Tentang Museum Mpu Purwa

Disclaimer: Kunjungan ke museum ini saya lakukan empat bulan lalu (Mei 2016). Mungkin sudah banyak yang berubah. Mungkin ada proyek yang sudah dikerjakan. Meskipun saya sangsi, karena self-blocking APBN 2016 senilai Rp133 T tentu saja akan banyak pengaruhnya…

Mungkin seseorang yang pertama kali mengunjungi Museum Mpu Purwa dalam setidaknya dua tahun terakhir akan punya keterkejutan bercampur keheranan yang sama dengan saya.

“Ini museum atau Situs Mpu Purwa tempat tinggal ayah Ken Dedes? Apa benda-benda di sini masih in situ?”

Saya sendiri butuh dua kali kunjungan untuk meyakinkan diri bahwa saya benar-benar heran. Kunjungan yang pertama gagal karena kesorean. Dua hari selanjutnya bukan hari kunjungan karena tanggal merah. Padahal tempat ini museum (bukankah semestinya museum akan lebih ramai di hari libur, ya?). Kunjungan baru berhasil di hari Sabtunya. Itu pun beberapa jam sebelum kereta saya bertolak meninggalkan Malang menuju Jakarta.

Saya pikir, saya bisa memaafkan diri sendiri lantaran menganggap tempat ini adalah sebuah situs bersejarah alih-alih museum. Tempat ini susah dicapai dari jalan raya. Kendati alamatnya diawali dengan “Jalan Soekarno-Hatta Malang”, museum ini sama sekali tidak terletak di tepi jalan protokol itu. Hanya ada papan kuning dengan nama museum dan panah penunjuk merah ada di jalur hijau tengah jalan. Pun, papan itu menunjuk ke proyek rumah sakit universitas yang belum selesai. Bukan sebuah museum.

Pengunjung yang tidak menetapkan hati menuju museum ini pasti akan menyerah. Jika ia kebetulan seorang penulis, saya cukup yakin ia akan menulis bahwa museum ini sudah rata dengan tanah.

Jalan menuju Museum Mpu Purwa sebenarnya bukan di sana, melainkan melewati gapura Perumahan Griya Shanta yang ada di sebelah proyek rumah sakit. Sekitar seratus meter dari ujung jalan, pengunjung akan menemukan papan yang serupa. Papan kedua ini menunjuk ke kiri, ke jalan kecil berpaving (dan berilalang, tentu saja) yang menuju ke museum.

Ikutilah jalan ini, yang akan melewati sebuah tanah kosong tempat proyek tetangga membuang bongkaran. Jalan akan membelok ke kanan, dan sebuah gerbang besar ada di sebelah kanan. Pintunya yang setinggi pinggang hampir mutlak tertutup oleh ilalang tinggi. Tapi yang ada di belakang sana tentu tak bisa menipu.

Buddha Mahaksobhya, makara, dan lingga yoni.

Tempat yang sangat tepat untuk sebuah situs sejarah, dan tempat yang amat sangat tepat untuk sebuah museum.

Ya Tuhan, saya butuh penjelasan.

Pandangan Mata: Halaman

halaman-museum-empu-purwa-1
Halaman Museum Empu Purwa 1

Kami tiba di sana, matahari sedang terik-teriknya. Ilalang tinggi, menghapus makna gedung yang berdiri di belakang. Padahal tampak sekali gedung ini baru. Pintu kayu yang ada padanya pun terlihat sangat megah, seperti pintu pendapa istana. Sayang semua tampak sangat “terbanting” dengan halaman ilalang yang berdebu. Seolah-olah pekerjaan pembangunan museum hanya mengurus gedung, namun pekerjaan penataan halaman dilupakan.

Kenapa ya? Apa ada alasan khusus soal ini?

Saya tertarik dengan topeng-topeng yang nun jauh tertempel di ketinggian. Juga dengan relief-relief di dinding luar museum yang sepertinya menceritakan adegan-adegan kerajaan. Tapi tak ada penjelasan di papan-papan, sebagaimana yang ada di beberapa museum yang pernah saya kunjungi. Ah, mungkin si perancang museum ingin menjadikan museum ini sebagai candi—karena tak pernah ada penjelasan tentang relief candi di candi yang sama.

Kami memarkir motor tepat di depan pintu pendapa. Seorang wanita sedang menyapu di sana, tampaknya juru kunci museum. Kami melihatnya masih asyik mengumpulkan sampah. Sapu dan pengki beraksi di bawah terik matahari dan serbuan debu. Ia sudah sadar akan kedatangan kami namun belum memutuskan untuk mendekat.

Pekerjaan menyapu halaman di siang ini belum selesai. Halaman ini luas dan banyak pohonnya. Menyapu seluruh tempat ini sendirian bukan pekerjaan mudah. Tambahan ilalang pun memperberat situasi. Jelas, untuk satu orang, pekerjaan membereskan halaman tak akan pernah selesai. Itu kalau ukuran beres adalah halaman yang bersih, tersirami, dan bebas ilalang.

halaman-museum-empu-purwa-2
“Barak” di latar belakang adalah inti museum untuk saat ini.

Jadi sebelum men-judge museum ini tak terurus karena ilalangnya tinggi dan debunya banyak, mari berpikir lebih dalam. Siapa tahu diri sendiri bisa memberi alternatif jawaban. Saya juga mencoba memandang dari sisi yang lebih positif: tempat ini bersih, dengan mengecualikan dua bangunan semipermanen yang ada di sisi timur sana.

Untuk beberapa saat saya tertarik dengan benda-benda yang ada di halaman. Buddha Aksobhya dan makara bersanding dengan beberapa tonggak batu seperti lingga. Ada pula sebuah yoni, yang saya tunjukkan pada Curio sembari membuktikan satu hal: bahwa jika dipandang dari sisi yang tepat, yoni yang lengkap akan kelihatan persis kelamin wanita.

Ya tapi saya tidak usah bilang ya, “sisi yang tepat” itu seperti apa. Tanya Stutterheim dan Krom saja. Kek kek kek…

Banyak waktu kami habiskan dengan benda-benda di halaman ini, sementara mbak-mbak penjaga masih sibuk bersih-bersih. Saking banyaknya obrolan, agaknya semua itu bisa jadi satu atau beberapa postingan tersendiri. Bahkan sepertinya setiap benda yang ada di tempat ini bisa saya bahas panjang lebar (asalkan referensinya lengkap, hehe).

Kami masih mengamati Buddha Aksobhya ketika mbak penjaga datang dan memperkenalkan diri. Hm, saya tak bisa tak berkomentar soal penampilannya. Mbak satu ini agaknya berhias dengan seksama sebelum pergi ke tempat kerjanya—alisnya tampak begitu rapi dan mukanya mengilap karena bedak cukup tebal. Padahal sejauh mata memandang, tak ada pengunjung lain kecuali kami berdua.

Oh, bicara soal dedikasi.

Mbak Mimin, namanya. Ia meminta maaf pada kami karena kondisi museum yang sangat di luar dugaan. Museum sedang direnovasi, sebagai persiapan pengalihan pengelolaan museum dari BPCB Trowulan ke Pemerintah Kota Malang, menyusul perubahan status tempat ini dari “Balai Penyelamatan” menjadi “Museum” lantaran semua aspek yang sudah terpenuhi sebagai fasilitas penunjang edukasi…

Susah payah saya mencoba mengembalikan pembicaraan Mbak Mimin yang seperti sudah berkali-kali diulang pada pengunjung (yang pastinya keheranan dengan keadaan Museum Mpu Purwa yang seperti ini). Saya ingin mendengar cerita soal museum ini secara lengkap, detil, dan dalam, dari awal, awal mula sekali museum ini bermula.

Bukan soal ini museum apa, namun pertanyaan pertama adalah, tentu saja, mengapa museum ini bisa ada di sini?

Sejarah Lokasi dan Bangunan

Dari obrolan kami dengan Mbak Mimin (yang bahkan belum membahas soal koleksi museum), kami memperoleh beberapa hal soal asal-usul Museum Mpu Purwa. Hal pertama yang paling menggelitik pikiran adalah, tentu saja, kenapa museum ini bisa sangat strategis. Syukurlah Mbak Mimin mau bercerita. Gamblang dan sangat membuka mata.

“Dulu ini sekolah, Mas. Sekolah negeri, punya pemerintah. Tapi mengingat siswanya makin tahun makin menyusut, akhirnya sekolah ini ditutup. Kebetulan pada saat itu, ada rencana untuk mengumpulkan semua peninggalan Hindu-Budha yang tersebar di seluruh Kota Malang. Akhirnya dipakailah bangunan bekas sekolah itu sebagai balai penyelamatan benda-benda cagar budaya, dan dikelola oleh kantor saya, BPCB Trowulan.”

Kami berdua terdiam, paling tidak sampai Curio tiba pada suatu kesimpulan yang diutarakannya saat itu juga sampai saya terlonjak:

Jadi ketimbang bangunan sekolah itu tidak terpakai, akhirnya dijadikan balai penyelamatan untuk benda-benda bersejarah. Di saat yang sama, secara tak langsung tempat ini dipakai sebagai museum karena bisa dikunjungi masyarakat. Begitu?”

Mbak Mimin enggan mengiyakan, tapi pada akhirnya ia tidak membantah. Bahkan bangunan yang dulu dipakai sebagai bangunan museum adalah bangunan bekas sekolah yang diubah seadanya. Perubahan besar-besaran baru terjadi sekitar tahun 2014 dengan pembangunan gedung baru; sebelumnya tak ada renovasi apa-apa. Bangunan bekas kantin bahkan masih tersisa di sudut sana, seperti gubuk dengan tampilan tak terurus yang cukup mengerikan.

halaman-museum-empu-purwa-3
Banyak pepohonan.

Hening mengisi kami bertiga. Betapa “pintarnya” para penguasa yang merencanakan pembangunan museum ini. Pintar, sekaligus “ajaib”. Seumur-umur baru di sini saya melihat ada museum yang dibangun dengan tidak didahului perencanaan soal lokasi. Bukankah tujuan dari museum adalah dikunjungi? Dengan demikian, tidakkah seharusnya museum dibangun di tempat yang sedikit lebih… strategis dan mudah dijangkau?

Apa di tengah perumahan berarti akan lebih mudah dijangkau, ya?

Tapi kami sebagai pengunjung mesti menyalahkan siapa? Mbak Mimin selaku juru pelihara situs ini tak punya wewenang apa-apa; ia cuma menerima tugas menjaga di tempat yang sudah ditentukan oleh pejabat-pejabat di balai cagar budaya. Tentu ia tak bisa mengatur lokasi museum harus pindah, atau petunjuk menuju museum harus dibikin besar-besar—tugasnya hanya menjaga cagar budaya ini dari kerusakan, atau memandu pengunjung yang datang kemari untuk melihat-lihat.

Ada kekuasaan yang lebih besar, yang semestinya bisa “memperbaiki” lokasi Museum Mpu Purwa. Namun bukan di tangan kami bertiga yang ada saat itu.

Pada akhirnya, semua yang ada memaksa kami untuk bersyukur bahwa benda-benda cagar budaya yang berharga dari Malang Raya masih punya rumah. Meskipun memang, agak susah dilihat dari jalan raya. Tapi paling tidak, bangunan dan gerbang baru yang ada di depan sana masih menandakan kalau ada perhatian dan rencana akan museum ini. Semoga saja semua rencana berjalan dengan lancar.

Sebenarnya ada niatan untuk menutup sementara museum ini ketika proses renovasi masih berlangsung. Tapi Mbak Mimin merasa tak enak tentang itu. Seolah-olah ia menutup satu tempat yang bisa dikunjungi masyarakat. “Arca-arca ini ada untuk dipelajari dan diambil ceritanya, bukan cuma untuk disimpan di gudang,”  katanya. Saya lihat Mbak Mimin adalah orang yang sangat suka bercerita, apalagi soal arca di museum ini.

Jadi saya bertanya kapan museum ini dibuka kembali, toh bangunan utama sudah selesai. Mbak Mimin bercerita bahwa jika tidak ada halangan, saya diminta datang tahun depan (pertengahan 2017) dan saat itu, semoga saja, museum sudah selesai ditata. Saya mencoba memastikan kembali pernyataan itu, dan Mbak Mimin malah tertawa, penuh ketidakpastian tersirat. “Semoga saja demikian, Mas,” katanya.

Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah: kenapa begitu lama?

Tapi mari kita bahas itu di postingan selanjutnya. Menurut saya pengelolaan museum di Indonesia, dari sudut pandang para administratur, pantas mendapat tempat tersendiri. Hitung-hitung sebagai bahan untuk renungan lebih dalam sebelum saya bisa dengan tegas melancarkan kritik pada pengelolaan museum di Indonesia.

Ah, Sang Dhyani Buddha Aksobhya masih bermeditasi dengan Bhumisparsamudranya.

sebuah-yoni-museum-empu-purwa
Sebuah yoni. Yoni, bukan lumpang.

7 thoughts on “Tentang Museum Mpu Purwa

    1. Tak apa Mbak, nanti kalau kebetulan ke Malang lagi bisa mampir kemari :hehe. Saya pun sudah berencana untuk kembali lagi ke sana dan ambil foto lebih banyak lagi, soalnya kemarin kayaknya foto yang diambil sedikit banget :haha.

    1. Ayo ke museum Mas… banyak cerita yang bisa digali dari semua benda yang ada di museum, hehe. Tapi memang sih, saya juga sekarang agak jarang ke museum, soalnya banyak tugas dan belum bisa bagi waktu :haha.

  1. Situasi yang nyaris sama dengan Museum Singhasari yang baru dibangun, terletak cukup jauh dari pusat pasar Singhasari, Malang, naik ke arah lereng Gunung Arjuno.. Sudah ada papan penunjuknya. Berada di gerbang perumahan besar. Tapi pas ke sana, hanya ada kuli bangunan dan tukang, yang menjelaskan museum belum siap dibuka, karena belum ada benda-benda yang dipindahkan (entah dari mana). Padahal sudah lama diresmikan Pak Bupati Rendra Kresna. Baru ada topeng malangan di sana 😀

    1. Saya kemarin sempat lihat petunjuk jalan ke museum itu Mas, tapi belum sempat mencari. Mudah-mudahan kalau ke Malang lagi bisa singgah ke sana. Penasaran juga dengan nama Singhasari yang diangkat, kira-kira jualannya apa, ya?

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?