Setapak Swarnadwipa

Alkisah, Rama mengutus Sugriwa untuk mencari Sita. Sang Sugriwa mencari ke mana-mana. Dari Yawadwipa sampai Swarnadwipa, sampai akhirnya menemukan sang putri tertunduk lesu di halaman istana Alengka Pura. Benar saja, ternyata Rahwana membawa sang putri ke istananya…

Boarding Pass :)).
Boarding Pass :)).

Aku menatap laut Jakarta yang kini berganti daratan yang belum pernah kulihat. Pesawat komersial ini membawaku dan Mas Ali, seorang teman, pergi ke pulau yang dikata pujangga adalah pulau emas. Batas Sugriwa mencari junjungannya, selain pulau padi di selatan. Pada dinding barat Nusantara.

Swarnadwipa. Sumatra.

Oke, Gar, cukup dengan gaya puitis melankolisnya. Intinya, 29 Oktober 2014 adalah kali pertama kedua kaki ini menjejak Sumatra. Pada petualangan ini, saya dan Mas Al dibawa ke ujung selatan Sumatra, yakni Provinsi Lampung.

Sumarta, eh, maksudnya Sumatra, memberi kesan pertama yang agak misterius. Sepanjang penerbangan, saya mendapati lautan pepohonan, berbeda dengan panorama sawah-tambak-kota yang biasa saya jumpai di penerbangan lintas Jawa-Bali-Lombok, rute kebangsaan yang biasa saya lakoni ketika pulang mudik. Tapi di Sumatra, berbeda. Deretan pohon berbaris rapi pada lahan-lahan berbentuk pasti. Sungai-sungai masif terlewati, ukuran mereka seperti yang saya lihat di televisi. Jauh lebih besar daripada Kali Ciliwung :malu.

Tapi, ada juga pemandangan lahan gundul. Bukit yang digerus penambangan bahan galian, atau lahan dengan sisa-sisa pohon yang menghitam akibat habis terbakar. Saya berharap, semoga saja pembakaran lahan itu tidak dilakukan secara ilegal.

Tak ada pohon, hanya ladang (terus yang di pinggir jalan itu apa?).
Tak ada pohon, hanya ladang (terus yang di pinggir jalan itu apa?).

Hotel? Hotel!

Tujuan kami ke Lampung sebenarnya bukan kota Bandar Lampung. Melainkan sebuah kota di Lampung Tengah (atau Timur?), bernama Metro. Oleh karenanya, kami menginap di sebuah hotel di dekat bandara. Ingin menginap di Metro, tapi seluruh hotelnya juga sudah penuh. Mau menginap di Bandar Lampung, terlalu jauh kalau harus ke Metro, dan kalau saja kami jadi menginap di ibukota, mau tidak mau harus menyewa mobil dengan ongkos yang tidak sedikit.

Pemandangan dari jendela pesawat.
Pemandangan dari jendela pesawat.

Nama hotel itu, Bandara Sofyan Hotel. Penjemputan tamu dari bandara gratis, sedangkan pengantaran ke bandara (Bandara Radin Inten II) dikenakan biaya Rp50k.

Sepertinya hotel ini familiar. Tapi aku baru sadar ketika Mas Al berkata di mobil, “Hotelnya Marsh*nda, Gar.”

Oh iya. Aku jadinya cuma bisa ketawa.

Jelas saja penjemputan dari bandara tidak dikenakan biaya. Dekat begini! Tapi ternyata, lokasi yang tidak seberapa jauh dari bandara membawa masalah tersendiri. This hotel is out of (absolutely) nowhere… hampir tak ada apa-apa di dekat hotel ini selain beberapa minimarket di tepi jalan yang sepi. Bahkan perkampungan pun agak sulit ditemukan, umumnya mereka masuk ke dalam gang.

Pemandangan depan hotel.
Pemandangan depan hotel.

Padahal, sejauh yang saya tahu, sebuah hotel semestinya dekat dengan dua tempat, (1) pusat kota, atau (2) tempat wisata. Saya tumben menemukan hotel di dekat bandara. Tapi mungkin, hotel ini dibangun sebagai tempat transit, bagi para traveller yang kemalaman dan menunggu penerbangan esok hari, atau bagi wisatawan yang tujuannya bukan pusat kota ataupun tempat wisata (seperti kami?).

Dan sudahkah saya katakan bahwa hotel ini letaknya di tepi Jalur Lintas Sumatra a.k.a. Jalinsum sehingga kendaraan kecil maupun besar berseliweran dengan kecepatan tinggi?

Yah, intinya, karena kami sudah kadung menginap di sini, tampaknya kami harus menjadi traveller kreatif, dengan memanfaatkan setiap spot yang ada sebagai tempat yang memiliki cerita. Tentunya dengan tidak mengada-ada. Tapi, tapi, kalau saya boleh mengeluh, sekalii saja, saya memang suka perjalanan, saya suka “jalan”, tapi tidak selalu arti “jalan” adalah “kumpulan lajur beraspal yang bermarka tempat kendaraan berpindah” juga, kan… sepertinya saya harus mengakui bahwa kali ini saya salah pilih hotel :haha.

Air mancur kecil yang jadi objek penderita.
Air mancur kecil yang jadi objek penderita.

Untuk ukuran hotel, tempat ini cukup baik. Bersih dan nyaman. Dan saya juga baru tahu kalau hotel ini dikelola sesuai syariah. Artinya, bagi laki-laki dan perempuan yang ingin menginap dalam satu kamar, mutlak menunjukkan KTP yang beralamat sama, juga buku nikah mereka. Saya pikir itu langkah yang bagus, jadi tamu-tamu yang lain (seperti saya) secara tidak langsung merasa nyaman menginap di sini, karena tahu tidak ada hal-hal “aneh” (you know what I mean) dilakukan oleh tamu-tamu lain.

Kamar kami! Cukup nyaman :)).
Kamar kami! Cukup nyaman :)).

Kendati kalau hal-hal “aneh” itu dilakukan oleh “sesama” saya juga nggak tahu, sih…

Gah! Kenapa jadi berpikir yang aneh-aneh begitu?? Aneh! Tidaak!

Okelah, mari menjemput malam.

Wah, di depan sana ada pemandangan menarik.

Burung-burung kecil, mungkin burung pipit, atau burung layang-layang, atau burung gereja (saya tidak tahu, soalnya saya bukan ornitolog), berkumpul, berbaris rapi pada kabel-kabel listrik yang membentang di depan hotel. Mungkin mereka ingin beristirahat. Cantik sekali, seperti tetes-tetes air berjajar kalau dilihat dari kejauhan. Sayang, saya tak bisa mengambil gambarnya karena lupa membawa tripod, jadi kalau rana kamera saya biarkan terbuka cukup lama dengan hanya dipegang tangan maka gambarnya pasti jadi kabur. Ah, saya mau sombong, mungkin pemandangan itu hanya disediakan khusus bagi saya untuk dinikmati :hihi.

Menatap burung, entah kenapa selalu memberi saya pelajaran baru tentang makna kebebasan yang menghargai makhluk lain. Saat malam turun, mereka kompak bertengger di sepanjang tiang listrik. Saya rasa mereka sudah memiliki tempat masing-masing, siapa di samping siapa. Dan ketika fajar menjelang, apa yang saya saksikan sungguh spektakuler: sebelum matahari menunjukkan tubuhnya, tatkala yang menjumpa makhluk baru merupakan berkas-berkas jingga di ufuk, mereka semua pergi dalam saat yang hampir bersamaan, untuk kembali mengarungi kehidupan. Lautan burung beterbangan menghias awan, berkejaran dengan sinar mentari, sebelum sirna secara keseluruhan tatkala cahaya sang surya mengisi mata. Entah, mereka menghilang ke mana, yang jelas ketika matahari terbenam seutuhnya senja nanti, mereka sudah kembali ke kabel-kabel listrik itu, menyaksikan malam yang menggeliat, menuntut semua ciptaan Tuhan untuk beristirahat.

Dari burung-burung itu, saya juga belajar menikmati hari.

4 thoughts on “Setapak Swarnadwipa

    1. Terima kasih atas komentarnya *bungkuk*
      Yep, bener banget, Mas!
      Meski saya juga cuma melakoni sepotong kecil Jalinsum, tapi itu juga sudah membuat saya tambah penasaran!
      Penasaran ingin menapaki Sumatra lagi 😀

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?