Temanggung-Gedong Songo: An Unfinished Adventure

Temanggung dan Bakso Ulek

Tugas kantor membawaku dan seorang mbak-mbak dari kantor (sebut saja Mbak Desi) untuk berpetualang ke seputar Temanggung dan Semarang, 5–7 Oktober 2014. Selepas sidang di Pengadilan Negeri Temanggung, kami membelah Jl. Jenderal Sudirman Temanggung, mencari kuliner khas sana. Mobil sewaan berhenti di sebuah warung bakso ulek. Bakso Ulek Pak Di, kata papan reklame di depan warung. Tidak terlalu ramai, meski tempat ini sebenarnya (sangat) terkenal, dan tak terlalu banyak tempat duduk tertebar di depan ruko. Mungkin tempat ini ramai di malam hari.

Yang unik dari bakso uleg ini adalah, alih-alih menggunakan sambal yang sudah disiapkan terlebih dahulu untuk menambah pedas makanan, sang pedagang langsung mengulek cabai rawit sesuai keinginan konsumen. Khawatir jumlah cabai yang ingin saya pesan berdampak buruk pada pencernaan, maka saya coba-coba dengan mentitahkan dua buah cabai masuk ke dalam mangkok bakso.

Ternyata tidak terlalu pedas. Tahu begitu, saya pesan tiga atau empat cabai saja. Sebagai penduduk asli pulau yang terkenal dengan kuliner pedasnya, semestinya saya bisa membawa nama daerah sebagai penikmat pedas tulen. :sedih

Rasanya? Jangan ditanya… enak… mungkin kuping saya menghilang saking enaknya! Ditambah dengan es jeruk yang segar, di siang terik sejuk khas dataran tinggi. Ciamik!

Semangkok bakso ulek dan es jeruk
Semangkok bakso ulek dan es jeruk

Senang rasanya bisa mencicipi makanan khas dari Temanggung itu. Buat siapa saja yang ingin berkunjung, Bakso Ulek Pak Di dapat ditemui di Jl. Jenderal Sudirman No. 48A, Temanggung, sekitar 900m di sebelah barat PN Temanggung, di depan Bank BRI Temanggung. Seporsi bakso komplit berisi bakso (jelas), tahu goreng yang dipotong-potong, dan ketupat. Tidak tahu juga kenapa mesti berisi ketupat. Mungkin khasnya memang demikian. Harganya juga murah, sekitar Rp10k untuk satu porsi bakso komplit, dan Rp3k untuk es jeruknya (subject to change, sebab saya sudah lupa harganya).

Selepas makan siang, kami bertiga (aku, Mbak Desi, dan Mas Teguh sang supir) membelah lagi jalan protokol kota Temanggung. Kami singgah ke sebuah toko di pinggir jalan, untuk membeli oleh-oleh khas Temanggung (dan Semarang, pada umumnya). Nama oleh-oleh ini terpampang jelas di pintu ruko.

Minyak kemiri.

Harganya lumayan, Rp25k per botol. Botolnya seperti tempat selai. Warna minyak kemiri sendiri hitam pekat, seperti minyak mentah. Dan kata Mbak Desi, ”Ini minyak kemiri yang asli karena kalau yang bening itu biasanya nggak asli, Gar.”

Saya beli satu untuk terapi rambut saya, yang sudah beruban di usia semuda ini. giggles

Kita memutuskan meninggalkan kota setelah membeli minyak kemiri. Beranjak ke arah timur, saya mengusahakan agar Mas Teguh tidak mengambil jalan yang sama dengan rute yang kita tempuh dari Semarang. Ada papan penunjuk jalan yang mengarah ke Sumowono, dan menurut riset yang saya lakukan sebelum perjalanan, di sana perjalanannya lumayan menantang.

“Mas, lewat Sumowono aja gimana?” tanyaku.

“Waduh, jangan Mas, jalannya lumayan susah, di kiri gunung di kanan jurang,” dengan jujur Mas Teguh menjawab.

“Iya Dek, agak susah jalannya.”

Bandungan and The Route Between Us

Dengan muka yang (agak) cemberut aku menurut saja (haha). Untungnya ada hadiah hiburan juga, wisata ke daerah Bandungan. Kita akan mengunjungi sebuah kompleks candi! Candi Gedong Songo namanya. Sebuah kompleks percandian dari kerajaan Mataram Hindu, sekitar abad ke-8 atau ke-9, dan merupakan kompleks candi tertua kedua setelah Kompleks Candi Pandawa di Dataran Tinggi Dieng.

Adalah tidak mudah memang menuju ke kompleks percandian ini, karena medan perjalanan yang sangat menanjak. Namun, penunjuk jalan terdapat di sepanjang perjalanan, dan kecil kemungkinan membingungkan wisatawan. Kami bertiga yang baru pertama kali ke sana saja bisa menemukan kompleks candi ini dengan cukup mudah.

Sejauh otak saya bisa mengingat, ada beberapa rute yang dapat ditempuh menuju kompleks Candi Gedong Songo. Wisatawan dapat mengambil rute Sumowono, kalau mengarah dari Temanggung. Namun kalau arahnya dari Magelang/Yogya, wisatawan bisa masuk Tol Bawean–Semarang, keluar ke arah yang menuju Bandungan, sampai di jalan lama Ungaran–Semarang, terus belok kiri di pertigaan dengan penunjuk arah menuju Candi Gedong Songo (saya tak terlalu pasti dengan jalur ini sebab saya melewatinya saat kembali ke Semarang). Atau kalau wisatawan mengambil rute dari Museum Kereta Api Ambarawa, di pertigaan Ambarawa (yang ada monumen kereta api) lurus menuju Bandungan.

Rute tersebut akan membawa kalian ke pertigaan Kantor Camat Bandungan. Silakan belok kiri (rute dari Ambarawa) atau lurus (rute dari Magelang/Yogya). Untuk rute Sumowono, tak akan menemui kantor camat ini, sebab Candi Gedong Songo akan ditemui sebelum Kantor Camat Bandungan. Berhubung saya mengambil rute Ambarawa, jadi di sini saya belok kiri.

Sepanjang jalan, suguhan panorama Ambarawa-Bandungan ditatap dari Gunung Ungaran sungguh menarik untuk dinikmati. Sangat mirip dengan Puncak-Ciawi-Cisarua, hanya saja tanpa kebun teh.

Lima belas menit setelah lewat Kantor Camat Bandungan, gapura Candi Gedong Songo dapat dijumpai di kanan jalan. Tapi perjalanan masih belum selesai, kawan. Medan pendakian yang sudah cukup tinggi, semakin tajam lagi dengan tanjakan-tanjakan mautnya. Mesin mobil Avanza yang kami tumpangi semakin meraung. Apalagi ada bus pariwisata yang berjalan dengan sangat lambatnya karena mungkin keberatan penumpang. Sempat terlintas pikiran buruk di benak saya: bagaimana kalau bus itu mundur dan menggilas kami semua, atau bagaimana kalau saya (yang berbobot di atas normal ini) membuat mobil kami meluncur bebas tanpa rem? Langit pun memendung, awan kelabu pekat menggantung seperti ingin mencurahkan air: bagaimana kalau hujan turun?

Untung saja dua hal itu tidak terjadi. Saya memang gemar membayangkan yang tidak-tidak. :malu. Padahal di sepanjang jalan, pemandangan kebun bunga dan kol khas dataran tinggi mencoba menenangkan saya. Tapi masih belum mempan. Saya cuma bisa berdoa supaya kami semua selamat sampai tujuan.

Kompleks Candi Gedong Songo

Setelah satu tanjakan terakhir,ย gapura bergaya khas Jawa Tengah lengkap dengan sepasang patung penjaga menjumpai kami. Sebuah pelataran tepat di depannya merupakan tempat parkir, pelataran lain di sisi sebelah timur yang lebih rendah merupakan tempat toko suvenir dan warung-warung sate kelinci.

Inilah kompleks Candi Gedong Songo, atau Candi Sembilan Rumah.

Mobil diparkir dengan biaya Rp4k. Kami bergegas masuk, menanjak di sebuah jalan yang menuju pada teras kedua. Sebuah candi sudah menanti untuk dijelajahi di kejauhan sana, pada teras ketiga. Akhirnya, saya menemukan candi! hampir nangis.

Di teras kedua terdapat beberapa pedagang makanan. Ada juga panggung yang mungkin digunakan untuk pementasan kesenian tradisional. Yang unik, di kompleks candi ini dijajakan kuda untuk ditunggangi, untuk mengelilingi kompleks candi. Cukup dengan Rp85k–Rp100k, seseorang bisa mengambil tur dengan kuda. Tenang saja, pemandu sekaligus pawang kuda akan setia menemani. Bagi para pengunjung yang memilih berjalan kaki, tak usah khawatir, jalur pendakian candi untuk wisatawan berkuda dengan pejalan kaki juga dibedakan.

Candi pertama ada di teras keempat. Bernama Candi Gedong I, keberadaan dan nuansa yang tercipta di sekitarnya membuat saya merasa kalau candi ini adalah “candi penyambutan”. Dalam kepercayaan Hindu yang saya pahami sejauh ini, memang sebelum mencapai bangunan utama, terdapat bangunan-bangunan awal sebagai penyambut, atau istilahnya, pelawangan (lawang berarti pintu).

Candi Gedong I terdiri dari satu bangunan, memiliki bentuk dan langgam serupa dengan candi-candi di kompleks Dieng. Bangunan berbahan batu andesit dengan atap mengerucut ke atas, menyusun diri atas tiga tingkat, sebagaimana tiga tingkatan dunia dalam agama Hindu. Relief-relief belumlah demikian tampak, demikian pula ukir-ukiran masih terbilang sederhana. Namun, tetap saja, mesti dikata sederhana, membangun candi semegah ini pada abad ke-8 bukan pekerjaan mudah, ya.

Sayang, atap candi sebagian menghilang. Jadi puncak candi terlihat tak sempurna.

Di Teras Gedong I
Di Teras Gedong I

Di Candi Gedong I tidak ada arca-arca. Atau harta karun (yang terakhir ini jelas sudah dipindahkan). Mungkin dipindahkan untuk menghindari vandalisme (dan pencurian). Hanya ada sebuah yoni di dalamnya. Memberi petunjuk bahwa candi ini adalah candi Siwa, sebagaimana Dinasti Sanjaya pada Kerajaan Mataram Kuno silam.

Ada satu hal yang membuat saya sedikit tertegun. Ada semerbak wangi dupa yang saya cium ketika berada di dalam candi ini. Mungkinkah kompleks ini masih digunakan sebagai tempat pemujaan?

Dari Candi Gedong I, terdapat papan penunjuk arah ke kanan, bertuliskan “Candi Gedong II, III, IV, dan V.” Aku memutuskan mengikutinya. Sempat terpikir Mbak Desi yang jelas amat sangat tidak biasa mendaki seperti ini, tapi agak kaget juga pada akhirnya, mendengar dia yang memutuskan untuk ikut. Padahal Mbak Desi sedang pakai heels, lho. Salut pokoknya dengan kegigihannya. :hah

Bahkan ketika sadar kalau jalan ke Candi Gedong II amat sangat menanjak dan berliku, Mbak Desi tetap memutuskan ikut. Salut… meskipun, dia akhirnya melepas heels-nya dan membeli sandal jepit. Aku cuma bisa ketawa.

Jalan yang (cukup) menanjak :D
Jalan yang (cukup) menanjak ๐Ÿ˜€

Sekitar sembilan ratus meter menanjak dari Candi Gedong I, ambil kanan belok kiri berputar menanjak di kiri kanan dagang sandal jepit, minuman, sate kelinci, sampai di puncak turun lagi lewat trek flying fox, di kerimbunan hutan kita menembusnya, kemudian menanjak lagi sampai ketemu dengan bangunan kedua: Candi Gedong II.

candi-gedong-songo
Di Candi Gedong II

Namanya juga sekompleks, langgam Candi Gedong II tidaklah begitu jauh bedanya dengan Candi Gedong I. Masih berupa sebuah bangunan bujur sangkar lebar dengan atap meruncing berundak-undak. Bedanya, di depan Candi Gedong II ada reruntuhan candi lain yang lebih kecil. Saya membayangkan, apabila reruntuhan ini masih berdiri tegak sebagai bangunan, posisinya adalah menghadap candi induknya.

Candi Gedong II adalah candi kosong. Ada relung-relung, memang, sebagai tempat penyimpanan arca (mungkin), tapi kini semua relungnya telah kosong. Arca-arca telah dipindahkan ke tempat yang aman. Sedikit banyak saya bersyukur dengan itu.

Sejauh ini, menurut saya candi kedua adalah candi dengan pemandangan terindah. Dari tanjakan menuju Candi Gedong III, apabila kita menatap balik ke Candi Gedong II,ย  akan tersaji pemandangan candi, yang entah kenapa memancarkan kesan kesendirian.ย  Pada sebuah teras, dipunggungi bukit, tapi mau menghadap ke arah sebaliknya juga dicuekin jurang. Hanya ada sang candi dengan bukit.

photo-21

Ah, bukankah hubungan makhluk dengan Tuhannya, pada hakikatnya, dilakukan dalam kesendirian, ketika tak ada makhluk lain yang tahu, selain Tuhan dan makhluk itu sendiri?

Waktu yang mulai menipis membuat kami harus melanjutkan perjalanan. Mas Teguh sudah tak terlihat lagi, ternyata tadi dia minta izin untuk turun duluan karena terlalu lelah kalau harus lanjut ke atas. Tinggal saya dan Mbak Desi, kami sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke Candi Gedong III, sebagai penutup perjalanan untuk hari ini (sudah mau Maghrib dan kami masih harus belanja oleh-oleh untuk teman-teman di kantor).ย  Agak menyesal sebenarnya, karena saya masih ingin berjelajah sampai habis seluruh candi saya datangi. Tapi waktu memang membatasi kami…

Jadi, kami nikmati Candi Gedong III dengan menanjak lagi lebih kurang 100m. Bukan keputusan yang buruk, karena mesti bukan merupakan candi terakhir di kompleks ini, kita bisa melihat candi-candi lain (Gedong IV dan Gedong V) di kejauhan, di bukit seberang. Selain itu, kepulan asap belerang pada kepundan di dalam jurang jauh di bawah menandakan di sini masih ada satu tempat lagi yang mesti dijelajahi: sumber air panas.

Candi Gedong III, sejauh ini, merupakan satu-satunya candi dengan dua bangunan yang saling berhadapan. Bangunan utama berbentuk seperti candi-candi sebelumnya, hanya saja sedikit lebih lebar. Bangunan di hadapannya berbentuk persegi panjang, beratap serupa, hanya saja lebih rendah. Di sisi kiri undakan bangunan utama, ada arca lembu yang benar-benar familiar. Lembu Nandini namanya, kendaraan Bhatara Siwa. Pengikut yang setia dengan tuannya, tanpa pamrih mengharap balasan. ๐Ÿ™‚

Candi Gedong III juga merupakan candi kosong.

photo-34

Hal unik yang ada di Candi Gedong III adalah relief pada “jendela” candi. Berturut-turut searah jarum jam adalah relief Durga Mahisasuramardini (Durga bertangan sepuluh/Adi Shakti), salah satu perwujudan Dewi Durga, yang juga dapat dilihat di Candi Prambanan (dalam wujud Roro Jonggrang), Ganesha (dengan belalai yang agak somplak… saya juga tidak mengerti), dan terakhir relief Rsi Agastya, begawan bertubuh sedikit tambun dengan sorot mata penuh kebijaksanaan.

Berdiri seperti Agastya
Berdiri seperti Agastya
Duduk seperti Ganesha.
Duduk seperti Ganesha.

Setelah puas mengabadikan gambar, petualangan hari itu akhirnya mencapai ujungnya. Waktu memang terus berjalan, dan tidak berbohong ketika ia berjanji untuk memisahkan kami. Meski sebenarnya saya sangat berat meninggalkan kompleks itu, masih ada dua kompleks yang belum saya jelajahi, masih ada rasa penasaran mengenai apakah benar kompleks ini terdiri dari sembilan candi, saya harus pergi. Namun, saya juga berjanji pada waktu untuk kembali ke Gedong Songo. Suatu hari saya akan kembali. Untuk menyelesaikan petualangan saya, untuk melengkapi penjelajahan kejayaan masa lalu.

Dan lihat, matahari tersenyum dengan indahnya.

Saya pasti akan kembali!
Saya pasti akan kembali!

8 thoughts on “Temanggung-Gedong Songo: An Unfinished Adventure

    1. Sangat seru, Mas. Apalagi kalau malam hari, pasti lebih menantang (obsesi saya memang dengan jalan-jalan seperti ini, hahaha).
      Saya malah belum pernah ke Dieng, Mas :sedih. Mudah-mudahan tahun depan bisa menikmati DCF langsung di sana ๐Ÿ˜€
      Terima kasih sudah mampir, Mas!

      1. Lha iya pas pulang dari Dieng ke Semarang kemalaman kami. Naik motor lagi. Ujan pula. Lewat jalan berkelok, kanan kiri hutan dan jurang.. Sepi lagi. Agak deg2 ser waktu itu. Tapi seruuuu.. pengen mengulangi lagi. Hehehe

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!