Upacara Melasti: Imaji-Imaji Pembersihan

payung-kober-umbul-umbul-melasti
Semarak kober dan umbul-umbul serta payung melasti.

Joli-joli berisi benda-benda suci setiap pura berarak menuju barat. Macet di seputaran Segara Melasa kali ini ditingkahi suara gambelan gede yang riuh riang gembira menyambut dewata yang akan melakukan penyucian diri. Saya berjuang menembus kemacetan yang sama, guna menghadiri prosesi yang hanya terjadi sekali setahun: upacara melasti.

Pada panglong/kresnapaksa (setengah bulan dari bulan purnama menuju bulan mati) ke-13 di Sasih Kesanga, umat Hindu mengadakan sebuah upacara penyucian yang berlokasi di pinggir laut. Dalam prosesi ini, pratima atau artefak suci dari semua pura diturunkan dan dibawa dalam joli-joli untuk disucikan dengan amertha kamandalu yang diambil dari dasar laut. Penyucian ini bisa dianggap sebagai perayaan akhir tahun, sebelum tiga hari kemudian, di penanggal apisan Sasih Kedasa, tahun Saka masuk ke bilangan yang baru.

Nukilan-Nukilan Lontar Sundarigama tentang Upacara Melasti

pemangku-upacara-melasti
Seorang pemangku membawa sesajian

Untuk tahun 2016, panglong ke-13 Sasih Kesanga jatuh pada hari Minggu, 6 Maret 2016. Di hari itulah, umat Hindu turun ke pantai-pantai untuk melakukan upacara melasti, penyucian terhadap benda-benda suci yang ada di setiap pura yang ada. Namun sejatinya, upacara melasti bukan melulu penyucian pratima Ida, melainkan pembersihsucian segitiga Tri Hita Karana, parahyangan, palemahan, lan pawongan, mikrokosmos dan makrokosmos, seisi alam dan umat manusia, singkat kata: penyucian dunia.

Dan bukankah alasan Nyepi jatuh di Sasih Kedasa adalah agar semuanya menjadi kedas, alias bersih?

Atka ning cetramasa, ring tilem kunang, pasucen watek dewata kabeh, an ring teleng ing samudra camananira amerta sari ning amerta Kamandalu, yogya wong kabeh ngaturaken puja kreti, ring sarwa dewa kramanya.

Pada saat bulan mati pada masa kesembilan (Tilem Kasanga) tiba merupakan hari baik bagi para dewata menyucikan diri. Adapun tempat mereka menyucikan diri adalah di tengah samudera dengan mengambil inti sari air suci kehidupan Kamandalu.

perahu-tirta-kamandalu
Mendulang tirta kamandalu di tengah lautan, perlambang kehidupan.

Irikang triyodasi nikang kresnapaksa, malastikna ikang pratima, payoganira Sanghyang Tiga Wisesa: lwirnya Desa, Puseh, Dalem, parengakna sarwa arca, pratima ning dewa-dewa ring parhyangan.

Pada saat paro gelap ketiga belas (panglong kaping tlulas), wajib ke tepi pantai melakukan penyucian pratima, tempat bersemayam tiga dewa penguasa alam, yaitu pratima di Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem. Diikutsertakan pula semua arca dan pratima dewa-dewa di Parahyangan.

tirta-kamandalu
Tirtha Amertha Kamandalu yang berhasil didulang dari dasar laut. Tahun ini Nyepi pun akan semarak!
pemangku-tirta-kamandalu
Menyiratkan air suci pun tak hanya pada para dewata. Namun juga pada manusia yang ada di tempat itu.

Mwang Dangka kabeh, lungakna ring sagara, iniring dening wang sakrama desa kabeh, saha widhiwidana inangan, rarapan ring Sanghyang Baruna, malaku anganyuntaken lara ning jagat, sapapa klesa letuh ing bwana, tlas kalebur ring sagara.

Juga Dangka (Dangkahyangan) semua, diusung menuju laut, diiringi oleh semua warga desa, dengan sesajen persembahan ditujukan kepada Sang Hyang Baruna, yang bermakna menghanyutkan segala bentuk penderitaan, segala bentuk kepapaan, noda, dan kotoran. Semua dilebur di laut.

umat-hindu-mataram
Sementara itu, umat pun setia menunggu (hei ini candid, tapi maafkanlah :hihi).

Tlas tiningkah sakramanya, antukakna punang pratima, jajarakna ring Yasa Agung, anturakna datengan kayeng lagi. Telas mangkana, antukakna maring yoganira swang-swang.

Setelah selesai melaksanakan upacara itu, arca dan pratima diusung kembali dan disemayamkan di Bale Agung, diberikan persembahan berupa Sesayut Datengan. Setelah itu, pratima dan arca dikembalikan ke tempat persemayaman masing-masing.

anak-kecil-upacara-melasti
Seorang anak mengamati sampai perahu yang tadi kembali dari tempatnya mendulang Amertha.

Yan tan kalaksana samangkana, bawur ikang desa, wwang kasurupan kala bhuta, katadah denira Sanghyang Adikala, ameda-meda lakunya, polahnya, apan Sanghyang Adikala wnang anadah ikang wwang tan prakerti gama.

Jika upacara itu tidak dilaksanakan, keadaan desa akan rusak, orang-orang akan dirasuki roh-roh halus, tingkah polah manusia akan menjadi aneh-aneh, sebab Sanghyang Adikala merupakan penguasa yang berhak memangsa orang yang tidak suka melakukan upacara agama.

Gering sasab marana magalak, bhuta kala mawengis, ingisep rah ing janma manusa kabeh, inamet amretanya, de wadwanira Sanghyang Adikala, sapanadi ika.

Hama penyakit datang menyerang dengan ganas, bhuta kala menjadi bengis, mengisap darah manusia, nyawa orang diambil oleh bala pasukan Sanghyang Adikala dengan segala perwujudannya.

Kalinganya, Bhatara Wisnu mari marupa dewa, sira matemahan Kala Bhuta, Bhatara Brahma maweh sarwa Bhucari, Desti, Teluh, Taranjana, Bhatara Iswara asung gering sasab marana, ika pada mawisesa, mangrugaken praja mandala,

Dewa Wisnu berhenti berupa dewa, beliau berubah wujud menjadi Kala Bhuta. Bhatara Brahma menjadi segala Bhucari, Desti, Teluh, Tranjana. Bhatara Iswara menimbulkan segala penyakit. Mereka sangat sakti, meluluhlantakkan alam semesta.

pemangku-penyucian-alam
Rombongan Pemangku melaksanakan upacara penyucian.

Apa matangnyan mangkana, apan ikang wwang tan lingu ri kalinga ning dadi wwang, agung dosa wwang mangkana, matangyan inusak-asik wwang mangkana, keweh sang pradhipati, rusak keprabon Sri Aji.

Mengapa demikian? Karena orang-orang yang tidak memahami dirinya sebagai manusia adalah orang-orang yang berdosa besar. Orang seperti itu suka melakukan hal-hal usil sehingga membuat pemerintah kesusahan, bangsa dan negara mengalami kehancuran.

ombak-laut-lombok-melasti
Segala lara, roga, papa, hanyut kembali…

Ndah samangkana, aja pepeka ranak inghukun ri pawarah mami. Kunang yan wus kalaksana mangkana, mulih hayu ning praja mandala sarat kabeh, mwang ring sarwa janma, wastu ya paripurna, terang galang apadang bhawa nikang jagat, waras tikang sarwa mahurip, lanus kang sarwa tumuwuh, sasab marana pada mantuk maring samudra.

Karena itu, janganlah lalai terhadap sabdaku ini! Adapun jika kalian telah melaksanakan upacara itu, keadaan dunia akan selamat, orang-orang dalam keadaan sehat dan paripurna, alam semesta menjadi terang benderang, segala makhluk hidup sehat, tumbuh-tumbuhan tumbuh subur, segala macam hama penyakit pulang kembali ke laut.

laut-bali-senja-hari
Pulang kembali, ke laut.

Referensi: Lontar Sundarigama.

36 thoughts on “Upacara Melasti: Imaji-Imaji Pembersihan

  1. Kalau gak deket laut bisa dari sungai gak Gar? Atau afdolnya selalu laut?
    * Aduh pusing nih saya sejak kamu self-hosting, bukan postingannya melainkan comment orang lain pada blogmu yang masuk ke reader. Sudah saya coba unsubscribe, follow lagi, dimanage lagi… sampai pasrah deh… seperti tulisan ini ga ada di reader, tp aku tau via email… :'(

    1. Bisa sungai Mbak… danau juga boleh… kan akhirnya semua akan menuju laut :)).
      Iya nih Mbak… saya juga bingung apa lagi yang mesti di-setting. Hwee tolong… saya tak mengerti… *akhirnya panik*

  2. A reminder for my self : Karena orang-orang yang tidak memahami dirinya sebagai manusia adalah orang-orang yang berdosa besar.
    Meskipun terlambat, Selamat merayakan Nyepi ya, Kak….

    1. Itulah uniknya Sundarigama :hehe, meski di sebelumnya diceritakan soal kutukan yang seram-seram tapi akhirnya semua balik ke diri kita sendiri, karena semua ancaman tak ada gunanya jika diri kita tidak mau berubah :)).

  3. Selamat merayakan Nyepi, ya, Gara.
    Saya baca cerita rakyat berhubung dengan gunung Semeru, Tirta Kamandalu itu air bisa kalakuta yang diubah Batara Guru menjadi air suci pangkal kehidupan.

    1. Iya, amertha Kamandalu memang sangat bertalian dengan Gunung Semeru Mas, sebab air suci ini dulu diperoleh dengan memutar gunung itu sampai air sucinya keluar :hehe.

    1. Iya Mbak, memang dekat hubungan orang Bali dengan laut, sebagai tempat pemurnian/pelarungan persembahan/abu orang meninggal :)).
      Mungkin karena saya pakai self-hosting blog ya Mbak :hehe.

    1. Terima kasih ya Mbak :)). Ah saya senang sekali, padahal foto-foto ini adalah percobaan pertama menggunakan lensa tele.
      Salam kenal kembali, terima kasih sudah mampir!

    1. Iya, Nyepi kemarin memang spesial karena bertepatan dengan gerhana matahari. Ya kita tahu ada gerhana cuma melihatnya dari dalam rumah saja, soalnya Nyepi kan tidak boleh keluar rumah Mas :hehe. Ibadah jalan terus… :hehe.

  4. Baru beberapa hari aku posting upacara melasti juga loh mas, tapi acaranya tahun lalu baru sempet posting dan momennya tepat hehehe. saya menonton upacara ini dari awal sampai akhir, menakjubkan bisa menyaksikan langsung upacara ini…

    1. Ah saya jadi penasaran, segera meluncur ke blogmu Mbak :hehe. Yep, saya juga suka banget acara melasti soalnya sekalian jalan ke pantai, dan jika beruntung bisa sekalian melihat sunset :hihi!

  5. Selamat hari nyepi mas.

    Di tempat saya ada perkampungan hindu. Sebenernya pingin tahu lebih banyak tentang kehidupan umat hindu tapi saya takut bersosialisasi ha ha ha…… Klo nggak ada laut gimana mas?

    1. Tanya-tanya sama saya dulu juga bisa Mas kalau malu, kalau saya mampu akan saya jawab :haha.
      Kalau nggak ada laut bisa di danau atau sungai, kan semuanya pasti bermuara di laut :)).

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?