Bermistis-Mistis dengan Arca dan Penunggu Museum Mpu Purwa

“Maksudnya galak bagaimana, Mbak?”

Hal pertama yang saya bahas adalah soal batu lumpang yang sepertinya agak tidak bisa disentuh sembarangan itu.

Mbak Mimin kemudian bercerita tentang sebuah kejadian ketika pemborong masih mengerjakan bangunan utama museum ini. Kala itu, seorang tukang bangunan ingin memetik buah juwet, mengingat si pohon di atas batu lumpang ini berbuah. Lebat sekali buahnya. Nahasnya, ketika ia sedang berada di dahan yang menganjur di atas batu lumpang, dahan itu tiba-tiba saja patah dan si tukang jatuh dengan beberapa luka.

lumpang-batu
Inilah. Ya, inilah dia.

Baca juga: Tentang Museum Mpu Purwa

“Tanpa Permisi?”

Orang-orang sekitar sana menyimpulkan bahwa ia dikerjai penunggu batu karena memanjat pohon tanpa permisi.

“Mungkin dahannya rapuh kali, Mbak. Mungkin juga ukuran dahannya kecil,” kata saya, mencoba merasionalisasi. Langsung mengatakan kejadian itu adalah ulah makhluk-makhluk astral, kok kesannya seperti pencemaran nama baik. Selama kejadian itu masih mungkin dijelaskan dengan akal sehat, maka pakailah dulu penjelasan itu. Kecuali…

“Lho ya nggak, Mas. Lha wong saya lihat kok bekas patahnya dahan itu masih segar. Soal kenapa bisa patah juga tidak ada yang mengerti. Dahannya besar lho Mas, lebih besar dari tangan saya,” ujarnya meyakinkan.

“Mungkin juga kalau yang naik itu model saya Mbak, ya kemungkinan besar bisa patah batang pohonnya,” kelakar saya.

“Wah, tukang yang naik kemarin bahkan badannya lebih kecil dari saya, Mas,” jawab Mbak Mimin langsung. “Semua orang sampai heran kenapa dia bisa jatuh dari pohon itu, tapi kalau kata saya sih karena dia tidak permisi waktu naik pohonnya. Yang menunggu lumpang itu terkenal galak, Mas, sudah banyak ada kejadian.”

bagian-depan-sebuah-yoni
Ada alasan khusus mengapa saya selalu berusaha memotret bagian depan sebuah yoni.

Angin menggesek daun-daun pohon juwet. Entah kenapa kali ini suara yang ditimbulkannya agak berbeda. Mungkin ini bawaan perasaan, batin saya. Pelan, saya menoleh untuk melihat batu lumpang yang kini ditutupi bayangan daun. Entah mata saya yang salah atau lagi-lagi saya mulai merasa lain ketika melihat batu lumpang itu. Semacam mulai ada wibawa yang melingkupinya, meski samar, namun aura itu menjaga agar pengunjung tidak berperilaku macam-macam di tempat ini. Sekaligus, mencegah saya untuk bertanya aneh-aneh tentang itu pada Mbak Mimin.

Saya menelan ludah. Yang benar saja. Mungkin (juga) itu lagi-lagi karena cerita yang sudah disematkan pikiran ini padanya. Sepintas saya berniat menutup pembicaraan dan mengalihkan topik, tapi rasanya sayang sekali jika kejadian-kejadian ini tidak dikulik sedikit lebih dalam, ya? Tentu saja tanpa maksud mempengaruhi, saya meyakinkan diri bahwa ini semata-mata hanya demi pengetahuan dan menghormati kearifan lokal.

Dengan berdoa dalam hati, saya memutuskan untuk melanjutkan tanya. “Memangnya ada kejadiankah Mbak selama proses pembangunan ini?”

“Ada,” kata Mbak Mimin. Ia lalu bercerita soal pembangunan gedung yang di tengah jalan mesti berganti kontraktor karena pemborong pertama ini mendadak ditimpa banyak masalah ketika pembangunan gedung ini; seperti mesin yang mendadak tidak jalan (ada beberapa kejadian), tukang yang tertimpa kecelakaan (kejadian tadi itu), sampai masalah di keuangan perusahaan yang akhirnya membuat kontraktor pertama tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya.

Baca juga: Sepintas Tanya tentang Arca Ganesha Tikus

Adat “Syarat” dalam Pembangunan?

Usut punya usut, pemborong yang pertama ini disinyalkan tidak pernah melakukan selamatan kecil sebagai “syarat” sebelum pembangunan dimulai. “Mungkin karena dia asalnya dari Jakarta Mas, jadi tidak percaya yang begitu-begitu,” katanya.

Saya menahan diri dan tidak berkomentar apa-apa.

Kontraktor kedua, yang berasal dari Malang, lebih kenal situasi dan kondisi gedung yang akan dibangunnya. Sebelum memulai pekerjaan, mereka mengadakan selamatan kecil agar pekerjaan berlangsung dengan baik. Tak ada masalah berarti dengan pembangunan yang ditangani pemborong kedua ini, gedung utama bisa selesai tepat waktu dan sesuai dengan spesifikasi dalam kontrak.

Bagi sebagian orang, hal ini tentu saja terkesan sangat absurd. Pula, post hoc, ergo propter hoc1). Namun harus pula saya akui, di mana pun lingkungan yang saya tempati, agaknya sudah jadi aturan tak tertulis bahwa sebelum memulai pekerjaan konstruksi bangunan, mesti ada “semacam selamatan” untuk mendoakan agar pembangunan berjalan dengan lancar. Lalai dalam melakukan “selamatan” itu bisa berbuntut tak enak. Berbagai gangguan bisa muncul, dari yang sederhana sampai yang mengancam nyawa.

Sebetulnya, saya pernah mendengar soal ini juga di Lombok dari seorang tukang langganan Bapak di rumah. Sudah jadi kebiasaan sebelum pembangunan untuk mengadakan selamatan seperti itu, namanya “syarat”. Di Lombok, “syarat” ini dilakukan dengan memotong seekor ayam hitam, yang darahnya kemudian dituangkan secara simbolis ke bahan-bahan bangunan yang akan digunakan. Ayam itu kemudian dijadikan hidangan yang mesti disantap baik oleh si tukang maupun oleh sang empunya rumah.

arca-arca-museum-mpu-purwa
Apakah arca-arca ini hanya semata benda mati?

Saya minta maaf jika ini disebut asal mengaitkan. Namun, ritual itu (kita sebut ritual saja) mirip sekali dengan upacara tabuh rah, bagian dari upacara butha yadnya bagi masyarakat Hindu. Biasanya upacara ini juga dilakukan sebelum ada pekerjaan/upacara besar. Kemiripannya agak mendasar. Tujuannya juga.

Pada akhirnya saya kurang bisa menafikan kalau dua ritual ini ada dalam “satu jalur”.

Baca juga: Brahma Wirasana: Sang Pencipta yang Pemalu

Kejadian-Kejadian Aneh bin Ajaib: Penunggun Karang?

Kesepahaman antara kami membuat saya melanjutkan pembicaraan. “Tapi secara umum nih Mbak, di sini pernah ada kejadian aneh-aneh nggak, sih? Yah kan di sini tempatnya arca-arca dari masa lalu, dan karena zaman dulu benda-benda ini dijadikan objek pemujaan, maka pasti ada “isi”-nya, kan. Ada nggak sih Mbak, kejadian-kejadian di luar akal sehat seperti itu?”

“Kalau kejadian ya banyak Mas, saya di sini sudah hampir sepuluh tahun. Tapi saya tidak pernah melihat langsung sih, cuma kalau seperti suara-suara, ada. Suami saya yang suka dengar.”

Baik, suara. “Seperti apa, Mbak?”

“Semacam orang batuk-batuk keras dari dalam gedung sana, tapi nggak ada wujudnya. Itu sering. Suaranya ada, tapi tidak pernah menampakkan diri sama saya. Kalau kata suami sih, yang pernah ditampakkan wujudnya, badannya besar banget sampai menembus langit-langit.”

“Di gedung yang baru dibangun itu?” tanya saya, dan Mbak Mimin mengangguk.

Saya berpikir sebentar. Taruhlah memang benar ada penunggu yang tak kasat mata di tempat ini, yakni yang berdehem keras itu. Maka ia tidak terikat dengan bangunan gedung lama, tetapi justru berkaitan dengan tanah yang dijadikan lokasi museum ini. Mau bangunannya diubah bagaimanapun juga, ia tetap ada, karena ia penjaga tanah ini.

Penjaga tanah? Penunggun karang? Saya mencatat. “Selain itu pernah ada kejadian aneh lain, terkait penunggu yang satu ini?”

batu-bergores
Batu bergores.

“Kalau sama saya sih nggak pernah, Mas. Selama saya di sini dari zaman Bapak dulu, tidak pernah ada yang aneh-aneh. Tapi kalau terhadap pengunjung yang jahil ya mungkin ya, saya tidak tahu juga. Yah, bagi saya sih selama kita tidak mengganggu, tetap sopan dan permisi, ya mereka-mereka juga nggak akan mengganggu kita.”

Saya sangat sependapat. Berkunjung ke mana pun, kita mesti menjunjung adab, agar kunjungan bisa berjalan dengan baik, untuk pada akhirnya mendapat hasil yang memuaskan.

Obrolan seru soal benda-benda halus ini masih soal barang-barang masa lalu yang disimpan di museum ini. Saya mengulik lebih dalam dengan soal yang sama: apakah pernah ada kejadian yang aneh-aneh soal arca-arca, prasasti, atau benda apa pun yang menyimpan energi masa lalu; mengingat di masa silam benda-benda ini sangat disucikan.

Yang saya dengar sedikit mencerahkan. “Ya tentu saja ada Mas, ‘isi’nya benda-benda itu. Tapi tidak pernah ada kejadian apa-apa soalnya wibawa yang punya tanah ini lebih besar dari yang mengisi benda-benda yang datang kemari. Jadi sedikit banyak saya juga jadi terbantu. Semacam jadi tenteram begitu lho Mas, soalnya kesannya benda-benda di sini sudah ada yang jaga semua.”

Oh, tampaknya soal makhluk tinggi besar penunggun karang itu sudah menuju titik terang. Kepercayaan saya mengakui keberadaan makhluk-makhluk seperti ini. Mereka adalah “penguasa pekarangan”, sebagaimana frasa itu adalah terjemahan langsung dari penunggun karang. Tanah ini, dan semua tanah-tanah lain yang sudah berpagar, punya penguasanya dalam bentuk makhluk astral pada dimensinya. Manusia hidup di atas tanah yang sama, hanya saja dalam dimensi berbeda. Irisan-irisan antara dimensi manusia dengan dimensi astral inilah yang menimbulkan kejadian-kejadian mistis seperti yang terjadi di museum ini.

Sementara itu, terkait dengan benda-benda masa lalu yang punya energi (atau mungkin pengiring dalam bentuk makhluk tertentu), mereka saat ini dapat diibaratkan sebagai penumpang tanah (numpang karang, istilahnya). Sudah barang tentu mereka akan tunduk pada si penguasa kawasan, dalam hal ini si penunggun karang. Maka jelaslah saya bisa paham mengapa si juru pelihara mengatakan bahwa “tidak pernah ada kejadian apa-apa soalnya wibawa yang punya tanah ini lebih besar dari yang mengisi benda-benda yang datang kemari”.

Baca juga: Kena Hujan, Kena Panas: Arca-Arca di Luar Ruangan

Ritual dan Pengertian: Sebuah Penutup Cerita

“Kalau soal orang-orang yang datang kemari untuk berdoa atau ibadah begitu bagaimana, Mbak?”

Wahai khalayak, saya bertanya itu bukan niralasan. Secara, benda-benda di sini memang dulunya dipakai sebagai objek ibadah (rata-rata). Sampai sekarang pun, beberapa candi (apalagi di Jawa Timur) masih dijadikan sebagai tempat ibadah. Saya cuma penasaran apakah untuk arca-arca yang sudah tidak in situ masih bisa didatangi dan dibuat sebagai salah satu tempat ibadah.

Itu sangat berkaitan dengan siapa yang “menunggu” tempat ini dan apa yang akan ia lakukan pada pengunjung.

patung-dewa
Umumnya patung tua seperti ini pasti ada “isi”-nya. Ah, entahlah.

“Yah namanya kepercayaan ya Mas, saya ya tidak bisa melarang. Cuma ya kami di sini bikin aturan, di dalam ruangan tidak boleh membakar dupa atau kemenyan. Mas bayangkan sendiri, kalau ada pengunjung melakukan ritual di depan pengunjung lain, bisa-bisa orang pada lari, bahkan meskipun hal itu sebenarnya tidak aneh. Kita kan tidak tahu siapa saja yang akan berkunjung kemari,” jelas Mbak Mimin.

Saya dan Curio mengangguk-angguk paham. “Tapi apa memang kalau di museum begini orang sama sekali tidak boleh pemujaan pada arca-arca itu, Mbak?”

“Nah kalau di sini sih, iya. Tapi kalau di Trowulan ada ruangan khusus untuk meditasi atau ibadah,” katanya. “Pokoknya kalau ada orang yang ingin ibadah di sana, kita sediakan tempat. Ya mau bagaimana ya Mas, kan benda-benda ini dulu yang membuat dan memfungsikan juga leluhur-leluhur semua. Kami tidak punya hak untuk melarang.”

Lagi-lagi kami cuma bisa dibuat terdiam. Meskipun di hari ini, kepercayaan apa yang dimaksudkan oleh Mbak Mimin sudah tidak menjadi mayoritas lagi, namun orang-orang yang ingin beribadah masih diberikan tempat. Lebih khusus lagi, benda-benda itu tidak ditinggalkan begitu saja, melainkan diberi tempat yang layak sehingga terhindar dari hujan dan panas. Kembali lagi, kendati sudah tidak dipakai dalam fungsi yang intensitasnya sama seperti beberapa abad silam, benda-benda itu masih diperhatikan sebagai kenangan masa lalu.

“Lantas Mbak, terkait dengan arcanya sendiri, saya pikir kita sudah tahu sama tahu ya kalau setiap arca tua itu biasanya ada ‘penunggunya’. Pernah tidak sih ada suatu permintaan, atau apalah, yang aneh-aneh? Namanya benda pusaka kan kadang-kadang ‘meminta’ ya, misal minta upacara, atau minta sedekah bumi, atau apalah…”

Pertanyaan itu sebenarnya berasal dari pengetahuan di kampung halaman, namun agaknya terlalu panjang jika saya jelaskan di sini. Semoga ada kesempatan di dalam tulisan-tulisan yang lain.

“Saya tak bisa bantah Mas, kadang yang namanya hal itu pasti ada.” Mbak Mimin tidak menjelaskan lebih jauh soal bagaimana ‘permintaan’ seperti itu bisa disampaikan—dari cara bicaranya, sepertinya sang juru pelihara sudah tahu bahwa saya tahu sedikit lebih banyak dari apa yang saya katakan sejauh ini.

patung-dewi-pancuran-suci
Seperti halnya patung ini. Ia menyembunyikan sesuatu. Semoga ada izin untuk menceritakannya.

“Tapi dari hari pertama benda-benda itu datang kemari, dan ketika saya meneruskan pekerjaan bapak saya di sini, saya sudah bilang ke barang-barang di dalam itu kalau saya tidak bisa menyediakan upacara atau sesajian apa pun. Kalau yang ada di dalam sana ingin minta ke orang lain, ya terserah, ndak apa-apa. Tapi kalau mintanya sama saya, ya mohon maaf, tidak bisa saya penuhi karena saya ndak punya kemampuan untuk memberikan apa-apa,” ujarnya menutup pembicaraan.


1) Post hoc, ergo propter hoc adalah bentuk kesalahan penalaran, yang berbunyi bahwa karena B terjadi setelah A, maka B pasti disebabkan oleh A.

11 thoughts on “Bermistis-Mistis dengan Arca dan Penunggu Museum Mpu Purwa

  1. Wow.. merinding jadinya Kak…
    Tapi tulisan ini memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan yang selama ini muncul setiap kali masuk museum.. hehehe

    1. Hehe… syukurlah jika tulisan ini bisa menjawab rasa penasaranmu, Mbak. Mungkin apa yang terjadi di museum lain berbeda. Saya yakin semua punya kearifan lokalnya masing-masing.

  2. kalo aku masih tetep logis tapi yakin mereka itu juga ada di sekitar kita.
    aku salut sama pemandunya, dia sudah “bilang” dengan jujur kalau nggak bisa ngasih apa-apa ke mereka karena pasti kepercayaan pemandunya juga berbeda.
    yang mitos2 kayak tadi juga ada sih, kadang ada yg abis motong pohon, pohonnya nggak bisa dipotong atau yg motong mendadak meninggal.wkwk

  3. Museum Mpu Purwa ini telah menyentuh hati Gara banget, kirain kemarin sudah habis serinya, ternyata masih ada cerita dari Mbak Mimin yang menarik gini. Mbak Mimim kudu bangga kalau banyak pengunjung museum seperti Gara. 😀
    Gambar patung terakhir yang pegang payudara itu mirip dengan Candi Belahan Sumber Tetek. Dewi yang sama atau memang ditemukan di sekitar sana juga?

    1. Ini episode terakhir kok, Mas. Hehe… saya yakin setiap pengunjung pasti punya cerita yang berbeda. Mbak Mimin itu selalu punya cerita, hihi.
      Keduanya benar, Mas. Ia dewi yang sama (Laksmi) dan ditemukan di sekitar sana (Malang) juga.

  4. Seru om ceritanya. Tapi entah kenapa saya gk percaya sama yang begitu2. Seperti yg om bilang tadi, saya tetap menjunjung adab ketika berkunjung. Jadi meskipun tidak percaya, saya tidak semena2 juga waktu melakukan kunjungan

    1. Betul, saya setuju. Untuk sopan dan beradab tidak harus percaya. Dua hal itu saling lepas, dan dua-duanya merupakan pilihan yang berpulang lagi pada kebebasan masing-masing.

  5. Sependapat,kak.
    Dimanapun kita berada di suatu tempat baru,ada baiknya permisi dan mengucapkan salam.
    Terutama di lokasi alam dan gedung-gedung kuno.
    Percaya ngga percaya, hampir sebagian besar lokasi seperti itu ada ‘penunggunya’.

    Itu batu tergoresnya … bikin melongo lihatnya.
    Kayak kena cakar raksasa.
    Kalau di film … jadi ngingetin adegan wolfverin mencakar tembok.

    1. Betul… mereka tidak terlihat, tapi mereka ada ya. Hehe. Dan sebagaimana kita juga, kalau menurut saya, ketika kita santun, mereka pasti santun.

      Mengherankan bagaimana cara orang masa lalu bisa menggores batu seperti itu hanya dengan menggunakan tombak atau benda lainnya dari besi. Saya pun masih suka kaget, haha.

Terima kasih sudah membaca, mari lanjut dengan diskusi di kotak bawah ini!