Sepintas Tanya Tentang Arca Ganesha Tikus

Sepertinya, hampir seluruh maskot dari Museum Mpu Purwa telah dijelaskan oleh Mbak Mimin sang juru pelihara. Kami telah mencocokkan keberadaannya secara langsung, membahas sejarahnya, dan merenungkan problema yang inheren terhadapnya. Namun, ada satu maskot yang tadi diceritakan Mbak Mimin belum bisa kami bahas karena tidak ada di ruangan tempat kami berada. Arca itu adalah sebuah arca Ganesha batu andesit, terkenal dengan sebutan arca Ganesha Tikus. Ia dinamakan demikian karena dalam arca ini Dewa Ganesha digambarkan menunggangi wahananya, yang notabene seekor tikus.

Mbak Mimin menjelaskan, ukuran arca yang kecil menjadi sebab kenapa arca Ganesha tikus tidak disimpan di barak penyimpanan arca. Tingginya hanya 37cm dan panjangnya cuma 24cm. Sangat mudah untuk dibawa keluar dari museum, jika dibandingkan dengan arca dan prasasti dalam barak yang rata-rata berukuran besar dan sangat berat karena berbahan batu. Saya sudah mencoba melobi Mbak Mimin agar mau membukakan pintu gudang sehingga arca itu bisa diambil gambarnya. Namun usaha saya belum berhasil. Baiklah, saya mesti belajar lagi bagaimana berkomunikasi dengan argumen kuat namun santun untuk mendapatkan apa yang saya inginkan.

Tapi selain kecil, ada satu alasan tambahan soal mengapa arca Ganesha tikus ini harus disimpan di tempat terkunci dan tidak boleh dilihat sembarang orang (kecuali sedang dipamerkan). Kata sang juru pelihara itu, arca ini hanya satu-satunya di Indonesia!

ganesha-tikus

Tentu saja, mengingat arca itu satu-satunya di Indonesia, sama sekali tak boleh hilang. Ini koleksi yang sangat berharga. Semoga Museum Mpu Purwa cepat selesai direnovasi jadi arca ini bisa segera ditampilkan ke publik. Melihat fotonya saja tentu tidak memuaskan. Prajnaparamita di Museum Nasional saja sudah tampil, masa arca ini mesti menunggu lebih lama lagi? Ayolah. (Saya harus sabar).

Sejauh ini, info juga hanya bisa saya dapat dari brosur museum. Tentu dalam brosur itu ada hal-hal yang diringkas. Agar saya bisa merinci soal fitur dan interpretasi kecil-kecilan terkait atribut, saya harus melihat dan meneliti sang arca Ganesha tikus secara langsung. Namun untuk kesan awal, saya pikir info di brosur itu sudah cukup lengkap. Informasi di dalamnya bisa jadi panduan kecil-kecilan ketika seseorang sedang menatap patungnya langsung. Namun, sebagaimana alasan yang sama, karena patungnya tidak ada, penjelasan itu untuk saat ini mesti kita terima bulat-bulat sebagai sebuah informasi. Oleh karenanya, saya belum akan membahas jauh soal fitur-fitur itu.

Untuk mudahnya, berikut saya salin kembali penjelasan soal arca ini dari brosur museum:

“Arca Ganesha ini sebagian besar dapat dikatakan utuh. Digambarkan duduk seperti bayi dengan badan sangat buntak atau tambun, sehingga kelihatan lucu, namun raut mukanya tampak garang. Kepala memakai mahkota dari rambutnya yang disanggul (jatamakuta). Tangan empat buah (caturbhuja), tangan kanan belakang membawa kapak (parasu), tangan kiri belakang membawa tasbih (aksamala), tangan kanan depan aus. Tangan kiri depan membawa mangkuk (modaka) namun telapak tangan ini pun juga aus. Belalai membelok ke kiri yang tentunya dengan ujung dicelupkan ke dalam mangkuk. Mengenakan kelat bahu (keyura), gelang tangan (kankana) dan gelang kaki (nupura). Di depan perut melintang tali kasta (upawita), perut buncit (lambodhara). Keistimewaan dari arca Ganesha ini terdapat tali badong pada bahunya, yang menandakan arca ini hasil kesenian masa kerajaan Kediri. Keistimewaan yang lain pada tempat duduknya yang berbentuk persegi terdapat gambar tikus. Tikus merupakan wahana dari Dewa Ganesha. Di Indonesia, arca Ganesha digambarkan bersama-sama dengan tikus sangat jarang didapat.”

Yang menarik perhatian saat saya mendengar cerita itu justru wahana tikus sang Ganesha. Saya mencoba mengingat bagaimana tikus bisa menjadi wahana sang Ganesha dan bagaimana ia “mengelilingi dunia” dengan itu. Beberapa teori bisa jadi pendukung soal belalai dan mangkuk yang aus. Arah belalai, makna wajah arca Ganesha tikus yang dikata seram. Banyak hal menarik bisa dikaji dari satu paragraf pendek dalam brosur museum. Itulah mengapa dalam setiap perjumpaan dengan arca, dokumentasi dan interpretasi mengenai atributnya akan sangat penting.

Tapi di atas semua itu, pertanyaan yang paling utama tentu soal tikus yang bisa menjadi salah satu hewan yang sangat dihormati dalam masyarakat Hindu sampai saat ini.

Saya belum bisa menulis soal hal itu sekarang. Tak ada gambar tikus yang menjadi wahana Ganesha tentu akan menjadikan teori-teori itu sangat membosankan, dan penjelasan jadi sumir karena tidak ada bukti yang cukup. Agaknya, saya mesti menunda penjelasan sampai saya kembali ke Malang dan (banyak) memfoto arca Ganesha Tikus, ketika Museum Mpu Purwa telah selesai direhabilitasi dan resmi dibuka ke umum.

Saya sedang mencari sponsor perjalanan ke Malang… sebelum bisa mensponsori diri sendiri, hehe.

31 thoughts on “Sepintas Tanya Tentang Arca Ganesha Tikus

  1. Oh jadi ganwsha itu tunganggannya tikus ya? Mas gara sekalian dijelaskan patungnya mengapa bertangan empat dan mengapa2 lainnya. Soalnya klo orang awam yg baca pasti banyak nggak ngertinya maksud dari patungnya dibuat seperti itu bertujuan untuk apa.

  2. Saya sering lihat arca-arca Ganesha tanpa vahana, dan belum sekalipun saya melihat Ganesha dengan tunggangan tikusnya. Selain tikus, tunggangan Ganesha juga ada burung merak dan kuda. Tergantung reinkarnasinya. Tapi satupun saya nggak pernah lihat arca Ganesha menunggangi sesuatu. Menarik, mungkin saya kelewatan dan nggak pernah memperhatikan vahana tiap arca haha.

    1. Nah, saya malah baru tahu kalau tunggangan Ganesha ada burung merak. Setahu saya yang menunggangi merak itu Karttikeya, kakak Ganesha. Arca yang menunggangi merak atau kuda ada di mana, Mas? Boleh nih disambangi, hehe. Iya banget, kadang kalau cuma sepintas saja mengamati arca suka kelewatan keunikan-keunikannya, hehe.

  3. Menarik sekali ya arca Ganesha dengan Tikus ini sebuah arca yang sangat unik salut buat Museum Mpu Purwa yang bersedia menjaga benda ini jangan sampai hilang apalagi tiba-tiba muncul di museum luar negeri jangan sampai deh, kira-kira arca ini ditemukan dimana ya Bli Gara?

    1. Arca ini menurut brosur museum adalah hasil hibah, Mas. Saya belum menelusuri si pemberi hibah jadi belum bisa kasih informasi. Tapi boleh juga nih ditelusur, hoho.

  4. Nggak boleh diperlihatkan kalau nggak sedang dipamerkan itu karena staff Museum Mpu Purwa takut kasus pencurian atau hal lain, Gar? Karena pernah mendengar cerita di Candi Pringapus Temanggung yang penjaganya kebobolan setelah mendapati turis yang jeprat-jepret seharian hanya di sebuah arca kebanggaan candi itu. Malang, keesokan harinya arca itu raib. Ada juga yang takut pengunjung menjiplaknya dan menukarkan arca asli dengan jiplakannya. Banyak cara orang tak bertanggung jawab melakukan kejahatan yah. Semoga sih keamanan candi-candi dan museum di Indonesia lebih rapat namun menyamankan pengunjung. 🙂

    1. Betul Mas, takur pencurian dan takut penjiplakan. Maklum, ukuran arcanya kecil.
      Iya Mas, saya ingat, itu sebabnya penjaga Candi Pringapus agak defensif ketika kalian datang kan, hehe.
      Setuju, semoga pengelolaan candi dan situs bisa lebih menyamankan pengunjung tanpa harus menganggap pengunjung itu adalah orang (yang berpotensi) jahat. Tapi kalau pengunjungnya model saya, memang kudu curiga sih. Haha.

  5. iya ya. untuk sebuah arca, jika ada interpretasi tersendiri, maka akan menarik banget. tidak hanya permukaan sejarahnya.
    Wah, ini satu2nya di Indonesia ya mas? langka banget. Sampai untuk melihatnya pun tak diperbolehkan. Bener2 harta warisan yg harus dijaga.
    Ada berapa wahana sih mas sebenarnya? Saya malah baru dapati kalau ada wahana tikus sbg kendaraannya? Ini menarik.

    Dan kenapa bertubuh mungil seperti bayi arcanya, kayanya perlu kamu ulas lebih dalam. sama seperti tempo lalu kamu mengulas bentuk perut arca yg buncit.

    Oh ya, sudah pernah main ke Tulungagung mas? di sana banyak candi yang menarik. Mungkin lain kali kamu harus menyambangi Tulungagung. Melengkapi koleksimu Mas, siapa tahu bisa jadi runtutan sejarah. Dan cepat menyelesaikan buku. hehe. Saya sgt mendukung, kalau2 perjalananmu mengulas candi2 nusantara, di bukukan. Jadi bukan hanya mengungkap sejarah, tapi menemukan hubungan benang merahnya. itu yg bakal menarik! banyak hibah mas. Coba akses dana hibah riset seperti ini. hehe

    1. Saya bisa mengerti sih kenapa Mbak Mimin kemarin tidak mengizinkan. Saya bukan siapa-siapa, tapi datang ke sana ingin melihat dan memotret arca langka. Mungkin jika saya jadi Mbak Mimin, saya tak mengizinkan pengunjung nakal seperti itu, haha.
      Di Tulungagung kalau saya tak salah ada gua-gua pertapaan juga… pernah diulas di sebuah buku.
      Amin, amin… terima kasih untuk doa baiknya. Yuk kita terus semangat menulis, Mas.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?