#220TahunMTP: A Walk Among Tombstones

_MG_9551

Melihat beberapa peserta yang sepertinya masih antusias banget ikut tur dan kepengin mendengar penjelasannya secara detail namun waktu kian tipis, nona pembawa acara dan Meneer Lilie menyisipkan sebuah janji pada kita semua untuk membahas semua ini lebih menyeluruh dan spesifik di seminar yang akan digelar setelah makan siang. Tentu saja, sebuah pertanyaan langsung muncul. Untunglah si nona pembawa acara cukup sigap dan memberi jawaban:

Makan siangnya gratis.

Dua hore! Ada seminar dan makan siang gratis! Hore, hore!

Paling tidak kami semua punya senyum yang sedikit lebih lebar ketika Meneer Lilie mengajak kami ke sebuah makam dengan buku terbuka di atasnya. Sebuah makam yang cukup saya kenal dengan baik, karena di kunjungan terakhir saya kemari untuk sesi pemotretan, saya memilih makam dengan buku ini sebagai lokasi foto individu. Lumayan juga hasilnya, kalau saya boleh bilang: paling tidak saya jadi tampak intelek, setelah mencoba menjadi intelek :haha.

_MG_9530

Ada dua insan (tsaah, insan) yang dimakamkan di tempat ini. H.F. Roll dan Fritz Roll (yang ini meninggal di usia 20 tahun, kalau saya tak salah). H.F. Roll adalah direktur STOVIA, menjabat pada saat Kebangkitan Nasional bermula.

Meneer Lilie bercerita soal bagaimana keadaan Batavia di awal abad ke-20, ketika Politik Etis mulai terkenal, sebuah pencerahan bagi masyarakat pribumi setelah beberapa abad terakhir dieksploitasi. Dan agaknya memang benar, pendidikan selalu menjadi awal bagi pergerakan kebangsaan, dan dari STOVIA, muncul organisasi modern Indonesia pertama: Budi Utomo, dengan tokoh-tokoh serta cerita panjang yang tampaknya tidak perlu saya ulang lagi di sini karena pasti ada di setiap buku sejarah baik dari SD sampai SMA.

Cerita Meneer Lilie di kala itu secara tidak langsung membuat saya sedikit bersimpati pada Pak Roll. Sederhana saja, di masa itu pergerakan belum menjadi sebuah ide, dan pemerintah kolonial bisa saja langsung mematikan ide kebangsaan ini tanpa sempat tumbuh; pemerintah punya kekuasaan yang sangat besar untuk itu.

Tapi Pak Roll punya pendapat yang berbeda: ia memberi kesempatan bagi mahasiswa-mahasiswanya yang “nakal” untuk berkembang dan memiliki aspirasi untuk bangsanya. Suatu pilihan yang membuat nasib Indonesia berubah sejak 20 Mei 1908, dan seterusnya, dan selamanya.

Well, hidup memang soal pilihan, ya. Kalau H.F. Roll dulu tidak memberi kesempatan bagi dr. Soetomo dan kawan-kawan untuk mendirikan Budi Utomo, mungkin masa depan kebangkitan Indonesia akan tertunda untuk beberapa puluh tahun… dan entah apa kebagkitan nasional itu akan terlaksana atau tidak.

Sebuah makam lebar di bawah pohon, hampir-hampir berbentuk pelataran, menjadi tujuan kami selanjutnya. Seingat saya dulu makam ini berlumut, banyak coretan, banyak sampah juga di atasnya sampai-sampai saya tidak bisa membaca siapa yang dimakamkan di sini, pun dengan inskripsi-inskripsi lain yang ada di atasnya. Tapi kini makam legendaris ini sudah bersih, saya bisa melihat lambang salib tercetak dari susunan keramik berbeda warna. Nama dan inskripsi di sebelah kirinya pun jelas terbaca, meski apa yang bisa dibaca belum memberi informasi yang cukup.

Kapiten Jas
Kapiten Jas

Hai, Vader Jas.

Sama misterius dengan makamnya, saya tak terlalu banyak mendapat informasi kala itu dari Meneer Lilie, selain mereka semua masih bingung ini makam siapa, lebih umum lagi, apakah ini benar sebuah makam. Yang jelas orang-orang sekitar mengenal ini sebagai sebuah makam, dan berkat kemisteriusannya, ditambah lagi dengan lokasinya yang berada dekat dengan pohon besar, makam ini jadi keramat di tengah kota Jakarta.

Banyak orang yang mengasosiasikan makam ini sebagai tempat seseorang bisa memperoleh keberuntungan dan keselamatan. Apalagi semasa judi nomor adalah legal di negeri ini, makam ini menjadi tempat seseorang ngalap nomer alias meminta wangsit nomor togel :hehe.

Satu-satunya tulisan yang menyiratkan Kapiten Jas sebagai seseorang adalah tulisan di kiri makam. Saya tak jelas mendengar penjelasan Meneer Lilie tapi kalau saya tak salah, kira-kira tulisan dalam bahasa Belanda itu berarti “Ayah dari orang-orang tertindas”.

Di atas tadi sudah sering dijelaskan kalau dalam satu makam umum dikuburkan beberapa orang. Dan, pernah juga saya berkunjung dalam mausoleum yang digunakan sebagai makam untuk beberapa keluarga, sebut saja Mausoleum Dinger atau Mausoleum van Motman. Ternyata di MTP juga ada mausoleum untuk keluarga Belanda, cuma kemarin kami hanya ditunjukkan soal ini, tak dijelaskan lebih jauh. Agaknya kita mulai diberi tugas sebagai interpreter makam amatir… :haha. Eh, itu cuma impian saya saja, sih :haha.

_MG_9533

Satu hal yang dapat dilihat dari mausoleum itu adalah pada umumnya yang meninggal dimakamkan di usia yang sangat muda. Satu di antara mereka kalau tidak salah namanya Ambrosius Wassink. Tragis sekali, tapi memang demikian, pada saat itu kondisi di Batavia begitu buruk dari segi kebersihan jadi begitu banyak kematian menggantung di kota. Sejak kejayaan VOC mulai menurun dengan pembunuhan massal Tionghoa di pertengahan abad ke-18, keadaan Batavia tidak pernah lebih baik bahkan sampai pemerintahan kolonial berakhir (untuk golongan pribumi keadaan memang tidak pernah baik. Bahkan sampai sekarang?).

Begitu banyaknya kematian sampai penduduk Batavia menjadi apatis terhadap berita kematian kenalan mereka. Seorang arsiparis menulis:

Mereka tidak terkejut maupun terpengaruh ketika mengetahui rekan yang kemarin bertemu dengannya, hari ini telah meninggal. Bila mendengar berita bahwa kenalannya ada yang meninggal, biasanya mereka berkata, “Ya sudah, dia tidak berutang apa pun pada saya”, atau “Saya harus menagih utangnya dari ahli warisnya.”

Apakah apatisme yang sama mulai muncul pada zaman sekarang?

Bergerak dari makam rumah yang terkunci, kami menuju sebuah cungkup berposisi lebih tinggi dari makam yang lain, dengan pagar besi dan potongan pilar-pilar mengelilinginya sebagai tempat duduk.

Ya, di sinilah seorang lady yang berusaha keras mengubah pakem berpakaian perempuan Eropa di Hindia dari mengenakan kebaya dan kain menjadi memakai pakaian khas Eropa; perempuan yang menemani suaminya dari Britania Raya menjejak Nusantara dan menjadi lady di negeri antah-berantah ini; nyonya yang memiliki monumen cintanya sendiri di Kebun Raya Bogor; korban pertama kutukan Prasasti Sangguran karena suaminya ngotot menjadikan batu bertulis itu sebagai hadiah (ups, yang ini kita bahas nanti ya :haha):

Olivia Mariamne Raffles.

Tapi pusat perhatian bukan ke Nyonya Olivia, melainkan ke sebuah makam yang berbentuk seperti lempengan-lempengan bersusun seperti kue pengantin dengan patung malaikat kecil bersujud menghadap ke atas dengan wajah seperti meminta. Inskripsi berhuruf gotik tercetak mengelilinginya, disela dengan cerukan oval yang sepertinya tidak pantas ada di sana, karena sebetulnya di tempat cerukan itu dulu ada lempeng marmer bercetak foto si mati, sebelum dicongkel oleh tangan-tangan vandal yang pernah singgah di semua peninggalan bersejarah negeri.

_MG_9536

Meneer Lilie pun bercerita pada semua yang masih setia mendengarnya. Namanya Gustaphne Marie Verstege. Lahir 15 Oktober 1863, dan meninggal pada bulan September 1866. Yang unik, inskripsi yang tertulis di sana adalah dalam bahasa Prancis, larik-larik menyedihkan yang kira-kira artinya demikian:

Hari-hari kami tanpa kehadirannya lagi, dia adalah milik-Nya sejak tertidur.
Dia yang berada di tengah-tengah kita, pada saat kebangkitan kita kembali.
Dia belum genap berusia tiga tahun, tidak pernah berpisah dalam keseharian.
Ia sangat manis, matanya tidak pernah memantulkan sinar kesedihan.
Ah, kamu menangis, dan sebuah tangisan yang sangat bahagia.
Putri yang dicintai oleh kedua orang tuamu yang dalam kesedihan, kamu lupa, kamu melupakan kami.
Apakah kamu bukan bagian dari kami
?

Saya tak mau terlalu terharu di sana, tapi sepertinya ada yang sakit di dada. Sejak 1740 Batavia tak pernah baik, tak pernah menjadi lebih baik, tak jadi lebih sehat, tak jadi lebih ramah pada penduduknya. Ada kesalahan mendasar tentang pengelolaan kota tapi semua orang menutup mata karena hal yang baik bagi banyak orang belum tentu menguntungkan dirinya. Ah, bahkan saat ini pun saya bingung, apakah Jakarta bisa kita bilang lebih baik ketimbang masa kejayaannya di awal kedatangan Belanda kemari…

Kami meneruskan penelitian. Di dekatnya, di sebelah makam Nyonya Raffles, adalah makam John Casper Leyden. Seorang bangsawan ahli linguistik yang merupakan salah satu teman baik Tuan dan Nyonya Raffles. Begitu baiknya hubungan Nyonya Raffles dengan tuan ini sampai-sampai pada saat-saat menjelang kematiannya, Nyonya Raffles meminta pada suaminya agar menguburkannya di samping makam Tuan Leyden.

John Casper Leyden
John Casper Leyden

Agak aneh, sih. Kok ya dimintanya dimakamkan bukan di samping makam suaminya, ya. Eh tapi makam Tuan Raffles kan juga masih simpang siur (satu bukti kutukan Prasasti Sangguran lagi, ya :hihi).

Tak banyak yang tahu, tapi Tuan Leyden ini sebetulnya punya peran yang mewarnai sejarah Indonesia juga. Penyerahan Hindia Belanda dari pemerintah kolonial Belanda kepada Inggris di tahun 1811 tidak lepas dari peran ahli bahasa ini, karena beliaulah yang mendekati (baca: menghasut) raja-raja Jawa untuk menentang pemerintahan Daendels dan Janssens, penggantinya.

Namun sayang ia tak sempat menyaksikan bagaimana Inggris berkuasa atas Hindia Belanda karena ia justru meninggal dua hari setelah kejatuhan pasukan Daendels di Meester Cornelis (sekarang Jatinegara, sebagaimana diketahui Daendels maniak banget dengan daerah yang kini suka macet itu :haha).

Sepertinya tak ada orang yang peduli dengan teriknya bintang di atas sana karena tahu-tahu kami sudah menuju semakin ke belakang lagi, pada batu-batu nisan yang masih tertempel di dinding belakang museum. Menurut saya pengaturan makam ini sudah lumayan rapi, ketimbang terakhir kali saya kemari. Nisan-nisan sudah berderet teratur. Untuk nisan di pinggir jalan setapak, di dekatnya ada patung-patung malaikat dalam berbagai posisi, yang masih tetap indah dipandang meski tangannya kebanyakan sudah… buntung.

Di sebuah paviliun kaca ada dua peti mati, yang, semua orang agaknya sudah tahu, digunakan untuk menyemayamkan jasad dua proklamator Indonesia di saat kematiannya. Sedikit cerita tentang dua nisan itu, kini sengaja diletakkan di dalam kotak kaca terkunci agar kayu di peti itu tidak dicungkil segelintir orang dengan kepercayaan bahwa wibawa seseorang masih tertinggal di tempat-tempat jasadnya disemayamkan, termasuk pada peti matinya.

Oh, Indonesia.

Soal malaikat dan nisan, Meneer Lilie punya komentarnya sendiri. Katanya, agak lucu, melihat malaikat berdampingan dengan nisan seperti itu, mengingat bagaimana hubungan Katolik dan Protestan di zaman Belanda. Namun itu membuktikan bahwa konsep kerukunan beragama mendapat tempat juga di negeri ini, buktinya batu nisan yang saling berdampingan.

Seperti ini kira-kira bentuknya.
Seperti ini kira-kira bentuknya.

Beberapa makam terlewati begitu saja dengan penjelasan sekadarnya lantaran waktu semakin sempit. Makam Miss Riboet, sripanggung zaman akhir penjajahan yang sering tampil dalam berbagai pertunjukan teater. Rombongan sempat berhenti ketika kami mencapai makam Soe Hok Gie dengan inskripsi makamnya yang sendu plus patung malaikat di atasnya, karena beberapa orang sibuk mengambil gambar. Saya jadi bisa melihat, betapa sosok Soe Hok Gie adalah sosok yang inspiratif, terlebih bagi para pecinta alam dan khususnya, Gunung Semeru.

Terakhir, sebelum mencapai ujung belakang makam, kami sempat melewati kuburan W.F. Stutterheim, arkeolog dan ahli budaya yang banyak berkontribusi dalam bidang kepurbakalaan Indonesia. Ketika ada yang bertanya kenapa makamnya begitu sederhana (hampir seperti nisan zaman sekarang hanya saja ukurannya lebih besar), Meneer Lilie cuma menjawab:

“Kasihan matinya, disiksa Jepang, jadi makamnya juga sederhana.”

Stutterheim. Dan teknologi.
Stutterheim. Dan teknologi.

Oh, saya langsung penasaran soal bagaimana nasib kaum cendekiawan di masa pendudukan Jepang yang tentunya juga tidak enak, sebagaimana deskripsi Bu Susan dalam bukunya tentang perlakuan Jepang terhadap kaum pribumi yang semata-mata dilakukan untuk menarik simpati. Hm, ini cabang sejarah yang lain lagi.

Semua orang langsung buru-buru melewati nisan itu sementara saya masih berusaha mengambil gambar dan berusaha untuk tidak terlalu banyak tertinggal teman-teman yang terus bergegas. Objek selanjutnya yang kami tuju adalah patung seorang pastur yang tinggi menjulang di tengah makam, warnanya cokelat tua. Tinggi patung itu, tapi matanya menatap ke bawah dengan tatapan sendu. Saking sendunya, saya seperti terisap untuk beberapa saat, tak peduli dengan Meneer Lilie yang masih bercerita di sebelah sana.

Pak Lilie sedang bercerita.
Pak Lilie sedang bercerita.

Pastur Katolik ini… entah siapa namanya. Yang jelas ia orang baik. Datang kemari dan mengobati banyak, begitu banyak orang, tanpa membeda-bedakan rasnya, tidak seperti kaum Eropa kala itu yang sangat rasis dan menganggap dirinya superior. Bahkan bagaimana ia membantu orang-orang itu sampai direliefkan di dinding monumennya, ada gambar si pastur sedang memberi makan orang sakit pada sebuah bangsal yang jendela di atas tempat tidur pasien bisa dibuka dengan cara menarik tali.

_MG_9548

Ya, dia orang baik. Saya tak memerhatikan penjelasan para narasumber karena terlalu terpaku dengan tatapan si pastur. Begitu teduh dan menyamankan…

Desiran daun-daun yang tergesek angin membuat Pak Evan bercerita soal dulu pernah ada angin kencang yang membuat pohon-pohon besar di sini tumbang. Satu di antaranya menimpa patung ini, menjatuhkannya ke bawah. Beruntung kala itu cepat dilakukan rehabilitasi jadi hari ini kita masih bisa melihat patung pak pastur berdiri tegak. Cuma, di bagian akar pohon yang tumbang itu ternyata membawa beberapa tulang-tulang manusia dari makam-makam sebelahnya: suatu bukti bahwa tidak semua jenazah yang ada di sini diangkat sekitar tahun 1975 pada saat lahan ini akan dijadikan museum.

Tapi di balik itu, menurut saya kalau kita jadi orang baik seperti pastur ini, bahkan setelah ia meninggal dan makamnya rusak pun, masih ada orang yang bersedia untuk memperbaiki. Ah, betapa pahala membantu orang itu akan mengalir terus bahkan setelah seseorang tiada ya :)).

Masuk ke koridor utara museum, lini masa seolah ikut berputar maju, dan hal ini sebenarnya baru saya sadari. Di pendopo dan bagian depan museum, nisan-nisan berkisar pada masa Batavia di awal pembentukannya, ketika Batavia masih berbentuk kota perdagangan dan belum memiliki bentuk pemerintahan yang pasti. Masuk ke sisi selatan adalah Batavia pada masa awal pemerintahan kolonial pada dekade-dekade pertama abad ke-19, ketika Belanda mesti menyerah pada kekuasaan Inggris dan komunitas Eropa di Jakarta mulai menemukan superioritasnya. Kini, di sisi utara, zaman bergulir pada pertengahan abad ke-19, tatkala pemerintahan kolonial sudah semakin mantap menjejak di negeri ini.

Ciri lain pemerintahan kolonial di pertengahan abad ke-19 adalah industri swasta yang begitu berkembang. Untuk orang-orang Eropa, ini berarti kekayaan yang lebih kaya. Undang-undang gula, tanah-tanah partikelir, industri-industri pengolahan tumbuh subur memberi kemakmuran pada komunitas Eropa di Hindia Belanda. Namun itu tidak juga berarti kemakmuran bagi rakyat pribumi yang notabene adalah mayoritas. Oh, inilah penjajahan, ketika kekayaan cuma berarti bagi segelintir orang, dan sisanya yang merupakan penduduk dengan jumlah terbanyak merana karena kemiskinan dan napas yang semakin hari semakin putus.

Nisan gaya baru. Berhuruf Ibrani.
Nisan gaya baru. Berhuruf Ibrani.

Tak salah memang klaim Meneer Lilie kalau batu nisan bisa menjadi arsip kolonial, potret masyarakat di masa itu, bahkan ketika yang digambarkan sebetulnya adalah potret masyarakat Eropa. Untuk pertengahan abad ke-19, nisan-nisan yang ada terbuat dari marmer-marmer Italia, tidak lagi batu gunung biru dari India Selatan. Terusan Suez yang dibuka pada dekade 1870-an membuat impor barang-barang dari Eropa menjadi lebih mudah dengan waktu yang lebih singkat. Arus barang yang demikian deras pun membuat seluruh komponen kota berbenah; termasuk pemindahan pelabuhan dari yang sebelumnya dari Sunda Kelapa menjadi Tanjung Priok pada 1880-an. Tren batu nisan pun beralih dari granit-granit tua dan membosankan di masa VOC menjadi batu-batu putih yang lebih cantik.

Batu-batu nisan yang ada di MTP juga memberi kesan betapa beragamnya masyarakat Eropa di Batavia kala itu. Hanya karena Hindia Belanda dikuasai oleh Belanda bukan berarti hanya orang Belanda saja yang ada di negara ini. Penggunaan bahasa dan aksara Armenia dan Ibrani menunjukkan di sini ada pula komunitas-komunitas dari negara pengguna bahasa tersebut. Pemerintah kolonial tidak lagi membatasi kedatangan masyarakat Eropa untuk hanya dari negeri Belanda, tapi membuka pula kesempatan bagi orang-orang dari negara lain. Hindia Belanda memang bagaikan magnet; berita tentang orang-orang Eropa yang menjadi kaya mendadak di Hindia Belanda menarik imigran Eropa lain untuk datang dan berusaha di negeri ini, meski kemakmuran itu tentu dengan menutupi kisah sedih kaum pribumi yang tak pernah bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Sebuah nisan dengan lambang aneh (dan anehnya selalu terendam air) sebenarnya cukup menggugah rasa penasaran yang ada di diri saya. Tapi orang-orang jelas tidak menunggu; kami melanjutkan langkah menuju monumen orang terkenal yang penuh dengan simbolisme. Ini bukan makamnya yang asli karena jenazahnya dimakamkan nun jauh di ujung utara Sumatera sana.

Hayo, makam siapa?
Hayo, makam siapa?

Ya, dia adalah J.H.R. Kohler. Pemimpin pasukan Belanda di Perang Aceh yang paling legendaris, perangnya sendiri sangat spektakuler karena berlangsung sampai awal abad ke-20. Sebelum-sebelumnya, Belanda menganggap Aceh sebagai negara yang berdaulat di kepulauan Nusantara.

Ada tiga simbol yang dibahas Meneer Lilie di makam Kohler, terlepas dari simbol yang sama menjadi bahan bagi teori konspirasi Illuminati yang konon ada di makam ini dan menjadikan Kohler sebagai anggota Freemason. Pertama, bintang daud. Bintang daud tersusun dari dua segitiga dengan arah hadap berbeda. Segitiga yang menghadap ke atas menggambarkan api; pria; keberanian; sifatnya panas. Sementara itu segitiga yang menghadap ke bawah menggambarkan energi feminin; wanita; sifatnya menyejukkan. Dengan demikian, bintang daud sendiri sebenarnya melambangkan harmoni; perpaduan dari energi maskulin dan feminin.

Sempat disinggung soal lambang salah satu partai politik yang bentuknya seperti merk mobil mewah. Kata Meneer Lilie, merk mobil mewah itu masih mendingan, ia memiliki lingkaran sebagai pembatas, jadi lambang api yang ada di tengahnya ternetralisir. Sementara untuk si partai politik, tidak punya pembatas apa-apa, jadilah partai itu adalah partai yang panas dan selalu bertengkar di internal mereka. Semua orang tertawa mendengar leluconnya.

Ya, saya rasa pembaca yang budiman sudah tentu tahu partai mana yang kami maksud, kan?

_MG_9554

Lambang lain yang ada di makam Kohler adalah obor dengan posisi terbalik dan ular yang menggigit ekornya sendiri. Saya tak terlalu memerhatikannya kala itu, saya baru sadar ketika melihat koleksi foto-foto yang sudah saya ambil. Obor terbalik sebetulnya tidak cuma ada di makam Kohler, ada juga di makam Ary Prins di Kebun Raya Bogor sana. Menurut Meneer Lilie, obor terbalik melambangkan kematian atau perjalanan yang telah usai. Sementara itu, ular yang menggigit ekornya sendiri, atau ouroboros, melambangkan keabadian. Kami kemarin membatasi pembahasan hanya dalam ranah akademik sehingga kaitan dengan Vrijmetselaar tidak terlalu mendapat perhatian. Kalau penasaran, sila datangi museumnya sendiri dan lakukan penjelajahan, saya yakin pasti hasilnya sangat seru.

Kami hampir sampai di ujung perjalanan. Museum ini sudah jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya, tapi itu belum berarti bahwa pemerintah sudah sedemikian rupa memerhatikan museum ini dan mengurusnya dengan baik. Pernah ada satu kesalahan dilakukan oleh pengelola, ketika mereka merubuhkan tembok museum dan menggantinya dengan tembok teralis di sisi utara dan selatan museum.

Begini ceritanya. Dahulu, nisan-nisan yang diangkat pada pemakaman ini ditempatkan di dinding-dinding museum, di sisi barat, selatan dan utara. Namun di pertengahan dekade 2000-an, pemerintah kota berkeputusan untuk mengganti pagar utara dan selatan dengan teralis. Entahlah apa sebabnya, yang jelas keputusan itu membuat dinding utara dan selatan dibongkar. Sayang sekali, pemerintah kala itu tidak melibatkan arkeolog atau kurator museum untuk melakukan pembongkaran, sehingga nisan-nisan yang ada jadi asal hantam, beberapa di antara mereka pecah dan belum tentu bisa disambung lagi.

Nisan-nisan bernasib malang itu kini masih tertumpuk di sudut timur laut museum. Beberapa di antara mereka memang masih utuh, tapi sebagian lagi sudah terbelah, masih syukur kalau terbelah jadi dua bagian tapi ini ada yang terpecah-pecah dan sambungannya entah ada di mana. Semoga saja masih ada di sana.

Tumpukan nisan.
Tumpukan nisan.

Kami ternyata tak perlu menunggu terlalu lama untuk menyaksikannya. Beberapa langkah dari nisan Kohler, di dekan direksi keet sebagai basecamp para pekerja, potongan-potongan nisan itu tertumpuk. Beberapa di antara mereka masih utuh (syukurlah), tapi tidak sedikit juga yang hanya tampak pecah-pecahannya. Beberapa nisan yang pecah (syukurnya lagi) masih ada pasangannya di dekatnya, tapi kami tak tahu soal nisan-nisan lain yang pecahannya entah ada berapa dan tersebar di mana. Beberapa pengunjung dan semua narasumber mengucapkan rasa sangat menyayangkan terhadap hal ini.

Sementara saya mungkin sudah terlalu jemu dengan semua ini. Jemu terlalu lama sakit hati.

Memang saya belum bertualang ke semua pemakaman kolonial yang ada di Nusantara. Pun saya tidak juga menyambangi seluruh mausoleum yang ada di negeri ini, di Jakarta pun belum semua. Tapi kayaknya saya sudah terlalu banyak melihat pengabaian, penghancuran, rasa lupa yang demikian dahsyat dari semua orang yang ada di sekitar saya sehingga ketika saya sadar cuma jadi bagian dari sangat segelintir orang yang ingat itu membuat sakit hati. Terlalu banyak sakit hati itu membuat hati menjadi mati rasa, kau tahu.

Jujur, saya juga tak tahu mesti mendeskripsikannya dengan semenggugah hati pembaca budiman dengan cara yang mana lagi supaya ada satu orang yang sadar dan mencoba ingat serta mencoba peduli. Mungkin karena sekarang saya bukan siapa-siapa? :haha.

Dengan pandangan singkat melayang pada bagaimana para penguasa yang duduk di atas sana setengah abai terhadap nisan-nisan yang pecah ini, tur ditutup. Menurut saya dengan klimaks yang sangat manis; karena bagaimanapun baiknya pengaturan MTP, kita belum boleh lupa dengan masih banyaknya peninggalan kolonial bernilai sejarah tinggi yang teronggok di pojokan; berlumut di balik kabut; atau terlupakan di rumpun ilalang. Semua mereka masih ada; menunggu untuk ditemukan selagi belum terlambat, karena apabila sudah musnah, tidak ada lagi yang tersisa.

Jangan lupakan kami.
Jangan lupakan kami.

Ataukah kita harus memiliki sifat manusiawi itu, sifat ketika kita baru ingat akan betapa berharganya sesuatu setelah sesuatu itu tiada?

51 thoughts on “#220TahunMTP: A Walk Among Tombstones

    1. Iya Mbak, itu uniknya patung di museum ini, seperti hidup, sedih dan sendunya berasa banget. Ayo main ke sini Mbak, jalan-jalan sambil menghirup udara segar :)).

  1. Gara ini cerita puanjanggg banget, gimana kalo dibagi jadi bbrp bagian biar mengundang banyak pnasaran? Hahaha. Sekarang jd pnasaran dengan simbol nih. Kmrn pas mlipir ke bbrp kerkhof kok jadi peka dengan simbol yg nggak ada di makam-makam modern. Unik dan menarik 😀

    1. Baik Mas, nanti di serial selanjutnya akan diusahakan :hehe.
      Simbologi memang menarik, makanya analisis semiotika adalah bidang yang bagus buat diselami :hehe.

  2. sayang juga ya gar pembongkarannya tidak melibatkan ahli jadi numpuk berantakan. padahal setiap nisan mesti punya ceritanya sendiri-sendiri #prihatin

    salam
    /kayka

  3. duh, 10 tahun tinggal di Jakarta tapi ndak pernah ke MTP. Dan bakal ke sana kalau punya waktu ke Jakarta beberapa hari. Kuburan dan bangunan tua yang punya latar cerita menarik selalu menggodaku. Terlebih lagi ini ada cerita STOVIA, sekolahnya cikal bakal founding fathers.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?