sebuah hubungan disebut pertemanan, atau bahkan persahabatan, jika tidak ada rasa percaya?

Memang benar, persahabatan harus berlangsung timbal balik. Saya paham, rasa takut itu berawal dari kekhawatiran kita untuk merasa sendiri. Tapi, agaknya baik jika kita mencoba, bahwa untuk tidak merasa sendiri, tidak harus kita yang merasa harus selalu ditemani. Justru, kitalah yang harus menemani seseorang. Ketakutan itu harus diubah, dari yang takut untuk ditinggalkan orang lain ketika kita sedang membutuhkan, jadi yang bahwa kita takut meninggalkan orang lain ketika mereka membutuhkan bantuan kita.

Ah, prinsip dalam paragraf sebelumnya juga belum sepenuhnya saya kuasai, kok. Saya masih terus harus belajar.

Dengan kejadian itu, kini saya mencoba lebih paham tentang bagaimana mengembangkan diri. Ada begitu banyak hal di luar sana yang harus saya perhatikan. Ada begitu banyak hal di dalam diri ini yang bisa saya kembangkan. Bagaimana mungkin saya bisa mengembangkan semua itu, jika saya terus marah-marah dan memanipulasi, karena hal sesederhana dengan sengaja tidak diberitahu bahwa sahabat saya akan jalan-jalan, atau sesederhana ketika sahabat saya membatalkan janjinya?

Juga, Hidup saya, dan hidup semua orang di dunia ini, pada akhirnya, tidaklah berputar pada satu (atau sedikit) orang saja. Selain itu, saya tidak bisa berharap pada Tuhan akan mendapat sahabat yang baik. Saya tidak punya kemampuan untuk meminta sahabat yang baik, atau mempengaruhi hati dan perasaan orang untuk menjadi sahabat baik saya. Satu-satunya orang yang dapat saya ubah adalah diri saya sendiri. Satu-satunya orang yang kelakuannya dapat saya ubah adalah saya sendiri.

Satu-satunya hal yang dapat saya lakukan adalah menjadi sahabat yang baik.

Semoga saya bisa.

41 thoughts on “Bukan Sahabat yang Baik? Mungkin.

  1. Lama nggak mampir ke lapak Bli Gara, jadi teringat dengan komen Bli tentang manga Orange (entah di postingan blogku atau di mana ya?).. “daripada berpikir ‘ingin memiliki sahabat seperti Naho dkk., lebih baik fokus untuk menjadi sahabat yang baik” πŸ™‚

    1. Halo, Mbak! Ahaha, iya, benar. Tulisan ini agaknya menegaskan dan mengingatkan saya untuk selalu berupaya menuju ke arah itu. Yuklah, tetap berikhtiar menjadi sahabat yang baik, ketimbang meminta sahabat yang baik.

  2. Kok ak bacanya mbulet ya gar. Aku dlu pernah ngerasain hal seperti ini waktu kuliah semester awal2.. konsep sahabat yg kaku.. d mana harus selalu tau dan bersama2. Tp akhirnya sadar juga bahwa pada akhirnya kita akan sendiri juga. pemikiran ku jd terbuka krna waktu itu ada masalah dengan mereka dari masalah itu jd tau mana yg tulus dan mana yg harus d tingalkan. Sahabat itu jodoh gar.. kadang kita sudah berusaha saling melengkapi seperti puzzel tp akhirnya retak juga. Buat gue si yg namanya sahabat itu teman lama yg msh selalu menjaga komunikasi..

    1. Mungkin karena ini ditulis pas situasi hati sedang suntuk De, makanya mbulet, haha. Betul ya, sahabat itu jodoh, haha. Kita sama dalam hal ini. Ada kejadian-kejadian yang dulu membuatku sadar bahwa kita akan sendiri. Dengan kejadian yang ini, aku berpikir bahwa mungkin ada sisi lain yang sebaiknya aku lihat juga. Soal keretakan, memang persahabatan akan sering retak, tapi seiring berlalunya waktu, jika memang persahabatan itu kuat, pasti bisa bertahan. Menurutku sih. Haha.

    1. Tentu saja, Mas. Saya setuju. Ada batas-batas yang harus dihormati, bahkan untuk mereka yang menjuluki dirinya sahabat sedarah, hehe. Semoga saya dan kita semua bisa terus belajar soal itu, ya.

  3. Sudah lama saya tidak berkunjung ke blog Gara, apa kabar? Semoga selalu sehat ya..

    Membaca postingan kali ini yang sedikit berbeda tetapi gaya bahasanya tetap ‘Gara banget’, seperti terbang ke masa-masa yang serupa dengan pemikiran yang juga tidak banyak berbeda. Nantinya masih akan ditemui orang-orang seperti itu, juga orang-orang baik, atau juga orang-orang yang sepertinya baik (orang yang dekat di hati tetapi suka membuat ngilu), sampai akhirnya kita akan bersyukur akan indahnya warna-warni mereka (apapun itu) yang menghias perjalanan kita…

    1. Halo, Mbak. Apa kabar? Saya baik-baik saja, syukurlah, hehe. Semoga Mbak dan keluarga juga selalu sehat, ya.

      Betul, Mbak. Semua ini adalah kiriman Tuhan bagi hidup saya guna menjadikan diri ini lebih baik lagi. Mudah-mudahan saya bisa menarik pelajaran dari ini dan menjadi insan yang lebih baik lagi dalam menghargai orang-orang yang ada dalam kehidupan saya, hehe. Harus kuat, ya? Haha.

  4. Sahabat itu buat aku tingkatan tertinggi dalam sebuah relasi pertemanan. Kadang memang complicated tp bisa dibuat sederhana. Rasa memiliki pasti ada dan gak bisa dihilangkan menurutku kalau memang hubungannya di tingkatan persahabatan. Kalau sekedar memberi manfaat mungkin itu pertemanan saja atau jangan2 hanya kenalan. Persahabatan lebih dari itu

    1. Setuju, Mbak. Saya masih harus terus belajar tentang bagaimana jadi seorang sahabat yang baik, haha. Saya masih takut dan suka salah paham dengan rasa terlalu dimiliki oleh sedikit orang.

  5. Seperti cinta, begitulah sahabat, dia bisa sangat sederhana bisa juga rumit.
    Buatku sahabat itu menerima dan mensupport untuk kebaikan,

    ah jadi pengen nulis juga heheheehe,

    1. Setuju sekali, Mbok. Sahabat adalah ia yang membuat kita lebih baik lagi, dan yang kita buat lebih baik lagi, hehe. Ayo menulis Mbok, mungkin ada pandangan yang lain, hihi. Saya sangat ingin mengetahuinya!

  6. kadang kalau itu sudah terjadi memang waktu yg tepat buat evaluasi diri, gar, terima kasih buat pencerahan ini, hubungan sosial memang susah kadangkala, karena harus berhadapan dg pribadi setiap org yg berbeda, tinggal bagaimana kita menempatkan diri sesuai mereka, tapi masalah seperti yg kamu jelasin itu emang kaya gabisa dihindari, kok

    1. Betulkah? Haha, syukurlah. Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan di sini bisa jadi bahan belajar dan renungan, baik bagi saya sendiri maupun bagi siapa pun yang membaca. Selain itu semoga kemampuan sosial kita semua meningkat dan mendewasa ya, hihi. Amin.

  7. Yampun, ini hal yg beberapa waktu lalu mo aku tulis, malah uda km tulis dg sangat lengkap. Wkwkwkw Jleb bgt bacanya mas. Ehehe

    Btw kalau memang sahabat, ada rasa memiliki wajar kali ya (menurutku). Dlm hal ini bkn berarti posesif. Maksudnya gini, sperti yg sdh Mas Gara jelasin di atas. Biasanya kalau uda nemu sahabat yg satu frekuensi (satu visi, satu minat, satu pikiran dll) pst ada rasa nyaman yg ga ada di tmn yg lain. Cirinya, bs berbagi rahasia yg ga bs dibagi ke tmn lain. Nah kalau sdh gt, kadang sedih aja sih kalo ga denger kabarnya. Apalagi misal ada kabar tentang dia, tp dengernya dr orang lain. πŸ™

    Aku sendiri gampang akrab sm tmn baru, tp ga smua bs jd sahabat, apalagi deket bgt. Soal privasi, aku lebih suka smua dikomunikasikan. Misalnya, kalau lg pengin sendiri atau jalan sm tmn lain, gak mau aku ganggu, bagiku ga masalah, asal ngomong baik2. Aku sangat menghormati itu. Suka sedih aja kalau sahabat sendiri kok masi suka bohong atau tiba2 diem tanpa jelasin apa2 trs ngilang. πŸ™
    (Sahabat lho ya ini, yg biasa susah seneng bareng, yg biasa saling suport)

    Jd intinya aku lebih seneng kalau saling jaga komunikasi. Ehehe dan setuju banget dg kalimat terakhirmu mas, menjadi sahabat yg baik. Sejauh ini aku masih trs belajar utk itu. Kehilangan itu kan pst, tp setidaknya saat waktu itu tiba, yg sahabat ingat dr aku adl kebaikan, keseruan, kesenangan, dan hal positif lainnya. Semoga. :’)

    1. Terima kasih untuk komentarnya, Mas! Setelah membaca ini saya jadi dapat sudut pandang yang berbeda. Saya jadi berasa egois karena kurang mau melihat bagaimana kacamata orang-orang yang suka berkomunikasi, supel, hangat, dan penuh perhatian akan sahabatnya. Saya merasa belum terbiasa. Tapi dengan penjelasan seperti ini, saya jadi belajar. Ada beberapa hal yang harus saya benahi, semisal pikiran-pikiran saya yang agak berlebihan terhadap orang-orang yang memang hangat dan penuh perhatian itu. Padahal niatnya kan baik, ya.
      Betul sekali, saya dan kita semua sama-sama belajar. Melihat berbagai ragam orang, mencari apa sikap dan perilaku yang paling tepat, dari banyak pengalaman dan kesalahan. Mudah-mudahan setelah ini kita semua jadi teman dan sahabat yang lebih baik lagi, ya.

  8. benar2 menarik kak. sahabat bagi saya ada dua:
    1 sahabat sebaya
    bagaikan gelombang air laut. ada kalanya kami surut namun belakangan jadi pasang. karena saat ini mahasiswa tingkat akhir kami mencoba tetap saling menyemangati dan berbagi suka duka.

    2. sahabat sebaya orangtua
    saling peduli dan berbagi kini menjadi ibu di tanah rantau.
    mengajari hal yg selama ini luput dari pikiran saya..
    ditunggu tulisan berikutnya ya
    . kisah asmara kalau boleh request haha.

    1. Sepertinya dalam kasus ini saya ingin tahu lebih banyak soal sahabat sebaya. Pasang surut pasti ada, ya. Tapi jika setegar batu karang, saya yakin persahabatan akan bertahan, hehe.
      Waduh, asmara? Mungkin ya, jika soal itu memenuhi benak saya. Namun saya tidak janji, haha!

  9. Suka refleksinya Gara, sangat menggambarkan kompleksitas hubungan antar manusia ya, dalam hal ini persahabatan. Selain setiap orang itu unik, hidup setiap orang pun juga unik. Dua orang yang dipertemukan karena kebetulan berada di waktu dan tempat yang sama atau berdekatan dan menjadi sahabat, belum tentu akan “diperbolehkan” jalan hidup untuk terus bersamaan karena jalan hidup masing-masing bisa membawanya ke tempat, dan zona waktu, yang berbeda. Oleh karena itu yang namanya menjaga persahabatan itu rumit sekali, butuh “seni”-nya tersendiri.

    1. Ah, setuju sekali, Kak. Mudah-mudahan kita semua selalu bisa menjaga hubungan baik kita dengan sahabat-sahabat, hehe. Tapi tetap juga ya, Tuhan yang menentukan sisa hasil dari usaha yang dilakukan, hehe…

  10. Sahabat yang baik adalah orang yang sselalu mendukung kita menjadi lebiiihh baik lagi, yang diam-diam (meski juarang ketemu) selalu mendoakan dari jauh, pokoknya meski jauh di mata, dekat di hati :))

    Aku pernah punya pengalaman tentang sahabat yang posesif mas hehe. Kalau aku pergi sama orang lain (teman lain) dianya suka nyindir-nyindir ~ “cieee yang sekarang kalau pergi-pergi sama temen baruuu” :’D
    “Cie sekarang sombong, udah jarang main”

    Aku sesungguhnya orang yang tak begitu suka terlalu diposesifin

    1. Lalu apa yang terjadi, Mbak? Saya jadi kepo nih akan pengalaman Mbak dengan sahabat yang itu, hehe. Pernah juga saya dapat ledekan seperti itu, dan sejujurnya saya agak sedih, haha. Mungkin karena saya tipe orang yang sedikit lebih sensitif dari orang kebanyakan, jadi saya agak kepikiran. Padahal sama sekali tidak ada maksud untuk sombong dan menafikan teman lama. Mereka semua teman yang berharga, kan?

  11. Eciyeee, lagi baper kak? Haha.
    Aku mau kok jadi sahabatmu. πŸ™‚

    Omong-omong hidup sendiri, berpijak secara mandiri, tak selalu membuat kita, nasib kita tepat selalu nelangsa dan rugi kok. Saya akui, soal pertemanan, mungkin saya tak sebahagia kamu barangkali, kak. Hah. Imbas hidup nomaden dari kecil, saya nyaris tak punya sahabat atau teman dekat banget dari kecil yang bisa bertahan hingga sekarang. Itu juga yang kadang membuatku iri dengan orang yang dikaruniai sahabat: sehidup semati.

    Namun, saya mencoba menyukuri apa yang terjadi. Hidup dalam sosialisasi yang sempat, lantas tak membuat saya gagap berinteraksi. Justru kebiasaan hidup mandiri sedari dini, membuat saya terbiasa melakukan apa-apa sendiri. Jujur saja, soal traveling khususnya, saya malah nyaman sendiri alias solo kok, mas. Karena di situlah kita punya kebebasan menentukan apa yang kita inginkan.

    Kalau Trinity bilang banyak kepala saat traveling itu menjemuhkan, sepertinya itu benar adanya. Lagi-lagi itu pernah saya buktikan sendiri saat traveling. Namun, bukan berarti kita jadi orang apatis dan individualis. Sesekali liburan bareng sahabat kadang juga seru, lebih-lebih orang tersebut adalah yang kenal kita luar dalam. Jadi, istilah ‘tak enak hati’ yang kerap jadi bibit perselesihan dalam persahabatan itu bisa diatasi.

    Tapi, itu pendapat saya saja lho, mas. Karena bagaimanapun yang bisa menentukan orang yang tepat untuk kita jadikan sahabat, tak lain dan tak bukan, ya, kita sendiri. πŸ˜€

    1. Baper adalah kata yang lugas dari merenung, ya? Haha.
      Saya pikir saya bisa mengerti soal tidak adanya sahabat sehidup semati, Kak. Cuma dalam kasus saya, saya akui memang saya gagap berinteraksi (bicara juga gagap sih, haha). Iri? Tentunya ada. Umumnya seseorang akan iri akan hal-hal yang tidak ia miliki, kan?
      Setuju, Kak. Sejauh ini juga saya lebih suka bertualang sendiri, seperti anak hilang yang tiba-tiba ada di suatu tempat. Kebanyakan perjalanan yang tertulis di sini dilakukan sendiri, atau paling berdua. Cuma kadang saya suka berpikir tentang suatu pepatah, “jika ingin pergi dengan cepat, pergilah sendiri, tapi jika ingin pergi jauh, pergilah bersama.” Terus saya galau deh, haha.
      Ya, Mas, paling tidak tulisan ini jadi pembelajaran saya supaya jadi sahabat yang baik. Haha.
      Kapan-kapan saya ke Malang, kita kopdar yuk! Wkwk.

      1. Kalau sudah pergi jauh terus cepatΒ² juga ngapain? Haha, kecuali memang diburu cuti sih. πŸ˜€

        Ya, hidup memang perlu belajar dari proses dan pengalaman yang kita lalui. Tapi, bukan artinya kita harus serius menjalani hidup. Santai saja, penting tak keluar jalur. Sayang kalau hidup harus dibikin susah sampai tua, apalagi sampai mati, haha.

        Marilah kopdar bila waktunya telah tiba. πŸ™‚

  12. Betul, sahabat yang baik tidak harus selalu kasih kabar setiap saat, tapi yang jelas mereka ada begitu dibutuhkan (atau sebaliknya kita selalu available kapanpun mereka butuh). Aku sama salah satu sahabat malah bisa 1-2 bulan tak kontak sama sekali, but everything runs smoothly until now. Kalo udah sekali kontak via WA, bisa ngobrol ngalur ngidul berjam-jam, udah gitu off lagi lama, kalo kopdar mungkin cuma setahun sekali, hahaha, tapi kami merasa dekat satu sama lain.. πŸ™‚

    1. Yang penting bukan intensitas komunikasi ya Bang, tapi bagaimana perasaan di hati masing-masing. Selama semua pihak masih menganggap satu sama lain bagian berharga dari hidupnya, semua akan baik-baik saja, dan akan selalu ada ketika satu sama lain membutuhkannya, hehe.

  13. Aku tak terlalu pemilih dalam bersahabat. Tapi aku paling tak tahan pada mereka yang hanya tahu tentang perasaannya sendiri, yang dunia ini harus berputar apa kata mereka, yang bisa mencubit tapi kalau dicubit balik seolah dia lah yang jadi korban. Orang kayak gini cuma ngabis-ngabisin sumber energi positif kita. Jadi untukku, lebih baik yang kayak gini ditenggelamkan saja ke laut, gak guna πŸ™‚

    1. Semoga orang-orang seperti itu disadarkan ya, Mbak, hehe. Semoga juga mereka bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Betul, energi positif susah dicari, jadi sebisa mungkin jangan dihabiskan bersama orang-orang negatif, ya. Hehe. Terima kasih untuk pendapatnya.

  14. Wah wah tipe tulisan yang langka nih di jejak bli Gara wkwkwk
    Bener bli. Memang kudu berawal dari kita dulu kalau ingin mencoba memahami. Moga lekas saling memahami antar sahabat dan pasangan tercinta yaw~

  15. Sahabat itu tidak egois,
    Sahabat itu berjalan seiring napas
    Untuk memiliki sahabat sesuai definisi yang kita inginkan atau tidak.
    Itu semua dibuktikan oleh waktu
    Dan bersiap untuk kehilangan, tersakiti dan membuka diri untuk sahabat-sahabat baru yang akan datang seiring berjalannya waktu.

    Jatuh bangunnya diri sendiri, pasti akan ada seorang sahabat yang berdiri di samping diri kita yang dihadirkan Tuhan untuk setia menjaga langkah kita tetap tegak menatap ke depan.

    Gara, selamat menemukan sahabat-sahabatmu sendiri πŸ™‚

  16. Memang pelik Gar masalah persahabatan ini. N setuju kl skrg yg bisa kita lakukan adalah semaksimal mungkin menjadi sahabat bagi yg lain. Dr sana kita akan bisa lihat pd akhirnya, siapa saja sahabat sejati kita dan siapa yang bukan. Semangat!

    Makasih utk renungannya Gara…

  17. Saya termasuk orang yang harus menyaring terlebih dahulu, untuk menilai apa mereka pantas jadi sahabat kita atau tidak. Dan berproses bersama waktu. Bagi saya, setiap personal memang punya privasi masing-masing sih. Semoga terus berproses menjadi sahabat yang baik dan sungguh pelajaran yang sangat berharga membaca postingan ini.

Terima kasih sudah membaca, mari lanjut dengan diskusi di kotak bawah ini!