Suatu Sabtu Senja Bersama Barong

Sore-sore yang asyik di hari raya Kuningan, setelah semua persembahyangan selesai.

Baca juga: Kuningan, Bahagia Bersama Keluarga

Cuaca mendung, hujan juga baru usai. Saya masih gegoleran manja di alam mimpi, bermediumkan kasur rumah yang sebenarnya sudah ada sejak zaman kelas 1 SMA (yang artinya enam tahun umurnya). Kasur tua, tapi nyamannya masih tak tertandingi, meski boleh jadi karena saya tipenya tempel molor, jadi mau tidur di mana pun, tak masalah. Tak terpedulikanlah itu sudah berapa jam saya melayang di alam mimpi, liburan ini, insomnia malam karena kebanyakan tidur siang bukan masalah besar.

halaman-rumah-sehabis-hujan
Halaman rumah sehabis hujan.

Meski ini Oktober, senja masih malu-malu menampakkan diri. Namun, ibu saya tentunya tidak malu-malu membangunkan saya yang masih tertidur manja. Katanya, “Jangan tidur sandi kaon, nanti bangunnya kepupungan.”

Saya yang sebenarnya sudah bangun cuma melenguh seperti kerbau kegemukan, persis banget seperti kerbau (kurang apa lagi saya menghina diri sendiri), guling-guling seperti bantal guling, bergelung seperti kucing, mengulat seperti ulat. Nyaman banget.

“Bangun, sih? Mandi sana! Sudah jadi pegawai juga, masih malas-malasan.”

Oh, kapan sih hardikan Ibu seperti itu saya pedulikan? Masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Atau ekstremnya, masuk kuping kanan, mental lagi. Saya malah memeluk bantal guling.

Yah, paling tidak, begitulah sore saya yang permai, sebelum saya terjaga sepenuhnya karena mendengar, saat itu masih sayup-sayup, suara gong di kejauhan yang makin lama makin keras. Suara kenong yang nyaring membelah mendung yang tadinya membuat semua orang malas (yang membuat malas kenongnya atau mendungnya, ya?). Kontan saya langsung meloncat dari tempat tidur di kamar kakak begitu sadar kalau suara itu makin lama semakin nyaring.

“Eh, eh, Bu, ada ngelawang, ya?”

“Iya.”

“Siapa yang ngelawang?”

“Ya anak-anak itulah! Komang W dan segala macam. Mereka kan setiap Kuningan begini. Masa lupa?”

Oh iya, kenapa saya bisa lupa? Saya akui, saya memang kuper, bolehlah dihitung dengan jari berapa kali saya bersosialisasi dengan anak muda sekitar rumah (atau tidak usah dihitung sama sekali juga tak apa soalnya jumlah sosialisasinya hampir tidak ada). Tapi itu semestinya tidak lantas membuat saya jadi pelupa, kan? Memang masih untung saya tidak ketakutan mendengar suara gong di tengah senja mendung yang pas sekali untuk istirahat itu, tapi saya tidak boleh lupa dengan siapa (serta apa) penyebab suara gong yang kini seperti memasuki blok tempat rumah saya berada.

Harus saya akui, dan harus saya puji, Komang W dan teman-temannya ini memang tokcer. Anak zaman sekarang mungkin sibuk dengan musik terkini, punk, rock, R&B atau segala macam, tapi Komang W masih menyempatkan waktunya dengan bidang yang mungkin passion-nya: kesenian tradisional. Di umurnya yang baru kelas 2 SMP, pada setiap Kuningan yang artinya setiap enam bulan sekali, ia pasti tidak pernah absen berkeliling kampung, bergerak dari satu rumah ke rumah yang lain, mementaskan kesenian yang disebut Ngelawang.

barong-macan-ngelawang-karang-baru
Sang barong macan membungkuk, minta izin untuk mulai pentas.

Dan ia tidak sendiri. Ia pun mengajak anak-anak seusianya, atau anak-anak kecil lain untuk turut terlibat dalam kesenian ini, entah sebagai penabuh baleganjur, atau gadis-gadis cilik sebayanya yang menjadi pengiring, membawa kober dengan panji-panji yang saya kemarin tidak terlalu memerhatikan apa artinya. Sementara dirinya sendiri membawakan barong, sebagai Juru Saluk/Juru Bapang bersama dengan seorang anak lainnya.

Salut saya dengan anak ini, karena bisa anti mainstream di tengah derasnya arus teknologi. Darah seniman memang deras betul mengalir dalam tubuhnya, pastinya turunan dari sang ayah, Pak Wayan W, yang merupakan seniman sekaligus pelukis asli dari Ubud, jantungnya seni Bali. Salut kedua, karena lebih-lebih, mengingat lokasi, ini bukan Bali, bukan sebuah tempat di mana napas hidup adalah seni. Ini Lombok, pulau yang situasi untuk kondusivitas pertumbuhan budaya Balinya agak berbeda seratus tujuh puluh sembilan derajat. Bisa tetap bertahan di situasi seperti ini adalah sebuah perjuangan yang tentunya memerlukan kegigihan yang besar betul.

gerakan-barong-ngelawang-1
Barongnya sangat kaya akan gerakan. Di sini, ia mengibas-ngibas seolah kebasahan.

Semua fakta yang berputar seperti gasing membuat saya langsung berlari mengambil kamera dan tripod. Ini mesti saya abadikan! Dalam bentuk citra dan tulisan di jurnal maya. Lebih-lebih, saya saat itu sedang semangat-semangatnya menjadi seorang travel blogger amatir.

Yah, ini keberuntungan betul, pikir saya. Di saat travel blogger yang lain (mungkin) berusaha datang ke suatu tempat, jauh-jauh, bersusah payah, untuk menyaksikan dan mengabadikan suatu bentuk atraksi kesenian unik, dalam kasus saya, malah atraksi kesenian itu yang mencari saya, datang ke depan pintu rumah sendiri, menanti untuk bisa berpentas dan diabadikan.

Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kau dustakan?

gerakan-barong-ngelawang-2
Gerakannya jadi lebih bersemangat!

Beberapa belas menit setelahnya, suasana rumah saya jadi riuh rendah. Tentu saja karena saya kebingungan mencari barang. Kelimpungan di mana saya taruh DSLR, di mana saya taruh lensa, di mana saya taruh tripod, karena saya kemarin asal taruh saja setelah balik dari perjalanan di selatan Lombok.

Baca juga: Paradoks Kuta #1: Kasihan Sih, Tapi…

Kakak saya malah sampai berkomentar, “Dasar travel blogger amatiran! Dasar fotografer amatiran! Taruh barang saja tidak becus!” sambil bersungut-sungut.

Saya ya ikutan nyolot, “Udah deh, kalau tidak ada kontribusi, nyapu saja sana.”

Demikianlah keluarga kami. Tapi ya, mau bagaimana lagi? Pawai kecil itu kini sudah pentas di tetangga depan rumah, dan mesti dicegat supaya singgah ke rumah saya dulu, soalnya kalau sudah lewat, kan tidak mungkin balik lagi kemari?

Saya baru saja tergopoh-gopoh dan begitu lebaynya membawa semua peralatan fotografi ke teras, begitu sadar kalau pawai itu mulai bergerak menjauh, melewati rumah saya karena gerbang rumah belum terbuka, yang artinya rumah saya tidak berkenan menerima kunjungan si barong. Yang bisa saya lihat cuma anak-anak kecil yang ada di belakang, dan ekor barong yang bergerak menjauh. Uh oh, ini tidak baik.

menonton-ngelawang-lombok
Menyaksikan ngelawang pentas begini adalah sesuatu yang seru.

“Yah, lewat…” keluh saya, persis seperti anak kecil. Tapi memang berat banget rasanya. Lewat sudah satu bahan tulisan! Apa lagi yang mau saya jadikan bahan untuk mengisi blog ini?

Saya baru saja mau mengemasi perlengkapan foto amatir saya kembali, tatkala si ibu yang ternyata sudah berdiri di belakang menawarkan pemecahan yang sangat bagus. Rupanya ia mengamati saya yang mengejar-ngejar pintu gerbang. “Suruh bapakmu panggil aja sih,” katanya pada Bapak yang lagi menyapu, “nanti mereka pasti datang kemari lagi.”

“Memangnya mau balik lagi?” tanya saya, agak nelangsa.

“Ya maulah! Bapakmu kan kepala kampung, masa mereka tidak mau tampil di rumahnya Pak Kepala Lingkungan? Lagi pula, mereka kan belum jauh. Mau hujan juga. Berteduh di sini tentunya tidak apa-apa dong? Mereka kan sengaja lewat gang sini terakhir supaya bisa cepat balik ke rumah yang di Blok F. Lagian mereka juga bukannya keluar lewat sini? Itu masih di rumahnya Pak Mangku.”

Oh ho. Ibu saya memang genius. Bangga banget saya dengan sang ibu! Sekaligus sayang banget dengan ibu saya ini, soalnya ibu saya pintar banget, meskipun saya hampir tidak pernah bisa menang argumen dengan si ibu, karena si ibu selalu bisa melogikakan semua permasalahan dengan fakta yang ada, terus memberi putusan yang tokcer banget.

Meski itu melibatkan sedikit nepotisme.

Kalau saya pikir-pikir, iya juga, ya. Mereka kan mesti melewati rumah saya lagi kalau mau keluar gang. Pastilah mau tampil dulu di sini. Berbekal pertimbangan itulah, saya menghampiri ayah saya, yang ternyata sudah membuka pintu lebar-lebar dan kini sedang mengobrol dengan Pak Nyoman, sahabat karibnya di kampung, salah satu bapak-bapak yang mendampingi anak-anak itu berpentas. OK, tentu mereka mau tampil di rumah saya.

Sembari saya menyiapkan (kembali) alat-alat fotografi itu, yok, saya jelaskan sedikit tentang Ngelawang!

Ngelawang berasal dari kata dasar “lawang”, yang sama artinya dengan Lawang Sewu di Semarang. Maksudnya adalah, bentuk kesenian ini dilakukan dari pintu ke pintu, atau kalau bahasa sekarang dari rumah ke rumah. Kesenian yang dipentaskan adalah berupa pementasan Barong, dan saya pikir pembaca yang budiman tentu sudah sangat paham bagaimana mitologi Barong dan Rangda jadi saya tidak perlu menjelaskan Barong itu yang seperti bagaimana.

Kesenian ini biasanya dilakukan sebagai salah satu rangkaian Galungan–Kuningan. Suatu bentuk kesenian yang mulai langka, karena kini di Bali sendiri sudah agak jarang diselenggarakan. Hanya di tempat-tempat tertentu, misalnya Ubud, kesenian ini masih dipentaskan dan masih mengundang kesumringahan warga masyarakat. Jadi, bisa menyaksikan sendiri kesenian ini di rumah sendiri betul-betul suatu anugerah.

barong-ngelawang-4
Sang barong bergerak dengan penuh semangat untuk menyebarkan energi baik.

Ngelawang sendiri adalah suatu bentuk pementasan yang secara simbolis memiliki arti yang kaya. Konsep Ngelawang adalah konsep penyucian alam, baik makrokosmos dan mikrokosmos, dan pembasmian kekuatan jahat, yang disimbolkan melalui Barong sebagai makhluk baik yang melawan kekuatan jahat, sebagaimana Barong yang mengalahkan Rangda. Kesenian ini sangat berkaitan dengan nilai-nilai hari raya Galungan dan Kuningan (dan rangkaiannya yang pernah saya jelaskan sepintas itu), sebagai bentuk kemenangan antara Dharma (kekuatan baik) dengan Adharma (kekuatan jahat). Harapannya, kekuatan jahat di kampung ini bisa ternetralisir dengan kehadiran Barong Ngelawang yang berpentas dari rumah ke rumah.

Selain itu, Ngelawang juga punya arti penting dalam kaitan sosialisasi. Melalui Ngelawang, interaksi antarwarga masyarakat bisa terjalin. Menurut saya sih, saya yang kuper ini jadi sedikit mengerti yang pentas itu siapa saja, kebanyakan memang adik-adik kelas saya, tapi paling tidak saya bisa berkenalan dengan mereka semua dan tahu rumahnya di mana di kampung ini. Lumayan, bisa kenalan dengan adik-adik kelas. Cuma yang bikin kaget, mereka pada umumnya tahu siapa saya, sedangkan tidak sebaliknya.

barong-ngelawang-5
Barong ngelawang. Begini-begini, ini barang sakral, tak boleh dipentaskan sembarangan.

Mungkin begini ya rasanya jadi artis.

Sip, gong itu terdengar sangat nyaring kalau dari dekat. Hujan gerimis tidak menyurutkan semangat mereka untuk bergerak dari rumah ke rumah. Ayah saya yang sudah berdiri di depan gerbang menyilakannya masuk, dengan iming-iming bakal difoto dan dimasukkan ke situs internet terkenal.

Mendengar pujian seperti itu dari ayah sendiri, hidung saya kembang kempis. Padahal blog saya belum ada apa-apanya, Pak, masih kecil-kecilan saja. Tapi melihat antusiasme mereka yang sepertinya bertambah semangat ketika melihat tripod dan kamera ini, saya cuma bisa ketawa. Apalagi ketika mereka bertanya kepada saya, “Kak, ini bagusnya kita hadap mana biar bagus di foto?”

Waduh…

Kami mempersilakan mereka untuk ke samping rumah, calon garasi yang waktu itu belum ada mobilnya. Lumayan luas dan memiliki atap, jadi mereka bisa berpentas di sana tanpa terganggu hujan. Ayah membantu Pak Nyoman mengeluarkan satu dus air minum untuk dibagikan, sementara mereka (dan saya) mempersiapkan diri. Setelahnya, bapak saya entah dari mana sudah siap dengan kamera digitalnya, berdiri di belakang saya, siap mengabadikan. Ibu dan kakak perempuan saya pun ternyata sudah siap sedia di belakang kamera untuk menonton.

ekor-barong-ngelawang
Sang barong berputar-putar sesuka kehendaknya.

Pertunjukan pun dimulai.

Tak akan ada artinya pertunjukan Ngelawang tanpa mitologi, karena dengan mitologilah cerita di balik suatu sendratari begini bisa dicerna dan dipahami. Dalam kasus ini, mitologinya kembali pada beberapa lontar Bali kuno, yakni Lontar Siwagama dan Lontar Siwa Tattwa, yang sebenarnya inti ceritanya sama, cuma disajikan dalam jalur yang berbeda-beda.

Alkisah, dunia gonjang-ganjing karena wabah penyakit. Penyebabnya berbeda, tergantung lontar apa yang kita baca, tapi intinya ini terkait dengan intrik Siwa dan Parwati yang lagi bertengkar, lalu Siwa mengusir dan mengutuk Parwati turun ke dunia sebagai Durga yang menyeramkan. Di dunia, Durga mengamuk. Dihancurkannyalah dunia dengan wabah penyakit yang hampir membinasakan semua orang.

barong-ngelawang-6
Sang barong bergerak dengan penuh semangat.

Nah, sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus memulihkan dunia dari kesedihan dan wabah penyakit itu sendiri, Siwa mengutus dewa-dewi yang lain untuk turun ke dunia, untuk mementaskan kesenian agar dunia kembali tenteram dan damai. Kesenian yang dipentaskan adalah dalam wujud Barong, sebagai simbol kekuatan yang baik, guna membasmi kekuatan buruk. Sang Barong ditugaskan pergi dari rumah ke rumah untuk memberi obat dan menghilangkan pengaruh penyakit dari Bhatari Durga.

Akhirnya, setelah pementasan ini dilangsungkan, dunia kembali tenang, tenteram, bahagia seperti sebagaimana seharusnya. Rakyat pun hidup bahagia. Bagaimana dengan Durga? Durga akhirnya diruwat dan kembali sebagai Parwati. Kisah peruwatan ini dapat dibaca lengkap di dalam cerita Sudhamala.

barong-ngelawang-duduk
Sang barong macan duduk karena kelelahan.

Dan bukankah, hakikat Galungan dan Kuningan adalah supaya kita berbahagia, berkumpul kembali dengan semua keluarga, baik yang masih ada maupun yang sudah tiada, untuk bersama-sama merayakan hari raya?

Hal ini sebenarnya bisa dilihat juga dari gerakan si Barong yang lucu dan bersemangat. Diiringi dengan musik yang menghentak dan membangkitkan semangat di dalam diri juga. Jadi merinding tidak jelas saya ketika mengambil foto, seperti sedang ada di wahana yang membuat adrenalin mengalir deras! Anak-anak itu sangat semangat ketika mementaskan ini, jadi saya juga mesti semangat dong, mengabadikan dan menuliskannya!

barong-ngelawang-7
Kemudian bangun lagi, dan menari lagi!

Seru banget menyaksikan atraksi si Barong. Waktu setengah jam berjalan tanpa terasa. Meskipun bukan akrobatik seperti Barongsai, tapi tingkah polah si Barong ini persis seperti jenis barong yang sedang ditampilkan, yang pada saat itu Barong Macan. Kadang jinak, kadang juga bisa galak, menakuti para penonton, kadang juga ia seperti keluarga kucing yang lain, mengejar ekornya sendiri. Lucu!

Mungkin ada setengah jam lagi si Macan berpentas sebelum akhirnya si Macan malu-malu minta diri. Beberapa puluh foto juga saya abadikan, meskipun saya tidak mengambil video (saya harap Bapak mengambilnya, akan saya cek ketika pulang kampung Juli nanti). Kami semua bertepuk tangan keras-keras ketika pementasan selesai, sembari saya mengambil beberapa foto perpisahan.

Tentu saja saya ikut foto-foto!

foto-bersama-barong
Foto bareng sang barong yang jinak dan baik hati.

Di akhir pertunjukan, biasanya satu dari gadis-gadis itu membawa bokor kecil kepada tuan rumah untuk meminta sesari (uang sebagai upah pertunjukan). Tak ada pakem yang pasti tentang berapa yang harus diberikan, seikhlasnya saja. Namun tentu, dalam kasus pertunjukan dari rumah ke rumah seperti itu, kita juga mesti mempertimbangkan lelahnya anak-anak ini berjalan kaki keliling kampung memanggul barong yang berat itu, datang dari rumah ke rumah, jadi berikanlah jumlah yang pantas. Kalau ada kelebihan persediaan air minum, berikan juga, kasihan mereka lelah berjalan jauh!

Senja sudah turun sepenuhnya ketika mereka semua minta diri untuk kembali ke basecamp mereka di Blok F (rumah saya di Blok E). Betul-betul puas bisa menyaksikan pertunjukan langka ini dibawakan oleh anak-anak muda di kampung saya. Semoga pertunjukan ini bisa tetap lestari dan bisa terus dipentaskan, dengan regenerasi yang terus berjalan.

ngelawang-karang-baru
Full team Ngelawang Karang Baru

Sungguh, Ngelawang adalah sebuah potensi seni yang kaya, yang sangat sayang untuk kita lewatkan!


p.s.
Puas? Sebenarnya belum, sih… soalnya masih ada satu barong lagi yang belum saya lihat berpentas. Barong Bangkung a.k.a. Barong Induk Babi! Semoga di Kuningan enam bulan lagi saya bisa pulang dan menyaksikannya.


Kamus kecik:
Sandi kaon: senja hari
Kepupungan: tergesa-gesa

33 thoughts on “Suatu Sabtu Senja Bersama Barong

  1. bener kesempatan langka ini ada pertunjukan langsug di rumah sendiri…
    salut dengan anak2 itu masih giat belajar kesenian tradisional..

    nggak sekalian buat videonya Gara?

    1. Kemarin belum terpikir bagi saya untuk membuat videonya Mbak, jadi tak ada videonya, hehe. Mudah-mudahan ketika saya pulang saat hari raya, saya bisa mengabadikannya di video, amin.

  2. Wah..hebat ya..
    dengan iming-iming masuk ke website internasional…
    Uda lama beneeeer ga nonton kesenian tradisional di kampung..
    Refreshing kayaknya perlu,

    Thanks buat reportasenya.. keren Bung

    1. Duh, saya sebenarnya tidak menyangka Bapak akan membumbui itu dengan website internasional. Apalah saya ini sebenarnya Mas, haha.
      Ayo pulang kampung Mas… siapa tahu saat Mas pulang ada sesuatu yang dapat diliput, hehe.

  3. Tapi mirip sama barongsai dari china ya ha ha ha…… Klo cuman liat fotonya pasti ngira barongsai.

    Sebenarnya asal-usulnya yg bagus nurut saya. Bari tahu klo Durga itu jelmaanya Parwati dan menimbulkan penyakit ketika turun ke dunia. Cerita dewa dewi selalu membuat saya kagum. Nice post.

    1. Kalo barongsai lebih lincah dari ini Mas. Yang ini tidak bisa akrobat, hehe.
      Banyak lagi kesenian yang mengambil lakon Durga dalam bentuk penuh amarah, misalnya Calonarang. Terima kasih sudah mengapresiasi, hehe.

  4. Saat yg lain bersusah payah mencari kesenian untuk diliput. Ini malah liputan seni yg melipir ke rumah.

    Beruntung kali mas gara.

    Tapi memang untuk masa sekarang sudah mulai kurang generasi muda yg tertarik akan kesenian tradisional, seperti barong.

    Semoga budaya tarian barong tidak hilang tergilas kemajuan jaman.

    1. Iya Bang, memang beruntung sekali, makanya saya mesti banyak bersyukur ya. Betul, saya pun banyak belajar dari anak-anak itu, mereka punya kesadaran yang bahkan lebih tinggi dari saya dalam melestarikan kesenian tradisional. Amin, semoga ya.

  5. Salut banget dengan anak-anak kecil yang melestarikan tradisinya meski mereka besar di tengah lingkungan yang seratus tujuh puluh sembilan derajat itu. 😀 Okey, Gar, nikmat Tuhan yang mana lagi yang kau dustakan? Lombok banyak potensi yang nyaris terabaikan seperti ini. Aktivitas budaya dan kreativitas yang justru diburu sekarang oleh blogger amatiran hehehe. Ditunggu tulisan tentang budaya agama Hindu yang masih berkembang di Lombok lagi. 😀

  6. Wuaaah, itu dipentaskan ke rumah-rumah?! Gilak, keren banget ya bli! 😆👏
    Salut sekali dengan adik-adik ini, semoga tradisi ngelawang ini terus lestari.
    Huhuhu, berharap bisa nonton mereka secara langsung. 😂

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!