Yang Pertama Bagi Kami

Pernikahan kakak adalah yang pertama di keluarga kami. Mungkin itu sebabnya ada rasa sedih seperti menggantung di udara. Dari pertama saya terima telpon Ibuk yang sampai nangis terharu melihat kakak hari itu dipinang dan langsung diboyong ke rumah suaminya, curhat katanya berat banget menengok kamar kakak sekarang kosong tanpa penghuni. Dari saat saya berkemas-kemas dengan rasa enggan yang agak meninggi. Dari saat saya tiba di rumah tengah malam kemarin, dan mendapati kamarnya memang sudah agak kosong.

Memang sih, saya bukannya baru tahu soal berita pernikahan si kakak. Sudah sejak awal tahun. Tapi jujur, dengan tahu berita itu awalnya tidak membuat saya semangat atau apa. Malah membuat saya seolah menghitung hari-hari akhir kebersamaan dengan si kakak. Ternyata bukan cuma saya, Ibuk pun begitu. Kami egois, ya saya tahu.

Susah menjelaskan bagaimana perasaan saya dan Ibuk dengan semua perubahan ini. Yang dulu masih ada si kakak di rumah, yang dulu si kakaknya pulang kantor pasti ke rumah ini, sekarang mesti diganti dengan si kakak pulang ke rumah suami. Jelas ini lebih berat dari misalnya Ibuk melepas saya buat merantau karena kalau dipandang secara ekstrem, ketika si kakak menikah dan diambil ke rumah suami otomatis si kakak tidak akan kembali ke rumah, kecuali ada alasan-alasan yang tentu saja tidak pantas buat saya bahas. Saya pikir saya bisa mengerti sedikit kesedihan dan kemuraman yang saya lihat membayang di mata Ibuk akhir-akhir ini. Dan dengan menulis ini, ya saya pikir saya juga punya kemuraman yang demikian :haha.

Tapi ya kita mesti tetap waras. Atau ada orang yang paling tidak tetap membuat kita waras. Dalam hal ini Bapak. Ketika saya bilang dengan agak muram, “Yah Pak, anak gadisnya kawin ke rumah orang, deh,” Bapak cuma berkomentar:

Memang sudah kewajiban orang tua buat menikahkan anak. Salah besar orang tua kalau tidak menikahkan anaknya.

Bapak yang sudah malang-melintang dalam dunia pernikahan adat Bali sebagai juru bicara keluarga saat acara memadik ya pasti sudah banyak lihat ya bagaimana keluarga-keluarga yang mengambil anak gadis (pihak pria) atau seperti keadaan sekarang, melepas anak gadisnya buat diambil oleh keluarga lain. Saya yakin, sebenarnya Bapak juga pasti ada rasa berat melepas anak gadisnya, tapi ya entah karena Bapak sudah ikhlas banget atau Bapak pengelolaan emosinya memang jos banget, Bapak malah somewhat bahagia dengan semua rangkaian acara ini.

Eh memang mestinya mah bahagia kan ya?

Dan saya memang mesti mengakui kalau kita ini egois… banget. Mungkin saya dan Ibuk cuma memikirkan perasaan kami saja; sebagai seorang adik dan sebagai seorang ibu. Agak lupa dengan perasaan si kakak yang sekarang sudah jadi wanita dewasa, punya pilihan sendiri dan siap membina rumah tangga sendiri. Ya, bukannya kita tidak tahu soal itu, tapi tetap saja ada sedikit rasa sedih :haha.

Padahal juga tidak ada yang berubah sih… toh rumah suaminya sebetulnya cuma lima menit dari rumah saya, ada di kelurahan sebelah :hehe. Kami juga sudah akrab sih dengan calon suaminya… ya iyalah wong mereka sudah pacaran sebelas tahun, dan sebelas tahun kan bukan waktu yang sebentar, ya? Masa saya dan Ibuk mau egois dengan menahan si kakak, kan nggak juga :)).

Kayaknya yang bisa kami lakukan sekarang hanya berdoa supaya si kakak bahagia. Setelahnya, life must go on. Tidak usah berlebihan, masih banyak sisi positif yang bisa kita tinjau.

Doh, lagi-lagi, mungkin ini semua terjadi karena ini yang pertama bagi kami…


 

(Dalam pernikahan adat Bali, memang mempelai wanita dibawa ke rumah suami tidak saat acara pernikahan/widhi widana, tetapi saat ia setuju dipinang di acara memadik. Pernikahan adat Bali terselenggara dalam tiga tahap: memadik, widhi widana, dan mepamit. Tahap berbeda akan ada ketika pasangan itu kawin lari, karena jelas tidak ada tahap memadik di sana).

36 thoughts on “Yang Pertama Bagi Kami

  1. Woooh…sejak dipinang sudah mulai pindah ya, baru tahu 🙂 aah gara, bacanya bikin saya mikir…inikah juga yg dirasakan mama dan adik2 saya? Hahahahaha
    But yaaa..si kakak pun pasti sangat merindukan dan slalu memikirkan kalian,percayalah! *curhat*
    Meskipun kalian tinggalnya (ternyata) deketan 😀

    1. Iyalah Mbak… pasti berat banget ngelepas kepergian saudara meski ke kampung tetangga… iya, saya yakin begitu juga sih… ini yang pertama bagi kami, kan :hoho.
      Iya sejak dipinang langsung diboyong… makanya istilah yang biasa dipakai langsung “meminta” bukan “melamar” :hehe.

  2. Gara, aku tertarik sama acara adat pernikahan ala Bali. Unik juga ya sudah pindah setelah dipinang.

    Semoga keluarga bisa ikhlas menerima kepindahan kakak ya, semoga kakak juga bahagia dengan suaminya 🙂

    1. Iya, sedihnya ternyata cuma sehari, besoknya sudah biasa lagi :haha. Mereka juga nginepnya pindah-pindah ternyata, rumah sendiri sedang disiapkan. Kalau sudah tinggal sendiri nanti kan giliran kami yang datang ke rumah mereka :hehe.
      Kayaknya saya perlu menulis soal nikahan adat Bali nih :)).

  3. menarik. acara adat-adatnya ntar diposting juga ya Bli… pengen lihat dan pengen tau juga…
    kalo tentang rasa sedih karena berpisah, itu pasti ada, dan justru karena hal seperti itu ntar makin lebih kuat lagi rasa persaudaraannya… (ah, macam tau aja).

    1. Baik, usul ditampung, mudah-mudahan bisa segera ditulis…
      Iya sih, jadi tambah sayang :haha. Ah memang kita baru sadar sayang akan sesuatu setelah kepergiannya yaa :hehe

  4. oh, jadi mempelai perempuan diboyong saat setuju dipinang dan tinggal di pihak mempelai lelaki? 3 tahapan pernikahan adat Bali ini, setiap tahap ke tahapannya berapa lama? Apakah dipinang ini statusnya seperti tunangan atau bagaimana? Menarik mengetahui ada istiadat suatu daerah. Boleh juga diceritakan tahapan upacara pernikahannya…hehe, ngarep dot com.

    Salam kenal Mas.

    1. Iya, memang demikian… soalnya statusnya si gadis sudah “diminta” oleh pihak lelaki. Kalau ditanya berapa lama, pastinya menunggu “hari baik”, ada yang langsung dibawa, ada juga yang menunggu hari baik selanjutnya. Tapi sekarang-sekarang ini sih biasanya langsung soalnya hari baiknya suka tidak ketemu :)).
      Salam kenal ya. Terima kasih sudah membaca :)).

  5. Kak… titip selamat buat kakaknya yaa…
    Memang berat kak… tapi berbahagialah karena ia (kakak)pun berbahagia..
    Berat sih kak…saya merasakan hal itu saat kakak sepupu saya nikah..krn kami dekat banget… ada rasa hampa yang tak bisa dijelaskan dengan kata2 dan rasa bahagia yang kesannya terpaksa… hehehe…

    1. Terima kasih ya Mbak… mudah-mudahan dengan pernikahan ini kami semua bisa bahagia (ya harus dong ya :hehe). Rasa berat memang ada tapi bahagianya hendaklah lebih besar dari itu. Mudah-mudahan kita bisa :)).

    1. Iya Mas, memang adaptasi itu perlu banget.
      Duh kalau perpisahan yang itu, agaknya kita tak akan pernah siap, bahkan seberapa baiknya kita memersiapkan diri :)). Tapi semua itu akhirnya mesti kita lalui, jadi… doh malah susah ngomongnya kan :hehe. Terima kasih sudah mampir!

  6. Pertama-tama, selamat menempuh hidup baru untuk kakaknya ya Gara 🙂 .

    Hehe, terkadang adanya jarak itu justru bisa semakin mendekatkan ya Gara. Toh bukannya kakaknya nggak akan bertemu keluarga selamanya kan 🙂 .

    1. Iya Kak :hihi. Semestinya tidak harus terlalu sedih karena toh bisa ke mana-mana, tapi yah mungkin karena itu yang pertama bagi kami makanya rasanya berat banget :)).

    1. Siip, ini ada satu postingan singkat saya siapkan, cuma belum ada gambarnya. Semoga ketika di-publish bisa memberi sedikit gambaran pendek soal pernikahan adat Bali :)). Terima kasih sudah membaca, Mbak.

  7. Hai mas Gara, numpang baca tulisan-tulisannya yaa. Kebetulan sekitar setahun lalu aku juga ngalamin masa sedih (karena ditinggal) pas kakak nikah, karena kebetulan kakaknya juga perempuan dan emang cuma satu-satunya. Eeh tapi kesini-sininya justru malah bersyukur nambah saudara laki-laki (kakak ipar), kepribadiannya mirip-mirip sama kakak dan baik banget pula 😀

    Oiya btw, aku pgn kasih like ke tulisan-tulisan yg udah aku baca (terutama yg adat nikah bali) tp kok drtd nggak liat tombol likenya ya? Sama nggak ada tombol follow blognya juga, apa tombolnya ada tp aku nggak liat? Hehehe. Untuk sementara dibookmark dulu aja ya blognya.

    1. Hai, salam kenal ya… eh iya, kami juga makin kemari makin bersyukur dengan pernikahan kakak, dapat tambahan keluarga baru, banyak pula :hihi.
      Oh iyakah? Coba nanti saya cek ya keberadaan tombol like itu, sembunyi di mana ia gerangan. Terima kasih sudah memberi tahu!

      1. Iya mas salam kenal jugaa! btw, ini kali keduanya mas nulis salam kenal ke saya loh, haha. Syukurlaah kalau memang udah makin akrab sama keluarga kakak iparnya, semoga semakin akrab! Yap, mungkin keikut sama error yang ditulis mas di tulisan sebelumnya. Sipdeh sama-sama yaah!

  8. Garaaaa… Aku ketinggalan banyak postingan blog kamu ni, yang muncul di WP readerku itu hanya comment-commentnya kamu bukan latest postnya kamu, pegimana ini? Hikshiks..
    Ini lagi iseng masuk kesini karena baru ingat uda lama engga baca post kamu. Ternyata benar saja, banyak postingan baru, huwah!
    Anyway, congratulations ya untuk pernikahan kakak. Saya mungkin bisa memahami perasaan kamu dan ibu kamu (less or more) karena sudah melihat tanda-tandanya di ibu saya juga sekarang, but well.. pahamilah perasaan kami juga sebagai anak perempuan (tertua pulak) yang ingin belajar membina rumah tangga kami sendiri, wakakakakaka.. *sokbijakdulu*
    Happily ever after to your sister!

  9. Baca cerita ini sambil ngedengerin lagunya Tulus yang Pamit, duh mrebes mili. Klo di tempatku malah kebalikannya, jd si suami yg harus ngikut si istri. Kmrn waktu kakak lelakiku menikah ya otomatis dia ngikut istrinya ya walau cuma beda RT sih tp memang saat skrg ini sering kangen krna sudah ada cucu yg lucu

    1. Wah, unik, kalau ikut suami berarti adat di sana itu matrilineal ya? Hmm…
      Bagaimanapun berpisah artinya berpisah Mas, meski cuma pindah RT tetap saja rasanya berat :hehe.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!