Terpukau di Ashtari, Terjebak di Areguling

“Sekarang kita ke mana?”

Entah, kadang jalan-jalan itu, biarpun sudah ada rencana kasarnya, tetap saja bingung dengan ke mana tujuan selanjutnya, saking kepingin mengunjungi semua pantai indah itu di saat yang bersamaan. Ah, maruknya kami ini.

Beberapa saat lamanya kami menekuri gawai Randy yang sedang menampilkan Goo*gle Maps, menerka-nerka ke pantai mana selanjutnya tujuan kami, di bawah terik matahari selatan Lombok yang benar-benar menguapkan cairan tubuh yang sudah sedikit. Tambah sedikit karena kami sedari tadi berloncatan tak jelas.

Pantai Gerupuk dan Seger tereliminasi dengan sendirinya; kami belum terlalu berminat. Pilihan kami hanya Mawun dan Semeti, atau Mawi. Karena keterbatasan waktu, Randy harus segera menuju Pelabuhan Lembar sebelum malam, kami memilih pantai di sebelah barat.

Mawun, pada awalnya. Kami sudah menentukan rute ke sana, dan tidaklah terlalu jauh dari Tanjung Aan. “Oh, cuma sepuluh kilo,” kata saya. Tapi sontak ada ide lain menyeruak tatkala saya mendadak terpukau dengan tanda di tengah-tengah rute, sebuah bulatan kecil yang menunjukkan nama pantai. Pantai Semeti.

Pantai Semeti terkenal dengan gugusan karang unik dan dahsyatnya deburan ombak yang menerpanya, salah satu sebab mengapa pantai itu dapat julukan Planet Krypton di Pulau Lombok. Menurut peta, pantai itu ada di tengah-tengah jalan ke Mawun, jadi singgah di sana sangat memungkinkan. Foto yang didapat juga pasti spektakuler.

Sepakat, kita pun bergerak. Ketimbang kembali ke jalan raya BIL yang artinya memutar, mending ambil jalan pesisir, menyusuri selatan Lombok. Mengambil jalan yang berbeda tidak akan pernah membuat hati menyesal, pikir kami. Terlebih lagi, saya ingin membuktikan kata-kata teman saya tentang sebuah kafe yang, katanya, berpemandangan sangat indah di titik tertinggi perjalanan antara Tanjung Aan dan Mawun.

Sejauh mata memandang, ini daerah pesisir, tak mungkin ada pemandangan lain selain pantai dan pantai. Doh, sifat sesumbar saya tidak hilang-hilang, pikir saya sambil menstarter motor di parkiran Tanjung Aan.

Saya harus mengakui bahwa pemandangan sepanjang jalan masih suci dan alami, kendati mengundang sedikit rasa miris di hati. Perumahan khas Sasak menggerumbul di pinggir jalan, diselingi sawah dan ladang, serta berkas-berkas pembangunan yang mulai getol berupa vila setengah jadi serta truk yang tralala-trilili lalu lalang sepanjang jalan membawa material bangunan. Tak ada yang salah dengan pembangunan.

Yang jadi masalah, pembangunan itu seperti agak kontras dengan masyarakat sekitarnya. Ibu-ibu menemani anak-anak berpenampilan dekil bermain-main di tengah jalan yang terdapat banyak sisa-sisa tanah urugan memadat digilas kendaraan. Sesekali, turis asing tanpa helm menaiki motornya dengan kecepatan tinggi, dengan muka putih gara-gara tabir surya, was wus mengebut sepanjang jalan Kuta hingga Tanjung Aan, tanpa peduli dengan keluarga kecil penduduk lokal yang cuma bisa menatap sambil menjaga sapi memamah biak di kandang yang berbau menyengat, dekat rumah mereka yang masih sangat-sangat-sangat-sangat sederhana.

Pemandangan yang mulai dianggap biasa di daerah yang dihinggapi virus kapitalisme eksploitatif berkedok investasi pariwisata. Setidaknya sampai ada yang memberontak.

Mungkin bocah-bocah penjual gelang di Pantai Kuta berasal dari kampung-kampung di daerah sini.

Perlahan namun pasti, kontur tanah mulai berubah tidak rata. Panoramanya yang indah mengingatkan saya dengan perjalanan Tista–Abang–Tulamben–Kubu, rute kebangsaan keluarga kalau pulang ke Bali. Setengah gersang, setengah menghijau. Demikian pula di sini. Saya yang tadi bosan sedikit terhibur dengan derasnya adrenalin saat menuruni jalan dengan kecepatan tinggi. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, jalanan sepi dan sudah cukup kering kendati semalam hujan turun dengan deras, hanya sedikit becek tertinggal di pinggir jalan, mulai mengering terpanggang ganasnya mentari, tepat enam puluh kilometer jauhnya dari Mataram.

Beberapa saat, demikianlah perjalanan itu berlangsung, membuat saya mulai bosan karena cuma bisa menatap pal-pal penunjuk kilometer jalan, setidaknya sampai saya menemui tanjakan berkemiringan alakazam. Kami bahkan bisa melihat lanjutan jalan yang akan kami lalui di sebelah atas, tanpa ambang pengaman jalan.

Pelan saya berkata pada Kak Randy yang menyusul, “Ini motor gue bisa naik nggak ya Kak? Curam banget. Kalau jatuh bagaimana?”

Bagaimana tidak? Dengan pengalaman di daerah Nipah kemarin yang motor saya jalan seperti siput, khawatir di dasar bukit ini tentunya bukan tanpa alasan. Ya kalau bisa naik dengan selamat sih syukur, kalau jalannya tersendat-sendat dan pelan-pelan seperti kemarin bagaimana? Ini lebih curam dan lebih tinggi, lho. Kalau sampai ketengga dan jalan mundur bagaimana? :huhu.

“Ya udah sih Kak, dicoba dulu,” Kak Randy mendahului dengan motor maticnya. Tentu saja meluncur mulus sampai ke atas, saya menggerutu dalam hati sambil mengoper gigi rendah, mulai menaiki bukit, dengan perlahan-lahan. Sebuah restoran ada di ujung tanjakan, tapi sepertinya bukan itu yang dimaksud teman saya. Soalnya restorannya sepi dan seperti masih dikerjakan begitu. Lagipula pemandangan dari sini kurang begitu bagus.

Tanjakan masih berlanjut. Untungnya tidak terlalu curam lagi, sebab motor saya tidak begitu meraung-raung. Lebih nyaman, karena tikung-tanjakannya tidak membuat disorientasi seperti daerah Nipah-Pandanan. Di satu titik, tanjakan yang ada seolah menghilang. Sebuah bangunan restoran yang cukup besar di sisi kiri jalan membuat saya menduga, inikah benar kafenya? Tampaknya sih demikian, soalnya sebuah papan nama kafe indah tercetak di kiri jalan: Cafe Astari.

Tepat di detik itulah, saya menoleh ke kiri, sebelum berseru kencang kepada Kak Randy, “Whoa, whoa Kak, berhenti dulu!”

bukit-ashtari-1

Saya seperti deja vu melihat apa yang membentang di timur. Dulu, dulu sekali, pada sebuah buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial edisi Lombok, saya melihat pemandangan sebuah dataran berbukit pada pesisirnya dengan gugusan pohon kelapa dari ujung ke ujung. Ingin menyaksikan langsung, ya, itu keinginan yang terpupuk sejak dulu. Tapi tak pernah sejenak pun saya menyana bahwa panorama itu akan datang secara tak terduga.

Lombok, bagi saya, kini memiliki julukan baru selain rumah tempat saya pulang: Pulau Kelapa. Dari ujung ke ujung, pohon-pohon kelapa menyembunyikan geliat pariwisata dari tangkapan mata elang orang jahat, menentang langsung pada lensa sang pengambil gambar. Gugusan sawah menyembul dari satu bidang kosong, memberi giliran bagi bayang-bayang untuk mengambil alih acara, sebelum semua panorama itu menghilang di balik bukit rendah yang tetap saja mengagung apabila dipandang dari tempat saya berada sekarang.

Tidakkah, saya membatin, Tuhan lelah mempersiapkan semua panorama ini sampai pada sel dan atom terkecilnya?

bukit-ashtari-2
Pemandangan bukit sebelah selatan.

Saya mengambil beberapa gambar sebelum akhirnya mencukupkan diri dan kembali menunggangi motor menuju Pantai Semeti. Beberapa tikungan dan jalan naik turun yang syukurnya cukup mulus, sekitar lima atau enam kilometer, sebelum akhirnya sebuah turunan landai panjang membawa kita pada sebuah pertigaan, ke kiri jalanan menanjak, lurus, aspal memanjang hingga di balik pepohonan.

Papan petunjuk arah berkata: Mawun.

Kaget, saya berhenti dan meminta Kak Randy membuka Google Maps-nya. Tentu saja, gerutu saya pada diri sendiri.

Kami terlewat.

Terlewat dari tempat yang menurut kami lokasinya, tapi tidak terlewat untuk kebodohan yang rasanya masih agak sedikit enggan untuk saya ceritakan… di halaman selanjutnya.

18 thoughts on “Terpukau di Ashtari, Terjebak di Areguling

  1. asyiknya dapat nilai sebuah keingintahuan 😀 😀 😀 dari kejeblos, disesatkan dan ikhlas melepas keinginan.. Aku kangen sekali ke Lombok karena sudah puluhan tahun tidak kesana, pasti sudah banyak berubah…

    BTW, postingan ini masuk ke reader lho Gara… horeee.. dan email yang terbaru juga ngasih tau…

    1. Syukurlah… mudah-mudahan dengan ini jadi tidak error lagi ya Mbak. Amin.
      Mungkin itu ya, tersasar membawa hikmah? Tapi kalau tidak dijajal, mungkin tidak akan pernah tahu apa yang ada di depan sana :)).

  2. mas blogmu 1 post kok bisa 2 page, caranya gimana itu. hehehehe. Btw pembangunan disana banyak ya. ngomong2 kalo di sana villa boleh gag lebih tinggi dari pohon kelapa. Kalo di Bali kan jelas gag boleh. cmiiw ya

    1. Itu pakai page break Mas, ada kode html-nya. Iya memang pariwisata Lombok sedang gencar banget dibangunnya. Kabarnya akan jadi wisata syariah juga guna menjaring turis mancanegara lebih banyak lagi. Oh, di Lombok nggak ada pantangan apa-apa Mas, di sini bebas mendirikan bangunan setinggi apa pun :)).

    1. Iya, sayangnya malah banyak kota-kota yang seperti itu saat ini; pariwisatanya berkembang banget namun kesannya hanya bagus bagi segelintir orang saja. Mudah-mudahan tidak banyak kota yang seperti itu, dan pembangunan pariwisata bisa lebih menyeluruh ya :amin.

  3. Salam kenal bang Gara..
    Saya ke Lombok dulu pas Gili Trawangan masih belum cukup ramai seperti saat ini, yang mantap dari Lombok selain pemndangannya, panasnya itu loh bang..hehe
    Tapi tetap Lombok adalah cipratan surga dari Tuhan untuk Negeri kita.

    1. Halo, salam kenal juga! Terima kasih sudah berkunjung!
      Wah saya bahkan dari lahir belum pernah ke Gili Trawangan (padahal mengakunya anak Lombok), haha. Pasti seru dan perawan banget ya kalau saat itu gilinya masih sepi. Sekarang sudah ramai banget dan kadang ada banyak berita negatifnya. Yah, saya harus setuju, meski bagaimanapun, Tuhan tidak mengurangi sedikit pun keindahan Lombok, hehe.

  4. begitu asik dan indah pemandangannya. suasana masih sangat asari dan enak di pandang.
    dan di tambah lagi bisa menjadi pembelajaran bagi anak.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!