Tri Semaya: Candi Pari, Candi Misteri

judulDalam filsafat Hindu, ada tiga ruangan waktu untuk mengambil kesimpulan akan sesuatu. Tiga serangkai itu dinamakan Tri Semaya, atau tiga dimensi kehidupan, terdiri dari Atita (masa lalu), Nagata (masa kini), dan Wartamana (masa depan). Ketika seseorang sudah maklum dan bijak soal apa yang terjadi di masa lalu, menjaga yang ada sekarang, dan bisa mengantisipasi apa yang akan terjadi, barulah pemahaman yang mutlak dan hakiki bisa terbentuk.

Tatkala hal itu terjadi, di satu sisi manusia bisa melestarikan peninggalan masa lalunya, sangat adaptif terhadap perubahan, dan di saat yang sama, bisa menikmati kehidupan dengan sepenuh-penuhnya, tanpa terikat oleh dosa masa lalu maupun terancam ketakutan oleh ketidakpastian masa depan.

Candi Bentar dan Rumah Jaga

Saya mencoba mengangkat masa lalu Candi Pari. Mencoba menerka makna batu-batu bata yang berserakan, apakah bagian dari atap candi yang telah runtuh atau sesuatu yang lain, misalnya candi perwara. Jika benar, bisa jadi candi ini punya kompleksnya sendiri; mengingat tak seberapa jauh dari sini ada Candi Sumur yang punya hubungan erat.

Bukan, itu bukan atap, tapi bagian dari candi bentar.

Pak juru pelihara bercerita, dulu candi ini dikelilingi oleh tembok pembatas yang juga dibuat dari batu bata. Namun perkembangan penduduk, juga belum adanya undang-undang yang mengatur dalam radius berapa dari cagar budaya harus steril dari pembangunan membuat tembok pembatas itu sedikit demi sedikit tergerus dan akhirnya runtuh.

Meski demikian, tembok dan candi bentarnya (yang menurut pak juru pelihara juga lumayan megah) itu tak semua berubah menjadi halaman. Sempat ada sisa-sisa candi bentar, namun karena sudah terlalu sulit untuk direstorasi, sisa bangunan candi bentar itu akhirnya dirobohkan, meninggalkan serakan batu bata. Ternyata, rumah jaga ini sendiri menempati lokasi candi bentar yang ada di sebelah kiri.

serakan-bata-candi-pari-01
Batu bata yang berserak ini sama dengan batu bata penyusun candi.

Saat itu saya agak menyayangkan, kalau sisa-sisa candi bentar di sisi sebelah sini justru dihabiskan untuk membangun sebuah rumah jaga lengkap dengan toilet. Terus terang, saya yang awam ini masih bertanya-tanya, apa tidak ada tempat lain untuk membangun rumah jaga, apakah harus mengambil lahan sisa candi bentar?

Contoh lain dari candi yang memiliki candi bentar ada di Pasuruan, tepatnya di Jajawi (Candi Jawi). Di sisi barat Candi Jawi, di dekat penyimpanan arca, terdapat struktur yang menurut juru pelihara di sana adalah candi bentar, yang dulunya berpintu. Di Candi Jawi, sisa-sisa candi bentarnya masih bisa disaksikan hingga hari ini, bahkan bisa dinaiki. Bentuknya pun, sedikit banyak, masih bisa diterka.

Tapi mungkin saja, kalau kita pikir lebih jauh, ada pertimbangan mengapa keputusan meratakan candi bentar mesti diambil. Baik buruknya pasti telah ditimbang. Keputusan pemugaran candi dan pembangunan fasilitas penunjang melibatkan banyak pihak, mulai dari dinas pariwisata, arkeolog, dan masyarakat sekitar. Bagaimanapun, ini bukan monumen milik satu orang, sehingga ketika ada rencana untuk mengubah struktur, pasti dibicarakan matang-matang dengan semua pemangku kepentingan.

Pembangunan rumah jaga di setiap situs cagar budaya adalah hal yang sangat vital untuk mencegah vandalisme atau pencurian di situs candi. Mesti diakui, peninggalan sejarah masa klasik Hindu Budha saat ini sering menjadi ajang ritual yang “berbahaya” dan “egois”, karena tidak mengindahkan peninggalan sejarah sebagai warisan kekayaan bangsa yang perlu dilestarikan sampai zaman anak cucu.

Banyak contoh arca bersejarah diambil oleh segelintir orang, untuk dijual pada kolektor di luar negeri, atau dijadikan objek pemujaan dan sesembahan khusus bagi dirinya sendiri. Egois, saya katakan, karena candi dibangun untuk jadi tempat ibadah bagi banyak orang, bukan untuk satu (atau segelintir) orang semata.

Harus pula kita sadari, Indonesia belum sampai pada level yang sadar sepenuhnya akan kekayaan budaya yang dimiliki. Banyak contoh bisa dilihat tentang cagar budaya yang tergusur guna dijadikan bangunan lain yang lebih sesuai dengan keinginan penguasa di daerah itu *lirik rumah radio Bung Tomo.

Jadi, meskipun agak membikin patah hati, saya mesti mengerti bahwa ini adalah yang terbaik untuk kelangsungan Candi Pari. Ketimbang candi ini dibiarkan tanpa penjaga dan jadi sasaran empuk bagi anasir-anasir yang berniat jahat, lebih baik didirikan rumah penjaga supaya kekayaan Candi Pari bisa terus diperhatikan.

Paling tidak, meskipun kita tidak bisa mengembalikan apa yang telah hilang (arca besar di bilik candi itu, contohnya), kita bisa menjaga apa yang tersisa.

Tentang Ujung Pipi Tangga

Satu fitur menarik dari sebuah candi ada di depan rumah jaga, yaitu ujung pipi tangga. Pipi tangga, atau birai tangga, adalah hiasan sekaligus sebagai pembatas di kiri dan kanan tangga masuk candi. Ujung pipi tangga yang saya lihat di kompleks Candi Pari itu terbuat dari batu andesit dengan bentuk melengkung seperti cangkang, istilah kerennya volut.

pipi-tangga-candi-pari
Pipi tangga Candi Pari.

Ada beberapa jenis ujung pipi tangga, sejauh pengamatan saya di beberapa candi. Ada yang berbentuk volut, ada yang berbentuk makara, ada pula yang bentuknya seperti jaladwara. Dan saya lupa soal yang satu ini, apakah bersumber dari sebuah buku atau artikel, namun kalau saya tak salah, ujung pipi tangga berbentuk volut penuh merupakan gaya candi-candi Jawa Timur, lebih spesifiknya Singhasari-Majapahit, sebab untuk candi-candi Jawa Tengah, bentuk volutnya hanya setengah, atau ujung pipi tangganya berbentuk makara.

Hm, saya mesti lebih memerhatikan ujung pipi tangga candi kalau sedang jalan-jalan.

Tak banyak informasi yang saya dapatkan soal ujung pipi tangga ini. Namun yang sedikit mengundang tanya adalah dari mana ujung pipi tangga ini berasal, mengingat di Candi Pari kini sudah tidak ada lagi pipi tangga. Saya sempat bertanya dan seingat saya, kalau saya tidak salah, menurut Pak Jupel ujung pipi tangga ini bukan berasal dari Candi Pari, melainkan dari penemuan di situs sekitar.

Mudah-mudahan saya salah ingat, karena terus terang ketika menulis ini saya agak sangsi. Kalau pipi tangganya saja sebesar ini, pasti tangga candinya lumayan besar, dan pada gilirannya, candinya pasti berukuran cukup besar juga. Saya jadi sedikit ragu; apa benar pipi tangga ini tidak berasal dari Candi Pari sendiri? Candi besar apa gerangan yang ada di dekat Candi Pari dan (mungkin) memiliki ujung pipi tangga seperti ini?

Kasak-Kusuk Klenik Candi Pari

Jumlah serakan batu yang ada di depan sana cukup mengundang tanya. Untuk ukuran satu sisi candi bentar, serakan batunya terlalu sedikit. Apalagi untuk bangunan monumental sekelas Candi Pari, agak janggal kalau besarnya tidak fenomenal juga. Apakah batu-batu bata kuno itu dicuri untuk dijadikan bahan bangunan?

Memang dijadikan bahan bangunan, kata pak juru pelihara, namun tidak dicuri, karena batu-batu bata kuno itu justru dijadikan alas jalan desa, “dari candi ini sampai ke puskesmas”, kalau saya tidak keliru menyitir kata-kata Pak Jupel.

Untuk beberapa saat saya tidak bisa berkomentar apa-apa.

Akses ke Candi Pari memang rentan terendam banjir. Saya sendiri mengalami harus memutar guna mencapai candi, mengingat satu bagian jalan terendam air. Kalau kata orang, mungkin karena mengingat daerah ini dulunya persawahan luas, tanahnya jadi kurang cocok untuk dibangun jalan lantaran kurang stabil. Ketidakstabilan itu membuat tanah rentan bercekung dan membentuk genangan di musim hujan.

Di satu sisi, memang sangat disayangkan kalau bagian dari peninggalan arkeologi mesti dikorbankan untuk membentuk akses jalan menuju peninggalan itu. Seakan-akan tidak ada sumber bahan bangunan lain sampai-sampai harus menggunakan batu bata candi. Menurut hemat saya, pembangunan jalan itu belum berlangsung lama—mungkin bersamaan dengan pembangunan rumah jaga.

candi-dan-serakan-bata-1
Serakan batu bata. Jangan diambil! Ini bukan suvenir!

Tapi ada sesuatu dalam hati yang agak menyangsikan pendapat itu, karena alih-alih menyebut tindakan itu ilegal, kalau ditinjau dari apa yang pernah beberapa kali saya lihat di Bali, mungkin saja penjelasan atas kejadian itu bisa lebih sederhana dan bisa diterima logika (logika saya lho ya).

Duh susah kalau belibet begini ngomongnya.

Jadi begini. Mungkin sebenarnya bukan kemauan penduduk untuk memakai batu bata candi sebagai bahan pembangunan jalan. Mungkin ada alasan-alasan “spiritual” terkait itu—mengingat Pak Jupel juga bercerita kalau ada selamatan sebelum kegiatan pemugaran. Bukan tidak mungkin ada selamatan juga sebelum pembangunan rumah jaga, kan.

Dan bukan pula tidak mungkin, apabila dalam acara itu ada beberapa “wangsit” yang turun, yang akhirnya membuat orang-orang menggunakan batu bata itu sebagai akses jalan menuju candi. Betapa murah hatinya, karena ketimbang candi ini menjadi dead monument yang kurang gunanya bagi masyarakat, candi ini mengorbankan sebagian kompleksnya untuk dijadikan jalan. Dengan demikian, manfaatnya bisa dirasa penduduk sekitar, meski sekarang jumlah dan intensitas penduduk yang beribadah di sana tentu tak dapat lagi disamakan dengan zaman Majapahit dulu.

Saya menggunakan kata ganti “candi ini” karena saya sudah menjelaskan kalau di bawah candi ini tentu pernah ada peripih, dengan kata lain, candi ini berjiwa.

Ada cerita menarik dari Pak Jupel soal serakan batu bata itu. Beliau bercerita kalau banyak pengunjung yang berniat egois (mencari pusaka/nomor) berusaha membawa sesuatu dari Candi Pari. Ada pula anak-anak jahil yang melakukan hal yang sama: membawa batu bata keluar dari Candi Pari, mungkin untuk dijadikan suvenir (meski saya kurang paham suvenir batu bata candi itu bagusnya di mana).

Tapi semua batu bata itu pasti kembali dalam beberapa hari, karena siapa pun yang mengambil batu bata itu, menurut Pak Jupel akan sakit, yang dalam kasus anak-anak itu, demam tinggi kemudian mengigau minta dikembalikan ke Candi Pari.

Jadilah, pak penjaga memperingatkan saya dengan sangat keras untuk tidak membawa batu bata ke luar pagar Candi Pari. Kecuali saya ingin mengalami sendiri “sensasi” seperti anak-anak kampung sekitar. Untunglah saya agak ogah kesambet, jadi lebih baik saya menghormati aturan itu. Hehe.

Nah, kalau saya susun semua fakta itu, agaknya kurang nyambung kalau seandainya batu candi itu dipakai untuk pembangunan jalan secara “tanpa izin”, terus baik pembangun jalan dan semua orang yang terlibat dalam hal itu (termasuk Pak Jupel yang saya wawancara) tidak kena “akibatnya”. Sedangkan, anak kecil yang mengambil satu buah batu bata saja sudah demam tinggi sampai mengigau meminta supaya dikembalikan ke Candi Pari. Bagaimana mungkin orang-orang yang membawa beratus-ratus batu bata keluar candi untuk pembangunan jalan bisa tidak apa-apa?

Ke-cu-a-li, tentu kalau pembangunan jalan itu sudah mendapatkan “restu”.

Penjelasan di atas memang terdengar sangat klenik, dan terus terang saya sudah agak kesusahan menjelaskan fenomena-fenomena ini tanpa terlihat seperti orang yang sudah kehilangan logika modern karena percaya hal-hal gaib (bagaimana mungkin sebuah bangunan bisa memberikan “izin”?). Tapi saya tegaskan, hal-hal seperti itu memang ada dan terjadi. Kalau pergi ke Bali, dan kebetulan mengikuti beberapa acara adatnya, pasti akan banyak menemukan hal-hal seperti ini. (Kemudian saya ingat belum menulis apa-apa soal acara Tata Lingga).

Keheningan yang mengisi ruangan bagi saya agak menyiksa karena meski saya mendapat banyak pencerahan soal candi, saya malah punya makin banyak hal yang belum bisa diterima logika saya. Makin banyak pengertian, makin banyak pula pertanyaan. Padahal kunjungan saya sudah mulai diikat-ikat oleh sang kala, agar segera mencapai akhirnya. Mesti mengejar pesawat menuju ke Jakarta!

Tri Semaya Candi Pari

papan-petunjuk-nama-candi-pari
Papan penunjuk Candi Pari

Rasa penasaran saya yang paling akhir adalah mengenai bagaimana bentuk candi ini pada saat pertama kali ditemukan. Apakah seperti kompleks-kompleks candi di Jawa Tengah yang ketika ditemukan oleh penjelajah Belanda (atau Inggris) berada dalam kondisi tinggal setengah badan saja, ataukah seperti Kasurangganan yang ketika pertama kali ditemukan hanya tinggal kaki stupa.

Tapi pertanyaan saya langsung dikoreksi oleh Pak Jupel, karena berbeda dengan candi-candi lain di Indonesia, Candi Pari tidak pernah ditemukan.

Penjelasannya membuat saya keheranan. Ternyata, Candi Pari sudah diketahui ada oleh masyarakat setempat sejak zaman dahulu. Meski kepercayaan masyarakat sekitar sudah berubah karena penyebaran Islam di seluruh Jawa, candi ini tetap tidak disentuh oleh masyarakat sekitar karena banyak legenda dan tabu mengenainya—beberapa sudah saya jelaskan di postingan sebelumnya.

Candi ini tetap ada, dibiarkan termakan waktu karena masyarakat sekitar tidak berani melakukan apa-apa—menurut Pak Jupel bahkan tidak berani mendekat. Ketika kecil, Pak Jupel sering diceritakan orang-orang tua untuk tidak mendekati Candi Pari agar tidak kesambet atau yang lebih ekstrem, menghilang tanpa jejak untuk dibawa ke kerajaan gaib. Candi Pari dikenal sebagai tempat yang sangat, sangat wingit, bahkan setelah pemerintah kolonial melakukan inventarisasi peninggalan purbakala klasik Indonesia di Jawa Timur pada tahun 1906.

Satu pemahaman baru bagi saya dengan cerita di akhir kunjungan ini. Bahwa Candi Pari adalah candi abadi, yang baik di masa lalunya, masa kini, maupun masa datang, punya bentuk fisik yang (semoga saja) bisa terus bertahan untuk jadi kekayaan khasanah budaya bangsa Indonesia. Saya merasa (agak) berterima kasih pada cerita-cerita dan tabu yang berkembang di masyarakat sekitar, karena secara tidak langsung legenda-legenda itu turut melestarikan Candi Pari.

Namun, Tri Semaya Candi Pari rupanya bukan di sana, karena pada saat yang sama, ada satu hal lain yang abadi dari Candi Pari, yang ketika digali lebih jauh, justru menimbulkan gundukan baru yang perlu digali. Ada sesuatu yang lain melandasi candi ini, baik di masa lalu, masa kini, maupun di masa depan, sesuatu yang begitu penting dan menjadi kunci dari semua pintu pertanyaan yang tertutup:

Misterinya.


Seri Candi Pari yang lain:
Candi Pari: Yakin Mau Ke Sana?
Citarasa Champa di Candi Pari
Candi Pari: Tampak Luar dan Spesifikasi Teknis
Kelinci Bulan: Cerita Pembangunan Candi
Di Dalam Candi Pari (1): Dinding dan Lantai
Di Dalam Candi Pari (2): Tentang Peripih
Di Dalam Candi Pari (3): Tentang Arca-Arca
Konfrontasi di Rumah Jaga (1): Candi Pari, Candi Padi
Konfrontasi di Rumah Jaga (2): Candi Pari, Candi Berjiwa
Tri Semaya: Candi Pari, Candi Misteri [Episode Terakhir]

18 thoughts on “Tri Semaya: Candi Pari, Candi Misteri

  1. Wow… Kak… di satu sisi aku sempet ga terima kok tega banget merontokkan situs bersejarah untuk bikin jalan dan rumah jaga.. Tapi pas baca tulisan selanjutnya… hmm… baru ngeh betapa murah hatinya candi ini untuk memecah dirinya bagi masyarakat banyak…
    Btw… ngga kebayang ya pake gantungan kunci atau magnet kulkas segede batu bata… bawa batu bata buat souvenir… hmmm….

    1. Batu bata bisa dipakai buat ganjal pintu *usul. Iya… candi ini seumur-umur adalah yang paling “berbeda” dibanding candi lain yang pernah saya kunjungi. Ah tapi semua candi punya cerita yang berbeda :)).

  2. Cerita dari Pak Jupel banyak juga ya, saking banyaknya kisah sampai dijadiin beberapa episode oleh Gara hehehe. Berdasarkan pengamatanku Candi Pari jadi satu-satunya bekas candi yang peripihnya diperlihatkan, diletakkan di dalam candi, tidak dikubur kembali atau malah raib, betul nggak sih?

  3. kayaknya aku mesti kembali lag ke candi Pari dan memperhatikan lagi detil yang terlewat
    lanjut ke candi Sumur nggak?

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!