Taman Wisata Alam Gunung Tunak #1: Perjuangan Mencapainya!

Suatu siang, di depan relief Hariti di Candi Mendut, Magelang, saya mendapat pesan dari teman kantor yang bertanya tentang Bukit Tunak, membuyarkan percakapan seru saya dengan satpam candi soal lima Dhyani Buddha yang tiga di antaranya terarcakan di dalam candi, juga beberapa Boddhisatva yang tereliefkan di sekelilingnya.

Jujur saya menjawab kepada teman saya itu, saya tak tahu Gunung Tunak itu apa, karena memang demikian, nama bukit itu baru pertama kali saya dengar. Berbekal rasa penasaran, mesin pencari dunia maya menjadi opsi, dan info yang saya cari saat itu cuma di mana bukit ini berada.

Oh, seleret dengan Kuta dan Tanjung Aan. Ini membuktikan kalau gugusan pantai di sana tidak berhenti di Gerupuk, tentu saja. Tapi, kenapa teman saya yang notabene sedang banyak berinteraksi dengan orang asing di negeri orang itu tiba-tiba menyebut-nyebut soal Gunung Tunak, dan berkata kalau itu adalah tempat paling indah di Lombok? Wah, ini menarik.

Jadi, ketika kemarin Dilan mengajak saya untuk tandang ke sana, tak butuh lama untuk mengiyakan :hehe. Mumpung masih suasana libur Lebaran, jadi waktu mesti digunakan dengan sebaik-baiknya, kapan lagi bisa dapat kesempatan jalan di liburan mudik yang kian hari kian menipis?

Berangkat dari Mataram sekitar jam 7 pagi, kami menyusur rute yang sama dengan jalan menuju Pantai Kuta, via bandara terus sampai ketemu gapura Kuta dan percabangan jalan yang ternyata berbentuk sebuah bundaran (saya baru memperhatikannya). Kalau dulu, saya ambil rute lurus, ke arah Mong Kuta, kini saya mengambil arah ke kiri, yakni ke arah Gerupuk dan Seger, menuju ke Jalur Bypass Kuta yang ternyata lebarnya sama dengan jalur bypass Mataram—BIL!

Dari sini lurus saja terus, sampai bundaran kedua, lurus lagi. Jalan akan berubah nama menjadi Jalan Raya Kuta—Awang, dan ini berarti keceriaan dimulai :haha.

Sepanjang perjalanan, pemandangan perbukitan selatan yang termashyur akan menjadi suguhan utama bagi setiap pengendara yang melintas di sana. Kontur jalan memang terkadang tidak rata dengan tanjakan dan turunan, tapi jalanan yang mulus membuat perjalanan jadi asyik!

Terus terang saya salut dengan Dinas Pekerjaan Umum di kabupaten ini, sebab jalanan pariwisata yang ada di sana, hampir semua ada dalam kondisi yang sangat memadai, tak terdapat banyak lubang, jadi kendaraan bisa digeber dengan kecepatan maksimal (baca: 90km/jam ke atas :hihi). Menikung di beberapa tikungan tajam menjadi kegiatan yang seru banget, apalagi kalau kebetulan kontur jalannya adalah tanjakan-tikungan atau turunan-tikungan ganda. Seru!

Cuma, kondisi jalan bagus nan mulus bukan berarti tidak ada catatan. Ruas jalan Kuta—Awang agak terkenal dengan insiden pembegalan yang kerap berulang. Apalagi, untuk wisatawan asing. Terakhir tanggal 8 Juli kemarin, tiga wisatawan asing asal Jerman, Swedia, dan Australia yang sedang melintas di ruas jalan ini distop oleh segerombolan pemuda tidak dikenal yang membawa pedang dan parang, dan walhasil, salah satu motor pun berhasil dirampas dan wisatawan asing itu mengalami luka-luka tebasan serta lemparan batu di sana-sini.

Untungnya tanggal 15 Juli kemarin pelaku pembegalannya sudah ditangkap, cuma tetap saja, daerah ini terkenal rawan jadi kita mesti hati-hati :hehe. Syukurlah tadi tidak ada kejadian aneh yang terjadi selama saya di sana, meski kita tetap mengebut ketika melewati daerah-daerah sepi rumah penduduk. Saya harap, keadaan seperti ini tidak membuat wisatawan jera untuk mengunjungi daerah selatan Lombok, karena meskipun banyak kejadian kurang mengenakkan, pemerintah setempat bersama aparat pertahanan dan keamanan sudah berkomitmen untuk menjaga keamanan di daerah ini dengan mendirikan beberapa pos jaga dan mulai mengintensifkan patroli keamanan.

Meskipun ketika saya melewati pos jaganya tadi pagi, mereka semua tampak kosong melompong…

Yok, kembali ke petualangan. Perhatikan jalan, dan mulailah waspada ketika sudah masuk daerah Desa Mertak. Di sisi kanan jalan nanti ada gapura masuk ke wilayah Gunung Tunak, tapi gapuranya bukan bertuliskan kalau kita masuk wilayah Gunung Tunak, melainkan ke Kawasan Konservasi Alam Teluk Bumbang. Gunung Tunak memang berada di sisi Teluk Bumbang jadi pintu masuk mereka menjadi satu.

Sekitar 4 km jalannya dari gapura masuk itu, sebuah pantai berombak sangat tenang, bahkan cenderung seperti kolam, akan menyambut dengan keramba-keramba lobster banyak menyebar memenuhi teluk. Pasir putih, laut hijau toska, keramba bertebaran, dan kurva pantai yang hampir membentuk lingkaran sempurna memberi semua jawaban: ya, inilah Teluk Bumbang, teluk tersembunyi tempat sebagian lobster terbaik negeri ini dihasilkan.

Pemandangannya? Keren. Teluk ini diapit oleh perbukitan yang seakan sangat melindungi, jadi gelombang di sini sangat tenang. Bukaan teluk cuma sedikit ada, dan itu pun jauh di selatan sana, jadi keganasan laut selatan tentu tak terasa di Teluk Bumbang.

Saya tak sempat mengambil gambar di sini, apalagi singgah, karena tujuan kami cuma satu: Gunung Tunak. Di manakah gerbang masuk menuju taman wisata itu? Ternyata, pintu masuk menuju taman wisata alam ini ada agak naik ke sebelah kiri kami, menyusuri jalanan di pesisir Teluk Bumbang yang tak beraspal tapi cukup mulus untuk dilalui. Pintunya sendiri ada di atas bukit, sekitar 50 sampai 100 meter dari permukaan laut.

Sayang, di sini juga sudah mulai ada pembangunan Vila X dan Hotel Y, dan lokasi pembangunan mereka tepat ada di jalan yang kami lalui. Saya bingung, harus lewat mana nantinya kalau bangunan-bangunan privat ini sudah berdiri. Apakah Gunung Tunak serta Teluk Bumbang, pada akhirnya, akan bernasib sama seperti deretan pantai di barat laut pulau ini?

Pantas saja gapura itu begitu mudah terlihat dari bawah sana. Posisi yang cukup tinggi membuat gapura lumbung khas Lombok gampang dikenali. Cuma, tanjakannya agak… ekstrem. Terutama buat mobil, tapi jalur bersemen ala kadarnya yang sudah dibuat membuat mobil bisa melintasinya, meski harus ekstra hati-hati sebab tanjakan ini lumayan curam. Untuk saya pun, persneling harus tetap pada posisi 1 agar saya bisa naik.

Dan di ujung tanjakan, gapura baru bertuliskan Taman Wisata Alam Gunung Tunak pun menyapa. OK, ini memang gunung. Jadi di mana pantainya? Dilan dan teman kantor saya mengatakan kalau Taman Wisata Alam Gunung Tunak justru terkenal dengan pantainya. Ini kan gunung?

Fasilitas di pintu masuk ini sudah lumayan lengkap, kalau menurut saya. Ada berugaq, balai-balai khas Lombok yang disediakan sebagai tempat istirahat. Ada juga toilet yang disediakan untuk para pengunjung. Sebuah loket ada di sisi kanan gapura, tempat petugas memantau pengunjung yang masuk.

Petugasnya sendiri ternyata pemuda-pemuda sekitar yang menjaga kawasan ini. Tidak tampak adanya petugas berseragam resmi yang menjaga loket. Si pemuda bertanya tentang tujuan kami dan menjelaskan tentang ke mana kami harus berkendara untuk menuju pantai, setelah tidak mendapatkan jawaban yang pasti. “Nanti ikuti saja jalanan beraspal, ada pertigaan, keduanya bisa menuju ke pantai. Petunjuknya ada di sana,” katanya dengan logat Sasak medok.

Ongkos masuknya adalah Rp5.000 per orang, dan itu bukan pungutan liar karena spanduk harga tiket masuk sudah terpampang jelas di gapura. Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2014 tentang Jenis dan Tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kementerian Kehutanan, ongkos masuk Taman Wisata Alam Gunung Tunak (yang termasuk Rayon III) adalah Rp5.000 per orang, dan semestinya, ada pas masuk kendaraan bermotor juga, untuk roda dua adalah Rp5.000 per unit sehingga total adalah Rp10.000.

Tapi tadi kami cuma dimintai Rp10.000 untuk 2 motor dan 2 orang, jadi… entahlah, kok bisa lebih murah ya. Rezeki anak soleh kali ya :hehe :peace.

OK, setelah membayar tiket masuk, perjalanan pun dilanjutkan menuju bagian dalam yang ternyata… alakazam!

Jalanan memang beraspal, tapi entah kapan jalanan ini terakhir kali diaspal karena kondisinya rusak… parah. Kerikil bertebaran di sana-sini, dan kendaraan kami sampai berguncang-guncang penuh guncangan sampai-sampai saya tak bisa membedakan apa ini guncangan karena jalan atau badan saya yang gempal ini bergoyang-goyang sendiri. Atau mungkinkah karena ini Taman Wisata Alam, jadi semua harus back to nature, alias sealami mungkin?

Kalau memang demikian, mereka berhasil. Ini jalannya rusak pakai bangeeeeeeeet…!!!

Untuk mobil, mungkin tidak mengalami masalah berarti, dengan catatan mobilnya adalah mobil untuk petualangan yang 4×4, pokoknya yang disediakan khusus untuk itu. Saya jadi teringat sebuah iklan rokok yang model iklannya bertualang menembus deburan ombak di pantai yang keren banget, mereka semua tampak keren, banget bangetlah.

Sementara saya? Jangankan keren seperti di iklan itu, saya yang berguncang-guncang ini cuma bisa berdoa dalam hati sambil menggigit bibir, “Ya Tuhan Ya Tuhan Ya Tuhaaaaaaan… jalannyaaa…”

Yah, demikianlah. Setelah melewati dua jembatan kecil, kami pun tiba di sebuah pertigaan yang ternyata… tanpa petunjuk arah ke mana pun. Kami sudah masuk hutan sejauh ini, terlalu jauh untuk kembali. Lagi pula, kami kan harus bertualang, jadi kami tekunilah dua cabang jalan tersebut seraya mencari apakah ada jejak ban di sini, yang membuktikan jalanan bisa dilalui.

Satu jalannya lurus, masih aspal yang sama dengan tadi, dan jalan yang satu lagi berubah jadi jalan tanah, terus masuk ke dalam sana. Dasar (mengaku) petualang, kita mengambil jalan yang ke kanan dong, sebelum akhirnya menyerah karena… medannya terlalu sulit. Jalanannya terlalu berdebu, dan kita batuk-batuk banget. Padahal di sana masih ada jejak ban, dengan demikian ada orang yang pernah bertualang lebih jauh dari titik kami berhenti.

Ini jadi alasan saya untuk kembali ke sana lagi, kan, untuk menyelesaikan perjalanan itu :hehe.

Kami kembali, tentu saja, dan memilih mengikuti jalan aspal. Sepanjang perjalanan, barulah kami sadar kalau kami sedang menyusuri salah satu tanjung paling berbukit di Pulau Lombok, kompleks hutan yang dijadikan taman wisata alam oleh Kementerian Kehutanan sejak 1996 dan sejauh ini belum begitu banyak orang yang tahu!

Sesekali ada monyet-monyet di pinggir jalan yang mengunyah makanan mereka sembari mengamati kendaraan-kendaraan yang melintas. Kemampuan berkendara roda dua juga akan diuji betul karena, selain harus memilih jalan agar ban motor tidak selip di jalan berkerikil, gundukan-gundukan kotoran kerbau juga pasti akan menjadi masalah kalau mata meleng dan kemudian melintas di atasnya, meski sejauh mata memandang kerbaunya tidak tampak. Tanaman-tanaman meduri (Calotropis gigantea) riuh berderet di sepanjang pinggir jalan, serempak berbunga membuat terik matahari tidak terasa.

Kayaknya saya mesti memetik beberapa bunga meduri untuk makanan jangkrik :hehe.

Suasananya betul-betul seperti sedang petualangan hutan! Dengan tas selempang berisi kamera, tripod seperti pedang, saya jadi merasa seperti Indiana Jones dalam versi Jupiter Jones alias lebih gempal :haha. Seru, dan meski perjuangan dan penyiksaan kendaraan bermotor itu sedemikian hebatnya, saya pikir saya cukup senang, sebabnya simpel, inilah petualangan, ketika kita beranjak dari zona nyaman menuju ketidaknyamanan yang paling ekstrem, pada sesuatu yang tak pasti juga berisiko tinggi.

Tapi bukankah fitrahnya, high risk, high return? Oh, saya mengharapkan sesuatu yang sangat menyenangkan setelah ini!

Memang, ketika kita mengharapkan sesuatu yang spesial dari alam, maka semesta pun akan mendukung untuk mewujudkannya. Kali ini, benarlah, dukungan itu datang dalam bentuk kupu-kupu. Banyak sekali kupu-kupu beterbangan sepanjang jalan kami, seperti mengiringi perjalanan kami. Rasanya, saya seperti tandang ke Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di Maros lagi, kalau begini kejadiannya :hehe. Taman Wisata Alam Gunung Tunak seperti mengeluarkan seluruh kemampuan yang ia simpan untuk menyambut kami, dan saya merasa sangat dihormati :)).

Itulah yang kami berdua alami sepanjang kurang lebih 4km dari pintu masuk. Orang lain? Tidak tampak sejauh mata ini memandang. Hanya ada kami berdua, dengan perjuangan kami menembus jalanan berkerikil. Pemandangan hutan dan bukit silih berganti, jalanan naik turun menandakan kami sedang melintasi gugusan bukit, sampai…

Sebuah bukit terpotong menarik perhatian kami, dengan sebuah mercusuar tinggi menjulang di kejauhan sana memberi sambutan selamat datang.

Ya, kami sudah tiba. Deburan ombak singgah di telinga kami, dan ketika jalan aspal itu berputus, kami berdiri di ujung jalan…

Napas ini seolah terambil dari tempatnya.

Breathtaking.

_MG_7405
Left.
_MG_7408
Right.
_MG_7409
Center.

p.s. My camera’s sensor is dirty and it looks like I have to bring it to its doctor. Hiks.

76 thoughts on “Taman Wisata Alam Gunung Tunak #1: Perjuangan Mencapainya!

    1. Petunjuk arah yang spesifik sih tidak ada Mbak :hehe. Hanya ada gapura menuju Kawasan Konservasi Alam Teluk Bumbang dan kami cuma mengambil itu sebagai patokan :)).

    1. Sama Mbak, saya pun harus sedikit menutupi berita itu dari orang tua, kalau sampai ketahuan saya bisa-bisa tidak diberi izin untuk main ke sana :malu. Sempat terbersit sedikit rasa khawatir, tapi rasa penasaran akhirnya menang dan jadilah :hehe.

      1. ahahaha,,ternyata menyembunyikan kebenaran dari ortu, iya bener sih kalo ortunya tahu juga gak bakalan dikasih ya, bahaya untung perjalanan aman terkendali jadi bisa liat ke indahan tempatnya 😉

    1. Iya, salah satu pantai berair terjernih yang pernah saya datangi.
      Iya Mbak, saya pun baru tahu ada pantai ini. Padahal dari bukti yang saya lihat di sana, pantai ini cukup sering didatangi orang.

  1. Aku pernah kepikiran untuk nyewa motor buat keliling Lombok, tapi setelah dengar-dengar tentang seringnya insiden pembegalan jadi batal deh. Btw, jalan menuju pantai nya ‘epic’ banget ya, tapi dijamin lokasi tujuannya keren dooong 🙂

    Ah soal sensor dslr yang kotor, aku juga punya PR. Ternyata foto-foto #RoadTrip #deJava ku banyak yang jadi korban juga nih 🙁

    1. Kalau bisa jangan sendirian dan jangan sampai ketemu malam sih, Mas. Makanya cari-cari foto sunset di sini adalah perjuangan kecuali kalau perginya serombongan jadi biar malam pun dihajar saja :hehe.
      Waduh, memang mengesalkan sekali karena kita tahunya justru saat sudah pulang :huhu. Ya sudah, mari kita bawa ke tempat servis kamera Mas :hehe.

  2. Udah dinanti-nanti sampe bawah, eh orangnya ga nonongol, barangkali ntar di posting berikutnya ya giliran narsis-narsis gitu, 😀 biasanya kan kamu narsis gar.
    potongan bukitnya, anggun, tapi berbahaya ga sih.

    1. Ayo ke pantai… ayo ke pantai… *memperburuk suasana :hehe.
      Yep, demikian. Teluk Bumbang sendiri juga bagus banget Mas, bisa beli lobster segar di sana :)).

        1. Iya, konon sebagian besar lobster yang dijual di restoran-restoran itu berasal dari sini :)).
          Menurut saya masih sedang bersiap sih Mas. Fasilitas sudah lumayan, penginapan sedang dibangun. Catatannya paling soal pembegalan yang kadang terjadi tapi pemerintah daerah sedang bekerja keras terkait hal itu.

  3. Wah ternyata masuik gunung tunak perlu banyak pengorbanan. Dari ceritanya sepertinya belum ada usaha pemerintah untuk memperbaiki jalannya. Mungkin karena wisata gunung tunak belum terkenal kali ya sehingga terkesan tidak dipedulikan. Kalau saya mah pasti malas jika harus berpetualang melewati jalan macam itu. Medannya sulit, bisa-bisa motor kesayangan saya rusak he he he

    1. Mungkin demikian, karena belum begitu terkenal, sehingga jalan di dalam taman wisatanya masih sangat asli. Namun bisa juga karena pertimbangan konservasi, alat-alat berat ditakutkan bisa membuat binatang panik.
      Sesekali tak apa Mas, kalau keseringan ya kayaknya memang akan rusak :hehe.

  4. melihat perjuangan meraih lautnya, terbayar ya dengan kebiruan lautannya yg menyejukkan jiwa dan merefresh tenaga. Btw, itu bercak2 noda di foto bisa banget dihilangkan pakai photoshop kak. 5 detik hilang ituuu.. hahhaa

  5. Wuaaaaaah. Gak sia-sia ya Gar melalui jalanan panjang yang syukurlah gak ada apa-apa kejadian. Indah banget Gar.
    Itu ada titik-titik di image karena sensornya kotor itu? Semoga cepet sembuh ya Gar.

    1. Iya Mas, kejadiannya paling babi hutan tiba-tiba menyeberang jalan sama ditontonin monyet :hehe.
      Iya, sensornya kotor, mesti dibawa ke tempat servis. Terima kasih ya Mas Dani.

    1. Eh pikiran kita rada sama deh Mbak :haha. Ya tapi syukurnya kemarin mereka ramah-ramah dan tidak ada kejadian aneh-aneh sih di sana :hehe. Jadinya malah tenang, dan entah kenapa saya pengen ke sana lagi :)).

  6. tetiba mendarat ke tulisanmu di sini. lombok selalu mengangenkan untuk kembali (walau pun sembari membaca aku mikir ini di mana? kan kamu sering jalan-jalan juga? barulah ngeh di tengah-tengah bahwa ini berada di lombok). btw, minggu depan aku ke lombok, tapi entah belum dapat itinerary-nya (anaknya murahan, asal dapat tiket PP, haha).

    ini seperti jalan ke Meru Betiri, Pantai Sukamade di Banyuwangi. pantainya pun indah, dan jarang terjamah. ah, jadi sakaw pantai nih..

    1. Rencananya mau ke mana saja Mbak di Lombok? Wisata kuliner? Budaya? Alam? Sejarah? :hehe. Kalau mau wisata yang murah dan tidak keluar dari kota mungkin bisa dicoba wisata sejarah dan kulinernya :)).
      Ah, kalau begitu kalau ke Lombok mesti ke pantai ini Mbak, meski medannya agak susah, tapi tak akan mengecewakan :hehe.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!