Taman Wisata Alam Gunung Tunak #2: Pantai Bilasayak

Oh, Tuhan.
Oh, Tuhan.

Saya terdiam. Lama. Lama sekali, seperti masih berusaha memasukkan apa yang ada di depan mata itu sebanyak-banyaknya. Ombak perkasa yang bergulung, mengempas perbukitan karang. Bukit-bukit yang menjulang tinggi, dengan tumbuhan yang jarang-jarang dan padang-padang luas tempat jalan setapak mendaki naik, diterpa sinar matahari yang terik.

Ombak menampar karang.
Ombak menampar karang.
Ombaknya kejam.
Ombaknya kejam.

Di sebelah kanan, kumpulan batu karang yang telah terpecah, tertampar ombak timbul tenggelam sesuai dengan pasang surutnya air laut. Pasir putih keemasan menghampar sempurna, tak terlalu luas dan sangat mulus tak berjejak sedikit pun, kemulusan yang sempurna tersapu dan dikembalikan oleh ombak yang bergulung terpecah, oleh hamparan koral yang menjadi lantai laut sesaat setelah pasir berakhir.

Pasir mulus tiada berjejak.
Pasir mulus tiada berjejak.

“Lan, are you sure you’re taking me to this place?” Dalam ketermanguan seperti itu, saya cuma bisa menanyakan satu kalimat.

“Yep,” dia menjawab tanpa berkedip.

Saya berlari dan berteriak. Sekencang mungkin, karena tidak ada orang lain sejauh mata memandang, selain kami. Menjejaki hamparan pasir putih itu, merusak kemulusannya dengan jejak-jejak kaki yang, kalau difoto, pasti spektakuler. “Waaaa ini keren bangeeeeet!”

Ombak lagi!
Ombak lagi!
Semua jejak ini hanya dibuat oleh satu orang :)).
Semua jejak ini hanya dibuat oleh satu orang :)).

Habis rasanya kata-kata ini untuk menggambarkan bagaimana indahnya buih air laut dari ombak yang bergulung berpadu dengan samudra sewarna hijau toska menjelang pesisir, dan biru kobalt di kejauhan sana, sampai berpadu dengan langit dalam ufuk yang seolah tidak tergapai. Satu tebing karang tampak tegar bersendirian di tengah sana, tidak tercapai kecuali perlahan digerus ombak, sementara yang satu lagi berdiri di sebelah barat daya, kelihatan sangat kecil dari sini kalau dibandingkan dengan deretan tebing-tebing yang merupakan bagian dari deretan bukit di selatan pulau.

Jernihnya kagak nahan!
Jernihnya kagak nahan!

“Ini. Keren. Sekali.”

Pecinta fotografi dengan kecepatan rana yang lambat (slow shutter speed) menurut saya pasti akan menjadikan pantai ini sebagai tempat favorit, karena deburan ombak di tempat ini seolah sudah diatur khusus untuk merealisasikan hal itu. Ombak di kejauhan, gelombang laut selatan mendebur kencang dan perkasa seolah tak ada ampun, tapi dengan lantai koral di dekat sini, mereka seolah terpecah, sehingga yang tinggal cuma lantai buih yang apabila dipadankan dengan tebing yang menjulang serta gili di kejauhan itu, akan jadi karya yang spektakuler. Sangat spektakuler.

Duh, ombaknya lumayan.
Duh, ombaknya lumayan.

Saya membuka gawai untuk tahu sedang ada di mana sekarang. Bulatan biru itu tertera di sebuah tanjung di selatan pulau, salah satu yang paling selatan. Pembesaran yang cukup menerangkan nama dari tempat kami berada saat ini.

Pantai Bilasayak. Perbukitan tempat mercusuar itu berada dikenal dengan sebutan Tanjung Bungkulan.

Perlu dipahami, membaca “bilasayak” dalam bahasa Sasak agak berbeda. Huruf a dalam suku kata -la- dibaca pepet, dan huruf ‘k’ dalam suku kata -yak dibaca seperti huruf ‘k’ dalam kata “tidak” langsung berubah menjadi guru bahasa Sasak.

Kita hentikan saja kuliah bahasa Sasakini dan kembali menjelajah pantai, bagaimana?

A patterned sand.
A patterned sand.

Saya mencoba menjelajah pantai sebisa mungkin. Godaan ombak memang sangat mengundang diri ini untuk membuka sandal dan membiarkan air laut pagi yang cukup dingin menyapu jari-jemari. Gelombang yang tinggi di kejauhan sana agak membuat gentar untuk mandi-mandi, lebih-lebih saya tidak bisa berenang, jadi untuk saat ini, saya cuma berjalan-jalan di atas lantai batu yang membentang sepanjang pesisir, atau membuat jejak pada pasir pantai yang menghampar sempurna dibatasi oleh tebing-tebing tinggi.

Dan lagi, tidak ada orang! Hanya kami berdua. Lokasi pantai yang sangat tersembunyi di balik deretan bukit Taman Wisata Alam Gunung Tunak mungkin membuat pantai ini hanya dikunjungi di waktu-waktu tertentu, kendati ada bukti yang sangat jelas bahwa tempat ini juga didatangi orang lain selain kami.

Ya, sampah.

Yang membuat saya geram pagi itu.
Yang membuat saya geram pagi itu.

Saya tak paham, apakah ini sampah yang terempas gelombang dan mendarat di tepi pasir yang jauh. Atau apakah, ini tidak saya harap sebagai sebuah kebenaran tapi demikianlah adanya, sampah-sampah ini dibawa oleh para pengunjung yang tandang kemari.

Saya tak menyalahkan para pengunjung yang membawa bekal ke sini. Saya pun menyesal tidak membawa bekal minuman karena ternyata siang itu sangat terik. Tapi meninggalkan sampah di tempat seindah ini betul-betul merusak keindahan. Memang di sini tidak ada tempat sampah sejauh mata memandang, tapi itu bukan berarti kita bebas meninggalkan sampah di sini.

Ada baiknya, setiap pengunjung membawa kantong sendiri untuk tempat sampah mereka, sebagaimana yang juga mulai diterapkan di setiap pendakian Gunung Rinjani (karena masalah sampah di sana kurang lebih serupa). Syukur-syukur bisa membantu memungut sampah yang ditinggalkan orang lain. Lumayan, kalau dikumpulkan, botol-botol plastik ini bisa dijual dan sangat menghasilkan.

Oke, kayaknya ketahuan kalau kegemaran saya yang satu lagi adalah memulung :hehe :peace.

Kalau ini slow speed, pasti keren banget.
Kalau ini slow speed, pasti keren banget.
Dengan keindahan seperti ini, demi Tuhan!
Dengan keindahan seperti ini, demi Tuhan!

Bagaimanapun, statis di satu tempat ketika seisi taman wisata alam menunggu untuk dijelajahi akan membuahkan penyesalan. Jadi saya dan Dilan pun memutuskan bergerak, menuju mercusuar berbalkon putih yang ada di atas sana, syukur-syukur kalau bisa dipanjat, pemandangan dan foto yang diambil dari atas sana pasti akan sangat menakjubkan!

Selebihnya, saksikan dalam pergambaran saja, ya. Sampai jumpa dalam postingan selanjutnya, kita ke mercusuar yang jauh itu!

Pantai ini punya keindahan yang tiada habis.
Pantai ini punya keindahan yang tiada habis.
Aku siap, aku siap!
Aku siap, aku siap!
Tetep... Spongebob!
Tetep… Spongebob!
Kumpulan karang.
Kumpulan karang.
Ini juga keren banget.
Ini juga keren banget.
Iya, pantainya memang seperti ini!
Iya, pantainya memang seperti ini! Model: Kak Dilan.
Mulus dan bersih, tanpa sampah.
Mulus dan bersih, tanpa sampah.
Jauh dan biru. I just love the blue.
Jauh dan biru. I just love the blue.
Foto kebangsaan: sandal gunung!
Foto kebangsaan: sandal gunung! Kotor, tapi saya bangga, karena artinya sandal ini sering dipakai!

60 thoughts on “Taman Wisata Alam Gunung Tunak #2: Pantai Bilasayak

  1. Sesungguhnya Indonesia punya banyak hal yang tidak dimiliki negara lain. Seperti pantai Bilasayak ini, masih jauh lebih indah dibandingkan pantai-pantai di Eropa. Tapi masalahnya, pengembangan dan rasa memiliki orang Indonesia yang menjadikannya tenggelam diantara destinasi wisata luar negeri. sayang sekali 🙁

    1. Masih ada yang lebih spektakuler lagi Mas kontur tanah dan bukitnya di sana, saya yakin kalau petualang seperti Mas pasti suka banget dengan lingkungan di sana, soalnya masih alami dan menantang banget :hehe.

    1. Iya, sampahnya memang mengesalkan banget. Jadi sebelum ke pasir yang mulus itu, mesti melewati pasir yang bersampah ini. Semoga pihak taman wisata alamnya melancarkan upaya bebersih di sana ya :amin.

      1. pikiran yang ngebuang sampah gak bisa ancur ini yang dodol ya gar, dia pikir limbah yang dia buang ditelan air laut… #nyangkutpadahaldimanamanadanngerusakkeindahanaja

        salam
        /kayka

  2. Sepi banget. Serasa pantai pribadi ya Gar.
    Dan saya masih mencoba melafalkan itu dalam bahasa Sasak. Msh bingung. Hahaha. Ajarin lg dong Pak Guru.

    Sedihnya sama soal sampah. Lebaran kmrn malah mama sy jd pemulung. Memindahkan sampah semua ke satu tempat.

    Cobain slow speed dong Gar.

    1. Ayo dicoba terus :hihi.
      Iya, mengumpulkan botol itu sebenarnya seru, terus dijual lagi, ibarat kata dari sampah orang pun bisa menghasilkan :hehe.
      Iya ya Mas, kemarin itu saya bawa tripod kok tidak dicoba ya Mas :hehe. Jadi merasa agak bodoh begini sayanya :hehe.

    1. Sampah memang selalu mengganggu. Saya enggan melepas sandal di daerah pasir pantai yang banyak sampahnya itu :huhu. Mesti berjalan sedikit supaya sampai ke daerah dengan pasir halus yang bersih tepat di pesisir.

    1. Nah, saya belum pernah ke Bloam jadi kurang begitu bisa memastikan Mbak :aaak.
      Iya pasirnya memang ketjeh banget halusnya, bikin kangen biar sering dikunjungi juga :hehe.

  3. Loh tulisan ini yg nulis Spongebob atau Gara? Hehehe. Sampahnya lumayan banyak juga nih. Sebel kalo lihat gituan, rasanya pingin bikin banyak mesin atm sampah yg lagi ngehits di Bali pake kantong ajaib Doraemon biar semua yg butuh duit mau mulung itu sampah! 🙂

    1. Waktu saya kemari, Doraemonnya lagi dicuci, Mas *salah fokus*. Iya, serasa kepengin punya sweeper besar juga terus digeretin semua sampai ujung terus sampahnya dimasukin lubang hitam biar musnah nah… :)).

  4. liat gambar-gambar awal, seru banget, bersih, sepi, menyenangkann

    eh pas nemu gambar yg ada sampahnya jadi kesel :(( kenapa yah orang-orang kalo ke Pantai ga bisa gitu bawa sampahnya balik lagi, kan bisa buang di tempat sampah :(( :((

  5. Asik banget ini pantainya, sepiiiii ,,, cocok untuk nongkrong memancing inspirasi (tapi biasanya sih aku malah ngelamun aja haha). Ngomong-ngomong pantainya memungkinkan untuk direnangi gak ya? Soalnya kalau lihat laut, suka gak tahan buat nyemplung 🙂

    1. Saya tidak merekomendasikan berenang di sini sih Mas soalnya ombaknya gede banget, kemungkinan arusnya juga lebih deras daripada laut tenang pada umumnya :)). Yep, setuju, sepi sekali, di semua gugusan bukit dan pantai itu kemarin praktis cuma ada kami berdua, sisanya entah ada di mana, daerah sini memang sepi dan cocok sekali untuk melamun, menghabiskan waktu mencari letikan ide :)).

    1. Waduh, saya belum punya kancut spongebob, Om! Beli dulu ya :haha.
      Iya, mesti ada laskar pembersih nih supaya pantai bisa kembali perawan seperti sediakala :hihi.

  6. Seperti biasa, mas Gara selalu menyajikan tempat-tempat yang keren banget euy…

    Btw, kapan ya bisa bikin tulisan kayak yang asik kayak gini? Bikin tips atau apa gitu mas, yaaah mirip-mirip kayak yang belajar Bahasa Sasak di postingan atas gitu, ajarin dooong bikin tulisan kayak gini hehehe

    1. Pap, terima kasih atas apresiasinya ya :hehe. Semoga suatu hari nanti saya bisa membuat tulisan sebagaimana yang Mas inginkan :hehe, sekarang saya sedang mencari bahan untuk beberapa tulisan lain jadi semoga saya bisa menyelesaikannya. Sekali lagi terima kasih untuk dukungannya selama ini ya Mas :)).

  7. Cantik sekali!!!! Meski banyak sampah 🙁

    Josefine Yaputri
    Content Writer & Editor
    PT. Grivy Dotcom
    P: +62(0)21 2960 8168
    Office 8 Tower, Floor 18A
    Jl. Jend Sudirman Kav. 52-53
    Jakarta Selatan, 12190, Indonesia

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?