#220TahunMTP: Belajar Menjadi Pencari Jejak

Pada akhirnya tur barusan membuat saya berpikir. Diawali dengan semangat, diisi dengan berbagai kejutan, dan diakhiri tepat dengan pertanyaan di lokasi yang membuat saya merinding lagi: plakat JVK yang membuka cerita perjalanan kami di MTP.

Bahwa kami akan berakhir juga seperti orang yang ada di bawah plakat yang kami baca, jadi kenapa kami harus lupa?

Tapi tanya tinggallah tanya kalau kita tidak berusaha untuk mencari jawabannya. Tapi untuk sekarang, mari bersiap untuk menghadapi apa yang akan dibawakan selanjutnya: kotak-kotak karton putih besar di belakang meja suvenir, dan air-air mineral gelas.

Pembagian berlangsung cepat dengan masalah yang masih sama. Bukan kekurangan tapi kelebihan. But you could never go wrong with excess of food while the poverty is still around. Jadi saya tidak terlalu ambil pusing. Lagi pula saya masih menikmati bagian saya juga; menunya lumayan, ayam bakar dengan sambel. Salah satu makanan favorit yang suka saya beli kalau tanggal kalender belum terlalu tua.

Saya belum berniat pulang sebelum mengikuti seminar. Selain karena Meneer Lilie sudah berjanji bahwa di seminar nanti beliau akan membahas semua titik yang kami kunjungi tadi secara lebih komprehensif, benda baru di dalam paket seminar yang dibagikan oleh panitia membuat saya merasa tak akan ada buktinya saya ikut acara hari ini jika tidak mendapat benda itu, benda yang membuat saya langsung mendaftar ketika melihatnya dimasukkan ke dalam paket seminar:

Sertifikat.

Dan, tentu saja, empat paper akademik yang membuat saya ketar-ketir banget ketika menerimanya, tidak sabar menunggu acara seminar itu dibuka oleh mbak pembawa acara, sementara ketiga narasumber bersiap di depan untuk menyampaikan materi. Yep, empat paper akademik, bukan satu, bukan pula dua. Keempatnya akan disajikan oleh tiga narasumber yang kini sedang bersiap-siap.

Syukurlah, sepanjang penglihatan saya, hampir semua peserta tur tadi juga turut dalam seminar ini. Mbak pembawa acara bahkan berkata kalau seminar tahun ini pesertanya paling banyak. Itu patut diapresiasi, padahal dalam hati juga tawa saya agak miris sih, soalnya kebanyakan pesertanya adalah mahasiswa, yang, mohon maaf, cuma datang terus duduk dan main gawai tanpa memerhatikan penjelasan di depan. Pun jika ada yang benar-benar memerhatikan penjelasan narasumber di depan, jumlahnya bisa dihitung jari.

Tapi bagaimanapun, kehadiran mereka pun mesti kita syukuri, ya jitak diri sendiri, ketimbang ruangannya kosong melompong… :hehe.

_MG_9560

Kami semua sudah akrab dengan narasumber-narasumber itu (ciee, akrab), jadi istilahnya seminar kemarin lebih ke pembahasan lebih lanjut soal apa yang kami kunjungi tadi serta saling berbagi pengalaman dan usul saran. Pokoknya seminarnya jadi dua arah, tak jadi seperti kuliah Sastra Belanda campur Arkeologi dan Arsitektur Lansekap sebagaimana yang saya duga sebelum ini. Namun demikian, makalah-makalahnya tetap dibahas tuntas.

Oke, dalam urutan yang mungkin tidak sama dengan urutannya dibawakan, makalah-makalah itu adalah:

Yang pertama dibawakan oleh Meneer Lilie. Berjudul “Batu Nisan Brandes Sang Penyelamat Manuskrip Negarakertagama di Museum Taman Prasasti”, makalah ini bercerita tentang makam J.L.A. Brandes, seorang arkeolog yang terkenal dengan tafsirnya akan naskah-naskah kuno di Indonesia. Lebih khusus lagi soal Negarakertagama, karena ialah orang yang menyelamatkan naskah kuno itu dari pembakaran, ketika Belanda menyerang Lombok pada 1894.

Saya sudah pernah bercerita di beberapa postingan sebelumnya kalau posisi terakhir kitab ini sebelum diboyong ke Belanda adalah di Lombok, di Perpustakaan Lombok yang menyimpan arsip-arsip kerajaan Hindu dari zaman Kediri hingga Majapahit. Termasuk di dalamnya adalah kitab ini, Desawarnana, yang hampir saja terbakar di penyerangan Belanda pada Istana Mayura, medio 1894, kalau saja tidak diselamatkan oleh Brandes.

Brandes meninggal di Batavia pada tanggal 26 Juni 1906 dan dimakamkan di Kebon Jahe Kober. Makamnya hampir-hampir seperti candi dengan bebaturan dan berbagai bentuk hiasan yang distilir, semuanya seolah memberi kenangan menyenangkan tentang seorang arkeolog yang berkontribusi besar pada masanya, sesuai dengan apa yang paling ahli dilakukan Brandes semasa hidup.

Namun di mata seorang Meneer Lilie, banyak sekali pesan nonverbal kompleks pada makam itu, alih-alih sekadar monumen penghormatan bagi sang arkeolog yang piawai menafsirkan kebudayaan Jawa. Dari kejauhan, makam Brandes tampak mirip dengan bangun-bangunan candi di Jawa Timur. Namun apabila ditelaah lebih lanjut melalui proses semiotika, bentuk-bentuk yang ada di makam itu betul-betul sarat akan makna.

_MG_9552

Meneer Lilie menganalisis bentuk daun yang ada di makam Brandes (yang ternyata adalah daun akantus), beserta maknanya, yakni hidup, kemuliaan, dan kejayaan. Dibahas pula bentuk-bentuk lain, seperti pilar yang patah yang mirip dengan lingga dan yoni, gunungan-gunungan bergaya Jawa (yang awalnya saya kira tak berarti), bebaturan, sampai ke kelopak bunga teratai yang menjadi batur terbawah makam.

Dijamin jadi bisa menjelaskan makam Brandes pada pengunjung MTP kalau baca makalah ini secara lengkap :haha.

Makalah kedua juga milik Meneer Lilie. Bertajuk “Batu-Batu Nisan di Museum Prasasti sebagai Arsip Kolonial”, makalah ini seperti resume mendalam dari tur yang sudah kami lakoni tadi. Di awal, kami dijelaskan latar belakang kenapa pemerintah kolonial Belanda membangun pemakaman di Bovenstad yang notabene jauh dari pusat kota di Benedenstad. Ternyata hal itu adalah dampak dari adanya Aufklarung atau pencerahan di daerah Eropa Barat, ketika pemerintahan di sana mengeluarkan aturan untuk tidak lagi memakamkan jenazah di sekitar gereja dengan alasan kesehatan, mengingat pada masa itu jenazah disinyalir juga sebagai penyebar penyakit.

Lagi pula, suasana Batavia kala itu tidak bisa dibilang sehat dengan kematian yang semakin hari semakin menjadi akibat wabah kolera dan malaria…

28 September 1795 menandai pemindahan besar-besaran makam-makam dari De Nieuwe Hollandsche Kerk (Gereja Belanda Baru, kini Museum Wayang), Pemakaman Jl. Kopi, dan Portugeesche Buitenkerk (Gereja Portugis di Luar Tembok Kota, kini Gereja Sion). Inventarisasi makam-makam yang dipindahkan dilakukan dengan cara memberi nomor pada nisan yang dipindahkan, dengan kode HK. Jadi kalau menemukan nisan berkode demikian, nisan itu dipindahkan dari makamnya yang lama di wilayah Kota Tua :)).

Wilayah tempat pemakaman itu bertempat dikenal sebagai Kebon Jahe Kober. Ternyata kata “kober” punya arti sendiri, yakni “koeboeran bersama”, maksudnya, orang-orang yang dimakamkan di sini tidak lagi terbatas pada orang Protestan, namun juga Katolik, dari berbagai ras, orang Inggris, bahkan orang Yahudi dan Armenia juga ada yang dimakamkan di sini (kalau mengikuti postingan saya di serial ini, pasti tahu makamnya yang mana :haha). Tempat ini digunakan sebagai pemakaman sampai sekitar 1970-an ketika Gubernur Jakarta saat itu, Bapak Ali Sadikin, memutuskan menjadikan pemakaman berilalang tinggi ini sebagai museum. Sesuai SK Gubernur DKI Jakarta kala itu, Museum Taman Prasasti pun dibuka secara resmi pada tanggal 9 Juli 1977.

Saya suka bagaimana Meneer Lilie menyampaikan makalah ini melalui banyak foto yang beliau dapat dari berbagai sumber. Diskusi jadi terasa mengalir dan seru karena para mahasiswa yang saya kira cuma datang dan duduk ternyata memerhatikan setiap detil unik dari foto-foto di masa lalu. Si Mbak pembawa acara bahkan sampai memuji bahwa baru di tahun ini, seminarnya bisa berjalan dengan seru dan sangat hidup. Semua peserta bertanya silih berganti tentang apa saja yang aneh di kepala mereka terkait gambar-gambar yang ditunjukkan di layar depan kami.

Bahkan satu di antara peserta seminar bertanya soal nama pasti dari MTP, dengan alasan yang sangat nyeleneh bagi saya: buat hashtag Twitter.

Orang itu adalah saya :haha.

Eh betulan, tagar #MuseumPrasasti dan #MuseumTamanPrasasti akan berbeda jauh kalau di-search di kotak pencarian Twitter (atau Instagram). Jadi keputusan soal apa tagar yang tepat akan sangat penting, kan? :haha.

Mendalami penjelasan di pendopo tadi, dalam makalah ini Meneer Lilie memperdalam soal bagaimana adat pemakaman masyarakat Batavia kala itu, dengan urut-urutan yang sudah saya jelaskan dalam tulisan terdahulu. Kemeriahan yang bagaikan ironi bagi masyarakat kala itu, senjakala VOC yang hidup dalam kondisi ekonomi yang makin hari makin sulit. Di sinilah catatan-catatan arsiparis VOC mengambil peran yang sangat penting.

Dan sebetulnya, batu-batu nisan pun menyimpan catatan yang sangat berharga tentang kehidupan masyarakat di zaman itu. Sebuah nisan akan memuat inskripsi verbal dan nonverbal tentang si mati yang menurut saya cukup menjelaskan bagaimana kehidupan dari orang itu.

Sebagai contoh, Michiel Westpalm.

Salah satu sharing dari Meneer Lilie menurut saya cukup menggetarkan hati. Beliau bercerita bahwa ada beberapa orang yang bertanya mengapa beliau begitu perhatian dengan makam zaman VOC, toh mereka adalah penjajah yang sama sekali tak ada hubungannya dengan kemerdekaan Indonesia, dan bagaimana mungkin kemerdekaan bisa ditelaah dari sisi lain melalui nisan-nisan kaum penjajah?

Jawaban Meneer Lilie membuat saya angkat topi. Katanya, pun ketika orang-orang yang dimakamkan di sini adalah penjajah, namun apa yang mereka bawa sudah turut membentuk kepribadian bangsa Indonesia yang ada sekarang. Selama hampir empat abad kontak budaya Eropa dengan Indonesia tentu ada dampak yang terasa, baik langsung ataupun tidak. Diri kita sekarang adalah hasil dari faktor-faktor yang terjadi pada bangsa ini di masa lampau, berkas-berkas sosial yang memberi pengaruh pada apa yang kita lakukan hari ini; jejak-jejak yang mesti selalu diingat sebagai sebuah rangkaian sejarah yang membentuk bangsa.

Beliau juga bercerita, bahwa di pundak kami-kami yang muda inilah, harapan untuk menjaga tali sejarah itu tersemat. Di dalam generasi kamilah semestinya banyak pertanyaan tentang mengapa dan bagaimana sesuatu bisa terjadi di masa lampau, sembari mencari sumber untuk kami baca dan kami jaga. Nisan-nisan yang ada di MTP akan ada untuk memberi informasi, menunjukkan jejak-jejak yang bisa kami tempuh untuk menjawab pertanyaan seputar sejarah kolonial yang sempat berakar di negeri ini.

Mendengar kata “jejak”, antena saya langsung tegak :haha. Maklum, nama blognya juga mirip-mirip :haha.

Tapi MTP, sebagaimana museum-museum berikutnya, bukannya tanpa masalah. Hal inilah yang disampaikan oleh dua narasumber selanjutnya, yang pertama adalah Pak Evan Sandjaja dalam makalahnya yang berjudul “Museum Prasasti: Museum di Ruang Terbuka”. Sebagai seseorang yang bekerja sama dengan Pemerintah DKI Jakarta untuk melakukan pemugaran MTP, beliau tentu tahu soal masalah-masalah museum ini, mulai dari luas makam yang berkurang drastis (dari 5,5ha menjadi 1,3ha saja) karena diambil oleh Pemerintah Kota Jakarta Pusat untuk kantor walikota, sampai ke pemindahan jenazah yang semestinya sudah dilaksanakan, tapi ternyata belum.

Atau, perdebatan soal kata “prasasti” yang ada di nama museum, apakah akan memasukkan prasasti-prasasti lain ke museum ini, atau cuma “nisan”, itu pun nisan dari zaman VOC saja. Juga tentang pengelola museum, apa di Dinas Permuseuman apa Dinas Pertamanan, mengingat ada kata “taman” di judul museum ini.

Tapi perdebatan soal nama atau apa yang akan dimasukkan tidaklah terlalu penting pada saat ini, karena dengan kondisi sekarang pun, tanpa menambah prasasti atau nisan dari luar Kebon Jahe Kober, koleksi yang ada di MTP belum begitu tertata. Alur pengunjung belum jelas, juga keterangan tentang koleksi-koleksi utama juga belum ada. Tak banyak yang tahu kalau makam Kohler di sini cuma nisannya saja. Atau, makam Soe Hok Gie di sebelah mana. Juga, tembok bertengkorak, monumen Pieter Erbeveld yang sebetulnya juga cuma replika.

Oleh karena itu, beliau menjelaskan, rencana tata pamer MTP kini terus dibenahi. Jalur sirkulasi diatur sedemikian rupa sehingga menyesuaikan dengan objek-objek yang ada, bukan sebaliknya, sehingga tidak merusak susunan objek yang sudah ada di dalam museum. Namun untuk prasasti kecil yang telah lepas, maka akan diatur di sepanjang jalur sirkulasi yang telah dirancang. Selain itu, kelengkapan museum ruang terbuka ini juga akan ditambah, seperti bangku taman, lampu, penunjuk arah, papan informasi, dan tentu saja, bak sampah.

Kita doakan semoga semua program restorasi ini berjalan dengan baik, ya :amin.

Untuk makalah terakhir, saya sepertinya suka dengan gaya menulis Pak Nirwono Joga :hehe. Cara menulisnya jujur dan bernas, potret apa yang ada di depan kami tanpa menutupi apa pun. Awalan makalahnya, yang berjudul “220 Tahun Museum (Taman) Prasasti”, dibuka seperti ini:

Pada umumnya pemakaman di Jakarta tidak dipelihara dengan baik, mudah ditutup/bongkar. “Hak” orang meninggal atas makam sudah dari dulu tidak pernah dihormati. Generasi lama tidak diingat dan tidak dipedulikan. Penggusuran pemakaman atas nama pembangunan sudah lama dipraktikkan sejak zaman Belanda hingga kini oleh Pemprov DKI Jakarta.

Kesadaran akan sejarah panjang kota sangat kurang. Rakyat diputuskan/dihapuskan ingatan akan masa lalu, dibodohi dengan keadaan sekarang, dan dikaburkan tentang rencana masa depan kota.

It is so true! Susan Blackburn sudah cukup membuktikan tentang bagaimana tidak becusnya pemerintahan kota dari sejak awal dibuka sebagai Batavia. Rumit kalau saya jelaskan semua di sini, namun sederhananya, kepentingan mayoritas rakyat kota dalam mendamba sebuah kota yang layak untuk semua orang selalu dikalahkan oleh kepentingan segelintir orang yang mengubah wajah kota untuk kepentingan mereka sendiri.

Saya suka konsep tentang transformasi Tempat Pemakaman Umum menjadi Taman Pemakaman Umum. Kesan menyeramkan dari pemakaman hendaknya mulai ditanggalkan, diganti dengan kesadaran bahwa pemakaman bisa menjadi Ruang Terbuka Hijau penyangga ekologi kota. Lebih-lebih untuk kota sebesar Jakarta, kehadiran RTH sangatlah diperlukan.

Untuk kasus MTP, sebenarnya tempat ini tidak cuma “sekadar” ruang terbuka yang banyak pohonnya. Makam dan nisan lama adalah, seperti kata Meneer Lilie, arsip kolonial, tempat kita bisa melongok mengenai apa yang terjadi di masa lampau, bagaimana keadaan masyarakatnya, dan apa informasi tentang dinamika sosial yang ada beberapa abad silam. Sebagai contoh, dari makam dan nisan tua itu seseorang bisa mempelajari informasi demografi, gaya arsitektur, struktur bahasa, kondisi pemerintahan, hingga kejadian-kejadian penting yang terjadi di masa itu.

Akhirnya, kita mesti sadar, tidak boleh menutup mata bahwa kita hidup di atas harta karun. Tak banyak kota yang punya ruang terbuka hijau di tengah-tengah hutan beton yang bisa kita gunakan untuk berkegiatan, menjadikannya ruang publik untuk seluruh masyarakat, plus bonus nisan bersejarah yang punya nilai sejarah sangat tinggi, bisa diteliti dan menyimpan cerita yang sangat banyak bahkan jika yang terbaca hanya satu nisan saja.

14 thoughts on “#220TahunMTP: Belajar Menjadi Pencari Jejak

  1. Kak Gara… MTP adalah tempat favoritku di Jakarta. Dan aku dicap aneh oleh orang-orang gara-gara terobsesi banget sama kuburan kuno….
    Sayang sekali aku ngga tahu ada seminar ini… padahal banyak banget yang ingin aku ketahui tentang MTP dan nisan-nisan di dalamnya..

    1. Tak ada yang aneh dengan kegemaran akan makam kuno Mbak, malah menurut saya itu keren banget :hihi.

      Ikut yang tahun depan saja Mbak, setiap tahun kayaknya MTP mengadakan seminar deh :hehe.

  2. oh iya…satu hal yang mengganggu saat ke MTP adalah kenapa ex peti jenazah Soekarno Hatta sekarang di-display di ruang terbuka sih… bikin nggak nyaman lihatnya (baca : serem), mending kayak dulu di dalam ruangan yang di pojokan itu….

    1. Di dalam ruangan di pojok itu menurut saya juga seram banget sih Mbak :hihi. Makanya saya tak ambil fotonya karena agak takut nanti yang muncul bukan (cuma) peti mati :hehe :peace.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?