Tentang Tembok Teras

Dulu saya pernah diminta oleh seorang teman blogger buat memajang foto-foto yang lebih lengkap soal tembok teras yang menurut saya lebih mirip candi dan arca-arca di Gunung Sinala ketimbang tembok paras ala Bali. Well, kalau diperhatikan, memang demikian, dan seingat saya ini berawal dari kesalahpahaman yang berujung kreasi dan sekarang, kalau dilihat-lihat… eh, lumayan pula bagusnya.

Saya memang kelamaan berjanji, soalnya setiap pulang selalu berkata pada diri sendiri, “Ah ambil fotonya nanti saja, toh teras rumah sendiri ini.” Prokrastinasi yang akhirnya membunuh karena pada akhirnya niat itu selalu batal. Bahkan setelah pulang berkali-kali, sampai akhirnya saya kesal sendiri dan di kesempatan terakhir saya pulang, hal pertama yang saya lakukan adalah jeprat-jepret di teras rumah :hehe :peace.

Ta-dah!
Ta-dah!

Syukurlah, berhasil. Selamat menikmati foto-foto dan esai ini ya :)).

Seingat saya, dulu memang Bapak sempat meniatkan rumah ini buat pakai paras. Paras itu hiasan glasir bubuk bata merah yang jadi ciri khas di rumah-rumah adati Bali. Tapi stilir hiasan paras untuk tembok itu mahal, tjuy. Dan kesannya kok biasa banget, mengingat sebagian besar rumah orang Bali juga pakai hiasan itu. Padahal ini bukan Bali, ini Lombok, dengan dinamikanya sendiri, pulaunya sendiri, dan gunung apinya sendiri, dan pada gilirannya, budaya sendiri.

Ibarat kata, seperti ujaran orang-orang Bali Lombok pada perantau dari Bali,

“Jangan jadikan Lombok seperti Bali, jangan Balikan Lombok. Ini Lombok, bukan Bali.”

Khas dan asli.
Khas dan asli.

Bahasan soal kalimat itu bisa jadi satu postingan sendiri, jadi untuk yang sudah mulai menerka sejarahnya, simpan saja tawa cekikikan itu untuk lain waktu ya :hehe. Paling tidak sampai saya selesai dengan pengamatan soal orang Bali di Lombok dan perantauan Bali di Lombok (padahal apa bedanya sih…).

Tersebutlah ceritanya Bapak membeli tanah uruk untuk halaman di depan supaya lebih tinggi. Seingat saya masih bersisa satu gundukan besar, dan tiba-tiba saja kala itu Bapak punya ide untuk memanfaatkan tanah uruk itu jadi hiasan dinding… maksud saya menjadi dinding teras rumah kami.

Bagian atas. Ya, atapnya bocor...
Bagian atas. Ya, atapnya bocor…

Saya ingat, kala itu masih kecil, tapi suka membantu pak tukang untuk mencampur-campur tanah, semen, dan kalau saya tak salah juga ada batu apung. Sekian bagian dengan sekian bagian dengan sekian bagian, saya sudah lupa. Tapi yang jelas, itu saat yang menyenangkan. Saya suka mencampur!

Baik Bapak, pak tukang, apalagi saya, bukan orang-orang yang berasal dari daerah seni sehingga ornamen pun cuma seadanya saja. Cuma sesuatu yang “seperti” jendela, lalu beberapa lekuk-lekukan yang di kemudian hari saya pelajari sebagai “bebaturan”, dan wajik-wajik yang tertempel di dinding bagian atas.

Ornamen jendela, bebaturan, dan wajik.
Ornamen jendela, bebaturan, dan wajik.

Ketika saya bicara soal “menempel”, maka memang benar, mereka semua ditempel. Alih-alih membuat satu balok panjang kemudian memahatnya seperti perajin patung di Bali sana, pak tukang kala itu justru membuat balok kecil kemudian menempel ornamen-ornamen lainnya di sana. Semuanya ditempel, satu demi satu.

Dulu saya menganggapnya biasa saja tapi setelah saya perhatikan lagi sekarang… kok keren, ya? :hihi. Sayangnya saya lupa apa campuran lemnya (sudah sekitar 15 tahun lalu kalau dihitung-hitung) tapi sepertinya di sana ada lem polivinil asetat–atau lem sagu?

Semua dinding itu kemudian diamplas ketika sudah selesai. Sebagai penutup, diaplikasikan selapis lem lagi supaya tidak begitu berdebu (ini permintaan Ibuk sebagai hasil diskusi yang pernah saya tulis dalam postingan terdahulu :haha), baru pekerjaan bisa dinyatakan selesai.

Bebaturan, dari dekat.
Bebaturan, dari dekat.

Hasilnya? Ke-ren! Kayak candi, betulan (ini juga sekalian menyanjung rumah sendiri sih :haha). Tekstur tanah kasar yang bercampur dengan batu apung yang sudah dibelah-belah itu terasa banget, sepintas mirip seperti kapur. Ukiran bebaturannya juga sederhana (padahal waktu dikerjakannya juga susah banget), berasa ini sudah dibuat lama sekali. Apalagi dengan sudut-sudut yang memang hasilnya tidak terlalu lancip, semacam ada kesan aus dimakan waktu.

Padahal teras ini jadi tempat kita leyeh-leyeh, cari angin di siang Mataram yang panas. Sejuk rasanya angin siang apalagi karena di halaman ada pohon rambutan jadi bayangan daunnya membuat teduh dan makin sejuk.

Bagian dasar tiang.
Bagian dasar tiang.

Oh, my home sweet home!

Tiang yang tadi.
Tiang yang tadi.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?