Brahma Wirasana: Sang Pencipta yang Pemalu

‏Pada mulanya, saya tertarik dengan arca Brahma Wirasana–demikianlah namanya–ini karena duduknya, menurut saya, cukup lebar. Dudukan arca/asana yang tinggi dan posisi arca yang bersila seperti orang sedang beryoga mungkin jadi penyebab bagian kaki digambarkan tinggi dan lebar. Sayang bagian muka yang sudah sangat aus menyebabkan tak jelas tampak wajah siapa yang digambarkan sang arca.

arca-brahma-wirasana-museum-mpu-purwa
Arca Brahma Wirasana dari Museum Mpu Purwa, Malang. Perhatikan bagian wajah yang aus dan stela yang sangat besar.

Hanya saja, lubang yang berada di belakang kepala menimbulkan rasa penasaran. Sepertinya lubang-lubang itu sengaja dibuat sang pembentuk arca mengikuti bentuk lingkaran. Awalnya, saya pikir bagian belakang yang berlubang adalah untuk saluran air. Sebagaimana beberapa arca di Jawa dan Bali yang berfitur demikian.

Tapi ketika saya menjenguk, yang balas menatap bukan lubang air, melainkan sebuah wajah.

“Lho, Brahma?” Saya berseru heran.

wajah-keempat-brahma-wirasana
Wajah Brahma Wirasana yang masih cukup utuh.

Sekte Pemujaan Brahma di Zaman Kerajaan Hindu

Setelah mendengar tuturan Mbak Mimin, saya jadi tidak terlalu heran mengapa arca ini menjadi salah satu maskot Museum Mpu Purwa. Penemuan arca Brahma di Indonesia bisa dibilang sangat jarang. Sebabnya, berbeda dengan dua dewa lain (Wisnu dan Siwa), pada masa Hindu di Indonesia, pemujaan Brahma memang tidak terlalu populer. Dengan demikian, tidaklah banyak orang membuat patung Brahma di masa lalu.

Memang benar, ada sekte Brahma berkembang di masa itu. Namun pengikutnya sangat sedikit. Apalagi di zaman Singasari-Majapahit. Bisa ditebak, sekte Brahma tidak pernah menjadi agama resmi kerajaan. Lain halnya dengan agama Siwa dan Siddhanta (Buddha) yang sangat populerSebagaimana diketahui, agama yang dianut oleh keraton akan disebarluaskan dengan begitu masif ke seluruh negeri dan “dipastikan” memiliki jumlah penganut terbanyak.

Di masa itu, kerajaan sangat mencampuri urusan keagamaan rakyatnya, bahkan sekte/aliran agama pun ditentukan harus sama dengan apa yang dianut sang raja. Pengaturan seperti itu tidak menimbulkan masalah karena rakyat pun, di sisi lain, mengamini. Masyarakat kerajaan menganut sebuah agama bukan karena dorongan spiritual, melainkan sesederhana lantaran agama itu dianut pula oleh sang raja beserta keluarganya.

Sekte Brahma, menurut catatan sejarah, meski penganutnya sedikit, tetap bertahan setidaknya sampai zaman Majapahit pertengahan. Namun, pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, agama yang berkembang di Majapahit mengalami penyederhanaan dengan istilah tripaksa (tiga sayap), yakni Siwa, Budha, dan Wisnu. Aliran Brahma tidak dimasukkan ke dalam tripaksa karena jumlah penganutnya yang terlalu kecil (Muljana 2011:235).

Dengan demikian, kita boleh menduga bahwa penemuan arca Brahma tidak akan terlalu banyak. Sejauh ini, arca Brahma yang memang dikhususkan sebagai pantheon pemujaan hanya Brahma Banon (di Museum Nasional) dan Brahma Prambanan (masih in situ). Dugaan saya, penemuan Brahma yang dimaksudkan sebagai objek pemujaan dari masa Mataram Lama menunjukkan pengaruh India yang masih kuat, mengingat pada masa itu di India, Hindu mendudukkan Tri Murti (Brahma, Wisnu, dan Siwa) sebagai tiga dewa yang setara. Barulah dengan berjalannya waktu, peleburan dengan kepercayaan lokal Indonesia yang cenderung monoteistik menyebabkan munculnya dewa utama. Ada dugaan juga soal kenapa Wisnu dan Siwa yang cenderung lebih populer, tapi itu kita simpan untuk lain waktu saja.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka tidaklah terlalu mengherankan jika di Jawa Tengah ada arca Brahma berukuran fantastis. Tapi di Jawa Timur? Hm, ini anomali yang menyenangkan.

Anomali ini makin menyenangkan ketika brosur museum mengatakan bahwa arca Brahma Wirasana ini berasal dari zaman Singasari. Dengan bentukan yang besar dan ornamen rumit, rasanya agak janggal kalau arca ini berasal dari masa ketika Siwa-Buddha adalah agama resmi kerajaan. Hm, sampai detik ini, dengan semua fakta itu, masalah arca Brahma di zaman Siwa-Buddha masih jadi misteri dan saya masih mencari literatur lainnya untuk bisa menjawab pertanyaan itu.

Jadi mari kembali ke arca ini secara realistis. Menurut brosur museum, sang arca Brahma Wirasana berasal dari salah satu percandian di Singasari (saya jadi bertanya-tanya ada berapa candi yang dulu pernah ada di kompleks Singasari karena sepertinya arca-arca yang berasal dari sana adalah arca-arca terindah semua). Arca ini dipindahkan dari sana bersama-sama dengan arca Buddha Aksobhya (yang ini ada di halaman). Pada zaman Belanda, kedua arca itu ditempatkan di halaman kediaman Asisten Residen, yang kini menjadi Balaikota Malang.

Sayang sekali, tampak depan arca ini sudah demikian rusak. Tidak bisa diduga seperti apa dulunya penampakan tiga wajah beserta tangan sang dewa secara utuh. Menurut Mbak Mimin, yang menurut hemat saya perlu dikaji kebenarannya, kerusakan ini terjadi pada masa konversi agama di Jawa pada abad ke-16; ketika itu arca-arca dirusak bagian wajahnya dengan maksud agar masyarakat berhenti menyembahnya. Untunglah, bagian belakang arca ini luput dari penghancuran, sehingga sampai sekarang, satu dari empat ekspresi Brahma Wirasana ini bisa kita saksikan.

Satu hal menarik tentang empat wajah Brahma: menurut mitologi Hindu, sebenarnya wajah Brahma itu ada lima. Namun wajah kelima Brahma adalah hawa nafsu yang menjadikannya sangat sombong. Wajah kelima Brahma itu pun dipotong oleh Dewa Siwa, menjadikan Brahma hanya memiliki empat wajah. Dari Brahma di Prambanan sampai Brahma yang ini, agaknya dewa pencipta yang sampai ke Indonesia adalah yang memiliki empat wajah. Mungkin, cerita pemotongan satu wajah Brahma tidak pernah sampai ke negeri ini.

Jumlah tangannya pun saat ini tinggal dua; tangan depan telah menghilang. Dengan kata lain, tangan bagian depan tidak digambarkan menempel dengan sandaran maupun badan arcanya (saya lupa apakah ini yang digambarkan arca luwes), lantaran dapat dilepas. Yang tersisa kini hanya tangan belakang, masing-masing memegang tasbih sebagai perlambang waktu, dan bunga teratai.

Para sejarawan mengelompokkan arca Brahma Wirasana ini dalam langgam Singhasari dengan petunjuk teratai yang ada di sampingnya. Tampaknya ada sebuah konsensus di kalangan arkeolog, bahwa untuk menentukan sebuah arca berasal dari zaman Singhasari, hiasan teratai di kiri kanannya tumbuh dari bonggolnya. Sementara itu, untuk arca Singhasari akhir (dan Majapahit), teratainya tumbuh dari pot.

Saya belum menemukan sumber untuk itu, jadi untuk saat ini info itu masih saya terima bulat-bulat. Sebagaimana kata Pak Dirman: “Dalam kesempatan ini sebenarnya jangan bergegas menentukan mana yang paling benar di antara pendapat tersebut. Tapi “terima saja” dahulu sampai sekian banyak pendapat dan bukti, baru kita diskusikan”.

Oleh karena itu, untuk saat ini mari sama-sama sepakat menyatakan bahwa arca ini berasal dari masa Singhasari.

Fitur terakhir yang menarik perhatian adalah kain yang dikenakan. Sebagaimana arca Prajnaparamita, dengan tingkat ketelitian ukiran yang tinggi, arca ini pun sangat detil pengukirannya. Bahkan hal itu tampak dari kain yang dikenakan. Menurut brosur museum, dalam arca ini Brahma Wirasana menggunakan kain batik bermotif kawung yang diisi dengan ornamen yang rumit. Ada yang bisa membantu menjelaskan apa itu batik kawung?

pengunjung-museum-mpu-purwa
Seorang pengunjung sedang mengamati arca Brahma.

Sayang saya belum sempat memerhatikan dengan teliti baik jenis maupun motif batik yang dikenakan Dewa Brahma di arca ini. Maklum, sudah diburu waktu. Lain kali kembali ke sana, saya akan mencoba mengambil lebih banyak gambar soal fitur dan hal-hal unik yang ada di setiap arca. Dengan sendirinya, tulisan ini akan terevisi dengan fitur dan bacaan-bacaan baru.

16 thoughts on “Brahma Wirasana: Sang Pencipta yang Pemalu

  1. Kesan pertama dapat update-an dari mencarijejak(dot)com itu takjub! Setelah terakhir muncul bulan April lalu, akhirnya kini di bulan ketujuh ada tulisan baru. Sungguh kabar gembira buat kita semua! Hehehe.

    Candi yang memuja Dewa Brahma ada tipikal khususnya nggak, Gar? Atau arcanya selalu ditempatkan di rumpunan candi yang ada Trimurti yang lain? Baru tahu arca Brahma di Prambanan dan Sambisari aja. Candi lainnya mungkin ada, tapi daku ragu karena beberapa sudah tidak jelas pahatannya.

    1. Terima kasih Mas, ya semoga saja bisa rutin update, terus bisa menyisipkan waktu blogwalking. Amin.
      Kalau candi, memang jarang yang ada candi khusus untuk Brahma. Biasanya pasti mengikuti Tri Murti. Tapi kalau pura masa kini, ada pura yang khusus untuk Brahma, namanya Brahma Prajapati, ciri khasnya bangunan sucinya berupa limas segiempat dengan sisi-sisi yang sama.

  2. Akhirnya ada postingan baru di mencari jejak😁

    Seoang teman pernah bilang batik kawung muncul pada era mataram baru. Motifnya bulet2 lonjong. Kalo maknanya masih menjadi perdebatan.

    1. Haha, terima kasih Mas.
      Nah, sebuah buku yang pernah saya baca malah berujar bahwa motif kawung sudah muncul dari zaman pra-Islam. Hmm, ini menarik untuk ditelusuri, hehe. Sejarah batik ya.

  3. berbedakah Gara cara pemujaan terhadap masing2 Trimurti?
    mengapa ya sekte Brahma kurang banyak pengikutnya, apa karena dewa yang adem ayem saja?

    1. Di zaman sekarang tidak berbeda Mbak, karena sudah disatukan. Namun, di zaman dulu berbeda untuk masing-masing dewa, yang pasti beda itu dari segi mantranya, Mbak.
      Nah, itu bisa jadi satu penyebab… kalau Wisnu dan Siwa kesannya memang lebih utama dan lebih terekspos, hehe…

    1. Iya Mas, banyak aliran di masa lalu. Secara tak langsung mereka juga berperan dalam perjalanan sejarah kerajaan.
      Setuju, makin digali makin dalam, makin banyak yang saya tidak tahu, haha.

  4. Ah tulisanmu ini menjawab penasaranku selama ini: ‘Kenapa tidak banyak candi yang menyimpan arca Brahma?’ … karena selama ini aku baru menjumpanya di satu tempat, di Prambanan. Sisanya selalu Wisnu dan Siwa saja.

    Terimakasih sudah membagikan penjelasan ini Gara. Aku tunggu lanjutan kisahmu 🙂

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?