Taman Wisata Alam Gunung Tunak #3: Mercusuar dan Makam Misterius

Motor kami ada di kejauhan sana.
Motor kami ada di kejauhan sana.

Untuk bisa mencapai puncak bukit itu, kami mesti menggunakan motor lagi sampai ke sebuah pos di punggung bukit sebelah, pada sebuah tanjung yang bernama Tanjung Bungkulan. Sesudah memarkir di sana, di pos yang sepi dari kegiatan, barulah pengunjung melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak yang menembus pepohonan di hutan sekunder menuju ke puncak bukit sekaligus ujung tanjung dengan panorama yang membuat napas tercekat.

Mau dipandu ke mana, Teman?
Mau dipandu ke mana, Teman?

Tampaknya, pos ini digunakan oleh para pedagang, terbukti dengan kardus-kardus air mineral dan mi instan (iya, di sini juga banyak sampahnya). Ketiadaan benda yang dapat saya gunakan untuk menampung membuat saya tidak bisa memulung jadi saya cuma mengurut dada (nasib, nasib).

Padahal panorama di sini demikian indah, lho kok ya sampahnya itu banyak sekali…

Sampah yang membuat geram.
Sampah yang membuat geram.

Medannya? Mungkin bagi yang sudah terbiasa naik gunung tidak berat, tapi bagi kami, jalannya cukup terjal. Terik matahari terasa memanggang, belum lagi tanaman-tanaman berdaun sedikit, bahkan ada tumbuhan rendah yang daunnya berduri menggores kaki di sana-sini. Tanah keras, gersang, berbatu, berpasir di beberapa titik, bahkan kami menjumpai beberapa bebatuan mirip koral. Tapi saya senang sekali, karena inilah petualangan yang sesungguhnya :hore.

Petualangan dimulai.
Petualangan dimulai.

_MG_7465 _MG_7466 _MG_7471 _MG_7485 _MG_7487Keseruan semakin bertambah dengan fakta bahwa pantai yang kami tinggali semakin tinggi semakin tampak indah dan terisolasi. Bagaimana tidak, di kiri kanannya adalah bukit-bukit bertebing tegak lurus langsung menyerahkan diri tergerus ombak Samudra Indonesia yang terkenal ganas. Tapi semakin ganas, semakin indah dan menghipnotis. Deburan ombak yang beradu dengan batu karang jadi sangat dramatis dan mendegupkan jantung beberapa kali lebih cepat. Keren dan hampir-hampir tak terkatakan!

_MG_7469 _MG_7470 _MG_7472 _MG_7473 _MG_7476

Cuma, jangan terlalu meleng ke kanan saat terlena dengan keindahan itu. Seluruh tebing di sini tidak punya papan peringatan, apalagi pengaman. Jalanan setapak cuma satu meter jaraknya dengan bibir tebing dan kalau terlalu salah melangkah, itu artinya terjun bebas tiga puluh meter ke bawah laut bertemu langsung dengan koral dan lautan yang ganas. Saya sempat melongok sebentar ke bawah dan… merinding diskolah.

Kira-kira curamnya segini.
Kira-kira curamnya segini.

Keren, tapi seru, tapi menakutkan! Lengkaplah.

Untuk mencapai si mercusuar, ternyata kami mesti mendaki satu bukit lagi, yang sepertinya merupakan bukit paling selatan di sini. Saya pada awalnya tidak begitu memerhatikan si mercusuar, karena jujur, pemandangan yang ada di sebelah timur sana merupakan pemandangan horison timur terlengkap yang pernah saya tatap sepanjang hidup ini…

Mercusuarnya masih di sana, teman.
Mercusuarnya masih di sana, teman.

Saya berpikir, hanya dengan duduk di atas bukit tempat saya berada saat itu, seseorang bisa menyaksikan matahari terbit dan matahari terbenam tanpa perlu berpindah tempat. Apalagi kalau berdiri di atas mercusuar. Semua ditatap dari ketinggian, dan pemandangan indah yang masing-masing tak ada tandingannya bisa didapatkan semudah menolehkan kepala.

_MG_7491

Pemandangan dari puncah bukit.
Pemandangan dari puncah bukit.

Sisi sebelah barat sudah saya gambarkan tadi, sementara di sisi timur ini, matahari yang masih ada di sebelah sana memberikan efek berkilau bagi puncak-puncak gelombang laut yang terkena sinarnya. Rasanya silau tapi saya begitu betah menatapnya lama-lama, maklum sih, keren banget! Maha besar Tuhan yang sudah menciptakan dunia beserta seluruh isinya dengan ketepatan yang mahasempurna, karena dalam pikiran pun manusia sebagai makhluk yang dikata paling sempurna belum tentu bisa memikirkan sesuatu yang setidaknya mendekati ciptaan Tuhan ini…

_MG_7502 _MG_7499

Dan saya bersyukur, sangat bersyukur bahwa saya lahir dan besar di Lombok. Ah, halaman belakang rumah saya ternyata seindah ini! Terselip sedikit penyesalan tentang kenapa saya tak menyadari hal ini sejak awal, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, kan? :hehe.

_MG_7503

Gusrak.

“Wadaaauuww!”

Dan mungkin saya terlalu asyik menatap semua itu sampai-sampai saya tak sadar menginjak tanah berpasir di kemiringan seperti ini. Iya, saya terperosok, dan bukan cuma malu, saat itu saya takut banget, banget-banget-banget (iya saya memang lebay :haha), habisnya bukit itu punya kemiringan yang ciamik banget seperti perosotan dengan ujung langsung tebing yang sama tinggi dan curamnya di sisi sebelah…

_MG_7519 _MG_7520

“Salah pilih jalan,” kata saya sambil berdiri dan menerima sebuah tongkat. “Kayaknya jangan lewat jalan berpasir. Berat risikonya.” Untunglah itu tidak menyurutkan niat untuk menjelajah lagi di sekitar sana, soalnya habis itu saya langsung tralala trilili ke sana kemari :hehe. Cuma ini jadi pelajaran banget, mesti hati-hati, apalagi yang berat badannya di atas normal terus jarang olahraga jadi kurang piawai menjaga keseimbangan (ya, itu saya).

Pemandangannya? Wadoh, jangan ditanya. Dari sini kita bisa melihat Teluk Ekas di Lombok Timur yang terkenal itu. Sebuah pulau tebing lagi-lagi menarik perhatian saya, tidak hanya karena pulau itu adalah yang terbesar dari seluruh pulau tebing yang saya temui sejauh ini di sini, melainkan karena bentuknya yang unik, seperti penyu.

_MG_7529 _MG_7535

Oleh karena itu, nama pun mengikuti bentuknya. Gili Penyu.

Puas foto-foto di sana (tentu saja), kita sedianya akan kembali meniti langkah menuju mercusuar itu. Tapi ketika kami berbalik, sesuatu yang sangat tidak pada tempatnya membuat kami berjongkok-jongkok untuk mengamati semua dengan lebih dekat.

_MG_7524

Sepasang nisan.

Iya, ini makam.

Kami menyimpulkan ini makam karena dua hal. Pertama, nisannya. Nisan ini umum ditemukan di makam-makam adat Sasak (terutama untuk makam-makam tua). Ada sepasang nisan seperti ini sering saya lewati di pekuburan umum dekat rumah, dan dari bentuknya memang nisan ini umumnya di makam tua. Nisan ini pun demikian, tampak tua. Dan bukti kedua, sekeliling nisan ini terdapat batu-batu yang ditanam setengah, membentuk sebuah daerah yang dari besarnya persis betul sebagai sebuah makam.

_MG_7525 _MG_7537 _MG_7540

Tapi, yang aneh, justru tulisan yang ada di makam itu. Alih-alih nama, tanggal lahir, dan tanggal meninggal orang itu, yang tertulis di nisan makam ini justru kalimat “DIMULAI HARI AHAT TANGGAL 15”. Selarik kata lagi, di sisi yang menghadap ke timur, terkesan seperti nama orang, tapi bacaan terbaik untuk larik itu adalah “R. AWANG”. Semua kata ditulis tanpa spasi, walhasil butuh beberapa kali pandangan untuk bisa membacanya dengan tepat (untuk kasus saya sih begitu) :hehe.

Ini menarik SEKALI. Satu, apakah ini makam? Sebab tulisan itu bukan menandakan kalau ini makam (apa yang dimulai?) Dua, tapi, jikalau benar ini makam, siapa yang dimakamkan? Raden Awang? Tiga, jika ini bukan makam, lalu ini apa? Empat, dan sepertinya ini pertanyaan yang paling besar, APA YANG BENDA INI LAKUKAN DI TEMPAT SEPERTI INI, PUNCAK BUKIT YANG KIRI KANANNYA MENGHADAP KE LAUT LEPAS?

_MG_7565 _MG_7568 _MG_7553

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya, kalau menurut saya, bisa jadi potensi wisata banget buat tempat ini untuk terkenal bagi seluruh kalangan, entah penikmat fotografi, panorama, bahkan peneliti sejarah. Misalnya saja kalau ini benar makam untuk seseorang bernama Raden Awang, maka itu bisa jadi petunjuk kenapa teluk yang di sebelah barat sana dinamakan Teluk Awang. Ah, saya butuh informasi lebih lanjut dari pihak pengelola taman wisata alam ini.

Tapi untuk sekarang, mari mendekati mercusuar itu! Bangunan besi yang tinggi menjulang, menentang angin dan badai, menghadap ke laut lepas!

_MG_7547 _MG_7530 _MG_7531

Mercusuar ini tinggi, dan sepertinya bisa dipanjat. Tapi karat yang menghiasi bagian-bagian badannya membuatnya tampak agak ringkih, dan ketika Dilan mencoba memanjat, bangunan besar ini sudah mulai bergoyang. Padahal dia belum lagi mencapai lantai pertama, baru beberapa anak tangga tertiti dari tanah puncak bukit.

Melihat itu, saya lebih memilih cengengesan, tahu diri, dan menolak ajakannya untuk mencapai atas. Pada akhirnya, tidak ada dari kami berdua yang sampai ke puncak, karena angin di sana sangat kencang siang itu. Kami (saya lebih tepatnya) lebih memilih menatap sekitar kami, menikmati angin kencang, debur ombak, singkatnya, menikmati alam.

_MG_7551

Inilah sebagian dari Taman Wisata Alam Gunung Tunak. Sebuah perpaduan dari seluruh elemen alam, perbukitan gersang, pantai berpasir putih sempurna, tebing karang terjal dan ganasnya ombak laut selatan yang membuat kita tunduk, menyerah kalah pada alam maharaya, mencoba menyatu dan mengharmoniskan gelombang pikiran dengan arus laut, deru angin, kicau burung, lenguh kerbau dan gemerisik daun, melepaskan semua energi negatif yang dibawa klakson kendaraan bermotor, bentakan atasan, pun suara ambisi dari dalam diri yang sejatinya membunuh.

_MG_7584 _MG_7582 _MG_7581 _MG_7573

Inilah alam. Inilah tempat di mana kita sesekali semestinya berpulang. Untuk sebuah kesadaran baru, untuk sebuah kemenangan dalam pengakuan kekalahan kita padanya. Untuk sebuah perjalanan, perjalanan guna lebih menghargai, lebih menghormati, segala apa yang ada di dunia ini termasuk pada elemen-elemen alam yang paling mendasar: tanah, air, api, dan udara (kemudian jadi Avatar Aang hei, namanya sudah mirip kan :haha.

Namun, saya tegaskan, tulisan ini masih hanya setengah. Pembaca budiman pasti tahu kalau saya belum menyelesaikan cabang jalan ke kanan yang sudah saya telisik sedikit dalam tulisan sebelum ini. Pun, saya sama sekali belum menyentuh keanekaragaman flora dan fauna Gunung Tunak. Di perjalanan pulang kami menjumpai babi hutan melompat-lompat di tengah jalan, dan kawanan kerbau dari perjalanan kembali menuju gapura Teluk Bumbang.

Selain itu, kata beberapa sumber yang saya temukan, daerah ini terkenal dengan fauna berupa burung gosong kaki merah (Orange-footed scrubfowl), burung kirik-kirik Australia (Rainbow bee-eater), burung kipasan tunggir merah (Rufous-backed fantail) atau burung buntut sate putih (White-tailed tropicbird), si putih yang sesekali terbang melintas, seperti menggoda tapi saat itu saya entah kenapa tidak tertarik.

Di gapura saat kami akan meninggalkan lokasi, sudah ada anak-anak muda yang berjaga, mereka semua tampak sangat ramah. Seorang dari mereka adalah pedagang minuman dan mi instan dalam cup P(o)pmie, Po(p)mie dan bertanya apa kami sudah membayar tiket masuk. Pikiran saya langsung bercabang ke mana-mana, tapi saya cuma mengangguk dan menjawab kami sudah bayar.

Dia tersenyum dan mengangguk.

Duh, Tuhan, kayaknya pikiran ini kadang negative thinking banget elus dada. Maafin banget ya Mas, kadang saya memang seperti ini, curiganya kebangetan :haha.

Dari mas-mas di gapura masuk itulah, saya dapat informasi ke mana jalan cabang kanan tadi berakhir. Sebuah pantai, bernama Pantai Ujung. Ah, jadi penasaran saya, ingin segera mengunjunginya. Semoga dapat kesempatan lagi untuk sekali lagi berkunjung ke sana, guna melengkapi khasanah perpantaian saya di Pulau Lombok :hehe.

Dan, setelah agak jauh meninggalkan Gunung Tunak, saya baru ingat kalau… saya belum bertanya soal makam misterus yang tadi :hwaa. Yah, ini jadi satu alasan tambahan supaya saya berkunjung ke sana lagi :)).

Kalau hari itu tiba, apa ada yang mau ikut?

_MG_7570 _MG_7532 _MG_7528 _MG_7523 _MG_7493

84 thoughts on “Taman Wisata Alam Gunung Tunak #3: Mercusuar dan Makam Misterius

  1. Gar gw mau ikuuuut. Ajak-ajak yaa. Semoga jadwalnya cucok. Itu semoga pihak berwenang segera sadar potensi wisatanya yaaaa dan dikasih pager dan dijaga kebersihannya. Kereeeeen. Penasaran sama nisan nya Gar! Loveitloveitloveit! Great post! 🙁

    1. Siap, Mas :)). Mudah-mudahan ada waktu kita semua ke Lombok :hehe :amin.
      Iya Mas, minimal ada penjaga di dekat sana supaya sigap kalau ada apa-apa, ya. Aaak terima kasih banyak Mas Dani, saya juga penasaran banget dengan nisannya dah, kalau lupa diri mungkin sudah saya gali nisan itu untuk membuktikan di bawah sana ada jenazah atau tidak #eh. Terima kasih untuk apresiasinya!

    1. Setuju! Sampah itu memang sangat mengganggu dan membikin kesal banget, padahal pemandangannya adalah salah satu yang terbaik yang bisa saya saksikan di Lombok!

  2. Keren banget pemandangannya ya. Nice post!
    Makamnya aneh ya. Kayaknya itu bukan makamdeh. Mungkin sejenis gerbang. Hmmm… gerbang ke alam lain kali yah… pada hari Ahat tanggal 15 akan ada seberkas sinar di antara kedua batu tsb. Siapa yg melewatinya akan masuk ke dunia lain. *halah… kok jadi ngarang. 😀

  3. Saya mbaca dari awal ampe akhir postingannya sangat menarik. Juga foto-foto jepretannya membuat membacanya lebih bersemangat. Ternyata klo postingan panjang mesti juga menampilkan foto agar pembaca tidak bosan membacanya karena ada ilustrasinya.

    BTW sampahnya mengganggu banget. Apa benar ya statemen yang mengatakan kalau orang indonesia paling ga’ bisa menjaga kebersihan?

    1. Iya Mas, menurut saya foto penting supaya pembaca tidak bosan, tapi saya masih belajar juga bagaimana membuat tulisan yang panjang tapi pembaca tetap bisa “bernapas” dan tidak terengah-engah kebosanan :hehe.
      Saya benci mengakui ini tapi agaknya memang demikian. Sebagian besar dari kita belum punya kesadaran soal menjaga kebersihan.

  4. karena bagian sampahnya di bagian awal cerita…. jadinya yang terlintas buat dikomentarin adalah bagian sampahnya, Gar 😀

    foto2nya tetep keren. apalagi yang diambil dari ketinggian itu. muantap!

    1. Apa yang muncul pertama memang cetar dan membekas sekali ya Mas :hehe.
      Setuju, saya suka sekali dengan foto-foto yang saya ambil dari tempat ini, Mas :hehe.

  5. Jadi ikut penasaran dengan misteri makam R.Awang, itu betul inisial “R” untuk gelar “Raden” seperti di Jawa? Kalau mo balik ke sana, ajak aku, Gara! Ntar kubantu pungutin sampah-sampah yang berserakan itu. Mata dan tangan gatal lihat keindahan alam yang tercoreng dan tercemar gegara ulah turis tak bertanggung jawab. 😉

    1. Ada kemungkinan demikian, mengingat pertalian budaya antara pulau-pulau di selatan Indonesia itu. Tapi kita mesti tanya ke abang-abang yang di pintu masuk biar lebih pasti. Sip, Mas, mohon ribut-ribut kalau ada jalan ke Lombok ya :hihi.

  6. baca di awal post, agak gimana gitu, soalnya daerahnya gersang, setelah scroll .. scroll dan scroll lagi postingan ini, wow! warbiayasahhh, emezing, bagus kali ini tempat, masih perawan keknya ya.. nice!

    1. Saya juga awalnya mengira ini perawan, tapi setelah melihat sampah itu… sepertinya sudah banyak orang bertandang kemari. Hanya saja tidak ada yang mengurus maka mereka bebas buang sampah sesuka hati :hehe.

      Terima kasih sudah berkunjung!

    1. Syukurlah tetap aman selama kami ada di sana. Mungkin karena pintu masuk dan keluar dari tanjung ini cuma satu (dan itu dijaga). Selain itu keberadaan orang terakhir ya di pintu gerbang itu, sisanya… hanya pengunjung.

    1. Bisaa, di pantai berpasir keemasan di kejauhan itu pengunjung bisa bermain, namanya Pantai Bilasayak.
      Yah, menurut saya karena belum ada kesadaran tentang sampah, sejauh ini sampah adalah… sampah, yang harus segera dibuang di manapun.

  7. Saya ngacung dong Gar… ikut yakkk apalagi kalau akomodasi PP semua dibayarin kamu *DIKEPLAK sengaja capslock*
    Pantainya bagus banget Gar. Makam misterius, bikin pikiran macem2 tuh, sayang banget itu sampahnya:(

    1. Amiin, mudah-mudahan saya jadi event organizer apa gitu ya Mas terus mengundang para blogger, jadi bisa datang semua deh kemari :hehe. Iya, apa-apa yang misterius mah pasti buat pikiran tidak tenang :haha. Moga-moga di sana ada pembersihan jadi alamnya kinclong lagi :amin.

  8. Kalo liat tempat yang secluded dan bagus banget gini berharapnya nggak banyak orang yang tau karena kalo tau malah suka jadi kotor 🙁
    Tapi beneran keren pantainya, lautnya biru banget dan langitnya ceraah!

    1. Saya juga ada di dilema itu, Mas :haha. Antara kepengin promosi soal pantai ini dan khawatir juga kalau diberitahu malah ramai dan jadi (makin) kotor. Tapi mari berdoa supaya orang-orang yang datang ke sana bertanggung jawab dan mengerti akan pentingnya kebersihan :)).

  9. Masya Allah! This is so epic! No doubt! I love It mas Gara!! 😀

    Pantai selatan Jawa emang bening banget dah! Terakhir kali saya ke Jogja juga pemandangan lautnya emang gak ngebosenin, biruu. Love it!

    Tapi sayang ya, dimana2..masalah sampah..masih aja nongol. Heran ya.

    1. Mas, ini di Lombok :hihi. Kalau pantai selatan Jawa saya juga belum pernah, tapi dari beberapa postingan teman yang saya baca, tidak kalah mengagumkan juga :)). Setuju, birunya memang spektakuler banget. Betah deh berlama-lama di sana meski cuma sekadar duduk-duduk santai :)).
      Nah, iya Mas, tidak di Tarusan Kamang, tidak di sini… sampah ini musuh banget. Atau manusia yang membuang sampahkah musuh sebenarnya?

      1. Haha.. aduh mumet, iya mas, kirain,.. wkwk.. habisnya mirip .. 😛
        Iya mas, banget. Nggak habis pikir dg sampah…

  10. Bagus-bagus fotomu di postingan ini Gara, aku suka. Dan pas di foto kelima, terlihat sedikit semburat biru dari pantai, rasanya langsung pengen ngelongok ke balik bukit itu. Hmmm soal makam itu juga menarik nih. Masih ada hutangan harus balik lagi kesana khan? Siapa tahu dibalik nisan itu, ada cerita yang menarik untuk dibagi 🙂

    1. Sip, iya masih ada hutangan ke Pantai Ujung Mas, ujung selatan banget dari pulau ini :hehe. Amin, semoga di mudik berikutnya bisa terlaksana :)). Banyak agenda yang belum saya selesaikan di Lombok dan mari dinikmati secara perlahan-lahan :hoho.

    1. Mungkin juga Mas, soalnya memang posisi nisan itu utara selatan, cuma pertanyaan selanjutnya pasti adalah kenapa benda itu bisa ada di sana (kalau penanda, apa yang ditandai) :hehe. Misteri yang baru bisa saya jelaskan kalau saya ke sana lagi *mudah-mudahan ada kesempatan ke sana lagi :amin*.

    1. Mungkin abang-abang di pintu masuk itu tahu, namun sayang saya belum sempat bertanya. Mesti ke sana lagi, nih… :hehe. Ayo ke sana, Mas, kalau kebetulan pergi ke Lombok :)).

  11. Aaaah Mas Gara mah jagonya deh bikin tulisan yang panjang-panjang tapi orang enggak cuman ngeskrol doang, bawaannya pengen bacain semuanya. Gimana caranya biar bisa gitu? Bagiin tips laaah, bikin postingan khusus gitu, biar bisa berguru hehehe

    1. Hmm? Saya cuma menulis saja Mas, sama sekali tidak ada tips khusus kecuali memastikan semua yang ingin saya tulis sudah tertulis semua :hehe. Terima kasih atas apresiasinya ya Mas :)).

    1. Iya memang indah banget Mas, sayang sampahnya yang banyak membuat keindahan itu sedikit rusak. Semoga ada yang sadar dan mau bergerak untuk membersihkan itu :)).

      1. Utk masalah sampah menyampah, buang sampah sembarangan maksudku, kayaknya penduduk di negeri ini sudah sangat terbiasa.
        Ndak usah jauh2 dech, wong isteriku aja, kalau lagi naek mobil/sepeda motor buang sampahnya asal BURRRR!!!
        Padahal sebagai suami yang tampan dan baek, aku sering kasih contoh yg baek lho mas bro 🙂
        Aku sering masukin sampah ke saku.. ya kalau tdk ada tempat sampah tentunya…. kalau sampahnya guede-guede, ya dibuangnya nanti setelah ada tempat sampah…. sebelum ketemu ya tetep ajah aku taruh di mobil/sepeda motor…
        ssttt….. moga2 isteriku tidak baca komen ini… hihihihihihiyy…
        I love you babe… mmuuuachhh…
        hihihihiy…

  12. Bila hari itu kembali tiba, ajaklah saya serta Bli. Petualanganmu itu lho, luar biasa nggak ada habisnya. Baca dari atas ke bawah, entah kenapa pikiran saya jadi bercabang-cabang antara Aceh dengan Lombok. Tapi melihat sampah-sampah di sana itu, ya ampun saya jadi geregetan sendiri. Kok ada ya manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab seperti itu? Pengen banget jitakin kepala mereka yang menyampah satu-persatu. Batu itu juga bikin saya penasaran lho Bli, kenapa terbengkalai begitu saja? Kelihatannya batu ini merupakan peninggalan bersejarah yang harus dimuseumkan sebelum hancur oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab.

      1. klok ksini mampir aj ke rumah mas rumah sya deket kok di pinggir pantai sblum msuk pintu gerbang mnuju tunak.
        tar sya siapin klpa muda seger

  13. Entah kenapa, saya merinding melihat foto-foto di posting ini…

    Josefine Yaputri
    Content Writer & Editor
    PT. Grivy Dotcom
    P: +62(0)21 2960 8168
    Office 8 Tower, Floor 18A
    Jl. Jend Sudirman Kav. 52-53
    Jakarta Selatan, 12190, Indonesia

  14. Keren banget, Gara.. Ngga percuma ya, pake acara kecapekan dan keperosok pasir. Pemandangan yang disajikan, sangat menakjubkan. Cuma, sampahnya itu lho.. Aduh, bangsa kita ini memang perlu revolusi mental….

    1. Perjuangan selalu sepadan dengan hasil, Mbak :hihi. Yah, itulah yang sangat disayangkan dari orang-orang kita, belum mampu menjaga. Semoga revolusi mentalnya tidak mental dan mentah ya Mbak :amin :hehe.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!