“Tongkat” Baru untuk Sang Manula

Sudah tiga tahun saya berkantor sepelemparan batu dari gedung putih panjang ini. Tapi belum pernah satu kali pun saya bahas ia di blog. Pernah dulu saya buat tulisan tentang gedung ini, akan tetapi pada akhirnya tulisan itu cuma menumpuk menjadi draf. Padahal (mungkin) itulah tulisan fitur pertama saya tentang sejarah, bangunan, dan hal-hal kecil yang menurut saya ganjil di mata. Sayang tulisan itu terlalu alay jadi sepertinya perlu pengeditan yang ekstensif sebelum layak rilis.

Gedung kantor ini memang spektakuler. Ialah kini yang menyimpan sisa-sisa gedung zaman VOC pertama di Batavia karena dibangun dari sisa-sisa kastil di muara Ciliwung sana. Namanya Het Witte Huis. Tulisan-tulisan lain menyebutnya Het Groote Huis. Ada pula yang menjulukinya Gubernemen Hotel, karena gedung ini dipersiapkan untuk kediaman Gubernur Jenderal. Apa pun namanya, saya punya julukan lain untuk sang gedung: Istana Raya.

Saya tidak akan membahas apa-dan bagaimana-gedung ini dibangun; bagaimana bentuknya, jendela-jendelanya, dan keprihatinan tentangnya. Tulisan ini berkategori “Celoteh” jadi dalam paragraf-paragraf berikutnya tidak akan ada hal-hal teknis teoritis seperti tulisan-tulisan membosankan saya lainnya. Namanya juga celoteh, sebagian besar tulisan ini akan berisi nyinyir-nyinyir dan sindir-menyindir menjadi satu, hehe.

Jadi beberapa hari lalu, sepulang olahraga, saya mendapati beberapa pekerja berkerumun di samping gedung tua ini. Tambahan lagi, pita pembatas kuning-hitam itu membentang, membatasi pejalan kaki agar tidak terlampau mendekat. Saya melongok ke arah paving blok, siapa tahu mereka memperbaiki paving pedestrian lagi. Tapi ternyata bukan. Untungnya saya juga tidak mesti meneliti lama-lama, karena sebab pekerjaan itu langsung saya ketahui.

Sebuah penyangga baru bagi si gedung tua. Bagaikan tongkat baru yang diberikan sang cucu (atau cicit, mungkin?) kepada kakek tua rentanya.

Saya antara heran yang berubah menjadi kaget, kasihan, tapi akhirnya cuma bisa diam. Penyangga itu sudah dipasang pada tempatnya. Entah berapa pilaster yang dirusak supaya batang-batang besi itu bisa terpaku kuat di dinding-dinding bangunan berusia hampir dua puluh satu dekade itu.

Untung saja di sana ada mandor yang bisa ditanya-tanya. Betul, memang telah dipasang penyangga tambahan lagi bagi sang gedung tua. Rupa-rupanya dinding sebelah selatan sudah retak, dua puluh sentimeter jauhnya dengan dinding yang lain. Dinding lantai satu ini tebalnya enam puluh sentimeter, jadi keretakan yang besarnya sepertiga tebal dinding bangunan pasti membahayakan. “Tapi bangunan ini cagar budaya”, kata si mandor, “jadi tidak bisa dirubuhkan. Ya sudah kita mau tidak mau ya pasang penyangga lagi.”

Saya tidak berkomentar, sementara itu si mandor terus bercerita soal pemasangan penyangga untuk mencegah keruntuhan di tengah bau busuk yang entah kenapa menyapa hidung-hidung kami.

penyangga-baru-gedung-tua
Penyangga baru untuk dinding paviliun selatan sebelah selatan.

Sekadar informasi, ini bukan penyangga pertama. Dinding paviliun selatan sebelah barat sudah lebih dulu dipasang penyangga. Mirip-miriplah bentuknya dengan yang ini. Penyebabnya ya sama, dinding yang retak karena dimakan usia. Sepertinya gedung ini terlambat dijadikan cagar budaya, karena terlalu lama dijadikan kantor pemerintahan. Akibatnya gedung ini sudah kelelahan, tak ayal kini kerusakan demi kerusakan mulai mendera, sebagaimana seorang tua yang terlalu lelah bekerja di masa muda.

Bagian dalamnya pun (saya sempat mengintip) ternyata sudah dimodifikasi sedemikian rupa, diberi langit-langit baru sebagaimana biasa ruangan kantor. Padahal gedung ini semula sangat terkenal dengan langit-langitnya yang tinggi dan berornamen, lengkap dengan gedung dansa yang luas-luas.

Ketika saya memerhatikan si mandor kembali, ia sedang bercerita soal dinding lantai dasar (yang kini menjadi semi basemen karena agak melesak ke dalam tanah) yang tebalnya satu meter (bayangkan, tebal dindingnya satu meter) dan sampai sekarang belum ada satu pun keretakan di sana. Saya masih ingat betul kata-katanya, di sore yang mulai merona gelap. “Tebal yang di bawah ini satu meter, yang di atas itu, yang retak itu, enam puluh.”

“Mungkin pondasinya lebih tebal lagi ya, Pak,” kata saya. “Ada terowongan atau ruang bawah tanah?”

“Wah kalau itu saya tidak tahu, Mas.”

Hari makin gelap. Sayup-sayup suara azan mulai menghilang dan langit makin lama makin gelap. Kami pun mulai sibuk lagi dengan pikiran masing-masing. Namun sebelum saya pergi, si mandor sempat berbicara sesuatu, entah pada saya atau entah pada dirinya sendiri. Katanya:

“Padahal gedung ini sudah tua, sudah begitu bikin bahaya juga. Tapi katanya mau dijadikan museum keuangan. Dari dulu bilangnya mau jadi museum tapi sampai sekarang perbaikan belum juga selesai. Tahu begitu kenapa tidak dirubuhkan terus bangun yang baru aja ya, hehehe…”

dinding-bawah-het-witte-huis
Dinding bagian bawah yang (katanya) tebalnya satu meter.

42 thoughts on ““Tongkat” Baru untuk Sang Manula

        1. Iyakah Mas? Wah.
          Mungkin karena memang gedung ini terlupakan pasca hengkangnya Daendels dari Indonesia. Orang-orang lebih suka Istana Bogor, Istana Negara, dan Istana Merdeka. Gedung ini sempat terbengkalai pada 1811 selama 5 tahun dan baru selesai tahun 1819. Setelah itu dipakai kantor sampai sekarang. Jarang ada orang yang masuk.

  1. Bring me there, Gar! Kalau ke Jakarta aku kudu diseret ke sana. TITIK. Hahaha.
    Oh iya kenapa nggak dikasih tampil foto tampak dari luarnya? Biar banyak yang ngeh kalau itu gedung yang itu. 😀

    1. Siap Mas. Ini barusan masuk sedikit dan langsung W-O-W. Gila ventilasinya guede banget! #ratjun
      Iya ya? Kalau dikasih foto luarnya, orang pasti langsung ngeh. Sip Mas, terima kasih. Nanti saya tambahkan.

  2. sayang banget kalo dihancurin T__T
    tapi yah kalo nyari simpel dan ga inget sejarah gedungnya, pasti mikirnya lebih gampang dihancurin sih 🙁

  3. Mengapa tak rubuhkan saja gedungnya biar ramai? <— pake nada puisinya Cinta AADC

    Aaaah. DIrubuhkan juga gak masalah sih. Daripada banyak ngabisin duit buat renov lagi yang kayaknya bakal mahal kalo dilakuin terus. Tambal sana, tambal sini, ga selesai-selesai dan terus ditambal… kayaknya lebih mahal ngerenov daripada bangun ulang ya? Eh. Gataulah ._.

  4. dari dulu pengen masuk ke sini lho
    sayang waktu ada grup yang bikin acara kunjungan ke sini aku pas ngak bisa ikutan
    boleh nggak kopdar sama Gara di sini juga,

    ada bbrp emak blogger yang di sini juga lho

  5. Wah ketebalan dinding 1m yg terlihat si ceruk jendela serasa dinding benteng ya Gara. Kebayang gagahnya saat ‘si dia teruna’. Trim Gara berbagi tulisan ini.

  6. wah untung langsung ada penanganan ya … sayang sekali kalau gedung ini roboh .. bahkan membahayakan pejalan kaki.
    Gedung tua Belanda seperti ini, tinggal di poles lagi bakalan terlihat gagah dan megah

  7. geser 20 cm Gara, serem amat yach yang berkantor dan beraktivitas disekitar gedung. Menurut aku sich jangan dirubuhkan tapi juga jangan ditempati orang berkantor. Direstorasi dulu baru peruntukan nya nanti buat museum atau kantor entar dipikirkan belakangan melihat seberapa jauh kerusakan gedung ini.

    1. Iya, sepertinya gedung ini memang tidak akan jadi kantor lagi. Rencananya sih jadi museum, semoga saja demikian. Pokoknya gedung ini harus direstorasi mah, nilai sejarahnya tinggi banget.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!