Pulau Menjangan #9: Sudut Kontemplasi Raja Dwinusa

Dalam sebuah sudut kontemplasi, lama setelah kunjungan dari Pulau Menjangan, ada sebuah kecurigaan muncul dari dalam diri. Tanpa sebab yang jelas, sesuatu mengatakan bahwa ada benang merah antara Pura Pasupati dengan Pura Airlangga. Pura yang terakhir ini papan namanya bertengger di depan pamedal alit Pura Siwa Pasupati, tepat di depan pintu sebelah kanan.

papan-nama-pura-airlangga
Papan nama petunjuk menuju Pura Airlangga.

Ini semua berawal dari ibu Airlangga, Gunapriya Dharmapatni alias Mahendradatta. Ia adalah seorang penganut Hindu dengan dewa pemujaan utama adalah Dewi Durga. Ketika meninggal, ia  diwujudkan dengan sangat cantik di Pejeng, Gianyar, juga sebagai Durga.

Pikiran saya ini memang terkesan mengada-ada. Namun, saya mengingat, pura sebelumnya adalah tentang Parwati, yang juga merupakan Uma, atau Durga. Di sana, nuansa yang saya dapatkan adalah seorang wanita yang juga berwibawa. Mungkinkah, di sana, di perwujudan Dewi Parwati itu, diwujudkan pula Mahendradatta?

Namun jika memang Mahendradattalah yang diwujudkan sebagai Parwati, kenapa nama pura itu bukan Pura Mahendradatta, atau Pura Gunapriya Dharmapatni? Kebo Iwa dan Gajah Mada mendapat penghormatan berupa nama yang diabadikan. Mengapa Mahendradatta tidak? Lantas, mengapa pura setelahnya berjuluk Pura Airlangga? Apakah karena beliau mendahulukan sang putra untuk punya tempat penghormatannya sendiri? Atau karena di Bali, Mahendradatta, meskipun adalah seorang ratu, memiliki citra tak baik yang membuatnya pada akhirnya “dimusuhi”, bahkan sampai sekarang?

Baca juga: Postcards from Bali Archaeological Museum

Saya tak bisa membahas Mahendradatta dalam tulisan ini. Saya belum mengunjungi monumen terakhir sang ratu di sudut lain Pulau Bali, sehingga cerita-ceritanya pun belum bisa saya dengar. Kebanyakan, semua yang sampai pada pengetahuan saya hanya cerita dari tangan kesekian. Namun dari semua cerita itu, saya menyimpulkan satu hal. Bahwa kisah tentang Mahendradatta, sebagai seorang wanita, sebagai seorang ibu, adalah kisah tentang ambisi yang tak pernah habis.

Pura Airlangga Selayang Pandang: Sebuah Sudut Kontemplasi

Dari Bali, kembali ke Bali. Itulah Airlangga. Sosok yang diwujudkan di depan kami semua, dalam sebuah gedong yang tertutup. Kami tak hendak mengganggu dalam tapa panjangnya. Sekarang kami datang untuk mengucap salam hormat dan memuja Tuhan bersama-sama.

Meskipun saya duduk jauh di bale gong di belakang, menunggu persembahyangan sembari menghindari cahaya matahari yang masih terik, dapatlah dikata kalau saya duduk di hadapannya juga. Sebuah bangunan beratap tumpang berwarna putih menyimpan arca, atau mungkin pratima lain yang melambangkan Prabu Airlangga. Bangunan itu ada di sebelah barat kami, membelakangi matahari. Seakan-akan semua pengaturan ini disengaja.

gedong-pura-airlangga
Gedong pura yang membelakangi matahari.

Warna putih mendominasi. Warna itu memang ciri khas pura di barat Kabupaten Buleleng. Beberapa pura lain di kawasan ini, misalnya kompleks Pulaki-Pemuteran, juga dibuat dari batu-batu sewarna kapur. Bahan alam tersebut memang banyak diperoleh di dataran yang cukup gersang ini.

Tapi di sini keunikan bukan cuma soal materi penyusun bangunan. Selintas pandang, gaya pintu pura ini mirip dengan percandian khas Jawa Timur. Tambahan lagi, bagian atapnya mengingatkan pada Candi Angka Tahun di Kompleks Panataran. Seolah-olah ini nostalgia, kenangan atas daerah yang disebut rumah kedua bagi Dalem Airlangga: Kahuripan dan Janggala di Jawa sebelah timur.

Airlangga memang lebih identik dengan Jawa. Sang raja perkasa itu lebih banyak berjejak di Jawa ketimbang di Bali. Meskipun Bali adalah kampung halamannya, tak banyak kenangan manis ditorehkannya di pulau ini. Ia meletakkan dasar kekuasaan di Jawa. Ia juga mempertahankan Jawa sebagai tanah airnya. Konsep tanah kelahiran agaknya tak berlaku bagi raja satu ini. Tanah asal sang ibu dan leluhurnya lebih penting bagi ia yang dijuluki sang pelompat air ini.

Namun kembali lagi, sekarang saya menemukan Airlangga di Bali. Jauh dari Jawa, jauh dari tempat semua intrik kerajaan yang membuatnya lelah. Ini Bali, tanah yang mungkin tak mau lagi dijejaki Airlangga karena di sini dia terlalu banyak punya kenangan buruk. Ini Bali, tanah kelahiran yang tak diinginkannya.

Bagi saya, itu paradoks yang sangat menyentak. Dari Bali, ia kini kembali ke Bali. Sejauh apa pun seseorang berkiprah, sebenci apa pun ia akan kampung halamannya, tanah tempatnya dilahirkan akan selalu ingat akan keberadaannya, tanpa pretensi. Dan senyaman apa pun rumah baru di seberang lautan yang jadi tempat tinggal baru, rumah kelahiran, meskipun sangat bobrok dan tak layak huni, tak akan terganti sebagai tempat yang sejatinya terhangat di seantero muka bumi.

Saya pun mengenang, setengah berharap. Bahwa Prabu Airlangga mesti sangat bahagia bisa pulang ke pulau ini. Pada akhirnya, Bali menjadi pulau yang aman. Dalam tapa panjangnya, ia pun merasa nyaman, tenang, jauh dari semua intrik yang melelahkan. Ia bisa sedikit lupa akan kenangan buruk masa kecilnya di pulau ini.

pemandangan-gedong-pura-airlangga
Pemandangan gedong Pura Airlangga.

Pelan, angin meniup pintu sehingga membuka. Sayang silaunya matahari dari barat sana membuat bagian dalam gedong berbayang. Apa yang ada di dalam tak begitu jelas tampaknya. Namun tatapan sekilas yang saya dapat dari dalam membuat saya beranggapan bahwa di dalam sana ada arca Airlangga yang ukurannya kurang lebih sama dengan Gajah Mada di pendoponya tadi.

Baca juga: Pulau Menjangan #7: Identitas Wisnu Murti dan Hadiah Benang Tridatu

Di ambang atas pintu, hiasan berupa sankha menjadi ciri bahwa Airlangga identik dengan Wisnu. Di Candi Belahan pun, nantinya, Airlangga diperabukan dan ditempatkan sebagai Wisnu yang duduk di atas Garuda, diapit oleh istri-istrinya, Dewi Sri dan Dewi Laksmi. Satu di antara dua pasangan Airlangga itu masih mengeluarkan air sampai dengan hari ini, kendati arca perwujudan sang suami sudah dipindah ke museum di Trowulan.

Angin bertiup semilir mengiringi persembahyangan. Ia ditingkahi suara ombak mengempas dinding tebing, tak jauh di belakang kami. Di beberapa foto soal Pulau Menjangan, terutama di spot penyelaman dekat pura, selain patung Ganesha besar (yang nanti akan jadi pura terakhir), kemuncak atap gedong Prabu Airlangga ini pasti terlihat sebagai latar belakang yang sunyi.

Sebuah sudut kontemplasi.

Sekelumit Kisah Asal-Usul Airlangga

Airlangga tidak pernah meminta untuk terlahir sebagai sulung dari pasangan Udayana Warmadewa dan Gunapriya Dharmapatni. Ia tak pernah memohon untuk menyandang nama besar dari dua dinasti paling termashyur di Nusantara. Tapi begitulah kejadiannya. Dari sang ayah, ia beroleh nama Dinasti Warmadewa, sebuah dinasti yang sempat berkuasa atas Sriwijaya. Dari sisi ibu, nama tangguh Dinasti Isyana mengalir dalam darahnya, darah yang sama dengan para penancap tonggak kekuasaan Hindu di Jawa Timur.

Namun nama dua dinasti besar pada dirinya tak lantas menjadikan jalan Airlangga menjadi raja mulus. Ia banyak diragukan bibitnya sebagai seorang raja. Untuk menjadi raja pun, nantinya ia mesti secara harfiah membangun kembali kerajaan yang sudah amburadul karena pemberontakan. Tepat di hari pernikahannya.

Kepergian Airlangga ke Jawa di tahun 1006 itu sesungguhnya tak lepas dari “dorongan” sang ibu. Cerita-cerita yang berkembang punya banyak kesamaan soal yang satu ini. Sang ibu, Mahendradatta, adalah seorang wanita yang keras dan sangat ambisius. Ia “memaksa” Airlangga untuk pergi ke tanah Jawa guna melanggengkan kekuasaan darah murni dari Wangsa Isyana. Bahkan meskipun secara patriarki, Airlangga adalah keluarga Dinasti Warmadewa. Seakan-akan darah dinasti Sumatera ini tak pernah mengalir dalam nadi Sang Airlangga.

Jangan-jangan, memang benar demikian?

Bukannya bagaimana-bagaimana. Saya menyimpulkan dari beberapa buku bahwa Mahendradatta adalah anak pertama dari Sri Makutawangsawardhana. Artinya, dialah penerus utama tahta kerajaan. Namun kenyataan sejarah berkata lain: ia mesti mengalah. Ambisinya pupus. Justru sang adik, Dharmawangsa Teguh, yang menjadi raja. Menurut beberapa sejarawan, ini terjadi karena alasan gender dan intrik kerajaan yang membuatnya tidak layak dinobatkan sebagai ratu.

prabu-airlangga-siluet
Kami mencoba memandangnya. Tapi gelap menghalangi.

Malah, gadis berwatak keras ini mesti rela menikah dengan Udayana Warmadewa, seorang kerabat dinasti Sriwijaya yang menjadi penguasa Bali. Tujuannya tentu, untuk menjaga hubungan baik kedua negeri. Pada tahun itu, Sriwijaya ada di masa jayanya. Ekspansinya gila-gilaan, kerajaan ini berambisi menguasai seluruh Nusantara. Tentu saja ia sangat mungkin menjadi ancaman bagi Jawa. Maka Makutawangsawardhana pun berusaha mencari cara untuk membuat Jawa aman, tanpa perang.

Urusan siapa yang menjadi raja di Jawa tidak jadi soal, lantaran Sri Makutawangsawardhana punya anak laki-laki, yaitu Dharmawangsa Teguh, adik Mahendradatta. Kendati yang terakhir ini, nantinya justru mengobarkan api permusuhan dengan Sriwijaya. Cikal-bakal insiden hari pernikahan yang mesti ditanggung sang keponakan.

Ambisi yang tak selesai dari wanita berwatak keras inilah yang membuatnya mempersiapkan putranya untuk menjadi raja. Mahendradatta mengirim putra sulungnya ke Jawa guna dinikahkan dengan putri mahkota, sepupunya sendiri. Apalagi, sekitar dekade kedua abad ke-11, kekuasaan Sriwijaya mulai melemah. Mahendradatta semakin yakin untuk mewujudkan impiannya yang sempat tertunda. Meski dirinya tidak bisa menjadi ratu di Jawa, paling tidak, anaknya bisa.

Airlangga menyeberang ke tatkala umurnya baru enam belas. Nama “Airlangga” ia peroleh karena kejadian ini: Airlangga berarti “yang melompati air”. Di Jawa, acara pernikahan sekaligus penobatan Airlangga sebagai putra mahkota (karena pernikahannya dengan sang putri mahkota) pun sudah dipersiapkan. Sayang, pernikahan itu tidak pernah berjalan sampai selesai. Serangan dari Lwaram mengubah segalanya. Saya pernah bercerita soal ini dalam tulisan terkait arca singa kemenangan di Museum Mpu Purwa, Malang.

Baca juga: Arca Singa Stambha #3: Malang dan Sejarah Kerajaan Airlangga

Huru-hara itu membuat jalan Airlangga menjadi raja tidak mulus. Cerita lama soal latar belakang Airlangga selalu menjadi pertanyaan di dekade-dekade awal masa kekuasaannya muncul kembali. Ada sejarawan yang menerka bahwa dikirimnya Airlangga ke Jawa justru agar ia tidak menjadi raja di Bali.

Menurut gosip yang berkembang saat itu, Airlangga bukan putra sah dari Udayana Warmadewa. Ia adalah hasil hubungan nakal antara Mahendradatta dengan seseorang di luar Keraton Watugaluh. Selagi masih dalam kandungan, Airlangga  “diselundupkan” ke Bali saat ibunya menikah dengan raja Bali itu. Tentu Udayana tidak tahu menahu soal yang satu ini. Inilah kiranya sebab Airlangga diungsikan ke Jawa tatkala usianya masih sangat muda. Agar Udayana tak tahu bahwa ia sebenarnya bukan darah dagingnya. Di zaman itu, memang tes DNA belum ada.

Namun, bagaimana mungkin sang paman, Dharmawangsa Teguh, mau menerima Airlangga jika ia memang benar (quod non) bukan putra sah? Padahal, nanti, akan ada anak kandung Dharmawangsa Teguh (Samarawijaya) yang menuntut sebagian hak atas kerajaan. Bagaimana mungkin Dharmawangsa Teguh bisa mengutamakan keponakannya ketimbang putranya sendiri? Apakah kekuatan Mahendradatta demikian kuat sebagai putri tertua, sehingga ia bisa menekan saudaranya untuk menerima Airlangga sebagai penerus?

Perjuangan Airlangga Mendirikan Kerajaan

Pada akhirnya, berhasilnya Airlangga menjadi raja bukan karena tekanan sang ibu maupun belas kasihan sang paman. Berkat penyerangan itu, kerajaan pamannya sudah hancur. Ketiadaan pemimpin membuat kaum brahmana di Kerajaan Medang resah. Oleh karenanya, sekitar tahun 1019, mereka datang ke tempat persembunyian itu dan secara resmi memohon agar Airlangga mau menjadi raja di Kahuripan.

Mengapa mereka butuh tiga belas tahun untuk berpikir? Seperti ada semacam intrik di sini. Ada kesan bahwa kaum brahmana pun kala itu terpecah. Namun akhirnya, Airlangga kembali dan menobatkan diri sebagai raja, dengan gelar Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Menurut Sejarah Nasional Indonesia, ia bergelar demikian karena ia dinobatkan di Halu dan setelah membuat patung piutnya di Isanabajra.

Perhatikan penggunaan kata “Dharmawangsa” dalam gelar yang dipakai Airlangga. Seolah-olah, sang raja baru ini mencari legalitas dengan menobatkan dirinya dalam trah resmi dari Wangsa Isyana, dengan mendekatkan diri pada sang paman sekaligus mertua. Padahal ia bisa berhubungan dengan Dharmawangsa Teguh murni melalui perkawinan. Hubungan darahnya? Hanya dari saudara perempuan!

Selain itu, kata “Halu”, terlepas dari nama tempat, seolah-olah menyiratkan bahwa Airlangga, entah karena sebab apa, sadar diri dengan tidak menempatkan dirinya sebagai Hino. Tritunggal putra mahkota dalam satu kerajaan (Rakryan Mahamantri), berurut dari yang tertinggi, adalah I Hino, I Halu, dan I Sirikan. Apakah Airlangga pada awal masa pemerintahannya, memang merasa hanya sebagai wali dari pewaris tahta yang sah, sehingga ia hanya menggunakan gelar I Halu alih-alih I Hino?

Sejarah Nasional Indonesia memang menunjukkan, pertanyaan-pertanyaan soal latar belakang Airlangga tidak berhenti bahkan setelah ia menjadi raja di Medang dan mengganti nama kerajaan menjadi Kahuripan. Oleh karenanya, ia membuat prasasti, banyak prasasti, jumlahnya sampai puluhan, yang memuat silsilah Airlangga, seperti Prasasti Pucangan (1041), Prasasti Cane, sampai Prasasti Kamalagyan. Sebelum-sebelumnya, tidak pernah ada raja Jawa yang membuat prasasti sebanyak itu.

Apakah itu untuk legitimasi? Membungkam orang-orang yang bertanya soal latar belakangnya?

Meskipun orang-orang masih bertanya soal latar keturunan Airlangga, namun saya rasa orang-orang juga harus mengakui bahwa Airlangga adalah pemimpin yang jempolan. Secara bertahap, ia melakukan ekspansi ke daerah-daerah sekitar, dimulai dari penyerangan Bhimasparbhawa pada tahun 1028—1029, menumpas Bhre Wengker, Wijaya, di tahun 1030 (yang satu ini meninggal di tahun 1035), mengalahkan Adhamapanuda, pada 1031, mengalahkan seorang wanita yang memiliki kekuatan menakutkan (boleh jadi Calonarang) pada 1032, dan tentu saja mengalahkan Aji Wurawari yang dulu sudah mencarut-marutkan perjalanannya menjadi raja di Jawa di tahun yang sama.

Di samping itu, Airlangga terbantu sekali dengan melemahnya Sriwijaya, sehingga ekspansi yang ia lakukan menjadi lebih lancar. Meskipun tentu, ia tak bisa berbuat apa-apa kepada Udayana Warmadewa karena Udayana adalah ayahnya sendiri, terlepas dari semua pertanyaan dan fakta bahwa Sriwijaya adalah musuh bagi kerajaan Jawa.

Mesti diakui memang, melemahnya Sriwijaya adalah momen bagi pemimpin-pemimpin daerah lokal, semisal Angkor, Champa, dan Jawa, untuk mencapai puncak kekuasaan, atau setidak-tidaknya meletakkan dasar untuk kemajuan kerajaan. Tapi khusus untuk Jawa, dengan menilik keadaan bahwa Jawa Timur tidak seberapa jauh dari Palembang (setidaknya dibandingkan Champa dan Angkor), kenapa Sriwijaya tidak mencoba mempertahankan daerah? Apakah fakta bahwa Airlangga adalah anggota Dinasti Warmadewa juga berkontribusi bagi absennya ekspansi Sriwijaya?

Tak ada yang tahu, namun yang jelas, Sriwijaya tidak mencoba menyerang kerajaan yang jelas-jelas sedang membangun konsolidasi dari awal itu. Akhirnya, Prasasti Pucangan menulis bahwa sekitar dekade 1030-an, Airlangga “setelah meletakkan kakinya di atas kepala musuh-musuhnya, mengambil tempat di atas tahta singa-singa, yang dihiasi ratna mutumanikam”. Ia pun memerintah; menjadi raja Jawa secara penuh.

Antara Sriwijaya dan Jawa

Alasan absennya Sriwijaya dalam menyerang Jawa, selain karena kerajaan itu sendiri mulai melemah di dalam, menurut Berg (dalam Coedes) ada pula kaitannya dengan pasangan kedua dari Prabu Airlangga. Ada dugaan besar bahwa sang ratu, Dharmaprasadottunggadewi, yang dinikahi Airlangga pada 1030, adalah putri dari raja Sriwijaya kala itu, Sanggramawijayotunggawarman. Mertua Airlangga inilah yang digiring sebagai tawanan ketika serangan Cola pada tahun 1025. Belum lagi, Airlangga pernah membangun biara yang bernama Sriwijayasrama, yang dari namanya saja telah menunjukkan hubungan yang cukup dekat antara Sriwijaya dan Jawa. Satu lagi, mereka menamai putrinya Sri Sanggramawijaya Dharmaprasadottunggadewi, demi mengenang sang mertua.

Maka pada akhirnya, tidaklah berlebihan jika George Coedes menyimpulkan:

Mulai saat itulah terdapat suatu keseimbangan antara kedua negeri yang selama itu saling bersaingan: Sriwijaya tetap memegang supremasi politik di bagian barat Nusantara dan Jawa di timur, akan tetapi sumber-sumber sezaman menunjukkan bahwa hubungan-hubungan niaga Jawa terentang juga ke barat.

Kisah memang belum berhenti sampai di sini, karena masih ada rentang waktu antara 1030 sampai 1049 yang belum saya jelaskan (dan cerita di sana masih sangat panjang). Tapi untuk persembahyangan di Pulau Menjangan kemarin, saya menganggap, kami melakukan penghormatan terhadap sosok yang berhasil mendamaikan Sumatra dan Jawa. Sosok yang untuk sejenak berhasil menciptakan damai di perairan Malaka, Sunda, sampai Watugaluh di timur.

Yah, kadang-kadang, untuk bersatu, kita tidak mesti menjadi satu. Perbedaan dan persahabatan antara dua yang berbeda menjadikan semua lebih indah, bukan begitu?

Hikmah dari Kisah Airlangga

Kini, Airlangga adalah nama besar yang jadi kebanggaan di Jawa Timur. Prestasinya “mendamaikan” Nusantara dalam perbedaan, ketokohannya yang bisa membangun kembali Jawa dan membawanya pada masa yang sedikit jaya (meski itu juga pengaruh dari banyak faktor luar seperti melemahnya Sriwijaya), telah menjadikan namanya tak lekang oleh waktu, tetap dikenang oleh masyarakat Indonesia, hingga kini.

Nama Airlangga kini banyak ada di sekitar kita. Berapa puluh ruas jalan yang dinamai Airlangga? Saya rasa sangat banyak. Pun, Airlangga adalah nama sebuah universitas terbaik yang dimiliki Indonesia.

Tapi untuk beroleh nama besar yang tak habis digerus waktu itu, ternyata sangat tidak mudah. Mulai dari dipertanyakan asal-usulnya sejak kelahiran, disembunyikan dan akhirnya dioper seperti barang ke pulau sebelah, hampir dibunuh di hari pernikahan, mesti menumpas musuh-musuh dan memutar otak agar kerajaan tetap bertahan. Saya pikir itu bukan tugas yang mudah. Bukan usaha yang sepele juga memungut remah-remah kerajaan yang hancur lebur, menyatukannya di bawah tatapan sinis banyak orang, satu per satu dengan peperangan demi peperangan yang tentunya tak mudah, sebelum menjelang kemenangan dan persatuan di tanah yang dipertahankan.

Maka saya bertanya pada diri sendiri: jika saya ingin dikenang dan dikenal banyak orang, siapkah saya menghadapi semua kesukaran itu? Siapkah saya memenangkan peperangan itu?

Siapkah kita?

37 thoughts on “Pulau Menjangan #9: Sudut Kontemplasi Raja Dwinusa

    1. Oh ternyara airlangga itu sebenarnya orang bali ya? Apakah kalimat dari bali kembali ke bali dapat dimaknai bahwa raja airlangga pensiun dan meninggal di bali?

      Ternyata belajar sejarah sulit juga. Terutama klo membicarakan kerajaan2. Karena ada hubungannya satu sama lain. Saya bahkan bingung sendiri hanya karena nama2 yg asing sekali tapi termasuk dalam bagian penting kerajaan-kerajaan besar yg berpengaruh di nelusantara ha ha ha.

      1. Iya, Airlangga sebenarnya lahir di Bali. Adik-adiknya nanti menjadi raja di Bali, menggantikan Udayana, sang ayah. Hanya Airlangga yang dikirim ke Jawa. Soal “dari Bali kembali ke Bali”, itu pemikiran saya saja, bahwa saya menemukan pendopo penghormatan beliau di Bali. Airlangga sendiri pensiun dan meninggal di Gunung Penanggungan, Mas.
        Iya. Hubungan satu dengan yang lain memang banyak sekali. Tapi justru itu yang membuat bacaan sejarah menjadi sangat seru, hehe.

    1. Airlangga sejatinya punya banyak pertanyaan yang belum terjawab Mas, hehe.
      Oh ya? Nama Mahendradatta itu memang keren… pasti banyak yang menjadikannya nama anak atau nama tempat khusus, hehe.

  1. pepatah mengatakan semakin tinggi pohon, semakin kencang pula angin yang menerpa. semakin terkenal, semakin banyak pula yang benci. konon ada perbedaan antara orang baik dan orang hebat. orang baik tentu banyak yang suka, dan tentu saja ada yg tidak suka. namun orang hebat mampu membuktikan kpd orang-orang yg tidak suka tsb bahwa dia mampu. mungkin bisa sedikit mempresentasikan sosok si airlangga ini 😀
    Thanks for sharing, banyak tercerahkan dengan artikel ini.

  2. Suksma Gara, kontemplasi raja dwinusa yg luar biasa. Kontekstualisasi sejarah Airlangga sarat makna. Selamat terus berbagi melalui tulisan kami ikutan belajar. Salam

  3. Dear Gara, enaknya sih bacanya ginian pelan-pelan di sudut halaman sambil leyeh-leyeh ya Gar…
    tapi itu nanti…
    tetapi saya tertarik pada bagian akhir tulisanmu (yang mungkin saya salah banget karena belum baca ya, maafkeun): “… jika saya ingin dikenang dan dikenal banyak orang…”, hmm… keinginan ini bisa terwujud lewat jalan positif maupun negatif lho, hihihi…. tetapi mendasarnya, -seperti kita yang tak pernah tahu niat orang lain-, rasanya kita tak pernah tahu apakah tokoh-tokoh hebat itu berpikir awal seperti itu dalam melakukan perjuangannya. Salam…

    1. Iya Mbak, tergantung ingin dikenalnya dalam hal apa, positif atau negatif, haha…
      Betul, namun di sini saya berpikiran positif saja… sekalian melatih diri untuk tidak suudzon sama orang lain, hoho.

  4. Btw soal asal-usul Airlangga, memang ada yang meragukan apakah Airlangga adalah anak sah antara Udayana dengan Mahendradatta, karena menurut Wikipedia, Mahendradatta mengandung pada usia 30 tahun, cukup terlambat bila dibandingkan orang Jawa dan Bali zaman dulu di mana usia 15 tahun sudah dikawinkan. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Mahendradatta
    Apa ya yang membuat Mahendradatta telat menikah?
    Salam kenal, saya Wisnu, asal Semarang, saya suka membaca blog bli Gara karena menceritakan tokoh2 kerajaan zaman dulu di Jawa dan Bali. Kebetulan saya suka sejarah 🙂

    1. Mahendradatta itu perempuan perkasa dan teguh pendirian, bahkan soal cinta. Sayang tekanan keluarga kerajaan yang sedang berperang dengan Sriwijaya, dan kemelut yang dia buat sendiri, membuat dia mesti mengalah, rela jadi komoditi untuk mendamaikan Jawa dan Sumatera (meski hanya sementara).
      Halo Wisnu, salam kenal juga. Senang ketemu seseorang yang suka sejarah juga. Yuk diskusi lagi soal tokoh-tokoh Jawa Kuno, mereka punya banyak cerita untuk dibagikan.

      1. Waaaah ndak nyangka akan dibalas secepat ini hahaha. Bli, saya mau tanya, sebenernya ada keterkaitan gak sih antara Mahendradatta, Calon Arang (yang seorang janda), dan sosok Rangda (dalam bahasa Jawa, janda disebut “Randa”, dibaca rondo)?

        1. Ada pendapat dari cerita-cerita rakyat bahwa sesungguhnya Randa itu tidak lain adalah Mahendradatta sendiri. Menjelang akhir hayatnya, ia ditinggalkan suaminya, dibuang dari istana. Ketika meninggal pun, candinya terpisah sendiri, jauh di bawah. Menurut saya ini terjadi karena intriknya yang hamil di luar nikah dulu itu sudah ketahuan sehingga ia pun diusir. Terlebih lagi, Mahendradatta ini pemuja Durga yang sangat taat, dan Rangda pun sesungguhnya menjadikan Durga sebagai dewi yang paling dipuja.
          Soal Calonarang, memang ada pendapat yang menyatakan bahwa ia adalah Mahendradatta. Jadi Airlangga konon menumpas ibunya sendiri. Penumpasan ini pun ada di Prasasti Pucangan (di bagian Airlangga yang menumpas raja wanita serupa iblis) meski belum bisa dipastikan apa ratu itu memang Calonarang. Namun kalau menurut saya, Calonarang bukan Mahendradatta, karena tahun penumpasan menurut Prasasti Pucangan itu terjadi setelah meninggalnya Mahendradatta dan Mahendradatta pun meninggal dan dicandikan di Bali, dengan kata lain ia tak pernah meninggalkan Bali. Lagi pula kalau Calonarang itu benar Mahendradatta, berarti Ratna Mangali itu adiknya Airlangga dong, hihi.

          Cuma kalau saya boleh menekankan, pendapat saya itu baru berdasar cerita-cerita orang tua dan info samar di beberapa buku. Saya belum ketemu sumber sejarahnya yang asli. Tapi di postingan selanjutnya serial ini saya akan menyinggung sedikit tentang Calonarang, yang secara tidak langsung menunjukkan bahwa Calonarang dan Ratna Mangali bukan tokoh fiksi, hehe.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!