#SmescoNV: Jejak-Jejak Kaya Ilmu

Janji yang batal terlaksana akhir pekan kemarin membuat saya tak punya agenda apa pun. Ajakan Mas Taufan untuk ikut ‘meliput’ (untuk selanjutnya, saya lebih suka menyebut diri saya peserta dadakan) pun saya terima. Yah, hitung-hitung belajar menjadi jurnalis dan menambah jam terbang menulis observasi dalam sebuah acara :hehe.

Jujur saya pada awalnya minder banget berada di tengah-tengah orang-orang hebat seperti para travel blogger yang juga datang ke acara itu. Tapi ya sudahlah ya, saya coba bawa diri asyik saja, yang penting saya bisa tarik beberapa ilmu yang ada di sana :hehe. Tak lupa, teriring salut dan terima kasih saya pada LLP-KUKM (Lembaga Layanan Pemasaran-Koperasi dan Usaha Kecil Menengah), sebuah Badan Layanan Umum (BLU) di lingkungan Kementerian Koperasi dan UKM yang sudah menyelenggarakan acara bertajuk Smesco Netizenvaganza ini dengan demikian fantastisnya.

Jadi Smesco Netizenvaganza itu apa, ya…

Selama dua hari, peserta seperti saya diberikan banyak sekali ilmu tentang penulisan, video blogging, still life photography, dan di atas semua itu, tentang bagaimana mempromosikan apa yang kita “jual” di media sosial agar dikenal oleh orang-orang. Empat topik yang sekilas tampak tidak berkaitan tapi di akhir hari, kalau beruntung mengikuti empat seminar itu, barulah kita sadar kalau ada benang merah yang sebenarnya cukup tebal di antara mereka.

Smesco Building: Sebuah Arsipel Produk Budaya
Kayaknya kurang afdol kalau kita membahas suatu acara tanpa membahas tempat penyelenggaraannya :hehe. Smesco Building, salah satu gedung modern nan unik yang berlokasi di Jakarta Selatan. Gedung yang paling tidak saya sangka merupakan gedung milik pemerintah (Badan Layanan Umum merupakan badan yang dibentuk suatu kementerian/lembaga), soalnya desainnya sangat unik, dengan kubah besar menjadi ikon baru yang dipunyai Pancoran, selain Patung ‘Tidak Selesai’ Pancoran yang ada di dekatnya :hehe.

_MG_9473

Kubah baru itu menurut saya seperti telur besar yang akan segera menetas, membawa sejahtera bagi pelaku koperasi dan usaha kecil menengah di Indonesia. Dan sebagaimana sebutir telur yang kaya nutrisi, di dalam pun ternyata sangat kaya dengan produk-produk budaya dari seluruh antero negeri ini.

Satu lorong di lantai 15 saya namakan Lorong Celebes karena paviliun yang ada di dalam sana berasal dari Pulau Sulawesi, menyajikan berbagai produk budaya yang sepertinya diimpor langsung dari sana. Atau, gugusan benda-benda budaya unik dari pulau paling timur Indonesia menyebar dalam susunan yang aneh tapi membekas di benak pada paviliun Papua.

_MG_9462

Memang, dalam suatu negara, jika semua pihak telah berniat, tak ada yang tak mungkin. Membuat arsipel Indonesia yang ada dalam wujud aslinya saja bisa dilakukan di Taman Mini Indonesia Indah, apalagi membuat arsipel produk budaya seperti yang ada di sini, tentunya bukan kerja yang sulit.

Mungkin boleh kali ya kalau sesekali saya belanja oleh-oleh kemari tanpa harus pergi ke provinsinya, misal belanja oleh-oleh Maluku tanpa harus pergi ke sana langsung… :hehe pencitraan banget ini mah.

Oh ya, selain acara #SmescoNV kemarin, ternyata di pelataran Smesco Building ini juga ada event lain, yaitu Smesco ArtFest, semacam lomba tari dan band untuk tingkat SMA dan universitas (bukan tingkat instansi sih, jadi kan saya tidak bisa bawa grup tari buat menampilkan tari saman, yak :haha). Penampilannya keren-keren! Cuma sayang, kemarin ada grup yang menampilkan tari saman tapi belum sempat saya tonton. Padahal mau “cek ombak” alias membandingkan penampilan Tari Saman grup kantor saya dengan Tari Saman di grup ini.

Saya kagum dan setengah tidak percaya melihat kepedulian sebuah instansi pemerintahan (saya menganggap BLU sebagai bagian dari instansi pemerintah juga) dengan anak-anak SMA dan universitas yang mencari saluran untuk berkarya, dan lebih kagum lagi ketika instansi ini peduli dengan netizen. Iya, netizen. Kayaknya sampai sekarang masih bisa dihitung jari berapa instansi pemerintah yang sadar dengan kekuatan “netizen” yang menurut saya sebetulnya lebih hebat dengan kekuatan “orang-orang berpengaruh”.

Ah, berbicara soal itu adalah satu topik yang lain lagi. Sekarang kita bahas seminarnya saja, yak!

Basic Travel Writing: Agustinus Wibowo
Saya hampir saja membuat diri sendiri malu dengan bertanya pada Mas Ryan: “Agustinus Wibowo itu siapa?” :hehe :peace. Maklum, saya belum begitu familiar dengan penulis-penulis di genre perjalanan jadi selalu akan ada saat pertama saya mengenal penulis-penulis pada bagian tema pengalaman perjalanan.

Dan saya suka sekali mendengar penjelasannya! Dibawakan dengan sangat mengalir dan seru, Mas Agustinus memberi gambaran tentang apa itu perjalanan yang bisa dituliskan dan bagaimana menuliskannya supaya bisa menjadi sebuah tulisan yang tak melulu soal deskripsi tempat dan panduan perjalanan, tapi juga menjadi bahan bertualang di dunia narasi dan kontemplasi.

Saya begitu betah mengikuti seminar ini sampai-sampai saya datang dua hari berturut-turut dan mengikuti penjelasannya dari awal mula sampai selesai (meski pada hari kedua ketika Mas Agustinus bertanya siapa yang sudah mengikuti seminar saya tidak mengangkat tangan soalnya malu :haha).

Banyak ilmu, banyak quote yang membuat saya merinding, intinya, banyak kontemplasi supaya saya bisa lebih “melakukan yang terbaik sebagai seorang yang menyebut dirinya penulis perjalanan”. Belajar tentang banyak ilmu untuk membuka panca indera lebih lebar lagi, adalah satu hal, tapi belajar tentang mereguk makna perjalanan sebaik mungkin, dari cerita-cerita pengalaman yang pastinya unik untuk setiap pejalan adalah hal yang lain lagi.

Still Life Photography: Raiyani Muharramah
Saya sengaja menjadikan seminar ini dalam peringkat kedua karena foto, mesti saya akui, merupakan elemen yang sangat penting dalam tulisan-tulisan karena foto yang bagus dan diambil dengan sepenuh hati bisa jadi ruh yang sangat kuat dalam sebuah karya. A picture worth a thousand words, kalau kata orang.

Dan saya, jujur saja, sebagai fotografer-dari-nol yang cuma bermodalkan satu kamera bekas, awalnya minder banget melihat karya-karya Mbak Raiyani yang ditampilkan dalam lembar-lembar slide di depan sana. Rasa-rasanya sebisa mungkin saya jangan mengangkat kamera dan berusaha memotret deh di tempat ini. Mungkin foto-foto itu diciptakan hanya untuk saya kagumi karena saya entah kapan bisa memproduksi gambar serupa.

Anggapan bolehlah demikian, sampai saya mendengar sendiri penjelasan Mbak Raiyani kalau itu semua dihasilkan dari benda-benda yang sangat sederhana. Misal menggunakan kain jilbab untuk menghasilkan efek warna oranye yang dari hasilnya, akan membuat orang yang melihat mengira kalau cahaya itu berasal dari lampu merkuri berharga mahal.

Saya agak-agak tidak percaya ketika saya melihat bagaimana gambar-gambar itu diproduksi dengan teknik dan benda yang tidak terlalu rumit, tapi demikianlah kenyataannya. Sesuatu yang besar tidak mesti dihasilkan dari benda-benda premium, komponen berharga mahal yang melihatnya saja membuat kita takut. Tapi dari barang-barang sekitar yang sederhana pun bisa disulap menjadi bahan-bahan fotografi yang secara literal bisa kita jadikan apa saja.

Tinggal teknik sulapnya saja sih yang perlu dipelajari, dan saya pikir, dengan latihan yang sangat tekun, tak ada yang tak mungkin, kan?

vLog and All About It: Sacha Stevenson
Siapa yang tidak tahu Sacha dan “How to Act Indonesian”, serial yang segar dan potret kehidupan Indonesia banget, dibawakan dengan jujur dan (kadang) sinis? Seeing her on the stage is so… inspiring. Saya suka dengan Sacha karena caranya dia membawakan materi di atas panggung sangat segar dan menggelitik, persis sebagaimana video-videonya membentuk image di dalam kepala.

_MG_9483

Banyak hal yang ia bagi kemarin. Yang cukup menarik bagi saya adalah, berbeda dengan Mbak Raiyani yang sudah membuktikan bahwa untuk menjadi spektakuler tidak harus dengan benda yang mahal, Sacha menyarankan pada semua peserta agar ketika kita sudah mulai mendapat hasil dengan serius menggeluti dunia per-videoblogging-an, tak ada salahnya supaya peralatan sederhana yang dimiliki mulai diganti dengan alat-alat yang kualitasnya lebih baik.

Saya pikir hal itu logis. Pertama, dalam dunia teknologi video (foto juga, sih), umumnya barang yang memiliki kualitas lebih baik akan membuat hasil yang lebih baik pula.

Tapi yang dapat saya simpulkan dari Sacha dan bagaimana gayanya membawakan materi di depan audiens, adalah sebuah pemahaman baru tentang bagaimana tetap menjadi diri sendiri dalam video-video yang kita sajikan ke khalayak ramai. Menjadi terkenal bukan karena kita menjadi yang terbaik di mata orang-orang, tapi bagaimana kita menjadi diri sendiri dan tetap bahagia dengan itu, sembari tetap berusaha membawakan yang terbaik untuk berbagi dengan orang-orang sekitar.

Ketika kita “bagus”, membawakan materi yang baik dengan gaya yang orisinil dan khas kita, dan hal itu berguna atau menghibur banyak orang, maka orang-orang pasti akan tahu dan datang dengan sendirinya ke tempat kita, sekadar untuk membaca atau menonton atau meninggalkan jejak yang bisa kita telusuri.

Dan lagipula, semua orang kan sudah punya jalan rezekinya masing-masing :hehe :p.

Monetize Your Social Media: Yeyen Nursjid
Semua pembahasan tentang bagaimana menghasilkan sesuatu yang baik tentunya akan membuat kita bisa membuat tulisan, foto, atau video yang baik. Tapi, simpel saja, semua itu belum akan berguna kalau orang lain belum tahu, dan kalau kita belum bisa mendapat manfaat darinya. Contohnya, kita sudah memotret beberapa produk bikinan sendiri yang menurut kita bagus sekali hasilnya, tapi semua itu belum benar-benar bermanfaat bagi kita kalau produk itu belum kita lempar ke pasaran.

Nah, itulah yang dibahas oleh Mbak Yeyen dalam seminarnya tentang bagaimana membuat media sosial yang kita miliki dapat menjadi ajang promosi untuk produk yang kita jual. Sebagai seorang yang sudah merintis bisnis lewat media sosial, tips dan trik yang dibagi kala itu menurut saya sederhana tapi jitu banget. Misal, soal akun surel pribadi dan surel untuk bisnis, hendaknya dipisahkan sejak awal. Satu contoh lagi soal akun Facebook yang hendak dipakai bisnis sebaiknya bukan akun pribadi, melainkan fanpage. Hal-hal yang sebenarnya kecil (memangnya berpengaruh tidak, sih) tapi kalau tidak dilaksanakan sebetulnya berdampak besar banget.

Memasarkan benda-benda ini lewat media sosial?
Memasarkan benda-benda ini lewat media sosial?

Bayangkan saja, ketika semua data penjualan di Facebook hilang ketika pihak Facebook menghapus akun pribadi yang kita gunakan untuk berbisnis. Saya kira itu pukulan yang besar banget, apalagi kalau bisnis kita di sana sudah mulai berkembang dan punya banyak peminat. Agak seram rasanya membayangkan bagaimana memulai bisnis kembali setelah semua data itu hilang. Waduh.

Tapi yang paling berkesan bagi saya setelah mengikuti (sekilas) seminar itu adalah soal kata-kata Mbak Yeyen, yang intinya saya sarikan dalam kutipan berikut:

“Everything you have is just a tool. The one who make it succeed is you, your taste, simply yourself”.

Dan kalau saya bisa simpulkan, demikianlah hubungan antara empat seminar yang saya ikuti dalam dua hari itu. Semua yang kita miliki cuma alat, baik berupa tulisan, foto yang bagus, video yang kaya. Tapi alat-alat itu baru akan berguna ketika kita sebagai manusia yang gunakan, dengan citarasa orisinil dari kita, dengan pemikiran-pemikiran dari kita, sederhananya, karena kita, manusia.

Apabila kita hubungkan dengan kutipan dari Mas Agustinus Wibowo, bukankah semua cerita itu baru berarti ketika ada unsur manusia, karena hanya manusia yang punya cerita?

67 thoughts on “#SmescoNV: Jejak-Jejak Kaya Ilmu

  1. baca ulasan ini rasanya rugi bangrt kemarin nggak ikutan Gar…., ada acara kantor sih..
    pembicaranya bagus2 ya.., belum lagi produk2 yg dipamerkan di sana,
    gedung ini sering juga buat festival kuliner daerah.. menarik banget

    1. Iya Mbak, pembicaranya jos banget emang :hehe. Produk beragam dan ciri khas daerah, jadi tak usah bingung kalau pergi ke suatu daerah tapi lupa beli oleh-oleh.

  2. Terima kasih Gara, liputannya cerdas bernas!

    Saya yang gak bisa fokus menyimak keseluruhan acara akhirnya mendapat insight dari tulisan ini. And nice quote too! 🙂

    1. Iya, intinya be yourself mah Umami, semua orang itu unik jadi tidak ada alasan untuk minder. Bahkan ketika kita membahas tema yang sama, dirimu akan membahas sesuai dirimu dan saya akan membahasnya sesuai diri saya :hehe.

  3. Duh aku merinding pas baca kalimat kutipan yang dicetak tebal di akhir tulisanmu ini Gara. Setelah sebelum-sebelumnya dirimu kasih kalimat2 kontemplatif di beberapa tempat, itu menjadi klimaks yang pas untuk tulisan ini. Well done!

    Senang akhirnya kita bisa kopdar hehe

  4. Acara keren sepertinya ya..jadi tahu nama nama bloger dan fotografer ternama di Indonesia..saya jg suka kuper..hebat mereka mau berbagi rahasia dapur..terimakasih Gara atas info sekilasnya.

  5. wah sayang banget .. saya ga tahu ada acara yang beginian … jadi ga datang kesini.
    acara sebagus begini seharusnya dilakukan di daerah2 juga … banyak sekali kooperasi dan ukm di daerah2 yang sangat memerlukan dan tidak memiliki akses ke ilmu2 seperti ini.
    btw … gedung smesco ini setelah saya jalan2 didalamnya … seperti tidak well designed ya … aneh .. dan berkesan kurang bersih …

  6. hai kak gara, lama nih aku gak mampir, makin kece aja dirimu.

    ya ampuun, itu ada sachaaaaa, aaaak beruntungnya dirimu aku ngefaaans sama dia, videonya asli selalu bikin ketawa ngakak ><

    1. Hai, saya juga lama tak mampir ke tempatmu :haha, mohon maaf ya.
      Iya ada Mbak Sacha, beruntung banget deh saya kemarin itu bisa ketemu dengan dia. Videonya memang kocak, saya jadi suka menontonnya, selain itu dia membawakan sesuatu dengan jujur :hehe.
      Terima kasih ya buat apresiasinya :)).

  7. Mas saya tertarik yang sama materi seminarnya dong. Kalau misal mas bahas reportase khusus seminar2nya atau punya materinya. Saya minta dong mas hehe.. penasaran terutama dalam hal menulis cerita perjalanan

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?