245 (3): Doh, Magnificent Geurutee!

Mari kita mulai episode pertama di bagian tiga ini dengan langit biru, agar kontras dengan episode selanjutnya. Tidak ada hujan, semua aman, damai, tentram, sentosa, sejahtera.

Tentu saja tidak ada hujan.

Well, sebenarnya belum. :hihi.

Pose bahaya bahagia, cihuy! (Setengah lengan menjuntai jadi penyangga)
Pose bahaya bahagia, cihuy! (Setengah lengan menjuntai jadi penyangga)

Jalanan panas. Yang jelas, saya tahu, kami mulai menanjak. Kembali saya mencoba mengabaikan cerita Pak Dayat tentang Geurutee (saat itu saya menyebutnya Gurutee) yang terus diulang sampai-sampai saya agak bosan. Mungkin karena saya telah terbiasa dengan penasaran itu: maksudnya, sebagus apa sih gunung itu sampai-sampai kata Pak Dayat waktu dua jam di atas sana bakal sangat terasa kurang?

Kurang biru apa, Gar?
Kurang biru apa, Gar?

Tak ada pekerjaan, sepertinya jejepretan bukit-bukit ini masih jadi pilihan, sambil sesekali mengabadikan pulau-pulau kecil di dekat pantai. Saya berpindah posisi ke sisi kiri. Selain karena sesekali pose berbahaya itu masih suka saya lakukan, keindahan dikata akan terjadi dalam potensi maksimalnya di sisi kiri kendaraan (kami dari Meulaboh).

Bukit dan pepohonan.
Bukit dan pepohonan.

Sebuah alat berat di dekat gundukan lumpur kami lewati dan saya langsung ingat lagi soal peringatan beberapa hari silam. Longsor. Saya menelan ludah, agak gentar. Sebenarnya perasaannya itu antara gentar, penasaran, dan ingin dapat pengalaman baru di tengah longsor (agak gila memang). Melihat ke sisi sebelah, gundukan besar tanah longsor sudah terpinggirkan rapi. Ah, sepertinya tak akan ada apa-apa yang baru. Perjalanan lancar. Longsor sudah selesai. Matahari bersinar, terik, tak ada tanda-tanda akan hujan.

Halo, alat berat! Sehat?
Halo, alat berat! Sehat?
Sisa-sisa lelongsoran *gulp*
Sisa-sisa lelongsoran *gulp*
The last ordinary picture.
The last ordinary picture.

Harapan saya akan Geurutee hampir pupus di tengah kelokan tak berkesudahan itu ketika apa yang ada di sebelah kiri mobil saat akhir tanjakan membuat napas tercekat dan mata terbelalak.

A preliminary glimpse.
A preliminary glimpse.

Saya cuma bisa bergumam, “Gila, Tuhan. Lansekapnya…”

Jreng!
Jreng!

Mobil menanjak lagi dan kata-kata itu terputus.

A plain which I called Lamno. Jreng jreng!
A plain which I called Lamno. Jreng jreng!

Apa yang bisa saya tuliskan untuk melukiskan sesuatu yang dilukiskan Tuhan? Keindahannya dan penataannya begitu teratur dan rapi. Seperti sudah direncanakan dengan begitu presisi. Di sebelah kiri, daratan rendah melembah dengan bukit-bukit rendah menyembul berisi padang-padang rumput, sungai besar yang bermuara ke laut (kami juga bisa melihat muaranya), persawahan, dan agak di kejauhan, daerah permukiman. Sulit untuk percaya bahwa kami tadi bergerak dari daerah permukiman itu. Perbukitan lain menjulang di selatan kami, bagian dari Bukit Barisan yang tersohor.

Please enjoy, a view from Geurutee.

Please enjoy, the view from Geurutee.
Please enjoy, the view from Geurutee.

Hewan-hewan ternak tampak begitu mungil, betul-betul seperti semut. Di dekatnya, rumpun pinus yang anehnya tertata demikian rapi, rapat berbaris seperti serdadu di hadapan lawan, mencoba menghadang deru dan debur buih ombak yang beriring saling berkejaran. Pada tengah-tengah mereka, satu strip lebar dari pasir yang sebenarnya putih tapi terkesan kelabu cerah karena tertutup bayangan awan itu seperti jadi pemisah sementara. Akhirnya, menjulang di belakang mereka, raksasa hijau, sebuah tanjung membukit yang (untungnya) masih penuh pepohonan, seperti jadi wasit.

img_3591

“Peperangan” yang jadi harmoni di Barat Aceh. Gila. Mulut ini terkatup rapat, tak mampu berkomentar. Biar mata dan lensa ini yang menjadi saksi untuk menjadikannya lestari, kendati hanya dalam elektron memori. Sementara telinga menikmati samarnya gelora peperangan antara desir angin menghantam dedaunan pinus, gelora debur ombak merecah pesisir, dan detak kehidupan kota, nun di kejauhan sana.

img_3593

Di bawah sana, tidak ada tanda tentang komersialitas pariwisata. Alam masih dalam bentuk perawannya yang paling alami: bahkan saya hampir-hampir tidak bisa melihat satu manusia pun di bawah sana. Astaga, semoga kealamian ini bisa tetap terengkuh dan turut terbawa dalam perjalanan waktu. Biarkan pantai di bawah sana jadi perhiasan dalam kotak kaca: indah, terjaga, dan tak berubah.

img_3605
Lengang, alami, indah.

Mas Baliyan mengatakan sesuatu tentang “Si Hitam”. Yang dimaksudnya adalah kera-kera berwarna hitam yang umum ada di daerah Geurutee Atas (di puncak Geurutee). Meski habitatnya di atas gunung, tapi sesekali mereka turun ke jalan ini untuk mencari makanan. Maklum, di sini banyak warung-warung kopi yang sekaligus sebagai gardu pandang di tepi jalan (dan sekaligus, punggung gunung dengan jurang mencuram).

Mobil dihentikan. Kami semua turun, sengaja berjalan kaki beberapa ratus meter ke depan (ke tempat mobil kami menunggu). Jalanan yang berkelok itu demikian sepi, dan situasinya apabila dilihat dari bawah bahkan jadi satu pemandangan indah lain di Geurutee. Di sisi kanan, bukit curam dengan kemiringan nyaris tegak. Jalanan berkelok ada di tengah. Di kiri kami terdapat deretan warung-warung sederhana tempat para pejalan melepas lelah sambil menikmati kopi hangat atau kelapa muda segar dan memuaskan hasrat menatap lukisan dari sang maestro terbaik di seantero jagat raya.

Kita turun dari mobil...
Kita turun dari mobil…
...melalui jalan ini...
…melalui jalan ini…
...untuk menikmati panorama ini.
…untuk menikmati panorama ini.

Karena saya sudah mendeskripsikan Lamno Plain yang dipandang dari tepi ini dengan demikian sukses puitis, yuk kita mampir ke salah satu warung di pinggir jurang Geurutee!

img_3614

img_36081

Kami tiba di tempat Mas Baliyan memarkir mobil. Sebuah warung sederhana, berlantai kayu, menjadi tujuan kami. Di sana sudah ada beberapa mobil terparkir. Mobil Basarnas. Ada pula ekskavator kecil yang sedikit berlumur lumpur. Dua orang petugasnya, masih bersepatu bot dan berseragam kaos logo Basarnas melepas penat dengan kelapa muda segar selepas bekerja “menyelesaikan” longsor Aceh Barat.

Waduh, saya tidak bekerja dengan longsoran tanah, sih, tapi dari tadi pagi saya belum minum manis-manis. Kelapa muda ini pilihan yang tepat betul.

Sehingga tentu saja saya mengiyakan dengan sangat semangat ketika Mas Baliyan menawarkan untuk memesan kelapa muda. Atau sudah tercetak jelas di jidat ini? Jadi malu.

img_3628

 

Dengan demikian, saya bisa menikmati satu butir kelapa muda berperas jeruk nipis dengan harga yang saat itu sekitar Rp5k. Segarnya. Ditambah lagi dengan lukisan yang membentang dari horizon ke horizon di depan kami. Saya bahkan sampai bingung mau melakukan apa. Mengabadikannya agar bisa dibagi ke semua orang, atau menikmati kelapa muda dan pemandangan itu untuk saya sendiri?

Kenapa tidak keduanya? :hehe.

Penasaran dengan bagaimana konstruksi warung-warung ini, saya menunduk. Tak berbeda dengan bangun-bangunan di daerah Puncak atau tepi Bedugul. Konstruksi kayulah yang menopang dinding kayu beserta atap agar tetap tegak pada tempatnya. Memang pada beberapa tempat juga ada bagian-bagian yang dibeton, namun sebagian besar bangunan ini terbuat dari batu.

img_3625

Namun demikian, saya menyayangkan tumpukan sampah yang tentu secara sengaja dibuang oleh beberapa orang langsung di belakang warung. Ada yang menyangkut di ranting pohon. Ada sampah juga menumpuk di bawah kami. Beberapa puluh kelapa muda yang telah habis airnya menatap saya seperti nelangsa, memohon untuk dikumpulkan dan dibawa ke tempat mereka seharusnya. Astaga. Apa tempat ini begitu jauh dari tempat sampah?

Ketika saya masih cemberut menatap tumpukan sampah itu, Mas Baliyan langsung mencengkeram birai kayu di dinding warung dan menunjuk pada sesuatu yang menimbulkan bunyi gemerisik sedari tadi. “Itu dia si hitam!”

img_3607

Saya melihat ke arah yang ia tunjuk. Tampak sangat kecil dari sini, tapi memang benar, di sana ada beberapa kera hitam bermain gelantungan di dahan-dahan pohon, tidak takut terjatuh. Warnanya hitam, dan itu terus terang membuat saya tertarik. Maklum, kera yang umumnya saya jumpai (di Pusuk, Pendakian Sang Hyang Ambu, Sangeh, atau Uluwatu) bukan berasal dari spesies yang seperti ini. Di sini primata itu berbulu hitam, dengan cercah putih samar di bagian kepala. Agak mirip dengan kera-kera di Afrika.

Tampaknya jenis kera berbulu hitam ini hanya terdapat di Aceh…

…dan setelah mendengar cerita para bapak, tampaknya memang demikian.

Terus terang saya agak kurang percaya, sih.

Sesuatu bergoyang di kejauhan. Seekor kera lagi! Di puncak pohon, dia seperti menikmati pemandangan layaknya kami-kami di warung ini, begitu damai, tak terusik, tentu tanpa membuat sampah plastik bekas bungkus krupuk (saya lagi-lagi menatap miris bungkus krupuk di atas meja kami). Tanpa sadar saya mengambil bungkus itu dan menjejalkannya di dalam kantong saya.

Err, sudahkah saya pantas dinobatkan sebagai “Duta ‘Jejalkan Saja Semua dalam Sakumu'”? Hahaha.

Kera yang ini agak berbeda. Bulunya kecokelatan, dan sepertinya hidungnya agak besar sehingga saya hampir pasti mengiranya sebagai bekantan. Tapi bekantan tidak mungkin ada di Sumatera, kan? Jadi anggaplah kalau saya punya imajinasi yang terlalu tinggi. Hanya saja, saya ingat betul, kemarin saya begitu kukuh ingin membuktikan pada diri saya sendiri bahwa itu MEMANG bekantan. Saya ambillah satu jepretan dengan panjang fokal 55mm. Jelas apa yang saya dapatkan akan amat sangat kecil sekali. Sangat-sangat kecil, karenanya saya harus zoom maksimal untuk bisa melihat kenyataan bahwa itu (mungkin) bukan bekantan.

“Bekantaaaaaan! Semestinya gue bawa lensa 400mm dengan extender 1,6 kali!!”

img_3622

Kok saya jadi terobsesi begini? Tidak.

Terlalu asyik mengagumi lukisan alam itu (sebagaimana saya betah berlama-lama di Penelokan atau Puncak Ashtari eits, ini ada ceritanya sendiri), kami semua tentu saja lupa waktu. Sudah hampir jam setengah tiga siang ketika Pak Mansur menyuruh kami semua kembali ke mobil. Sekadar informasi, kami makan siang sekitar 11.45. Keluar dari Lamno sekitar 12.15. Tak sampai satu jam untuk kemari. Katakanlah kami tiba pukul 13.00. Kalau kami baru beranjak pukul 14.15, tujuh puluh lima menit sudah kami habiskan di sana, dengan “hanya” menatap indahnya pemandangan ditemani kopi, kelapa muda, dan kerupuk.

img_3612

Kenapa rasanya singkat sekali?

Entah, dari semua kombinasi alam yang pernah saya temui, baru Lukisan Geurutee yang paling sukses menggabungkan seluruh elemen. Pohon pinus, laut biru yang sesekali menghijau, awan berarak, sepoi angin membelai, ombak berdebur, pasir berbayang awan, bukit tanjung penjaga, curam tebing karang menghujam, kelok jalan tak berputus, penonton-penonton primata, gardu pandang para pangeran, dan, baiklah, ehem, sisa-sisa kelapa muda.

Dengan enggan saya mengakui dua hal, pikir saya ketika mobil mulai berjalan. Pertama, ya, Geurutee membuat semua keindahan pantai, laut, karang serta pulau yang tadi kami jumpai seolah-olah tidak ada apa-apanya. What else could we ask for such panorama? Kedua, ya, saya harus mengakui Pak Dayat. Tujuh puluh lima menit saja terasa sangat cepat di Geurutee. Entah apakah 90 menit akan terasa berbeda. Saya sangsi akan itu. Apalagi kalau kami diberi kesempatan untuk melakukan dua hal: (1) mendaki ke puncak, dan/atau (2) turun langsung ke pantai mahasepi itu. Saya rasa beberapa hari juga belum cukup…

img_3603

Tapi saat itu ada sedikit kekecewaan bagi saya. Saya belum sempat mengabadikan kera. Kera apa saja deh, yang penting asli Geurutee. Bahkan rencana kami untuk memberikan kera itu makanan (apabila ketemu) juga urung terlaksana. Padahal kami sudah membawa pisang rebus dan kacang rebus satu bungkus (sebenarnya Mbak Din yang bawa). Tapi ya sudahlah. Toh, kami sudah cukup puas dengan menatap lukisan mahaindah itu.

img_3641

Mobil melaju. Sisa tanjakan pun saya habiskan dengan bertopang dagu pada jendela mobil yang terbuka…

…sampai kera itu dengan santainya saya jumpai berpose di pinggir tanjakan!

Sontak kendaraan kami melambat. Agak salah posisi sebenarnya, mengingat kera itu bersantai tepat di tengah-tengah tanjakan. Dan tentu saja kami tidak bisa berkata, “Err, kera, bisa ke tempat yang lebih datar sedikit?”, jadi kami hanya melakukan apa yang kami bisa: mempertahankan laju mobil meski sangat lambat, hanya sekadar untuk tidak berjalan mundur. Kami tidak mungkin berhenti, karena kemiringan (dan berat tubuh kami semua yang ada di sana) tidak mungkin dapat ditanggung dengan gaya dari rem tangan menurut hukum keseimbangan benda tegar stop here and skip

Saya mengeluarkan sebuah kamera, menjepret sekali. Bahkan saya tak sempat melihat kalau ternyata hasil foto itu blur karena mobil mulai bergerak menjauhi kera itu. Waktu yang kami punya memang benar-benar tipis, yang membuat saya jadi merasa harus mengabadikan satu foto saja tentang sang primata, sekabur apa pun foto itu. Memang salah, karena mestinya saya harus berusaha menangkap foto terbaik yang saya bisa, tapi bukankah ada kalanya “momen” tersebut lebih penting ketimbang selembar foto?

Termasuk momen refleks ketika kami semua baru ingat di saat yang bersamaan bahwa “kami punya makanan untuk si kera!” tapi kami juga terlalu sibuk mencari di mana kami menyimpan pisang dan kacang itu. Tentu dengan kepanikan karena kera itu agak keheranan menatap kami ribut-ribut sementara mobil terus melaju. Jadi dengan refleks indahnya saya merenggut makanan terdekat dari tempat saya dan melemparkannya pada si kera.

Yang dengan demikian lahapnya disantap oleh si kera, sementara saya yang baru sadar terkaget-kaget karena yang saya kira saya lempar bukanlah sebungkus kacang rebus, tapi sebungkus keripik kentang yang belum sempat kami habiskan. Doh!

God, forgive me for being such an irresponsible travelerketakutan.

Ujung-ujungnya saya cuma bisa cengengesan dan ketawa-ketawa sendiri. Campur aduk. Berarti saya adalah salah satu kontributor sampah di pegunungan ini, ya? Saya salah satu anggota perusak lingkungan, ya? Bukankah kita tidak boleh memberi makan satwa sembarangan? Kenapa saya beri makan, ya? OK, saya rasa saya tak harus bangga dengan itu, kan? Hehe. Hehe.

Hehehehehe…

img_3668

Mobil pun mencapai titik tertinggi di Geurutee, dan menurun menuju sebuah taman pesisir pantai yang saat itu sedang dalam proses penyelesaian. Kecepatan yang agak tinggi ditambah antisipasi yang kurang akibat pikiran bersalah ini masih pada sebungkus Ch*tato yang sudah dilahap sang kera dengan enak nikmatnya membuat adrenalin menderas seperti naik wahana kapal taman bermain.

Agak panik, di dalam hati pun saya bersorak keras,

“Geuruteeeee!!!!”

 

img_3584

54 thoughts on “245 (3): Doh, Magnificent Geurutee!

  1. Indah banget Gar! Postingan ini mengingatkanku pada tugas bapakku dulu. Sehabis pensiun beliau pernah jadi konsultan restorasi alam Aceh. Foto-fotonya were just mind blowing!! Great great post!

    1. Waa, thank you thank you thank youuuu!!
      Tampaknya restorasi alam itu berhasil dengan sangat gemilang, Mbak. Buktinya, baru sepuluh tahun, kecantikannya sudah tak tertandingi :))

          1. Pastilah. Saya juga gitu. Jauh ke Afrika. Tapi macetnya Jakarta dikangenin.
            Eh. Baca di about kayaknya Gara ini orang Bali. Ternyata Aceh ya.

          2. Hahaha. Coba cari pakai Liberia aja Gara. Tagnya atau kategorinya aku masukkan di situ.
            Cuma belum banyak dan gak detail euy. Banyakan foto2 aja

  2. Subhanalloh…. 😯 <3 nice shot! Kalo kayak gitu aku suka speechless dan malah males buka kamera, cuma bengooonggg~~ terpukau. Dan ya, jalan2 ke tempat kece nan virgin itu selalu bikin mo nyerah di tengah2 yah..sighh

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?