245 (2): Jalan dari Amerika

img_3495

Kami masih susah move on dari pantai di Calang ketika saya melihat papan-papan kilometer jalan yang tidak biasa, karena mirip sekali dengan papan kilometer di jalan tol. Tulisannya 148km.

Ini di KM 132.
Ini di KM 132.

Hah? 148km? Tunggu dulu. Jadi kami tadi baru menempuh… 97km. Kurang dari 100km dan saya bahkan sudah bisa menulis sedemikian banyak, dan mendapat sedemikian banyak cerita juga. Ah, saya jadi makin penasaran, cerita dan pemandangan apa lagi yang menanti di 148km sisa perjalanan. Alamak, bahkan kami belum separuh jalan! terlalu bersemangat

img_3496

Agak aneh memang, mengingat baru dari kilometer ini saja ada penunjuk jalan, dan penunjuk jalannya itu menandai kami ada di kilometer berapa. Tapi saya masih belum begitu ngeh akan hal itu, lantaran masih sibuk mengambil beberapa gambar. Bagaimana tidak, pemandangan di luar sana terlalu indah untuk dilewatkan. Pemandangan tebing dan tanjakan, yang terpadu dengan birunya laut dan persatuannya dengan langit sebagai latar belakang.

Memang, lukisan Tuhan tiada taranya.

Ketika kami menanjaki jalan yang diapit dua bukit di kiri kanan kami, memang hanya bukit yang nampak. Noda kotor tanah akibat longsor kecil sehabis hujan terus-menerus tiga hari lalu memang masih membekaskan gundukan lumpur yang mulai mengering. Tapi selepas itu, begitu jalan menurun, kami seolah-olah langsung tertelan pada birunya samudra.

img_3516

img_3538

img_3542

Di sisi laut, ketika mobil mencapai titik-titik tertentu yang lebih tinggi dari sekitarnya, kami bisa melihat tonggak-tonggak pancang jembatan lama. Kini bekas jembatan itu sudah menjadi bagian dari laut biru. “Betapa”, takjub saya di dalam hati, “tsunami membawa perubahan demikian besar pada garis pantai Aceh.” Matahari yang terik tak menghalangi kami untuk mengambil gambar, malah kalau bisa saya duduk saja di pinggir jendela mobil sembari membiarkan kamera ini berusaha menangkap setiap momen yang ada.

Jalan berkelok.
Jalan berkelok.
Tertelan dalam birunya samudera.
Tertelan dalam birunya samudera.

Papan-papan penunjuk kilometer itu pada awalnya terkesan biasa saja. Tapi mata dan tubuh saya merasakan sesuatu yang aneh di perjalanan itu, yakni (1) jalannya yang luarbiasa mulus sehingga mobil kami bisa melaju kencang tanpa takut guncang-guncangan dan (2) jembatan-jembatan dengan tulisan yang sepertinya saya kenal. Apa gerangan? Saya baru bisa membaca jelas ketika suatu pemandangan pantai kembali menggoda kami untuk mengabadikannya.

Kira-kira bunyinya “With love from American People.”

Oalah, inilah jalan dari Amerika itu!

Puing-puing.
Puing-puing.
Perbukitan.
Perbukitan.
Pinggiran jalan lama.
Pinggiran jalan lama.

Topik pembicaraan tentang Jalan Amerika sontak mengemuka di antara kami berlima. Dan memang benar, 148km jalan dari Calang–Banda Aceh memang merupakan hasil sumbangan dari masyarakat Amerika melalui badan bantuan internasional mereka, USAID. Jalur utama penghubung Meulaboh–Banda Aceh ini memang hancur “total” saat bencana tsunami 10 tahun lalu itu. Bahkan beberapa artikel menulis, “this area was vanished completely leaving only scattered shards of concrete.“. Daerah ini benar-benar hancur, jalan terputus (beberapa menjadi bagian dari lautan), rumah-rumah tersapu entah ke mana. Akan sangat mengulang cerita kalau saya harus memaparkan korban jiwa.

Pantai lagi!
Pantai lagi!

Hal tersebut rupanya menjadi perhatian bagi para relawan asal Amerika sana. Transportasi Banda Aceh–Meulaboh via darat mutlak diperlukan agar kehidupan di daerah ini dapat berjalan kembali. Singkat cerita, dibangunlah jalan selebar 11 meter sepanjang 148km ini, dengan posisi agak masuk ke dalam daratan, meski tetap mempertahankan panorama pesisir barat Aceh yang tersohor itu.

Begitu tahu ini jalan dari Amerika, kami sebenarnya tertawa sedikit miris. Bukan miris karena kualitas jalannya yang jelek, tapi prihatin gara-gara jalan ini begitu mulus. Benar-benar nyaman memacu kendaraan di sini, apalagi mobil yang lalu lalang juga tidak banyak.

Lengang.
Lengang.
Telitilah gambarnya. Ada burung elang :)).
Telitilah gambarnya. Ada burung elang :)).

Sebenarnya, adalah sebuah cerita dari para bapak yang membuat kami terkekeh. Jadi, jika seseorang berangkat dari Aceh ke Medan (via Meulaboh–Tapaktuan), dia akan tahu kapan mobilnya memasuki wilayah Sumatera Utara. Rasakan saja guncangan jalannya: kalau mulus, berarti masih di Aceh, sedangkan kalau sudah (sangat) berguncang, berarti kendaraan telah memasuki daerah Sumatera Utara.

Jujur, itu miris. Sangat. Maksudnya, oh, come on, apa kita harus menunggu bencana untuk membangun jalan berkualitas? Seingat saya, Buton kaya akan aspal kelas satu. Ke mana semua aspal itu dibawa? Mengapa jalan-jalan di Indonesia (bahkan Sudirman–Thamrin di Jakarta) kualitasnya tidak lebih dari jalan gang dekat rumah saya di Mataram? Kenapa jalan ini bisa sebegitu bagusnya, dan masih bertahan sampai sepuluh tahun tanpa ada jalan bolong, rusak, atau putus?

Mungkin benar, ada beberapa oknum yang (dengan sengaja) membuat kualitas aspal di jalan raya itu menjadi kelas tiga… ah, saya tak berniat membuka forum kontroversi di sini. Lagi pula, tuduhan demi tuduhan tidak menyelesaikan masalah, kan? (Semoga ada pihak terkait yang membaca ini dan menjadikannya sebagai bahan masukan).

Dengan keprihatinan yang tersembunyi dalam tawa miris itu pun mobil kami terus melaju…

Rasa-rasanya, perjalanan ini lebih afdol apabila saya langsung menyajikan galeri untuk dinikmati oleh teman-teman sekalian :hehe. Hanya ada beberapa foto, dan mungkin tidaklah terlalu bagus karena saya belum begitu ahli dalam fotografi (masih belajar :hehe), tapi saya ingin membagi apa yang saya lihat sepanjang perjalanan di Jalan Amerika.

Awalnya, dengan gugusan pohon tak berdaun ini. Saya lupa siapa yang berkata bahwa tempat ini sebenarnya terkenal. Unik memang, di tengah pohon-pohon yang menghijau, secuil daerah laut ini tertumbuhi pohon-pohon berkayu abu-abu dengan tak ada daun tumbuh di cabang-cabangnya.

Pun dengan daerah yang dibatasi batu-batu ini. Firasat saya mengatakan akan ada reklamasi di daerah ini, tapi biasanya firasat saya salah, apalagi baru sekali lihat.

Pembangunan?
Pembangunan?
Apa yang menanti di balik kelokan itu untuk kami jelajahi?
Apa yang menanti di balik kelokan itu untuk kami jelajahi?

Dan sebagaimana yang gambar terakhir katakan, apa yang menanti kami di balik bukit itu?

49 thoughts on “245 (2): Jalan dari Amerika

    1. Iya lho, licin bener.
      Cuma setelah saya pikir-pikir, mungkin jalanan di sini semacam sengaja dibuat tak semulus biasanya kali ya, soalnya kalau dibuat mulus ntar jadi ajang kebut-kebutan :/

    1. Yep, total Indonesia :hehe
      Ah, jalanan Senggigi-Nipah-Bangsal punya ceritanya sendiri, meski tak semulus si Jalan Amerika tapi panoramanya tidak kalah :))

  1. Pantainya keren2. Dari kejauhan gini dah berasa aja semilir angin menerpa wajah. Huaaa.

    Memang miris ya. Indonesia penghasil banyak kekayaan alam namun semua rasanya tak terlihat di manapun. Jalan Thamrin dan sekitar penuh tambalan demi tambalan hanya karena beberapa orang ingin mengeruk lebih dari proyek yang dibuat itu. Hiks.

    1. Persis dengan apa yang saya lakukan untuk mengambil beberapa foto :hihi
      Yah, kadang manusia tidak pernah puas dan mementingkan dirinya sendiri saja Mas, padahal kalau dia bekerja untuk kepentingan orang banyak, kepuasannya akan jauh lebih besar dibanding ketika ia hanya memedulikan dirinya sendiri πŸ™‚

  2. Aduhai, jalan bikinan Amerika memang mulus, semulus gitu ya ckckck…. Tinggal warga setempat dan pemerintahnya ni ya mau berkembang atau tidak dengan fasilitas tersebut. Foto-fotonya nggarai pengen ke tanah rencong! πŸ™‚

    1. Kadang-kadang saya bingung, Mbak. Kita semestinya untuk beberapa hal berterima kasih pada Amerika, tapi untuk hal yang lain kadang ada beberapa kita menghujat dan menyalahkan apa yang Amerika lakukan. Masih bisakah kita disebut bangsa yang tahu berterima kasih? *mulai berkonspirasi…*

    1. Menurut cerita, memang tidak boleh menyalip, Mas. Soalnya (1) ini jalur 2 arah, (2) medannya naik turun dengan kemiringan yang lumayan dan (3) dibangun oleh Amerika “langsung”, jadi aturan yang dipakai sedikit banyak mengadopsi aturan Amerika.

      Sip, salam kenal dari Jakarta, terima kasih banyak! πŸ˜€

  3. Halo Gara, keren banget jalur jalan Amerikanya. Keren banget pemandangannya. Iya ya masa sih nunggu bencana buat bangun jalan sekeren itu ya. Meskipun gak sekeren jalur ini, perjalanan dari bakaheuni ke Bandar Lampung juga sarat dengan gasping sceneries. Keren-keren juga kombinasi gunung dan lautnya..

  4. Kadang heran juga
    konon kita sekarang sudah pinter
    banyak yang koleksi gelarnya panjang kaya uler
    Tapi
    bikin jalan remuk
    bangun sekolah ambruk
    Dan nggak di jalan nggak di TV..
    saling sruduk :mrgreen:

    1. Betul sekali sob, semua orang cuma mikir diri masing-masing, padahal di luar sana orang-orang berteriak nyaring gara-gara rumahnya kebanjiran nggak kering-kering :ikutan

      Makasih sudah mampir!

  5. jalannya mulus banget. memanjakan mata dari foto2nya dan tentu memanjakan para pemakai jalan di sana ya. semoga tetap awet terawat.
    sempat terbayang apa bisa ya ada semacam jalan spt ini di sepanjang pinggir pantai selatan jawa…

    1. Mudah-mudahan bisa bertahan, Mas, soalnya sekarang di sana sering longsor πŸ™

      Pasti bisa, Mas, kalau semua pihak berusaha mewujudkannya πŸ™‚

      Terima kasih sudah berkunjung πŸ™‚

  6. Karena di Palembang nggak ada Pantai, jadi kalo ngelihat pantai dari kejauhan kayak gini rasanya berdesir-desir hehe. Paling deket ke Pantai itu di Lampung atau Bangka Belitung. Dan emang begitu tuh, kalo di perjalanan menuju pantai sensasinya bedaaaa

    1. Sensasinya terasa banget, Mas.
      Angin, laut, pegunungan, belum bisa saya temukan padanannya di tempat lain. Jadi kepingin balik ke Aceh lagi xD

      Terima kasih sudah berkunjung πŸ˜€

  7. Di Palangkaraya ada jalan Uni Sovyet. Jalan yang dibuat oleh insinyur Rusia di era Orde lama, proses pembuatannya lama namun ketahanannya sampai satu abad.
    Nah di Aceh ada jalan Amerika, kita lihat berapa lama ketahanan jalan ini. apakah serupa dengan seterunya, jalan Uni Sovyet. πŸ™‚

    1. Wew, satu abad. Kuat sekali konstruksinya kalau begitu.
      Yep, mudah-mudahan jalan ini pun juga bisa bertahan selama itu, bahkan kalau bisa lebih dari satu abad πŸ™‚

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?