Terapung untuk Terdampar

“Ke mana kita sekarang?”

Tidak ada yang menjawab, sementara mobil kami untuk sesaat berpacu di jalanan besar, sebelum masuk ke sebuah gang untuk beberapa saat. Sepertinya semalam kami juga lewat sini, karena Pak Dayat sempat cerita kalau dulu rumahnya di daerah-daerah sekitar sini. Kembali cerita itu diulas sedikit, tentang rumahnya yang dijual guna menutupi trauma akan tsunami (ketakutan itu PASTINYA masih ada), sementara kendaraan kami membelah rumah-rumah bantuan yang bertampang serupa, kediaman penduduk yang berpagar tanaman seadanya, diselingi pohon-pohon halaman yang membuat jalanan tambah rimbun.

Beberapa lama kemudian, mobil menikung masuk di sebuah pelataran dengan pedagang kaki lima berjejer, sementara satu struktur gigantis berdiri kokoh di kejauhan, ukuran besarnya mengalahkan semua struktur lain yang ada di sekelilingnya, kendati sebenarnya benda besar itu agak salah tempat.

Bahkan lensa kamera ini pun tidak muat.
Bahkan lensa kamera ini pun tidak muat.

Karena bukankah semestinya sebuah kapal berada di pelabuhan, atau di tengah laut? :hihi

Kami sudah melewati ini tadi malam, ketika Pak Dayat mengajak kami selewat di Banda Aceh. PLTD Apung namanya, sebuah kapal pembangkit listrik (dari namanya) yang terbawa gelombang tsunami dari lepas pantai Aceh menuju tempatnya bermonumen saat ini, di daerah Gampong Punge Blang Cut, Banda Aceh.

Kami masih terheran-heran mengagumi kapal besar itu, ketika pengeras suara melancarkan aksinya kepada semua kami di bawah sinar matahari terik. Intinya, monumen ini mau ditutup barang sebentar karena sudah menjelang waktu shalat Dzuhur, dan akan buka kembali sekitar pukul dua siang (saat itu sekitar jam 12.00). Walhasil, saya dan Mbak Din yang sudah kepalang tanggung tiba di tempat ini lari terbirit-birit mencari jalan masuk ke dalam monumen itu, hanya untuk memenuhi beberapa megabit memori kamera dengan foto-foto dari sana.

Setelah sampai di geladak terbawah.
Setelah sampai di geladak terbawah.

Panas matahari ini tampaknya tak memberi sedikit pun belas kasihan! Panasnya itu! Untuk saat itu saya baru sadar pentingnya sunblock demi untuk menjaga kesehatan kulit. Tapi yah dasar kami sudah sial, tidak ada yang sempat pakai sunblock, walhasil terbakar-bakarlah kulit ini :haha. Apalagi karena pengumuman kalau PLTD Apung itu sepertinya cuma ditujukan pada kami (soalnya cuma kami berempatlah yang ada di sini 15 menit sebelum istirahat), kami berlari-lari seperti lagi ikut The Amazing Race Atjeh Edition. Detour, detour! Petunjuk selanjutnya ada di puncak kapal!

Ayo menuju puncak!
Ayo menuju puncak!

Sudah begitu, mending jalan ke monumennya normal seperti museum pada umumnya. Ini tidak. Untuk bisa menuju ke atas dek, jalan yang ditempuh adalah melingkari setengah pelataran PLTD Apung itu. Mungkin niatnya bagus, membangun flying deck seperti ini, supaya kapal besar ini bisa dilihat dari berbagai sisi, tapi kalau pengunjungnya masuk 15 menit sebelum tutup dengan satpam sudah berancang-ancang menggembok gerbang, ya kan kita gila juga ya, lari tak tentu arah supaya bisa foto di atas sana :huhu. Persis sekali dengan acara realiti yang judulnya The Amazing Race. Edisi PLTD Apung.

Perhatikan tanda ini.
Perhatikan tanda ini.

Er… sebenarnya itu karena saya salah jalan, malah menuju gardu pandang ketimbang langsung naik ke kapalnya :malu.

Itu jalan yang kami lalui. Panjang, ya.
Itu jalan yang kami lalui. Panjang, ya.

Yang jelas saya sadar satu hal: kapal ini besar BANGET. Panjangnya entah berapa ratus meter, dengan ketinggian yang juga lumayan alakazam gara-gara kami harus melihatnya dari bawahnya betul. Bahkan tinggi kami masih kalah dengan lambungnya :hehe.

Jadi ceritanya, si kapal pembangkit ini sedang sandar di lepas pantai Aceh pada hari nahas itu. Saat gelombang itu datang, si kapal PLTD ini terbawa, mengikuti arus, wuzz… “terbang” sejauh beberapa (puluh) meter sampai “mendarat” di atas beberapaย rumah (dan mobil), yakni tempatnya saat ini. Berkat orang-orang yang alih-alih menganggap kapal ini sebagai puing, malah berniat menjadikannya objek kenangan, saat ini museum berwujud kapal pembangkit itu bisa dinikmati semua orang, sebagai satu memento tsunami 26 Desember 2004.

Sisa-sisa rumah yang menjadi korban.
Sisa-sisa rumah yang menjadi korban.

Astaga, betapa alam, kalau mengeluarkan tenaganya, 9 skala Richter saja, mampu membuat kapal ini melayang sekitar 3 atau 4 kilometer dari bibir pantai. Mengerikan dan menggentarkan. Kini, monumen itu berdiri tak tergoyahkan di titiknya saat ini, seperti mencoba mengingatkan kita untuk tidak pernah bermacam-macam dengan alam, tetapi hidup berdampingan, dalam damai, pada tempat yang sudah dermawan benar disediakan Tuhan sebagai tempat menghabiskan hidup. Tentang kapalย ini sendiri, saat itu juga turut memakan korban, orang-orang yang kebetulan berada di dekat sana. Bahkan menurut Pak Dayat, sebuah mobil kini menjadi pondasi dari kapal itu.

Dari pintu masuk, kita sudah disapa monumen Aceh terkena bencana tsunami. Sebuah replika dari provinsi Aceh di tengah sebuah jam, pada saat-saat gelombang besar itu seolah memayungi. Di tengahnya, waktu berhenti pada pukul 07.50ย WIB, waktu ketika getaran gempa besar itu melanda. Detik yang sebenarnya merupakan awal dari sebuah klimaks pertunjukan alam terbesar pada awal abad ke-21.

Monumennya seperti ini.
Monumennya seperti ini.

Tapi, saat itu, jam dua belas siang lebih sedikit, anak-anak TK yang baru saja mengakhiri kunjungannya berpose di depan sana, berfoto dengan senyum polos dan polah ala bocah.

Saya memfoto orang yang sedang memfoto.
Saya memfoto orang yang sedang memfoto.

Senang rasanya bisa melihat senyum seperti itu di tempat ini. Saya harap tidak memerlukan waktu sepuluh tahun agar senyum-senyum kecil itu bisa kembali, ya?

Saya tak sempat mengeksplor kapal ini demikian lama. Sepuluh menit tentu saja tidaklah cukup untuk monumen sebesar ini. Saya cuma sempat mengamati bagian luarnya saja. Kapal ini tersusun dari tiga dek, dengan alat-alat perkapalan yang masih demikian lengkap. Sebuah telepon kapal di Dek 2 jadi pusat objek foto-foto kami lantaran bentuknya cukup unik; seperti telepon dari zaman perang. Tapi sebenarnya kami betah di sana sih karena telepon itu punya atap, seperti telepon umum, jadi kami berteduh sebentar dari teriknya sang raja siang itu :haha

Banyak bendera merah putih.
Banyak bendera merah putih.

Beberapa teropong jarak jauh seperti yang biasa ada di gedung-gedung tinggi juga ada di sana. Saat saya mencoba, tak ada apa pun yang saya lihat. Sempat saya kira teropong ini rusak, dan kebetulan ada seorang penjaga di sana sedang menutup bagian kapal yang penuh dengan alat-alat, saya pun bertanya, “Mas, ini rusak, ya?”

Oh, teropong!
Oh, teropong!
Apa yang mungkin dilihat si teropong.
Apa yang mungkin dilihat si teropong.

Pemuda itu kebingungan. “Mas sudah masukin koinnya?” tanyanya memastikan.

Saya mulai salah tingkah. “O-oh, belum, sih. Emangnya harus pakai koin, ya?”

“Iya, Mas. Seribuan. Ada, kan?”

Saya tidak menjawab. Dalam hati saya mengutuk pelan, kenapa tidak ada plakat atau petunjuk apa pun yang mengharuskan pengunjung yang ingin mengintip via alat pandang jarak jauh itu? Pas banget lagi, saya tidak bawa koin apa pun. Padahal siapa tahu saya bisa mengintip sesuatu dari sana, petunjuk selanjutnya, mungkin? (Saya agak terobsesi dengan The Amazing Race atau Running Man edisi kejar-kejaran dengan sepatu berlonceng).

Sisi tempat monumen, dari dek atas.
Sisi tempat monumen, dari dek atas.

Tapi memang, skyline Banda Aceh bagus benar tampaknya dari atas sini. Saya sedikit banyak ingat, dari petualangan di Museum Tsunami tadi, betapa bebangunan di kota ini luluh lantak diterjang gelombang besar itu, tapi sepuluh tahun berselang, apa yang tampil di depan saya demikian menunjukkan geliat kota yang mulai berdetak. Beberapa gedung berlantai tiga tampak menyembul di sela-sela kubah masjid dan atap-atap rumah penduduk, sementara puncak-puncak pepohonan yang meninggi memberi nuansa hijau segar, senada dengan perbukitan serta pegunungan yang memanjang sebagai latar belakang.

Menatap ke kejauhan dari dek paling atas.
Menatap ke kejauhan dari dek paling atas.

Kata orang, sepuluh tahun lalu Aceh hanyalah gelombang, waktu yang berhenti, dan puing. Namun sekarang, saya, dengan mata kepala ini, melihat Aceh yang sama mulai berdetak, tumbuh, waktu yang dulu sempat terhenti itu berjalan kembali. ๐Ÿ™‚

Ada gardu pandang juga. Tapi kami tidak sempat ke sana.
Ada gardu pandang juga. Tapi kami tidak sempat ke sana.
IMG_3812
Sepi euy…

Ya, pikir saya (dengan terengah-engah setelah lagi-lagi lari-lari kencang menenteng-nenteng menuju pintu gerbang yang mau tertutup) di dalam mobil yang melaju ke arah pelabuhan, kini waktu berjalan lagi di Aceh.

Tapi, first thing first. Begitu keluar dari sana, kami (saya terutama) langsung fokus pada apa yang saat itu menjadi isu krusial.

Kami lapar!

Eh tapi, kenapa mobilnya malah bergerak ke arah pelabuhan?

49 thoughts on “Terapung untuk Terdampar

    1. *ngebayangin kapal sebesar itu terapung-apung dan menghantam rumah*
      Astaga. Oh Tuhan. Besar banget gelombang tsunaminya *cores destinasi pantai dari travel list*

  1. ahahaah,,,The Amazing Race edisi PLTD Apung, walaupun buru2 yang penting sempat ya ambil beberapa foto yang cantik banget ;-), dari foto2nya emang kelitahan kalo kapalnya gede banget ya

  2. Ikut bahagia mengetahui geliat masyarakat Aceh setelah sepuluh tahun pascatsunami, tetapi kalau mengingat kembali apa yang terjadi waktu itu, sedih saja tidak cukup untuk menggambarkan emosi yang dirasakan mereka. ๐Ÿ™

  3. kapal itu walaupun bisa ditarik ke laut mungkin juga tak akan berfungsi lagi
    biarlah tetap di situ sebagai pengingat kekuatan alam yg maha dahsyat …

  4. Aku cuma bisa ngintip dari luar doank, Gaaaar.. Kemaren itu uda kesorean, trus besok paginya uda harus cus ke bandara.. Sayang banget.. ๐Ÿ™

    Tapi mikirnya gitu jugak sih.. Mbayangin kapal segede dan seberat itu bisa keseret tsunami.. :’

  5. Saya tidak mengikuti serial itu Mbak. Jadi kurang tahu :huhu :maaf.
    Terima kasih :)). Hm, kurang tahu juga Mbak. Tapi seingat saya kemarin ada beberapa bagian kapal yang tidak boleh dimasuki. Mungkin sedang direnovasi :)).

  6. Bagus banget Gara, tetapi tetap saja mules bacanya sebab terbayang dengan jelas… tetapi untungnya ada episode Amazing Race yang naik tangga di terik matahari tanpa sunblock di tempat segede gaban gitu.. ๐Ÿ˜€

  7. Itu, kapal segede itu yang dulu terseret ombak yang gede banget itu ya :’ gilak, udah beberapa tahun yang lalu :’ sekarang bisa disulap jadi semacam tempat yang indah ya :’

    Yah, dibiarin disitu, biar semua ingat akan kejadian tsunami 26 Desember 2004 silam :’

  8. Mas Gara ngebahas Aceh gaada habis-habisnya. Daya tariknya pun gaada habis-habisnya hehe. Saya suka monumen sama cerita soal teropong yang harus bayar seceng. Di Indonesia jarang sih yang begituan.

    1. Yep, makanya saya langsung main keker, tapi tidak bisa lihat apa-apa gara-gara tidak masukin koin :huhu. Lain kali kalau ke sana mesti bawa koin seribuan :hehe.
      Betul sekali, Aceh memang daya tariknya tidak habis-habis. Cuma kalau bahasan saya kelihatannya akan selesai di postingan depan :hehe :peace. Semoga saya bisa ke Aceh lagi :amin.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!