Tentang Rel Kereta yang Saling Silang

Jadi kemarin saya nunggu-nunggu di dalam KRL tujuan Bekasi di Stasiun Manggarai, Jalur 1. Terus saya bingung kenapa keretanya baru jalan setelah Argo Parahyangan yang baru balik dari Bandung melintas Manggarai padahal jalur Manggarai-Jatinegara sudah ganda. Yo maksudnya kan tinggal melintas saja gitu lho, rel kereta kan nggak gantian pakainya.

Soal kereta api yang bersilangan memang bukan barang baru. Pertama kali saya pengalaman nelangsa menunggu kereta bersilangan itu di lintas Malang-Sidoarjo dengan KA Penataran. Wuh, nunggunya mak nyuss. Jadwal awal pukul 20.01 dan kami baru berangkat pukul 21.00 lewat. Kemudian kereta tiba-tiba berhenti di Stasiun Wonokerto dan Stasiun Bangil luama banget cuma untuk menunggu kereta jarak jauh. Baru tiba di Sidoarjo sudah hampir pukul 23.40…

Ternyata di balik kereta jarak jauh yang tepat waktu ada komuter-komuter lokal yang nelangsa…

rel-kereta-stasiun-jatinegara
Stasiun Meester Cornelis.

Kalau di daerah operasi yang relnya belum jalur ganda, ya hal itu menurut saya masih wajar. Satu jalur dipakai bergantian, jadi pasti ada kereta yang harus mengalah. Di sinilah harga tiket berbicara. Siapa yang bayar mahal ya kudu diutamaken, toh?

Jadi ingat pengalaman saat di Pelabuhan Lalang dulu deh :haha.

Tapi di Daerah Operasi 1 Jakarta kan kayaknya semua rel sudah ganda jadi tidak yang dipakai bergantian ya. Terus juga jalur di Stasiun Manggarai ada banyak banget, sekitar sepuluh, itu pun yang tiga sudah khusus dipakai untuk tempat istirahat gerbong/lokomotif atau untuk langsiran ke balai yasa jadi yang digunakan untuk penumpang sudah tujuh. Kenapa harus ada pasal tunggu-menunggu?

Telisik Ala-ala Soal Persilangan Rel Kereta

Mari kita pikir-pikir. Dari tata letak Stasiun Manggarai, terus kondisi rel kereta jalur ganda yang bertemu di stasiun itu, antara Manggarai-Gambir dan Manggarai-Jatinegara. Info tambahan, Argo Parahyangan yang baru masuk melintas di Jalur 4.

Anggap saja semua sistem jalur di Manggarai itu persilangannya wesel bebas jadi kereta di jalur mana saja bisa melipir ke jalur mana saja. Dan, sistem perkeretaapian Indonesia itu jalannya di rel kereta sebelah kanan.

Kalau sudah tahu semua itu, sebenarnya gampang sih masalahnya. Jalur 1 di Manggarai, kalau dari arah Gambir ada di sebelah kiri. Walhasil, untuk melipir ke lajur kanan menuju Jatinegara kan keretanya mesti nyebrang di jalur kirinya dulu, atau lajur kanan arah Gambir.

Demikian juga dengan Argo Parahyangan. Dipersiapkan masuk di Jalur 4, kereta ini jadinya mesti melintas di persilangan antara jalur-jalur nomor besar yang akan masuk di lajur kanan menuju Jatinegara, kan? Jadi akan ada satu titik rel yang berpotensi dilintasi KRL Bekasi dan KA Argo Parahyangan secara bersamaan. Di situ sih menurut saya harus ada yang mengalah, demi keselamatan. Lagi pula, Argo Parahyangan berjalan di sebelah kanan, sehingga kalau dia dipaksa terus, tentunya akan menubruk KRL Bekasi yang ada di Jalur 1.

Untuk memperjelas, saya membuat gambar ala-ala. Mungkin masih banyak yang salah, tapi logika saya menganggap kira-kira demikianlah tata letak kereta di stasiun kala itu :hehe.

layout-rel-kereta-stasiun-manggarai
Tata Letak

Masalahnya sekarang antara KA Eksekutif keluarga Argo dengan komuter lokal menang mana? Yo dijawab sendiri saja ya…

Tapi jujur pikir-pikir kemarin itu membuka mata akan beberapa hal.Β Pertama, agaknya benar pendapat bahwa Batavia Centrum itu disiapkan Belanda di Manggarai, bukan Batavia Stad (Stasiun Jakarta Kota). Soalnya semua jalur kereta Jakarta itu bertemunya di Manggarai kali ya. Stasiun transit seperti Duri (tujuan Tangerang), Jatinegara (tujuan Bekasi and beyond), Tanah Abang (tujuan Serpong and beyond) hanya melayani satu jalur tambahan tapi kalau Manggarai melayani ketiganya sekaligus. Batavia Zuid/Batavia Stad memang terminus, tapi bukan pusat. Sepur di sana hampir semuanya badug :hehe.

Ini juga jadi bukti sih kalau pemerintah kolonial dulu sudah punya prakiraan soal stasiun yang mesti jadi pusat persilangan semua kereta. Macam KL Central kalau zaman sekarang. Tapi bangga nggak sih, di abad ke-19 Indonesia sudah punya Batavia Centrum yang keren banget tata letak dan aturan jalur keretanya?

Terus, saya juga baru tahu kalau kerjaan di stasiun ituΒ ribet banget yak! Itu baru persilangan antara dua kereta. Bayangkan dalam sehari ada perjalanan KRL berapa banyak. Tujuan KRL bukan cuma relasi Jakarta Kota-Bekasi doang kan. Ada yang ke Bogor, Tanah Abang-Kampung Bandan, dan lainnya. Terus dipikir Argo Parahyangan cuma berangkat sekali doang? Apa kabar kereta-kereta penumpang jarak menengah/jauh lainnya? Kereta barang?

Belum lagi soal kereta/lokomotif yang pulang dipo, baru balik dari dipo, yang semuanya juga kudu diatur soal persinyalannya. Semua kudu diatur tepat waktu dan tepat sasaran supaya selamat sampai tujuan. Meleng sedikit mengatur perlintasan kereta, bablaslah akibatnya. Bisa jadi ada yang tabrakan, saling seruduk atau beradu. Amit-amit.

Memang sudah ada Gapeka tapi itu menurut saya cuma semacam kondisi ideal begitu. Mana ada yang tahu apa yang terjadi di lapangan. Banyak faktornya, cuaca, kondisi rel, belum lagi kejadian-kejadian tak terduga. Hidup sehari-hari kan pada hakikatnya bukan kondisi ideal. Tetap harus ada yang mengawasi semua pergerakan kereta di setiap stasiun. Kebayang dong berat pekerjaan Pengawas Perjalanan Kereta Api di sebuah stasiun itu seperti apa?

Berkat pikir-pikir yang kemarin itu, sekarang saya jadi sedikit lebih paham kalau KRL yang saya tumpangi berhenti sebelum masuk stasiun tertentu. Pasti karena ada kereta lain yang didahulukan. Boleh jadi kereta itu sudah menunggu lebih lama. Yah, intinya menambah stok sabar. Yang penting semuanya selamat. Saya yakin orang-orang yang bekerja di semua stasiun itu orang yang pintar, mengatur rel kereta sedemikian rupa supaya perjalanan bisa baik bagi semua orang.

Bagaimanapun lebih baik sampai terlambat daripada tidak pernah sampai, toh?

20160228_174825

KA 1415 tujuan Bogor, selesai naik turun penumpang, terima aspek sinyal aman dipersilakan berangkat…

68 thoughts on “Tentang Rel Kereta yang Saling Silang

  1. salut kak… nunggu di dalam kereta sambil menganalisa..
    Kalau aku.. nunggu di kereta apalagi gak gerak begitu, pasti udah langsung bablas ke alam mimpi deh… hihihi…

    Hmm.. padahal kereta2 jurusan jateng dan jatim sudah diatur supaya berangkat dr jakarta malam hari dan tiba di jakarta sebelum subuh supaya mengurangi beban kesibukan rel. Apalagi kalau kereta2 itu berangkat dan tiba pas peak time ya.. kebayang deh…

    1. Pikiran saya memang suka nganeh-nganeh… ini sebenarnya berawal dari kekesalan kenapa di Jakarta masih harus menunggu kereta padahal jalurnya kan sudah dobel :haha. Tapi membuat kita lebih mengerti soal rumitnya mengatur kereta. Mesti berterima kasih pada PT KAI karena sudah mengatur perjalanan dengan teliti sekali sehingga semua selamat :hehe.
      Mengatur perjalanan kereta memang ribet banget ya…

  2. Ternyata ruwet juga pengaturan jalur kereta api. Kirain ngatur kapal terbang saja yang mesti menggunakan kalkulasi matematika. Dulu aku heran kenapa ya kok kereta api sering berhenti, rupanya mesti nunggu giliran menggunakan rel πŸ™‚

    1. Iya Mbak… saya juga awalnya mengira pengaturan kereta api cuma sebatas jadwal, ternyata kalau sudah ke pengaturan kereta bersusul dan bersilangan, alamak rumitnya. Belum lagi semua jadwal itu terjadi secara simultan. Sistem kereta api itu ternyata merupakan sebuah gawe besar :)).

  3. Derita pengguna kereta sih ini emang. Etapi gw dulu di bank yang pertama pernah handle nasabah yang ngerjain persinyalan jalur gandanya Gar. Yaampyun kondisinya Gaaar….

  4. luar biasalahh ini sempet-sempetnya sampe ngegambar jalur rel kereta….kalo aku udah bete duluan karena di Manggari keretanya sering banget ditahan-tahan –‘

    berarti luar biasa susah yaa ngatur jalur kereta dengan jadwal yang padat di kota ini πŸ˜€

    1. ya tujuannya buat mengurangi waktu tempuh karena adanya silang-susul mas.
      dan menambah jam perjalanan kereta lain. di pantura waktu tempuh jakarta-surabaya udah cukup banyak berkurang. terus sekarang di pantura diperbanyak kereta barang kayak semen dsb. nah bayangin aja kalo jaman masih single track, jumlah perjalanan kereta barang yang semakin banyak, bisa molor banget itu jakarta-surabaya πŸ˜€

      kalo yang di lintas KRL sih double track dirasa masih kurang. karena kereta jarak jauh (KAJJ) masih masuk dalam lintas KRL. makanya untuk ruas Tambun – Bekasi mau jadi DDT (Double Double Track) πŸ˜€

        1. Masih banyak yang perlu dibenahi Mas, kalau menurut saya :hehe. Tapi saya yakin setiap hari PT KAI pasti ada perbaikan :)).

      1. Setuju banget Mas… saya tunggu banget itu DDT, mudah-mudahan bisa mengurangi waktu tunggu secara signifikan :)). Amin.

    1. Soalnya kemarin posisi lagi di kereta yang sesak terus berdiri Mbak, jadi tak sempat tidur, mau mendengarkan musik juga takut nanti ada orang jahat yang mengintai (yah mana tahu kan :hehe). Jadi deh pikiran mulai melayang ke yang aneh-aneh :hihi.

  5. ini masih begini, belum pas bikin gapeka.
    kapan dan di mana kereta harus silang-susul dsb. wkwkwkw

    KAI emang udah bikin semua kereta jarak jauh tiba di jakarta sebelum jam 6. ada sih beberapa yang siang. tapi pas udah lewat jam masuk kantor. di atas jam 8 biasanya.

    1. Iya… kadang letak persilangannya malah relatif, menunggu kabar dan akhirnya berhenti di stasiun terdekat :hehe. Mudah-mudahan di masa depan lebih baik lagi ya penataannya, supaya perjalanan tetap selamat tapi memuaskan dari segi waktu :)).
      Eksekutif dari Malang dulu ada yang sampai Jatinegara setengah enam… tapi sekarang malah jadi makin siang ya. :hehe.

  6. Saya juga pernah mengalami kejadian serupa. Waktu mau ke Jakarta dari Bekasi, kereta commuter yg saya naiki sempet berhenti 15 menit untuk mempersilahkan kereta jarak jauh yang lewat. Kalo menurut saya rel ganda itu membuat waktu tunggu lebih cepat dan frekuensi lalu lalang kereta bisa lebih banyak. Kan kereta ada 2 arah.. kedua arah itu bisa saja sama-sama sibuk dan banyak kereta jarak jauh lewat, jadi sih ya untung saja ada rel ganda, waktu tunggu jadi lebih singkat kan? hehehe πŸ˜€

    1. Iya, meskipun tidak seratus persen meniadakan kereta yang bersusul dan bersilang, minimal waktu tunggunya tidak terlalu lama ya Mas :)).

  7. bagaimana jaman dulu waktu persilangan itu harus diengkol ya…..
    petugas harus siap siaga terus dengerin sinyal..
    btw..sekarang masih pakai sinyal yang kayak morse itu nggak ya kalau kereta mau lewat

    1. Kalau zaman dulu tak terbayang deh Mbak ribetnya kayak apa. Ngomong-ngomong “diengkol” itu seperti apa sih Mbak, saya belum paham :hehe. Yang dimaksud sinyal morse itu yang berupa bunyi bel denting yang ditempel di dinding itu kan ya? Setahu saya masih di beberapa stasiun…

      1. Mungkin maksudnya sistem wesel (switches maksudnya, itu lho yang persilangan. Bahasa Belandanya “wissels” btw πŸ˜› ) yang belum elektronik Gara. Jadi di sebelah weselnya itu ada tuas yang mesti dipindahkan manual dengan tenaga manusia πŸ˜› .

        1. Oalah rupanya yang seperti itu. Iya… bisa dibayangkan pasti capek jadi tukang engkol :hehe. Setiap ada kereta mesti siaga menarik atau mendorong tuas. Apalagi kalau kereta lewat sudah di atas jam kerja yang lazim :hehe.
          Terima kasih buat informasinya ya, Kak! :)).

      2. Salah satu kemungkinan alasan jalur ganda cuma dipakai satu mungkin ada masalah (komponen rusak, dll) di salah satu jalurnya Gara. Cukup sering terjadi di Belanda ini, hehe. Bahkan beberapa waktu belakangan ada kebijakan bahwa kalau satu jalur ditutup, jalur di sebelahnya juga mesti ditutup untuk keamanan petugas yang akan memperbaiki kerusakan. Cukup sering terjadi petugas-petugas ini nggak sengaja tertabrak kereta yang melaju di jalur sebelahnya ternyata 😐 .

        Hahaha, sistem penjadwalan kereta memang rumiit. Apalagi di Indonesia yang keretanya ada “kasta”-nya πŸ˜› . Di Belanda (dan banyak negara dengan perkereta-apian yang maju lainnya), jadwal kereta dipermudah dengan dibuat jadwal periodik (1 jam). Jadi kereta yang berangkat jam 7:06 sama seperti jam 8:06, dsb. Plus, jadwalnya dibuat sedemikian rupa sehingga tidak ada konflik jadwal, artinya jika timetable-nya diikuti tepat, tidak ada kereta yang harus berhenti di luar jadwal πŸ˜› .

        Dan jika ada kereta yang harus stop/menunggu di luar jadwal (terkadang menunggu ini memang dimasukin jadwal. Biasanya keretanya “menunggu”-nya di stasiun sih πŸ˜› ), ini sudah termasuk disturbances yang mana artinya ada masalah, hehehe πŸ™‚ . Dan kalau disturbances-nya kebanyakan, perusahaan keretanya akan dihukum pemerintah, haha πŸ˜› .

        1. Kalau kedua jalurnya ditutup, berarti selama perbaikan tidak ada kereta yang berangkat dong? Alamak. Itu kalau petugasnya tertabrak, memangnya masinis kereta yang menabrak tidak diinfokan ya kalau di jalur yang akan dilaluinya ada perbaikan?
          Ooh… jadi cukup fokus membuat satu macam jadwal ya, karena jam-jam lainnya akan mengikuti. Kalau di luar negeri saya rasa sudah tepat waktu banget ya… tapi bagaimana kalau jam sibuk? Sepengetahuan saya di Indonesia jadwal keretanya kalau jam sibuk (diusahakan) sering tapi kalau di jam sepi jadi jarang :hehe.
          Di Belanda itu perusahaan keretanya lebih dari satu ya, makanya bisa ada penghukuman dari pemerintah :hehe. Kalau di Indonesia kan masih monopoli ya, makanya terkesan bisa “seenaknya” :hehe…

          1. Iya Gara. Tapi “enak”-nya Belanda adalah jalur keretanya itu padat dan kompleks banget (https://en.wikipedia.org/wiki/Train_routes_in_the_Netherlands) jadi kalau ada jalur yang mesti ditutup, setidaknya penumpang memiliki alternatif dengan memutar sedikit via jalur lain, atau dialihkan dengan bus, hehe πŸ™‚ .

            Itu dia, awalnya aku kira begitu kan. Masa iya sih petugasnya sering tertabrak gitu. Ternyata sering dong, hahaha 😐 . Maksudnya tertabrak bukan hanya dari depan gitu sih, bisa saja dari samping dimana mungkin petugasnya sedang berdiri nggak seimbang atau gimana gitu ketika di jalur sebelah ada kereta yang sedang lewat. Intinya kecelakaan yang melibatkan petugas yang berhubungan dengan kereta yang sedang lewat.

            Hehe, jadwalnya disesuaikan Gara antara siang dan malam, dan juga antara weekend atau weekday. Kalau rush hour vs non-rush hour biasanya sih dimainin di jumlah gerbong yang ditarik sih. Disini di jam rush hour dan jam siang frekuensinya sepertinya hampir sama (terutama di daerah-daerah sibuk kayak Amsterdam dan sekitarnya) karena kapasitas network-nya sudah hampir penuh, haha.

            Iya, di Belanda perusahaan keretanya lebih dari satu tetapi bisa dibilang nyaris monopoli juga sih dimana 1 perusahaan (NS (Nederlandse Spoorwegen)) mendominasi operasi kereta di Belanda. Dan perusahaan yang bertanggung-jawab terhadap infrastruktur dan stasiun juga berbeda dari perusahaan yang mengoperasikan kereta.

    1. Karena kemarin itu lagi nunggu kereta banget Mbak Adel… akhirnya ya kita berpikir-pikir tentang kenapa kami kemarin menunggu keretanya kok bisa selama itu :hehe. Kalau lagi lancar, saya bukan ngitungin stasiun lagi Mbak, langsung tinggal tidur :haha.

    1. Terima kasih banyak ya Mbak :hehe. Iya nih kemarin supaya sayanya juga lebih jelas membayangkannya makanya digambar. Ternyata memang pengaturan kereta itu ribet banget… salut deh dengan bapak ibu yang ada di PT KAI dan commuter line Jakarta :)).

  8. Kalau aku di stasiun malah observasi para penumpang dan kereta lewat hehehe, terkadang sih suka mikir kenapa jalur kereta siang-silang gitu, trus kenapa juga masih sampe sekarang kereta comuter masih harus nunggu kereta jawa lewat, padahal masih beberapa menit lagi yaa.. masih jauuuuh :((
    dan yang bikin aku terkejut, “KA 1415 tujuan Bogor, selesai naik turun penumpang, terima aspek sinyal aman dipersilakan berangkat…” => ini hafal bangeet yaaa hihihi

  9. analisanya tajam sekali mas πŸ™‚

    jujur ya, sebagai PJKA kereta silang itu adalah hal yang biasa. toh apalagi jika kereta kita eco, duh pasti kalah deh ama exekutif. Yang disayangkan adalah kenpa setelah pemerintah berganti, sistem lama seperti jalur kereta yang kelihatannya gag kepakai malah dibubarin, padahal dulu saya pikir belanda pasti mikir jalur keretanya ini menjangjau daerah mana saja

    1. Soal jalur kereta itu saya pernah lihat di Stasiun Kebumen Mas. Dan jangkauan jalurnya memang mengagumkan… rasa-rasanya hampir seluruh desa di Jawa sudah dihubungkan dengan si ular besi. Kalau semua jalur lama itu bisa direvitalisasi lagi pasti keren banget ya Mas, transportasi massal bisa tercapai dengan baik :)). Mari berdoa supaya reaktivasi jalur-jalur yang disebut di beberapa berita itu bisa kesampaian :amin.

  10. terus gue jadi paranoid gitu ngebayangin saling silang ruwet gitu, in case missed dikit aja, beneranlah, nggak pernah sampai. Btw thats why comline sering banget ya ngantri di Manggarai, pasti ini sebabnya.

    1. Iya Mbak. Serem sendiri kadang membayangkan kalau pengawas jalurnya meleng dan ada dua kereta masuk di jalur yang sama. Apa kabarlah kita sebagai para penumpang :huhu.
      Sebagian besar karena ini sih Mbak kalau menurut saya. Makanya sering banget kita penumpang KRL mendengar pengumuman “menunggu sinyal masuk” kalau keretanya lagi ngetem kan :hehe.

    1. Iyo Mas, mudah-mudahan pemisahan jalur kereta lokal dan jarak jauh itu bisa segera terlaksana, jadi semua perjalanan bisa tepat waktu dan tak saling menunggu. Jadinya kan sama-sama enak :hehe.

  11. 9 tahun bolak balik naik kereta Bogor – Jakarta – Bogor setiap hari juga bikin saya sering terkagum-kagum sama sistem kerja dijalur persilangan ini. termasuk bagaimana kesigapan petugas, para penjaga pintu kereta yang mengatur perlintasan agar aman dilalui
    Tapi ya gitu, gak pernah kepikiran buat menuliskannya di blog kayak gini hehe
    salutlah sama analisanya πŸ™‚

    1. Saya jadi penasaran bagaimana di zaman dulu waktu kereta rel masih banyak tarzannya Mbak :hehe. Pernah sih sekali naik KRL di 2012 pas belum CL seperti sekarang (ada ekonominya) tapi sudah agak lumayan… yah meskipun masih ada gelandangan kencing di dalam gerbong sih :hehe.

      1. Wah saya ngalamin banget itu naik ekonomi desak2an, lihat yang pada numpuk diatap gerbong, beberapa kali bahkan melihat langsung yang jatuh karena tersengat listrik atau kepleset atap gerbong yang licin lalu kelindas/kejepit *hiks*
        Ngalamin yang kalau hujan deras gerbongnya kebanjiran karena gak berpintu dan berjendela *hiks lagi*
        Ngalamin juga rasanya nyesek saat udah buru2 tapi harus ngantri dan disalip kereta ekspress yang bayarnya lebih mahal hahaha
        Mau naik ekspress juga galau, karena dia gak berhenti distasiun tujuan

        Kereta mogok, gangguan sinyal, stasiun kebanjiran, rel anjlok, udah jadi rutinitas. Jalan kaki nyusurin rel malam-malam karena kereta mogok juga udah biasa hehehe

        Makanya sekarang kalau ada yang ngeluh dan ngomel2 soal kereta yang telat, yang penumpang numpuk mah saya senyum aja dah. Soalnya tau banget kondisi dulu. Sekarang udah jauuuuuuuh lebih bagus dan manusiawi deh. Ada kekurangan disana sini, ya memang perbaikan butuh proses to, gak semudah membalikkan telapak tangan πŸ™‚

        Halagh… Maaf jadi numpang curcol. Kabur ah

  12. aku naik kereta hampir tiap hari dari zamannya kereta ekonomi, tapi nggak pernah di atas atap si, tapi di gerbong masinis pernah.
    tadi barusan juga bahas. karena kecepatan keretanya nggak bisa tetap, jadi harus ada petugas yang ngatur sinyal. begitu terlambat satu, yah rembetannya ke mana-mana dehh..

    coba kayak di jepang… (hihiw, semua aja dibandingin ke jepang)

    1. Di Jepang mah kecepatannya sudah stabil semua kali ya Mbak :hehe. Mungkin karena pengaruh kejadian tak terduga juga kali ya, kalau di sini kadang kan ada kejadian kereta menabrak ternak atau kendaraan… :hehe.

  13. Mungkin rencana awal sama Belanda memang Manggarai itu jadi pusat stasiun kereta. Saya yakin itu. Seperti saya yakin, kalau Bung Karno terus berkuasa ibukota negara ini sudah di Palangkaraya, πŸ™‚ Visi sang perencana memang beda dengan para pengekor.

  14. Ideal rasanya kalau Manggarai dijadikan pusat. Letaknya di selatan tapi gak terlalu jauh dari Timur dan Pusat. Tapi rasanya perlu dibikin jalur loop yang mengelilingi utara-barat-selatan-timur tanpa harus transit2 lagi di Manggarai. Kayak Line 4 Shanghai gitu.

    1. Jalur loop setahu saya sudah ada Mas, yang jalur Jatinegara–Tanah Abang via Pasar Senen dan Kampung Bandan :)). Tapi memang itu mesti singgah ke Manggarai lagi sih soalnya mau ke Bogor :hehe.

  15. Ikutan kasih komentar ah…
    Salah satunya urusan infrastruktur Gara, related to that yaa pasti duit laah, sebelum itu ya urusan pemberantasan korupsi dan penegakan hukum ya.. hahaha..
    Double track pasti membantulah, tapi kalau liat dari sisi masih banyaknya perlintasan sebidang pasti urusannya persinyalan yang harus disesuaikan (masih macetlah, masih ada orang nekadlah, sehingga kereta harus perlahanlah dll), efeknya keterlambatan. Di Jabodetabek ini coba hitung berapa banyak perlintasan sebidang, belum lagi yang liar, yang bikin jalur kereta ga steril. Instead of berjalan berputar, masih banyak dari kita yang memilih memotong jalur, kadang yang udah teng-tong-teng-tong masih diterobos. Belum dihitung kalau kambing, sapi yang menerobos atau pejalan yang ga punya perlintasan atau malas berjalan atau merasa berhak merusak pagarnya PT KAI demi bisa melintas.
    Sayangnya sudah dibuatkan flyover, eh ga lama kemudian ga jauh dari situ ada pelintasan sebidang ilegal lengkap dengan petugas gadungannya dan antrian motor/mobil yang mau lewat.. ampun deh.
    Jadi kalau jalur kereta itu clear, managementnya pasti lebih baik. Mudah-mudahan…

    1. Saya juga bukan roker jadi kurang tahu bagaimana rasanya jadi ikan pindang di kereta Mbak :hihi. Tapi kalau tunggu-menunggu, saya sudah mengalaminya beberapa kali… :hehe.

  16. Salut buat Mas Gara yang “kober” menulis catatan ini, menganalisa selagi menanti. Sejak dulu saya naik kereta kali pertama, saya memang diberitahu orang tua, kereta jarak jauh yang kelasnya lebih atas diutamakan. Kereta lokal dan ekonomi nelangsa. Saya ngerasain naik KA Matarmaja selepas Solo, menuju Semarang masih rel tunggal belum ganda. Luar biasa sekali menunggu kereta eksekutif lewat, gantian. hahaha.

  17. Garaaa… kereen, deh analisamu… Eh aku juga suka sebeeel.. knp comuter suka brenti dari arah sudirman ke manggarai. berentinya sringkali cukup lama… Aku tau krn gantian pake rel, tp ga bisa sekuat kamu menganalisa, hehehe *jempool… πŸ™‚

    Habisnya kita semuanya silang di manggarai ya… Dan harusnya kereta api Jakarta yang udah bagus sejak seabad yang lalu harus lebih baik dari negeri tetangga yak… tp kita sekarang ketinggalan jauh…

    1. Ahaha ini gara-gara nunggu kelamaan Mbak… terus saya berpikir kalau saya jadi PT KAI, memang apa yang terjadi. Ternyata kita nggak bisa menyalahkan secara sepihak…
      Iya, Manggarai memang sentral… dan kita sempat lebih baik dari negara tetangga cuma kita terlena di zona nyaman, yah sekarang jadinya begini.

  18. Wah mantap nii, jiwa analisisnya mas Gara patut di acungi jempol deh

    Tapi apa sekarng semua rel silang udah gak perlu nunggu eksekutif lewat dulu, atau kondisinya masih sama kaya catatan diatas?

    1. Kadang masih suka menunggu Mas, sebab belum dibedakan antara jalur KRL dengan jalur kereta jarak jauh :hehe. Tapi paling tidak menunggunya tidak sesering dan selama kalau satu jalur dipakai bergantian (yang ini masih kejadian di Jawa Timur :hehe).

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?